Jurus Alex Bangun 700 Gerai Crispyku Fried Chicken Tanpa Tim Marketing

0
290
Owner Crispyku Fried Chicken, Alexander Theo.

Butuh 8 tahun Alex membesarkan bisnisnya tanpa marketing. Kok bisa?

Berempat.com – Andai 8 tahun lalu Alexander Theo tak memilih membuka bisnis ayam goreng tepung (fried chicken) di kala masih aktif bekerja, barangkali saat ini ia tak tahu bagaimana rasanya memiliki kantor sendiri di kawasan Green Sedayu Bizpark, Cakung, Jakarta Timur.

Andai pada 2010 lalu Alex memilih berdamai pada halang-rintang yang merundung, barangkali merek Crispyku Fried Chicken tak akan pernah ada dalam daftar merek waralaba Indonesia. Dan andai dulu Alex lebih memilih menerima nasib menjadi seorang karyawan, barangkali saat ini tak pernah ada 700 gerai Crispyku Fried Chicken yang tersebar dari Aceh hingga Bali.

Bila menapak tilas lagi perjalanannya di masa lalu, Alex sendiri mengaku bahwa dirinya tak mengira bisa sampai ke tahap ini. Apalagi, ia mengaku adanya keajaiban sebab bisa menelurkan 700 gerai tanpa ada tim marketing sebelumnya.

“Tidak ada pake marketing saya. Tidak pake (tim) sales dan marketing. Marketing-nya saya sendiri gitu lho. Tapi menghasilkan 700 outlet,” ujar Alex saat ditemui Berempat.com di kantornya beberapa waktu lalu.

Lalu, soal bagaimana mitranya bisa datang dan sudi bergabung dengan Crispyku Fried Chicken, Alex mengaku bahwa prosesnya hampir sama; calon mitra menghubunginya, lalu datang ke rumah yang dahulu sekaligus menjadi gudang dan kantor, setelah itu Alex akan menjelaskan segala macam terkait bisnisnya tanpa ada alat peraga, sebelum kemudian calon mitra memutuskan untuk mau bergabung.

“Jadi mereka dengan kita punya presentasi segala macem, mereka tertarik langsung mereka join,” kisah pria berkacamata ini.

Jadi, Alex berpendapat bahwa kredibilitas mereknyalah yang membuat Crispyku Fried Chicken bisa tumbuh sampai 700 gerai tanpa adanya tim marketing. Hal kedua yang disoroti Alex ialah sistem dalam bisnisnya yang sudah berjalan. Salah satu sistem yang dibanggakan Alex ialah dalam proses pengiriman bahan baku tanpa ongkos kirim.

“Kita kirim bahan baku pakai mobil pendingin, jadi ayam tetep segar sampai ke end user. Dan itu free ongkir,” klaim Alex.

Dan hal ketiga ialah komitmen. Bagi Alex, komitmen dalam diri seorang pengusaha, khususnya di sektor waralaba sangat penting untuk dimiliki dan ditonjolkan. Sebab calon mitra akan melihat dari sisi komitmen pengusaha sebelum memutuskan untuk berinvestasi atau tidak.

Keempat, yang menurut Alex tak kalah penting tentu saja soal rasa. “Banyak orang saya tanya kenapa bapak pilih kita, dia bilang rasanya enak,” tuturnya.

Dan kelima ialah respon cepat. Alex menyebut bahwa banyak mitranya memilih bergabung karena cepatnya respon yang diberikan oleh Alex selaku pemilik usaha dan bisa dihubungi kapan saja. Kecepatan dalam respons memang menjadi hal yang paling dijaga oleh pengusaha kelahiran Jakarta ini. Itulah kenapa Alex mengaku bimbang apakah perlu atau tidak memiliki tim marketing.

“Kalo pake marketing bisa secepat saya gak balesnya, bisa gak saya andelin? Karena namanya marketing harus fast respon, malem pun juga (harus) dijawab. Namanya orang nanya, nah kita mesti jawab. Kita mesti bales setiap pertanyaan apa. Kita ladenin dia. Nah itu skill-nya seperti itu, dimiliki gak sama kita punya karyawan nantinya?” ujar pria kelahiran 8 Juli 1979 ini.

Di sisi lain, Alex sendiri merasa belum perlu tim marketing lantaran ia lebih ingin agar orang-orang menjadi mitranya karena atas keinginan sendiri, bukan karena berbagai iming-iming keuntungan dan lainnya. Namun, hal itu tak lantas membuat Alex antiperubahan sebab saat ini ia mengakui bahwa dirinya sudah perlu untuk memiliki tim marketing.

“Kenapa? Karena persaingan semakin ketat, jaman berubah, kita gak bisa ngandelin diri kita sendiri. Kita mau robah,” tutur anak ke-2 dari 4 bersaudara ini.

Bisnis itu Membangun Merek

Berdasarkan hasil wawancara, kami menyimpulkan bahwa Alex menganggap bisnis itu bukan hanya soal berjualan, tapi juga soal membangun merek. Sebab sebagaimana yang disebutnya di atas bahwa yang membuat bisnisnya besar seperti saat ini adalah kredibelitas mereknya di mata pasar.

Dan saat ditanya bagaimana membangun sebuah merek, Alex menyebut bahwa syarat utama seorang pengusaha untuk bisa melakukannya ialah harus menyukai bisnis yang dijalani lebih dulu.

“Saya suka sama bisnis yang jalanin karena making money. Biar pun malem-malem dulu harus ngaduk tepung, harus nge-mix—masih manual lagi dulu—tapi kita suka. Pertama harus suka dulu. Kalo gak suka jangan (jalani bisnisnya),” terangnya.

Kemudian, sambung Alex, pengusaha harus punya komitmen dan fokus. Sebab tanpa adanya fokus maka sebuah bisnis lebih rentan gagal.

“Jadi orang liat tuh fokus dan komitmen kita. Makanya jadi Crispyku yang sekarang. Ibarat kata seperti itu. Coba kalo kita kurang komitmen dan kurang fokus, belum tentu. Integritasnya dia (mitra) bisa lihat kan,” tutur Alex.

Fokus dan komitmen yang dimaksud Alex ialah pengusaha tidak boleh menjalani bisnis lebih dari satu saat di awal. Sebab apabila tidak fokus, maka Alex yakin pengusaha tersebut tak akan bisa membangun sebuah merek.

Selain komitmen, sebuah merek—tak terkecuali bisnis waralaba—perlu untuk membangun sistem. Bahkan, menurut Alex, sebuah bisnis waralaba tanpa adanya sistem rentan untuk diatur oleh mitra. Karena itu ia menekankan pentingnya membangun sistem, mulai dari sistem produksi, distribusi, dan sebagainya.

Kemudian hal yang tak kalah penting saat ini yang dilakukan Alex ialah melek teknologi. Alex mengaku bahwa ia menjalani SEO (Search Engine Optimazion) campign untuk situs waralaba-friedchicken.com, aktif membuat konten video di YouTube, dan aktif di media sosial seperti Instagram dan Facebook. “Juga ikut pameran,” tambahnya.

Selain itu, pada Oktober 2016 Crispyku Fried Chicken sudah memiliki STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba). Pendaftaran merek sendiri memang tak bisa dianggap sepele, apalagi bagi bisnis waralaba. Bagi Alex, hal itu amat penting sebab sangat erat kaitannya dengan kredibilitas merek.

Selain berhasil menarik ratusan mitra bisnis, apa yang dilakukan Alex pun berhasil mengangkat merek Crispyku Fried Chicken sehingga diganjar banyak penghargaan, di antaranya Anugerah Wirausaha Indonesia 2015 dari Tabloid Business Opprotunity Indonesia, Franchise Startup 2016, Top Low Cost 2016, Startup Business Market Leader 2016, Rising Business Award 2017, dan The Most Promising Brand Franchise & Business Opportunity 2018.

Proses Dalam Berbisnis yang Perlu Dilalui

Dalam menjalani bisnis, Alex selalu memiliki prinsip yang terus dijalani sampai saat ini. Prinsip yang sebenarnya berasal dari petuah almarhum ayahnya. Prinsip tersebut yaitu “Hati panas, kepala dingin, kuping gajah, kaki seribu”.

“Hati boleh panas, ya kan. Maksudnya namanya di awal pasti banyak yang mencela. Kepala dingin, kita hadepinnya dengan kepala dingin. Santai saja; ‘Iya pak, baik pak, terima kasih masukannya, nanti kita akan perbaiki’. Kuping gajah, kan kupingnya mesti banyak mendengar masukan orang. Kaki seribu itu artinya kita jalan terus. Biar orang ngomong apa juga jalan terus. Jangan kita berhenti, down. Kita jalan terus,” terang pria yang menikah pada 2008 silam ini.

Menilik hal tersebut, Alex seperti berusaha menyampaikan bahwa dalam menjalani bisnis seorang pengusaha perlu memiliki landasan berpikir, atau prinsip yang mesti dipegang. Sebab ia pun menyadari bahwa menjalani bisnis, khususnya waralaba, tak bisa langsung besar.

Menurut Alex ada beberapa tahapan dan proses yang mesti dilalui oleh seorang pengusaha dalam membangun bisnis. Proses pertama ialah membangun kepercayaan pada sosok kita sebagai pengusaha. Pasalnya, dulu saat masih mengawali Crispyku Fried Chicken, Alex sadar bahwa mereknya belum tergolong besar dan belum secara luas diketahui oleh pasar. Sebab itu, ia yakin bahwa kepercayaan calon mitra terhadap dirinyalah yang membuat mereka mau bergabung menjadi mitra.

Alex berkisah lagi bagaimana dulu ia selalu menerima calon mitra di kediamannya yang berlokasi di Membramo, Semper Barat, Jakarta Utara. Kala itu ada sekitar 250 mitra yang berhasil dibuat yakin oleh Alex untuk bergabung dengan Crispyku Fried Chicken.

“Padahal nggak ada alat peraga (presentasi) apa segala macem. Karena apa (mereka mau)? Berarti kan yang mereka beli saya. Jadi kepercayaannya dia kepada saya yang dia beli, gitu lho,” tukas Alex.

“Waktu awalnya dia beli apa ke kita? Beli brand-nya juga belum bisa karena Crispyku baru mulai. Dia juga nggak kenal Crispyku itu. Tapi dia beli sayanya. Cara saya meyakinkan dia yang dia beli. Seperti itu tahapnya,” tambahnya.

Tahap berikutnya ialah membangun manajemen setahap demi setahap atau paling tidak seorang pengusaha perlu memiliki business plan di awal menjalani bisnis. Tak perlu sempurna, menurut Alex, yang penting pengusaha sudah memiliki gambaran bagaimana bisnisnya akan berjalan ke depan.

Alex sendiri mengakui bahwa business plan yang dibuatnya sejak lama baru bisa diaplikasikan ke bisnisnya saat sudah sebesar sekarang. Tapi, kendati demikian Alex mengklaim bahwa sistem yang dibuatnya dulu benar-benar digunakannya saat ini tanpa ada satu pun yang terbuang.

“Bener-bener kepake, gak miss,” akunya keheranan.

“Tapi paling utama itu fokus, jalan. Jangan cuma caranya doang. Saya kalo dulu cuma rancangan doang kan nggak ketemu jalannya. Tapi kita usaha terus, jalan terus, lama-lama kebuka jalan,” tambahnya.

Alex pun tak lupa mengingatkan bahwa yang terpenting bagi pengusaha ialah harus melewati tahap demi tahap dalam membesarkan bisnisnya, seperti memang harus turun tangan langsung baik saat menjual atau saat melatih mitra.

“Bukannya nggak boleh bangun sistem, tapi di awal you harus turun tangan. You sebagai Owner nih harus, itu (ada) lumpur masuk (ke) lumpur. Ibarat kata mungkin begitu,” ujarnya.

Tahap lain yang juga mesti dilalui pengusaha ialah masa-masa sulit dalam membagi waktu. Alex teringat lagi bagaimana dirinya harus berjibaku dengan waktu di 3 tahun pertamanya menjalani bisnis. Apalagi saat itu Alex pun masih berprofesi sebagai karyawan swasta sehingga ia harus pintar-pintar membagi waktu.

Alex mengikuti berbagai prosesnya dengan seksama, mulai dari mencari dan membeli alat, belajar meracik bumbu dan tepung, hingga mencari peternakan ayam untuk suplai. Bahkan, dulu Alex mesti melakukan pelatihan sendiri ke para mitra. Dan karena Alex masih bekerja, maka ia harus pandai untuk bisa meyakinkan para mitranya agar mau mendapat bagaian di-training pada Sabtu atau Minggu.

“Waktu itu kaki jadi kepala, kepala jadi kaki,” kenang Alex.

Tahapan lain yang mesti dilalui oleh pengusaha, menurut Alex, ialah membuat sistem. Namun, bila nanti bisnis sudah berkembang, Alex wanti-wanti bahwa pengusaha pun jangan terlalu terburu-buru untuk membesarkan bisnis dengan serampangan. Salah satunya seperti membesarkan tim tanpa menghitung efisiensi dan efektivitasnya.

“Mungkin ya, kesalahan orang di awal itu, tiba-tiba bangun sistem yang bagus-bagus dulu. Punya marketing-lah. Bukannya gak boleh bangun sistem, tapi harus efisien dulu,” jelasnya.

Nantinya, setelah bisnis benar-benar telah berkembang dan besar, barulah pengusaha perlu membesarkan tim dan produksi, lalu membuat sistem dan mengikutinya secara baku. Seperti apa yang dilakukan oleh Alex saat ini. Ia mengaku bahwa dulu dirinya selalu siap menerima calon mitra untuk datang kapan saja, bahkan saat hampir tengah malam sekalipun.

“Kalo dulu jam 7-8 malem orang pulang kantor saya layanin. Saya bukain pintu, saya senang sekali malah. Tapi kalo sekarang kita ada sistem. Pak, sori jam 5 (sudah tutup),” ujarnya sembari terkekeh.

Perubahan itu Perlu

Seiring dengan berkembangnya sebuah bisnis maka perubahan di setiap lini perlu untuk dilakukan. Bagi Alex, perubahan perlu dilakukan sebagai tahap penyesuaian.

“Dari awal kita yang sendiri, ngirim barang sendiri, pas itu kita produksi sendiri. Pas itu (sudah besar) kita baru bikin bangun tim, baru ada orang produksi, ada orang bagian pengiriman; supir, ada bagian training. Dulu kan yang training saya sendiri,” klaim Alex.

Sekali lagi, sistem menjadi salah satu bagian yang perlu diubah dalam bisnis. Bila bisnis sudah tumbuh dan berkembang, maka jangan ragu untuk memperketat sistem dan manajemen. Alex mencontohkan, bila di awal bisnisnya tak terlalu menyaring mitra yang ingin bergabung, namun kini ia cukup selektif dalam mencari mitra. Artinya, tak semua calon mitra yang datang bisa langsung menjadi bagian dari Cripsyku Fried Chicken.

“Biarin kita saring aja mitra, yang bagus kita layani. Misal nggak bagus, ya nggak bisa, gitu aja. Kita maunya komitmen, jangan cuma ngejatuhin brand kita di lapangan,” ujar Alex.

Alex mempelajari hal itu dari seorang pengusaha travel, ialah Anton Thedy yang mendirikan TX Travel. Yang dipelajari Alex ialah, “saat sudah besar maka kita harus berani menolak uang”.

“Pak Anton itu dari 200 yang daftar, dia cuma masukin 30 orang. Karena apa? Karena mereka nggak cocok di bisnis ini (kata Pak Anton). Nanti yang ada merek kamu malah ancur,” imbuh Alex mengulang ucapan Anton.

Saat ini, selain lebih selektif dalam menjaring mitra, Alex pun mengaku bahwa ia sudah memiliki tim untuk selalu mengunjungi mitra untuk keperluan bantuan maupun sidak. Selain itu, Alex juga akan mengubah salah satu sistem dalam bisnisnya, yakni menambahkan tim marketing.

Sudah aktif menulis sejak 2011. Menggemari fiksi. Beberapa karya cerpen sudah dibukukan dan dimuat di berbagai media online. Sudah menelurkan 4 buah buku bertema inspirasi bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here