Senin, Oktober 12, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog

Membeli Rokok Lebih Diprioritaskan? Ini Perbandingan Belanja Rokok dan Pangan

0

Kebiasaan membeli rokok masih menyerap porsi besar anggaran rumah tangga di Indonesia. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau bahkan lebih tinggi dibandingkan belanja sejumlah bahan pangan bergizi, seperti daging, telur, susu, dan buah-buahan.

Dalam publikasi Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, BPS mencatat rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per kapita setiap bulan. Nilai tersebut setara 11,57 persen dari total pengeluaran makanan penduduk dan menjadi kelompok pengeluaran terbesar kedua setelah makanan jadi.

Sementara itu, rata-rata belanja daging hanya mencapai Rp40.352 per kapita per bulan. Pengeluaran untuk telur dan susu tercatat sebesar Rp44.915. Jika digabungkan, kedua kelompok pangan tersebut masih berada di bawah anggaran yang digunakan masyarakat untuk membeli rokok.

Pengeluaran untuk buah-buahan juga relatif lebih rendah, yakni Rp48.784 per kapita per bulan. Angka ini memperlihatkan besarnya alokasi konsumsi rumah tangga untuk produk tembakau dibandingkan sejumlah sumber protein dan vitamin.

Pengeluaran Rokok di Perdesaan Lebih Tinggi

Kesenjangan tersebut semakin terlihat di wilayah perdesaan. Berdasarkan data BPS, rata-rata pengeluaran penduduk desa untuk rokok dan tembakau mencapai Rp100.951 per kapita setiap bulan.

Sebaliknya, belanja daging di perdesaan hanya sebesar Rp26.046 per kapita per bulan. Pengeluaran untuk telur dan susu tercatat Rp38.016, sedangkan buah-buahan mencapai Rp37.563.

Data itu menunjukkan anggaran untuk membeli rokok di perdesaan jauh melampaui pengeluaran untuk daging. Bahkan, nilainya lebih besar dibandingkan gabungan belanja daging, telur, susu, dan buah-buahan.

Tantangan Pemenuhan Gizi Keluarga

Perbedaan alokasi belanja tersebut menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan menekan angka stunting. Pengeluaran rumah tangga yang terbatas membuat prioritas konsumsi berpengaruh terhadap kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi.

Kebiasaan membeli rokok dengan anggaran besar berpotensi mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan penting lainnya. Karena itu, data pengeluaran ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendorong pola konsumsi yang lebih sehat, terutama bagi keluarga rentan yang perlu menjaga kecukupan gizi sehari-hari.

Cabai Indonesia Makin Diminati Pasar Global, Jepang Jadi Salah Satu Tujuan Ekspor

0

Cabai Indonesia semakin berpeluang memperluas pasar di luar negeri, salah satunya Jepang. Tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia yang tinggal di Negeri Sakura menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan cabai asal Tanah Air. Peluang tersebut dimanfaatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Yogyakarta yang menjalankan kegiatan produksi di Gunungkidul.

Kebutuhan cabai dari sekitar 266 ribu warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Jepang diperkirakan mencapai 1.227 ton per tahun. Besarnya permintaan ini membuka kesempatan bagi produsen dalam negeri untuk memperluas penjualan sekaligus meningkatkan nilai perdagangan produk pertanian.

Pelaku UMKM tersebut mulai mengekspor cabai beku ke Jepang pada Juni 2025 dengan volume 7,9 ton. Pengiriman kembali dilakukan pada April 2026 sebanyak 8,3 ton, kemudian berlanjut pada Agustus 2026 dengan volume delapan ton.

Secara keseluruhan, usaha tersebut telah melakukan delapan kali pengiriman ke pasar internasional. Nilai transaksi ekspornya tercatat hampir mencapai Rp1 miliar. Capaian ini memperlihatkan bahwa produk pertanian lokal memiliki kesempatan untuk berkembang ketika mampu memenuhi kebutuhan pasar yang dituju.

Cabai Indonesia Menjangkau Berbagai Negara

Jepang bukan satu-satunya tujuan ekspor cabai asal Indonesia. Produk ini juga telah dipasarkan ke sejumlah negara lain, antara lain Malaysia, Pakistan, China, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Perluasan pasar tersebut memberikan ruang bagi Cabai Nusantara untuk bersaing di pasar global. Produk dalam bentuk segar maupun olahan dapat menjangkau konsumen dengan kebutuhan berbeda, termasuk masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa volume ekspor cabai nasional mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada 2022, ekspor cabai segar tercatat sebesar 0,11 ribu ton, sedangkan cabai olahan mencapai 9,10 ribu ton.

Setahun kemudian, kinerja ekspor kedua kategori tersebut meningkat. Volume cabai segar naik menjadi 0,29 ribu ton, sementara cabai olahan bertambah menjadi 9,48 ribu ton.

Peluang Ekspor bagi Pelaku UMKM

Kenaikan tersebut menunjukkan adanya potensi pengembangan pasar bagi produk cabai nasional. Dengan permintaan yang tersedia di berbagai negara, Cabai Indonesia dapat menjadi salah satu komoditas yang mendukung pertumbuhan ekspor sektor pertanian.

Bagi pelaku UMKM, peluang ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan pembeli dan meningkatkan skala usaha. Konsistensi pasokan, mutu produk, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi faktor penting agar Cabai Indonesia mampu mempertahankan daya saing di pasar internasional.

Bansos Tahap 4 Segera Disalurkan? Cek 5 Program Bantuan Pemerintah Ini

0

Penyaluran Bansos Tahap 4 pada Oktober hingga Desember 2026 menjadi perhatian masyarakat, terutama keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejumlah program pemerintah berpotensi berlanjut pada periode ini, mulai dari bantuan keluarga, pangan, jaminan kesehatan, hingga pendidikan.

Mengutip informasi dari akun Instagram Sekretariat Kabinet, terdapat lima program yang perlu diperhatikan, yakni Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), bantuan pangan beras, Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK), dan Program Indonesia Pintar (PIP).

Meski berada dalam periode yang sama, setiap program memiliki mekanisme penyaluran berbeda. Karena itu, Bansos Tahap 4 tidak berarti seluruh bantuan akan cair serentak pada Oktober.

Lima Program Bantuan yang Perlu Dipantau

1. Program Keluarga Harapan (PKH)

PKH menyasar keluarga miskin dan rentan yang memenuhi persyaratan, termasuk ibu hamil, anak usia dini, siswa, penyandang disabilitas berat, serta lansia. Penyalurannya dibagi menjadi empat tahap dalam setahun, dengan tahap keempat mencakup Oktober–Desember. Nominal bantuan mengikuti kategori penerima.

2. Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT)

BPNT membantu keluarga penerima memenuhi kebutuhan pangan. Nilai bantuannya sebesar Rp200.000 per bulan. Jika tiga bulan disalurkan sekaligus, totalnya mencapai Rp600.000. Penyaluran dilakukan melalui mekanisme yang ditetapkan pemerintah.

3. Bantuan pangan beras

Program ini mengalokasikan 10 kilogram beras per keluarga setiap bulan. Untuk periode tiga bulan, total bantuan mencapai 30 kilogram. Distribusinya mengikuti jadwal dan ketentuan pemerintah di masing-masing wilayah.

Cara Memastikan Status Penerima Bansos Tahap 4

4. PBI Jaminan Kesehatan

Melalui PBI-JK, pemerintah menanggung iuran Jaminan Kesehatan Nasional bagi masyarakat yang memenuhi kriteria. Bantuan ini berbentuk pembayaran iuran, bukan uang tunai yang diterima langsung.

5. Program Indonesia Pintar (PIP)

PIP ditujukan bagi siswa dari keluarga kurang mampu untuk membantu kebutuhan pendidikan. Besaran bantuan disesuaikan dengan jenjang sekolah dan ketentuan program.

Penetapan penerima berbagai bantuan mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang membagi masyarakat ke dalam sepuluh desil kesejahteraan. Desil 1–4 menjadi prioritas sejumlah program, tetapi status penerimaan tetap bergantung pada verifikasi dan validasi data.

Untuk mengetahui informasi Bansos Tahap 4, masyarakat dapat memeriksa status melalui kanal resmi Kemensos, BPJS Kesehatan, atau Program Indonesia Pintar sesuai jenis bantuan. Jadwal pencairan setiap program dapat berbeda sehingga informasi resmi perlu menjadi acuan.

Pengurangan Emisi Jadi Aset, Industri Hijau Berpotensi Ciptakan Peluang Ekonomi

0

Transformasi industri hijau mulai dipandang sebagai peluang ekonomi yang dapat meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai, penerapan efisiensi energi dan pengurangan emisi mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan, termasuk melalui perdagangan karbon yang memungkinkan penghematan emisi diperdagangkan di pasar karbon.

Menurut Sarmuji, pelaku industri yang berhasil menekan emisi dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan produksi. Skema tersebut diharapkan mendorong perusahaan memperbaiki efisiensi operasional dan memperkuat posisi produk nasional di pasar internasional.

Pemerintah juga berupaya mendampingi pelaku usaha melalui regulasi dan panduan teknis agar penerapan prinsip industri hijau dapat berjalan sesuai ketentuan. Dengan dukungan tersebut, transisi menuju proses produksi yang lebih ramah lingkungan diharapkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi sektor manufaktur.

Kemenperin Tingkatkan Pengawasan Standardisasi Industri

Selain mendorong industri hijau, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengawasan standardisasi dan sertifikasi untuk menjaga kualitas produk di pasar. Sarmuji menegaskan, penerapan standar menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen dan mendukung pertumbuhan industri nasional.

Hingga September 2026, Kemenperin telah mengawasi 45 Standar Nasional Indonesia (SNI), meningkat dari 28 SNI pada tahun sebelumnya. Pengawasan terhadap merek juga bertambah menjadi 78 merek, dibandingkan 73 merek pada periode sebelumnya.

Pada Oktober hingga November 2026, pemerintah merencanakan pengawasan terhadap enam SNI dan sembilan merek. Pemeriksaan dilakukan di pabrik maupun pasar, termasuk melalui pengujian sampel produk yang telah diwajibkan memenuhi SNI.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Emmy Suryandari, mengatakan pengawasan diperlukan untuk memastikan produk lokal maupun impor memenuhi standar mutu yang berlaku. Langkah ini sekaligus melindungi masyarakat dari produk yang tidak sesuai ketentuan.

Penerapan SNI Wajib Masih Terbatas

Meski pengawasan diperkuat, cakupan penerapan SNI Wajib masih perlu diperluas. Dari total 5.552 SNI di sektor industri, baru 131 standar atau sekitar 2,4 persen yang berstatus wajib.

Perluasan standardisasi dan pengembangan industri hijau dapat menjadi peluang ekonomi bagi produsen yang mampu meningkatkan kualitas, efisiensi, serta daya saing produknya. Jika dijalankan secara konsisten, kedua langkah tersebut berpotensi memperkuat industri nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru di tengah persaingan pasar global.

Bahan Bakar Global Masih Tertekan, Ketegangan Timur Tengah dan Badai Isaias Jadi Sorotan

0

Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan Jumat (9/10/2026) setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai peluang meredanya konflik dengan Iran turut memengaruhi sentimen pasar, yang sebelumnya dibayangi ancaman terhadap distribusi bahan bakar global.

Mengutip CNBC pada Sabtu (10/10/2026), Trump menyatakan Washington tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela Kongres pada 3 November mendatang. Ia juga menyebut pembicaraan dengan Teheran berlangsung produktif, meski belum ada kepastian mengenai hasil perundingan tersebut.

Di tengah perkembangan itu, Trump memberi sinyal bahwa pemerintah AS akan segera mengumumkan kebijakan terkait bahan bakar diesel. Ia turut mempertimbangkan penangguhan pajak federal atas bensin, tetapi belum memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pernyataan AS Pengaruhi Pergerakan Harga Minyak

Meski kekhawatiran geopolitik mereda, harga minyak masih bergerak fluktuatif. Minyak mentah Brent tercatat naik 19 sen menjadi US$104,47 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 36 sen ke level US$91,85 per barel.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai pernyataan Trump mengenai Iran dan rencana China kembali mengekspor produk bahan bakar olahan menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar. China sebelumnya menghentikan sementara ekspor tersebut selama libur Golden Week.

Situasi ini menunjukkan bahwa prospek bahan bakar global masih bergantung pada perkembangan politik dan kelancaran perdagangan internasional.

Selat Hormuz dan Badai Isaias Tambah Tekanan Pasokan

Risiko distribusi energi belum sepenuhnya hilang. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum konflik menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak dan bahan bakar dunia. Iran juga tengah meninjau tanggapan AS atas usulan pembukaan kembali jalur tersebut dalam tujuh hari, menurut laporan kantor berita Tasnim.

Tekanan terhadap bahan bakar global turut datang dari sanksi AS terhadap jaringan dan kapal pengangkut minyak Iran serta perang Rusia-Ukraina yang mengganggu pasokan diesel, bensin, dan bahan bakar jet.

Sementara itu, Badai Isaias di Teluk Meksiko memaksa penghentian produksi sekitar 1,3 juta barel minyak per hari, setara 62,9 persen produksi kawasan tersebut. Kombinasi risiko geopolitik dan gangguan produksi membuat prospek pasokan energi dunia masih rentan terhadap perubahan situasi.

Industrial IoT untuk Pabrik: Memulai Digitalisasi dari Sensor dan Data Real-Time

Di banyak pabrik, mesin sebenarnya terus menghasilkan informasi penting: suhu yang mulai naik, getaran yang tidak biasa, konsumsi listrik yang melonjak, hingga waktu berhenti produksi yang terlalu lama. Masalahnya, informasi tersebut sering tidak tercatat atau baru diketahui setelah gangguan terjadi. Di sinilah Industrial IoT berperan, yaitu pendekatan yang menghubungkan sensor, mesin, dan sistem digital agar kondisi operasional dapat dipantau secara lebih cepat dan terukur.

Bagi perusahaan manufaktur, penerapan teknologi ini bukan semata-mata soal mengikuti tren digital. Tujuan utamanya adalah membuat data dari lantai produksi bisa digunakan untuk mengambil keputusan yang lebih tepat. Miraswift mengembangkan solusi IoT dan otomasi untuk membantu industri memantau proses produksi, status mesin, konsumsi energi, hingga laporan operasional melalui sistem yang dapat diakses secara real-time.

Apa Itu Industrial IoT?

Industrial IoT atau Industrial Internet of Things adalah penggunaan perangkat fisik yang saling terhubung untuk kebutuhan operasional industri. Perangkat ini bisa berupa sensor suhu, sensor getaran, meter energi, pengontrol mesin, hingga perangkat pengirim data. Semua perangkat tersebut mengumpulkan informasi dari lapangan, lalu mengirimkannya ke platform digital untuk ditampilkan dalam dashboard atau aplikasi.

Berbeda dengan IoT sehari-hari seperti perangkat rumah pintar, sistem industri berfokus pada proses yang berdampak langsung terhadap produktivitas, kualitas, keselamatan, dan biaya. Sensor dapat membaca kondisi mesin secara berkala, sementara sistem membantu tim melihat pola yang sebelumnya sulit diketahui dari laporan manual. Miraswift menjelaskan bahwa ekosistem IoT memungkinkan mesin, sensor, dan sistem manajemen “berkomunikasi” secara real-time sehingga informasi operasional lebih mudah ditindaklanjuti.

Sensor sebagai Indra di Lantai Produksi

Sensor merupakan bagian awal dari sebuah sistem Industrial IoT. Ibarat indra pada manusia, sensor menangkap perubahan kondisi di lingkungan kerja dan mengubahnya menjadi data. Jenis sensor yang digunakan tentu bergantung pada proses bisnis serta mesin yang dipantau.

Beberapa contoh penggunaan sensor di industri meliputi:

  1. Sensor suhu untuk memantau panas mesin, oven, ruang penyimpanan, atau proses pengolahan bahan.
  2. Sensor getaran untuk mengenali gejala tidak normal pada motor, pompa, kompresor, dan komponen berputar lainnya.
  3. Sensor tekanan untuk memantau sistem fluida, udara, atau proses produksi yang membutuhkan tekanan stabil.
  4. Meter energi untuk melihat pemakaian listrik per mesin, area, lini produksi, atau shift kerja.
  5. Sensor status mesin untuk mengetahui apakah mesin sedang berjalan, idle, berhenti, atau mengalami gangguan.

Data dari sensor membuat perusahaan tidak perlu hanya mengandalkan pemeriksaan manual yang sifatnya berkala. Misalnya, kenaikan suhu atau getaran dapat terlihat lebih awal sebelum berkembang menjadi kerusakan yang menghentikan produksi. Miraswift menyoroti penggunaan sensor untuk memantau suhu, getaran, tekanan, status mesin, dan konsumsi energi secara real-time.

Mesin Bukan Lagi “Kotak Hitam”

Pada operasional konvensional, mesin sering dianggap sebagai aset yang baru diperiksa ketika muncul masalah. Operator mungkin tahu mesin terasa lebih panas atau berbunyi tidak biasa, tetapi informasi itu belum tentu segera masuk ke pihak yang dapat mengambil tindakan. Akibatnya, perbaikan sering bersifat reaktif dan downtime dapat memengaruhi target produksi.

Dengan Industrial IoT, mesin dapat menjadi sumber data aktif. Informasi tentang jam operasi, output per shift, status mesin, hingga pemakaian energi dapat dikirim otomatis ke sistem. Manajemen dan tim teknis tidak lagi hanya bertanya “mesinnya masih jalan?”, tetapi dapat melihat pola: mesin mana yang paling sering berhenti, kapan konsumsi energi melonjak, dan lini mana yang output-nya tidak sesuai target.

Miraswift juga menerapkan pendekatan retrofit, yaitu penambahan sensor dan modul pada mesin yang sudah ada. Pendekatan ini penting bagi pabrik yang belum siap mengganti seluruh aset atau membangun infrastruktur baru. Sensor dipasang bertahap pada titik yang paling relevan, kemudian data dikirim ke dashboard web atau aplikasi mobile.

Connectivity, Jembatan dari Sensor ke Keputusan!

Sensor yang baik belum cukup bila datanya tidak sampai ke orang yang membutuhkan. Di sinilah connectivity atau konektivitas berperan. Konektivitas menghubungkan sensor dan mesin di lapangan dengan gateway, jaringan, serta platform digital yang menerima dan mengolah data.

Secara sederhana, alurnya seperti ini:

  • Sensor membaca kondisi mesin atau proses produksi.
  • Data dikumpulkan oleh perangkat penghubung atau gateway.
  • Data dikirim melalui jaringan ke server atau platform digital.
  • Dashboard menampilkan informasi dalam bentuk angka, grafik, status, atau notifikasi.
  • Tim operasional menggunakan informasi tersebut untuk mengambil tindakan.

Melalui alur ini, Industrial IoT mengubah data mentah menjadi informasi yang mudah dipahami. Pengguna tidak perlu terus berada di samping mesin untuk mengetahui kondisinya. Miraswift menyediakan sistem monitoring yang dapat diakses melalui smartphone, sehingga pengguna dapat memantau status mesin, tren konsumsi energi, dan output produksi secara real-time.

Manfaat Industrial IoT untuk Operasional

Keuntungan utama dari sistem yang terhubung adalah visibilitas. Perusahaan memiliki dasar yang lebih jelas untuk melihat apa yang terjadi di lapangan, bukan hanya menerima laporan setelah proses selesai. Manfaatnya dapat mencakup:

  • Mengurangi risiko downtime melalui pemantauan kondisi mesin.
  • Mengidentifikasi pemborosan energi berdasarkan penggunaan per mesin atau shift.
  • Memantau output produksi tanpa menunggu laporan manual.
  • Mempercepat respons ketika ada parameter yang melewati batas normal.
  • Mendukung perencanaan perawatan berdasarkan data, bukan semata jadwal rutin.
  • Membantu manajemen membandingkan kinerja antar lini produksi secara lebih objektif.

Namun, manfaat tersebut tidak muncul hanya dengan memasang perangkat. Perusahaan perlu menentukan tujuan yang jelas sejak awal. Ada pabrik yang ingin fokus pada pengurangan downtime, ada yang perlu menjaga suhu proses, dan ada pula yang ingin mengontrol konsumsi energi. Miraswift memulai penerapan dengan konsultasi teknis dan pemetaan proses agar solusi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan operasional pengguna.

Memulai dari Titik yang Paling Penting

Implementasi Industrial IoT tidak harus dilakukan sekaligus di seluruh pabrik. Pendekatan bertahap sering lebih efektif, terutama untuk bisnis yang masih menggunakan mesin lama atau belum memiliki sistem digital yang lengkap. Perusahaan dapat mulai dengan memilih satu mesin yang paling kritis, satu masalah yang paling sering terjadi, atau satu parameter yang paling memengaruhi biaya.

Setelah data mulai terkumpul, tim dapat mengevaluasi pola dan menentukan perluasan sistem berikutnya. Misalnya, monitoring awal dilakukan pada suhu dan jam operasi mesin. Tahap berikutnya dapat mencakup konsumsi listrik, output produksi, atau integrasi dengan sistem pelaporan lain. Dengan langkah yang realistis, perusahaan dapat membangun fondasi digital tanpa mengganggu proses kerja yang sedang berjalan.

Pasar Produk Lokal Diperluas, Kementerian UMKM Dorong ASN Belanja Produk Dalam Negeri

0

Kementerian UMKM mendorong aparatur sipil negara (ASN) ikut memperluas pasar produk lokal melalui gerakan belanja produk dalam negeri. Ajakan tersebut diwujudkan lewat Bazar ASN Gemar Belanja Lokal yang digelar di Jakarta, Rabu (7/10/2026), dengan menghadirkan berbagai jenama UMKM Indonesia.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana mengatakan ASN memiliki potensi besar untuk mendorong penggunaan produk buatan dalam negeri. Pilihan belanja yang dilakukan para aparatur pemerintah diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekaligus membantu pelaku UMKM menjangkau lebih banyak konsumen.

Temmy mengajak ASN menerapkan semangat Bangga, Bela, dan Beli Produk Lokal Indonesia dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan memilih produk dalam negeri dapat membantu memperkuat permintaan sekaligus membuka peluang pertumbuhan usaha lokal.

Bazar Jadi Jalan Memperluas Pasar Produk Lokal

Bazar ASN Gemar Belanja Lokal menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen di lingkungan perkantoran. Sebanyak 11 jenama lokal yang produknya telah menembus pasar ekspor turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa produk UMKM Indonesia memiliki peluang untuk berkembang di pasar domestik maupun internasional. Kementerian UMKM berharap kegiatan serupa dapat digelar di lebih banyak kementerian dan lembaga agar jangkauan pasar produk lokal semakin luas.

Program ini juga diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Shopee Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap produk lokal sekaligus mendorong konsumen untuk menggunakannya secara berkelanjutan.

Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira menilai keterlibatan ASN dapat memberikan pengaruh positif terhadap kebiasaan belanja masyarakat. Ketika aparatur pemerintah memilih produk lokal, tindakan tersebut dapat menjadi contoh bagi keluarga, rekan kerja, dan lingkungan sekitarnya.

Belanja Lokal Dorong Pertumbuhan UMKM

Radynal mengapresiasi Kementerian UMKM yang menjadi kementerian pertama dalam memulai gerakan tersebut. Ia menilai keputusan membeli produk dalam negeri turut membangun kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk buatan Indonesia.

Semakin luas penggunaan produk lokal, semakin besar pula peluang UMKM meningkatkan penjualan dan mengembangkan skala usahanya. Karena itu, perluasan pasar produk lokal melalui dukungan konsumen dinilai penting untuk memperkuat daya saing usaha nasional.

Pemerintah berharap gerakan ini berkembang ke berbagai instansi sehingga pasar produk lokal semakin kuat dan pelaku UMKM memperoleh kesempatan lebih besar untuk tumbuh.

Efisiensi Anggaran Rp306 Triliun Dinilai Tak Hambat Pertumbuhan Ekonomi

0

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pada 2025 tidak semata-mata berupa pemangkasan belanja negara. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengalihkan anggaran ke program yang dinilai memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Suahasil mengatakan langkah efisiensi anggaran dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan pada awal 2025. Pemerintah saat itu melakukan penyesuaian belanja dengan nilai mencapai Rp306 triliun.

Menurut Suahasil, kebijakan tersebut sempat dipersepsikan sebagai pemotongan anggaran secara besar-besaran. Padahal, pemerintah ingin membangun fondasi APBN yang lebih efektif sehingga setiap alokasi belanja memiliki dampak yang lebih jelas terhadap perekonomian dan masyarakat.

“Kesannya adalah potong anggaran. Tapi sebenarnya di balik pemotongan tersebut adalah pijakan fundamental untuk membuat APBN yang lebih berdampak kepada masyarakat,” ujar Suahasil di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Efisiensi Anggaran Tetap Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Suahasil menilai hasil efisiensi anggaran dapat dilihat dari kinerja perekonomian nasional sepanjang 2025. Meski dilakukan penyesuaian belanja, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di level 5,11 persen.

Pada periode yang sama, tingkat inflasi tercatat sekitar 2,9 persen. Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan penataan belanja negara tetap dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Suahasil menekankan pentingnya sinergi antara APBN dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Ia menggambarkan keduanya sebagai “saudara kembar” yang perlu bekerja secara beriringan untuk mendukung agenda pemerintah.

Menurutnya, pembentukan Danantara pada 2025 menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kapasitas investasi melalui pengelolaan aset BUMN yang merupakan kekayaan negara yang dipisahkan.

Sinergi tersebut juga diharapkan menciptakan ruang efisiensi anggaran dan investasi yang lebih optimal. Danantara dinilai dapat memperkuat peran aset negara dalam menopang pertumbuhan ekonomi, sementara APBN tetap menjalankan fungsi fiskalnya.

Suahasil menegaskan koordinasi antara pemerintah, APBN, dan Danantara diperlukan untuk menjalankan berbagai agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dengan pendekatan tersebut, efisiensi anggaran diharapkan tidak berhenti pada pengurangan belanja, tetapi menghasilkan penggunaan sumber daya negara yang lebih tepat sasaran.

Soal Penambahan Jam Kerja 45 Jam, Apindo Sebut Ada Kesalahpahaman

0

Isu penambahan jam kerja menjadi 45 jam per pekan kembali mencuat setelah DPR mengesahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan angka tersebut bukan usulan untuk mengubah ketentuan jam kerja yang berlaku di Indonesia.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan pihak pengusaha tidak pernah mengajukan maupun mendorong penambahan jam kerja menjadi 45 jam dalam sepekan. Angka tersebut, menurutnya, hanya muncul dalam kajian perbandingan mengenai aturan ketenagakerjaan di sejumlah negara Asia.

Shinta menjelaskan studi tersebut membandingkan kondisi Indonesia dengan negara seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Perbandingan dilakukan untuk melihat posisi daya saing industri Indonesia di tengah persaingan regional.

“Jadi mungkin ada kesalahpahaman bahwa kita memaksakan untuk menaikkan jam kerja,” kata Shinta di sela Indonesia International Sustainability Forum, dikutip Antara, Rabu (7/10/2026).

Apindo Sebut Kajian untuk Pemetaan Regional

Menurut Shinta, kajian mengenai penambahan jam kerja tidak berdiri sendiri. Pelaku usaha perlu mengetahui bagaimana standar ketenagakerjaan diterapkan di negara lain agar pembahasan regulasi di dalam negeri memiliki gambaran yang lebih utuh.

Ia menambahkan, pekerja juga melakukan kajian serupa sehingga seluruh pihak dapat memahami posisi masing-masing negara. Informasi tersebut dinilai penting dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga kepentingan pekerja sekaligus mempertahankan daya saing dunia usaha.

Di sisi lain, Apindo belum memberikan penilaian lebih jauh terhadap UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang baru disahkan. Shinta menyebut pihaknya masih menunggu salinan resmi aturan tersebut untuk dipelajari secara menyeluruh.

Sebelumnya, DPR RI menyetujui RUU Pelindungan Ketenagakerjaan menjadi undang-undang dalam Rapat Paripurna Ke-9 DPR Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Sementara itu, aturan jam kerja yang berlaku masih mengacu pada UU Cipta Kerja. Perusahaan dapat menerapkan pola enam hari kerja dengan tujuh jam kerja per hari atau lima hari kerja dengan delapan jam per hari. Kedua skema tersebut sama-sama menetapkan total 40 jam kerja dalam sepekan.

Dengan demikian, isu penambahan jam kerja menjadi 45 jam perlu dilihat sebagai bagian dari studi perbandingan regional, bukan sebagai kebijakan yang telah ditetapkan atau dipaksakan oleh kalangan pengusaha.

Jangan Sepelekan! Ini Invisible Cost yang Sering Bikin Laba UMKM Bocor

0

Invisible Cost atau biaya siluman sering menjadi penyebab laba UMKM terasa lebih kecil daripada yang diperkirakan. Di Berempat.com, kami melihat persoalan ini menarik karena biaya tersebut sebenarnya tetap menggerus keuntungan, hanya saja nilainya tersebar dalam berbagai aktivitas kecil: mesin yang semakin tua, bahan makanan yang terbuang, karyawan yang menunggu pekerjaan, lembur, sampai biaya transfer antarbank yang hanya beberapa ribu rupiah setiap transaksi.

Masalahnya, biaya kecil cenderung dianggap tidak penting ketika dilihat satu per satu. Padahal, jika terjadi setiap hari selama berbulan-bulan, akumulasinya dapat menjadi angka yang cukup besar.

Karena itu, pemilik usaha perlu mengenali Invisible Cost sebagai bagian dari manajemen biaya. Tujuannya bukan sekadar memangkas pengeluaran, melainkan mengetahui berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan setiap produk dan melayani setiap pelanggan.

Apa Itu Invisible Cost dalam Bisnis?

Invisible Cost bukan istilah baku dalam standar akuntansi yang menunjukkan satu jenis akun tertentu. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan biaya yang sering tidak terlihat dalam pengambilan keputusan sehari-hari atau tidak langsung terasa ketika transaksi berlangsung.

Contohnya, sebuah kedai kopi membeli mesin seharga Rp30 juta. Ketika mesin digunakan setiap hari, pemilik mungkin hanya mencatat pembelian aset tersebut. Padahal mesin memiliki umur manfaat dan nilainya perlu dialokasikan sebagai beban penyusutan selama masa penggunaannya.

Dalam SAK EMKM, Ikatan Akuntan Indonesia menyebut beban penyusutan diakui dalam laporan laba rugi. Penyusutan aset tetap dapat menggunakan metode garis lurus atau saldo menurun, sementara umur manfaat ditentukan berdasarkan periode kegunaan yang diperkirakan.

Artinya, biaya mesin sebenarnya tidak berhenti pada saat uang dibayarkan ketika membeli aset.

1. Hitung Penyusutan Mesin dan Peralatan

Misalnya sebuah kedai membeli mesin kopi seharga Rp30 juta dan memperkirakan mesin tersebut dapat digunakan selama 5 tahun.

Dengan metode garis lurus sederhana dan tanpa memperhitungkan nilai residu:

Rp30 juta ÷ 5 tahun = Rp6 juta per tahun

Jika dibagi 12 bulan, biaya penyusutannya sekitar:

Rp6 juta ÷ 12 = Rp500 ribu per bulan.

Angka Rp500 ribu tersebut dapat dimasukkan sebagai salah satu komponen biaya ketika pemilik menghitung profitabilitas usaha.

Hal yang sama berlaku untuk oven, freezer, mesin produksi, komputer kasir, kamera, kendaraan operasional, hingga motor kurir.

Untuk motor kurir seharga Rp24 juta dengan estimasi umur manfaat empat tahun, misalnya, penyusutan sederhananya sekitar Rp6 juta per tahun atau Rp500 ribu per bulan sebelum mempertimbangkan nilai residu.

Dengan cara tersebut, pemilik tidak terkecoh melihat laba kas yang terlihat besar karena biaya penggunaan aset sudah diperhitungkan.

Food Waste Bisa Diam-Diam Menggerus Margin

Bisnis makanan memiliki sumber Invisible Cost lain yang sangat penting: bahan baku yang terbuang.

Bappenas memperkirakan food loss and waste di Indonesia selama 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun, atau sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Dari sisi ekonomi, pemborosan tersebut diperkirakan menyebabkan kehilangan sekitar Rp213–551 triliun per tahun, setara 4–5 persen PDB Indonesia.

Angka tersebut merupakan gambaran nasional dan bukan angka khusus UMKM. Namun, skalanya menunjukkan mengapa pemborosan makanan perlu diperhatikan sampai tingkat operasional.

Bayangkan sebuah restoran membeli bahan baku Rp20 juta per bulan. Jika bahan yang rusak, kedaluwarsa, salah produksi, atau tidak terjual setara 5 persen dari nilai pembelian, ada sekitar Rp1 juta per bulan yang berpotensi hilang.

Dalam setahun, nilainya mencapai sekitar Rp12 juta.

Persentase 5 persen di atas hanyalah contoh perhitungan, bukan angka rata-rata food waste UMKM. Setiap usaha perlu menghitung tingkat pemborosan berdasarkan data aktual.

Caranya sederhana: timbang atau catat bahan yang terbuang setiap hari, kelompokkan penyebabnya, kemudian kalikan jumlahnya dengan harga per unit bahan.

Dari sana pemilik bisa mengetahui apakah penyebab terbesar berasal dari pembelian berlebihan, penyimpanan, kesalahan produksi, porsi, atau produk yang tidak laku.

2. Waktu Tunggu Karyawan Juga Punya Harga

Biaya tenaga kerja tidak hanya muncul ketika karyawan sedang menyelesaikan pekerjaan.

Waktu tunggu juga memiliki nilai ekonomi.

Misalnya ada dua karyawan dengan total biaya tenaga kerja Rp6 juta per bulan. Jika dalam satu hari rata-rata mereka kehilangan satu jam produktif karena menunggu bahan, mesin, instruksi, sistem kasir, atau proses approval, sebagian biaya tenaga kerja sebenarnya digunakan untuk aktivitas yang tidak menghasilkan output.

Jika bisnis beroperasi 26 hari dalam sebulan, maka satu jam waktu tunggu per hari menghasilkan sekitar 26 jam waktu tidak produktif untuk satu orang.

Angka tersebut perlu dibandingkan dengan upah per jam dan nilai output yang seharusnya bisa dihasilkan.

Karena itu, pemilik UMKM sebaiknya tidak hanya mencatat jam kerja. Catat juga jam produktif, jam tunggu, jam lembur, dan penyebab waktu terbuang.

Lembur: Biaya yang Bisa Menandakan Masalah Operasional

Lembur terkadang dianggap sebagai solusi cepat ketika pesanan meningkat. Namun, jika terjadi terus-menerus, lembur dapat menjadi indikator bahwa kapasitas produksi, penjadwalan, atau pembagian pekerjaan perlu diperbaiki.

Peraturan ketenagakerjaan menetapkan ketentuan waktu kerja dan lembur. Dalam aturan yang memuat ketentuan tersebut, waktu kerja normal pada umumnya adalah 40 jam per minggu, sedangkan pekerjaan lembur memiliki batas dan kewajiban pembayaran upah lembur.

Sebagai ilustrasi, jika tambahan biaya lembur sebuah usaha rata-rata Rp750 ribu per bulan, dalam setahun nilainya mencapai Rp9 juta.

Pertanyaan yang perlu dijawab bukan sekadar “bagaimana mengurangi lembur?”, tetapi mengapa lembur terjadi?

Jika penyebabnya adalah pesanan musiman, lembur mungkin memang rasional. Namun, jika lembur muncul karena pekerjaan selalu terlambat akibat proses manual, stok sering terlambat datang, atau jadwal kerja tidak efisien, sumber masalahnya perlu diperbaiki.

3. Biaya Transfer Kecil, Akumulasinya Bisa Besar

Biaya administrasi transaksi juga sering dianggap sepele.

Bank Indonesia menetapkan biaya maksimal yang dapat dikenakan peserta BI-FAST kepada nasabah untuk layanan individual credit transfer sebesar Rp2.500 per transaksi.

Bagi satu transaksi, Rp2.500 memang kecil. Tetapi misalnya bisnis melakukan 20 transfer antarbank setiap hari selama 26 hari kerja.

20 × Rp2.500 × 26 = Rp1,3 juta per bulan.

Dalam satu tahun, angkanya dapat mencapai Rp15,6 juta jika frekuensi dan biaya tersebut konsisten.

Ini merupakan ilustrasi matematis, bukan berarti setiap transaksi UMKM pasti dikenakan biaya maksimal BI-FAST.

Karena itu, pemilik usaha perlu mengelompokkan biaya transfer berdasarkan jumlah transaksi, kanal pembayaran, bank yang digunakan, serta biaya aktual yang benar-benar dibebankan.

Jika memungkinkan, gunakan metode pembayaran atau mekanisme transfer yang paling efisien sesuai kebutuhan bisnis.

Buat Invisible Cost Menjadi Terlihat

Cara paling sederhana mengelola Invisible Cost adalah membuat daftar biaya yang sebelumnya tidak pernah diperiksa secara rutin.

Setiap bulan, UMKM dapat memantau setidaknya:

  • penyusutan mesin dan kendaraan;
  • bahan baku rusak atau kedaluwarsa;
  • produk gagal produksi;
  • makanan yang tidak terjual;
  • waktu tunggu karyawan;
  • biaya lembur;
  • biaya transfer;
  • biaya administrasi platform;
  • biaya retur dan pengiriman ulang;
  • kerusakan peralatan;
  • kehilangan stok;
  • biaya perbaikan mendadak.

Setelah itu, buat kolom frekuensi, nominal per kejadian, total bulanan, dan total tahunan.

Metode ini membuat biaya yang sebelumnya terasa “kecil” berubah menjadi angka yang bisa dianalisis.

Misalnya sebuah UMKM menemukan biaya tersembunyi Rp500 ribu dari penyusutan, Rp1 juta dari food waste, Rp750 ribu dari lembur, dan Rp1,3 juta dari transaksi perbankan. Totalnya mencapai Rp3,55 juta per bulan atau sekitar Rp42,6 juta per tahun.

Sekali lagi, angka tersebut merupakan contoh simulasi, bukan rata-rata biaya UMKM.

Namun, simulasi itu memperlihatkan satu hal penting: kebocoran laba tidak selalu berasal dari satu pengeluaran besar. Invisible Cost sering terbentuk dari banyak pengeluaran kecil yang terus berulang.

Kurang lebih, manajemen biaya UMKM bukan hanya soal mencari pemasok termurah atau menekan harga bahan baku. Pemilik bisnis perlu mengetahui biaya sebenarnya dari setiap proses operasional.

Ketika penyusutan aset dihitung, food waste dicatat, waktu tunggu diukur, lembur dievaluasi, dan biaya transaksi dikumpulkan, pemilik usaha akan mendapatkan gambaran margin yang jauh lebih realistis.