Selasa, Mei 12, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 823

Millenial Bidik Rumah Dibawah Rp 1 Miliar

0

Saat ini properti yang nilainya di bawah satu miliar rupiah lebih diminati oleh pasar Indonesia khususnya segmen milenial. Menurut pengamat properti yang juga pendiri Panangian School of Property, Panangian Simanungkalit, orientasi pengembang tahun ini mengarah kepada pembangunan produk properti yang bisa dijangkau oleh pasar generasi milenial. Apalagi segmen ini berpotensi untuk terus tumbuh hingga sepuluh tahun mendatang.

“Daya beli kelompok milenial didukung oleh orang tua mereka yang sudah mapan secara ekonomi. Kemampuan mereka sendiri dalam membeli properti hanya berkisar antara 500 juta hingga satu miliar. Namun jumlah penduduk dari segmentasi ini akan terus bertambah secara signifikan karena adanya bonus demografi sehingga berpengaruh terhadap industri ini,” tuturnya.

Panangian menegaskan bahwa pasar milenial adalah potential market yang akan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada tahun 2030. Bank-bank pemberi kredit perumahan pun saat ini telah membuka diri agar bisa diakses oleh generasi ini.

“Salah satu bank pemerintah telah serius menggarap kredit perumahan untuk segmen pasar ini,” ungkapnya.

Salah satunya bank BRI Syariah yang telah memiliki 60% (sekitar 2 juta) nasabahnya generasi milenial dengan umur 20-35 tahun.

Industri Kreatif

Meningkatnya jumlah milenial dalam membeli properti turut mempengaruhi pertumbuhan industri kreatif subsektor arsitektur dan interior.  Salah satu pemain industri kreatif lokal di subsektor ini adalah Velospace & Co yang memiliki portofolio mulai dari hunian rumah, apartemen, ritel, perkantoran, hingga pergudangan.

Menurut Verik Angerik, pendiri Velospace, keterbatasan lahan untuk rumah di bawah satu miliar rupiah tidak membuat segmen ini mengabaikan nilai-nilai estetika dalam unsur arsitekturnya.

“Misalnya pemilihan warna dinding, sangat berpengaruh terhadap estetika ruangan dengan luasan terbatas karena dapat mempengaruhi psikologis penghuninya. Selain itu efisiensi ruangan juga menjadi fokus yang diperhatikan saat menata produk-produk hunian berukuran terbatas,” ujarnya berbagi tips.

Menurut Verik, pasar milenial lebih melihat pada ide dan keunikan sebuah desain properti, meski soal harga bergantung dari daya beli masing-masing.

“”Saat ini, rumah di bawah satu miliar cenderung memiliki luas terbatas sehingga seolah-olah tidak bisa dikreasikan dengan konsep interior yang menarik,” tuturnya.

Verik menambahkan, kebutuhan akan jasa arsitek dan desain interior juga meningkat seiring dengan bertumbuhnya permintaan residensial high-end, perkantoran, perhotelan, hingga ritel atau ruang usaha.

“Tidak saja karena kebutuhan millennial, secara umum, permintaan produk turunan properti lainnya juga mempengauhi pertumbuhan permintaan jasa industri kreatif seperti arsitektur dan interior. Ini yang kami rasakan sejak dua tahun terakhir.”

Meski pemain subsektor ini cukup banyak yang merupakan pemain asing, ungkap Verik, namun secara kualitas, arsitek dan desainer lokal tidak kalah dengan penyedia jasa dari luar.

“Kita memiliki daya saing yang cukup tinggi. Soal kreativitas, Indonesia punya banyak talent-talent di industri kreatif. Dan tahun ini bisa menjadi momentum untuk kita para pemain sub sektor ini untuk semakin solid,” sarannya.

Bagaimana Membuat Calon Pembeli Memiliki Pilihan, Membeli atau Mati

0

Apa alasan seseorang menerjuni dunia sales. Kenapa? Karena bila ditanyakan secara jujur, tak seorang pun punya cita cita menjadi Sales. Hal yang paling menakutkan bagi seorang sales adalah Target. Ya, kekhawatiran yang wajar.

Namun lain halnya dengan Corporate Coach, Trainer dan Motivator dengan pengalaman kerja yang panjang di berbagai industri, Ridwan Mahmudi. Ia menawarkan sudut pandang yang berbeda. Ada cara berpikir yang berbeda yang akan membuat Sales lebih bersahabat dengan target yang diberikan, bahkan merindukan angka angka target setiap hari.

Filosofi dasar dalam menjual adalah membantu dan melayani orang mendapatkan kebaikan yang ditawarkan sales melalui produk produk yang ia bawa.

Cara berpikir ini sudah banyak ditinggalkan oleh para sales, yang lebih meletakkan cara menjualnya pada kekuatan produk, bukan kekuatan filosofi melayani orang lain. Landasan filosofi yang kuat tentang bagaimana membantu dan melayani orang lain adalah pintu penjualan terbaik. Menjual tanpa menjual. Stewardship before Salesmanship..!

Salah satu prinsip dasar penjualan yang wajib pahami seorang adalah Prinsip Benefit. Didalam berkomunikasi, customer tidak akan bisa dipengaruhi dengan spesifikasi teknis sebuah produk, tetapi oleh benefit yang akan dirasakan.

Dalam menjelaskan benefit, maka akan lebih mudah bagi customer untuk mengambil keputusan membeli manakala benefit tersebut dirangkaikan dengan benefit lain (berantai).

Selain itu ada pendekatan penjualan yang sering dipakai oleh seorang sales dengan pendekatan “bercerita” yang mengalir berdasarkan pengalaman sehari hari, pembaca akan diajak menjelajah logika, filosofi ataupun ruh dari menjual.

Suatu pendekatan baru yakni “Menjual Tanpa Menjual”. Jadi sebenarnya teknik yang dituliskan ini adalah hasil modelling (istilah dalam NLP- Neuro Linguistic Programming). Dahsyatnya teknik ini, sampai digambarkan membuat pembeli hanya punya pilihan Membeli atau Mati..!

 

 

 

Klinik Totok Menggurita Berkat Umrohkan Karyawan Tiap Tahun

Dari sekadar hobi olah pernafasan, Ratih Dewanti tak pernah menyangka bisa mengembangkan bisnis totok perut yang semakin diminati. Bermula membuka totok perut dari rumahnya, kini bisnis yang mengandalkan power (tenaga dalam) ini berkembang begitu pesat. Bahkan delapan tahun usaha berjalan, Klinik Totok Perut Kamaratih menggurita lewat jalur franchise.

Ratih mencoba membuka klinik totok pelangsingan di rumahnya sekitar tahun 2008. Tanpa disangka ramai dikunjungi masyarakat yang ingin langsing instan tanpa efek samping. Ratih mengatakan, teknik pelangsingan perut yang dilakukan menggunakan metoda totok.

Ratih mengatakan sekali terapi, konsumen bisa langsung merasakan hasilnya. Langsing singset secara instan tanpa perlu diet ketat dan efek samping.

“Lingkar perut susut 4-30 cm atau berat badan 0,5-2 kg dengan metode totok perut selama 30-45 menit,” ujar Ratih.

Meski konsumen dapat merasakan langsung hasil terapi yang dilakukan, namun konsumen diminta menjaga pola makan.

Selalu Ingin bermanfaat bagi banyak orang menjadi motivasi utama Ratih terus mengembangkan Klinik Totok Perut Kamaraih. Ratih yang tadinya hanya dibantu 3 terapis kini bertambah menjadi 20 terapis yang loyal sejak direkrut antara 6-8 tahun lalu.

Selain Totok Perut, ada juga Totok Payudara, Totok Aura, Totok Miss V, Totok Kebugaran,Totok Kecerdasan, Totok Pikun, Massag dan Face Treatment juga Hair Treatment.

Dengan pelayanan maksimal dan hasil yang bisa langsung dibuktikan saat itu juga, tak salah jika Kamaratih membandrol harga sekali terapi di angka Rp 390 ribu.

Beberapa artis yang telah berkunjung ke Kamaratih di antaranya Inneke Koesherawati, Ruben Onsu, Widi B3 dan masih banyak lagi.

Adapun investasi yang diperlukan untuk menjadi Mitra (Franchisee) Kamaratih mulai dari Premium Package senilai Rp 500 juta Mitra dengan 12 karyawan serta perlu lokasi seluas 300 m2. Express Package senilai Rp 350 juta. Mitra dengan 8 karyawan dan lokasi 200 m2. Serta Standart Package dengan investasi Rp 250 juta. Mitra dengan 5 karyawan dan luas lokasi 100 m2.

Kontrak kerja sama berlangsung selama 3 tahun dan dapat diperpanjang dengan membayar franchise fee senilai Rp 100 juta. Selama kontrak, Mitra diwajibkan membeli krim massage ke pihak Kamaratih.

“Semua krim massage kita buat sendiri menggunakan bahan herbal dan alami yang aman bagi kesehatan dan kecantikan,” tutur Ratih.

Biaya tersebut tak sulit diperoleh Mitra, prediksi omset tiap bulan cabang Kamaratih lebih dari Rp 100 juta.

“Mitra diperkirakan bisa balik modal dalam waktu 6-12 bulan,” tegasnya.

Ratih membagi tips bagaimana ia mampu mengembangkan klinik yang telah berjalan 8 tahun. Dengan santai Ratih menjawab jika ia menerapkan sistem kekeluargaan dalam menjalankan bisnisnya.

“Biar mereka nggak merasa dieksploitasi, kita anggap seperti keluarga. Tapi saya pun fair. Setelah 5 tahun boleh keluar dengan catatan membuka usaha sendiri, bukan ikut pada orang lain,” ungkap Ratih

Bukan hanya itu, Ratih menganggap bisnis yang dijalaninya ini adalah jalan Allah agar ia bisa membantu banyak orang.

“Ini amanah yang nanti harus saya pertanggungjawabkan di akherat. Makanya sejak 2012 saya rutin umrohkan dua karyawan tiap tahunnya. Tanpa pandang bulu, kalau orangnya bagus, buruh cuci pun kemarin saya umrohkan,” ungkap wanita pecinta Ifumie dan Ikan Mas Pecak ini.

 

 

 

 

 

Jangan Seneng Dulu, Tiket Pesawat Turun Hanya Jadwal Penerbangan LCC Tertentu

Mahalnya tiket pesawat penerbangan domestik yang terus menjadi perhatian publik akhirnya membuat pemerintah gerah. Apalagi rencana pemerintah mengundang maskapai asing juga ditentang penerbangan domestik.

Pemerintah pun mencari jalan keluar guna meredam isu mahalnya tarif pesawat terbang yang kian viral. Salah satunya pemerintah akan menurunkan harga tiket pesawat penerbangan domestik mulai minggu depan.

Namun jangan senang dulu. Tarif penerbangan yang turun hanya untuk penerbangan maskapai low cost carrier (LCC/penerbangan hemat) rute domestik.

Darmin Nasution, Menteri Koordinator Perekonomian mengatakan bahwa pemerintah akan memberikan kesempatan dan peluang bagi masyarakat yang ingin mendapat tiket dengan harga yang terjangkau.

Meski begitu, Darmin mengatakan selain tiket terjangkau itu hanya untuk penerbangan LCC dan rute domestik, harga tiket juga ditentukan oleh maskapai dan hanya berlaku pada waktu-waktu tertentu saja.

“Maskapai harus mengikuti syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan seperti hanya untuk waktu tertentu dan kebijakan ini efektif mulai pekan depan,” katanya.

Senada dengan Darmin, Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan mengatakan adanya kebijakan penurunan tiket pesawat berkat dukungan dari berbagai pihak.

Ia mengapresiasi Kemenkeu, yang sudah inisiasi agar yang jadi beban airline turun, terkait jasa penyewaan pesawat udara dan impor pesawat udara dan suku cadang

PEPS: Status Anak Perusahaan BUMN Itu BUMN

0

Kisruh pendapat terkait status anak perusahaan Badan Usaha ilik Negara (BUMN)yang dipicu belum mundurnya cawapres Ma’ruf Amin sebagai dewan penasehat di 2 bank BUMN semakin liar. Kubu petahana bersikikuh mengatakan anak perusahaan BUMN bukan termasuk BUMN. Sementara di pihak lain mengatakan Anak perusahaan BUMN adalah BUMN juga.

Kalau ditinjau dari sudut pandang pemberantasan korupsi, anak perusahaan BUMN jelas termasuk BUMN. Karena kekayaan anak perusahaan BUMN termasuk bagian dari kekayaan BUMN (sebagai induk perusahaannya), dan oleh karena itu juga termasuk kekayaan negara. Sehingga setiap orang atau korporasi yang merugikan keuangan anak perusahaan BUMN juga dapat dijerat UU Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) karena dianggap merugikan keuangan BUMN yang menjadi bagian keuangan negara. Artinya, dalam hal ini, kekayaan anak perusahaan BUMN merupakan bagian dari kekayaan negara.

Di lain pihak, ada juga yang berpendapat bahwa anak perusahaan BUMN bukan termasuk BUMN. Alasannya, Pasal 1 angka 1 UU BUMN mengatakan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimilliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.

“Penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara” diartikan penyertaan modal harus langsung berasal dari kekayaan negara, yang dalam hal ini diartikan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Artinya, BUMN adalah badan usaha yang pemegang sahamnya langsung pemerintah Republik Indonesia (RI). Sedangkan penyertaan modal atau pemegang saham di anak perusahaan BUMN, menurut mereka, berasal dari BUMN, bukan dari kekayaan negara, sehingga anak perusahaan BUMN tidak termasuk BUMN.

Interpretasi di atas sangat lemah, bahkan tidak masuk akal.
Pertama, pembentukan anak perusahaan BUMN adalah keputusan strategis untuk memperluas bidang usaha BUMN (induk) tersebut. Dan kadang kala bidang usaha di satu perseroan terbatas sangat terbatas sehingga dibentuk anak perusahaan agar tidak terjadi benturan kepentingan. Artinya, anak perusahaan BUMN pada hakekatnya adalah kepanjangan tangan BUMN (induk). Oleh karena itu, kekayaan anak perusahaan BUMN juga menjadi bagian kekayaan BUMN (induk). Dan, karena kekayaan BUMN (induk) merupakan bagian kekayaan negara, maka kekayaan anak perusahaan BUMN juga menjadi bagian kekayaan negara secara langsung.

Kedua, hal ini dibuktikan melalui keuangan konsolidasi. Secara UU, BUMN dengan kepemilikan mayoritas di anak perusahaannya harus melakukan konsolidasi atas laporan keuangannya. Artinya, semua kekayaan dan kewajiban anak perusahaan BUMN dianggap sebagai satu-kesatuan, dan dilebur menjadi satu, dengan kekayaan dan kewajiban BUMN (induknya). Artinya, setelah konsolidasi, keberadaan anak perusahaan BUMN sebenarnya adalah semu atau tidak nyata, semua terlebur di dalam BUMN (induk) tersebut dengan penyertaan modalnya ditempatkan secara langsung oleh pemerintah RI.

Ketiga, kekayaan yang dipakai oleh BUMN sebagai penyertaan modal di anak perusahaan BUMN adalah bagian dari kekayaan negara secara langsung.

Alasannya:
(a) pembentukan anak perusahaan BUMN harus melalui persetujuan pemerintah RI sebagai pemegang saham BUMN. Kalau pemerintah tidak setuju, maka tidak akan terbentuk anak perusahaan BUMN, dan uang untuk modal disetor di anak perusahaan BUMN tersebut dapat digunakan sebagai dividen kepada pemerintah RI. Artinya, modal disetor di anak perusahaan BUMN dapat diartikan dari kekayaan negara yang berasal dari dividen.

(b) pemerintah Indonesia setiap saat bisa memutuskan untuk divestasi anak perusahaan BUMN dan uang divestasi tersebut dapat dibagikan sebagai dividen kepada pemerintah RI dan tercatat di dalam APBN, sehingga menjadi bagian dari kekayaan negara.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa anak perusahaan BUMN bukan saja termasuk BUMN, tetapi juga sebagai bagian atau batang tubuh BUMN (induk) itu sendiri.

Oleh Anthony Budiawan – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Dampak Perang Dagang BI Masih Tahan Suku Bunga Acuan 6%

0

Bank Indonesia (BI) sudah sejak tujuh bulan lalu menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) di level 6%. Pada rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Senin (17/6/2019) Gubernur BI Perry Warjiyo mendapatkan pertanyaan terkait suku bunga acuan BI yang tidak bergerak dari level 6%.

Menurut Perry, memang dalam rapat dewan gubernur (RDG) terakhir BI masih mencermati kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran Indonesia. Hal ini untuk mempertimbangkan ruang kebijakan moneter yang akomodatif, sejalan dengan rendahnya inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Ia mengatakan, jika mempertimbangkan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong, maka BI sudah tahu jika ada ruang untuk menurunkan suku bunga. Namun BI tetap mengambil kebijakan menahan suku bunga untuk menahan keluarnya dana asing dari Indonesia. Hal ini karena gejolak ekonomi global yang terjadi bisa memicu keluarnya dana asing.

Menurutnya kebijakan yang diambil BI bukan berarti BI tidak pro pertumbuhan, namun BI memiliki instrumen lain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang memastikan bagaimana likuiditas di pasar uang lebih dari cukup dan ekspansi moneter.

“Esensinya kan seperti itu, cuma masalahnya kita perlu melihat bagaimana kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran. Sekarang ini kondisi pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, apakah diliputi perang dagang, Brexit dan masalah geopolitik yang sewaktu-waktu bisa terjadi pembalikan arus modal asing,” katanya di komisi XI, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Ia menjelaskan, hal itu memberikan risiko pembiayaan dari defisit transaksi berjalan. Secara musiman pada kuartal II defisit transaksi berjalan lebih tinggi dari kuartal lainnya. Hal ini karena adanya pembayaran utang, repatriasi, dividen dan pembayaran bunga yang dilakukan oleh korporasi.

Ia berharap di semester II tahun ini ketidakpastian global akan mereda, pada kuartal mendatang defisit transaksi berjalan akan turun dan modal asing masuk untuk mendorong stabilitas ekonomi Indonesia. Dengan suku bunga acuan 6%, kini bunga kredit turun sekitar 24 basis poin (bps) dan menjadi 10,84%, serta bunga deposito naik 106 bps menjadi 6,86% sedikit lebih tinggi dibandingkan bunga acuan BI.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, gangguan dari faktor eksternal masih sangat besar dengan adanya perang dagang yang berlanjut hingga tahun ini. Hal itu membuat ketidakpastian global yang berdampak besar pada negara- negara emerging market termasuk Indonesia. Pada saat terjadi gejolak, investor asing akan keluar dari Indonesia karena lebih memilih untuk memegang Dollar, sehingga tekanan terhadap mata uang rupiah menjadi besar. Tentu harus ada daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia, salah satunya dari suku bunga yang menarik.

“Memang suku bunga acuan yang tinggi risikonya akan berdampak pada sektor dunia usaha karena membuat produk kita tidak bisa dijual secara kompetitif kalau dijual di pasar ekspor. Namun dengan potensi gejolak global yang masih berlanjut ini, kebijakan BI tetap mempertahankan suku bunga supaya investor tertarik masuk ke Indonesia, supaya ada supply Dollar di pasar dan tekanan terhadap Rupiah terhadap capital outflow berkurang,” pungkasnya.

Aspek Global Pengaruhi Target Tax Ratio Tahun Ini

0

Data Kementerian Keuangan menunjukkan kinerja rasio pajak (tax ratio) di era pemerintahan Jokowi cenderung masih cukup rendah. Pasalnya jika dirata-rata total rasio pajak 2014 – 2019 hanya berkisar di angka 11,6%. Jauh dari standar International Monetary Fund (IMF) yang mensyaratkan rasio pajak di atas 15% untuk melakukan pembangunan berkelanjutan.

Tak hanya itu, angka rasio pajak yang masih di bawah 12% juga menunjukkan proses pemungutan pajak belum cukup optimal. Rasio pajak merupakan perbandingan penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio pajak kerap digunakan sebagai indikator untuk menilai penerimaan pajak suatu negara.

Pemerintah menetapkan target tax ratio hingga 12,4 persen pada tahun 2020. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi tax ratio tahun 2018 sebesar 11,4 persen dan target pada tahun 2019 sebesar 12,2 persen.

Sementara itu, pada 2021, targetnya antara 11,9 persen sampai 12,6 persen dan kisaran 12,1 persen sampai 13 persen pada 2022. Pada 2023, sekitar 12,3 persen-13,3 persen dan pada 2024 berada pada rentang 12,5 persen-13,7 persen.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pemerintah sudah memiliki berbagai upaya untuk mencapai target tersebut. Di antaranya, meningkatkan kepatuhan dan jumlah wajib pajak, penegakan hukum hingga mekanisme perpajakan yang mudah bagi masyarakat. Hal ini dilakukan guna memaksimalkan penerimaan pajak yang sebelumnya masih shortfall.

Pemerintah optimistis, target tersebut dapat tercapai. Tapi, semuanya tergantung kepada kemampuan pemerintah dalam dua hal yaitu menjaga reformasi perpajakan dan intensitas kemampuan melakukan collection.

Menurutnya, cara utama yang bisa dilalkukan untuk meningkatkan kepatuhan pajak dengan semakin mempermudah proses pembayaran pajak.

“Saya bilang sama Pak Robert (Dirjen Pajak) dan timnya. Saya ingin membayar pajak lebih mudah dari beli pulsa telepon, kalau beli pulsa dalam semenit kita bisa pakai mobile banking harusnya bayar pajak lebih mudah lagi,” ujar Sri Mulyani ketika memberikan paparan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (17/7/2019).

Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menilai ada beberapa faktor yang mempengaruhi tercapainya target rasio pajak. Dari sisi makro yaitu aspek pertumbuhan ekonomi. Kalau aktivitas ekonomi meningkat maka rasio pajak bisa terealisasi targetnya.

Tahun-tahun sebelumnya rata-rata rasio pajak tidak tercapai targetnya. Kalau mau mengejar target ke angka 12% butuh ekstra effort dan terobosan yang didukung oleh kondisi makro. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Kalau upaya terobosannya tidak signifikan, rasio pajak tahun ini kemungkinan sama seperti tahun lalu.

Kecuali ada beberapa strategi antara lain secara intensif potensi- potensi pajak harus lebih digali lagi, seperti misalnya tax amnesty, perbaikan data- data pajak, begitu juga dari sisi ekstensifikasi . Namun tantangannya dari aspek global tidak mendukung untuk mencapai target rasio pajak tahun ini maupun tahun depan. Terutama karena aspek perang dagang mempengaruhi total volume perdagangan. Kalau volume perdagangan menyusut akan mempengaruhi Pajak pertambahan Nilai (PPN) dan pendapatan masing masing karyawan per individu turun sehingga mempengaruhi penerimaan Pajak Penghasilan (PPh). Jadi harus ada langkah- langkah untuk mencegah penurunan dari penerimaan PPN maupun PPh.

“Memang potensi pajak kita masih besar, tapi persoalannya tidak mudah untuk memperluas basis pajak. Belum tentu semua yang lapor pajak juga membayar pajak. Aspek- aspek itu yang harus lebih digali, termasuk potensi pajak dari e-commerce antara lain dari perusahaan start up di era digital ini. Perlu diberdayakan upaya -upaya yang berbasis pada pemanfaatan IT untuk mendongkrak penerimaan pajak. Misalnya untuk e-commerce memang ada potensi pajak, tapi perlu dilakukan pendekatan secara bertahap,” jelasnya.

Menurutnya jika rasio pajak tidak tercapai targetnya akan berdampak langsung pada defisit yang bisa melebar. Defisit keseimbangan primer memang cukup kecil hanya 0,01% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kalau target rasio pajak tidak tercapai, maka defisit itu harus ditutup dengan pembiayaan, salah satunya lewat utang. Dampak tidak langsung kalau target rasio pajak tidak tercapai terutama ke aspek perekonomian secara makro, sehingga kebijakan pemerintah untuk menstimulasi perekonomian menjadi tumpul.

INDEF Sebut Target Investasi 7% Tidak Realistis

0

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menargetkan investasi Indonesia tumbuh 7% pada 2020. Target ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,3-5,6%.

“Kami dukung asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3 % hingga 5,6%, dengan investasi tumbuh 7% hingga 7,4%,” ujarnya dalam rapat di Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Pertumbuhan investasi di Indonesia menurut Sri Mulyani selalu single digit dan tertinggi di tahun 1980-an di angka 8,7% karena peningkatan sektor industry padat karya.

Penurunan investasi terjadi di sekitar tahun 1990-an karena mulai terjadi deindustrialisasi di Indonesia. Hingga saat itu, investasi belum pernah tumbuh mendekati 8,7% kembali. Menurutnya, sektor investasi akan didorong di tahun 2020.

“Tahun 2020 dengan asumsi 7% dan kita lihat 2018 mendekati 6,9%. Kita waspada tahun 2019 pertumbuhan ekonomi melemah terutama di Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB),” katanya.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020, Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3-5,6%. Untuk mencapai target itu, pemerintah membutuhkan investasi sebagai motor penggerak ekonomi. Sri Mulyani menyatakan, tahun depan diperlukan pertumbuhan investasi (PMTB) di angka 7%-7,4%. Sehingga angka kebutuhan investasi pada rentang Rp5.802 triliun – Rp5.823 triliun.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyatakan swasta ditargetkan menjadi penyumbang utama dalam investasi. Total investasi yang diperkirakan dari swasta antara Rp4.205 triliun sampai Rp4.221 triliun.

Untuk investasi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan memberi sumbangsih sebesar Rp540 trilun sampai Rp572 triliun. Terdiri dari sumbangsih pemerintah pusat sebesar Rp246 triliun sampai Rp261 triliun dan pemerintah daerah sebesar Rp293 triliun sampai Rp310 triliun.

Untuk BUMN ditargetkan mampu menyumbangkan investasi Rp471 triliun sampai Rp473 triliun pada tahun 2020. Angka ini meningkat dibandingkan proyeksi pada tahun 2019 sebesar Rp429 triliun. Sementara dari perusahaan publik (non BUMN) diperkirakan menyumbang antara Rp143,2 triliun sampai Rp143,7 triliun.

Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) ditargetkan mampu menyumbangkan angka investasi sebesar Rp426 triliun sampai Rp428 triliun.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai target investasi sebesar 7% itu kurang realistis karena PMA tertahan perlambatan ekonomi global dan perang dagang.

Sementara investasi yang berasal dari belanja modal pemerintah porsinya sulit dinaikkan terlalu tinggi karena rasio pajak semakin berat sehingga dikhawatirkan defisit anggaran melebar.

“Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) bergantung pada strategi BUMN apakah tetap memacu proyek infrastruktur, sementara utang BUMN meningkat pesat dan volatilitas makro bisa membuat resiko pendanaan naik. Jadi outlook-nya investasi masih lambat. PMTB bisa tumbuh 5-6% saja sudah bagus untuk tahun 2020. Jangan over estimate targetnya.
Apalagi tahun depan ada pemilu AS dan dikhawatirkan Donald Trump menggunakan trade war sebagai senjata politik. kondisi bisa saja mengalami eskalasi yang tidak mereda dalam waktu dekat dan berpengaruh pada keputusan investasi. Kalau 5-6% angka PMTB-nya berdasarkan harga berlaku tahun 2020, berkisar Rp5.382 triliun,” jelasnya.

Utang Menggunung, Indonesia Terancam Bangkrut?

0

Sekarang ini ekonomi Indonesia mengalami double deficit atau twin deficit atau defisit berganda. Apa itu? yakni suatu kondisi defisit di dalam neraca transaksi berjalan yang terjadi bersamaan dengan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Defisit neraca transaksi berjalan mencerminkan keadaan neraca ekonomi nasional terhadap luar negeri atau neraca eksternal yang buruk. nilai defist transaksi berjalan sepanjang tahun 2018 tersebut mencapai Rp-441,05 triliun (asumsi 1 dolar AS = Rp14.200). Ini adalah nilai yang sangat besar yang belum pernah terjadi sejak Indonesia berdiri.

Sementara defisit APBN mencerminkan keadaan keuangan pemerintah yang juga buruk. Jadi seluruh pelaku ekonomi Indonesia yakni perusahaan termasuk BUMN, rumah tangga dalam keadaan buruk. Sementara pada saat yang sama keuangan pemerintah dalam keadaan sekarat.

Data Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Januari lalu sebesar Rp45,8 triliun. Selanjutnya realisasi defisit anggaran di dalam APBN 2019 mencapai Rp54,61 triliun atau 0,34 persen terhadap PDB hingga akhir Februari 2019.
Defisit kembali meningkat per akhir Maret Tahun 2019 mencapai Rp102 triliun.

Realisasi defisit anggaran tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit anggaran periode yang sama tahun 2018 yakni Rp85,5 triliun. Jika keadaan ini terus berlanjut maka defisit APBN akan melebihi batas yang ditetapkan UU Keuangan Negara.

Defisit berganda tersebut mencerminkan Indonesia tidak memiliki kemampuan sama sekali dalam membiayai pembangunan ekonominya. Defisit transaski berjalan berarti bahwa Indonesia tidak memiliki lagi tabungan nasional untuk membiayai pembangunan. Defisit APBN berari pendapatan negara dari pajak dan non pajak sudah tidak sanggup lagi membiayai pengeluaran pemerintah.

Sementara arus modal masuk dari utang luar negeri dan investasi asing yang selama ini menjadi andalan pemerintah, tidak dapat menutupi jumlah arus modal keluar yang jauh lebih besar besar yang mengalir ke luar sebagai keuntungan investasi asing langsung, investasi asing tidak langsung atau investasi portofolio dan bunga utang luar negeri.

Berapa jumlah arus modal keluar sebagai keuantungan asing di Indonesia? Jumlahnya terlihat dari nilai defisit pendapatan primer yang merupakan kontributor terbesar defisit transaksi berjalan.

Menurut data Bank Indonesia, nilai defisit pendapatan primer tahun 2018 adalah sebesar US $ -30,420 miliar atau jika di rupiahkan mencapai Rp-431,95 triliun, Di dalam defisit pendapatan primer tersebut terdapat defisit yang diakibatkan oleh pembayaran atas jasa jasa asing yakni senilai -7,101 miliar dolar AS atau dalam rupiah senilai Rp100,84 triliun.

Itu berarti semakin banyak investasi asing yang masuk ke Indonesia, maka pada saat yang sama semakin besar keuntungan yang akan dikirim ke luar negeri. Semakin besar utang pemerintah dan swasta yang masuk ke Indonesia, maka lebih besar lagi yang dikirim ke luar negeri untuk pembayaran bunga. Semakin besar tambahan utang pemerintah Indonesia, maka lebih besar lagi bunga dan utang jatuh tempo yang harus dibayarkan pemeritah kepada pemberi utang.

Sementara itu pemerintah tidak mungkin untuk meningkatkan pendapatan negara dari penerimaan pajak maupun penerimaan bukan pajak. Mengapa? Kapasitas ekonomi nasional yang tidak bertambah sehingga objek pajak pun tidak bertambah.

Pada saat yang sama tidak tersedia tabungan nasional untuk pembangunan dan tidak terjadi re-investasi atas keuantungan yang dihasilkan modal asing dalam ekonomi Indonesia. Akibatnya penerimaan pemerintah tidak bertambah, sementara kewajiban pemerintah kian menggunung. Pemerintahan Indonesia sudah bangkrut?.

Oleh: Salamuddin Daeng, Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

Menangkap Gaya Baru Cara Belanja Pembeli Properti

0

Berbagai cara dilakukan pengembang guna menarik minat calon pembeli properti. Dari trik konvensional hingga strategi terbaru pun digunakan guna mendobrak kelesuan pasar. Mulai dari memberikan jaminan sewa, nabung propertisampai midnight sale.

Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata mengatakan jika investasi di sektor properti sangat menjanjikan. Pasalnya, harga properti akan terus mengalami kenaikan. Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai berinvestasi di properti. “Kalau investasi di tahun depan harga sudah naik. Sekarang lah waktunya membeli,” ujar Soelaeman

Menabung Properti

Strategi yang dilakukan Triniti Properti Group dengan founder & CEO motivator dan pengusaha sukses terbuka di Asia, Bong Chandra. Triniti Group melalui menabung properti Triniti Properti Group mengajak generasi mellennial dapat memiliki hunian yang nyaman sejak dini. Generasi Millennial akan memerlukan hunian 5-10 tahun kedepan. Namun umumnya terkendala besarnya Down Payment (DP) dan harga properti yang selalu naik.

Misal saja harga properti Rp Rp 500 juta, dengan DP sebesar 20% atau Rp 100 juta. Dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk menabungdan mengumpulkan DP. Namun 2 tahun kemudian, ternyata properti yang ingin dibelinya sudah naik harga menjadi Rp 1 miliar. Di mana DP yang dibutuhkan menjadi Rp 200 juta (20%).

Melalui menabung properticalon konsumen dapat membeli properti di tahun 2019 dengan mengunci harga properti dengan pricelist tahun 2019. Calon konsumen dapat memilih unit dan mengunci harga properti dengan menabung Rp 5 juta/bulan selama 2 tahun pada pengembang.Setelah menabung selama 2 tahun, pada tahun 2021 konsumen baru memutuskan cara pembayaran apa yang ingin dipilih, mulai dari installment 12–36 kali.

Midnight Sale

Masih menyasar generasi Millennial strategi menarik lain dilakukan Property Guru Group melalui perusahaan ber-platform teknologi Rumah,com. Mencontek suksesnya program diskon di malam hari (midnight sale) yang biasa dilakukan pusat perbelanjaan Rumah.com pun mengelar midnigh saledalam ajang Property Show.

Midnight salemerupakan cara menarik calon konsumen yang dilakukan dengan cara yang berbeda. Acara yang digelar di ajang pameran properti mulai pukul 22.00 hingga 24.00 WIB cukup menyedot minat konsumen pembeli properti. “Dari lima hari pameran, 40% penjualan diperoleh dari ajang midnight sale. Dan sebagaian besar pengunjung dating dari generasi muda usia 25-39 tahun itu ada sekitar 60%,” jelas Country Manager Rumah.com, Wasudewan.

Selama acara, pengunjung bisa mendapatkan keuntungan dengan penawaran rumah dari uang muka nol persen, DP 50%, diskon ratusan juta rupiah, hadiah sepeda motor dan mobil, gratis cicilan, cashback hingga Rp 125 juta, voucher belanja dan hotel senilai puluhan juta, serta hadiah lain.

Tabungan Harian

Setelah DP 0% kini muncul gimmick menawarkan hunian dengan cicilan harian. Ambar Kemang Regency menjual rumah dengan harga jual Rp 141 juta itu berlokasi di kawasan Bogor, Jawa Barat itu menawarkan cicilan Rp 3- ribu/hari.

Selain Ambar Kemang Regency ada pula Panorama Bali Residence yang menawarkan konsep tabungan harian sebesar Rp 30 ribu. Begitu juga dengan Grand Kahuripan, menawarkan tabungan harian yang harus disisihkan sebesar Rp 30 ribu per hari. Selain itu masih ada Cluster Bukit Ebony, Citra Indah yang menawarkan tabungan per hari Rp 27.111/hari, Indoalam Residence, di Jalan Raya Citayam Parung, Bojonggede juga menawarkan tabungan harian sebesar Rp 27.407 tiap harinya.

Memiliki hunian dengan tabungan harian Rp 48 ribu/hari juga dinikmati mitra operator jasa transportasi Go-Jek. Ali salah satu driver Go-Jek merasa sangat terbantu dengan program deposit rumah harian itu. Menurut Ali, waktu itu ada sekitar 15 developer di daerah Cikarang, Bogor dan lainnya dengan rumah 2 bedroom dan 1 living room.