Kamis, Mei 7, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 947

Mitra Driver Go-Jek Kini Bisa Dapat Pemasukan Tambahan dari Promogo

0

Berempat.com – Go-Jek telah mengumumkan kerja sama yang terjalin dengan Promogo, perusahaan penyedia layanan pemasang iklan pada kendaraan roda dua dan empat sejak tahun 2016 silam. Dengan kerja sama ini, Go-Jek pun membuka peluang bagi mitra driver agar bisa mendapatkan pemasukan tambahan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Chief Operations Officer Go-Jek Hans Patuwo. Menurutnya, kerja sama ini bisa memberikan manfaat kepada mitra pengemudi beserta keluarga.

“Kami percaya penghasilan tambahan bisa memberikan manfaat tidak hanya bagi mitra pengemudi tetapi juga bagi keluarga mereka. Ini dapat dinikmati mitra pengemudi melalui pemanfaatan kendaraan mereka sebagai aset,” ujar Hans dalam konferensi pers yang digelar di Goo-Food Festival Pasaraya Blok M, Jakarta, Kamis (26/7).

Adapun penghasilan tambahan yang didapat mitra Go-Jek berasal dari pemasangan iklan di eksterior kendaraan para mitra. Hans pun menyebut setiap mitra pengemudi yang kendaraannya dipasangi iklan berpotensi mendapatkan penghasilan tambahan sampai Rp 2 juta.

“Untuk roda dua bisa mencapai Rp 1 juta dan untuk roda empat bisa mencapai hingga Rp 2 juta,” imbuh Hans.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama CEO dan Founder Promogo Andrew Tanyono mengatakan, kerja sama ini sangat bermanfaat bukan hanya bagi mitra pengemudi, tapi juga bagi pemasang iklan. Pasalnya, seperti yang diketahui bahwa pengemudi Go-Jek dikenal memiliki mobilitas tinggi sehingga merek si pemasang iklan akan dapat semakin mudah dikenal luas masyarakat.

“Melalui kerjasama Go-Jek dan Promogo kami mengajak para mitra pengemudi untuk memanfaatkan kendaraan mereka,” imbuhnya.

Saat ini Andrew mengaku pihaknya tengah memulai pilot project yang berlangsung sejak bulan Januari 2018. Andrew mengklaim sudah menggandeng 5.000 mitra pengemudi Go-Jek.

“Kita sedang pelajari bagaimana trennya, inovasi iklan ini tidak hanya bisa bermanfaat bagi mitra Go-Jek, tapi juga brand perusahaan. Target selama 12 bulan ke depan dapat menggandeng 100.000 mitra pengemudi,” katanya.

Adapun secara teknis pemasangan iklan yang dilakukan Promogo, Andrew menjelaskan bahwa pengemudi roda empat dapat memasang stiker dan LED pada bagian luar mobil, juga membawa berbagai materi promosi di dalam mobil. Bahkan, akan ada Wi-Fi gratis.

Sementara, bagi roda dua dapat menempatkan stiker iklan di helm maupun billboard di bagian belakang motor yang dilengkapi dengan tempat penyimpanan yang dapat dilipat, lampu LED, dan sandaran punggung bagi penumpang.

Kini Karyawan Lebih Mudah Mencicil Barang Bersama AwanTunai

0

Berempat.com – Salah satu perusahaan teknologi keuangan (financial technology/fintech), AwanTunai menawarkan program cicilan yang mudah diakses bagi para karyawan, yakni Program Karyawan. Dalam menjalankan program ini AwanTunai menggandeng Indosat. Program Karyawan ini bermula dari pengamatan AwanTunai yang menilai tingginya kebutuhan karyawan millennial pada smartphone untuk menunjang produktivitas kerja.

“Kami melihat kebutuhan smartphone mumpuni untuk mendukung produktivitas. Namun, sebagai karyawan cenderung menunda pembelian karena smartphone mumpuni biasanya tidak murah dan dapat mengganggu biaya operasional bila dibeli tanpa dicicil. Sedangkan tidak semua memiliki fasilitas kartu kredit,” ungkap Head of Brand & Business Developer AwanTunai Mutia Imro Atussoleha dalam keterangan resmi, Kamis (26/7).

Karena itu, sambung Mutia, AwanTunai melangsungkan kerja sama dengan Indosat untuk memberikan cicilan smartphone bagi karyawan.

Sebagai informasi, AwanTunai merupakan perusahaan teknologi keuangan rintisan (startup) yang baru berdiri pada Mei 2017. Namun, Awan Tunai sudah teregistrasi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga seluruh transaksi akan terawasi.

Atas kerja sama ini, Group Head Strategy & Transformation Indosat Sandeep Mishra pun mengungkapkan, belum banyak perusahaan yang dapat menyediakan fasilitas cicilan smartphone bagi karyawan yang mudah dan cepat prosesnya. Padahal, menurut Sandeep, fasilitas tersebut dapat meningkatkan produktivitas karyawan.

“Lewat kerja sama ini, kami berharap dapat membantu para mitra perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, serta loyalitas karyawan mereka. Selain smartphone, karyawan juga dilengkapi dengan paket bundling untuk memenuhi kebutuhan akses informasi,” ujar Sandeep.

Pada Program Karyawan ini, AwanTunai memberikan dua alternatif metode pembayaran, yakni dengan langsung memotong gaji bulanan dan melalui pembayaran mandiri.

Untuk proses pengajuan cicilan, berikut langkah-langkahnya:

  1. Pihak HR perusahaan bekerja sama dengan tim AwanTunai maupun Indosat dengan memberikan beberapa data karyawan yang ingin mengikuti program.
  2. AwanTunai akan memasukkan data agar nantinya proses pengajuan oleh karyawan lebih mudah dan cepat.
  3. Karyawan yang telah mendapatkan persetujuan dari AwanTunai akan mendapatkan limit 1,5x gaji dengan limit maksimal Rp 19 juta.
  4. Karyawan yang telah disetujui dapat melanjutkan proses transaksi dengan memasukkan jenis smartphone yang ingin dicicil, lalu pilih tenor pelunasan.
  5. Setelah selesai maka smartphone akan dikirim ke kantor untuk selanjutnya diberikan pada karyawan.

“Upaya ini merupakan salah satu dari sekian banyak upaya yang kami lakukan untuk mewujudkan visi AwanTunai. Untuk itu, ke depan kami berharap dapat terus memperluas kemitraan dengan sejumlah perusahaan lain,” terang Mutia.

Selain smartphone, program ini juga menyediakan bentuk cicilan produk lain, seperti peralatan rumah tangga, laptop, dan lainnya. Mutia pun mengajak perusahaan yang ingin bekerja sama untuk segera bergabung menjadi mitra dengan mendaftar di www.awantunai.com.

Hanif Minta Pengusaha Inggris Juga Investasikan SDM di Indonesia

0

Berempat.com – Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menerima kunjungan delegasi UK Business di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jakarta, Rabu (25/7). Dalam pertemuan ini, Menteri Hanif meminta kepada para investor dan pengusaha asal Inggris agar bersedia investasi Sumber daya Manusia (SDM) di Indonesia.

“Pemerintah mengajak kalangan dunia usaha dan industri yang berasal dari dalam maupun luar negeri (PMA)  agar mendukung pengembangan SDM, dengan membangun sistem pelatihan  kerja dan sertifikasi profesi secara terpadu bagi pekerja Indonesia,” ujar Hanif dalam keterangan pers.

Hanif menuturkan, keterlibatan dunia usaha dan industri dibutuhkan untuk melakukan percepatan peningkatan kompetensi kerja, juga  memenuhi permintaan  kebutuhan pekerja yang terus meningkat di berbagai daerah.

Selama ini,  menurut Hanif, dukungan investasi SDM dari sektor swasta di Indonesia masih sangat rendah. Padahal, perusahaan-perusahaan tersebutlah yang pada akhirnya membutuhkan SDM kompeten.

Karena itu, Hanif beranggapan bahwa investasi SDM dari dalam dan luar negeri menjadi kunci bagi dunia usaha untuk mendapatkan SDM kompeten dan sesuai dengan perkembangan pasar kerja.

“Termasuk memastikan agar kualifikasi kompetensi dari peserta yang kita latih ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sesuai dengan pasar kerja,” ungkap Hanif.

Kepada para investor asal Inggris tersebut, Hanif juga menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia terus berupaya mewujudkan iklim bisnis yang kondusif. Baik dari sisi regulasi, perizinan, insentif, dan sebagainya.

“Kita juga perkuat aspek pengawasannya agar implementasinya di lapangan benar-benar sesuai dengan yang kita harapkan,” kata Hanif.

Sementara itu, Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Maruli A. Hasoloan berharap, pertemuan antara Kemnaker dengan delegasi UK Business tersebut dapat meningkatkan investasi asing ke Indonesia, khususnya dari Inggris.

Beberapa upaya untuk meningkatkan investasi asing ke Indonesia pun disebutnya telah dilakukan. Seperti paket kebijakan ekonomi, maupun kebijakan untuk mempercepat dan mempermudah perizinan investasi.

“Sehingga dengan ini, kita berharap investasi Inggris yang datang ke Indonesia meningkat,” ujar Maruli.

Maruli sendiri mengapresiasi investor Inggris yang selama ini telah melakukan sejumlah investasi SDM di Indonesia. Namun, ia berharap kepada para investor tersebut untuk meningkatkan kapasitas investasi SDM mereka. Baik melalui kerja sama dengan lembaga pelatihan milik pemerintah, ataupun meningkatkan kapasitas pusat pelatihan yang mereka miliki.

“Kita berharap investasi Inggris yang datang ke Indonesia meningkat serta adanya kerja sama yang lebih konkrit untuk meningkatkan tenaga kerja Indonesia, yang dapat bekerja di perusahaan-perusahaan Inggris,” ujarnya.

Saat ini, Pemerintah Indonesia memiliki 302 Balai Latihan Kerja (BLK). 18 diantaranya dikelola oleh Pemerintah Pusat (Kemnaker), dan sisanya dikelola oleh Pemerintah Daerah tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Generali Buka Kantor Keagenan di Yogyakarta Galaxy V.02

0

Berempat.com – Generali baru saja meresmikan kantor keagenan di Yogyakarta Galaxy V.02, yang berlokasi di Ruko Sumber Baru Square I Kav. C, Jl. Ringroad Utara Jombor, Yogakarta. Total, Generali memiliki 6 kantor di daerah istimewa tersebut.

“Daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta merupakan wilayah penting bagi perkembangan Generali. Sebagai daerah dengan potensi luar biasa, Generali akan fokus pada semua hal yang dapat mendukung pertumbuhan di wilayah ini,” ujar CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman saat peresmian kantor, Rabu (25/7).

Yogyakarta sendiri dianggap Generali memiliki potensi luar biasa dan pertumbuhan ekonomi yang konsisten dari waktu ke waktu. Menurut Generali yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian DI Yogyakarta pada triwulan I-2018 tumbuh 5,36% (yoy).

Selain itu, menurut Strategi Nasional Literasi Keuangan OJK, literasi keuangan Yogyakarta menempati posisi dua tertinggi dengan indeks presentase sebesar 38,55% setelah DKI Jakarta jauh di atas indeks rata-rata nasional. Dalam hal inklusi keuangan, Yogyakarta juga menduduki kota kedua tertinggi dengan indeks presentase sebesar 76,7% setelah DKI Jakarta.

Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat Yogyakarta untuk berasuransi terbilang tinggi. Berdasarkan hasil penjualan Generali, daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta berkontribusi hampir 12% terhadap premi agency pada tahun 2018.

Sementara itu, capaian Generali Indonesia sejauh ini yaitu dengan mencatatkan laba pertamanya pada 2017 sebesar Rp 61 miliar jumlah premi bruto mencapai Rp 3,2 triliun atau meningkat 21% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari angka tersebut, kontribusi premi dari jalur keagenan menyumbang 44% atau sebesar Rp 1,3 Triliun, tumbuh 31% dari tahun sebelumnya. Sementara pendapatan premi pada kuartal I-2018 tercatat Rp 903 miliar atau tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Generali telah memiliki lebih dari 11.000 agen di seluruh Indonesia.

Tahun ini, Generali mengaku fokus memperkuat produk dengan pengembangan manfaat asuransi tambahan untuk kesehatan dan manfaat hidup. Medical PLAN, menjadi salah satu produk yang memberikan manfaat perlindungan kesehatan di seluruh dunia hingga usia 90 tahun, dan pembayaran biaya klaim sesuai dengan tagihan rumah sakit, mulai dari kelas kamar perawatan Rp 300.000/hari. Produk ini telah diluncurkan April 2018 yang lalu.

Manfaat ini melengkapi ragam solusi perlindungan kesehatan yang dimiliki Generali, termasuk Global Medical PLAN yang memungkinkan nasabah untuk mendapatkan rekomendasi perawatan terbaik dari dokter terbaik di dunia dengan perlindungan perawatan Rumah Sakit hingga Rp 35 miliar per tahun. Jangkauan perlindungan meliputi seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Jepang dengan sistem non-tunai.

“Berbagai inovasi baik dari sisi produk maupun layanan kepada nasabah tidak berhenti sampai disitu. Di tahun-tahun mendatang, Generali akan terus menghadirkan ragam produk inovatif untuk melindungi di setiap tahapan hidup masyarakat dalam rangka mewujudkan visi kami yang secara aktif melindungi dan meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia,” tutup Edy.

Jamkrindo Catatkan Penyaluran Kredit Rp 75,7 Triliun di Semester I-2018

0

Berempat.com – Perusahaan Umum (Perum) Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) mencatatkan kinerja yang meningkat tahun ini. Per semester I-2018, Jamkrindo telah mencatatkan penyaluran kredit bagi Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK) sebesar Rp 75,7 triliun.

Penyaluran kredit tersebut naik 22,1% dibandingkan periode yang sama pada 2017 yakni Rp 62 triliun. Volume penjaminan pada semester I-2018 terdiri dari penjaminan kredit usaha rakyat (KUR) Rp 27,3 triliun dan non-KUR Rp 48,4 triliun.

Sementara itu, sepanjang tahun 2017 volume penjaminan Perum Jamkrindo tercatat sebesar Rp 135 triliun. Direktur Utama Perum Jamkrindo Randi Anto menjelaskan, tahun ini volume penjaminan ditargetkan Rp 156 triliun.

“Pertumbuhan ditopang oleh ekspansi bisnis, terutama dari program non-KUR yang tumbuh lebih besar,” ujar Direktur Utama Perum Jamkrindo Randi Anto dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (25/7).

Perum Jamkrindo sendiri diklaim terus melakukan terobosan agar keberlanjutan bisnis terjaga. Selain tetap mendukung program pemerintah dengan menjamin KUR, Perum Jamkrindo juga mengembangkan produk-produk baru, baik untuk menjamin kredit di luar KUR maupun produk penjaminan lain. Hal ini mulai tercermin dari tingkat pertumbuhan bisnis penjaminan non-KUR yang menjanjikan.

Asian Games Momentum Penting bagi IKM Indonesia

0

Berempat.com – Penyelenggaraan Asian Games 2018 dinilai sejumlah kalangan dapat berampak pada perekonomian Indonesia kelak. Industri pariwisata digadang-gadang menjadi salah satu yang akan berdampak. Tapi, di samping itu, ajang olahraga terbesar bagi kawasan Asia tersebut juga dianggap sebagai momentum tepat bagi industri kecil dan menengah (IKM).

“Kami telah mendorong para pelaku IKM untuk ikut berpartisipasi dalam perhelatan Asian Games 2018 yang akan digelar bulan depan,” ujar Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (24/7).

Menurut Gati, sangat banyak peluang bisnis yang bisa didulang oleh pelaku IKM nasional dari pesta olahraga yang diikuti 45 negara tersebut. Misalnya, mereka menjual produk khas Jakarta dan Palembang kepada wisatawan yang datang, seperti produk kerajinan hingga makanan dan minuman.

“Kami berharap, dalam ajang ini, tidak hanya pengusaha besar yang memiliki peran, tetapi juga IKM harus bisa berpartisipasi, atau pengusaha besar bekerjasama dengan IKM,” paparnya.

Potensi peluang Asian Games 2018 terlihat dari keterlibatan sebanyak 10.000 atlet dan official, 5.000 media, 2.500 OCA Family, 5.500 delegasi teknik, 20.000 volunteers, dan sekitar 200.000 suporter.

“Selain itu juga ada lebih dari tiga juta penonton lokal yang akan menyaksikan 42 cabang olahraga yang dipertandingkan pada Asian Games 2018,” ungkap Gati.

Gati pun menegaskan, pihaknya akan terus aktif memacu daya saing dan kreativitas IKM nasional. Apalagi sektor ini dinilai mampu memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“IKM sebagai sektor mayoritas dari populasi industri di dalam negeri,” ujarnya.

Sebagai langkah pembuktian, salah satu IKM alas kaki binaan Kemenperin yang berasal dari Bandung, Brodo berhasil menjadi Official Souvenir Asian Games 2018.

“Brodo merupakan salah satu merek alas kaki yang diproduksi oleh IKM lokal di Bandung. Mereka juga bermitra dengan 11 unit IKM lainnya di Bandung,” tutur Gati.

Brodo merupakan produk alas kaki yang telah dirintis sejak tahun 2010 melalui proses pengujian di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal IKM Kemenperin. Karena itu Gati menjamin kualitas Brodo ini sudah terjamin.

CEO Brodo Footwear Yukka Harlanda menyampaikan, pihaknya akan memproduksi sebanyak 1.000 pasang sepatu Brodo dengan sembilan desain yang disesuaikan tema Asian Games tahun ini. “Setiap desainnya akan diproduksi lebih dari 100 pasang,” tuturnya.

Kemudian, sepatu yang bakal diproduksi tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu sneakers dan slip-on. Di setiap sepatu disisipkan desain logo, maskot, dan warna yang bercirikan Asian Games 2018. Menurut Yukka, Brodo akan menggunakan kesempatan ini sebagai ajang untuk memperkenalkan mereknya ke tingkat dunia.

“Kita bisa dapat awareness dari dunia internasional. Kita harapkan juga jadi batu pijakan untuk go international. Dari sisi komersial saja, kita rasa besar banget. Jadi, momen pas buat kita,” ujarnya.

Senang Belajar, Pemicu Yossa Sukses Menjalankan Lebih dari 4 Bisnis Sekaligus

0

“Pencapaian terbaik kamu adalah tidak setop di pencapaian terakhirmu.”

Berempat.com – Selain bisa membunuh, kata-kata orang lain ternyata bisa memberikan harapan. Itulah kalimat yang pertama kali terlontar dari Yossa Setiadi, seorang pengusaha yang kini setidaknya memiliki 5 bisnis ketika menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Kami bertemu di Neo Soho, Central Park, Jakarta, Sabtu (14/7).

Yossa merupakan seorang pengusaha yang besar berkat bisnis bawang goreng kemasan. Sesuatu yang  barangkali dipandang sebagai ‘bisnis tak berbobot’ bagi kebanyakan dari kita. Tapi, bagaimana bila produk bawang goreng kemasannya (Bawang Goreng Soy) mampu masuk ke-28 hotel bintang 4 dan 5 di Indonesia, mulai dari Hotel Mulia hingga Shangri-La; juga didistribusikan ke-38 maskapai penerbangan; dan ke banyak restoran hingga dipasarkan ke luar negeri? Tentu pandangan sebagai ‘bisnis tak berbobot’ dari kepala kita akan luntur seketika.

Beruntungnya, bisnis yang dimulai Yossa pada Desember 2007 itu tak sempat viral (booming) layaknya Es Kepal Milo, minuman olahan susu, thai tea, atau batu akik seperti yang sudah-sudah. Karena kemungkinan besar akan banyak orang yang mendadak jadi pebisnis bawang goreng.

Selain bawang goreng, Yossa juga punya bisnis jahe susu (Jahe Susu Asoy) yang dibangunnya pada 2013 lalu dan kini sudah memiliki 18 cabang. Kemudian, di tahun yang sama ia juga mendirikan bisnis di jasa kontraktor, seperti pengaspalan jalan, jasa pengurukan, dan paving block. Masih ada lagi, Yossa juga sempat punya bisnis jasa penyedia estalase bagi UMKM yang ingin masuk mal pada 2015 lalu.

“Saya pernah gagal tahun 2015 di Emporium Pluit. Sekarang sudah ada modal lagi dan berani mau approve di Kota Kasablanka,” ungkap pria kelahiran 19 Agustus 1984 ini.

Dan yang terbaru, ia bersama dengan temannya, Utomo Prawiro, saat ini sedang menjajal bisnis baru di era digital, yakni marketplace konsultan. “Baru sebulan jalan dan puji Tuhan sudah ada dua klien yang mau masuk,” katanya sambil tersenyum. Seluruh bisnisnya itu berada di bawah bendera CV. Setiadi Brother.

Yossa memang punya semangat berbisnis yang tinggi. Di usianya yang relatif masih muda, 34 tahun, ia sudah bisa menjalankan 5 jenis bisnisnya sekaligus. Itu pun belum termasuk bisnis kecil-kecilan yang juga sedang dijajalnya, seperti bisnis ketoprak dan Sate Ayam Pak Uban.

Hebatnya, tak ada satu pun bisnis yang ditinggalkan atau dibiarkan Yossa terbengkalai sekalipun bisnisnya yang baru jauh lebih menjanjikan.

“Pasif income saya dari Bawang Goreng Soy per bulan bisa sampai Rp 18 juta. Itu bersihnya. Tapi saya nggak mau tinggalin walaupun income dari kontraktor lebih gede,” ujarnya yang hari itu mengenakan seragam Bawang Goreng Soy dengan perpaduan warna kuning dan oranye.

Semangatnya untuk berbisnis diakuinya terus lahir karena ia suka belajar. “Berbisnis identik dengan selalu belajar. Dari itulah kenapa saya senang berbisnis,” ungkapnya.

Karena setiap kali menjajal bisnis baru sudah pasti akan ada berbagai tantangan baru yang menanti.

Keinginannya untuk belajar pun tak datang begitu saja. Yossa ingin terus belajar karena ia selalu senang berbagi dan memberikan ilmu bagi orang lain. Karena, bagi Yossa, itulah arti kesuksesan yang sebenarnya.

“Saya pikir, satu-satunya cara untuk bisa menjadi orang yang sukses kita harus memberikan ilmu,” ujar pria lulusan Magister Business & Administration di Binus International tersebut.

Senang belajar dan senang berbagi, itu juga yang memicu Yossa menjadi pribadi yang senang membaca. Boleh dibilang Yossa termasuk kategori pengusaha yang kutu buku. Berbagai buku, terutama yang menyangkut urusan bisnis, sudah habis dilahapnya. Entah itu buku gubahan Dewa Eka Prayoga, Tung Dasem Waringin, Anthony Robbin, Bill Gates, Warrent Buffet, dan banyak lagi.

Bahkan, hari itu Yossa mengaku bahwa ia masih membiasakan diri untuk membaca 30-40 halaman buku per hari. Dan untuk bisa konsisten seperti itu diakuinya tak mudah.

Punya Bisnis Lebih dari Satu itu Hal Biasa, tapi…

Menjalani bisnis satu saja kadang kala masih suka kelimpungan, apalagi kalau dua, tiga, atau empat. Tapi, tentu Yossa tak sembarangan mengambil keputusan saat akan menjajal bisnis kedua, ketiga, atau keempatnya. Setidaknya, Yossa sudah memastikan bahwa bisnisnya yang sudah lebih dulu berjalan bisa bergerak tanpa perlu pengawasan ketat darinya.

Saat ditanya kapan waktu bagi seseorang bisa menjajal bisnis kedua, ketiga, atau keempatnya, Yossa dengan semangat mengutip ucapan Heri Bertus—penulis buku Jurus Marketing Paling Nonjok—yang pernah didengarnya melalui kaset CD:

“Orang dengan usaha banyak sah-sah saja asalkan dia bisa melewati 10 ribu jam pertamanya pada bisnis itu.”

Apa yang dikatakan Heri Bertus itu pun menjadi patokan bagi Yossa sebelum menjalani bisnis keduanya. “Per hari ini sumber income saya cukup banyak. Tapi saya pastikan semua itu sudah melewati 10 ribu jam. Itu sekitar 4-5 tahun,” klaim pengagum Tung Dasem Waringin ini.

Kemudian, berdasarkan pengalaman Yossa, saat hendak menjajal bisnis kedua yang terpenting adalah ‘show me the money’. Maksudnya, pastikan bisnis yang akan kita ambil benar-benar dapat menghasilkan di kemudian hari.

Lantas, pada perbincangan kami di lantai 3M petang itu, Yossa tak lupa mewanti-wanti agar siapa pun yang akan menjajal bisnis keduanya tak serta-merta meninggalkan bisnis lamanya. Artinya, ia harus menjaga bisnis pertamanya untuk tetap berjalan dan mendapat untung.

“Saya nggak ninggaling usaha bawang saya yang sudah 10 tahun. Padahal orderan saya (dari bisnis lain) banyak. Hari ini ada order Rp 30 juta kes, yang nilainya jauh lebih besar daripada bawang. Karena saya dapat ilmunya (menjalankan bisnis) dari sana (bisnis bawang),” ungkap Yossa.

Bagi Yossa, bisnis lama yang dijalaninya memang sangat berperan dalam memberikan berbagai ilmu berbisnis. Dan itu pun bisa menjadi bekal baginya untuk menjalani bisnis kedua, ketiga, atau keempatnya.

“Misalnya, saya punya teman yang punya kakileema.com. Beliau sudah ada di Gajah Mada Mal. Percaya saya, dia jauh lebih bisa nego ke mal-mal yang lain karena dia sudah punya ilmunya. Jadi itu nggak bisa ditinggalin (bisnisnya) karena ilmunya bisa kepake,” imbuhnya.

Ada saran lain yang tak kalah penting dari penggagas komunitas BizzDate ini. Menurutnya, bila Anda ingin menjajal bisnis kedua, maka ada baiknya agar memilih bisnis yang tak bertolak belakang dengan bisnis pertama.

Yossa memberi saran demikian sebab dulu ia menjajal bisnis keduanya karena sebuah ‘kecelakaan’. Ia mengaku bisnis keduanya yang berdiri ialah jasa kontraktor, bisnis yang sangat bertolak belakang dengan bisnis pertamanya.

“Karena saya waktu itu mikirnya tentang uang. Karena orderan 1 PO bawang untungnya ratusan ribu. Tapi kontraktor kelihatan capeknya sama, orderannya bisa untung jutaan rupiah,” kisah Yossa.

Namun, tak lama kemudian ia mengaku tobat dan memilih menyelipkan bisnis yang masih berhubungan dengan kuliner. Maka muncullah Jahe Susu Asoy.

“Makanya kenapa saya waktu bermain ketoprak, lalu saat beralih ke Sate Ayam Pak Uban bisa lancar banget. Karena saya sudah tahu banget celah-celahnya. Karena belajar dari yang lamanya (bawang goreng dan susu jahe),” tambah Yossa.

Bagi Yossa, penting memilih jenis bisnis yang tak jauh berbeda. Karena bila benar-benar bertolak belakang, maka kita dipaksa untuk belajar lagi dari nol. Tapi, lain hal bila menjalani bisnis yang jenisnya sama, setidaknya kita sudah tahu apa yang perlu dilakukan.

Namun, sekalipun saat menjalani bisnis kedua kita menemui kesulitan yang sama atau pernah dihadapi sebelumnya, Yossa sendiri mengakui bahwa cara yang sama untuk menundukkan belum tentu berhasil.

“Saya pernah mencoba, 1 bulan saya budget iklan di Google Ads. Kok dulu bagus, (modal) Rp 99 ribu bisa dapat 300 nomor telpon. Sekarang Rp 290 ribu, kok cuma dapet sekian,” kenang mantan gamers ini.

Lantas, pada perbincangan kami yang berlangsung lebih dari satu jam itu, Yossa membagi ilmunya dalam menerapkan fokus saat menjalankan lebih dari satu bisnis. Yossa menyebut ada 4 tingkatan level yang mesti dilalui oleh pebisnis.

Pertama, fokuslah pada yang paling menghasilkan. Artinya, kita perlu menaruh perhatian pada bisnis yang paling menghasilkan di antara bisnis yang kita punya. Kedua, fokuslah pada bisnis yang bisa ditinggal. Dalam hal ini, Yossa berusaha mengingatkan bahwa bisnis yang sudah autopilot pun masih perlu kita perhatikan. Bahkan menjadi perhatian kedua karena bisnis ini tak memerlukan perlakuan lebih, tapi sangat penting dijaga.

Ketiga, sambung Yossa, fokuslah pada bisnis yang bermanfaat sehingga konsumen bisa merasa terbantu dengan produk kita. Misalnya, “terima kasih ya, gara-gara produk kamu anak saya makannya jadi lahap.”

Terakhir, fokuslah pada bisnis yang bisa diduplikasi sehingga layak untuk diperjuangkan.

Mesin Pembunuh para Pengusaha itu adalah Titik Jenuh

“Tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses dan belajar.”

Itu adalah kalimat yang paling menempel di kepala lelaki berzodiak Leo ini.  Karena itu, Yossa menganggap bahwa apa yang dianggap sebuah ‘kegagalan’ oleh banyak orang itu tak pernah ada dalam kamusnya. Jadi, bagi Yossa tak pernah ada kata gagal dalam kamusnya, tapi lebih tepatnya belajar.

Yossa juga masih ingat oleh kata-kata yang pernah dilontarkan oleh pendiri Scaleup.id, Gustiadi Prakoso yang menyebut kalau semua orang adalah profesional learner.

“Jadi saya pikir learner itu kan bisa hasilnya bagus atau jelek. Jadi ya kalo belum sukses kita belajar lagi. Kalo sudah sukses kita pun terus belajar,” ujar Direktur CV. Setiadi Brother ini.

Sebab itu, Yossa pun yakin bahwa sesuatu yang sering disebut kegagalan oleh banyak orang bukanlah penghenti langkah seorang pengusaha. Justru, Yossa beranggapan bahwa musuh besar pengusaha adalah titik jenuh.

“Itu satu-satunya pembunuh pengusaha,” tegas Yossa.

Yossa yakin bahwa semua orang, tak terkecuali pengusaha, pernah berada pada situasi tersebut; titik jenuh. Ia sendiri tak menampiknya. “Saya saja pernah mau jual anak kesayangan saya (Bawang goreng soy),” kenangnya sambil mengangkat kemasan Bawang Goreng Soy di hadapan saya.

Padahal, dari bisnis bawangnya itu ia sudah bisa menerima pendapatan bersih Rp 18 juta per bulan. Tapi, saat di titik jenuh ia sempat berpikir ingin menjual bisnisnya itu senilai Rp 2 miliar. Namun, beruntunglah, Yossa urung menjual bisnisnya itu pada orang lain.

Bagi Yossa, setiap pengusaha perlu mempersiapkan diri sebelum menghadapi titik jenuh ini. Dan salah satu cara yang kuat menurut Yossa, yaitu perlunya memiliki jangkar yang kuat. Yossa mengaku mempelajari hal itu dari Mas Mono.

Pria yang pernah mengambil pendidikan sarjana Public Relations di Universitas Pelita Harapan ini mencontohkan jangkar kuat yang dimaksud, seperti keinginan atau janji dalam diri untuk membahagiakan orangtua. Keinginan bisa memberikan saudara berkah, atau sejenisnya. Intinya, adalah sesuatu yang membuat kita ingat ke titik awal memulai bisnis.

Lantas, apa yang perlu kita lakukan saat mengingat lagi titik awal? Yossa mengingatkan lagi pada apa yang pernah ditulis Denny Santoso dalam bukunya, Done is better than perfect: kisah sukses seorang digital marketer dan serial entrepreneur.

“Kita (perlu) introspeksi diri, sebenarnya kita sudah bermanfaat atau belom sih buat orang?” ungkap Yossa.

Dan saat di titik itulah, Yossa sempat teringat lagi bagaimana bisnis bawangnya bisa menjadi tempat bagi ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). “Memang karyawan saya itu ibu-ibu PKK. Nah, dari situ saya kembali refresh,” kenangnya.

Dunia Bisnis adalah Tempatnya Orang yang Tak Akan Berhenti

Memiliki pendapatan Rp 18 juta per bulan hanya dari satu bisnis, belum dengan pendapatan dari 4 bisnis lainnya. Sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Sudah menyelesaikan pendidikan S2 di Binus University International.

Saat ini ia pun berstatus sebagai dosen entrepreneur tak tetap Binus yang mengajar 1-2 kali setiap pekan. Membuka kelas kewirausahaan di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) rutin setiap satu bulan sekali. Sering diundang sebagai pembicara di berbagai acara kewirausahaan setidaknya 4-5 kali dalam satu bulan. Dan baru saja terdaftar sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (HIMPI Jaya).

Melihat semua itu, apakah label ‘sukses’ sudah pantas disematkan atas pencapaian Yossa saat ini? Kemungkinan besar jawabannya pantas. Tapi, seluruh pencapaiannya itu masih juga dirasa kurang oleh Yossa. Bukan karena tak pandai bersyukur, tapi baginya memang tak ada kata berhenti.

Bagi Yossa, dunia bisnis adalah tempatnya orang yang tak akan berhenti pada satu titik tertentu. Maksudnya, akan selalu ada hal-hal baru yang ingin dicapai setelah berhasil menuntaskan target sebelumnya.

“Anthony Robbins itu bilang, jangan jadi naif waktu kita sudah sampai di satu titik. Jadi memang sudah nggak bisa setop. Ini (bisnis) sudah dunianya orang nggak bisa setop,” tegas Yossa.

Karena itu, Yossa yakin bahwa seorang pengusaha tak akan pernah merasa cukup saat sudah mencapai suatu hal. Dan pencapaian terbaik bagi seorang pengusaha menurut Yossa bukanlah ketika ia sudah memiliki banyak uang, materi, atau ketika bisa memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Pencapaian terbaik kamu adalah tidak setop di pencapaian terakhirmu,” ujarnya penuh penekanan.

Banjir Impor, Ini yang Diminta Pengusaha Keramik pada Pemerintah

Berempat.com – Produk keramik dalam negeri saat ini dinilai sulit bersaing dengan produk impor. Pasalnya, pemerintah dinilai overprotective sehingga membuat produk dalam negeri sulit bersaing dengan produk impor. Karena itulah Forum Pengguna Keramik Seluruh Indonesia (FPKSI) meminta agar pemerintah tak terlalu terlibat dalam melindungi industri keramik.

“Pemerintah seharusnya tidak terlalu banyak proteksi buat segala hal. Seharusnya dilepas saja agar memberikan kompetisi antara impor dan industri,” ujar Ketua Umum FPKSI Triyogo dalam keterangan resminya, Rabu (25/7).

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerima dan memproses safeguard yang diajukan oleh Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki). Asaki mengajukan hal tersebut lantaran menilai impor keramik semakin menekan produk dalam negeri.

Banjirnya produk impor keramik di Indonesia, ujar Triyogo, justru memperlihatkan bagaimana tidak berdayanya produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional yang terus membesar. Pasalnya, ukuran dan kualitas produk lokal keramik dinilai belum bisa memenuhi standar permintaan pasar atau tren penggunaan keramik yang ada di Indonesia, yakni di atas 60cm x 60cm.

Tak mampunya produsen keramik nasional memenuhi kebutuhan pasar dinilai Triyogo karena banyak yang masih menggunakan peralatan dan sistem lama yang menghasilkan keramik glasur. Sementara tren dunia saat ini sudah menggunakan keramik poles.

“Harus disadari bahwa tren pengguna keramik sudah bergeser dari keramik yang diglasur menjadi porselen,” tukas Triyogo.

Hal inilah yang menurut Triyogo perlu mendapat perhatian dan dukungan pemerintah agar bisa mengembangkan produk dalam negeri. Selain itu, Triyogo pun menyebut sulitnya bahan baku menjadi kendala bagi produsen keramik dalam negeri.

Mentan Sebut Produksi Kelapa Indonesia Capai 18 Juta Ton per Tahun

Berempat.com – Kelapa nampaknya menjadi salah satu komoditas yang tak kalah penting bagi Indonesia. Pasalnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim bahwa Indonesia menjadi negara produsen kelapa terbesar di dunia.

“Produksinya mencapai 18 juta ton per tahun,” ujar Amran dalam keterangan tertulis di Sulawesi Tengah, Selasa (24/7).

Melihat capaian tersebut, Amran pun optimis bahwa produk kelapa Indonesia dapat kian berjaya di mata dunia. Namun, kendati demikian Amran menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mendorong untuk peningkatan produksi hingga 0,5 juta ton.

” Bila mampu ditingkatkan sedikit saja, sekitar 0,5 juta ton, tidak akan ada lagi negara yang sanggup mengejar produksi kelapa Indonesia,” ucapnya.

Menurut Amran, dalam mendongkrak produktivitas kelapa diperlukan adanya nilai tambah melalui industri pengolahan. Kondisi itu tentunya bakal menguntungkan para petani. Karena, sambung Amran, hal terpenting bagi petani adalah jaminan hasil produksi mereka dibeli dan diserap oleh pasar.

Dan demi bisa meningkatkan produksi kelapa, Amran pun akan memastikan kementeriannya senantiasa aktif membagikan bibit kelapa unggul, pupuk gratis, serta kebutuhan peremajaan perkebunan kelapa.

Astra Finance Berharap Penyaluran Pembiayaan Tahun Ini Samai Tahun 2017

0

Berempat.com – Perusahaan pembiayaan milik Astra Group, yakni Astra Finance belum mengumumkan nilai pertumbuhan penyaluran pembiayaan pada tahun ini. Namun, Direktur PT Astra International dan Director in Charge Astra Financial Suparno Djasmin berharap pertumbuhaan pembiayaan masih sama seperti tahun 2017, yakni Rp 80 triliun.

“Melihat kondisi pasar saat ini, kita berharap paling tidak, ya tidak turun dibanding tahun kemarin,” ujar Suparno di Jakarta, Selasa (24/7).

Suparno sendiri masih berharap agar tahun ini ekonomi bisa terus membaik. “Namun kami harus mengelola bisnis secara lebih prudent dan meningkatkan manajemen risiko dengan lebih baik,” imbuhnya.

Terkait kontribusi laba, Suparno mengungkapkan bahwa tahun lalu Astra Financial menyetor Rp 3,75 triliun atau hampir 20% dari total keuntungan perusahaan induk. Melihat itu, Suparno pun berharap tahun ini performance Astra Finance bisa semakin membaik.

Suparno pun memastikan bahwa lembaga jasa keuangan di bawah Astra Finance akan dikelola secara bijak. Dan terkait suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), Suparno mengaku masih akan melihat kemampuan dalam menyerap kenaikan suku bunga tersebut. Termasuk melihat kondisi pasar sebelum memutuskan akan menaikkan bunga pembiayaan atau tidak.

Menurut Suparno, itu merupakan langkah kehati-hatian yang perlu dilakukan oleh perusahaan. Hal serupa juga berlaku dalam menjaga kondisi kesehatan kredit. Dengan tren kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini, ia berharap bisa tetap mempertahankan rasio non performing financing (NPF) dari perusahaan pembiayaan yang ada di grup usaha tersebut.

“Secara total NPF perusahaan pembiayaan di Group Astra mencapai sekitar 0,6%,” ujar Suparno.