Selasa, Juni 16, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 771

Bisnis Basah Tanaman Hias dalam Air

0

 

Dulu akuarium hanya digunakan untuk memelihara ikan hias, dan jika ada unsur lain di dalam akuarium sifatnya hanya ditambahkan untuk memperindah akuarium. Dalam aquascape justru menjadikan  tanaman air yang awalnya hanya elemen tambahan itu sebagai unsur utama.

Jauh sebelum aquascape makin booming di Indonesia, Harun seorang pembudidaya tanaman hias dalam air di daerah Gunung Bunder, Bogor, yang dikenal sebagai daerah sentra penghasil tanaman aquascape dan udang hias, dua puluh tahun lalu telah mulai membudidaya tanaman hias dalam air. Saat itu, Harun diminta seorang warga negara Belanda untuk menanam sekitar 100 jenis tanaman air di daerahnya. Karena lingkungan alam yang masih alami dan dekat dengan sumber air alami, Harun berhasil membudidayakannya. Hasil budidayanya semua ditampung oleh warga Belanda tersebut untuk dijual ke luar negeri.

Setelah 10 tahun bekerja sama, Harun tentu banyak tahu bagaimana cara membudidaya tanaman air meski hanya dari pengalaman tanpa pengetahuan teoritis. Karena itu, setelah rekanannya tersebut kembali ke negerinya pada tahun 2001, Harun terus membudidayakan tanaman hias air. Harun kemudian melanjutkan kerja sama dengan  PT Sunny Indoparamitha, perusahaan eksportir ikan dan tanaman hias air tawar.

Dengan makin banyaknya penggemar aquascape di Indonesia, kini selain ekspor, permintaan pasar dalam negeri juga makin tinggi. Harun bersama Riswan putranya, mengelola puluhan kolam budidaya dalam lahan seluas 4.000 meter persegi. Omset usaha mereka per bulan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tak heran jika kemudian banyak warga lain yang mengikuti jejak Harun. Kini daerah Kampung Cisalada, Kecamatan Panijahan, Gunung Bunder, dikenal sebagai sentra penghasil tanaman aquascape yang jadi penyuplai para pedagang aqua plant di berbagai daerah.

Menurut Bryant Pribadi, salah satu penggemar aquascape yang tergabung dalam komunitas Indo Aquascape mengatakan, saat ini perkembangan tanaman hias dalam air sangat baik, putaran uang di usaha ini cukup tinggi karena banyak dicari. Bryant menambhakan, jenis tanaman hias yang paling sering dicari penggemar aquascape adalah stamplant atau tanaman-tanaman yang mudah untuk dipelihara. Namun bagi mereka yang punya budget lebih, tanaman berkelas tinggi yang harga jualnya cukup mahal seperti Anubias dan Cerinum juga diminati. Kedua jenis tanaman hias tersebut harga jualnya cukup tinggi karena pertumbuhannya lambat.

Pada tanaman hias air, tidak mengenal usia panen. Pada usia berapa pun, tanaman hias sudah boleh dijual, asalkan kesehatan dan bentuk fisik dari tanaman itu sendiri terlihat bagus dan segar.

Jika dilihat dari perkembangan peminat aquascape, prospek usaha tanaman hias dalam air ini ke depan masih cerah. Namun jenis tanaman yang akan jadi primadona, tentu akan terjadi pergeseran. Karena itu disarankan untuk mengikuti terus perkembangan pasar dengan bergabung dalam komunitas penggemar aquscape dan mengikuti perkembangan tren lewat berbagai media.  Menurut Riswan, meski ada jenis yang tren, ia tidak meninggalkan jenis yang sedang tidak populer, karena yang tidak populer ini seringkali langka di pasar. Jadi ketika ada peminat yang mencari, ia bisa menjual dengan harga yang cukup tinggi.

Produksi 5.000 Meja Belajar Lipat Dari Limbah Kayu

0

Saat mendapat informasi dari seorang kerabat yang tinggal di Manado, Sulawesi Utara bahwa belum ada penjual meja belajar lipat kayu di daerah tersebut, Faisal tertarik untuk memproduksi meja belajar lipat kayu, untuk dipasarkan ke sana, karena ia melihatnya sebagai peluang besar. Dibantu oleh Andi pamannya, Faisal mulai merintis usaha dengan menempati rumah sang paman di Cileungsi sebagai tempat produksi.

Faisal mengeluarkan modal awal yang totalnya sekitar Rp 6 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli peralatan produksi seperti gergaji mesin berbentuk bulat yang dibelinya seharga Rp 1,3 juta, mesin serut kayu seharga Rp 850 ribu, serta bahan baku seperti kayu jati dan triplek. Karena, belum memiliki pengetahuan dan keterampilan membuat meja belajar lipat kayu, maka Faisal membeli meja belajar lipat kayu yang banyak dijual di pasaran untuk dijadikan contoh dan patokan dalam membuat meja belajar lipatnya. “Ternyata membuat meja ini tidak terlalu sulit, sekali melihat saja sudah bisa membuatnya,” terang Faisal.

Awalnya Faisal hanya memproduksi 500 meja belajar lipat, untuk dikirim ke kerabatnya yang berada di Manado yang menjadi  distributor pertama meja belajar lipat produksinya. Dari situ permintaan akan meja lipat mulai bertambah hingga ke kota-kota tetangga seperti Makassar. Dengan bertambahnya pesanan, maka Faisal menganggap perlu melakukan penambahan peralatan usaha. Faisal menghabiskan hingga Rp 30 juta untuk investasi tambahan membeli beberapa peralatan seperti mesin pemotong dan lain-lain. Walaupun baru berjalan sekitar enam bulan, kini dalam sebulan, Faisal bisa mengirimkan hingga 5.000 buah meja belajar lipat dengan omset mencapai sekitar Rp 60 juta.

Variasi Produk. Faisal membuat dua jenis meja lipat. Jenis pertama ialah meja lipat penuh, yang bagian permukaan meja maupun kaki meja bisa dilipat dan yang kedua ialah meja lipat sebagian yang hanya bagian kakinya saja yang bisa dilipat.

Meja lipat penuh terbagi dalam tiga ukuran, meja lipat penuh ukuran 45 x 15 cm (ukuran paling panjang) dijual dengan harga Rp 17 ribu per buah, ukuran 40×15 cm (ukuran sedang)  Rp 15 ribu per buah dan meja lipat penuh ukuran 33 x 20 cm (ukuran kecil) Rp 13.500. Sedangkan meja lipat separuh hanya ada ukuran 40 x 33 cm dijual dengan harga Rp 12 ribu. “Untuk saat ini meja lipat jenis lipat sempurna dengan ukuran sedang paling diminati oleh konsumen,” ujar Faisal.

Meja-meja tersebut pada bagian permukaannya dihiasi gambar dari poster tokoh kartun dan karakter lain yang tengah disukai anak-anak, antara lain Barbie, Naruto, Power Ranger, Upin Ipin, Sponge Bob, Princess, Spiderman, Ben 10, Barbie dan Thomas & Friend.

Diakui Faisal, produk meja lipat buatannya memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk yang lain terutama dalam hal kerapian dan kehalusan kayu yang digunakan. “Kalau meja lipat lain kayu yang digunakan tidak dibersihkan atau diserut terlebih dahulu jadi masih kelihatan kasar, sedangkan produk saya halus,” tambahnya sambil memperlihatkan contoh meja lipatnya.

Dari 5.000 meja lipat yang dijual, 3.000 buah dikirim ke Manado (Sulawesi Utara) dan sekitar 2.000 buah dikirim ke bebeberapa daerah di  Sulawesi Selatan, seperti Makassar dan ada sebagian kecil yang dijual di Jabodetabek.

Produksi. Untuk memproduksi meja lipat, Faisal memanfaatkan kayu-kayu limbah industri yang merupakan kayu sisa dari perusahaan-perusahaan mebel yang ada di sekitar tempat produksinya. Faisal memilih kayu Jati Belanda untuk bahan baku pembuatan meja lipatnya terutama untuk kaki meja sedangkan untuk permukaan mejanya Faisal memilih papan triplek dengan ketebalan 1,5 cm dengan harga per lembar Rp 47 ribu. Kayu Jati Belanda dipilih Faisal sebagai bahan baku selain karena mudah didapat, kayu ini juga memiliki beberapa keunggulan di antaranya memiliki urat kayu yang bagus (garis-garis kayunya teratur), ringan namun kuat dan apabila dipaku tidak pecah. Harga limbah kayu Jati Belanda per batang sebesar Rp 2.500. “Karena kayu itu kayu limbah maka ukuran dan jumlah dalam satu ikat tidak menentu,” tambahnya.

Selain bahan baku kayu dan triplek Faisal juga menggunakan poster bergambar kartun yang dibelinya dari pasar sekitar rumahnya  dengan harga Rp 550 per poster. Dalam sebulan Faisal menghabiskan anggaran sekitar Rp 30 juta untuk membeli bahan baku seperti kayu Jati Belanda dan papan serta bahan-bahan pendukung seperti poster dan lain-lain.

Menurut Faisal, membuat meja belajar lipat tidaklah sulit, yang pertama dilakukan adalah memotong papan atau triplek sesuai dengan ukuran meja yang diinginkan, misalany dengan  ukuran 45×15 cm, 40×15 cm, 33×20 cm dan ukuran 49×33 cm. Setelah memotong papan, langkah berikutnya ialah memotong kayu untuk kaki meja dengan ukuran yang sangat bervariasi seperti 20 dan 30 cm.

Papan yang telah dipotong sesuai ukuran kemudian ditempeli poster yang dinginkan. “Untuk meja lipat penuh, papan dipotong dua dengan ukuran yang sama,” jelasnya. Setelah dipasang poster, kemudian papan dirangkai dengan kayu yang dijadikan kaki meja. Poster yang digunakan untuk meja belajar lipat ini adalah poster biasa dari kertas karton yang banyak dijual di pasar dan setelah itu poster dilapisi plastik PP, agar poster lebih terlindungi serta tidak gampang rusak.

Pemasaran. Karena Faisal adalah pemain baru dalam usaha pembuatan meja belajar lipat dan untuk pasar Jabodetabek sudah dibanjiri oleh para pemain lama, maka Faisal memilih memasarkan produknya ke luar  Jawa  seperti Manado Sulawesi Selatan)  dan sekitarnya. Untuk pasar luar Jawa masih sangat terbuka karena saat ini belum banyak pelaku usaha ini yang menyasar pasar tersbut,” tambahnya. Untuk mencari konsumen dari daerah yang jauh, selain lewat kerabatnya yang menjadi distributor, Faisal juga memanfaatkan internet.

Untuk memperluas pasar, Faisal menggunakan sistem distributor dan keagenan untuk menjual produknya. Syarat menjadi distributor, pembelian awal minimal Rp 5 juta dan selanjutnya jumlah pemesanan minimal Rp 5 juta per bulan. Sedangkan untuk menjadi  Agen, pembelian awal minimal Rp 2,5 juta dan selanjutnya jumlah pemesanan minimal Rp. 2,5 juta per bulan. Disarankan untuk Distributor maupun Agen, mengambil semua jenis meja lipat yang diproduksi Faisal, agar banyak pilihan yang bisa diberikan kepada konsumen. Keuntungan untuk agen dan distributor adalah mendapatkan harga yang lebih murah dari harga yang ada selain itu akan medapatkan bantuan promosi. Untuk biaya pengiriman sendiri, seluruhnya ditanggung pembeli, menggunakan jasa pengiriman seperti TIKI.

Dalam rangka merambah pasar yang belum tergarap terutama di daerah maka Faisal akan membuat beberapa tempat produksi di beberapa lokasi seperti Solo maupun Jember. Untuk memenangkan persaingan dengan usaha sejenis Faisal selalu melakukan inovasi baik itu dari segi bentuk maupun gambar-gambar yang ditampilkan pada meja belajar buatannya.

Saat ini, Faisal juga sudah mulai menawarkan produk meja belajar lipatnya ke beberapa perusahaan. “Saya sudah mulai menawarkan meja belajar ini sebagai media pormosi, jadi gambar/poster yang tadinya adalah gambar kartun nantinya akan diganti menjadi gambar perusahaan atau lainnya,” terang Faisal.

 

Kolaborasi Jayamix by SCG dan Cashlez Beri Kemudahan Transaksi Non-tunai

0

 

Jayamix by SCG, perusahaan beton siap pakai pertama dan terbesar di Indonesia, yang merupakan anak perusahaan SCG di Indonesia melakukan inovasi pada proses transaksi dengan menggandeng Cashlez, perusahaan teknologi finansial terpercaya di bidang pembayaran di Indonesia.

Dengan kolaborasi ini, Jayamix by SCG berupaya meningkatkan pengalaman konsumen saat melakukan pembelian berbagai produk beton secara langsung di Jabodetabek menjadi lebih mudah, cepat, dan aman.

Anusorn Potchanabanpot, Country Director SCG Indonesia mengatakan Jayamix by SCG selalu mengedepankan dan meningkatkan pelayanan bagi konsumen.

“Sesuai dengan brand promise SCG, “Passion for Better”, berkolaborasi bersama Cashlez, memudahkan konsumen maupun tim sales kami. Konsumen dapat merasakan transaksi langsung dengan lebih aman dan nyaman di mana pun,” katanya.

“Tim sales kami juga semakin fleksibel dalam menjemput bola. Lebih dari itu, transaksi dapat di monitor secara real time sehingga mempercepat proses penjadwalan pengiriman beton ke konsumen. Jayamix by SCG merupakan perusahaan beton siap pakai (readymix) yang konsisten mempelopori produk dan layanan inovatif sebagaimana yang telah kami lakukan sebelumnya dengan menghadirkan produk di market place dan e-commerce terpercaya di Indonesia sehingga mudah dijangkau masyarakat,” tambahnya.

“Jayamix by SCG merupakan mitra bisnis kami dari bidang industri bahan bangunan. Kami senang telah dipercaya menjadi partner dari Jayamix by SCG untuk memberikan kemudahan bertransaksi yang ditujukan pada seluruh konsumen sehingga mereka dapat membeli seluruh produk Jayamix by SCG dengan kartu kredit, kartu debit, LinkAja, OVO, GoPay, dan Kredivo. Dengan kerjasama ini, kami berharap akan semakin mempermudah bisnis Jayamix by SCG dan terutama konsumen untuk merasakan manfaat dari transaksi non-tunai,” sambung Tan Leny Yonathan, Chief Revenue Officer (CRO) Cashlez

Cashlez, yang memiliki visi menjadi “Ultimate Payment Company in the Region”, secara konsisten dan persisten terus mewujudkan misi sebagai “Mitra terbaik bagi bank dan non-bank serta solusi bisnis terintegrasi terbaik bagi para pelaku usaha di semua segmen dalam berbagai industri”.

Saat ini Cashlez telah merangkul pelaku usaha dari berbagai segmen mulai dari industri ritel, fesyen, F&B, hingga pariwisata serta telah melakukan ekspansi ke berbagai kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Medan, Yogyakarta dan Makassar. Jayamix by SCG pun telah memperluas penetrasi Cashlez di bidang industri bahan bangunan, khususnya beton.

Jayamix by SCG dan Cashlez menjadi sebuah kolaborasi yang strategis mengingat keduanya merupakan perusahaan yang besar di industrinya. Dengan keunggulan-keunggulan yang diberikan, keduanya berharap akan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dari berbagai kalangan untuk merasakan kemudahan transaksi non-tunai dalam melakukan konstruksi.

 

Sebulan Bisa Jual 30.000 Ekor Udang Hias Red Cherry

0

Mukti mengawali usaha budidaya udang hias jenis Red Cherry sekitar tahun 2008. Modal yang dikeluarkannya saat itu  Rp 200 ribu untuk membeli 100 ekor bibit udang hiasa jenis Red Chery dari seorang importer. Selain itu, Mukti juga  mengeluarkan biaya investasi tambahan untuk membuat kolam semen, sebesar Rp 2 juta. Hanya dalam waktu 3 bulan, modal awal tersebut sudah bisa kembali.

Produk. Di kolamnya, Mukti memelihara dan menjual udang hias jenis Red Cherry, yang mempunyai ciri warna merah yang cemerlang yang dominan dengan selingan warna putih. Udang jenis ini biasa dipelihara pehobi untuk mempercantik  akuarium air tawar dalam tatanan aquascape. Tak hanya berfungsi sebagai komponen yang menghiasi, Red Chery juga dipelihara untuk tujuan memakan kotoran ganggang dan organik yang membuat Udang Red Cherry menjadi awak pembersih akuarium. Udang ini yang sangat mudah beradaptasi di akuarium air tawar mana pun dengan penyaringan dan kualitas air yang baik.

Karena sifatnya yang lebih adaptif, pemeliharaan dan budidaya Red Chery lebih mudah dilakukan. Karena itu Mukti memilih memelihara jenis ini. Sayangnya karena mudah dan cukup banyak di pasaran, harga jualnya lebih murah dibanding jenis lain. Meski demikian, Mukti jadi bisa memenuhi kebutuhan pasar lebih besar.

Sewaktu baru mengawali usahanya harga udang hias cukup tinggi sekitar Rp 2 ribu/ekor namun saat ini harga per ekornya sudah turun mencapai Rp 200/ekor. Lantaran sudah banyak penduduk sekitar menjalani usaha budidaya udang hias sejenis, sehingga harga pasaran untuk udang menurun. Namun begitu, dalam sebulan, ia masih mampu menjual udang hias jenis Red Cherry sebanyak 30.000 ekor ke pasaran.

Umur udang yang sudah bisa dijual mencapai 1–1,5 bulan dengan ukuran 1,8–2 cm. Tidak hanya untuk pasar lokal, udang hias Red Chery juga diekspor. Mukti sendiri, sering menjual udangnya ke eksportir atau pada para pengepul yang menjadi supplier ekportir udang hias.

Meski Mukti hanya membudidaya udang hias jenis Red Cherry saja, namun apabila ada permintaan untuk udang jenis lain, misalnya jenis Red Crystal, maka Mukti akan memesan kepada temannya, biasanya ia tinggal menghubungi melalui telepon kemudian pesanan dikirim ke tempatnya. Tidak hanya Mukti yang membudidayakan, namun ada beberapa pembudidaya lain dengan jenis–jenis yang berbeda, seperti  Red Cherry, Red Crystal, dan Black Crystal.

Teknik Budidaya Red Chery. Peralatan yang dibutuhkan untuk proses pembudidayaan adalah kolam semen berukuran 1,5 x 1 meter dengan kedalaman sekitar 50 cm dan saringan. Udang jenis Red Cherry ini tidak sulit untuk diperbanyak. Proses membudidaya udang hias  juga cukup mudah.

Langkah pertama ialah  dengan mengendapkan air sungai selama dua hari. Digunakan aiar sungai, karena karakter air sungai ini juga sesuai dengan habitat asli udang hias air tawar ini. Meski demikian tetap harus diendapkan terlebih dulu untuk mendapatkan pH yang berkisar 6–7 dan suhu yang pas. Proses pengendapan air tersebut berfungsi agar udang tidak mati saat dimasukkan ke tempat baru.

Kemudian dimasukkan induk jantan dan betina secara bersamaan. Perbedaan antara indukan betina dengan jantan tidak terlalu berbeda bila dilihat dari corak warna. Yang membedakan dapat dilihat dari bentuk fisiknya, indukan betina dapat dilihat dari perutnya bila sedang mangandung terlihat telur-telurnya, sedangkan corak warnanya sama saja yaitu merah yang terdapat pada keseluruhan bagian tubuh udang, ukuran betina lebih besar sedangkan ukauran pejantan lebih kecil.

Taruh eceng gondok di dalam kolam untuk memudahkan proses perkawinan, dan sebagai tempat telur–telur udang sehingga tidak jatuh ke dasar tanah atau kolam.  Nantinya, sang betina akan membawa (digendong) telur-telurnya yang berwarna kekuningan di di bawah ekornya sampai dengan telur menetas dalam waktu sekitar 30 hari. Udang yang baru lahir tersebut akan tampak seperti udang dewasa mini dan mereka akan memakan pakan yang sama seperti udang-udang dewasa.

Setelah 2–3 bulan, angkat udang secara keseluruhan, mulai dari indukan sampai anak yang sudah menetas. Udang yang telah berukuran lebih dari 1,5 cm dipindahkan ke kolam lain untuk pembesaran.

Untuk pemberian pakan, Mukti biasanya memberikan pelet merek Feng Lie yang ia beli di pasar Parung. Pemberian pakan ini cukup satu kali dalam sehari, misalnya pada pagi atau sore hari saja. Namun, apabila ingin udang–udang tersebut cepat tumbuh, bisa juga diberi makan dua kali, yaitu pada pagi dan sore.

Jenis penyakit yang menyerang udang jenis Red Cherry ini hampir tidak ada.  Dengan demikian, bila  ada kendala terutama hanya berkait  pada faktor air, apabila kondisi air tidak diperhatikan, maka akan mempengaruhi proses perkawinan. Bila kondisi air tidak sesuai, kemungkinan udang hidup hanya sekitar 20%. Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan dari proses perkawinan udang jenis Red Cherry ini adalah cuaca. “Kalau cuaca teratur dan bagus, maka perkawinan bisa berjalan dengan baik dan mengurangi persentase kematian udang,” jelas Mukti.

Dalam mengelola usahanya ini, Mukti dibantu oleh dua orang karyawan yang bertugas untuk memberikan pakan untuk udang-udangnya. Sementara Mukti menangani pemasaran dan penyediaan stok pakan. Upah yang diberikan kepada kedua karyawannya masing-masing Rp 1 juta per bulan.

Pengeluaran Mukti yang lain adalah untuk membeli pakan udang merek Feng Lie sebanyak 5 kg dengan harga Rp 27 ribu per kg, transportasi Rp 500 ribu, upah petani sebanyak 2 orang masing–masing Rp 1 juta, biaya untuk 5 kg packing plastik berukuran 40 cm x 60 cm Rp 22 ribu per kg, serta satu buah tabung oksigen seharga Rp 80 ribu.

Promosi dan Pemasaran. Selama ini promosi yang dilakukan Mukti dengan cara menawarkan dari mulut ke mulut kepada pelanggannya mulai dari pembeli lokal hingga eksportir yang sudah dikenalnya. Namun, karena sebagian besar pembeli telah mengetahui daerah Ciampea merupakan penghasil udang hias, maka Mukti tidak terlalu sulit untuk menawarkan kepada pembeli.

Daerah jangkauan pemasaran Mukti meliputi Bekasi, Cibinong, Sawangan, Depok, dan daerah-daerah Bogor lainnya. Calon pembeli yang berminat membeli udang hias milik Mukti biasanya menelepon ke ponsel pribadinya dan pesanan langsung dikirim. Namun, terkadang ada juga yang datang ke lokasi untuk melihat langsung. Untuk mengirimkan pesanan udang hias, Mukti memakai jasa ojek dengan ongkos kirim berkisar Rp 80–100 ribu. Minimal order untuk pemesanan udang yang dikirimkan biasanya mencapai 5.000–10.000 ekor.

Tidak hanya untuk pasar lokal, pemesanan juga hingga ke Jambi bahkan luar negeri. Beberapa negara yang memesan udang hias Red Cherry kepadanya berasal dari Singapura, Siria, dan Amerika. Untuk menawarkan udang Red Cherry yang biasa dilakukan Mukti dengan cara mengirimkan udangnya ke eksportir, sebagian ada yang diambil oleh pengepul yang menjadi supplier bagi eksportir.

Penguaha Peralatan Outdoor Consina Melejit Saat Krisis Moneter

0

 

Perkenalan pria bernama lengkap Disyon Toba ini dengan produk-produk outdoor dimulai sejak tahun 1998. Pada tahun tersebut Disyon menjadi  pengecer produk outdoor merek luar negeri The North Face yang mempunyai pabrik di Indonesia. Namun, karena pada tahun tersebut Indonesia menghadapi krisis ekonomi yang sangat dahsyat, maka banyak perusahaan dari luar negeri yang hengkang dari Indonesia dan salah satunya pabrik The North Face. Seperti dikatakan Disyon, The North Face meninggalkan banyak sisa  bahan baku yang belum sempat digunakan untuk produksi.

Bagi Disyon, bahan sisa tersebut dilihat sebagai peluang, yang harus dimanfaatkan. Pada 13 April 1999 Disyon mencoba untuk menjalankan usaha pembuatan peralatan outdoor yang diberi nama Consina. Nama Consina sendiri diambil dari nama almarhum sang kakak. Dengan modal uang yang besarnya tidak sampai  Rp 1 juta Disyon membeli limbah-limbah tersebut dan untuk membayar ongkos tukang jahit di kawasan Cakung.

Pada awal menjalankan usaha barunya sebagai pembuat produk-produk outdoor, Disyon mengerjakan semua proses mulai dari pengadaan bahan, desain produk, sampai pemasaran. Sedangkan untuk proses penjahitan, Disyon menyerahkannya kepada penjahit yang berada di daerah Cakung. Produk yang pertama kali dibuat Disyon adalah tas dan kemudian berkembang ke peralatan penggiat alam bebas lainnya.

Selama perjalanan usaha pembuatan peralatan outdoor banyak suka duka yang Disyon alami. Seperti pada tahun 2001 saat usahanya sudah mulai berkembang pesat,   Disyon yang juga sibuk kuliah tidak terlalu mengontrol usahanya, dan akhirnya Disyon dicurangi oleh karyawannya, yang memakai bahan baku Consina untuk dimanfaatkan secara pribadi oleh karyawan tersebut.

Akibat kejadian itu Disyon mengalami banyak kerugian. Disyon mendapatkan pelajaran berharga untuk lebih teliti dalam merekrut karyawan dan lebih ketat dalam mengawasi para karyawannya. Kejadian tersebut tidak membuatnya patah semangat untuk menjalankan usaha perlengkapan autdoor, bahkan berhasil bangkit kembali dan kini Disyon telah memiliki 200 karyawan.

Setelah kejadian tersebut, tempat produksi yang semula berada di kawasan Cakung, dipindahkan ke tempat di dekat rumahnya daerah Buaran agar bisa lebih terkendali. Kini Consina mampu menjadi salah satu penyedia peralatan olahraga outdoor buatan lokal yang di kenal.

Saat ini, perkembangan usaha yang dijalani Disyon semakin baik, hal tersbut bisa dilihat dari perkembangan outlet yang dimiliknya. “Saat ini saya memiliki dua outlet resmi di Jakarta dan dua outlet di Bali yang masih dalam status sewa,” terangnya. Dari satu outlet saja, omsetnya bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta perbulan, belum lagi dari yang dijual di luar outlet sendiri. Selain itu Disyon  telah memiliki tiga tempat produksi di Bekasi dan Jakarta. Selain di outlet-nya sendiri, produk Consina juga banyak dijual di toko atau outlet yang menjual outdoor equipment di berbagai daerah.

Produk-produk Consina telah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Consina kini tidak hanya memproduksi tas saja tapi sudah meluas ke berbagai produk seperti jaket, sarung tangan, celana, T-shirt dll yang jumlahnya ratusan jenis dan desain dengan harga mulai dari Rp 13 ribu untuk produk yang termurah yaitu Bandana sampai dengan jaket seharga Rp 500 ribuan untuk item yang paling mahal. Bahkan kini Consina juga memiliki Consina the Outdoor Services yaitu layanan jasa untuk mengatur kegiatan outdoor yang sudah berjalan selama dua tahun ini.

Keunggulan produk Consina dibandingkan dengan produk peralatan outdoor lokal yang lain adalah pertama dari segi harga sangat ramah di kantong membuat Consina banyak dicari, kemudian dari desain dan warna yang berani dengan memakai warna-warna yang terang, selain itu juga produk Consina khususnya tas terlihat sporty dan slim.

Diakui Disyon, karena tidak fokus pada usahanya ia merasa sempat mengalami kesalahan strategi selama menjalankan usaha. Saat itu Disyon menceritakan, uang hasil usaha dari Consina diputar untuk usaha lain namun ia sering kena tipu, oleh karena itu akhirnya dua tahun belakangan Disyon memilih kembali fokus untuk menjalankan Consina saja, dan benar saja perputaran uangnya pun kian meningkat.

Kendala usaha tidak hanya dialami Disyon untuk mendapatkan pasar di daerah yang penuh perjuangan, namun ia juga pernah mengalami persaingan usaha yang tidak sehat seperti saat usahanya diisukan sudah tutup, atau isu tentang kualitas produk Consina yang di bawah standar. Hal-hal tersebut ditanggapi Disyon dengan hati lapang, ia terus maju berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi kelangsungan Consina.

Berbagai nilai-nilai positif yang diajarkan oleh kedua orangtuanya turut membentuk kesuksesannya seperti sekarang ini. Jiwa wirausahawan yang ada pada dirinya, didapatkan semenjak kecil. Saat itu Disyon sering membantu ibunya menjaga warung. Sedangkan profesi ayahnya yang seorang polisi, membentuk Disyon menjadi seseorang yang displin.  Tidak hanya keluarga, namun dari pengalamannya naik –turun gunung Disyon pun diasah untuk mengatur strategi, gigih, tekun, dan berusaha karena kalo naik gunung itu mesti mikir dan banyak berusaha

Legitnya Laba  Usaha Brownies Singkong

0

 

Sebuah produk yang “tidak biasa”, biasanya mampu menarik perhatian, hal itu disadari benar oleh Sigit Susilo dan kawan-kawan ketika merintis usaha Brownies. Mereka sengaja mencari bahan baku alternatif yang tidak biasa, untuk membuat diferensiasi dengan produk yang sudah ada sebelumnya. Sigit pun mencoba membuat  Brownies  berbahan talas dan ubi. Namun karena sulit mendapatkan bahan baku talas dan ubi, maka mereka pun beralih menggunakan tepung singkong yang harganya lebih murah.

Lain lagi dengan Ike Dahlia Cambey. Ike yang hobi membuat kue, tertarik membuat Brownies Singkong karena prihatin melihat Getuk, makanan dari singkong yang semakin ditinggalkan generasi muda. “Padahal singkong adalah bahan makanan yang banyak dihasilkan di Indonesia, tidak seperti gandum yang tidak bisa tumbuh di sini,” ungkap Ike. Hal itulah yang mendorongnya untuk berkreasi membuat Brownis dari bahan singkong.

Modal Awal dan Proyeksi Keuntungan. Kini dua pelaku usaha tersebut telah berhasil mendapatkan hasil dari apa yang dirintisnya. Sigit dengan berbagai macam variasi produk Brownies Singkong-nya mampu meraih omset hingga Rp 50 juta per bulan, sedangkan Ike bisa memperoleh omset Rp 18 juta per bulan dari tiga varian Brownies Singkong buatannya. Keuntungan bersih dari usaha ini berkisar antara 27-30% dari omset yang diperoleh.

Sementara untuk memulai usaha tidak membutuhkan modal yang besar, karena bisa dilakukan dengan peralatan membuat kue standar seperti, timbangan untuk menakar bahan, kukusan, loyang, mixer, kompor gas, baskom untuk wadah mengocok adonan, spatula untuk mengoles, dan parutan keju, ditambah oven jika ingin membuat Brownies Panggang. Ike Dahlia Cambey misalnya, mengaku saat memulai usaha hanya mengeluarkan modal antara Rp 500-600 ribu untuk membeli bahan baku dan kemasan, karena banyak peralatan yang sudah dimiliki sebelumnya. Sementara Sigit, yang memulai semuanya tanpa punya alat apapun, mengaku mengeluarkan Rp 5 juta untuk modal awal, sudah berikut etalase untuk menjual produk dan beberapa alat promosi seperti spanduk.

Bahan Baku. Bahan baku utama yang digunakan untuk membuat Brownies Singkong adalah tepung singkong. Tepung singkong berbeda dengan tepung tapioka yang juga terbuat dari singkong. Menurut Cucu Cahyana, dosen dari jurusan Tata Boga dari Universitas Negeri Jakarta, tepung singkong adalah tepung yang terbuat dari singkong yang sudah dikeringkan sedangkan tepung tapioka terbuat dari pati singkong. Tepung ini bersifat hidroskopis atau menyerap air, bila dipanaskan dengan air tepung ini akan mengental dan lengket. Mski terbuat dari singkong yang telah dikeringkan, tepung singkong juga berbeda dengan tepung gaplek, atau singkong yang dikeringkan beberapa hari dengan sinar matahari. Tepung gaplek warnanya kekuningan karena proses pengeringan yang lama, sementara tepung singkong jauh lebih putih.

Menurut Cucu, dari ketiga jenis tepung di atas, yang baik digunakan sebagai bahan baku Brownies adalah tepung singkong. Selain warnanya yang putih, tepung singkong tidak beraroma kuat seperti tepung tapioka dan tepung gaplek.

Bila dibandingkan dengan tepung terigu sebagai bahan baku Brownies, tepung singkong memiliki kelebihan tersendiri. Kelebihannya antara lain, lebih ekonomis, karena tepung singkong harganya Rp 5.000/kg sedangkan tepung terigu Rp 7000/kg; Tepung singkong berwarna putih sehingga menghasilkan warna Brownies yang lebih cerah; Tepung singkong bersifat padat, yang berarti jumlah pemakainya lebih sedikit berbanding tepung terigu; Secara alami  tepung singkong memiliki rasa yang lebih manis sehingga mengurangi penggunaan gula; Dan, dengan kandungan pati dalam tepung singkong juga menyebabkan proses pengolahan menjadi lebih cepat matang.

Menurut pakar kuliner Etty Sumaryati, jika membandingkan tepung singkong dengan terigu untuk membuat Brownies, dari sisi rasa produk yang dihasilkan, tidak berbeda jauh. “Asal benar mengolahnya, hasil dari tepung singkong tidak kalah dengan terigu,” ungkapnya.  Namun mengenai lebih ekonomis, Etty justru menyayangkan tepung singkong yang tidak bisa dengan mudah dibeli di pasaran. Jadi meskipun harga dasarnya mungking lebih murah tepung singkong, namun di pasar karena sulit diperoleh bisa jadi lebih mahal.

Karena itu, salah satu yang penting untuk dilakukan pelaku usaha Brownies Singkong adalah bagaimana mendapatkan bahan baku utamanya secara stabil. Sigit telah mengatisipasi hal tersebut. Untuk mendapat pasokan tepung singkong, Sigit bekerja sama dengan Balai Besar Pasca Panen Bogor yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar, Bogor. Selain itu, ia juga mendapat suplai dari UKM yang bergerak dalam bidang pembuatan tepung singkong yang ada di Cibinong. Menurut Sigit, ia perlu memiliki dua supplier agar dapat memenuhi kebutuhan produksinya. Sementara Ike, juga berhubungan langsung dengan produsen tepung singkong bahkan menjadi salah satu distributornya.

Ada satu jenis tepung lagi yang terbuat dari singkong, yaitu mocal atau mocaf, singkatan dari  Modified Cassava Flour yang berarti tepung singkong yang dimodifikasi menggunakan prinsip memodifikasi sel singkong secara fermentasi. Tepung ini memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas (kekentalan), kemampuan gelasi (pembentukan gel), daya rehidrasi dan kemudahan melarut yang lebih baik. Tepung ini digadang-gadang menjadi tepung singkong alternatif pengganti terigu, karena cocok digunakan untuk beragam jenis makanan.

Selain menggunakan tepung singkong, membuat Brownies Singkong bisa juga menggunakan singkong yang dikukus kemudian diparut.  Brownies yang dihasilkan pun tidak jauh berbeda antara tepung singkong dengan parutan singkong kukus. Yang perlu diperhatikan, singkong kukus yang diparut kandungan airnya masih lebih tinggi berbanding tepung singkong. Jadi jumlah penggunaannya akan lebih banyak berbanding tepung singkong. Hal ini juga akan berdampak pada masa simpan Brownies yang lebih pendek. Pelaku usaha, yang kapasitas produksinya sudah lumayan besar rata-rata memilih menggunakan tepung terigu, karena jauh lebih praktis.

Ada dua cara pembuatan Brownies yang biasa digunakan yaitu dipanggang dan dikukus, kedua cara ini memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Menurut Cucu Cahyana berdasarkan sifat bahan, teknik kukus yang lebih tepat digunakan. Karena tepung singkong memiliki kandungan pati, sifatnya hidroskopis atau menyerap air. Bila menggunakan teknik panggang akan menyebabkan tekstur Brownies menjadi kering sedangkan bila menggunakan teknik kukus kandungan air dalam Brownies tidak banyak yang hilang sehingga teksturnya tetap lembut. Namun menurut Etty Sumaryati, jika ingin lebih awet Brownies yang dipanggang di oven akan lebih awet karena tidak banyak kandungan air.

Promosi dan Pemasaran. Dengan membuat produk yang tidak biasa, sudah jadi daya tarik tersendiri bagi Brownies Singkong. Namun sebagai produk yang tidak biasa, tentu pasar juga belum banyak yang tahu. Karena itu butuh cara-cara promosi yang efektif. Bazar dan pameran adalah salah satu cara yang paling banyak digunakan untuk memperkenalkan produk baru.

Selain itu menurut Harry Wahyudi, pengamat sekaligus praktisi bisnis kuliner, Brownies Singkong membutuhkan kompetitor. Karena dengan adanya persaingan dan banyak yang menjalani usaha ini, maka perkembangan Brownies Singkong ini akan lebih dikenal oleh masyarakat. Jadi munculnya kompetitor ada sisi positif dan negatifnya. Untuk lebih dikenal masyarakat publikasi melalui media massa dengan segmen yang tepat bisa sangat membantu. Selain itu pemanfaatan teknologi informasi yang murah dan makin meluas penggunanya juga patut dilakukan.

Menurut Harry, kunci kesuksesan bisnis kuliner ialah rasa makanan harus diterima oleh seluruh kalangan masyarakat. Seunik apapun makanan yang dijual, sebagus apapun kemasannya dan sehebat apapun cara promosinya, bila produk tidak sesuai dengan selera pasar, itu bisa dipastikan gagal,  hanya akan heboh sesaat kemudian akan surut. Karena itu kekuatan produk dari segi rasa adalah yang utama, meski tentu harus juga didukung yang lain.

Sukses Berwirausaha Butuh Kepemimpinan yang Benar

0

 

Bicara mengenai kepemimpinan adalah berbicara suatu hal yang cukup luas cakupannya, namun dalam kesempatan kali ini saya akan membahas practical skills yang Anda perlukan. Seringkali para pewirausaha pemula berpikir bahwa ketika bicara wirausaha berarti kita berbicara mengenai modal dan skill. Hal tersebut tidak salah tetapi juga tidak benar seratus persen.

Anda boleh memiliki keahlian, modal, Anda jago jualan dan pemasaran. Ketika Anda masih melakukannya sendirian, sebetulnya Anda masih memiliki kendala terbesar. Coba Anda berpikir, seandainya Anda suatu saat ingin menikmati liburan dan Anda harus meninggalkan usaha Anda. Pertanyaannya adalah berapa lama Anda mampu berliburan tanpa memikirkan sedikit pun tentang usaha Anda? Berapa potensi pendapatan usaha Anda yang hilang tanpa kehadiran Anda? Semua itu akan terjadi kalau Anda tidak memilki keahlian untuk bisa memimpin orang lain.

Kepemimpinan sejati adalah ketika Anda bisa memberikan perintah kepada orang lain dan orang tersebut menjalankannya dengan senang hati bahkan tidak akan berhenti melakukannya sebelum Anda memerintahkan mereka untuk berhenti. Kepemimpinan sejati bicara tentang kemampuan Anda untuk mengembangkan potensi orang lain. Kepemimpinan sejati bicara bagaimana orang-orang yang secara pengetahuan dan keahlian lebih dari Anda tetapi mau bekerja pada Anda. Kepemimpinan sejati bicara walk the talk, bekerja seperti yang Anda katakan sendiri.

Ketika berwirausaha, Anda menjadi bos untuk diri sendiri. Seringkali diartikan menjadi seenaknya untuk masuk dan keluar kantor atau bekerja kapan saja sesuai dengan kemauan kita. Itu memang impian semua orang ketika menjadi wirausahawan, akan tetapi itu bisa terwujud kalau Anda sudah membangun sebuah sistem.

Sistem tersebut bisa dibangun kalau Anda memiliki kemampuan analisis yang tajam terhadap kelebihan dan kekurangan cara kerja usaha Anda. Kalau Anda membangun semuanya SENDIRIAN kira-kira Anda akan butuh berapa tahun untuk bisa liburan dengan tenang? Dengan mempertajam keahlian kepemimpinan, Anda bisa mewujudkan impian-impian yang Anda bangun dalam waktu yang lebih cepat.

Kalau begitu apa yang harus Anda lakukan untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses? Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa Anda praktikkan:

  1. Belajar untuk mempercayai orang lain. Delegasi adalah hal terpenting yang perlu Anda lakukan ketika berbicara wirausaha yang sukses. Ingatlah bahwa Anda akan perlu orang lain untuk mengembangkan usaha Anda. Awalnya memang sulit, tetapi Anda sudah melalui hal ini sebelumnya bahkan from the tough way. Jadi biarkan mereka melakukan kesalahan, cukup beritahukan mereka agar mereka bisa memperbaiki.
  2. Perhatikan hukum 100 – 50 – 200. Kalau Anda melakukan suatu hal yang benar, pengikut Anda akan meniru sekitar 50% dari apa yang Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sebuah kesalahan maka pengikut Anda akan melakukan 200% dari yang Anda lakukan. Usahakan untuk selalu memberikan contoh perilaku yang baik seperti datang lebih pagi dan pulang paling akhir.
  3. Selalu menjadi yang rendah hati. Ingatlah bahwa Anda memimpin manusia jadi selalulah rendah hati, apalagi kalau Anda memimpin orang yang dari segi apapun lebih dari Anda. Dengan merendahkan hati Anda, sebetulnya Anda sedang ‘mengambil’ keuntungan dari orang tersebut tanpa orang itu merasakan kerugian.
  4. To lead is to serve. Memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang bekerja untuk Anda. Saya tidak berbicara mengenai materi yang dapat Anda berikan melainkan sikap Anda terhadap mereka. Anda tidak boleh pelit untuk memberikan pujian, jangan segan-segan menegur kalau mereka melakukan kesalahan. Rayakan kemenangan bersama-sama dengan mereka. Bersama juga merenungi kekalahan yang Anda alami. Berikan empati yang mendalam kepada setiap anggota team dalam perusahaan Anda tanpa harus menyalahi peraturan yang sudah Anda tulis sendiri.

 

Oleh: Antonius Karya,

Master Trainer and Lead Consultant,

dari FinanSaleS MindTech TCC

Memenangkan Persaingan Usaha Kuliner yang Berlokasi di  Foodcourt

0

 

Usaha makanan termasuk usaha yang menarik dan berprospek karena tren perilaku orang makan di luar semakin besar saat ini. Kalau dilihat, Anda membuka usaha di foodcourt. Usaha di foodcourt sangat tergantung pada jumlah pengunjung yang datang ke pusat pembelanjaan tersebut. Jadi untuk melihat prospeknya, kita lihat dulu jumlah pengunjung yang masuk ke pusat pembelanjaan di mana foodcourt tersebut berada.

Kalau jumlah pengunjungnya cukup besar, maka strategi kita adalah menarik pengunjung di dalam pusat pembelanjaan itu menuju ke foodcourt kita. Ini sering kali dinamakan sebagai magnet penarik. Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah melakukan komunikasi atau promosi yang gencar terhadap para pengunjung. Cara konvensional pertama adalah memasang standing banner –iklan memakai kain plastik yang berdiri- di beberapa lantai (tentunya seijin pengelola).

Kedua adalah dengan menyebar selebaran atau flyer ke pengunjung yang masuk ke pusat pembelanjaan tersebut. Ini bisa dilakukan di tempat parkir kendaraan saat pengunjung mengambil karcis parkir, saat pengunjung masuk di pintu utama, atau dengan menitipkan di konter-konter lain yang laris di pusat pembelanjaan tersebut. Supaya menarik, jangan hanya sekadar brosur pemberitahuan namun mengandung sesuatu yang bernilai di selebaran tersebut. Jadi orang merasa sayang kalau membuangnya.

Kita bisa berikan sesuatu yang murah namun membuat pengunjung datang ke stan kita di foodcourt. Misalnya di selebaran tertulis: “Kunjungi stan Coto Makassar kami di foodcourt lantai …, tukarkan selebaran ini dengan 1 gelas es teh gratis” atau kalau masih mungkin dalam bentuk diskon. Tentu ini ada ongkosnya dan dihitung yang ongkosnya tidak mahal. Jadi sasaran kita adalah manarik sebanyak mungkin pengunjung datang dulu ke stan foodcourt kita.

Pemilihan jenis makanan yang berbeda memang perlu. Apalagi kalau kita kalah bersaing dari segi nama dibanding pesaing yang sudah ada atau nama usaha kita belum terkenal. Dengan menawarkan jenis masakan yang berbeda lebih besar peluangnya dilirik pengunjung. Berkaitan dengan pertanyaan, berikut jawabannya:

  1. Terlalu banyaknya rumah makan padang di suatu area tentu membuat persaingan antar rumah makan padang menjadi demikian tajam di daerah itu. Apalagi kalau saya lihat sudah ada RM Padang Sederhana yang cukup terkenal enak dan ada di mana-mana. Untuk itu kalau kita membuka RM Padang harus ada menu unggulan yang tidak dimiliki pesaing. Misalnya kita tawarkan Soto Padang tadi yang benar-benar rasanya enak. Jadi kita harus punya produk unggulan tertentu.
  2. Untuk menentukan harga, kita harus hitung ongkos bahannya dulu, lalu tambah komisi sewa 15%. Setelah itu kita lihat harga pesaing. Karena lokasinya di kalangan menengah bawah maka harga harus kita sesuaikan dengan kantong mereka. Tidak bisa terlalu mahal, minimal mendekati harga pesaing yang ada. Penetapan harga Anda saya pikir sudah pada rentang yang pas. Harga Rawon masih bisa sama dengan Rp 12.000. Untuk menimbulkan kesan murah, bisa dibuat paket dengan minuman. Misal Coto Makassar plus Teh Hangat Rp 13.000.

Selama barang yang kita tawarkan tidak ada nilai lebih, tentu penetapan harga medium lebih pas. Harga juga tidak harus selalu ditetapkan sangat murah yang justru menimbulkan kesan mutu terlalu rendah atau “ada sesuatu yang tidak beres”. Memang, sebaiknya dihitung dulu dari segi titik impasnya (BEP). Lalu dihitung berapa target jumlah yang bisa dijual dengan harga tertentu.

  1. Untuk menutup usaha, jangan terburu-buru dalam hitungan 1 minggu. Seringkali yang digunakan untuk ukuran adalah 3 bulan. Mengapa? Alasannya belum banyak orang yang mengenal bisnis kita. Kalau dalam waktu 1 minggu masih sepi bisa jadi itu karena orang belum banyak yang mengenalnya. Belum banyak orang yang melihat rumah makan kita. Belum banyak orang yang menceritakan atau merekomendasikan bisnis kita. Atau, belum banyak yang kembali lagi.

Saya amati beberapa rumah makan menjadi laris kadang membutuhkan waktu 3-6 bulan dari waktu buka pertama kali. Untuk itu tenggang waktu 3 bulan digunakan untuk mengenalkan bisnis kita ke konsumen. Ini bisa dilakukan dengan menyebar brosur dan iklan. Memang, kalau ada tren jumlahnya menurun perlu segera lakukan perbaikan. Mungkin rasanya, mungkin pelayanannya yang perlu dibenahi. Untuk itu saran saya lakukan promosi lebih gencar untuk Soto Padang yang ada saat ini.

Selamat berbisnis dan semoga makin laris.

 

Oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetiya Mulya,

Penulis Buku “Jurus – jurus Sakti Wirausaha”,

Mitsubishi Motors dan PLN Sinergi Sediakan Fasilitas Home Charging Mobil Listrik

 

Mitsubishi Motors kembali menunjukkan keseriusannya dalam hal peralihan era mobilitas yang lebih ramah lingkungan di Indonesia. Setelah meresmikan joint study menggunakan sistem solar panel di Sumba Daya Barat Bersama Kyodenco. Co dan juga BPPT, sekarang PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menjalin kerjasama dengan PT PLN (Persero).

PT MMKSI dan PT PLN melakukan penandatanganan nota kesepahaman dalam penyediaan fasilitas pengisian daya mobil listrik. Prosesi penandatanganan dilakukan pada 16 Oktober 2019 di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia. Kerjasama antara PT MMKSI dengan PT PLN ini dilakukan dalam rangka memberikan kemudahan bagi pengguna mobil listrik Mitsubishi Motors di Indonesia.

Sebagai perwakilan dari kedua belah pihak, nota kesepahaman ditandatangani oleh Plt. Direktur Utama PT PLN, Sripeni Inten Cahyani, serta Naoya Nakamura selaku Presiden Direktur PT MMKSI. Turut hadir dalam prosesi penandatanganan kerjasama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan.

PT MMKSI sendiri sudah meluncurkan kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle, Mitsubishi OUTLANDER PHEV untuk pasar otomotif Indonesia sebagai mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle pertama yang dipasarkan di Indonesia. Dan untuk setiap pembelian OUTLANDER PHEV, secara otomatis konsumen mendapatkan fasilitas pengisian daya Type 1 (AC) yang akan dipasangkan di rumah konsumen.

Untuk menunjang fasilitas pengisian daya di rumah konsumen, melalui kerjasama ini, setiap pemasangan home charging OUTLANDER PHEV akan disediakan paket layanan untuk kecukupan daya sambungan listrik pelanggan dan fasilitas power connecting port (AC) sebagai bentuk dukungan dari PT PLN.

“Untuk mewujudkan mobilitas yang lebih maju dan ramah lingkungan, kami terus berupaya mendukung pengembangan mobil listrik dan infrastrukturnya di Indonesia. Sejalan dengan langkah pemerintah Indonesia dalam percepatan program mobil listrik berbasis baterai, kali ini kami bekerjasama dengan pemerintah melalui PT PLN dalam penyediaan fasilitas pengisian daya mobil listrik di rumah konsumen. Kerjasama ini akan memberikan kemudahan kepada konsumen OUTLANDER PHEV kami dalam pemasangan fasilitas home charging,” papar Naoya Nakamura, Presiden Direktur PT MMKSI.

Kerjasama PT MMKSI dengan pemerintah Indonesia dalam penyediaan infrasturuktur pengisian daya mobil listrik ini sejalan dengan komitmennya akan keberlangsungan lingkungan hidup di Indonesia. Melalui START NOW Project yang menjadi landasan dalam memberikan kontribusi untuk lingkungan yang lebih baik. Dengan hadirnya project ini, MMKSI ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan.

Mengubah Kompetitor Menjadi Energi Positif Untuk Bisnis

0

 

Dalam bisnis ada yang namanya kompetitor. Kompetitor bisa didefinisikan sebagai pengusaha lain yang menawarkan produk berupa barang atau jasa yang sama dengan produk yang kita tawarkan kepada konsumen.

Adanya kompetitor dalam sebuah bisnis merupakan hal yang biasa. Namun banyak yang beranggapan kompetitor dalam berbisnis adalah musuh yang akan mengancam bisnis kita di kemudian hari.

Sebenarnya kompetitor bukanlah musuh bagi bisnis kita namun memiliki kompetitor mempunyai beberapa manfaat penting bagi bisnis kita. Setidaknya entrepreneurID telah mengumpulkan 3 manfaat kompetitor bagi bisnis kita.

Yang Pertama, Referensi Target Pasar
Dengan adanya kompetitor, secara tidak langsung kita mempunyai referensi pasar yang lebih luas dari pada yang kita punya sekarang. Bisa jadi target pasar yang kita punyai sekarang berbeda dengan para kompetitor walaupun apa yang kita jual sama dengan apa yang mereka jual. Lihatlah para kompetitor kita, kita bisa melihat jangkauan target pasar potensial yang mungkin saja belum kita optimalkan sebelumnya.

Yang Kedua, Meningkatkan Pelayanan
Pelayanan sangatlah penting dalam dunia bisnis. Dengan pelayanan yang baik, para calon pembeli akan merasa nyaman sehingga calon pembeli akan melakukan tranksaksi untuk produk yang kita jual. Juga pelayanan dapat membuat orang sudah pernah membeli produk kita di masa lalu, akan membeli lagi produk kita yang nantinya akan menjadi pelanggan bisnis kita.

Dengan melihat kompetitor, kita akan melihat bagaimana cara mereka dalam memperlakukan konsumen kita. Sehingga kita juga dapat menerapkan itu atau memberikan pelayanan lebih dari pada yang di berikan oleh kompetitor bisnis kita

Yang Ketiga, Meningkatkan Kualitas Produk
Ketika kita berbisnis ataupun menjual suatu barang, kualitas merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kualitas produk akan membuat para calon pembeli merasa yakin dengan produk yang kita jual.

Salah satu fungsi yang baik dari hadirnya kompetitor adalah “memberikan rasa tidak nyaman”. Rasa tidak nyaman ini karena saingan dengan kualitas produk yang mungkin lebih dari produk bisnis kita. Rasa tidak nyaman ini lah yang mendorong kita menjaga dan meningkatkan kualitas produk kita lebih dari pada para kompetitor. Itulah sharing pada malam hari ini mengenai pentingnya kompetitor dalam bisnis.

Tidak selamanya kompetitor bernilai negatif. Tergantung cara kita memandangnya. Contoh adalah nike dan adidas. Dengan bersaing satu sama lain, mereka berusaha menghadirkan yang terbaik untuk para konsumennya.

Tetap semangat dalam proses mengembangkan bisnis. Hambatan akan susah di lewati jika kita selalu berpikiran negatif terhadap sesuatu. “jangan mengamati perilaku negatif orang lain, biasakan untuk melihat keunggulan dan kehebatan orang lain”.

Selamat berjuang karena orang yang kita sayang selalu menunggu kita sukses dengan senyuman.

 

Oleh: Tim entrepreneurID