Rabu, November 4, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 2

Telepon Mengaku dari Bank Bisa Jadi Penipuan, Waspadai Voice Phising!

0

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap modus Voice Phising yang dilakukan melalui panggilan telepon. Pelaku biasanya menyamar sebagai petugas bank untuk mengelabui nasabah dan mendapatkan informasi rahasia yang dapat digunakan untuk mengakses rekening.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa modus yang juga dikenal sebagai voice phishing atau vishing tersebut kerap memanfaatkan kekhawatiran nasabah. Pelaku mengaku menemukan transaksi mencurigakan atau menyampaikan bahwa rekening korban berisiko diblokir demi alasan keamanan.

Dengan berbicara secara sopan dan meyakinkan, penipu berusaha membuat korban percaya sekaligus merasa harus segera bertindak. Salah satu cara yang digunakan adalah menawarkan bantuan untuk mengamankan rekening, kemudian meminta kode one-time password (OTP) dengan dalih verifikasi.

Padahal, kode OTP merupakan informasi rahasia yang tidak boleh dibagikan kepada siapa pun. Jika jatuh ke tangan pelaku, kode tersebut berpotensi disalahgunakan untuk mengakses layanan perbankan atau menyetujui transaksi tanpa sepengetahuan pemilik rekening.

Cara Menghindari Modus Voice Phising yang Mengincar Nasabah

Dalam keterangannya pada Sabtu (31/10/2026), Dhanny menegaskan bahwa BRI terus memperkuat sistem keamanan serta memberikan edukasi kepada nasabah untuk menghadapi berbagai bentuk penipuan digital.

BRI juga menegaskan tidak pernah meminta nasabah menyampaikan PIN, kata sandi, User ID, kode OTP, maupun kode CVV/CVC kartu melalui telepon atau saluran komunikasi lainnya.

Untuk mencegah kerugian akibat Voice Phising, nasabah diminta tidak langsung mengikuti instruksi penelepon yang mengaku sebagai petugas bank. Jika menerima informasi mengenai transaksi mencurigakan atau ancaman pemblokiran rekening, segera akhiri panggilan dan lakukan pemeriksaan melalui kanal resmi BRI.

Nasabah juga disarankan memantau mutasi rekening secara berkala melalui aplikasi BRImo serta mengaktifkan notifikasi transaksi. Langkah ini dapat membantu mendeteksi aktivitas keuangan yang tidak dikenal sejak dini.

Selain itu, masyarakat perlu menghindari tautan mencurigakan dan tidak memasang aplikasi atas arahan penelepon yang identitasnya belum terverifikasi. Aplikasi perbankan sebaiknya hanya diunduh atau diperbarui melalui sumber resmi.

Apabila telanjur memberikan informasi rahasia atau menemukan transaksi yang tidak dikenali, nasabah perlu segera menghubungi BRI melalui saluran resmi untuk melaporkan kejadian tersebut dan meminta penanganan lebih lanjut.

Mengapa Produk Pembalut Masih Kena Pajak? Ini Penjelasan DJP

0

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menegaskan bahwa produk pembalut yang dijual di Indonesia masih dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Ketentuan tersebut berlaku karena pembalut belum masuk dalam kategori barang yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, menjelaskan bahwa barang konsumsi pada dasarnya termasuk Barang Kena Pajak (BKP). Pengecualian hanya berlaku bagi barang tertentu yang secara khusus ditetapkan dalam regulasi sebagai penerima fasilitas pembebasan PPN.

Dalam keterangannya kepada Media Indonesia, Jumat (30/10/2026), Inge menyampaikan bahwa penyerahan pembalut tetap mengikuti ketentuan umum perpajakan selama memenuhi kriteria pengenaan PPN yang berlaku.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa pajak atas produk pembalut merupakan pungutan khusus terhadap perempuan atau aktivitas biologis, seperti menstruasi. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari sistem perpajakan atas konsumsi barang yang diterapkan pemerintah.

Produk Pembalut dan Peluang Evaluasi Kebijakan PPN

DJP menyatakan bahwa pembebasan PPN saat ini hanya diberikan kepada jenis barang tertentu yang telah diatur dalam undang-undang. Karena belum tercantum dalam klasifikasi tersebut, produk pembalut masih mengikuti ketentuan perpajakan umum.

Meski demikian, pemerintah memahami bahwa produk menstruasi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan kebersihan masyarakat. Pembalut menjadi kebutuhan rutin bagi banyak perempuan sehingga perubahan kebijakan pajaknya dapat berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Inge menjelaskan, usulan untuk mengubah perlakuan perpajakan terhadap produk tersebut tetap terbuka untuk dikaji. Namun, keputusan semacam itu perlu melalui pembahasan menyeluruh dengan memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan.

Kajian tersebut mencakup kesesuaian dengan peraturan yang berlaku, dampak sosial bagi masyarakat, serta konsekuensi terhadap penerimaan negara. Pemerintah perlu memperhitungkan seluruh faktor itu sebelum menentukan apakah fasilitas perpajakan khusus dapat diterapkan.

Menurut DJP, pertimbangan mengenai produk pembalut tidak dapat dilepaskan dari kerangka kebijakan fiskal secara keseluruhan. Setiap perubahan aturan harus memiliki dasar hukum yang jelas sekaligus memperhitungkan manfaat dan konsekuensinya.

Status pembalut sebagai barang kena pajak masih berlaku hingga terdapat perubahan ketentuan resmi. Masyarakat perlu mengikuti perkembangan kebijakan melalui informasi dari otoritas pajak untuk mengetahui apabila nantinya ada penyesuaian terhadap perlakuan PPN atas produk pembalut.

Algoritma Sosmed Bahaya Buat Investasi? Kenali Risikonya!

0

Algoritma Sosmed buat Investasi kini menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi keuangan. Banyak orang mengenal saham, reksa dana, hingga aset kripto melalui video pendek, unggahan influencer, dan diskusi komunitas daring. Informasi yang muncul berulang kali di beranda bisa membuat suatu produk investasi terlihat menjanjikan, bahkan ketika pengguna belum memahami risiko di baliknya.

Media sosial memang mempermudah masyarakat mendapatkan pengetahuan finansial. Investor pemula bisa mempelajari istilah pasar modal, membaca analisis perusahaan, dan mengikuti perkembangan ekonomi tanpa harus mengakses banyak sumber secara terpisah. Namun, ada persoalan yang kerap luput diperhatikan: konten yang muncul di beranda tidak selalu dipilih berdasarkan kualitas informasi atau manfaatnya bagi keputusan keuangan.

Platform digital umumnya menggunakan sistem rekomendasi untuk menyajikan konten berdasarkan berbagai sinyal, seperti riwayat tontonan, interaksi, dan minat pengguna. Ketika seseorang sering melihat video tentang saham yang sedang naik, sistem rekomendasi dapat kembali menampilkan konten serupa. Akibatnya, pengguna berpotensi menerima pandangan yang berulang dan kurang memperhatikan informasi yang bertentangan.

Risikonya semakin besar ketika keputusan investasi dibuat berdasarkan popularitas konten, janji keuntungan cepat, atau rekomendasi figur yang terlihat meyakinkan. Dalam investasi, informasi yang ramai dibicarakan belum tentu mencerminkan kondisi fundamental suatu aset.

Algoritma Sosmed buat Investasi dan Pengaruhnya terhadap Keputusan Investor

Pengaruh media sosial terhadap keputusan investasi telah diteliti secara akademis. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral and Experimental Finance pada Desember 2024 menguji bagaimana unggahan positif dan negatif tentang perusahaan memengaruhi keputusan investor muda yang akrab dengan media sosial.

Penelitian tersebut menemukan bahwa unggahan bernada positif dapat meningkatkan jumlah dana yang ingin diinvestasikan peserta, sedangkan unggahan negatif memberikan pengaruh sebaliknya. Salah satu mekanismenya adalah perubahan persepsi terhadap kondisi keuangan perusahaan setelah peserta membaca konten tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa sentimen di media sosial berpotensi memengaruhi penilaian investor, bahkan ketika informasi fundamental perusahaan juga tersedia.

Temuan itu relevan untuk memahami cara kerja algoritma rekomendasi. Ketika pengguna terus melihat konten dengan narasi serupa, pandangan terhadap aset tertentu bisa semakin kuat. Saham yang sedang populer mungkin terlihat memiliki prospek cerah karena banyak dibahas, sementara risiko bisnis, valuasi, atau kondisi keuangan perusahaan justru jarang diperhatikan.

Meski begitu, algoritma tidak otomatis membuat keputusan investasi menjadi buruk. Dampaknya bergantung pada jenis konten yang direkomendasikan, kualitas informasi, dan cara pengguna menilainya. Konten edukasi dari sumber tepercaya dapat membantu meningkatkan pemahaman finansial. Sebaliknya, rekomendasi yang sensasional atau menyesatkan dapat mendorong keputusan yang tidak didasarkan pada analisis memadai.

Finfluencer dan Risiko Mengikuti Tren Investasi

Fenomena finfluencer, yaitu figur media sosial yang membahas keuangan dan investasi, turut mengubah cara masyarakat mencari referensi. Mereka sering menyampaikan informasi dalam format singkat dan mudah dipahami, sehingga topik yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah diakses.

International Organization of Securities Commissions (IOSCO) dalam laporan tentang finfluencer pada 2025 menyoroti sejumlah risiko, termasuk informasi yang menyesatkan atau bias, promosi produk berisiko tinggi, serta kurangnya keterbukaan mengenai konflik kepentingan. Laporan tersebut juga mengakui bahwa konten finansial di media sosial dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap edukasi investasi.

Masalah muncul ketika audiens tidak mengetahui apakah seorang kreator benar-benar memiliki keahlian yang relevan, menerima bayaran untuk mempromosikan produk, atau mempunyai kepentingan atas aset yang dibahas. Rekomendasi membeli saham tertentu, misalnya, bisa saja disampaikan tanpa penjelasan mengenai risiko penurunan harga atau kondisi yang membuat rekomendasi tersebut tidak lagi berlaku.

Investor juga perlu membedakan edukasi umum dari rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan keuangan pribadi. Strategi yang cocok bagi seseorang belum tentu sesuai untuk orang lain, karena setiap investor memiliki tujuan, kemampuan finansial, dan toleransi risiko yang berbeda.

Data Penipuan Investasi di Indonesia Menjadi Peringatan

Risiko investasi digital juga terlihat dari penanganan aktivitas keuangan ilegal di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa hingga 30 September 2026, pihaknya menerima 3.645 pengaduan terkait investasi ilegal sejak awal tahun. Pada periode yang sama, Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menemukan dan menghentikan 242 entitas investasi ilegal.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penawaran investasi ilegal masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai. Namun, data itu tidak berarti seluruh pengaduan berasal dari media sosial atau disebabkan algoritma. Data tersebut mencakup penanganan aktivitas investasi ilegal secara lebih luas.

Media sosial tetap dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan promosi investasi yang tidak masuk akal, menampilkan testimoni keuntungan, atau mengarahkan pengguna ke grup percakapan tertutup. Dalam beberapa kasus, promosi menggunakan istilah profesional, tangkapan layar keuntungan, dan narasi bahwa kesempatan hanya tersedia dalam waktu singkat.

Karena itu, janji keuntungan tinggi dengan risiko sangat rendah patut dicurigai. Investor perlu memeriksa legalitas pihak yang menawarkan produk melalui kanal resmi regulator dan tidak mengandalkan jumlah pengikut, komentar positif, atau popularitas sebuah unggahan sebagai bukti kredibilitas.

Cara Menggunakan Media Sosial tanpa Terjebak Algoritma

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar media sosial tetap bermanfaat untuk mencari informasi investasi.

  • Pertama, periksa sumber informasi. Cari tahu identitas pembuat konten, dasar analisisnya, dan apakah klaim yang disampaikan dapat diverifikasi melalui laporan perusahaan atau sumber resmi.
  • Kedua, bandingkan informasi dari beberapa sumber. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan satu video atau unggahan viral. Cari pandangan berbeda dan periksa data fundamental sebelum mempertimbangkan pembelian aset.
  • Ketiga, pahami risiko sebelum mengikuti rekomendasi. Pelajari kemungkinan kerugian, likuiditas, biaya transaksi, serta jangka waktu investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan.
  • Keempat, hindari keputusan karena takut tertinggal tren. Perasaan takut kehilangan peluang atau fear of missing out (FOMO) dapat mendorong seseorang membeli aset hanya karena banyak orang membicarakannya. Popularitas tidak menjamin harga akan terus naik.
  • Kelima, periksa legalitas penawaran investasi. Jika ada tawaran mencurigakan, masyarakat dapat mencari informasi melalui kanal resmi OJK. Jangan memberikan kata sandi, kode OTP, atau akses rekening kepada pihak yang mengaku sebagai penasihat investasi.

Algoritma Sosmed buat Investasi dapat menjadi sarana edukasi sekaligus sumber risiko, bergantung pada informasi yang dikonsumsi dan cara investor mengambil keputusan. Sistem rekomendasi dirancang untuk menampilkan konten yang dianggap relevan bagi pengguna, tetapi relevansi tersebut tidak sama dengan ketepatan informasi atau kelayakan sebuah investasi.

LNG dari Indonesia Diduga Dijual Kembali oleh Singapura, Ini Kata Bahlil

0

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menduga sebagian LNG dari Indonesia yang dikirim ke Singapura diperdagangkan kembali ke negara lain. Menurutnya, tidak seluruh gas alam cair yang diekspor tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi Singapura.

Bahlil menyebut Indonesia telah mengirimkan sebanyak 148 kargo LNG ke negara tetangga itu. Ia menduga sebagian pasokan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan perdagangan internasional sebelum kembali dijual ke pasar lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam tayangan Primetime News Metro TV pada Jumat (30/10/2026). Ia menilai sebagian LNG memang digunakan untuk konsumsi Singapura, tetapi ada pula pasokan yang kemungkinan masuk ke rantai perdagangan energi global.

Dugaan tersebut muncul ketika pemerintah tengah mengevaluasi pengelolaan ekspor gas nasional. Pemerintah ingin memastikan pasokan energi Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama ketika kebutuhan dalam negeri terus meningkat.

Pemangkasan Ekspor LNG dari Indonesia Disebut Tidak Langgar Kontrak

Bahlil menegaskan, pengurangan sebagian ekspor gas Indonesia ke Singapura masih berada dalam batas kontrak yang telah disepakati. Dari total kontrak ekspor gas melalui pipa sebesar 409,55 juta kaki kubik standar per hari atau MMSCFD, pemerintah hanya memangkas pasokan sebanyak 31 MMSCFD.

Menurut Bahlil, jumlah pengurangan tersebut belum melewati batas minimum pasokan yang ditetapkan dalam perjanjian. Karena itu, kebijakan tersebut dinilai tidak melanggar kewajiban kontraktual Indonesia kepada Singapura.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah tetap memperhitungkan ketentuan yang berlaku sebelum mengambil keputusan mengenai penyesuaian ekspor. Dengan mekanisme tersebut, pengurangan pasokan diharapkan tetap berjalan sesuai kesepakatan kedua pihak.

Penataan ekspor LNG dari Indonesia menjadi bagian dari upaya pemerintah mengatur kembali pemanfaatan sumber daya energi nasional. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan gas untuk mendukung kegiatan industri, pembangkit listrik, dan berbagai sektor ekonomi domestik.

Pemerintah perlu menyeimbangkan komitmen ekspor dengan kebutuhan energi di dalam negeri. Evaluasi terhadap alokasi gas diharapkan membantu menjaga ketersediaan pasokan nasional tanpa mengabaikan ketentuan kontrak yang masih berlaku.

Meski Bahlil menyampaikan dugaan mengenai perdagangan kembali LNG oleh Singapura, informasi tersebut belum disertai rincian mengenai negara tujuan maupun volume gas yang diduga dijual kembali. Pemerintah masih perlu memastikan pemanfaatan pasokan tersebut berdasarkan data yang tersedia.

BSU 900 Ribu untuk Pekerja Masih Dipersiapkan, Cek Informasi Resminya

0

Program BSU 900 Ribu kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyampaikan perkembangan terbaru mengenai rencana penyaluran Bantuan Subsidi Upah 2026. Pemerintah menargetkan pencairan bantuan bagi pekerja tersebut berlangsung pada November hingga Desember 2026, meski proses persiapannya masih berjalan.

Mengutip informasi dari akun Instagram resmi @kemnaker, bantuan direncanakan sebesar Rp300 ribu per bulan untuk periode Oktober, November, dan Desember 2026. Dengan demikian, penerima yang memenuhi ketentuan berpotensi memperoleh total bantuan Rp900 ribu. Pembayaran direncanakan dilakukan sekaligus.

Meski begitu, masyarakat perlu memahami bahwa BSU 900 Ribu tersebut masih berada dalam tahap persiapan. Kemnaker belum menyampaikan kepastian tanggal pencairan sehingga pekerja diharapkan menunggu pengumuman resmi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

BSU 900 Ribu Masih Menunggu Penyelesaian Tiga Persiapan

Kemnaker tengah menyiapkan sejumlah kebutuhan agar pelaksanaan program BSU 2026 dapat berjalan sesuai ketentuan. Ada tiga aspek utama yang sedang diproses pemerintah sebelum bantuan disalurkan kepada calon penerima.

Pertama, penyusunan regulasi yang menjadi dasar pelaksanaan program. Kemnaker berupaya mempercepat penyelesaian aturan agar mekanisme penyaluran memiliki landasan yang jelas.

Kedua, pemutakhiran dan penyiapan data calon penerima. Dalam proses ini, Kemnaker bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk mempersiapkan data yang diperlukan. Tahapan tersebut penting agar penyaluran bantuan dapat mengacu pada data yang sesuai dengan ketentuan program.

Ketiga, persiapan anggaran. Pemerintah masih menjalankan proses pengajuan dan pemenuhan kebutuhan dana untuk mendukung pelaksanaan BSU 2026.

Untuk mekanisme pembayaran, BSU 900 Ribu direncanakan disalurkan melalui bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta PT Pos Indonesia (Persero). Bank yang disebutkan meliputi Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI.

Namun, rencana tersebut belum menjadi kepastian bahwa seluruh calon penerima akan langsung memperoleh bantuan pada periode yang sama. Informasi mengenai persyaratan penerima dan jadwal pencairan masih perlu menunggu pengumuman lanjutan dari Kemnaker.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap tautan palsu yang mengatasnamakan program BSU, terutama situs yang meminta data pribadi. Untuk memastikan informasi BSU 900 Ribu, pekerja dapat memantau kanal resmi Kemnaker dan mengakses situs bsu.kemnaker.go.id.

Peluang Kerja Fresh Graduate di Tengah Persaingan dan Tren Pekerjaan Sampingan

0

Peluang Kerja Fresh Graduate menjadi perhatian di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat dan meningkatnya tren double job atau memiliki lebih dari satu pekerjaan. Sebagian pekerja mengambil pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan, sementara yang lain menjalankan usaha atau pekerjaan lepas di luar jam kerja utama. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah semakin banyaknya orang yang menjalani dua pekerjaan membuat kesempatan bagi lulusan baru semakin sempit?

Tren double job berkembang seiring perubahan pola kerja dan kebutuhan ekonomi. Teknologi digital memudahkan seseorang mengambil proyek tambahan, menjadi pekerja lepas, membuka toko daring, hingga menawarkan jasa melalui platform digital. Bagi pekerja yang sudah memiliki pengalaman, cara ini dapat menjadi strategi untuk meningkatkan penghasilan sekaligus memperluas keterampilan.

Namun, situasinya bisa terasa berbeda bagi peluang kerja fresh graduate yang baru memasuki pasar tenaga kerja. Mereka harus bersaing dengan kandidat berpengalaman, sementara banyak lowongan meminta keterampilan praktis yang belum tentu diperoleh selama kuliah. Karena itu, fenomena double job perlu dilihat bersama kondisi pasar kerja dan kebutuhan perusahaan, bukan sebagai satu-satunya penyebab sulitnya lulusan baru memperoleh pekerjaan.

Peluang Kerja Fresh Graduate di Tengah Tren Double Job

Penelitian berjudul Multiple Job-Holding in Indonesia: Do Years of Schooling Matter? yang diterbitkan dalam The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning pada April 2025 memberikan gambaran mengenai fenomena pekerja dengan lebih dari satu pekerjaan. Penelitian yang menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 itu memperkirakan sekitar 27% penduduk bekerja berusia 15 tahun ke atas memiliki lebih dari satu pekerjaan. Mereka juga menghabiskan rata-rata lebih dari empat jam tambahan per minggu untuk pekerjaan di luar pekerjaan utama.

Angka tersebut menunjukkan bahwa multiple job-holding sudah menjadi bagian dari dinamika ketenagakerjaan Indonesia. Meski begitu, data tersebut tidak berarti 27% pekerja mengambil lowongan yang seharusnya tersedia bagi fresh graduate. Pekerjaan tambahan dapat berbentuk usaha mandiri, pekerjaan informal, atau proyek lepas yang tidak selalu berkompetisi langsung dengan lowongan kerja penuh waktu.

Gambaran persaingan kerja juga terlihat dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka Indonesia tercatat sebesar 4,85%. Jika dilihat berdasarkan pendidikan terakhir, tingkat pengangguran terbuka lulusan universitas mencapai 5,39%, sedangkan lulusan diploma I, II, dan III berada di angka 4,31%. Angka pengangguran lulusan SMK bahkan mencapai 8,63%.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan memasuki dunia kerja masih dihadapi kelompok berpendidikan tinggi maupun lulusan pendidikan menengah. Gelar pendidikan tetap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus.

Kementerian Ketenagakerjaan melalui Pusat Pasar Kerja juga mencatat bahwa pencari kerja yang terdaftar di Karirhub pada 2025 mencapai 987.204 orang, meningkat 74% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, tersedia 88.532 lowongan kerja di platform tersebut. Mayoritas lowongan mensyaratkan pengalaman kerja satu hingga empat tahun. Data ini hanya mencakup layanan Karirhub, sehingga tidak mewakili keseluruhan lowongan dan pencari kerja di Indonesia. Namun, temuan tersebut menunjukkan salah satu hambatan yang dihadapi lulusan baru: perusahaan sering mencari kandidat yang sudah memiliki pengalaman praktis.

Mengapa Tren Double Job Bisa Menjadi Tantangan bagi Lulusan Baru?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memahami hubungan antara tren double job dan kesempatan kerja bagi lulusan baru.

  • Pertama, persaingan untuk pekerjaan tertentu semakin beragam. Pekerja berpengalaman yang mengambil proyek tambahan dapat bersaing dengan fresh graduate untuk pekerjaan berbasis proyek, seperti desain grafis, penulisan konten, pemasaran digital, dan pengelolaan media sosial. Pengalaman kerja membuat sebagian pekerja lebih mudah meyakinkan klien. Meski demikian, dampaknya bergantung pada bidang pekerjaan dan tidak otomatis mengurangi jumlah lowongan bagi lulusan baru.
  • Kedua, perusahaan membutuhkan keterampilan yang siap digunakan. Sebagian perusahaan mencari kandidat yang dapat langsung menangani pekerjaan tanpa pelatihan panjang. Fresh graduate yang belum memiliki portofolio atau pengalaman magang bisa menghadapi tantangan lebih besar ketika bersaing dengan kandidat yang telah terbiasa menangani proyek nyata.
  • Ketiga, pekerjaan tambahan tidak selalu mengurangi kesempatan kerja orang lain. Banyak orang mengambil pekerjaan kedua karena pendapatan utama belum mencukupi atau karena ingin memanfaatkan keahlian di luar jam kerja. Ada pula pekerja yang membangun bisnis sendiri dan menciptakan peluang bagi orang lain ketika usahanya berkembang. Dengan kata lain, hubungan antara double job dan ketersediaan pekerjaan jauh lebih kompleks daripada sekadar perebutan lowongan.

Strategi Fresh Graduate agar Tetap Kompetitif

Di tengah perubahan pasar kerja, lulusan baru perlu membangun keunggulan yang dapat terlihat oleh perusahaan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengembangkan portofolio sejak masih kuliah. Proyek akademik, magang, kegiatan organisasi, pekerjaan sukarela, dan proyek lepas dapat menjadi bukti kemampuan yang relevan.

Fresh graduate juga perlu memperkuat keterampilan yang banyak digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Data Kementerian Ketenagakerjaan mengenai lowongan di Karirhub selama 2025 mencatat Microsoft Office, Microsoft Excel, sales and marketing, operasional, serta kemampuan komunikasi sebagai keterampilan yang banyak dibutuhkan pemberi kerja. Informasi ini dapat menjadi titik awal untuk menentukan keterampilan yang perlu dipelajari, meskipun kebutuhan setiap industri berbeda.

Selain itu, kandidat sebaiknya tidak hanya mengandalkan lamaran melalui satu kanal. Mengikuti program magang, memanfaatkan jaringan profesional, mencari informasi lowongan melalui kanal resmi perusahaan, dan membangun profil profesional dapat memperluas akses terhadap kesempatan kerja.

Bagi yang ingin mencoba freelance atau pekerjaan sampingan, pengalaman tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangun portofolio dan memperoleh penghasilan. Namun, pekerjaan tambahan sebaiknya dipilih secara terarah agar tidak menghambat pencarian pekerjaan utama atau pengembangan keterampilan jangka panjang.

Apakah Double Job Benar-Benar Mengancam Masa Depan Fresh Graduate?

Fenomena double job memang dapat menambah persaingan pada jenis pekerjaan tertentu, terutama pekerjaan berbasis proyek dan sektor yang mengutamakan pengalaman. Namun, belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa tren tersebut secara langsung menjadi penyebab utama berkurangnya peluang kerja bagi lulusan baru.

Tantangan yang lebih luas mencakup ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, tuntutan pengalaman kerja, dan kemampuan perusahaan menyerap tenaga kerja baru. BPS juga menyoroti persoalan ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan di kalangan pemuda Indonesia, yang dapat memengaruhi proses transisi dari bangku pendidikan ke dunia kerja.

Bagi perusahaan, membuka jalur magang, menyediakan pelatihan bagi karyawan pemula, dan menetapkan persyaratan pengalaman secara proporsional dapat membantu memperluas akses bagi kandidat baru. Sementara itu, perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan industri agar pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Menjelang Musim Hujan, Cek Dulu Bagian-Bagian Rawan di Rumah

Menjelang musim hujan, banyak pemilik rumah mulai sibuk mengecek kondisi atap, talang, dan saluran air. Ini wajar, karena musim hujan memang bisa membawa masalah kalau rumah tidak disiapkan dengan baik. Kebocoran, rembesan, banjir kecil, sampai kerusakan dinding bisa muncul kalau perawatan dini diabaikan.

Merawat rumah sebelum hujan datang sebenarnya tidak harus mahal atau ribet. Yang penting adalah mengetahui bagian mana yang paling rawan dan melakukan pemeriksaan secara berkala. Dengan begitu, masalah kecil bisa ditangani sebelum berubah jadi kerusakan besar.

Menjelang Musim Hujan, Cek Atap dan Talang Dulu!

Bagian pertama yang perlu dicek menjelang musim hujan adalah atap dan talang. Atap adalah garis pertahanan pertama rumah dari air hujan. Kalau ada genteng yang retak, bergeser, atau hilang, air bisa langsung masuk dan merusak plafon serta dinding di dalam.

Talang juga sering jadi sumber masalah. Daun, debu, dan kotoran lain bisa menumpuk dan menyumbat aliran air. Kalau talang tersumbat, air akan meluap dan jatuh ke area yang tidak seharusnya. Ini bisa menyebabkan rembesan di dinding atau genangan di sekitar fondasi.

Pemeriksaan atap dan talang sebaiknya dilakukan sebelum hujan mulai deras. Kalau ada kerusakan, segera perbaiki. Jangan menunggu sampai hujan datang, karena memperbaiki atap saat hujan jauh lebih sulit dan berisiko.

Cek Saluran Air dan Drainase

Saluran air di sekitar rumah juga penting untuk diperiksa. Kalau drainase tersumbat, air hujan bisa menggenang dan meresap ke dalam tanah di sekitar fondasi. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak struktur rumah.

Pastikan saluran air mengalir lancar dan tidak ada tumpukan sampah atau tanah yang menghalangi. Kalau perlu, bersihkan secara berkala, terutama setelah hujan pertama. Genangan air yang dibiarkan lama juga bisa jadi sarang nyamuk, jadi ini bukan cuma soal kerusakan rumah, tapi juga kesehatan.

Periksa Dinding dan Area yang Rawan Lembap

Dinding adalah bagian yang sering terkena dampak dari musim hujan. Kalau dinding luar tidak punya lapisan pelindung, air bisa meresap dan menyebabkan rembesan di sisi dalam. Noda kuning, cat mengelupas, dan jamur adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

Menjelang musim hujan, periksa dinding luar yang langsung terkena hujan. Kalau ada retak halus atau area yang terlihat rusak, segera perbaiki. Bisa juga ditambahkan lapisan waterproofing untuk melindungi dinding dari air.

Untuk dinding dalam, pastikan tidak ada kelembapan berlebih. Kalau ada area yang terasa lembap atau berbau apek, itu bisa jadi tanda ada rembesan yang belum terlihat. Jangan tunda pemeriksaan, karena masalah kecil bisa berkembang jadi besar.

Hal yang Perlu Dicek Sebelum Hujan Datang

Kalau mau rumah tetap aman, ada beberapa hal yang sebaiknya dicek lebih awal:

  1. Kondisi atap, apakah ada genteng yang rusak atau bergeser.
  2. Talang dan saluran air, apakah masih lancar atau tersumbat.
  3. Dinding luar, apakah ada retak atau area yang perlu dilapisi waterproofing.
  4. Kondisi fondasi, apakah ada genangan air di sekitarnya.
  5. Jendela dan pintu, apakah rapat atau ada celah yang bisa masuk air.

Lima hal tersebut sering jadi penentu apakah rumah akan aman atau justru bermasalah saat hujan datang. Kalau semua sudah dicek dan diperbaiki, risiko kerusakan bisa jauh lebih kecil.

Periksa Instalasi Listrik dan Kelistrikan

Musim hujan juga bisa memengaruhi instalasi listrik di rumah. Kalau ada kabel yang terbuka, sambungan yang tidak rapat, atau instalasi di area yang lembap, risiko korsleting bisa meningkat. Ini bukan cuma soal kerusakan peralatan, tapi juga keselamatan penghuni.

Pastikan semua instalasi listrik dalam kondisi baik dan tidak ada kabel yang terbuka. Kalau ada area yang sering lembap, seperti kamar mandi atau dapur, pastikan instalasinya terlindungi dengan baik. Jika perlu, panggil teknisi untuk pemeriksaan menyeluruh.

Kalau dilihat dari perkembangan industri, material untuk melindungi rumah dari air juga terus berkembang. Dulu orang mungkin hanya mengandalkan cat biasa atau plester tambahan. Sekarang sudah ada banyak pilihan produk yang lebih efektif untuk mencegah rembesan dan kelembapan.

Majunya Industri Mortar Indonesia, misalnya, menjadi salah satu gambaran bagaimana teknologi bahan bangunan terus berinovasi. Produk-produk baru muncul untuk menjawab kebutuhan lapangan yang makin kompleks, termasuk perlindungan rumah dari air hujan.

Perkembangan seperti ini memberi keuntungan bagi pemilik rumah. Pilihan yang lebih banyak berarti bisa lebih mudah menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi rumah dan anggaran. Tapi tetap, pemilihan harus berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar ikut tren.

Perawatan Berkala Setelah Hujan Datang

Setelah hujan mulai rutin, perawatan juga perlu dilakukan secara berkala. Cek atap dan talang setelah hujan deras, pastikan tidak ada genangan di sekitar fondasi, dan perhatikan dinding dalam apakah ada tanda kelembapan baru.

Kalau ada masalah kecil, segera tangani. Jangan menunggu sampai hujan berikutnya, karena kerusakan bisa berkembang lebih cepat. Dengan perawatan rutin, rumah bisa tetap aman dan nyaman sepanjang musim hujan.

Merawat rumah menjelang musim hujan bukan cuma soal mengecek atap atau talang. Ini soal memastikan seluruh bagian rumah siap menghadapi air hujan, dari atap sampai fondasi, dari dinding luar sampai instalasi listrik.

Kalau semua sudah dicek dan diperbaiki sejak awal, risiko kerusakan bisa jauh lebih kecil. Rumah pun bisa tetap aman, nyaman, dan bebas dari masalah kelembapan yang mengganggu sepanjang musim hujan.

Penjualan Barang Mewah di China Melemah, Industri Mode Eropa Tertekan

0

Penjualan barang mewah di pasar global menghadapi tekanan seiring melemahnya daya beli konsumen China. Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah rumah mode ternama Eropa, termasuk LVMH, Kering, dan Hermes. Sepanjang tahun ini, enam perusahaan barang mewah yang tercatat di bursa Eropa kehilangan nilai pasar sekitar 251 miliar euro atau setara Rp 5.084 triliun.

Mengutip laporan CNA, Selasa (27/10/2026), kinerja Kering bahkan berada di bawah perkiraan pasar yang sebelumnya sudah direvisi lebih rendah. Situasi ini memperlihatkan bahwa industri barang mewah masih kesulitan keluar dari perlambatan yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Penurunan nilai pasar paling besar dialami LVMH dan Hermes. Kapitalisasi pasar LVMH menyusut sekitar 131,6 miliar euro atau Rp 2.665 triliun, sedangkan Hermes kehilangan 93,3 miliar euro atau sekitar Rp 1.889 triliun. Pelemahan tersebut turut dipengaruhi gejolak pasar saham dan perubahan pola belanja konsumen China.

Selama lebih dari satu dekade, China menjadi salah satu penopang utama permintaan produk premium. Namun, pasar properti yang belum pulih dan kinerja saham yang melemah membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Pertumbuhan penjualan ritel bulanan China bahkan tercatat di bawah 0,5% selama enam bulan terakhir.

Analis Bernstein, Luca Solca, menilai pemulihan permintaan konsumen China yang diharapkan pelaku industri belum menunjukkan perkembangan berarti. Situasi itu menekan kinerja perusahaan sekaligus memicu pelemahan harga saham dan evaluasi strategi bisnis.

Penjualan Barang Mewah Tertekan oleh Pelemahan Konsumen China

LVMH, Kering, dan Hermes sama-sama melaporkan penurunan permintaan dari konsumen China pada kuartal III. Chief Financial Officer LVMH, Cecile Cabanis, mengungkapkan bahwa penjualan produk mode dan barang kulit perusahaan turun hingga belasan persen di kalangan pelanggan China secara global. Menurutnya, perlambatan tersebut terutama dipicu melemahnya permintaan dari kelompok konsumen itu.

Tekanan serupa dirasakan Kering, pemilik merek Gucci, Saint Laurent, dan Bottega Veneta. Penjualan kepada konsumen China turun sekitar 15–20% pada kuartal ketiga, lebih dalam dibandingkan penurunan pada kuartal sebelumnya.

Hermes yang selama ini dikenal relatif tangguh juga mulai merasakan dampaknya. Penjualan global divisi pakaian siap pakai dan aksesori turun 2%. CFO Hermes, Eric du Halgouet, menyebut pelemahan pasar saham China dan pengetatan terhadap kekayaan yang ditempatkan di luar negeri ikut memperberat kondisi pasar.

Tekanan ekonomi China juga tercermin dari indeks CSI 300 yang merosot 19% dalam empat bulan terakhir. Penurunan tersebut menghapus nilai pasar sekitar US$ 2 triliun di tengah kekhawatiran terhadap konsumsi domestik dan valuasi perusahaan kecerdasan buatan.

Analis Berenberg memperingatkan bahwa ketergantungan Hermes pada pasar China dan konsumen kelas atas yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dapat membebani pendapatan perusahaan.

Meski demikian, prospek industri belum sepenuhnya suram. Penjualan tas Birkin dan produk tas mewah Hermes lainnya meningkat 10,8%. Sementara itu, Tiffany milik LVMH dan Boucheron di bawah Kering mencatat pertumbuhan penjualan dua digit pada kuartal tersebut.

Masa Depan Uang Tunai di Era Digital, Apakah Masih Dibutuhkan?

0

Uang Tunai di masa depan menjadi topik menarik seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital, mulai dari mobile banking, dompet elektronik, hingga QRIS. Kini, masyarakat bisa membeli makanan, membayar tagihan, dan berbelanja kebutuhan sehari-hari tanpa harus membawa banyak uang kertas. Perubahan ini memunculkan pertanyaan: apakah uang tunai suatu saat akan benar-benar hilang dan digantikan oleh transaksi digital?

Perkembangan teknologi memang mengubah cara masyarakat menggunakan uang. Transaksi yang sebelumnya mengandalkan uang fisik kini dapat diselesaikan hanya dengan memindai kode QR atau menempelkan kartu. Bagi konsumen, metode tersebut menawarkan kepraktisan. Sementara itu, bagi pelaku usaha, pembayaran digital dapat membantu pencatatan transaksi dan mengurangi kebutuhan menyediakan uang kembalian.

Namun, berkurangnya penggunaan uang tunai dalam transaksi sehari-hari tidak otomatis berarti uang fisik akan segera ditinggalkan. Data Bank Indonesia dan tren pembayaran global menunjukkan bahwa masyarakat sedang bergerak menuju sistem pembayaran yang semakin digital, tetapi uang tunai masih memiliki fungsi penting.

Uang Tunai di Masa Depan! Apakah Benar-Benar Akan Hilang?

Perkembangan pembayaran digital di Indonesia menunjukkan perubahan yang signifikan. Bank Indonesia mencatat bahwa hingga semester I 2025, QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16% merchant tersebut merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada periode yang sama, transaksi QRIS mencapai 6,05 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp579 triliun. Angka ini memperlihatkan semakin luasnya penerimaan pembayaran digital dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Meski demikian, uang tunai masih beredar dalam jumlah besar. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa uang kartal yang diedarkan pada triwulan II 2025 mencapai sekitar Rp1.153 triliun, meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut mencakup uang kartal yang beredar di masyarakat dan sistem perbankan sesuai definisi statistik Bank Indonesia.

Dua perkembangan ini memperlihatkan bahwa pembayaran digital dan uang tunai masih berjalan berdampingan. Masyarakat dapat menggunakan QRIS untuk berbelanja di toko yang menyediakan fasilitas tersebut, tetapi tetap membutuhkan uang fisik untuk transaksi di tempat yang belum menerima pembayaran digital atau ketika akses teknologi mengalami gangguan.

Tren internasional juga memberikan gambaran serupa. Dalam studi pembayaran konsumen kawasan euro yang diterbitkan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Desember 2024, uang tunai masih digunakan dalam 52% transaksi di lokasi fisik. Angka itu memang menurun dari 59% pada 2022, tetapi tetap menunjukkan bahwa uang fisik belum kehilangan perannya. Selain itu, 62% responden menganggap penting atau sangat penting untuk tetap memiliki pilihan membayar dengan uang tunai.

Data tersebut berasal dari kawasan euro, bukan Indonesia, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan persentase penggunaan uang tunai di Tanah Air. Namun, hasilnya memberikan pelajaran bahwa perkembangan pembayaran digital tidak selalu membuat masyarakat meninggalkan uang fisik sepenuhnya.

Faktor yang Menentukan Masa Depan Uang Tunai

Ada beberapa faktor yang akan memengaruhi seberapa jauh penggunaan uang tunai berkurang dalam beberapa tahun mendatang.

  • Pertama, perkembangan infrastruktur digital. Akses internet, kepemilikan perangkat, dan kestabilan jaringan sangat menentukan kemudahan transaksi digital. Di wilayah yang konektivitasnya terbatas, uang tunai masih menjadi pilihan praktis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Kedua, kebiasaan dan kebutuhan masyarakat. Sebagian konsumen lebih nyaman menggunakan pembayaran digital karena praktis dan mudah dilacak. Namun, ada pula yang memilih uang tunai karena membantu mengendalikan pengeluaran, tidak bergantung pada perangkat elektronik, dan dapat digunakan tanpa harus membuka aplikasi pembayaran.
  • Ketiga, biaya dan kesiapan pelaku usaha. Pembayaran digital membantu proses pencatatan transaksi, tetapi pedagang perlu mempertimbangkan perangkat, koneksi internet, biaya layanan tertentu, dan risiko gangguan sistem. Bagi sebagian usaha kecil, menerima uang tunai tetap menjadi cara transaksi yang sederhana.
  • Keempat, keamanan dan privasi. Transaksi digital dapat meninggalkan jejak elektronik dan menghadapi risiko penipuan, pencurian data, atau pengambilalihan akun. Uang tunai memiliki risiko berbeda, seperti kehilangan fisik dan pencurian, tetapi tidak membutuhkan akun digital untuk melakukan pembayaran langsung.

Prediksi: Masyarakat Akan Beralih ke Sistem Pembayaran Campuran

Dalam jangka panjang, skenario yang masuk akal adalah penggunaan uang tunai semakin berkurang dalam sejumlah jenis transaksi, sementara pembayaran digital menjadi semakin umum. Belanja daring, pembayaran tagihan, transportasi, dan transaksi di perkotaan berpotensi semakin didominasi metode digital karena lebih mudah diintegrasikan dengan aplikasi dan layanan keuangan.

Sebaliknya, uang cash kemungkinan tetap digunakan untuk transaksi bernilai kecil, pembayaran antarmasyarakat, kegiatan ekonomi informal, serta wilayah yang belum memiliki infrastruktur digital memadai. Uang fisik juga dapat menjadi pilihan cadangan ketika jaringan internet, listrik, atau sistem pembayaran mengalami gangguan.

Pandangan ini sejalan dengan analisis Bank for International Settlements (BIS) yang diterbitkan pada April 2026. Berdasarkan statistik pembayaran internasional, penggunaan instrumen nontunai terus meningkat dan penarikan uang tunai cenderung menurun. Namun, jumlah uang tunai yang beredar secara global relatif stabil, memperlihatkan bahwa uang fisik masih relevan dalam perekonomian.

Prediksi tersebut bukan berarti semua negara akan mengalami perubahan dengan kecepatan yang sama. Tingkat pendapatan, akses perbankan, kebijakan pemerintah, infrastruktur teknologi, dan preferensi masyarakat dapat menghasilkan pola penggunaan uang yang berbeda.

Dampaknya bagi Bisnis dan Pelaku UMKM

Perubahan cara masyarakat membayar juga membawa konsekuensi bagi dunia usaha. Pelaku UMKM yang menerima pembayaran digital berpotensi menjangkau pelanggan yang jarang membawa uang. Catatan transaksi elektronik juga dapat membantu pemilik usaha memantau pemasukan dan mengevaluasi penjualan.

Meski begitu, menyediakan pembayaran digital sebaiknya tidak langsung diartikan sebagai alasan untuk menolak uang cash. Menerima beberapa metode pembayaran dapat memperluas pilihan konsumen, termasuk pelanggan yang tidak memiliki aplikasi tertentu atau sedang mengalami kendala teknis.

Pelaku usaha juga perlu memahami biaya transaksi, menjaga keamanan akun, dan menyiapkan prosedur ketika sistem pembayaran tidak dapat digunakan. Dengan demikian, perubahan teknologi bisa dimanfaatkan tanpa mengabaikan kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda.

Intinya, Uang Tunai di masa depan kemungkinan menghadapi penurunan penggunaan dalam sebagian transaksi, tetapi belum ada dasar kuat untuk menyatakan bahwa uang fisik akan segera lenyap. Perkembangan pembayaran digital menunjukkan arah perubahan yang jelas, sedangkan data peredaran uang dan studi konsumen memperlihatkan bahwa uang tunai masih dibutuhkan.

Masa depan sistem pembayaran lebih mungkin ditandai oleh pilihan yang semakin beragam. Masyarakat akan menggunakan metode yang paling sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan akses yang tersedia. Bagi konsumen maupun pelaku bisnis, langkah yang paling realistis adalah memahami kelebihan dan risiko setiap metode pembayaran, lalu memanfaatkannya secara bijak.

Harga Tiket Pesawat di Nataru Turun 11–13 Persen, Berlaku 22 Desember

0

Harga Tiket Pesawat di Nataru 2026/2027 dipastikan turun sekitar 11–13 persen melalui stimulus pemerintah. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan kebijakan tersebut untuk membantu masyarakat mendapatkan tarif penerbangan domestik kelas ekonomi yang lebih terjangkau selama libur Natal dan Tahun Baru.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengatakan koordinasi dengan sejumlah maskapai telah dilakukan untuk membahas pelaksanaan kebijakan tersebut. Ia menyampaikan bahwa penyesuaian tarif diharapkan berjalan sesuai ketentuan sehingga manfaatnya dapat dirasakan penumpang.

Mengutip Antara, Rabu (28/10/2026), Lukman menjelaskan bahwa program stimulus dijadwalkan berlangsung mulai 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027. Periode tersebut mencakup masa ketika mobilitas masyarakat biasanya meningkat untuk keperluan liburan, mudik, maupun kunjungan keluarga.

Kemenhub juga menyiapkan pengawasan terhadap maskapai yang melayani penerbangan domestik kelas ekonomi. Pemerintah menegaskan terdapat mekanisme sanksi bagi perusahaan penerbangan yang tidak menjalankan ketentuan stimulus sesuai aturan.

Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap masyarakat dapat merencanakan perjalanan akhir tahun dengan biaya lebih ringan. Pelaksanaan stimulus juga diharapkan menjaga kelancaran transportasi udara ketika jumlah penumpang meningkat menjelang pergantian tahun.

Harga Tiket Pesawat di Nataru Jadi Perhatian Pemerintah

Sebelum kebijakan penurunan tarif diumumkan, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian telah meminta maskapai mengendalikan harga tiket selama periode liburan. Permintaan itu disampaikan karena lonjakan permintaan perjalanan berpotensi mendorong kenaikan tarif dan memengaruhi inflasi.

Tito meminta Kemenhub, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, mengumpulkan perwakilan maskapai untuk membahas langkah pengendalian harga. Ia berharap perusahaan penerbangan tidak menetapkan tarif pada batas tertinggi hanya karena permintaan meningkat.

Menurut Tito, tingginya jumlah penumpang dapat meningkatkan tingkat keterisian pesawat. Kondisi tersebut dinilai tetap membuka peluang bagi maskapai untuk memperoleh pendapatan tanpa harus menerapkan tarif maksimal kepada konsumen.

Pengendalian Harga Tiket Pesawat di Nataru menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam menjaga keterjangkauan transportasi selama musim liburan. Selain membantu masyarakat, langkah ini diharapkan dapat menekan tekanan harga yang muncul akibat meningkatnya aktivitas perjalanan.

Dengan stimulus yang dijadwalkan berlangsung selama sekitar tiga pekan, masyarakat diharapkan memperoleh pilihan penerbangan dengan tarif lebih terjangkau. Meski demikian, penumpang tetap perlu memeriksa harga dan ketersediaan kursi melalui kanal resmi maskapai karena tarif akhir dapat berbeda sesuai rute, jadwal, dan kondisi pemesanan.