Senang Belajar, Pemicu Yossa Sukses Menjalankan Lebih dari 4 Bisnis Sekaligus

0
1091
Direktur CV. Setiadi Brother Yossa Setiadi

“Pencapaian terbaik kamu adalah tidak setop di pencapaian terakhirmu.”

Berempat.com – Selain bisa membunuh, kata-kata orang lain ternyata bisa memberikan harapan. Itulah kalimat yang pertama kali terlontar dari Yossa Setiadi, seorang pengusaha yang kini setidaknya memiliki 5 bisnis ketika menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Kami bertemu di Neo Soho, Central Park, Jakarta, Sabtu (14/7).

Yossa merupakan seorang pengusaha yang besar berkat bisnis bawang goreng kemasan. Sesuatu yang  barangkali dipandang sebagai ‘bisnis tak berbobot’ bagi kebanyakan dari kita. Tapi, bagaimana bila produk bawang goreng kemasannya (Bawang Goreng Soy) mampu masuk ke-28 hotel bintang 4 dan 5 di Indonesia, mulai dari Hotel Mulia hingga Shangri-La; juga didistribusikan ke-38 maskapai penerbangan; dan ke banyak restoran hingga dipasarkan ke luar negeri? Tentu pandangan sebagai ‘bisnis tak berbobot’ dari kepala kita akan luntur seketika.

Beruntungnya, bisnis yang dimulai Yossa pada Desember 2007 itu tak sempat viral (booming) layaknya Es Kepal Milo, minuman olahan susu, thai tea, atau batu akik seperti yang sudah-sudah. Karena kemungkinan besar akan banyak orang yang mendadak jadi pebisnis bawang goreng.

Selain bawang goreng, Yossa juga punya bisnis jahe susu (Jahe Susu Asoy) yang dibangunnya pada 2013 lalu dan kini sudah memiliki 18 cabang. Kemudian, di tahun yang sama ia juga mendirikan bisnis di jasa kontraktor, seperti pengaspalan jalan, jasa pengurukan, dan paving block. Masih ada lagi, Yossa juga sempat punya bisnis jasa penyedia estalase bagi UMKM yang ingin masuk mal pada 2015 lalu.

“Saya pernah gagal tahun 2015 di Emporium Pluit. Sekarang sudah ada modal lagi dan berani mau approve di Kota Kasablanka,” ungkap pria kelahiran 19 Agustus 1984 ini.

Dan yang terbaru, ia bersama dengan temannya, Utomo Prawiro, saat ini sedang menjajal bisnis baru di era digital, yakni marketplace konsultan. “Baru sebulan jalan dan puji Tuhan sudah ada dua klien yang mau masuk,” katanya sambil tersenyum. Seluruh bisnisnya itu berada di bawah bendera CV. Setiadi Brother.

Yossa memang punya semangat berbisnis yang tinggi. Di usianya yang relatif masih muda, 34 tahun, ia sudah bisa menjalankan 5 jenis bisnisnya sekaligus. Itu pun belum termasuk bisnis kecil-kecilan yang juga sedang dijajalnya, seperti bisnis ketoprak dan Sate Ayam Pak Uban.

Hebatnya, tak ada satu pun bisnis yang ditinggalkan atau dibiarkan Yossa terbengkalai sekalipun bisnisnya yang baru jauh lebih menjanjikan.

“Pasif income saya dari Bawang Goreng Soy per bulan bisa sampai Rp 18 juta. Itu bersihnya. Tapi saya nggak mau tinggalin walaupun income dari kontraktor lebih gede,” ujarnya yang hari itu mengenakan seragam Bawang Goreng Soy dengan perpaduan warna kuning dan oranye.

Semangatnya untuk berbisnis diakuinya terus lahir karena ia suka belajar. “Berbisnis identik dengan selalu belajar. Dari itulah kenapa saya senang berbisnis,” ungkapnya.

Karena setiap kali menjajal bisnis baru sudah pasti akan ada berbagai tantangan baru yang menanti.

Keinginannya untuk belajar pun tak datang begitu saja. Yossa ingin terus belajar karena ia selalu senang berbagi dan memberikan ilmu bagi orang lain. Karena, bagi Yossa, itulah arti kesuksesan yang sebenarnya.

“Saya pikir, satu-satunya cara untuk bisa menjadi orang yang sukses kita harus memberikan ilmu,” ujar pria lulusan Magister Business & Administration di Binus International tersebut.

Senang belajar dan senang berbagi, itu juga yang memicu Yossa menjadi pribadi yang senang membaca. Boleh dibilang Yossa termasuk kategori pengusaha yang kutu buku. Berbagai buku, terutama yang menyangkut urusan bisnis, sudah habis dilahapnya. Entah itu buku gubahan Dewa Eka Prayoga, Tung Dasem Waringin, Anthony Robbin, Bill Gates, Warrent Buffet, dan banyak lagi.

Bahkan, hari itu Yossa mengaku bahwa ia masih membiasakan diri untuk membaca 30-40 halaman buku per hari. Dan untuk bisa konsisten seperti itu diakuinya tak mudah.

Punya Bisnis Lebih dari Satu itu Hal Biasa, tapi…

Menjalani bisnis satu saja kadang kala masih suka kelimpungan, apalagi kalau dua, tiga, atau empat. Tapi, tentu Yossa tak sembarangan mengambil keputusan saat akan menjajal bisnis kedua, ketiga, atau keempatnya. Setidaknya, Yossa sudah memastikan bahwa bisnisnya yang sudah lebih dulu berjalan bisa bergerak tanpa perlu pengawasan ketat darinya.

Saat ditanya kapan waktu bagi seseorang bisa menjajal bisnis kedua, ketiga, atau keempatnya, Yossa dengan semangat mengutip ucapan Heri Bertus—penulis buku Jurus Marketing Paling Nonjok—yang pernah didengarnya melalui kaset CD:

“Orang dengan usaha banyak sah-sah saja asalkan dia bisa melewati 10 ribu jam pertamanya pada bisnis itu.”

Apa yang dikatakan Heri Bertus itu pun menjadi patokan bagi Yossa sebelum menjalani bisnis keduanya. “Per hari ini sumber income saya cukup banyak. Tapi saya pastikan semua itu sudah melewati 10 ribu jam. Itu sekitar 4-5 tahun,” klaim pengagum Tung Dasem Waringin ini.

Kemudian, berdasarkan pengalaman Yossa, saat hendak menjajal bisnis kedua yang terpenting adalah ‘show me the money’. Maksudnya, pastikan bisnis yang akan kita ambil benar-benar dapat menghasilkan di kemudian hari.

Lantas, pada perbincangan kami di lantai 3M petang itu, Yossa tak lupa mewanti-wanti agar siapa pun yang akan menjajal bisnis keduanya tak serta-merta meninggalkan bisnis lamanya. Artinya, ia harus menjaga bisnis pertamanya untuk tetap berjalan dan mendapat untung.

“Saya nggak ninggaling usaha bawang saya yang sudah 10 tahun. Padahal orderan saya (dari bisnis lain) banyak. Hari ini ada order Rp 30 juta kes, yang nilainya jauh lebih besar daripada bawang. Karena saya dapat ilmunya (menjalankan bisnis) dari sana (bisnis bawang),” ungkap Yossa.

Bagi Yossa, bisnis lama yang dijalaninya memang sangat berperan dalam memberikan berbagai ilmu berbisnis. Dan itu pun bisa menjadi bekal baginya untuk menjalani bisnis kedua, ketiga, atau keempatnya.

“Misalnya, saya punya teman yang punya kakileema.com. Beliau sudah ada di Gajah Mada Mal. Percaya saya, dia jauh lebih bisa nego ke mal-mal yang lain karena dia sudah punya ilmunya. Jadi itu nggak bisa ditinggalin (bisnisnya) karena ilmunya bisa kepake,” imbuhnya.

Ada saran lain yang tak kalah penting dari penggagas komunitas BizzDate ini. Menurutnya, bila Anda ingin menjajal bisnis kedua, maka ada baiknya agar memilih bisnis yang tak bertolak belakang dengan bisnis pertama.

Yossa memberi saran demikian sebab dulu ia menjajal bisnis keduanya karena sebuah ‘kecelakaan’. Ia mengaku bisnis keduanya yang berdiri ialah jasa kontraktor, bisnis yang sangat bertolak belakang dengan bisnis pertamanya.

“Karena saya waktu itu mikirnya tentang uang. Karena orderan 1 PO bawang untungnya ratusan ribu. Tapi kontraktor kelihatan capeknya sama, orderannya bisa untung jutaan rupiah,” kisah Yossa.

Namun, tak lama kemudian ia mengaku tobat dan memilih menyelipkan bisnis yang masih berhubungan dengan kuliner. Maka muncullah Jahe Susu Asoy.

“Makanya kenapa saya waktu bermain ketoprak, lalu saat beralih ke Sate Ayam Pak Uban bisa lancar banget. Karena saya sudah tahu banget celah-celahnya. Karena belajar dari yang lamanya (bawang goreng dan susu jahe),” tambah Yossa.

Bagi Yossa, penting memilih jenis bisnis yang tak jauh berbeda. Karena bila benar-benar bertolak belakang, maka kita dipaksa untuk belajar lagi dari nol. Tapi, lain hal bila menjalani bisnis yang jenisnya sama, setidaknya kita sudah tahu apa yang perlu dilakukan.

Namun, sekalipun saat menjalani bisnis kedua kita menemui kesulitan yang sama atau pernah dihadapi sebelumnya, Yossa sendiri mengakui bahwa cara yang sama untuk menundukkan belum tentu berhasil.

“Saya pernah mencoba, 1 bulan saya budget iklan di Google Ads. Kok dulu bagus, (modal) Rp 99 ribu bisa dapat 300 nomor telpon. Sekarang Rp 290 ribu, kok cuma dapet sekian,” kenang mantan gamers ini.

Lantas, pada perbincangan kami yang berlangsung lebih dari satu jam itu, Yossa membagi ilmunya dalam menerapkan fokus saat menjalankan lebih dari satu bisnis. Yossa menyebut ada 4 tingkatan level yang mesti dilalui oleh pebisnis.

Pertama, fokuslah pada yang paling menghasilkan. Artinya, kita perlu menaruh perhatian pada bisnis yang paling menghasilkan di antara bisnis yang kita punya. Kedua, fokuslah pada bisnis yang bisa ditinggal. Dalam hal ini, Yossa berusaha mengingatkan bahwa bisnis yang sudah autopilot pun masih perlu kita perhatikan. Bahkan menjadi perhatian kedua karena bisnis ini tak memerlukan perlakuan lebih, tapi sangat penting dijaga.

Ketiga, sambung Yossa, fokuslah pada bisnis yang bermanfaat sehingga konsumen bisa merasa terbantu dengan produk kita. Misalnya, “terima kasih ya, gara-gara produk kamu anak saya makannya jadi lahap.”

Terakhir, fokuslah pada bisnis yang bisa diduplikasi sehingga layak untuk diperjuangkan.

Mesin Pembunuh para Pengusaha itu adalah Titik Jenuh

“Tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses dan belajar.”

Itu adalah kalimat yang paling menempel di kepala lelaki berzodiak Leo ini.  Karena itu, Yossa menganggap bahwa apa yang dianggap sebuah ‘kegagalan’ oleh banyak orang itu tak pernah ada dalam kamusnya. Jadi, bagi Yossa tak pernah ada kata gagal dalam kamusnya, tapi lebih tepatnya belajar.

Yossa juga masih ingat oleh kata-kata yang pernah dilontarkan oleh pendiri Scaleup.id, Gustiadi Prakoso yang menyebut kalau semua orang adalah profesional learner.

“Jadi saya pikir learner itu kan bisa hasilnya bagus atau jelek. Jadi ya kalo belum sukses kita belajar lagi. Kalo sudah sukses kita pun terus belajar,” ujar Direktur CV. Setiadi Brother ini.

Sebab itu, Yossa pun yakin bahwa sesuatu yang sering disebut kegagalan oleh banyak orang bukanlah penghenti langkah seorang pengusaha. Justru, Yossa beranggapan bahwa musuh besar pengusaha adalah titik jenuh.

“Itu satu-satunya pembunuh pengusaha,” tegas Yossa.

Yossa yakin bahwa semua orang, tak terkecuali pengusaha, pernah berada pada situasi tersebut; titik jenuh. Ia sendiri tak menampiknya. “Saya saja pernah mau jual anak kesayangan saya (Bawang goreng soy),” kenangnya sambil mengangkat kemasan Bawang Goreng Soy di hadapan saya.

Padahal, dari bisnis bawangnya itu ia sudah bisa menerima pendapatan bersih Rp 18 juta per bulan. Tapi, saat di titik jenuh ia sempat berpikir ingin menjual bisnisnya itu senilai Rp 2 miliar. Namun, beruntunglah, Yossa urung menjual bisnisnya itu pada orang lain.

Bagi Yossa, setiap pengusaha perlu mempersiapkan diri sebelum menghadapi titik jenuh ini. Dan salah satu cara yang kuat menurut Yossa, yaitu perlunya memiliki jangkar yang kuat. Yossa mengaku mempelajari hal itu dari Mas Mono.

Pria yang pernah mengambil pendidikan sarjana Public Relations di Universitas Pelita Harapan ini mencontohkan jangkar kuat yang dimaksud, seperti keinginan atau janji dalam diri untuk membahagiakan orangtua. Keinginan bisa memberikan saudara berkah, atau sejenisnya. Intinya, adalah sesuatu yang membuat kita ingat ke titik awal memulai bisnis.

Lantas, apa yang perlu kita lakukan saat mengingat lagi titik awal? Yossa mengingatkan lagi pada apa yang pernah ditulis Denny Santoso dalam bukunya, Done is better than perfect: kisah sukses seorang digital marketer dan serial entrepreneur.

“Kita (perlu) introspeksi diri, sebenarnya kita sudah bermanfaat atau belom sih buat orang?” ungkap Yossa.

Dan saat di titik itulah, Yossa sempat teringat lagi bagaimana bisnis bawangnya bisa menjadi tempat bagi ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). “Memang karyawan saya itu ibu-ibu PKK. Nah, dari situ saya kembali refresh,” kenangnya.

Dunia Bisnis adalah Tempatnya Orang yang Tak Akan Berhenti

Memiliki pendapatan Rp 18 juta per bulan hanya dari satu bisnis, belum dengan pendapatan dari 4 bisnis lainnya. Sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Sudah menyelesaikan pendidikan S2 di Binus University International.

Saat ini ia pun berstatus sebagai dosen entrepreneur tak tetap Binus yang mengajar 1-2 kali setiap pekan. Membuka kelas kewirausahaan di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) rutin setiap satu bulan sekali. Sering diundang sebagai pembicara di berbagai acara kewirausahaan setidaknya 4-5 kali dalam satu bulan. Dan baru saja terdaftar sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (HIMPI Jaya).

Melihat semua itu, apakah label ‘sukses’ sudah pantas disematkan atas pencapaian Yossa saat ini? Kemungkinan besar jawabannya pantas. Tapi, seluruh pencapaiannya itu masih juga dirasa kurang oleh Yossa. Bukan karena tak pandai bersyukur, tapi baginya memang tak ada kata berhenti.

Bagi Yossa, dunia bisnis adalah tempatnya orang yang tak akan berhenti pada satu titik tertentu. Maksudnya, akan selalu ada hal-hal baru yang ingin dicapai setelah berhasil menuntaskan target sebelumnya.

“Anthony Robbins itu bilang, jangan jadi naif waktu kita sudah sampai di satu titik. Jadi memang sudah nggak bisa setop. Ini (bisnis) sudah dunianya orang nggak bisa setop,” tegas Yossa.

Karena itu, Yossa yakin bahwa seorang pengusaha tak akan pernah merasa cukup saat sudah mencapai suatu hal. Dan pencapaian terbaik bagi seorang pengusaha menurut Yossa bukanlah ketika ia sudah memiliki banyak uang, materi, atau ketika bisa memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Pencapaian terbaik kamu adalah tidak setop di pencapaian terakhirmu,” ujarnya penuh penekanan.

Sudah aktif menulis sejak 2011. Menggemari fiksi. Beberapa karya cerpen sudah dibukukan dan dimuat di berbagai media online. Sudah menelurkan 4 buah buku bertema inspirasi bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here