Industri Automasi Indonesia Akan Hadapi Tantangan Ini Tahun Depan

0
403

Berempat.com – Revolusi industri 4.0 yang saat ini tengah terjadi rupanya berdampak baik pada industri automasi di Indonesia. Sebab dengan demikian seluruh pabrik sudah harus mulai mengadaptasi sistem automasi pada setiap operasionalnya. Namun, hal tersebut tak menjamin bahwa para pelaku industri automasi bisa bernapas lega. Pasalnya, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Ketua Umum Persatuan Automasi Indonesia Idham Mashar mengatakan bahwa ada sisi negatif dari revolusi industri 4.0 saat ini.

“Jadi peluangnya makin besar, pasti. Cuman masalahnya dengan adanya industri 4.0 jadi booming sekarang, produk-produk dari mana aja masuk ke Indonesia begitu aja. Barang-barang jadi dari China itu luar biasa masuknya. Jadi menghambat kreativitas kita untuk membangun produk. Akhirnya kita jadi user. Sekarang sih itu challenge-nya gimana caranya supaya kita gak jadi user,” ujar Idham dari saluran telepon kepada Berempat.com, Rabu (28/11).

Pasalnya, menurut Idham, maraknya produk asing masuk ke Indonesia dengan bebas didasari oleh dua hal, pertama yaitu tingginya permintaan yang membuat industri automasi dalam negeri tak punya waktu untuk membangun produk-produk yang dibutuhkan pasar.

“Karena kan men-developed to market-nya itu kan lama, kalo kita men-devolped itu bisa setahun, sedangkan user nggak mau menunggu begitu lama. Jadi sebelum produk itu selesai, biar gampang beli aja (misal) di Tokopedia atau barang-barang dari China sudah berhamburan, terus harganya murah-murah juga, kan,” terang pria yang juga petinggi PT Jakarta Process Automation ini.

Hal berikutnya adalah belum adanya regulasi yang mengatur produk-produk dari luar negeri tersebut. Regulasi yang dimaksud seperti menentukan standarisasi agar bisa mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Kalo kita beli lampu kan ada SNI-nya, kalo kontroler itu SNI-nya belum ada. Persyaratannya SNI belum ada. Jadi asosiasi penginnya ada juga dong syaratnya, jadi gak bisa dijual bebas gitu aja. Harus ada persyaratan bahwa barang itu jaminannya bagus, orangnya datang melakukan registrasi, jangan jadi pedagang semua,” paparnya.

Kemudian, ada juga dari hal ketersediaan engineering. Idham menyebut bahwa saat ini pemerintah masih kurang dalam melakukan link and match antara pendidikan dengan industri itu sendiri. Selain itu, imbuh Idham, pemerintah harus sesegera mungkin membuat sertifikasi engineering untuk menjamin kredibilitas dan skill yang dimiliki sumber daya manusia (SDM) agar sesuai dengan yang dibutuhkan oleh industri automasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.