Sabtu, Mei 9, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 890

Jumlah Transaksi REI Mandiri Property Expo 2018 Tak Sentuh Target

0

Berempat.com – REI Mandiri Property Expo 2018 telah rampung digelar pada 17-25 November 2018 lalu. Pada perhelatan tahun ini, pameran properti yang diinisiasi oleh Bank Mandiri dan Real Estate Indonesia (REI) berhasil merengkuh 22.716 pengunjung. Namun, sayangnya, nilai total transaksi REI Mandiri Property Expo 2018 tak menyentuh target. Dari target yang ditetapkan semula, yakni Rp 500 miliar hanya mampu menyentuh di angka Rp 245 miliar dari hasil transaksi 365 unit rumah dan apartemen.

Kendati total transaksi tak menyentuh target, namun Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata berharap pameran ini tetap dapat mendorong sektor properti Indonesia menjadi lebih bergairah lagi di beberapa tahun ke depan. Selain itu, Soelaeman juga tak ingin nilai transaksi pada pameran ini menjadi acuan bahwa pasar properti Indonesia tengah lesu.

“Properti tidak akan pernah turun. Mungkin pergerakannya kadang lambat, tetapi sektor properti tidak akan pernah berhenti,” ujar Soelaeman di Jakarta, Jumat (30/11).

Saat ini, sambung Soelaeman, proyek perumahan untuk kalangan menengah memiliki ceruk pasar paling besar. Pasalnya, kelas menengah Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 52 juta orang dengan nilai konsumsi mencapai 43%.

Selain itu, pasar properti masih akan menjanjikan sebab pemerintah memberikan fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Fasilitas tersebut merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan program nasional pembangunan sejuta rumah. Dengan fasilitas tersebut, masyarakat berpenghasilan antara Rp 2,5 juta–Rp 4 juta berkesempatan dapat memiliki rumah yang layak huni.

Kemudian ada juga kebijakan Loan to Value (LTV) yang bisa ikut mendorong pertumbuhan pasar properti di Indonesia. “Hal ini ikut mendorong masyarakat untuk semakin mudah memiliki rumah, karena rasio LTV yang lebih longgar bisa memperkecil nilai uang muka yang harus disediakan konsumen untuk pembelian rumah pertama mereka,” tambah Soelaeman.

Proyek-proyek infrastruktur yang giat dibangun pemerintah juga dianggap Soelaeman dapat menjadi magnet bagi proyek properti agar tetap seksi. Pasalnya, kemudahan akses menjadi salah satu nilai jual yang ditawarkan pengembang kepada konsumen potensial.

Indonesia Sepakat Ikut Perkuat Kampanye Green Jobs, Apa Itu?

0

Berempat.com – Menteri-menteri ketenagakerjaan dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, telah melakukan pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (30/11). Pertemuan Menteri-Menteri Ketenagakerjaan ASEAN atau ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM) ini merupakan pertemuan yang ke-25. Dan kali ini ALMM kedatangan tamu dari negara di luar kawasan ASEAN, yakni Jepang, Korea, dan China.

Pada pertemuan tersebut para menteri berkomitmen untuk memperkuat kampanye green jobs. Green jobs merupakan kampanye dalam membuka lapangan pekerjaan dengan tetap mempertimbangakan kelestarian lingkungan.

“ASEAN, Jepang, Korea dan China sepakat untuk terus mengampanyekan dan mengupayakan green jobs. Ini adalah komitmen yang sangat positif, dimana lapangan pekerjaan terus diciptakan untuk pembangunan ekonomi, namun juga sangat mempertimbangkan mengurangi dampak negatif bagi lingkungan,” ujar Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri pada keterangan resminya, Jumat (30/11).

Menuruth Hanif, komitmen memperkuat kampanye green jobs adalah langkah tepat untuk dilakukan saat ini di mana revolusi industri 4.0 tengah berlangsung. Revolusi industri 4.0 sendiri akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi yang tak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia, tapi sangat mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan untuk generasi mendatang.

Revolusi industri 4.0 juga dipercaya mengubah konsep industri global, dari yang semula bertumpu pada sumber daya alam bergeser pada kekuatan ilmu pengetahuan, inovasi serta kolaborasi. Industri pertambangan, misalnya, saat ini tengah mengalami keterbatasan cadangan tambang dan dihadapkan pada dampak eksploitasi lingkungan.

Hanif pun menegaskan bahwa Indonesia sendiri sudah melakukan berbagai langkah yang sejalan dengan kampanye green jobs. Beberapa di antaranya dengan menggenjot pelatihan vokasi untuk meningkatkan skill dan kompetensi pekerja yang di dalamnya terkandung green skills, green productivity serta keselamatan dan kesehatan kerja. Pemerintah pun turut melibatkan kalangan dari perguruan tinggi dalam pengembangan green productivity dan green accounting.

Selain itu, pada pertemuan ALMM yang berlangsung selama dua hari tersebut turut menghasilkan komunike bersama. Antara lain meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang green job dan green skill, serta mendorong kerja layak yang mengurangi dampak negatif lingkungan. Termasuk meningkatakan keselamatan dan kesehatan kerja yang memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Para menteri ketenagakerjaan itu pun berkomitmen dalam mendukung green jobs agar dapat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan melalui penelitian dan sharing good practices, mengembangkan TVET (Technical and Vocational Education Training) mengenai green skills, meningkatkan standar OSH (Occupational Safety and Health) untuk mencapai green environment, serta membentuk dan mengimplementasikan kebijakan green jobs dan green skills melalui kolaborasi dengan tripartit, ASEAN dialog partner, dan pemangku kepentingan lainnya.

Netika Indonesia dan QUINE Berikan Seminar untuk Tingkatkan Kompetensi IT

0

Berempat.com – Netika Indonesia dan QUINE hari ini, Jumat (30/11) mengadakan seminar eksekutif selama satu hari penuh bersama School of Business and Management ITB. Sebagai informasi, School of Business and Management ITB merupakan sekolah bisnis terbaik di Indonesia pada 2017 menurut Global Brands Magazine dari Inggris.

Seminar ini melengkapi program-program yang ditawarkan oleh QUNIE Academy, sebuah pelatihan dan pengembangan yang diluncurkan pada awal tahun ini. QUNIE Academy merupakan hasil kolaborasi Netika dengan QUNIE Corporation, salah satu perusahaan konsultan manajemen terkemuka di Jepang dan anggota dari NTT Group.

QUNIE Academy bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang terampil dan kompeten dengan menyediakan layanan kelas dunia, dengan program-program khusus untuk para profesional tingkat atas termasuk para manajer, direktur dan eksekutif.

Ini merupakan seminar eksekutif kedua setelah diadakannya seminar setengah hari yang diadakan pada awal tahun 2018 dengan topik “HR Meets IT.” Seminar tersebut sukses mencapai target kehadiran, dan mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari peserta. Topik seminar untuk kali ini adalah “The Power of Big Data & IoT in Business : Practical Case Studies in Japan and Indonesia,” yang diadakan selama satu hari penuh di Kampus Jakarta SBM-ITB pada tanggal 29 November 2018.

Sesi pagi dari seminar ini akan memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar mengenai beberapa cara untuk mengaplikasikan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan Big Data di dalam bisnis mereka, dengan menggunakan contoh-contoh yang relevan serta kasus-kasus bisnis yang nyata.

Pada sesi siang di seminar ini diadakan workshop interaktif mengenai penggunaan skema inovasi model bisnis, yang menggunakan kasus dari sektor pertanian, serta pelaksanaannya di indsutri- industri lainnya.

“Ini merupakan sesi yang sangat berguna karena para partisipan bisa mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana teknologi Big Data dan IoT diimplementasikan di Jepang, dan bagaimana cara mengimplementasikan teknologi tersebut dalam konteks bisnis di Indonesia, khususnya dalam industri masing-masing,” ujar Manajer QUNIE Academy Rizal Siddik, Jumat (30/11).

Kunci pembelajaran dari workshop ini adalah bagaimana mengaplikasikan model bisnis navigator yang merupakan metodologi utama dari skema inovasi model bisnis. Peserta melakukan visualisasi model bisnis, belajar menggunakan 55 jenis model bisnis, dan mencoba merancang model bisnis dalam kelompok-kelompok kecil, sebelum mempresentasikan hasilnya kepada peserta yang lainnya.

Dr. Ide dari QUNIE Corporation mengatakan, para peserta banyak mendapatkan masukan yang berharga dan diharapkan dapat mengaplikasikannya dalam pekerjaan mereka.

“Seminar dan workshop ini merupakan contoh yang baik dari kolaborasi yang dekat antara SBM ITB dengan industri. Ini juga merupakan kesempatan yang baik untuk sekolah tinggi tersebut untuk mengeksplorasi ranah-ranah baru seperti Big Data dan IoT,” ujar Wakil Direktur SBM ITB Dr. Yudo Anggoro.

Netika Indonesia dan QUNIE Bersama-sama dengan SBM-ITB yakin bahwa pendidikan profesional yang berkualitas akan menghasilkan dampak yang positif terhadap praktek bisnis di Indonesia di masa depan.

Beleid Tax Holiday Sudah Berlaku, Yuk Ketahui Lebih Jauh!

0

Berempat.com – Pada 25 November 2018 lalu Direktorat Jenderal Pajak telah resmi menerapkan Beleid Tax Holiday. Beleid merupakan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terbaru yang berkenaan dengan fasilitas pengurangan pajak penghasilan (PPh). Aturan baru ini tercantum dalam PMK 150/PMK.010/2018 yang merupakan revisi dari PMK 35/PMK.010/2018.

Adapun dengan revisi tersebut pemerintah menambah sektor usaha yang berhak mendapat fasilitas tax holiday, menyederhanakan proses pengajuan fasilitas insentif perpajakan, dan memperkenalkan skema pengaturan mini tax holiday.

Terkait sektor usaha yang ditambah yaitu sektor industri pengolahan berbasis hasil pertanian, perkebunan, atau kehutanan dan industri ekonomi digital yang mencakup aktivitas pengolahan data, hosting, dan kegiatan yang berhubungan. Dengan demikian, total ada 18 sektor yang berhak mendapatkan fasilitas tax holiday, yaitu:

  1. Industri logam dasar hulu terdiri dari besi baja atau bukan besi baja, tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  2. Industri pemurnian atau pengilangan minyak dan gas bumi, tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  3. Industri petrokimia berbasis minyak bumi, gas alam atau batubara tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  4. Industri kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, perkebunan, atau kehutanan tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  5. Industri kimia dasar anorganik tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  6. Industri bahan baku utama farmasi tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  7. Industri pembuatan peralatan iradiasi, elektromedikal, atau elektroterapi
  8. Industri pembuatan komponen utama peralatan elektronika atau telematika, seperti semiconductor wafer, bacldight untuk Liquid Crystal Display (LCD), electrical driver, atau display
  9. Industri pembuatan mesin dan komponen utama mesin
  10. Industri pembuatan komponen robotik yang mendukung industri pembuatan mesin-mesin manufaktur
  11. Industri pembuatan komponen utama mesin pembangkit tenaga listrik
  12. Industri pembuatan kendaraan bermotor dan komponen utama kendaraan bermotor
  13. industri pembuatan komponen utama kapal
  14. Industri pembuatan komponen utama kereta api
  15. Industri pembuatan komponen utama pesawat terbang dan aktivitas penunjang industri dirgantara
  16. Industri pengolahan berbasis hasil pertanian, perkebunan, atau kehutanan yang menghasilkan bubur kertas (pulp) tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi
  17. Infrastruktur ekonomi
  18. Ekonomi digital yang mencakup aktivitas pengolahan data, hosting, dan kegiatan yang berhubungan dengan itu.

Sementara untuk proses pengajuan fasilitas tax holiday ini para Wajib Pajak (WP) bisa mendaftar melalui sistem layanan terintegrasi satu pintu secara online atau online single submission (OSS). Artinya, WP tak perlu lagi mengajukan permohonan fasilitas insentif perpajakan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kemudian, untuk skema mini tax holiday yang dimaksud ialah, nilai investasi dari Rp 100 miliar hingga kurang dari 1 triliun akan mendapat pengurangan PPh sampai 50% selama 5 tahun dan 25% untuk dua tahun berikutnya. Kemudian untuk nilai investasi Rp 1 triliun sampai kurang dari Rp 5 triliun akan mendapat pengurangan sampai 50% selama 7 tahun dan 25% untuk dua tahun berikutnya.

Lalu, investasi senilai Rp 5 triliun sampai kurang dari Rp 15 triliun mendapat pengurangan sampai 50% selama 10 tahun dan 25% untuk dua tahun berikutnya. Investasi mulai dari Rp 15 triliun sampai dengan kurang dari Rp 30 triliun mendapatkan potongan sampai 50% selama 15 tahun dan 25% untuk dua tahun berikutnya. Dan nilai investasi Rp 30 triliun ke atas mendapatkan potongan sampai 50% selama 20 tahun dan 25% untuk dua tahun berikutnya.

Dengan adanya peraturan baru ini, pemerintah pun mengimbau agar para pengusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Pemerintah pun berharap aturan baru ini dapat meningkatkan penanaman modal sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing ekonomi nasional.

Meluncur di Singapura, Go-Jek Gandeng DBS untuk Rengkuh Konsumen

0

Berempat.com – Go-Jek kembali menjejakkan kakinya di negara tetangga. Kali ini adalah Singapura yang menjadi tempat pertaruhan bagi Go-Jek. Namun, Go-Jek baru meluncurkan aplikasi versi beta di sana.

Artinya, konsumen hanya bisa memesan transportasi daring dari Go-Jek di area-area tertentu. Namun, kendati demikian Go-Jek percaya mampu menarik konsumen untuk menggunakan aplikasinya.

Di samping itu, Go-Jek sendiri melakukan beberapa cara agar dapat merengkuh konsumen di Singapura.

“Saya rasa kami memiliki sejumlah trik untuk bisa bersaing dengan beberapa dari mereka (read: kompetitor),” tutur Presiden Go-Jek Andre Soelistyo dikutip dari CNBC, Kamis (29/11).

Salah satu trik yang digunakan Go-Jek yaitu dengan menggandeng DBS, salah satu bank terbesar di Asia. DBS sendiri diketahui memiliki jutaan nasabah di Singapura.

Kerja sama tersebut tentu akan sangat menguntungkan Go-Jek, sebab perusahaan aplikator besutan Nadiem Makarim ini berpeluang memberi penawaran menarik langsung ke jutaan nasabah DBS. Andre pun sempat mengungkapkan bahwa pihaknya akan memberikan kode-kode promo.

Sementara itu, Global Head of Transport Go-Jek Raditya Wibowo mengatakan, pada tahap versi beta ini Go-Jek baru akan meluncurkan pelayanannya dengan beberapa ribu pengemudi. Versi lengkap Go-Jek baru benar-benar akan diluncurkan pada awal tahun depan.

Sejatinya Singapura adalah bagian dari rencana ekspansi Go-Jek di kawasan Asia Tenggara. Go-Jek pun menyebut bakal berinvestasi sekira US$500 juta untuk ekspansi ini.

Industri Automasi Indonesia Akan Hadapi Tantangan Ini Tahun Depan

0

Berempat.com – Revolusi industri 4.0 yang saat ini tengah terjadi rupanya berdampak baik pada industri automasi di Indonesia. Sebab dengan demikian seluruh pabrik sudah harus mulai mengadaptasi sistem automasi pada setiap operasionalnya. Namun, hal tersebut tak menjamin bahwa para pelaku industri automasi bisa bernapas lega. Pasalnya, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Ketua Umum Persatuan Automasi Indonesia Idham Mashar mengatakan bahwa ada sisi negatif dari revolusi industri 4.0 saat ini.

“Jadi peluangnya makin besar, pasti. Cuman masalahnya dengan adanya industri 4.0 jadi booming sekarang, produk-produk dari mana aja masuk ke Indonesia begitu aja. Barang-barang jadi dari China itu luar biasa masuknya. Jadi menghambat kreativitas kita untuk membangun produk. Akhirnya kita jadi user. Sekarang sih itu challenge-nya gimana caranya supaya kita gak jadi user,” ujar Idham dari saluran telepon kepada Berempat.com, Rabu (28/11).

Pasalnya, menurut Idham, maraknya produk asing masuk ke Indonesia dengan bebas didasari oleh dua hal, pertama yaitu tingginya permintaan yang membuat industri automasi dalam negeri tak punya waktu untuk membangun produk-produk yang dibutuhkan pasar.

“Karena kan men-developed to market-nya itu kan lama, kalo kita men-devolped itu bisa setahun, sedangkan user nggak mau menunggu begitu lama. Jadi sebelum produk itu selesai, biar gampang beli aja (misal) di Tokopedia atau barang-barang dari China sudah berhamburan, terus harganya murah-murah juga, kan,” terang pria yang juga petinggi PT Jakarta Process Automation ini.

Hal berikutnya adalah belum adanya regulasi yang mengatur produk-produk dari luar negeri tersebut. Regulasi yang dimaksud seperti menentukan standarisasi agar bisa mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Kalo kita beli lampu kan ada SNI-nya, kalo kontroler itu SNI-nya belum ada. Persyaratannya SNI belum ada. Jadi asosiasi penginnya ada juga dong syaratnya, jadi gak bisa dijual bebas gitu aja. Harus ada persyaratan bahwa barang itu jaminannya bagus, orangnya datang melakukan registrasi, jangan jadi pedagang semua,” paparnya.

Kemudian, ada juga dari hal ketersediaan engineering. Idham menyebut bahwa saat ini pemerintah masih kurang dalam melakukan link and match antara pendidikan dengan industri itu sendiri. Selain itu, imbuh Idham, pemerintah harus sesegera mungkin membuat sertifikasi engineering untuk menjamin kredibilitas dan skill yang dimiliki sumber daya manusia (SDM) agar sesuai dengan yang dibutuhkan oleh industri automasi.

Bermula dari Keprihatinan, Para Praktisi Bentuk Perkumpulan Automasi Indonesia

0

Berempat.com – Saat ini industri automasi terus berkembang seiring semakin banyaknya pabrik berdiri, termasuk di Indonesia. Semakin besar sebuah pabrik maka semakin besar pula kebutuhannya akan sistem otomatis. Apalagi, Indonesia saat ini tengah memasuki revolusi industri 4.0 yang menuntut banyak pabrik harus segera beradaptasi.

Namun, sepertinya pemerintah Indonesia masih kurang memberikan perhatian pada industri automasi, sehingga para praktisi pun merasakan keprihatinan yang sama. Bermula dari keprihatinan itulah, para praktisi industri automasi ini pun memutuskan untuk membentuk sebuah asosiasi yang diberi nama Persatuan Automasi Indonesia.

Ketua Umum Persatuan Automasi Indonesia, Idham Mashar mengungkapkan bahwa keprihatinan yang dimaksud dilihat dari sisi profesi maupun sisi industri automasi itu sendiri.

“Prihatin terhadap engineer-engineer baru yang mau bekerja di bidang automasi. Jadi karena di saat mereka mau mulai kerja, kemampuan atau skill automasi mereka itu tidak bisa langsung diterapkan. Terus prihatin juga orang-orang yang berbisnis di automasi karena kebutuhan mereka terhadap engineerengineer itu sulit, padahal banyak engineer dalam negeri yang menganggur,” ungkap Idham saat dihubungi Berempat.com melalui sambungan telepon, Rabu (28/11).

Sulitnya industri automasi Indonesia mendapatkan engineer lantaran belum adanya sertifikasi engineer automasi dari pemerintah. Sehingga kredibelitas dan kemampuan engineer yang dibutuhkan industri automasi pun belum mampu terpenuhi.

“Kita sih berharap dapat mendorong pemerintah supaya mempercepat (pembentukan) sertifikasi engineer automasi di Indonesia,” tambahnya.

Selain itu, Persatuan Automasi Indonesia juga menyoroti belum adanya regulasi dari pemerintah yang mengatur kualifikasi produk automasi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Sehingga dampaknya industri automasi dalam negeri pun tak bisa mengembangkan produknya sendiri lantaran digempur produk automasi dari luar negeri.

“Persyaratannya SNI belum ada. Jadi asosiasi penginnya ada juga dong syaratnya, jadi gak bisa dijual bebas gitu aja. Harus ada persyaratan bahwa barang itu jaminannya bagus, orangnya datang melakukan registrasi, jangan jadi pedagang semua,” terang Idham yang berasal dari PT Jakarta Process Automation ini.

Kondisi-kondisi seperti itulah yang mendorong Asosiasi Automasi Indonesia untuk menyuarakannya ke pemerintah. Tujuannya agar pemerintah sadar bahwa ada permasalahan yang besar bila kondisi tersebut terus dibiarkan begitu saja. Namun, Idham mengatakan bahwa pihaknya saat ini hanya bisa melakukan beberapa hal pada rencana kerja awal asosiasi.

“Yang bisa kita kerjain, rencananya ya mempercepat link and match antara edukasi dengan industrinya, kemudian memberikan, kalo bisa, memberikan standar alumni atau yang baru masuk industri dengan sertifikat untuk melindungi mereka, agar benar-benar mereka itu qualified,” paparnya.

Selain fokus pada industri automasi itu sendiri, Persatuan Automasi Indonesia juga menaruh perhatian pada dunia pendidikan. Pasalnya, ketersediaan engineer automasi tergantung pada institusi pendidikan saat ini. Karena itu, Persatuan Automasi Indonesia juga akan mendorong pemerintah agar institusi pendidikan di Indonesia dapat link and match dengan industri itu sendiri secara langsung.

Persatuan Automasi Indonesia juga akan rutin mengaktifkan forum-forum diskusi agar dapat memecah persoalan yang sedang dilanda para anggota maupun engineer. Kemudian asosiasi juga akan mempererat kerja sama para praktisi dengan para vendor.

Salah satu anggota yang turut membantu terbentuknya asosiasi ini, Hartawan Sudihardjo dari PT Dissindo Pratama pun mengungkapkan harapannya.

“Harapan saya asosiasi dapat berdaya guna dalam pengembangan industri automasi, serta menjadi acuan bagi dunia pendidikan untuk dapat terus mengupdate kurikulum yang sejalan dengan dunia industri,” ungkap Hartawan pada keterangan tertulis.

Sebagai informasi, Persatuan Automasi Indonesia resmi terbentuk pada 24 November 2018 lalu yang bertepatan dengan berlangsungnya seminar Energy Saving dan Build IoT Cloud Platform. Saat ini Persatuan Automasi Indonesia sudah memiliki sekitar 150 member yang merupakan para praktisi industri automasi.

Ke depan, Idham mengungkap bahwa pihaknya dapat mulai bergerak dengan menargetkan bisa membuat kegiatan 4 kali dalam satu tahun. “Jadi tahun depan harapannya temen-temen di daerah bisa mulai bergerak. Targetnya kami bisa 4 kali dalam setahun ngadain acara atau seminar edukasi, atau workshop,” pungkasnya.

Rencana Pertamina Kurangi Impor Minyak Mentah

0

Berempat.com – PT Pertamina telah mencanangkan berbagai program untuk bisa mengurangi impor minyak mentah dalam beberapa tahun ke depan. Beberapa upaya yang dilakukan oleh Pertamina ialah memacu produksi migas agar pada 2021 mendatang mampu menguasai 60% produksi nasional.

“Itu bisa terwujud karena saat ini Pertamina sudah mengelola tambahan 11 wilayah kerja migas. Produksu nasional juga meningkat berkat adanya Blok Rokan,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati dalam Pertamina Energy Forum (PEF) 2018 di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (28/11).

Nicke memaparkan, pihaknya akan meningkatkan upstream migas, dari yang hanya 19% pada 2014 lalu menjadi 40% dari produksi nasional yang diproduksi Pertamina pada hari ini. Dan pada 2021 mendatang, ketika Rokan sudah dioperasikan maka kontribusi hulu migas yang akan diproduksi Pertamina meningkat menjadi 60%. Dengan demikian, maka impor minyak mentah dapat berkurang.

Sebagai informasi, saat ini 35%-40% produk jadi BBM masih berasal dari impor. Dan untuk mengatasi hal tersebut, maka langkah yang akan diambil Pertamina ialah dengan membangun 6 kilang baru, sehingga produksi dapat meningkat dari 1 juta barel/hari menjadi 2 juta barel/hari. Pembangunan 6 kilang tersebut diprediksi dapat terealisasi dalam 6-8 tahun ke depan.

Hari ini, Kamis (29/11) PEF 2018 masih berlangsung. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pun turut hadir. PEF merupakan tempat berkumpul dan berdiskusinya perwakilan pemerintah, pengusaha dan pakar di bidang energi untuk membahas optimalisasi pemenuhan energi dalam negeri.

Alasan Industri Film Butuh Wadah Koperasi

0

Berempat.com – Industri perfilman Indonesia sebetulnya cukup berkembang. Banyak karya film dari Indonesia yang diakui dan mendapat apresiasi di luar negeri. Namun, industri film di Indonesia masih perlu terus didukung untuk ditingkatkan. Dan salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan sistem usaha koperasi dalam setiap operasional.

Menurut Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Meliadi Sembiring, wadah koperasi dinilai lebih cocok digunakan pelaku industri perfilman karena bisa menguntungkan setiap anggota aktifnya.

“Seluruh pihak termasuk insan perfilman di Indonesia harus sepakat dan satu persepsi bahwa industri film butuh wadah koperasi,” tegas Meliadi pada keterangan tertulisnya, Rabu (28/11).

Namun, agar sistem koperasi ini dapat berjalan baik, Meliadi pun meminta agar pelaku industri tak hanya memikirkan soal keuntungan dari segi finansial dalam setiap operasionalnya. Sebab, menurutnya, sistem koperasi lebih mementingkan kepentingan bersama.

“Intinya, bagaimana menyatukan para kreatif membuat film berkualitas dalam satu wadah bernama koperasi,” imbuh Meliadi.

Seperti yang kita tahu, sebetulnya banyak film indie atau non-komersil Indonesia yang berkualitas, bahkan diakui di tingkat dunia. Namun, tumbuhnya film-film indie baru tak besar sebab boleh jadi memang terkendala pada biaya operasional. Sebab itulah, Meliadi menyarankan agar industri perfilman Indonesia memiliki wadah koperasinya sendiri.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid yang mendukung adanya wadah koperasi menyoroti dari sisi berbeda. Menurutnya, ide dan kreasi industri film di Indonesia sangatlah besar. Namun, tak semua bisa mendapat tempat untuk tampil karena kapasitas bioskop yang tak seimbang.

Hilmar menjabarkan, Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar 250 juta jiwa hanya memiliki 1.400 layar bioskop. Berbanding sangat timpang dibanding Korea Selatan (Korsel) yang sudah memiliki 10.000 layar bioskop.

“Kalau pihak swasta buka bioskop di kabupaten, apa untungnya? Tapi, kalau koperasi yang bikin itu solusi yang sangat tepat,” tegas Hilmar.

Keinginan untuk memiliki koperasi rupanya sudah ada di banyak komunitas film di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Koperasi Suroto. Sebab para pelaku industri film ini ingin membangun kemandirian dan kedaulatan.

“Koperasi film yang sukses di Inggris dan Korsel juga ada yang berasal dari koperasi,” ujarnya.

Sebab itulah, kini hadir Indonesia Film Cooperative sebagai solusi untuk meningkatkan kemandirian ekonomi bagi para pelaku industri film Indonesia.

“Indonesian Film Cooperative hadir sebagai platform bersama untuk meningkatkan kemandirian ekonomi para sineas dan kru film,” tandas Ketua Indonesian Film Cooperative Amrul Hakim.

Survei LinkedIn: Separuh Penduduk Indonesia Ingin Jadi Pengusaha

0

Berempat.com – Platform media sosial khusus para profesional, LinkedIn baru saja merilis hasil studi perdana mereka yang berjudul ‘LinkedIn Opportunity Index’. Studi tersebut melibatkan 9 negara di kawasan Asia Pasifik dengan total 11.000 responden. Untuk di kawasan Asia Pasifik sendiri LinkedIn memiliki 153 juta pengguna, dan 11 juta di antaranya berasal dari Indonesia.

Berdasarkan hasil survei LinkedIn Opportunity Index, Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya paling percaya diri menatap masa depan. Bahkan, Indonesia menjadi negara tertinggi kedua yang penduduknya ingin menjadi pengusaha. Jumlahnya sekitar 50% dari total responden di Indonesia. Sementara peringkat pertama diduduki Filipina dengan 53%. Sementara itu, Jepang hanya memiliki sedikit penduduknya yang ingin berbisnis (7%), disusul Australia dan Hong Kong (13%).

“Di Indonesia, peluang juga berarti lebih dari sekadar karier,” tutur Managing Director LinkedIn Asia Pacific Oliver Legrand dalam keterangan resminya, Rabu (28/11).

Apa yang diucapkan Oliver berlandaskan pada tingginya responden Indonesia (38%) yang ingin menggunakan kemampuan untuk memulai peluangan merintis bisnis. Sementara itu, rata-rata responden di negara lain memilih menjaga keseimbangan kehidupan karier dan personal menjadi aspirasi tertinggi (40%) bagi rata-rata responden di Asia Pasifik, sedangkan di Indonesia hanya 34% responden.

Peluang, bagi masyarakat Indonesia pun tak hanya diartikan sebagai usaha personal dalam meraih kesempatan kerja. Sebab 82% responden Indonesia menyatakan bahwa mereka turut membantu orang lain untuk terhubung dengan kesempatan kerja yang lebih baik.

Sebanyak 56% responden Indonesia menyatakan bahwa mereka membantu memperkenalkan kerabat ke orang yang tepat agar bisa meraih kesempatan kerja. Bahkan, 47% responden menyebut bahwa mereka telah menuliskan surat referensi kerja bagi kerabat mereka.

Data tersebut bisa menjadi gambaran bagaimana kultur gotong royong masih sangat melekat bagi masyarakat Indonesia.

Hasil studi ini pun menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan penduduk yang paling percaya diri menatap masa depan.

“Kami percaya akses menuju serta meraih peluang seharusnya universal dan dapat diakses oleh siapa pun. Melalui studi perdana LinkedIn Opportunity Index, kami berusaha memahami aspirasi masyarakat di kawasan Asia Pasifik, tentang kesempatan dalam meraih berbagai peluang di masa depan, dan juga hambatannya,” ujarnya.

Adapun sembilan negara yang disurvei oleh LinkedIn yaitu Indonesia, Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Filipina, dan Singapura.