Rabu, Mei 13, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 807

Desain Interior dan Chef Handal Jadikan Bisnis Resto Selalu Ramai

0

Maraknya cafe dan resto yang mengusungkan konsep unik, membuat banyak orang tertarik untuk terjun menggeluti usaha kuliner ini. Untuk menciptakan konsep yang berbeda, carilah konsep yang belum pernah ada sehingga konsumen tertarik untuk melihatnya dan penasaran untuk datang berkunjung. Diliriknya cafe dengan konsep unik merupakan sebuah terobosan baru yang terbilang sangat inovatif dan masih jarang dilakoni di Indonesia.

Masih jarangnya kompetitor untuk usaha konsep unik ini membuka peluang lebar bagi semua pelaku usaha untuk meraup keuntungan yang cukup menjanjikan. Meskipun terbilang memiliki prospek usaha yang cukup cerah, namun ada baiknya tiap pelaku usaha baru memikirkan menu yang akan dijual dan harus memiliki standar resep yang enak di lidah konsumen, sehingga mampu diterima oleh masyarakat luas.

Untuk para pemula yang ingin membuka usaha dengan Konsep unik, tidak harus mengeluarkan biaya atau modal yang cukup besar. Jika ingin membuka usaha dengan luas bangunan 100 meter, modal yang diperlukan hanya sekitar Rp 100-150 juta. Untuk meminimalisir modal yang ada sebaiknya modal digunakan dengan jelas dan terkonsep dengan rapi, sehingga biaya tidak terbuang percuma.

Selain konsep dan modal, pemilihan lokasi yang tepat merupakan kunci utama bagi pelaku usaha dalam memasarkan usahanya. Pilihlah lokasi yang sesuai dengan market yang akan dituju, jika Anda menjual dengan konsep tradisional maka pilihlah lokasi dengan market konsumen menengah ke bawah dan yang ramai dikunjungi orang. Seperti area mal, pusat kuliner, jalan yang ramai dilalui kendaraan, perkantoran hingga tempat wisata.

Selain tempat dengan konsep yang unik, menu yang ditawarkan juga harus kreatif. Sehingga bisa menarik konsumen untuk datang dan mencoba. Tidak lupa, gunakan brand names yang menarik dengan disesuaikan pada segmentasi yang hendak dituju agar tidak salah sasaran.

Agar resto atau cafe terkonsep dengan unik serta tertata rapi, dan menu yang ditawarkan sesuai selera konsumen, sebaiknya konsultasikan perencanaan Anda pada ahlinya.

Oleh:

Djoko Kurniawan, Senior Of Bisnis & Service Quality DK Consulting Group

Faktor-Faktor Penentu Kesuksesan Bisnis Start-Up

0

Setelah berinteraksi dengan ribuan peserta pelatihan entrepreneurship dari berbagai latar belakang keluarga, pendidikan, dan daerah asal mereka, saya menemukan 5 faktor yang secara signifikan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah start up usaha baru.

Hal yang sangat fundamental membedakan mereka yang berhasil dan yang gagal adalah keberhasilan menginternalisasi pola pikir entrepreneurial dalam proses belajar mereka. Walaupun terasa mudah, namun ternyata tidak sedikit di antara mereka yang memulai usaha baru gagal dalam merengkuh pola pikir ini. nilah kegagalan fundamental yang mengakibatkan semua usaha lain yang dijalankan menjadi sia-sia.

Pola pikir entrepreneurial ini memiliki ciri kehausan seseorang terhadap peluang baru yang ada di depannya. Ketika seseorang akhirnya memiliki kebiasaan berpikir dengan pola pikir tersebut, maka secara konstan orang itu akan terus menerus memikirkan peluang baru bagi usahanya.

Sangat menarik jika seseorang yang biasa berpikir ke depan atau memikirkan masa depan. Ia akan mempersiapkan dirinya dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan karena ia sedang mencoba merancang masa depan usaha yang baru dimulainya. Ide-ide baru yang muncul tidak dihakimi semata-mata oleh data historis tetapi lebih kepada perkiraan tren yang akan terjadi di masa depan. Setiap masalah yang muncul dalam perjalanan usahanya akan dianggap sebagai kesempatan munculnya perubahan yang membawa kepada peluang penciptaan bisnis baru.

Faktor penentu kedua adalah Inovasi. Kata yang bombastis mewakili entrepreneur yang berhasil ternyata juga adalah kata yang membawa banyak start up kepada kegagalan. Mengapa demikian? Karena mereka gagal menghubungkan ide usaha mereka baik barang atau pun jasa kepada penerimaan pasar.

Dengan akal sehat kita bisa melihat bahwa jika sebuah usaha didorong oleh penciptaan produk baru tanpa memeriksa dengan seksama kenyataan di sisi permintaan pasar, maka usaha yang didorong penciptaan produk baru ini akan masuk dalam kategori opportunity seeking dengan derajat kesulitan yang tinggi dalam menembus pasar lama, apalagi pasar baru yang hendak diciptakan. Maka tidaklah mengherankan jika dalam skema memulai usaha baru yang seperti ini banyak produk baru masuk ke dalam lembah kematian inovasi.

Dalam konsep yang berlawanan dengan di atas, maka sebuah start up memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Karena merupakan penciptaan usaha yang didorong oleh adanya identifikasi peluang di masyarakat yang besar bahkan memiliki potensi usaha tanpa pesaing. Sudah seharusnya inovasi yang didorong adalah opportunity driven innovation (inovasi berdasarkan pengidentifikasian peluang).

Model bisnis menjadi penentu keberhasilan yang ketiga. Model bisnis digambarkan sebagai skema bagaimana sebuah usaha mengidentifikasi peluang di masyarakat dan bagaimana cara melayaninya sehingga menghasilkan penciptaan nilai dalam profit financial yang didapat.

Alexander Osterwalder & Yves Pigneur dalam buku Business Model Generation mengusulkan sembilan elemen penentu sebuah model bisnis, yakni segmen pasar, relasi pelanggan, saluran komunikasi, penawaran, arus penjualan, aktivitas kunci, sumber daya kunci, mitra kunci, dan struktur biaya. Dari kesembilan elemen ini yang menjadi penentu keberhasilan model bisnis ini adalah kejelasan atau dapat diterimanya penawaran produk atau jasa oleh segmen pasar yang tepat.

Catatan penting untuk hal ini adalah model bisnis yang ada, perlu terus menerus diperbaiki sesuai dengan realita pasar yang dihadapi. Model ini perlu dievaluasi, dipelajari dan dirancang ulang jika perlu secara berkala.

Doblin Analysis dalam sebuah laporan hasil penelitiannya tentang relasi prinsip Paretto dan penciptaan nilai dalam sebuah perusahaan menentukan bahwa model bisnis dan jejaring adalah dua faktor yang bertanggung jawab dalam penciptaan nilai terbesar.

Sehingga kita tiba pada faktor ke empat, yaitu jejaring. Ada dua isu penting di sini, yang pertama seberapa besar jejaring yang tersedia dan bisa dijangkau, yang kedua bagaimana metode paling efisien dan efektif dalam menjangkau jejaring tersebut. Hal pertama menyangkut seberapa besar jangkauan pasar yang bisa dikelola yang berikutnya berbicara tentang saluran apa saja, dalam model bisnis yang dirancang tadi, yang tersedia untuk dijangkau.

Dari sini kita bisa melihat apakah model bisnis yang dirancang dan jejaring yang dikembangkan dapat menentukan usaha baru bisa mencapai kestabilan penjualan atau tidak dengan profit yang lebih besar sedemikian rupa, sehingga keberlangsungan usaha bisa diciptakan.

Faktor penentu keberhasilan usaha baru yang terakhir adalah pemasaran yang efektif dan efisien. Dengan dana yang terbatas, maka metode pemasaran yang murah namun ampuh menjadi penentunya. Tantangan dalam tahap awal penciptaan usaha baru adalah bagaimana memenangkan kepercayaan masyarakat. Dengan kata lain profit yang tinggi akan tercipta seiring dengan reputasi yang didapat dari pasar.

Akhirnya, kita bisa bayangkan hanya mereka yang memiliki semangat yang tinggi, kerja keras yang konsisten dan percaya diri akan bisa mencapai keberhasilan penciptaan usaha baru. Hanya merekalah yang sungguh-sungguh memiliki hasrat besar untuk berhasil yang bisa melewati semua perjuangan ini sampai keberhasilan berada di genggaman tangan.

Oleh: Agung Bayu Waluyo, PhD
Direktur Program Universitas Ciputra Enterpreneur Centre
Website: www.ciputra.org

Banting Harga Tak Efektif Jika?

0

Dalam teorinya, ketika seorang pemilik usaha bersedia menurunkan harga produknya, maka permintaan dan penjualan terhadap produk tersebut akan makin banyak. Namun dalam kenyataannya, teori tersebut tidak selamanya benar, mengapa?
Teori di atas hanya benar, ketika hal-hal lain (seperti pendapatan masyarakat, selera pembeli, strategi pesaing, harga barang lain yang sejenis, dan masih banyak lagi), tidak mengalami perubahan. Pemahaman akan hal tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, pemilik usaha menurunkan harga, tapi pendapatan masyarakat juga sedang menurun. Pendapatan yang turun akan menyebabkan kemampuan beli (daya beli) konsumen juga menurun, dan akibatnya dana yang tersedia untuk membeli sesuatu juga berkurang. Dengan demikian meskipun pemilik usaha sudah menurunkan harga, namun karena dana yang dimiliki masyarakat juga berkurang, masyarakat tetap tidak mampu membelinya, sehingga bagi pemilik usaha, penjualan tidak akan berubah dari sebelumnya. Bila ternyata pendapatan masyarakat cenderung naik, tapi penjualan tidak kunjung meningkat, padahal harga sudah diturunkan, apa lagi penyebabnya?

Kedua, pemilik usaha menurunkan harga, tapi pesaing juga menurunkan harga dalam jumlah yang lebih besar. Bila hal ini terjadi, maka apa yang dilakukan pemilik usaha tersebut menjadi sia-sia, apalagi jika produk yang dimaksud adalah cenderung sama, baik merek, kualitas, maupun jumlahnya. Bila ternyata pendapatan masyarakat cenderung naik, pesaing juga tidak menurunkan harga atau menurunkan juga tapi tidak sebesar pemilik usaha tadi, penjualan tidak kunjung meningkat, padahal harga sudah diturunkan, apa lagi penyebabnya?

Ketiga, pemilik usaha menurunkan harga, tapi pelayanan tidak mendukung. Perlu diketahui bahwa, harga bukan satu-satunya penyebab konsumen mau membeli produk, sehingga meskipun harga diturunkan namun konsumen merasa tidak dilayani dengan baik, apalagi misalnya cenderung disepelekan, dibiarkan kebingungan mencari-cari sendiri produk yang ingin dibeli, mendapat jawaban yang ketus, dan sejenisnya; maka harga yang murah akan sulit mengobati konsumen yang kecewa karena pelayanan. Bila pendapatan masyarakat naik, harga pesaing tidak berubah, pelayanan sudah baik, harga diturunkan tapi penjualan tidak kunjung naik, mengapa?

Keempat, pemilik usaha menurunkan harga, tapi sarana prasarana tidak mendukung. Sebagai contoh, tempat parkir yang sulit, tidak tersedia ruang tunggu, toilet tidak ada, dan sejenisnya, dapat menjadi penyebab tidak bersedianya konsumen datang dan membeli produk, karena kendala-kendala yang dihadapi konsumen selama berada di lokasi usaha tersebut.

Kelima, pemilik usaha menurunkan harga, tapi barangnya sering kosong. Konsumen lama kelamaan juga akan enggan mengunjungi tempat usaha tersebut, jika sering kali produk yang akan dibeli sering tidak tersedia. Konsumen tentu akan segera mencari toko lain, apalagi bila produk yang dibutuhkan sangat mendesak.

Keenam, pemilik usaha menurunkan harga, tapi konsumen tidak tahu. Tidak setiap orang tahu bahwa pemilik usaha menurunkan harga. Sehingga perlu upaya sosialisasi, baik dengan memasang spanduk, menyebar brosur, ataupun memasang iklan. Bagaimana konsumen akan semakin banyak dan penjualan meningkat, kalau konsumen tidak pernah tahu bahwa harga telah diturunkan, sehingga pantas untuk dibeli?

Ketujuh, pemilik usaha menurunkan harga, tapi kualitas juga ikut turun. Konsumen saat ini sudah sangat pandai, mampu membedakan mada produk baik dan mana produk kelas dua, sehingga penurunan harga yang diikuti dengan kualitas yang juga rendah, tentu tidak sertamerta membuat konsumen tertarik.

Selain ketujuh contoh yang menyebabkan gagalnya strategi penurunan harga tersebut, masih banyak contoh-contoh lain yang bisa menggagalkan upaya peningkatan penjualan melalui penurunan harga, seperti lokasi usaha, selera konsumen yang mulai berubah, dan beberapa contoh lainnya.

Bagi masyarakat Indonesia, harga memang sepertinya masih menjadi alasan utama bagi konsumen untuk bersedia atau tidak bersedia membeli suatu produk, namun demikian dalam pasar yang cenderung bersifat persaingan sempurna, di mana jumlah penjual dan pembeli sangat banyak, dan informasi yang dimiliki penjual dan pembeli relatif sudah sama, maka konsumen cenderung memiliki pilihan yang lebih banyak, sehingga tidak hanya harga saja yang menjadi rujukan (meskipun masih prioritas), namun konsumen juga akan mempertimbangkan dana yang dimiliki, pelayanan yang akan diterima, kualitas produk, pelayanan purna jual, dll.

Oleh karena itu, perlu disadari bahwa upaya peningkatan penjualan tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan penurunan harga saja, namun perlu juga diikuti dengan pelayanan yang semakin baik, kualitas yang terus dijaga, manajemen persediaan yang baik, kepekaan terhadap perubahan selera dan pendapatan konsumen, dan beberapa perhatian lainnya.

Perlu dimengerti juga, bahwa meskipun prioritas dan cukup efektif, namun tidak semua konsumen peka terhadap perubahan harga, untuk kalangan tertentu harga tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Ada pula masyarakat yang justru meningkat permintaannya bila harga produk tersebut menjadi mahal.

Oleh: Aris Budi Setyawan
Program DIII Bisnis dan Kewirausahaan
Universitas Gunadarma

Kala Industri Semen Lokal Babak Belut Digebuk China

0

Ironi di tengah begitu gencarnya pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur, namun wajah bisnis industri-industri lokal penunjang pembangunan tersebut megap-megap bahkan hampir kolaps. Sebut saja perusahaan baja nasional milik Negara Krakatau Steel yang dibangun di era Presiden Soeharto dan dikembangkan di era Presiden SBY, kini terancam bangkrut di era pemerintahan Jokowi.

Pasokan semen yang tak sesuai dengan serapan membuat industri semen over suplai sehingga perputaran kas mereka tersendat. Hal ini pula yang membuat sejumlah industri semen menjerit karena terancam bangkrut. Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli sempat terheran dengan kondisi industri baja dan menyusul semen yang terancam kolaps disaat pemerintah gencar melakukan pembangunan infrastruktur.

Pasokan semen yang tak terserap disinyalir akibat gencarnya semen asal China yang menjual harga di bawah pasaran di pasar semen Indonesia. Seharusnya kondisi itu tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan produk semen Indonesia. Pasar semen lokal dalam kondisi sangat memprihatinkan atau terancam bangkrut. Karena ada kebijakan predatory pricing.

Investor semen China yakni semen Conch dengan sengaja menjual semen di Indonesia dengan harga merugi. Akibat kebijakan sepihak yang dilakukan semen Conch, berdampak langsung terhadap penjualan hingga produksi semen dalam negeri yang menurun. Dia pun memberikan contoh, harga semen asal China jauh berbeda dengan semen lokal yang bisa dilihat di situs jual beli online.

Pabrik semen di Aceh, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Gresik, dan Semen Tonasa terpaksa menurunkan kapasitas produksinya, karena semen mereka tidak laku dan kalah bersaing. Akibat kebijakan semen Conch yang terindikasi menggunakan predatory pricing. Di situs jual beli online, harga semen lokal itu berkisar di Rp51.000 per sak. Sedangkan semen asal China berkisar Rp34.000 per sak.

Karena itu pemerintah, khususnya Presiden Jokowi memanggil beberapa menteri terkait dan segera melakukan langkah-langkah solutif agar bisa menyelamatkan produksi semen lokal. Bertujuan agar BUMN di sektor semen bisa menjadi salah satu fondasi ekonomi bangsa.

 

Apa Itu Franchise Fee dan Royalty Fee dalam Bisnis Franchise

0

Dalam franchise ada istilah franchise fee dan royalty fee, apa arti dari masing-masing istilah tersebut dan apa perbedaannya?

Franchise fee dapat didefinisikan sebagai biaya pembelian hak franchise untuk jangka waktu tertentu. Franchise Fee yang dibayarkan kepada Franchisor dapat dikatakan sebagai “penghargaan” atas pengalaman Franchisor menjalankan format bisnis yang diduplikasi dengan sistem franchise.

Terlebih format bisnis yang ditawarkan telah dapat dibuktikan kesuksesannya. Franchise Fee hanya dibayarkan satu kali di awal masa perjanjian franchise, sehingga kadang orang banyak menyebutnya sebagai one time fee.

Sedangkan Royalty Fee didefinisikan sebagai kontribusi bagi hasil dari pendapatan Franchisee (biasanya dari penjualan) atas penggunaan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) milik Franchisor dalam menjalankan bisnis. Royalty Fee umumnya dibayarkan setiap bulan dan dihitung berdasarkan besaran pendapatan Franchisee. Dengan demikian, terlepas Franchisee sedang mengalami untung atau rugi, Franchisee tetap wajib membayar Royalty Fee sebagai konsekuensi atas penggunaan HAKI milik Franchisor.

Perlu dipahami juga bahwa yang termasuk dalam kelompok HAKI adalah Merek, Paten, Hak Cipta, Rahasia Dagang, Desain Industri, Varietas Tanaman Unggul dan Desain Sirkuit Terpadu. Franchisee dalam menjalankan bisnis, setidaknya menggunakan merek dari Franchisor, bahkan selain merek kadang ada juga yang menggunakan paten atau hak cipta milik Franchisor. Atas dasar inilah Franchisee dikenai kewajiban untuk membayar Royalty Fee.

Meskipun Franchisee diwajibkan untuk membayar Royalty Fee ketika dalam keadaan untung maupun rugi, namun di balik itu, Franchisor pun berkewajiban untuk membantu Franchisee untuk meningkatkan pendapatannya. Franchisor wajib memberikan training, konsultasi, bimbingan, saran, serta kiat-kiat sukses agar Franchisee dapat meninggkatkan jumlah pendapatannya.

Apabila pendapatan Franchisee meningkat, maka besaran royalty yang akan diterima oleh Franchisor juga akan meningkat karena umumnya royalty dihitung menggunakan persentase terhadap pendapatan Franchisee.

Bayangkan seandainya Franchisee dikenakan royalty sebesar 3% atas pendapatan 100 juta Rupiah, maka Royalty yang diterima Franchisor sebesar 3 juta Rupiah. Bayangkan seberapa besar potensi Royalty Fee yang dapat diraih oleh Franchisor seandainya memiliki banyak Franchisee yang sukses.

Oleh karena itu, sebagai Franchisor sebaiknya berorientasi atas suksesnya franchise atau dengan bahasa lebih konkritnya, Franchisor sebaiknya lebih berorientasi pada peningkatan pendapatan Franchisee-nya agar royalty yang dibayarkan oleh Franchisee juga semakin besar.

  1. Apabila saya ingin memfranchisekan bisnis saya, bagaimana cara untuk menentukan franchise fee dan royalty fee kepada Franchisee saya nantinya?

Untuk menentukan besaran franchise fee dan royalty fee ada 3 pendekatan yang dapat Anda gunakan:

  • Market Oriented

Pendekatan market oriented dilakukan dengan membandingkan indeks Franchise Fee dan Royalty Fee dari industri sejenis menggunakan data yang dikeluarkan oleh asosiasi atau lembaga tertentu yang berkaitan tentang franchise. Misalnya dengan menggunakan data berikut, seperti yang dikeluarkan oleh Franchise Direct untuk perbandingan besaran royalti untuk beberapa franchise restoran di USA :

  • Customer Oriented

Pendekatan customer oriented dilakukan dengan memprediksi kemampuan calon customer di wilayah tertentu, misal untuk regional Jakarta akan lebih mahal dibanding Yogya karena mayoritas daya beli berbeda, baik untuk calon Franchisee maupun untuk konsumen bisnis kita. Oleh karena itu, nilai Franchise Fee dan Royalty Fee akan bervariasi bergantung wilayahnya.

Untuk menentukan besaran Franchise Fee dan Royalty Fee dengan pendekatan ini, Franchisor perlu melakukan riset terlebih dahulu di wilayah yang akan dimasuki untuk mendapatkan gambaran karakteristik masyarakat. Dari hasil riset inilah ditetapkan nilai Franchise Fee dan Royalty Fee berdasarkan daya beli masyarakatnya.

  • Cost Oriented

Pendekatan cost oriented dilakukan dengan menghitung seluruh biaya yang dibutuhkan oleh Franchisor. Biaya yang dibutuhkan oleh Franchisor meliputi biaya  pengembangan sistem franchise, promosi paket franchise hingga support kepada Franchisee-nya. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian secara kualitatif dan kuantitatif untuk menentukan Franchise Fee dan Royalty Fee dengan menggunakan pendekatan cost oriented ini.

Proses perhitungan Franchise Fee dan Royalty Fee dengan pendekatan ini, dimulai dengan melakukan studi kelayakan terhadap model bisnis yang akan diduplikasi. Model bisnis yang akan diduplikasi dengan sistem franchise ini, dihitung secara menyeluruh investasi yang dibutuhkannya.

Seluruh biaya investasi yang dikeluarkan untuk membangun model bisnis ini akan dikembalikan melalui pendapatan usaha dari Franchisee. Apabila potensi pendapatan Franchisee cukup besar, maka dapat dikatakan model bisnis ini layak diduplikasi.

Lalu sebagai sebuah organisasi bisnis, Franchisor juga perlu dihitung kelayakannya, sehingga seluruh investasi yang dikeluarkan oleh Franchisor juga perlu dihitung. Pendapatan untuk mengembalikan investasi Franchisor didapat dari besaran Franchise Fee dan Royalty Fee yang diterima dari Franchisee

Oleh karena itu, mungkin tidak cukup hanya dengan memiliki 1 atau 2 Franchisee saja untuk mengembalikan investasi Franchisor. Dengan demikian berarti Franchisor perlu memiliki target jumlah Franchisee minimum yang harus dimiliki agar investasinya dapat dikembalikan.

Simulasi besaran Franchise Fee, Royalty Fee dan target jumlah Franchisee inilah yang dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan angka yang paling optimal. Angka optimal di sini maksudnya adalah dimana besaran Franchise Fee dan Royalty Fee yang dibebankan kepada Franchisee, masih cukup memberikan keuntungan yang menarik bagi calon Franchisee; serta memberikan jumlah pendapatan yang juga menarik bagi Franchisor, agar target minimum jumlah Franchisee yang harus dimiliki  oleh Franchisor masih realistis untuk dicapai.

Berdasarkan penjelasan di atas, ketiga pendekatan dapat digunakan dalam menentukan besaran Franchise Fee dan Royalty Fee. Namun hal paling penting yang perlu diingat oleh Franchisor adalah jangan tamak dalam menarik Franchise Fee dan Royalty Fee.

Franchisor yang terlalu rakus membebankan Franchise Fee dan Royalty Fee kepada Franchisee-nya hanya akan membuat bisnis tersebut sulit berkembang. Jadi sebaiknya berorientasilah pada kesuksesan Franchisee Anda, niscaya bisnis Anda juga akan jauh lebih besar apabila Franchisee Anda sukses.

 

Oleh: Wahdu Fakhrozy

Franchise Academy Network

Podomoro City Ruang Kantor GSA Blok B/8DH.

Jl. S Parman.  Jakarta Barat 11460

 

Imas Gumilang, Sukses Pasarkan Batik hingga Amerika

0

Keanekaragaman dan keindahan berbagai jenis kain yang ada di tanah air, berhasil membius seorang Imas Gumilang. Sejak masih duduk di bangku sekolah hingga menjadi seorang mahasiswa, wanita yang akrab disapa Ima ini memang senang mengoleksi berbagai jenis kain yang ada dari beberapa daerah di Indonesia.

Dari berbagai jenis kain yang disimpan di lemari pribadi, hampir sebagian besar merupakan kain batik. Hal tersebut tidak lepas dari motif batik yang sangat indah dan memikat siapa saja yang melihatnya. Bahkan untuk memuaskan kecintaan pada Batik, Ima kerap sengaja pergi ke berbagai toko batik yang ada untuk memburu batik dengan motif dan warna yang ia suka.

Melihat Peluang

Ternyata koleksi batik yang dimiliki Ima juga banyak memikat teman serta kerabat yang melihat, beberapa diantara mereka banyak yang tertarik dan membeli batik yang dimiliki. Melihat peluang tersebut, jiwa entrepreneur Ima muncul dan ia langsung memutuskan untuk menekuni hobinya menjadi sebuah usaha.

Baru saja menikmati usaha yang dijalankan, Ima memutuskan untuk menghentikan usahanya tersebut. Karena Ima yang pindah ke Bandung mengikuti sang suami, harus kehilangan para pelanggan setianya.

Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Seorang sahabat menghubunginya dan berniat untuk memperkenalkan dengan para pengrajin berkualitas di beberapa daerah.

“Teman saya itu menanyakan apakah saya masih menjalani usaha batik, jika masih ia ingin memperkenalkan saya dengan beberapa pengrajin daerah yang kualitas bahannya tidak perlu ditanya lagi,” ujarnya.

Berbekal kontak yang diberikan, Ima kembali membangun usaha batik yang sempat vakum. Beberapa pengrajin diminta untuk mengirimkan sample karyanya, dan bila memenuhi kriteria yang diinginkan Ima langsung memesan dalam jumlah besar.

Dari Seluruh Indonesia

Usaha batik dengan brand Alima Batik ini mencoba menawarkan berbagai jenis kain dan batik yang ada dari seluruh pengrajin kain di Indonesia. Bukan hanya batik tulis dan batik cap, Alima Batik juga memasarkan kain Sasirangan, kain Lurik hingga kain Tenun dengan ukuran rata-rata 2 m x 1,15 m,

“Kecuali ada pemesanan khusus kita siap menyediakan berbagai ukuran misanya hingga berukuran 25 meter,” jelasnya.

Beberapa pengrajin yang bekerja sama antara lain pengrajin kain Sasirangan dari Kalimantan, pengrajin kain Rangrang dari Bali, pengrajin kain Lurik dari Klaten, serta pengrajin kain batik dari Yogyakarta, Solo, Bantul, Bali, Cirebon, Garut dan Tasik.

Ima menjual berbagai macam motif dan warna seperti batik cap Colet, cap 1 warna, 2 warna hingga 3 warna.

“Sekarang lagi populer mix n match yang memadukan kain batik cap 1 warna dengan cap 2 warna dan hasilnya banyak sekali yang suka,” ucapnya.

Warna yang eye catching, bahan yang lembut, tidak tipis dan transparan dan tidak panas, diakui Ima menjadi ciri tersendiri dari batik yang ia tawarkan. Ima memberikan harga lebih murah dibadingkan dengan pelaku usaha sejenis.

“Kisaran perbedaan harganya bisa mencapai Rp 15.000 – 20.000 per pcs tetapi dengan kualitas bahan yang jauh lebih baik tentunya,” terang Ima.

Tak cuma murah dan berkualitas, untuk menjamin keaslian batik dan memberi rasa aman terlebih pada konsumen yang baru pertama kali berbelanja, Ima memberikan garansi 100% uang kembali jika ada ketidakpuasan konsumen terhadap kain batik yang dibeli baik dari segi bahan maupun pewarnaan.

Masuk Pasar Amerika

Kesuksesan Ima dalam mengembangkan usahanya bukan hanya didasari pada kualitas bahan, melainkan pada strategi marketing yang dijalankan. Selain memasarkan melalui dunia maya dengan membuat website dan memperkenalkan kepada teman dan kerabat, Ima juga membuka sistem kerja sama.

Sistem reseller mulai dikemabangkan dengan syarat yang tidak sulit dan potongan harga yang diberikan mulai dari 5% hingga 15%. Dengan menyasar kalangan kelas mengenah keatas tidak heran bila batik berkualitas yang dipasarkan bisa dikenal luas. Bahkan dengan keyakinan yang dimiliki, Ima juga mulai memasarkan batiknya hingga ke pasar luar negeri khususnya Amerika.

“Saya mulai masuk ke pasar Amerika, namun showroom dan manajemen tetap berada di Indonesia,” ungkap wanita yang kini menetap di Ohio, Amerika ini.

Dijelaskan Ima ada beberapa prinsip usaha yang ia pegang teguh sehingga Alima Batik bisa berkembang. Yang pertama dalam menghadapi kendala yang ada, Ima tidak akan fokus pada kendala melainkan akan fokus pada usaha.

“Jika hanya fokus pada kendala maka bisa dipastikan saya akan kalah sebelum mencoba berperang. Saya lakukan yang terbaik apa yang bisa saya lakukan,” kitanya.

Selain itu untuk menyikapi persaingan yang ada, Ima memegang teguh empat prinsip dasar yaitu, pertama pada value produk di mana produk yang ditawarkan memenuhi kebutuhan konsumen serta terus mempertahankan kualitas.

Yang kedua mengacu pada harga pokok yang bisa bersaingan dengan kompetitor. Ketiga adalah tempat usaha yang bisa dijangkau oleh konsumen dan yang keempat adalah promosi yang tepat efektif dan tepat sasaran.

Tak Mau Kalah Saing, Energizer Lakukan Brand Refresh

0

Begitu ketatnya persiangan bisnis di baterai membuat produsen baterai AA Alkaline Energizer® dinilai perlu melakukan Brand Refresh. Dengan mengambil tema Long Lasting Light Hearted, perusahaan ini meluncurkan tampilan anyar dengan corak yang lebih cerah mulai dari kemasan, display hingga logo di semua lini produknya.

Erik Lukman selaku Channel Director, Energizer Indonesia mengaku antusias dapat memperkenalkan tampilan baru dari Energizer® kepada masyarakat Indonesia. Menurutnya baterai ini memerlukan tiga tahun untuk berinteraksi dengan konsumen dan meneliti preferensi konsumen untuk menawarkan power (kekuatan) dan fun (menyenangkan).

“Ternyata konsumen menginginkan kemasan yang cerah, jelas dan mudah dicari,” katanya di Fountain Hall, Grand Indonesia, West Mall, Jakarta.

Agar lebih menonjol, di kemasan yang baru ditempatkan Mr Energizer tepat di tengah agar lebih terlihat jelas sehingga mendeskripsikan sebuah ikon yang menyukai tantangan, selalu ceria, dan terlihat dengan penampilan lebih baik, serta penuh energi.

Selain tampilan baru yang lebih mudah dikenali, dari sisi teknologi juga ada inovasi-inovasi baru yang membuat produk energizer bisa lebih tahan lama, sesuai slogan baru Long-Lasting, Light Hearted yang keduanya merupakan positioning statement terbaru Energizer® agar para konsumen makin merasakan manfaat lebih dari sebelumnya.

Dengan inovasi-inovasi baru ini, energizer akan makin diminati, termasuk kaum millennial yang menjadi target mereka. “Di berbagai negara, kami sudah market leader, di Malaysia pangsa pasarnya sudah di atas 80%, bahkan Philipina sudah di atas 90%. Sedangkan di Indonesia masih sekitar 20% dan bertekad bisa market leader,” tambahnya.

Erik mengatakan market share Energizer® semester ini mencapai sekitar 23 persen. jika dibandingkan semester sebelumnya bertumbuh 10,9 persen. Apabila dibandingkan dengan kategori baterai secara total market, Energizer masih lebih tinggi, karena pertumbuhan kategori bateri secara total market hanya sekitar 9,6 persen.

Problem adalah Profit

0

Norman Vincent Peale, seorang pengkhotbah dan penulis yang terkenal dengan bukunya The Power of Positive Thinking (1952), pernah berkata, “Ketika Tuhan ingin mengirimkan hadiah pada Anda, Dia akan membungkusnya dalam masalah. Semakin besar hadiah yang ingin dikirimkan Tuhan pada Anda, semakin besar masalah yang membungkusnya.”

Saya yakin selalu ada hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil di balik semua kemalangan, penderitaan, kegagalan, dan kesulitan yang kita hadapi. Seringkali kita hanya tidak menyadarinya saja.

Alasan-alasan berikut ini kiranya dapat memberikan Anda suatu pandangan positif mengenai keuntungan yang dapat diperoleh dari berbagai masalah yang Anda hadapi terutama dalam hal usaha atau pekerjaan:

Masalah membuat kita bertumbuh

Saya percaya bahwa setiap masalah dalam hidup ini dapat membuat kita bertumbuh. Setiap kali masalah muncul, ini merupakan tanda atau signal untuk kita meningkatkan diri dan mengubah cara berpikir kita. Sebagai contoh, jika Anda memiliki masalah keuangan, ini merupakan tanda bahwa Anda perlu meningkatkan cara Anda mengelola uang atau Anda perlu berubah dalam hal pengeluaran.

Mungkin Anda perlu mempelajari buku-buku mengenai keuangan. Katakanlah Anda sering bertengkar dengan rekan kerja Anda, ini merupakan tanda bahwa Anda perlu meningkatkan kemampuan interpersonal Anda. Mungkin Anda juga perlu berubah dalam cara berkomunikasi. Jadi dengan demikian masalah dapat membuat kita bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Masalah membuka kesempatan-kesempatan baru

Masalah adalah pintu yang terbuka untuk kesempatan. Di balik setiap masalah biasanya ada kesempatan-kesempatan baru yang datang.

Ada orang-orang yang berhasil mengembangkan usaha sendiri justru setelah di-PHK. Ada orang yang mulai merintis yayasan kanker setelah dirinya terkena penyakit tersebut. Ada juga orang yang memperoleh kesempatan untuk berjumpa dengan tokoh-tokoh penting karena musibah yang dialaminya.

Kalau Anda sedang menghadapi masalah sekarang, mungkin Anda perlu peka melihat kesempatan apa yang kira-kira terbuka bagi Anda.

Masalah mendorong kreativitas

Masalah-masalah yang ada seringkali mendorong kreativitas seseorang untuk menemukan jalan keluar atau solusi. Kalau Anda mengamati berbagai benda di sekitar Anda maka Anda akan menemukan ternyata benda tersebut diciptakan untuk memecahkan masalah yang ada.

Sebagai contoh, untuk mengatasi masalah kegelapan maka bohlam lampu diciptakan, untuk mengatasi masalah komunikasi jarak jauh maka telepon diciptakan, untuk mengatasi masalah transportasi maka kendaraan bermotor diciptakan.

Bayangkan ada begitu banyak bentuk kreativitas yang muncul justru saat ada masalah. Dengan demikian waktu Anda menghadapi masalah jadikan itu sebagai dorongan untuk memunculkan kreativitas dalam diri Anda.

Masalah menciptakan motivasi

Saya menemukan beberapa orang, motivasi dirinya justru tercipta ketika sedang menghadapi masalah. Seorang mahasiswa bisa menjadi sangat termotivasi belajar karena mengalami masalah yaitu tidak lulus ujian di semester lalu. Ada juga orang yang pola makannya dapat berubah total setelah mengalami vonis dokter mengenai kesehatannya.

Banyak sales malah termotivasi capai target saat terancam dikenakan sanksi atas pencapaiannya. Menurut saya ini merupakan manfaat lain dari suatu masalah. Anda dapat segera menciptakan motivasi diri dari masalah yang sedang Anda hadapi sekarang, untuk mengambil tindakan dan melakukan suatu perubahan yang positif.

Masalah mengajarkan banyak hal

Masalah-masalah kehidupan yang Anda lalui dapat mengajarkan banyak hal bagi Anda sehingga Anda dapat menjadi lebih bijaksana. Dengan adanya berbagai masalah maka Anda semakin memiliki pemahaman yang luas akan berbagai hal. Oleh karena itu, biasakan saat menghadapi masalah Anda bertanya kepada diri Anda,

“Manfaat apa yang dapat saya pelajari dari masalah ini?” Ada dua jenis proses belajar yaitu belajar melalui jalur pendidikan dan belajar melalui pengalaman hidup. Belajar melalui pengalaman hidup tentu adalah pembelajaran yang mahal dan perlu untuk Anda hargai.

 

Oleh: Haryanto Kandani

Achievement Motivator

Pelajari Ini Saat Ingin Mengganti Kemasan Produk

0

Bicara mengenai kemasan memang memiliki dampak tersendiri terhadap produk yang ditawarkan selain berguna untuk melindungi produk yang kita jual, juga berperan sebagai identitas merek serta dapat menunjukkan sasaran pembeli.

Jika Anda mengubah kemasan menjadi lebih keren plus harga lebih tinggi, maka sangat mungkin Anda harus membidik calon pembeli lain yang membutuhkan kemasan lebih baik. Wajar jika pelanggan lama komplain karena pelanggan lama segmennya adalah yag kemasan sederhana dan harga terjangkau.

Jika pembeli Anda lebih suka kemasan yang bagus tapi harga tidak mau naik, maka ukuran kemasan bisa sedikit diperkecil. Namun keputusan ini harus hati-hati. Bisa jadi pelanggan Anda komplain, dan ujung-ujungnya minta pakai kemasan lama yang isinya lebih banyak dan harga terjangkau.

Oleh karena itu daripada mempertimbangkan sesuatu yang masih perlu eksperimen, lebih baik fokuskan untuk mengoptimalkan pemasaran kemasan sederhana terlebih dahulu sampai Anda benar-benar meraih keuntungan yang maksimal.

Meskipun kemasan sederhana, perlu dipastikan kemasan tersebut kuat dan produk yang Anda jual tetap terlindungi (tidak mudah rusak karena kemasukan udara), sehingga pelanggan merasa bahwa produk Anda enak dan awet.

Jika hal ini sudah dilakukan dengan baik, Anda bisa mencoba memperbaiki penampilan kemasan tanpa harus menaikkan harga. Hal ini sangat mungkin karena volume penjualan Anda sudah besar

 

oleh: Bambang Suharno,

Direktur Indonesain Entrepreneur Society (IES),

Penulis Buku “ Tujuh Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha” dan Puluhan Buku Lainnya.

Email : bambangsuharno@yahoo.com

Garap 7 Proyek, Patra Jasa Siapkan Modal Rp 10 Triliun

0

Hari T Wibowo, Direktur Utama PT Patra Jasa nampak bersemangat. Ditemui saat HUT ke ke-44 perusahaan di Jakarta Kamis (18/07/2019, pucuk pimpinan anak usaha PT Pertamina, Tbk ini mengatakan akan menggenjot penjualan dan pembangunan proyek properti.

Selain itu perusahaan juga akan memperluas cakupannya sebagai pengembang kawasan dan office building. Terkait hal itu, PT Patra Jasa menyiapkan modal kerja sebesar Rp 10 triliun dari kas internal dan eksternal untuk menggenjot pembangunan proyek ambisius tahun ini.

Patra Jasa memiliki 7 proyek prioritas tahun ini. Mulai dari ePolis di daerah Kuningan Jakarta, sebuah kawasan berbasis energi seluas 5,9 hektar juga Arkananta, sebuah hunian apartemen yang menyasar kelas atas.

Lalu, kawasan superblok di Cirebon, yang terdiri dari hotel bintang 4, 180 unit kamar, di lahan 5,5 hektar. kawasan mixed-use Simprug yang terdiri dari hotel bintang 3 dan 4.

Perusahaan ini juga segera membangun dua area di Yogyakarta, yakni kawasan mixed-use Baciro dengan luas 6.500 m2 yang terdiri dari hotel bintang 4, gedung konvensi dan exhebition hall. Lalu merenovasi Parta Comfort Sosrowijayan, hotel bintang 3 dan 100 unit kamar.

Dua hotel yang sedang dibangun adalah Patra Comfort Dumai, Riau, yang terdiri dari bintang 3 dengan 80 kamar serta Patra Comfort Puncak, yang terdiri dari 50 kamar berbintang 3.

Patra Jasa juga tengah menyelesaikan pembangunan residensial Urbano, yang terudiri dari 1.700 unit dan sudah menjalani proses 85% pembangunan di lahan seluas 3 hektar.

Sementara itu, terkait dengan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), Patra Jasa fokus pada pengembangan kearifan lokal masyarakat setempat.

Pada 2018, Patra Jasa ditunjuk selaku Pengelola Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Borobudur yang merupakan inisiatif pariwisata berbasis komunitas untuk kawasan Kecamatan Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Bersama 19 BUMN sponsor, Patra Jasa berupaya agar masyarakat di Kecamatan Borobudur dapat memperoleh manfaat ekonomis jangka panjang dari Candi Borobudur dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.

Saat ini telah terbangun 20 Balkondes yang total memiliki 224 kamar pondok wisata (homestay) dengan pendapatan sekitar Rp5 miliar per tahun.