Alasan Industri Film Butuh Wadah Koperasi

0
80
Ilustrasi industri film. (Pexels.com/Martin Lopez)

Berempat.com – Industri perfilman Indonesia sebetulnya cukup berkembang. Banyak karya film dari Indonesia yang diakui dan mendapat apresiasi di luar negeri. Namun, industri film di Indonesia masih perlu terus didukung untuk ditingkatkan. Dan salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan sistem usaha koperasi dalam setiap operasional.

Menurut Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Meliadi Sembiring, wadah koperasi dinilai lebih cocok digunakan pelaku industri perfilman karena bisa menguntungkan setiap anggota aktifnya.

“Seluruh pihak termasuk insan perfilman di Indonesia harus sepakat dan satu persepsi bahwa industri film butuh wadah koperasi,” tegas Meliadi pada keterangan tertulisnya, Rabu (28/11).

Namun, agar sistem koperasi ini dapat berjalan baik, Meliadi pun meminta agar pelaku industri tak hanya memikirkan soal keuntungan dari segi finansial dalam setiap operasionalnya. Sebab, menurutnya, sistem koperasi lebih mementingkan kepentingan bersama.

“Intinya, bagaimana menyatukan para kreatif membuat film berkualitas dalam satu wadah bernama koperasi,” imbuh Meliadi.

Seperti yang kita tahu, sebetulnya banyak film indie atau non-komersil Indonesia yang berkualitas, bahkan diakui di tingkat dunia. Namun, tumbuhnya film-film indie baru tak besar sebab boleh jadi memang terkendala pada biaya operasional. Sebab itulah, Meliadi menyarankan agar industri perfilman Indonesia memiliki wadah koperasinya sendiri.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid yang mendukung adanya wadah koperasi menyoroti dari sisi berbeda. Menurutnya, ide dan kreasi industri film di Indonesia sangatlah besar. Namun, tak semua bisa mendapat tempat untuk tampil karena kapasitas bioskop yang tak seimbang.

Hilmar menjabarkan, Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar 250 juta jiwa hanya memiliki 1.400 layar bioskop. Berbanding sangat timpang dibanding Korea Selatan (Korsel) yang sudah memiliki 10.000 layar bioskop.

“Kalau pihak swasta buka bioskop di kabupaten, apa untungnya? Tapi, kalau koperasi yang bikin itu solusi yang sangat tepat,” tegas Hilmar.

Keinginan untuk memiliki koperasi rupanya sudah ada di banyak komunitas film di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Koperasi Suroto. Sebab para pelaku industri film ini ingin membangun kemandirian dan kedaulatan.

“Koperasi film yang sukses di Inggris dan Korsel juga ada yang berasal dari koperasi,” ujarnya.

Sebab itulah, kini hadir Indonesia Film Cooperative sebagai solusi untuk meningkatkan kemandirian ekonomi bagi para pelaku industri film Indonesia.

“Indonesian Film Cooperative hadir sebagai platform bersama untuk meningkatkan kemandirian ekonomi para sineas dan kru film,” tandas Ketua Indonesian Film Cooperative Amrul Hakim.

Penikmat musik Nirvana, penyuka ayam goreng, dan mengidolakan Eka Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here