Minggu, Mei 10, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 858

Wow! Waralaba Satu Ini Kuliahkan 20 Ribu Karyawannya

0

Berempat.com – Salah satu merek waralaba restoran pizza asal Amerika Serikat, Papa John’s telah menjalani kemitraan dengan Universitas Purdue. Dengan kerja sama ini, para pekerja akan mendapatkan kesempatan kuliah online gratis. Kerja sama ini memiliki nilai US$5.250 per orang setiap tahunnya.

Sekitar 20.000 pekerja diperkirakan akan dapat mengambil keuntungan dari program ini. Seluruh biaya seperti biaya sekolah buku dan materi kelas dibiayai sepenuhnya oleh Papa John’s, demikian seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (21/2). Ke depan, merek waralaba ini pun berencana akan bekerja sama dengan universitas lainnya.

“Ini adalah pesan yang bagus untuk para kandidat bahwa mereka tidak hanya memiliki tempat untuk dipekerjakan, tetapi tempat untuk terus berkembang,” tutur Chief People Officer Papa John’s Marvin Boakye.

Perusahaan waralaba ini mengambil inisiatif demikian karena sebelumnya sempat mengalami pergolakan kepemimpinan yang membuat pertumbuhan perusahaan tak terlalu signifikan. Pada 2017 lalu misalnya, John Schnatter selaku pendirinya bahkan mengundurkan diri dari perannya sebagai CEO setelah tak sanggup meningkatkan penjualan karena dampak buruk akibat protes pemain NFL.

Starbucks, McDonald, hingga Walmart juga tercatat sebagai merek waralaba yang melakukan langkah serupa.

Raih Pendanaan Seri B, SilverPush Incar Ekspansi ke 3 Negara Ini

0

Berempat.com – SilverPush baru saja mengumumkan telah mendapat pendanaan seri B dari FreakOut Holdings, Inc., sebuah perusahaan teknologi pemasaran global sebesar US$5 juta. Dengan adanya pendanaan ini, perusahaan platform teknologi pemasaran berbasis di Singapura ini telah mempersiapkan beberapa strategi, salah satunya dengan ekspansi ke negara di kawasan Asia Pasifik.

Ada 3 negara yang sudah menjadi tujuan SilverPush, yakni Hong Kong, Australia, dan Korea Selatan. Dana baru tersebut juga akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan Artificial Intelligence (AI) SilverPush dalam penerapan teknologi di luar industri periklanan di masa mendatang.

“Sejak melakukan ekspansi ke Asia Tenggara pada tahun 2018, bisnis kami telah tumbuh 100 persen dari tahun ke tahun dengan lebih dari 30 persen pendapatan yang diperoleh dari bisnis internasional kami,” ungkap CEO SilverPush Hitesh Chawla dalam rilis yang diterima Berempat di Jakarta, Kamis (21/2).

Dengan putaran pendanaan baru ini, Hitest pun berharap bisnis global SilverPush bisa berkontribusi lebih dari 50% dari pendapatan dan berharap mencapai target tahunan sebesar US$25 juta selama dua tahun ke depan.

Saat ini SilverPush tengah berupaya memasuki ruang OTT melalui produk yang baru diluncurkan, yaitu Mirror dan akan meluncurkan kembali produk lain yang dinamakan Prism, sebagai platform pemantauan reputasi merek.

“Kami melihat adanya peningkatan selera pelanggan untuk melihat video on-demand dan tampilan multiscreen di seluruh wilayah Asia Pasifik; dan pada saat yang sama pengiklan dan merek menjadi lebih terbuka untuk mengintegrasikan teknologi baru dalam strategi penjangkauan audiens mereka, ”jelas Hitesh.

SilverPush memang memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan keterlibatan antara merek dan konsumen. Produk terbaru SilverPush, Mirrors, yang diluncurkan pada akhir tahun 2018 misalnya, dapat membantu melakukan kontekstualisasi iklan ketika pengguna melihat konten video di perangkat mereka. Dengan menggunakan AI dengan visi komputer, Mirrors mampu mendeteksi konteks dalam konten video yang selaras dengan tujuan komunikasi inti pengiklan sehingga memungkinkan mereka untuk secara efektif menargetkan iklan di dunia yang sudah penuh dengan iklan.

Dengan teknologi yang dipunya, SilverPush sendiri telah mendukung kampanye dari berbagai merek regional di Asia Pasifik seperti Indofood, Unilab dan Tiger Beer. Serta merek internasional seperti Unilever, KFC, Coca-Cola, Samsung, Johnson & Johnson dan lainnya.

Sementara itu, CEO FreakOut Holdings, Inc. Yuzuru Honda mengatakan, Industri iklan video internet berkembang dengan cepat di seluruh wilayah Asia Pasifik. Karena itu, pihaknya percaya pada teknologi dan produk yang diunggulkan oleh SilverPush.

Kami sangat percaya pada teknologi dan produk unggulan yang dimiliki oleh SilverPush, dan melihat peluang besar bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang di seluruh kawasan Asia Pasifik,” tuturnya.

InfraDigital, Startup Digitalisasi Keuangan Sekolah Raih Seed Funding

0

Berempat – InfraDigital Nusantara (IDN), startup digitalisasi keuangan sekolah terkini baru saja mengumumkan telah meraih pendanaan seed funding dari berbagai macam investor. Di antaranya Appworks Ventures, Fenox Ventures dan beberapa “Angel Investor” dari Google dan Netflix.

“Kami berterimakasih atas kepercayaan para sekolah, partner dan investor kami yang telah membantu mewujudkan visi kami, yaitu sekolah yang cashless, pendapatan lancar, dan memiliki standar tinggi pengelolaan keuangan dalam menghadapi era digital,” ujar Founder InfraDigital Nusantara Ian McKenna dalam keterangan resmi yang diterima Berempat di Jakarta, Rabu (20/2)

Sejak meluncur di awal tahun lalu, startup lulusan GNB Accelerator ini telah berkembang pesat dan sudah mengantarkan lebih dari 90 sekolah, universitas, bimbel dan pesantren menuju keuangan Era Digital di Indonesia. Tahun lalu, InfraDigital sudah membantu sekolah mengelola dan melancarkan pembayaran tagihan pendidikan sebanyak Rp24 miliar untuk lebih dari 20 ribu siswa.

Aplikasi InfraDigital merupakan Fintech B2B yang digunakan oleh Tata Usaha (TU) lembaga pendidikan untuk mengelola dan memudahkan pembayaran tagihan pendidikan siswa, seperti SPP dan tagihan regular lainnya. Ini dilaksanakan dengan menggunakan “tagihan digital” dan “pembayaran online” melalui berbagai channel perbankan dan aplikasi pembayaran, seperti indomaret, alfamart, bank BNI/BNI Syariah, Mandiri, Danamon, aplikasi Ayopop, Kaspro, Mobilepulsa, dan lainnya.

“Seharusnya pembayaran tagihan sekolah itu semudah membeli token PLN. Walaupun orangtua punya rekening atau tidak, tidak ada halangan untuk membayar tepat waktu. Semua bisa bayar tagihan pendidikan di mana pun dan kapan pun melalui layanan perbankan, aplikasi pembayaran, maupun gerai market,” ujar Ian.

Dengan membantu digitalisasi pengelolaan keuangan, sambungnya, maka sekolah akan lebih hemat biaya, waktu, dan tenaga. Sekolah juga menjadi lebih mudah mengurus keuangan dan bisa lebih fokus pada pengembangan pendidikan.

Di tahun ini, InfraDigital akan fokus untuk meningkatkan kualitas layanan kepada seluruh Jaringan sekolah yang telah tergabung, serta menambahkan berbagai fitur yang dibutuhkan oleh mereka, dan mengembangkan Jaringan Sekolah IDN di seluruh wilayah Indonesia.

Anda Pengguna TMAX-DX? Ada Komponen yang Perlu Diganti dari Yamaha Lho

0

Berempat.com – PT Yamaha Indonesia Motor Mfg. secara resmi mengumumkan perlunya penggantian komponen terhadap produk TMAX-DX. Pengumuman ini disampaikan menyusul temuan evaluasi berkala bahwa perlu dilakukan suatu pemeriksaan lanjutan pada komponen Belt (berkenaan dengan transmisi energi) dan ECU (berkenaan dengan fungsi kontrol).

Yamaha akan melakukan penggantian pada komponen Belt, sedangkan untuk komponen ECU hanya akan dilakukan pemrograman ulang untuk meningkatkan kinerja mesin. Penggantian komponen ini perlu dilakukan oleh pengguna TMAX-DX.

Namun, Yamaha Indonesia memastikan bahwa penggantian komponen Belt maupun pemrograman ulang ECU tanpa perlu mengeluarkan biaya. Dengan syarat, TMAX-DX yang pelanggan miliki mempunyai nomor rangka JYASJ1450J0013801 sampai JYASJ1450J0016880. Untuk proses pergantian dan pemorgraman ulang diperkirakan memakan waktu kurang lebih 60 menit.

“Sebagai wujud komitmen Yamaha Indonesia untuk memenuhi hak konsumen dalam mendapatkan produk berkualitas, kami mengajak para pengguna TMAX-DX dengan nomor rangka yang telah kami umumkan untuk segera datang ke dealer CBU resmi Yamaha terdekat, dan melakukan penggantain komponen secara gratis guna mengoptimalkan performa sepeda motor,” jelas GM CS Division (After Sales) PT Yamaha Indonesia Motor Mfg. M. Abidin dalam keterangan resminya, Rabu (20/2).

Program ini akan dilaksanakan secara serentak diseluruh dealer CBU Shop, Sentral Yamaha, dan Flagship Shop Yamaha mulai tanggal 18 Februari 2019.

Untuk keterangan dan informasi lebih lanjut, konsumen TMAX-DX dapat menghubungi Yamaha Call Centre di nomor 021-4618000 atau klik www.yamaha-motor.co.id atau bisa menghubungi dealer CBU-Shop terdekat di kota anda.

Smartfren Buka-Bukaan Siapkan Belanja Modal Rp2,8 T, Untuk Apa?

0

Berempat.com – Sesuai dengan jadwal yang ditentukan, hari ini, Rabu (20/2) PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) buka-bukaan soal melejitnya harga saham dalam beberapa hari terakhir. Di hadapan media, perusahaan telekomunikasi ini mengaku telah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$200 juta atau setara Rp2,8 triliun (kurs Rp14.000).

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengatakan, seluruh dana tersebut akan digunakan untuk menambah jumlah menara Base Transceiver Station (BTS). Sebagai informasi, saat ini Smartfren memiliki sekitar 16.768 menara BTS.

“Targetnya jadi 20 ribu BTS,” ujar Merza di Gedung BEI, Jakarta.

Terkait isu merger dengan XL Axiata yang sempat beredar beberapa waktu lalu, Merza menampik bahwa dana capex yang disiapkan ditujukan untuk merger. “Bukan buat beli-beli,” tambahnya.

Merza pun mengungkapkan bahwa dana capex yang ada berasal dari 3 rencana aksi korporasi yang sebelumnya telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 25 September 2018 lalu. 3 aksi korporasi yang yang dimaksud ialah right issue sebesar Rp6,7 triliun.

“Itu sudah dilaksanakan di antara 16-30 November 2018. Dananya digunakan untuk 2 hal, pembayaran utang dan modal kerja,” jelasnya.

Kemudian, Smartfren akan menerbitkan waran seri II sebesar Rp3,6 triliun yang masa pelaksanaannya sepanjang 16 Mei 2019-22 November 2021. Terakhir ialah Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) melalui penerbitan obligasi wajib konversi senilai Rp1,2 triliun dengan periode pelaksanaan 25 September 2018-25 September 2020.

Namun, kendati menegaskan bahwa tidak ada rencana merger saat ini, Merza tak menampik jika dikemudian hari perseroan melakukan aksi tersebut. Apalagi, ia mengakui jika selama ini para pemain sangat aktif berdiskusi satu sama lain tentang arahan merger tersebut. Sebab itu, ia mengakui pembicaraan terkait hal tersebut semakin intens belakangan ini.

“Bukan rahasia banyak terjadi pembicaraan antara semua pemain dan memang belakangan ini makin kenceng pembicaraannya. Ini karena memang pemain sadari ini jalan keluarnya untuk efisiensi industri telco,” tambahnya.

LinkAja, Platform Pembayaran Digital Kolaborasi 5 Perusahaan BUMN

0

Berempat.com – Lima perusahaan milik BUMN berkolaborasi guna menciptakan platform pembayaran digital bernama LinkAja. Lima perusahaan BUMN tersebut yaitu Telekomunikasi Indonesia, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Dengan kolaborasi ini, maka kelima perusahaan BUMN tersebut telah siap untuk bersaing dengan Ovo maupun Go-Pay yang kini menjadi pemain utama pembayaran digital.

Menurut rencana, LinkAja akan mulai diperkenalkan ke publik pada Maret mendatang. Fitur yang diusung ialah pembayaran tanpa uang tunai melalui kode QR. Selain itu, pengguna juga bisa membayar tagihan tanpa memerlukan rekening bank. Kemudian untuk top up bisa dilakukan di toko serba ada maupun ATM.

Dengan hadirnya LinkAja, maka seluruh bank BUMN tak akan lagi mengeluarkan uang elektronik seperti T-Bank atau QR Code yang dimiliki BRI, e-cash dan e-money milik Bank Mandiri, atau Yap! dan Ketuk Uang Tunai dari BNI.

Raih Pendanaan $272 Juta, Bigo Ekspansi ke Tiga Negara

0

Berempat.com – Platform media sosial live streaming asal Singapura, Bigo baru saja mendapatkan pendapaan Seri D dari YY Inc. sebesar $272 juta. Dengan investasi baru ini, Bigo telah membidik tiga negara untuk menjadi tujuan baru, yakni India, Timur Tengah, dan AS.

Yang terdekat, Bigo akan menjejakkan kaki di India. Untuk itu, platform yang sudah tiga tahun lamanya berdiri ini telah menyiapkan US$100 juta, demikian seperti dilansir dari Entrepreneur.com, Rabu (20/2). Rencana ekspansi ke India ini diprediksi akan membawa dampak besar. Salah satunya membuka 1.000 lapangan pekerjaan dan peluang pembelajaran lintas negara bagi warga Singapura dan India.

“Kami telah menetapkan pandangan untuk ekspansi ke India sebagai wilayah pertama dari tiga negara. India akan bertindak sebagai pelengkap pusat Penelitian dan Pengembangan Singapura,” ujar Jason Hu, CTO untuk Bigo Technology.

Selain itu, ekspansi ini pun akan menambah jumlah total kantor Bigo menjadi 20 kantor regional dan 4 pusat regional hingga akhir 2019. Bigo sendiri sejak dulu telah terkenal dengan produk live streaming-nya, yakni BIGO LIVE, yang memiliki lebih dari 200 juta pengguna terdaftar di lebih dari 100 wilayah.

GMFI Catatkan Pertumbuhan Pendapatan Operasional, tapi Laba Bersih Turun

0

Berempat.com – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) mencatatkan pendapatan operasional senilai US$470 juta di sepanjang tahun lalu. Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan 7% dibanding tahun 2017 sebesar US$439 juta.

Porsi pendapatan perusahaan maintenance, repair & overhaul (MRO) ini lebih besar merujuk pada pendapatan grup sebesar 55%, sedangkan non-grup sebesar 45%. Peningkatan signifikan terjadi pada pendapatan non-grup sebesar 36% dibanding tahun 2017.

Menurut Direktur Utama GMF, Iwan Joeniarto, peningkatan pendapatan non-grup ini menunjukkan bahwa GMF masih sangat dipercaya oleh maskapai di luar grup.

“Kami terus meningkatkan capaian pendapatan dari non-grup untuk membuktikan kualitas dan daya saing GMF patut diperhitungkan di industri MRO, baik dalam maupun luar negeri,” ungkap Iwan dalam keterangan resmi, Selasa (19/2).

Selain itu, sepanjang tahun lalu capaian kinerja GMF menunjukkan adanya pergeseran bisnis sesuai dengan rencana kerja perusahaan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pendapatan dari segmen bisnis perawatan mesin pesawat yang tumbuh signifikan sebesar 61,5% year on year (yoy).

“GMF mencatatkan pendapatan sebesar 116,5 juta dollar AS dari perawatan mesin pesawat. Selain itu, pertumbuhan juga dialami segmen bisnis komponen pesawat yang naik sebesar 5,6 persen yoy,” tuturnya.

Namun, di samping naiknya pendapatan operasional, GMF mencatatkan penurunan pada laba bersih. Tahun lalu GMF mencatatkan laba bersih US$30,7 juta, turun 40,06% dibanding tahun 2017 yang tercatat 50,95 juta dollar AS.

Menurut Iwan, penurunan laba terjadi lantaran adanya kenaikan beban material yang mencapai 28,04% menjadi 107,66 juta dollar AS dan beban subkontrak yang naik 19,26 % menjadi US$113,83 juta.

Iwan menjelaskan, beban material subkontrak meningkat karena naiknya harga material subkontrak vendor selama 2018 dan adanya beban keuangan akibat kondisi makro ekonomi yang membebani pelanggan GMF. Sehingga berpengaruh kepada keuangan operasional maskapai, termasuk biaya perawatan.

“Kami akan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas dari segmen produk yang kita miliki agar bisa menaikan profit margin dan membentuk skema pembayaran yang memberikan kenyamanan kepada perusahaan juga terhadap pelanggan GMF,” tuturnya.

Di sisi lain, GMF juga mencatatkan capaian operasional service level agreement sebesar 99,36%. Angka ini diikuti oleh tingkat kepuasan pelanggan yaitu 4,0 dari skala 4,5.

Pasar idEA 2019 Fokus Beri Experience dan Edukasi Terkait e-Commerce

0

Berempat.com – Bekerja sama dengan Traya Eksbisi Internasional, Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) akan menggelar pameran Pasar idEA 2019 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 15-18 Agustus 2019. Pada pameran kali ini, idEA bermaksud memfokuskan tak hanya pengembangan industri e-Commerce, tapi juga memberikan experience dan edukasi terkait pemasaran online.

“Ini bukan sekedar pemeran biasa, seperti pada umumnya. Kita tidak memfokuskan berjualan, tapi memberi experience dan edukasi,” ungkap Ketua Umum idEA, Ignatius Untung S. saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/2).

Menurutnya, saat ini di tengah tumbuhnya e-Commerce Indonesia masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti jumlah produk lokal yang masih kalah dibanding produk impor dan edukasi tentang transaksi berbelanja online. Untuk itulah idEA hadir.

“idEA hadir untuk mendorong keberpihakan terhadap industri ekonomi digital dan menjalin hubungan baik antara konsumen, pelaku industri secara bekesinambungan, salah satunya mengintegrasikan kanal online ke ranah offline melalui pameran Pasar idEA,” ujar Ignatius.

Ignatius sendiri mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan e-commerce yang menarik dari tahun ke tahun. Mengutip dari Lembaga Euromonitor, penjualan online di Indonesia sudah mencapai $1,1 AS sejak 2014 lalu.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT. Traya Eksibisi Internasional, Bambang Setiawan menambahkan, pameran Pasar idEA ini akan memberikan kesempatan bagi pelaku e-commerce untuk mengenalkan produknya kepada konsumen.

“Pasar idEA akan menjadi tolok ukur perkembangan teknologi e-commerce Indonesia,” ujarnya.

Ia pun percaya jika pameran ini bisa menjadi salah satu pilihan tepat bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh industri e-commerce. Pada pameran ini, ia menyebut idEA akan menampilkan teknologi-teknologi baru yang kelak akan memberikan kontrubusi kepada dunia e-commerce di Indonesia.

Selebgram dan Beriklan di Media Sosial Jadi Strategi Pengembang Properti

0

Berempat.com – Dewasa ini media sosial telah menjelma menjadi mesin penjualan yang menjanjikan. Karena melalui media sosial, kita bisa menjangkau target pasar tanpa terkendala lokasi maupun waktu. Hal ini pula yang gencar dilakukan pengembang properti agar bisa menjual properti yang dipunya.

Salah satu pengembang yang aktif melakukan promosi di media sosial ialah Mayapada Group. Proyek Apartemen Sky Pavilion yang berlokasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan selalu dipromosikan di media sosial, baik berbayar maupun menggunakan jasa Selebgram.

“Jadi selain memakai akun punya kami sendiri, dibantu juga promo media sosial termasuk endorse,” ungkap PR & Promotion Manager Sky Pavillion Nia Kurniawati seperti dikutip dari Banjarmasin Tribun, Selasa (19/2).

Nia beralasan, jika hanya mengunggah di akun media sosial perusahaan maka yang melihat hanya sebatas pengikut sendiri. Sementara bila melakukan promosi berbayar dan endorse Selebgram jangkauannya akan lebih luas dan lebih banyak. Bahkan, lebih spesifik memilih segmen market yang dituju.

Khusus endorse, menurutnya sesuai dengan target marketnya karena bisa menyasar market sosialita. “Keuntungannya lebih spesifik dengan biaya terjangkau,” tandasnya.