Sekarang Prinsipnya Sudah Bukan Lagi Made in China, tapi “Made for China”

0
356

Berempat.com – HSBC Global kembali merilis hasil survei terbarunya. Kali ini hasil survei bertajuk ‘Navigator: Made for China’ dipublikasikan di China International Import Expo di Shanghai, China, Selasa (6/11).

Hasil survei tersebut mengungkap bahwa pelaku usaha internasional yakin kualitas produk mereka akan menarik bagi konsumen China, dengan prinsip distribusi melalui kemitraan dan platform e-commerce yang menjadi kunci keberhasilan di pasar. Para pelaku usaha juga akan menargetkan daya beli konsumen berusia di bawah 40 tahun yang diketahui sedang bertumbuh.

“Agar berhasil di masa depan, pelaku usaha internasional harus ‘Made for China’. China bukan lagi sekedar pabrik dunia; pasar konsumennya yang bertumbuh secara cepat mendorong pelaku usaha internasional untuk mengevaluasi kembali cara dan komoditas yang mereka jual ke Cina,” ujar Regional Head, Commercial Banking, HSBC Asia Pacific Stuart Tait pada rilis yang diterima Berempat.com, Selasa (6/11).

Stuart pun menyebut barang-barang made in China kini sudah bisa ditemukan di toko maupun secara online di seluruh dunia. Perkembangan pesat ekonomi China menunjukkan bahwa konsumen Cina membentuk strategi bisnis internasional.

“Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan pedoman baru: ‘Made in China’ tidak lagi cukup; mereka dan produknya harus ‘Made for China,” imbuh Tait.

Survei HSBC Navigator: Made for China ini meneliti persinggungan antara ambisi pertumbuhan pelaku usaha internasional dengan konsumen China yang semakin makmur dan mapan. Pada bulan September, survei tersebut meneliti pandangan 1.205 perusahaan kecil dan besar di 11 ekonomi global utama yang sudah mengekspor produknya ke China atau sedang mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama.

Dari responden hingga perusahaan yang saat ini berjualan di China, 37% di antaranya mengidentifikasikan bahwa mereka mampu menyediakan produk dan layanan yang berbeda atau unggul menajdi faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan penjualan mereka di China. Para responden Eropa sangat yakin tentang daya tarik produknya, di mana 45% dari mereka memilih hal ini sebagai pendorong utama.

30% eksportir ke China menyoroti tingkat kesejahteraan yang semakin bagus dan kenaikan pendapatan konsumen China sebagai pendorong utama pertumbuhan penjualan perusahaan.

Dalam laporan tersebut, China diprediksi akan mengimpor barang senilai US$8 triliun selama 5 tahun (2018-2022). Ini sama dengan rata-rata US$1,6 triliun, atau setara nilai PDB Kanada atau Korea Selatan pada tahun 2017.

Konsumen China yang semakin kuat pun dibarengi dengan kuatnya perhatian pada harga dan kualitas barang. Responden menyatakan bahwa mereka mencari harga yang kompetitif (40%), kualitas dan keamanan (40%), dan jasa atau barang dengan tekonologi yang mumpuni (30%) saat mereka melakukan jual-beli.

Dunia bisnis internasional juga meyakini bahwa produk dan jasa teknologi akan tumbuh paling tinggi di China. Hal ini mencerminkan kecanggihan konsumen China dan permintaan mereka terhadap barang yang bisa meningkatkan gaya hidup mereka.

Secara global, 38% responden berkata bahwa ekspor di bidang jasa teknologi (TI, teknologi biomedis, big data, dan artificial intelligence) akan tumbuh paling tinggi. Barang elektronik (27%) dan peralatan canggih tingkat tinggi seperti yang ditemukan dalam ‘Internet of Things’ (25%) juga dikategorikan sebagai ujung tombak pertumbuhan ekspor ke China.

“Konsumen China bukan lagi sekadar kaya, mereka menjadi semakin sadar akan kesehatan, semakin peduli terhadap lingkungan dan semakin bisa membedakan merek dan kualitas barang yang mereka beli. Ini berbicara mengenai kelas menengah yang sedang bertumbuh yang hobi membeli buah alpukat dan gadget yang bisa dipakai di badan – seperti halnya kelas menengah di Eropa atau Amerika Utara,” ujar Chief Executive Officer HSBC Greater China Helen Wong.

Memahami budaya bisnis lokal menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan asing yang telah berjualan ke China. Kekhawatiran paling dirasakan oleh perusahaan-perusahaan Eropa (43%), tetapi kurang begitu dirasakan oleh perusahaan dari inggris (28%) dan Amerika Serikat (33%).

Beradaptasi dengan selera lokal memungkinkan lebih banyak waktu untuk mematuhi peraturan lokal (keduanya 35%) dan menetapkan harga produk dan layanan secara lebih kompetitif (31%) dipandang sebagai tantangan selanjutnya.

Tiga tantangan teratas bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan penjualan di China adalah menemukan mitra lokal yang tepat (34%), beradaptasi dengan selera China (33%) dan persaingan dengan perusahaan asing lainnya (32%). Bisnis mencari cara untuk mengatasi tantangan ini dengan mendirikan kemitraan lokal (32%), meningkatkan jaringan distribusi atau hubungan distributor mereka sendiri (31%), dan meningkatkan keterampilan karyawan lokal mereka (29%).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.