Dampak Perang Dagang BI Masih Tahan Suku Bunga Acuan 6%

0
159
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (dok bi.go.id)

Bank Indonesia (BI) sudah sejak tujuh bulan lalu menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) di level 6%. Pada rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Senin (17/6/2019) Gubernur BI Perry Warjiyo mendapatkan pertanyaan terkait suku bunga acuan BI yang tidak bergerak dari level 6%.

Menurut Perry, memang dalam rapat dewan gubernur (RDG) terakhir BI masih mencermati kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran Indonesia. Hal ini untuk mempertimbangkan ruang kebijakan moneter yang akomodatif, sejalan dengan rendahnya inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Ia mengatakan, jika mempertimbangkan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong, maka BI sudah tahu jika ada ruang untuk menurunkan suku bunga. Namun BI tetap mengambil kebijakan menahan suku bunga untuk menahan keluarnya dana asing dari Indonesia. Hal ini karena gejolak ekonomi global yang terjadi bisa memicu keluarnya dana asing.

Menurutnya kebijakan yang diambil BI bukan berarti BI tidak pro pertumbuhan, namun BI memiliki instrumen lain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang memastikan bagaimana likuiditas di pasar uang lebih dari cukup dan ekspansi moneter.

“Esensinya kan seperti itu, cuma masalahnya kita perlu melihat bagaimana kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran. Sekarang ini kondisi pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, apakah diliputi perang dagang, Brexit dan masalah geopolitik yang sewaktu-waktu bisa terjadi pembalikan arus modal asing,” katanya di komisi XI, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Ia menjelaskan, hal itu memberikan risiko pembiayaan dari defisit transaksi berjalan. Secara musiman pada kuartal II defisit transaksi berjalan lebih tinggi dari kuartal lainnya. Hal ini karena adanya pembayaran utang, repatriasi, dividen dan pembayaran bunga yang dilakukan oleh korporasi.

Ia berharap di semester II tahun ini ketidakpastian global akan mereda, pada kuartal mendatang defisit transaksi berjalan akan turun dan modal asing masuk untuk mendorong stabilitas ekonomi Indonesia. Dengan suku bunga acuan 6%, kini bunga kredit turun sekitar 24 basis poin (bps) dan menjadi 10,84%, serta bunga deposito naik 106 bps menjadi 6,86% sedikit lebih tinggi dibandingkan bunga acuan BI.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, gangguan dari faktor eksternal masih sangat besar dengan adanya perang dagang yang berlanjut hingga tahun ini. Hal itu membuat ketidakpastian global yang berdampak besar pada negara- negara emerging market termasuk Indonesia. Pada saat terjadi gejolak, investor asing akan keluar dari Indonesia karena lebih memilih untuk memegang Dollar, sehingga tekanan terhadap mata uang rupiah menjadi besar. Tentu harus ada daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia, salah satunya dari suku bunga yang menarik.

“Memang suku bunga acuan yang tinggi risikonya akan berdampak pada sektor dunia usaha karena membuat produk kita tidak bisa dijual secara kompetitif kalau dijual di pasar ekspor. Namun dengan potensi gejolak global yang masih berlanjut ini, kebijakan BI tetap mempertahankan suku bunga supaya investor tertarik masuk ke Indonesia, supaya ada supply Dollar di pasar dan tekanan terhadap Rupiah terhadap capital outflow berkurang,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.