Sabtu, Mei 9, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 900

Hyundai Tambah Investasi ke Grab US$250 Juta

0

Berempat.com – Grab kembali mendapatkan dana segar dari Hyundai Motor Group sebesar US$250 juta atau setara Rp 3,7 triliun. Investasi tersebut ditujukan kepada Grab Singapura. Ini merupakan investasi kedua yang diberikan setelah sebelumnya Hyundai berinvestasi US$25 juta di awal tahun 2018.

Chief Innovation Officer Hyundai and Startegy and Technology Division, Youngcho Chi menyatakan investasi ini bertujuan untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.

“Dengan rekam jejak yang tak tertandingi di seluruh kawasan Asia Tenggara serta basis pelanggan dan merchant yang terus berkembang, Grab merupakan mitra terbaik yang akan membantu mempercepat adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara,” ungkap Youngcho Chi dalam keterangan tertulis, Rabu (7/11).

Selain berinvestasi ke Grab, Hyundai juga menjalin kolaborasi dengan KIA Motors Corporation untuk mendorong laju adopsi kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara. Kedua perusahaan otomotif itu berencana akan meluncurkan mobil listrik pada 2019 mendatang.

Di awal, mereka akan meluncurkan 200 mobil listrik kepada pengemudi Grab di Singapura. Setelahnya, barulah pengembangan mobil listrik diperluas sampai ke Malaysia dan Vietnam.

Presiden Grab, Ming Maa menyatakan bahwa pihaknya menyambut positif kemitraan yang dibangun bersama Hyundai dan Kia Motors ini. Pasalnya, Maa mengaku memiliki visi yang sama dengan kedua perusahaan otomotif tersebut.

“Kami memiliki visi yang sama tentang elektrifikasi mobilitas sebagai salah satu pondasi kunci untuk membangun platform transportasi yang ramah lingkungan dengan biaya terendah,” ujar Maa.

Sentuh UMKM, MC Payment Hadirkan Instapay sebagai Solusi Transaksi

0

Berempat.com – MC Payment Indonesia menyadari bahwa saat ini laju ekonomi digital di Indonesia tengah berkembang pesat. Bahkan, Indonesia digadang-gadang akan menjadi ekosistem ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN. Karena itu, MC Payment merasa perlu menyentuh pelaku Usaha Mikor, Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia agar bisa cepat beradaptasi dengan ekonomi digital.

MC Payment melakukannya dengan meluncurkan Instapay sebagai solusi penerimaan pembayaran secara online. Dengan begitu diharapkan pelaku UMKM Indonesia dapat mengembangkan usaha dan mendorong pertumbuhan ekosistem ekonomi digital.

“Untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia, para pelaku usaha khususnya UMKM perlu diberikan edukasi dan dorongan agar mereka mengerti manfaat dan keuntungan menggunakan teknologi, khususnya payment gateway sebagai solusi penerimaan pembayaran secara online,” ucap Country Director MC Payment Indonesia Valerino Wijaya, Senin (6/11), di Jakarta.

Dengan hadirnya Instapay ini, Valerino juga yakin UMKM akan lebih berpeluang untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar. Karena fleksibilitas dalam penerimaan pembayaran secara online menjadi salah satu unsur kemudahan yang harus dimiliki pada era ekonomi digital saat ini.

Ekonomi digital di Indonesia diproyeksi dapat menyumbang US$155 miliar atau 9,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025. Namun, meski pertumbuhan ekonomi digital terus meningkat, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) justru menyebutkan baru sekitar 8% atau 3,79 juta pelaku UMKM yang telah memanfaatkan platform online untuk memasarkan produknya. Padahal, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 61.41% dengan jumlah UMKM hampir mencapai 60 juta unit.

Sekarang Prinsipnya Sudah Bukan Lagi Made in China, tapi “Made for China”

0

Berempat.com – HSBC Global kembali merilis hasil survei terbarunya. Kali ini hasil survei bertajuk ‘Navigator: Made for China’ dipublikasikan di China International Import Expo di Shanghai, China, Selasa (6/11).

Hasil survei tersebut mengungkap bahwa pelaku usaha internasional yakin kualitas produk mereka akan menarik bagi konsumen China, dengan prinsip distribusi melalui kemitraan dan platform e-commerce yang menjadi kunci keberhasilan di pasar. Para pelaku usaha juga akan menargetkan daya beli konsumen berusia di bawah 40 tahun yang diketahui sedang bertumbuh.

“Agar berhasil di masa depan, pelaku usaha internasional harus ‘Made for China’. China bukan lagi sekedar pabrik dunia; pasar konsumennya yang bertumbuh secara cepat mendorong pelaku usaha internasional untuk mengevaluasi kembali cara dan komoditas yang mereka jual ke Cina,” ujar Regional Head, Commercial Banking, HSBC Asia Pacific Stuart Tait pada rilis yang diterima Berempat.com, Selasa (6/11).

Stuart pun menyebut barang-barang made in China kini sudah bisa ditemukan di toko maupun secara online di seluruh dunia. Perkembangan pesat ekonomi China menunjukkan bahwa konsumen Cina membentuk strategi bisnis internasional.

“Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan pedoman baru: ‘Made in China’ tidak lagi cukup; mereka dan produknya harus ‘Made for China,” imbuh Tait.

Survei HSBC Navigator: Made for China ini meneliti persinggungan antara ambisi pertumbuhan pelaku usaha internasional dengan konsumen China yang semakin makmur dan mapan. Pada bulan September, survei tersebut meneliti pandangan 1.205 perusahaan kecil dan besar di 11 ekonomi global utama yang sudah mengekspor produknya ke China atau sedang mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama.

Dari responden hingga perusahaan yang saat ini berjualan di China, 37% di antaranya mengidentifikasikan bahwa mereka mampu menyediakan produk dan layanan yang berbeda atau unggul menajdi faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan penjualan mereka di China. Para responden Eropa sangat yakin tentang daya tarik produknya, di mana 45% dari mereka memilih hal ini sebagai pendorong utama.

30% eksportir ke China menyoroti tingkat kesejahteraan yang semakin bagus dan kenaikan pendapatan konsumen China sebagai pendorong utama pertumbuhan penjualan perusahaan.

Dalam laporan tersebut, China diprediksi akan mengimpor barang senilai US$8 triliun selama 5 tahun (2018-2022). Ini sama dengan rata-rata US$1,6 triliun, atau setara nilai PDB Kanada atau Korea Selatan pada tahun 2017.

Konsumen China yang semakin kuat pun dibarengi dengan kuatnya perhatian pada harga dan kualitas barang. Responden menyatakan bahwa mereka mencari harga yang kompetitif (40%), kualitas dan keamanan (40%), dan jasa atau barang dengan tekonologi yang mumpuni (30%) saat mereka melakukan jual-beli.

Dunia bisnis internasional juga meyakini bahwa produk dan jasa teknologi akan tumbuh paling tinggi di China. Hal ini mencerminkan kecanggihan konsumen China dan permintaan mereka terhadap barang yang bisa meningkatkan gaya hidup mereka.

Secara global, 38% responden berkata bahwa ekspor di bidang jasa teknologi (TI, teknologi biomedis, big data, dan artificial intelligence) akan tumbuh paling tinggi. Barang elektronik (27%) dan peralatan canggih tingkat tinggi seperti yang ditemukan dalam ‘Internet of Things’ (25%) juga dikategorikan sebagai ujung tombak pertumbuhan ekspor ke China.

“Konsumen China bukan lagi sekadar kaya, mereka menjadi semakin sadar akan kesehatan, semakin peduli terhadap lingkungan dan semakin bisa membedakan merek dan kualitas barang yang mereka beli. Ini berbicara mengenai kelas menengah yang sedang bertumbuh yang hobi membeli buah alpukat dan gadget yang bisa dipakai di badan – seperti halnya kelas menengah di Eropa atau Amerika Utara,” ujar Chief Executive Officer HSBC Greater China Helen Wong.

Memahami budaya bisnis lokal menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan asing yang telah berjualan ke China. Kekhawatiran paling dirasakan oleh perusahaan-perusahaan Eropa (43%), tetapi kurang begitu dirasakan oleh perusahaan dari inggris (28%) dan Amerika Serikat (33%).

Beradaptasi dengan selera lokal memungkinkan lebih banyak waktu untuk mematuhi peraturan lokal (keduanya 35%) dan menetapkan harga produk dan layanan secara lebih kompetitif (31%) dipandang sebagai tantangan selanjutnya.

Tiga tantangan teratas bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan penjualan di China adalah menemukan mitra lokal yang tepat (34%), beradaptasi dengan selera China (33%) dan persaingan dengan perusahaan asing lainnya (32%). Bisnis mencari cara untuk mengatasi tantangan ini dengan mendirikan kemitraan lokal (32%), meningkatkan jaringan distribusi atau hubungan distributor mereka sendiri (31%), dan meningkatkan keterampilan karyawan lokal mereka (29%).

Wow! Perawat Indonesia di Jepang BIsa Dapat Gaji Rp 35 Juta

0

Berempat.com – Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) telah menjalin kerja sama dengan Jepang di bidang ketenagakerjaan. Hal itu disampaikan oleh Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kemenaker Roostiawati saat Kunjungan Kerja Tim Pengawas Pekerja Migran Indonesia di Tokyo, Jepang.

“Pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai perawat apabila mereka telah lulus ujian perawat bisa memperoleh pendapatan bulanan sekitar 280 ribu yen (atau setara Rp 35 juta),” ungkap Roostiawati pada keterangan resminya, Senin (5/11).

Lebih lanjut, Roostiawati menjelaskan bahwa perawat yang telah lulus ujian nasional Jepang atau registered nurse Jepang dapat bekerja di Jepang sampai dengan pensiun. Bahkan para perawat dipersilakan membawa keluarganya.

“Skema ini merupakan kerjasama antar pemerintah sehingga resiko kerja amat minim. Kerja sama yang tertuang dalam Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) telah berlangsung selama 10 tahun,” ujar Roostiawati.

Menurut Roostiawati, kerja sama ini didasari oleh kebutuhan Pemerintah Jepang yang sangat besar terhadap Caregiver. Setidaknya, Pemerintah Jepang butuh 500 Caregiver setiap tahunnya. Sementara itu, pasar tenaga kerja dalam negeri Jepang lebih besar diisi oleh mereka yang berusia lanjut. Sebagai informasi, penduduk usia di atas 100 tahun di Jepang mencapai 15.000 jiwa.

Selain itu, kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang sudah berjalan melalui program pemagangan. Direktur Pemagangan Kemnaker Asep Gunawan mengungkapkan, siswa pemagangan yang berada di Jepang bukan bagian dari pekerja migran Indonesia.

“Syarat mengikuti pemagangan di Jepang cukup mudah, lulusan SMK bisa, namun harus dibedakan antara pekerja Migran Indonesia dengan pemagangan,” terang Asep.

Dijelaskan lebih lanjut, skema pemagangan mewajibkan siswa kembali ke Indonesia. Soal apakah siswa akan kembali lagi ke Jepang dan menjadi pekerja migran Indonesia setelah lulus nanti sudah menjadi hal berbeda.

“Penyelenggaraan pemagangan ke Jepang oleh Kemnaker telah berlangsung sejak 1993 dan melalui program ini telah diberangkatkan sebanyak 73.990 orang peserta,” jelas Asep.

Permintaan magang untuk careworkers di Jepang sendiri diperkirakan terus meningkat hingga 550 ribu orang sampai dengan 2025.

Jurus Alex Bangun 700 Gerai Crispyku Fried Chicken Tanpa Tim Marketing

0

Butuh 8 tahun Alex membesarkan bisnisnya tanpa marketing. Kok bisa?

Berempat.com – Andai 8 tahun lalu Alexander Theo tak memilih membuka bisnis ayam goreng tepung (fried chicken) di kala masih aktif bekerja, barangkali saat ini ia tak tahu bagaimana rasanya memiliki kantor sendiri di kawasan Green Sedayu Bizpark, Cakung, Jakarta Timur.

Andai pada 2010 lalu Alex memilih berdamai pada halang-rintang yang merundung, barangkali merek Crispyku Fried Chicken tak akan pernah ada dalam daftar merek waralaba Indonesia. Dan andai dulu Alex lebih memilih menerima nasib menjadi seorang karyawan, barangkali saat ini tak pernah ada 700 gerai Crispyku Fried Chicken yang tersebar dari Aceh hingga Bali.

Bila menapak tilas lagi perjalanannya di masa lalu, Alex sendiri mengaku bahwa dirinya tak mengira bisa sampai ke tahap ini. Apalagi, ia mengaku adanya keajaiban sebab bisa menelurkan 700 gerai tanpa ada tim marketing sebelumnya.

“Tidak ada pake marketing saya. Tidak pake (tim) sales dan marketing. Marketing-nya saya sendiri gitu lho. Tapi menghasilkan 700 outlet,” ujar Alex saat ditemui Berempat.com di kantornya beberapa waktu lalu.

Lalu, soal bagaimana mitranya bisa datang dan sudi bergabung dengan Crispyku Fried Chicken, Alex mengaku bahwa prosesnya hampir sama; calon mitra menghubunginya, lalu datang ke rumah yang dahulu sekaligus menjadi gudang dan kantor, setelah itu Alex akan menjelaskan segala macam terkait bisnisnya tanpa ada alat peraga, sebelum kemudian calon mitra memutuskan untuk mau bergabung.

“Jadi mereka dengan kita punya presentasi segala macem, mereka tertarik langsung mereka join,” kisah pria berkacamata ini.

Jadi, Alex berpendapat bahwa kredibilitas mereknyalah yang membuat Crispyku Fried Chicken bisa tumbuh sampai 700 gerai tanpa adanya tim marketing. Hal kedua yang disoroti Alex ialah sistem dalam bisnisnya yang sudah berjalan. Salah satu sistem yang dibanggakan Alex ialah dalam proses pengiriman bahan baku tanpa ongkos kirim.

“Kita kirim bahan baku pakai mobil pendingin, jadi ayam tetep segar sampai ke end user. Dan itu free ongkir,” klaim Alex.

Dan hal ketiga ialah komitmen. Bagi Alex, komitmen dalam diri seorang pengusaha, khususnya di sektor waralaba sangat penting untuk dimiliki dan ditonjolkan. Sebab calon mitra akan melihat dari sisi komitmen pengusaha sebelum memutuskan untuk berinvestasi atau tidak.

Keempat, yang menurut Alex tak kalah penting tentu saja soal rasa. “Banyak orang saya tanya kenapa bapak pilih kita, dia bilang rasanya enak,” tuturnya.

Dan kelima ialah respon cepat. Alex menyebut bahwa banyak mitranya memilih bergabung karena cepatnya respon yang diberikan oleh Alex selaku pemilik usaha dan bisa dihubungi kapan saja. Kecepatan dalam respons memang menjadi hal yang paling dijaga oleh pengusaha kelahiran Jakarta ini. Itulah kenapa Alex mengaku bimbang apakah perlu atau tidak memiliki tim marketing.

“Kalo pake marketing bisa secepat saya gak balesnya, bisa gak saya andelin? Karena namanya marketing harus fast respon, malem pun juga (harus) dijawab. Namanya orang nanya, nah kita mesti jawab. Kita mesti bales setiap pertanyaan apa. Kita ladenin dia. Nah itu skill-nya seperti itu, dimiliki gak sama kita punya karyawan nantinya?” ujar pria kelahiran 8 Juli 1979 ini.

Di sisi lain, Alex sendiri merasa belum perlu tim marketing lantaran ia lebih ingin agar orang-orang menjadi mitranya karena atas keinginan sendiri, bukan karena berbagai iming-iming keuntungan dan lainnya. Namun, hal itu tak lantas membuat Alex antiperubahan sebab saat ini ia mengakui bahwa dirinya sudah perlu untuk memiliki tim marketing.

“Kenapa? Karena persaingan semakin ketat, jaman berubah, kita gak bisa ngandelin diri kita sendiri. Kita mau robah,” tutur anak ke-2 dari 4 bersaudara ini.

Bisnis itu Membangun Merek

Berdasarkan hasil wawancara, kami menyimpulkan bahwa Alex menganggap bisnis itu bukan hanya soal berjualan, tapi juga soal membangun merek. Sebab sebagaimana yang disebutnya di atas bahwa yang membuat bisnisnya besar seperti saat ini adalah kredibelitas mereknya di mata pasar.

Dan saat ditanya bagaimana membangun sebuah merek, Alex menyebut bahwa syarat utama seorang pengusaha untuk bisa melakukannya ialah harus menyukai bisnis yang dijalani lebih dulu.

“Saya suka sama bisnis yang jalanin karena making money. Biar pun malem-malem dulu harus ngaduk tepung, harus nge-mix—masih manual lagi dulu—tapi kita suka. Pertama harus suka dulu. Kalo gak suka jangan (jalani bisnisnya),” terangnya.

Kemudian, sambung Alex, pengusaha harus punya komitmen dan fokus. Sebab tanpa adanya fokus maka sebuah bisnis lebih rentan gagal.

“Jadi orang liat tuh fokus dan komitmen kita. Makanya jadi Crispyku yang sekarang. Ibarat kata seperti itu. Coba kalo kita kurang komitmen dan kurang fokus, belum tentu. Integritasnya dia (mitra) bisa lihat kan,” tutur Alex.

Fokus dan komitmen yang dimaksud Alex ialah pengusaha tidak boleh menjalani bisnis lebih dari satu saat di awal. Sebab apabila tidak fokus, maka Alex yakin pengusaha tersebut tak akan bisa membangun sebuah merek.

Selain komitmen, sebuah merek—tak terkecuali bisnis waralaba—perlu untuk membangun sistem. Bahkan, menurut Alex, sebuah bisnis waralaba tanpa adanya sistem rentan untuk diatur oleh mitra. Karena itu ia menekankan pentingnya membangun sistem, mulai dari sistem produksi, distribusi, dan sebagainya.

Kemudian hal yang tak kalah penting saat ini yang dilakukan Alex ialah melek teknologi. Alex mengaku bahwa ia menjalani SEO (Search Engine Optimazion) campign untuk situs waralaba-friedchicken.com, aktif membuat konten video di YouTube, dan aktif di media sosial seperti Instagram dan Facebook. “Juga ikut pameran,” tambahnya.

Selain itu, pada Oktober 2016 Crispyku Fried Chicken sudah memiliki STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba). Pendaftaran merek sendiri memang tak bisa dianggap sepele, apalagi bagi bisnis waralaba. Bagi Alex, hal itu amat penting sebab sangat erat kaitannya dengan kredibilitas merek.

Selain berhasil menarik ratusan mitra bisnis, apa yang dilakukan Alex pun berhasil mengangkat merek Crispyku Fried Chicken sehingga diganjar banyak penghargaan, di antaranya Anugerah Wirausaha Indonesia 2015 dari Tabloid Business Opprotunity Indonesia, Franchise Startup 2016, Top Low Cost 2016, Startup Business Market Leader 2016, Rising Business Award 2017, dan The Most Promising Brand Franchise & Business Opportunity 2018.

Proses Dalam Berbisnis yang Perlu Dilalui

Dalam menjalani bisnis, Alex selalu memiliki prinsip yang terus dijalani sampai saat ini. Prinsip yang sebenarnya berasal dari petuah almarhum ayahnya. Prinsip tersebut yaitu “Hati panas, kepala dingin, kuping gajah, kaki seribu”.

“Hati boleh panas, ya kan. Maksudnya namanya di awal pasti banyak yang mencela. Kepala dingin, kita hadepinnya dengan kepala dingin. Santai saja; ‘Iya pak, baik pak, terima kasih masukannya, nanti kita akan perbaiki’. Kuping gajah, kan kupingnya mesti banyak mendengar masukan orang. Kaki seribu itu artinya kita jalan terus. Biar orang ngomong apa juga jalan terus. Jangan kita berhenti, down. Kita jalan terus,” terang pria yang menikah pada 2008 silam ini.

Menilik hal tersebut, Alex seperti berusaha menyampaikan bahwa dalam menjalani bisnis seorang pengusaha perlu memiliki landasan berpikir, atau prinsip yang mesti dipegang. Sebab ia pun menyadari bahwa menjalani bisnis, khususnya waralaba, tak bisa langsung besar.

Menurut Alex ada beberapa tahapan dan proses yang mesti dilalui oleh seorang pengusaha dalam membangun bisnis. Proses pertama ialah membangun kepercayaan pada sosok kita sebagai pengusaha. Pasalnya, dulu saat masih mengawali Crispyku Fried Chicken, Alex sadar bahwa mereknya belum tergolong besar dan belum secara luas diketahui oleh pasar. Sebab itu, ia yakin bahwa kepercayaan calon mitra terhadap dirinyalah yang membuat mereka mau bergabung menjadi mitra.

Alex berkisah lagi bagaimana dulu ia selalu menerima calon mitra di kediamannya yang berlokasi di Membramo, Semper Barat, Jakarta Utara. Kala itu ada sekitar 250 mitra yang berhasil dibuat yakin oleh Alex untuk bergabung dengan Crispyku Fried Chicken.

“Padahal nggak ada alat peraga (presentasi) apa segala macem. Karena apa (mereka mau)? Berarti kan yang mereka beli saya. Jadi kepercayaannya dia kepada saya yang dia beli, gitu lho,” tukas Alex.

“Waktu awalnya dia beli apa ke kita? Beli brand-nya juga belum bisa karena Crispyku baru mulai. Dia juga nggak kenal Crispyku itu. Tapi dia beli sayanya. Cara saya meyakinkan dia yang dia beli. Seperti itu tahapnya,” tambahnya.

Tahap berikutnya ialah membangun manajemen setahap demi setahap atau paling tidak seorang pengusaha perlu memiliki business plan di awal menjalani bisnis. Tak perlu sempurna, menurut Alex, yang penting pengusaha sudah memiliki gambaran bagaimana bisnisnya akan berjalan ke depan.

Alex sendiri mengakui bahwa business plan yang dibuatnya sejak lama baru bisa diaplikasikan ke bisnisnya saat sudah sebesar sekarang. Tapi, kendati demikian Alex mengklaim bahwa sistem yang dibuatnya dulu benar-benar digunakannya saat ini tanpa ada satu pun yang terbuang.

“Bener-bener kepake, gak miss,” akunya keheranan.

“Tapi paling utama itu fokus, jalan. Jangan cuma caranya doang. Saya kalo dulu cuma rancangan doang kan nggak ketemu jalannya. Tapi kita usaha terus, jalan terus, lama-lama kebuka jalan,” tambahnya.

Alex pun tak lupa mengingatkan bahwa yang terpenting bagi pengusaha ialah harus melewati tahap demi tahap dalam membesarkan bisnisnya, seperti memang harus turun tangan langsung baik saat menjual atau saat melatih mitra.

“Bukannya nggak boleh bangun sistem, tapi di awal you harus turun tangan. You sebagai Owner nih harus, itu (ada) lumpur masuk (ke) lumpur. Ibarat kata mungkin begitu,” ujarnya.

Tahap lain yang juga mesti dilalui pengusaha ialah masa-masa sulit dalam membagi waktu. Alex teringat lagi bagaimana dirinya harus berjibaku dengan waktu di 3 tahun pertamanya menjalani bisnis. Apalagi saat itu Alex pun masih berprofesi sebagai karyawan swasta sehingga ia harus pintar-pintar membagi waktu.

Alex mengikuti berbagai prosesnya dengan seksama, mulai dari mencari dan membeli alat, belajar meracik bumbu dan tepung, hingga mencari peternakan ayam untuk suplai. Bahkan, dulu Alex mesti melakukan pelatihan sendiri ke para mitra. Dan karena Alex masih bekerja, maka ia harus pandai untuk bisa meyakinkan para mitranya agar mau mendapat bagaian di-training pada Sabtu atau Minggu.

“Waktu itu kaki jadi kepala, kepala jadi kaki,” kenang Alex.

Tahapan lain yang mesti dilalui oleh pengusaha, menurut Alex, ialah membuat sistem. Namun, bila nanti bisnis sudah berkembang, Alex wanti-wanti bahwa pengusaha pun jangan terlalu terburu-buru untuk membesarkan bisnis dengan serampangan. Salah satunya seperti membesarkan tim tanpa menghitung efisiensi dan efektivitasnya.

“Mungkin ya, kesalahan orang di awal itu, tiba-tiba bangun sistem yang bagus-bagus dulu. Punya marketing-lah. Bukannya gak boleh bangun sistem, tapi harus efisien dulu,” jelasnya.

Nantinya, setelah bisnis benar-benar telah berkembang dan besar, barulah pengusaha perlu membesarkan tim dan produksi, lalu membuat sistem dan mengikutinya secara baku. Seperti apa yang dilakukan oleh Alex saat ini. Ia mengaku bahwa dulu dirinya selalu siap menerima calon mitra untuk datang kapan saja, bahkan saat hampir tengah malam sekalipun.

“Kalo dulu jam 7-8 malem orang pulang kantor saya layanin. Saya bukain pintu, saya senang sekali malah. Tapi kalo sekarang kita ada sistem. Pak, sori jam 5 (sudah tutup),” ujarnya sembari terkekeh.

Perubahan itu Perlu

Seiring dengan berkembangnya sebuah bisnis maka perubahan di setiap lini perlu untuk dilakukan. Bagi Alex, perubahan perlu dilakukan sebagai tahap penyesuaian.

“Dari awal kita yang sendiri, ngirim barang sendiri, pas itu kita produksi sendiri. Pas itu (sudah besar) kita baru bikin bangun tim, baru ada orang produksi, ada orang bagian pengiriman; supir, ada bagian training. Dulu kan yang training saya sendiri,” klaim Alex.

Sekali lagi, sistem menjadi salah satu bagian yang perlu diubah dalam bisnis. Bila bisnis sudah tumbuh dan berkembang, maka jangan ragu untuk memperketat sistem dan manajemen. Alex mencontohkan, bila di awal bisnisnya tak terlalu menyaring mitra yang ingin bergabung, namun kini ia cukup selektif dalam mencari mitra. Artinya, tak semua calon mitra yang datang bisa langsung menjadi bagian dari Cripsyku Fried Chicken.

“Biarin kita saring aja mitra, yang bagus kita layani. Misal nggak bagus, ya nggak bisa, gitu aja. Kita maunya komitmen, jangan cuma ngejatuhin brand kita di lapangan,” ujar Alex.

Alex mempelajari hal itu dari seorang pengusaha travel, ialah Anton Thedy yang mendirikan TX Travel. Yang dipelajari Alex ialah, “saat sudah besar maka kita harus berani menolak uang”.

“Pak Anton itu dari 200 yang daftar, dia cuma masukin 30 orang. Karena apa? Karena mereka nggak cocok di bisnis ini (kata Pak Anton). Nanti yang ada merek kamu malah ancur,” imbuh Alex mengulang ucapan Anton.

Saat ini, selain lebih selektif dalam menjaring mitra, Alex pun mengaku bahwa ia sudah memiliki tim untuk selalu mengunjungi mitra untuk keperluan bantuan maupun sidak. Selain itu, Alex juga akan mengubah salah satu sistem dalam bisnisnya, yakni menambahkan tim marketing.

Laporan HSBC: ASEAN Punya Prospek Perdagangan Paling Menjanjikan di Dunia

0

Berempat.com – HSBC global secara mengejutkan menyatakan bahwa di tengah gejolak perang dagang, prospek perdagangan paling menjanjikan di dunia berada di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut berdasarkan temuan oleh HSBC Navigator yang melibatkan 8.500 bisnis di 34 negara.

Di Asia Tenggara, HSBC Navigator melibatkan lebih dari 1.000 responden di lima pasar ASEAN terbesar (Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Vietnam). Dalam temuan tersebut, perusahaan ASEAN banyak yang berinvestasi pada teknologi supply chain (rantai pasokan) dengan harapan lebih banyak produksi akan mengarah ke kawasan tersebut. Dengan demikian maka perang dagang global dapat dilihat sebagai peluang ketimbang ancaman.

Selain itu, ASEAN menjadi salah satu kawasan yang memiliki tingkat optimisme tertinggi terhadap prospek perdagangan dan aktivitas komersial, walaupun banyak pula perusahaan yang melihat peningkatan sentimen proteksionisme.

Berdasarkan laporan tersebut, 86% perusahaan ASEAN memiliki optimisme mengenai prospek perdagangan luar negeri, lebih tinggi dari blok perdagangan lainnya dan lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 77%. Kemudian sebanyak 75% bisnis di ASEAN percaya bahwa banyak negara menjadi lebih proteksionis di pasar ekspor utama mereka, tertinggi dari semua blok perdagangan dan jauh lebih tinggi daripada rata-rata global 63%.

“Perusahaan-perusahaan ASEAN sangat optimis melihat prospek bisnis mereka dan memperkirakan peningkatan proteksionisme di masa mendatang. Hal ini sekilas terlihat kontra-intuitif dan tentu saja menimbulkan pertanyaan apakah mereka meremehkan risiko perdagangan akibat meningkatnya proteksionisme atau mencoba melihat peluang di tengah konflik perdagangan. Apa pun itu, rantai suplai akan beralih ke ASEAN dan perusahaan harus siap,” ujar Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta dalam keterangan resminya, Senin (5/11).

Berdasarkan hasil temuannya, HSBC Navigator pun menyoroti bahwa China dan AS sejauh ini telah menjadi fokus kebijakan perdagangan proteksionis, tetapi mungkin ada dampak tidak langsung pada blok ASEAN mengingat tingkat ekspor yang tinggi berasal dari dua negara tersebut.

Pada saat yang sama, laporan tersebut menemukan bahwa tarif juga membuka peluang bagi pasar ASEAN di berbagai bidang seperti elektronik, tekstil dan otomotif.  Negara-negara ASEAN seperti Thailand dan Malaysia sudah memiliki jaringan produksi elektronik, terutama dalam perakitan hard disk drive (HDD). Thailand mengekspor jumlah yang sama dari unit penyimpanan akhir ke AS seperti yang dilakukan China, yang akan membuatnya relatif lebih mudah untuk menggeser perakitan di sana, terutama karena pengiriman HDD China ke AS sekarang tunduk pada setidaknya 10% dari tarif AS.

Singapura, Filipina, dan Vietnam juga menghasilkan berbagai komponen elektronik. Di samping itu Vietnam dan Indonesia menjadi semakin kompetitif dalam manufaktur ringan dan ekspor tekstil.

Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Vietnam di sektor produk ekspor tekstil hampir mencapai tiga kali lipat dari yang semula US$24,4 miliar pada 2001 menjadi US$71,8 miliar pada tahun 2014. Pada tahun 2016, ekspor tekstil menyentuh US$42 miliar. Sementara Indonesia mengekspor barang senilai US$16 miliar.

Di bidang otomotif, Frost & Sullivan memprediksi bahwa ASEAN akan menjadi pasar otomotif terbesar ke-6 secara global pada tahun ini. Sektor otomotif adalah salah satu sektor utama bagi ekonomi Thailand yang terus tumbuh sekitar 8,1% dari PDB.

Menurut Dutta, merelokasi basis produksi ke negara-negara berbiaya rendah di ASEAN bukanlah sesuatu yang baru. Pergeseran kegiatan produksi ke wilayah tersebut hanya akan menjadi kelanjutan dari tren yang sudah terjadi.

“Ketegangan hubungan perdagangan mungkin akan mempercepat tren ini dalam jangka pendek, yang akan mempengaruhi secara positif negara-negara yang memiliki kapasitas produksi, seperti Filipina dan Vietnam, tetapi pergeseran rantai pasokan dalam skala besar bukanlah sesuatu yang dapat terjadi dalam semalam. Jika ketegangan perdagangan berlangsung lama, Thailand, Malaysia, dan Vietnam akan menikmati keuntungan selektif dari pengalihan ekspor,” tandas Dutta.

WeChat dan AliPay Akan Beroperasi di Indonesia dengan Bantuan BNI

0

Berempat.com – Sebentar lagi WeChat dan AliPay akan beroperasi di Indonesia. Masuknya dua perusahaan teknologi asal Tiongkok tersebut seiring terjalinnya kerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI). Dalam waktu dekat perjanjian kerja sama ketiga pihak tersebut akan berlangsung dan itu akan menjadi pintu masuk bagi WeChat dan AliPay menjajal pasar Indonesia.

“Dengan WeChat perjanjian ditandatangani 13 November 2018 dan dengan AliPay pada 23 November 2018 di China. Potensi bisnis dari kerja sama ini hampir Rp 2 triliun per tahun, dengan asumsi 50% dari 1,5 juta turis China yang datang ke Indonesia 50% bertransaksi menggunakan WeChat dan AliPay,” terang Wakil Direktur Utama Bank BNI Herry Sidharta dalam kunjungan kerja ke Tokyo, Jepang, Senin (5/11).

Dalam kerja sama tersebut, BNI akan berperan sebagai bank settlement. Sebagai informasi, kerja sama ini merupakan bagian dari persyaratan yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada dua perusahaan asal Tiongkok tersebut bila ingin berekspansi ke Indonesia. Deputi Gubernur BI Sugeng mewajibkan WeChat Pay dan Alipay untuk menggandeng bank besar domestik.

“Alipay dan WeChat (harus) bekerja sama (dengan) Penyedia Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) domestik, bank Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV,” ungkap Sugeng dalam Konferensi Pers di Gedung BI, Jakarta bulan lalu.

Kewajiban bekerja sama dengan bank besar tersebut sesuai dengan Peraturan BI (PBI) 19/8/PBI/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Dan bank yang harus digandeng adalah bank BUKU IV dengan modal inti di atas Rp 30 triliun.

Adapun transaksi lewat layanan tersebut harus diproses dalam rupiah sesuai dengan PBI Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Cotton Ink Studio X Raisa Jadi Koleksi Penutup dari Rangkaian Anniversary

0

Berempat.com – Dalam rangka merayakan usia yang ke 10 tahun atau 10th Anniversary, Cotton Ink menghadirkan rangkaian koleksi kolaborasi bersama beberapa selebriti. Tiga koleksi kolaborasi sudah meluncur, yakni #CottoninkxIsyanaSarasvati, #CottoninkStudioxDianSastro dan #CottoninkxVaneshaPrescilla. Dan kini, sebagai rangkaian penutupnya Cotton Ink menghadirkan koleksi #COTTONINKStudioxRaisa.

Kolaborasi bersama Raisa Andriana ini sebetulnya bukan hal yang baru bagi Cotton Ink. Ini merupakan kolaborasi ketiga mereka, namun pada kesempatan ini Cotton Ink akan menampilkan koleksi yang berbeda dibanding sebelumnya, yakni koleksi yang lebih dewasa, membawakan nuansa perpaduan gaya minimalis dan modern, ditambah dengan sentuhan bertema feminine resort ala Raisa.

“Melalui koleksi ini, kami tidak hanya merayakan perempuan Indonesia yang memiliki gaya berpakaian feminin seperti Raisa, namun juga merayakan Raisa sebagai individu yang terus berkembang,” ujar Brand and Marketing Director Cotton Ink Ria Sarwono di Jakarta, Senin (5/11).

Dalam hal berpakaian, imbuh Ria, Raisa dikenal memiliki gaya feminim, tapi dari segi desain dan perpaduan Raisa dinilai telah banyak berubah. Karena itu, dalam rangka perayaan anniversary ke-10 tahun ini Cotton Ink mengajak Raisa untuk mendesain pakaian untuk lini Cotton Ink Studio.

Sementara itu, dalam proses kreatifnya Cotton Ink pun memberikan kebebasan berekspresi penuh kepada istri Hamish Daud tersebut.

“Dengan koleksi ini pun, kami juga ingin mengajak perempuan Indonesia untuk lebih bebas dalam mengekspresikan diri melalui pakaian,” imbuh Creative Director Cotton Ink Carline Darjanto.

Masih dalam tema ‘celebrating women, celebrating you’, rona pastel yang lembut dan aksentuasi memikat seperti laser cut, drapery dan bordir akan menjadi fokus di koleksi ini. Koleksi yang membawa napas kombinasi antara klasik dan modern ini terdiri dari lebih dari 30 busana, termasuk tiga signature item Cotton Ink, yakni kemeja Devon, tas Istanbul dan tubular shawl, yang masing-masing didesain oleh Raisa.

Kolaborasi #COTTONINKStudioxRaisa ini telah diluncurkan per hari ini, Senin, 5 November 2018 dan dapat dibeli dengan harga Rp 169.000-Rp 499.000 secara online melalui cottonink.co.id maupun di marketplace partner Cotton Ink. Koleksi juga bisa dibeli di gerai Cotton Ink yang tersedia di tiga lokasi di Jakarta, yakni Plaza Senayan, Pondok Indah Mall 2, dan Mall Kota Kasablanka.

Monex Kembali Buka Kompetisi Online Trading Berhadiah Rp 600 Juta

0

Berempat.com – Menjelang akhir tahun, Monex Investindo Futures kembali menggelar Online Trading Competition yang berlangsung pada 1 November 2018 hingga 1 Februari 2019. Ini merupakan kompetisi trading yang baru digelar kembali oleh Monex setelah ‘puasa’ hampir sembilan tahun lamanya.

Sebelumnya, Monex pernah menggelar kompetisi serupa pada 2008 dan 2009. Kedua kompetisi tersebut terbilang sukses digelar. Dan tahun ini, Monex sudah menyiapkan Rp 600 juta untuk nasabah yang akan memenangkan perhelatan kompetisi online trading ini.

Adapun pemenang dipilih berdasarkan jumlah profit bersih terbesar (dari posisi settled dan terbuka) yang dilakukan melalui aplikasi MIFX Mobile dari 1 akun kompetisi. Ya, pada perhelatan tahun ini kompetisi akan memanfaatkan inovasi terkini dari Monex, yakni MIFX Mobile Apps Connect To Trade, sebuah aplikasi online trading yang membuat trading lebih mudah, efektif, dan cepat. Selain itu, nasabah juga mendapatkan peluang trading, eksekusi  trading, dan dapat mengelola akun-akun hanya dalam satu aplikasi.

Pendaftaran bagi peserta sudah dibuka sejak 1 November 2018 dan akan ditutup pada 15 Januari 2019 di Client Area Monex. Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh peserta yaitu harus sudah menjadi nasabah Monex, membuka akun live, dan mendaftarkan akunnya untuk ikut kompetisi di Client Area Monex.

Adapun persyaratan equity terbagi dalam 2 kategori. Pertama, Basic dengan minimal equity US$2.000 hingga maksimum equity di bawah $10.000. Kedua, Premium dengan minimal  equity US$10.000 hingga tak terbatas.

Direktur Utama PT Monex Investindo Futures Ferhad Annas mengatakan, kompetisi ini bertujuan mencari Trader yang memiliki kemampuan, keahlian, dan kualitas yang baik dalam melakukan trading. Selain terbuka untuk nasabah Monex, Ferhad pun menjelaskan bahwa kompetisi ini terbuka untuk umum dengan syarat sudah membuat akun di Monex dan memenuhi persayatan lainnya.

Melalui kegiatan ini, sesuai komitmen PT Monex Investindo Futures sebagai Your No.1 Financial Partner – ‘Advancing Your Wealth Opportunities’, Monex ingin mengedukasi masyarakat Indonesia secara luas tentang manfaat perdagangan berjangka sesuai dengan peraturan otoritas yang menaunginya, BAPPEBTI, BBJ, KBI, ICDX, dan ICH.

Saat ini Monex Investindo Futures mengklaim sebagai pemimpin dalam industri berjangka Indonesia dengan jumlah transaksi terbesar sejak tahun 2007. Monex pun telah menerima berbagai penghargaan kinerja dari institusi bursa maupun non-bursa. Monex memiliki 9 kantor cabang dengan lisensi dari BAPPEBTI, anggota bursa BBJ dan BKDI, serta anggota lembaga kliring; KBI dan ICH.

AQUA Jadi yang Pertama di Indonesia Terapkan Botol 100% Daur Ulang

0

Berempat.com – Produsen air mineral kemasan AQUA mengklaim jadi yang pertama di Indonesia yang menerapkan kemasan botol berbahan daur ulang dan bisa didaur ulang. Pengenalan kemasan botol AQUA 100% daur ulang ini dilangsungkan pada perhelatan Our Ocean Conference (OCC) 2018 pada 29-30 Oktober lalu di Bali.

Menurut Presiden Direktur PT Tirta Investama (Danone-AQUA) Corine Tap, desain tersebut merupakan tonggak pencapaian yang penting untuk mencegah tambahan sampah di laut dan menerapkan prinsip sirkuler reduce-reuse-recycle.

“Sebagai botol daur ulang 100 persen pertama di Indonesia, desain kemasan ini diluncurkan dalam tampilan minimalis tanpa label plastik dan dekorasi tambahan. Pemakaian 100 persen material rPET juga berarti kemasan botol AQUA yang baru akan dibuat sepenuhnya dari botol lainnya. Sehingga, tidak ada plastik tambahan yang digunakan untuk memproduksi kemasan botol ini,” ujar Corine Tap.

Desain baru ini juga diklaim sebagai bukti bahwa AQUA dapat menerapkan daur ulang plastik sepenuhnya, bahkan sudah bisa beralih ke sistem ekonomi terbarukan dan restoratif untuk pengelolaan plastik sebagai sumber daya secara terus menerus. Proses produksi yang inovatif juga mengurangi jumlah emisi karbon secara signifikan dibandingkan proses konvensional.

“Kami membangun sebuah ekosistem bersama para mitra untuk membantu kami mendesain ulang berbagai produk demi meraih misi kami, yaitu memberi kebaikan melalui penyediaan hidrasi yang sehat kepada komunitas Indonesia, sembari melestarikan kekayaan alam negara ini,” imbuh Corine.

Inovasi kemasan ini pun menjadi penanda dalam mewujudkan komitmen #BijakBerplastik dalam pilar Inovasi Produk dan telah menjadi langkah konkret menuju model bisnis sirkuler tanpa limbah plastik.

Saat ini, semua kemasan botol plastik AQUA bisa didaur ulang 100% dan mengandung 25% persen rPET. Bahkan, saat ini 70% produk AQUA dikemas dalam kemasan galon yang bisa dikembalikan dan digunakan kembali.