Memenangkan Persaingan Usaha Kuliner yang Berlokasi di  Foodcourt

0
155
Food court (dok lh3.googleusercontent.com)

 

Usaha makanan termasuk usaha yang menarik dan berprospek karena tren perilaku orang makan di luar semakin besar saat ini. Kalau dilihat, Anda membuka usaha di foodcourt. Usaha di foodcourt sangat tergantung pada jumlah pengunjung yang datang ke pusat pembelanjaan tersebut. Jadi untuk melihat prospeknya, kita lihat dulu jumlah pengunjung yang masuk ke pusat pembelanjaan di mana foodcourt tersebut berada.

Kalau jumlah pengunjungnya cukup besar, maka strategi kita adalah menarik pengunjung di dalam pusat pembelanjaan itu menuju ke foodcourt kita. Ini sering kali dinamakan sebagai magnet penarik. Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah melakukan komunikasi atau promosi yang gencar terhadap para pengunjung. Cara konvensional pertama adalah memasang standing banner –iklan memakai kain plastik yang berdiri- di beberapa lantai (tentunya seijin pengelola).

Kedua adalah dengan menyebar selebaran atau flyer ke pengunjung yang masuk ke pusat pembelanjaan tersebut. Ini bisa dilakukan di tempat parkir kendaraan saat pengunjung mengambil karcis parkir, saat pengunjung masuk di pintu utama, atau dengan menitipkan di konter-konter lain yang laris di pusat pembelanjaan tersebut. Supaya menarik, jangan hanya sekadar brosur pemberitahuan namun mengandung sesuatu yang bernilai di selebaran tersebut. Jadi orang merasa sayang kalau membuangnya.

Kita bisa berikan sesuatu yang murah namun membuat pengunjung datang ke stan kita di foodcourt. Misalnya di selebaran tertulis: “Kunjungi stan Coto Makassar kami di foodcourt lantai …, tukarkan selebaran ini dengan 1 gelas es teh gratis” atau kalau masih mungkin dalam bentuk diskon. Tentu ini ada ongkosnya dan dihitung yang ongkosnya tidak mahal. Jadi sasaran kita adalah manarik sebanyak mungkin pengunjung datang dulu ke stan foodcourt kita.

Pemilihan jenis makanan yang berbeda memang perlu. Apalagi kalau kita kalah bersaing dari segi nama dibanding pesaing yang sudah ada atau nama usaha kita belum terkenal. Dengan menawarkan jenis masakan yang berbeda lebih besar peluangnya dilirik pengunjung. Berkaitan dengan pertanyaan, berikut jawabannya:

  1. Terlalu banyaknya rumah makan padang di suatu area tentu membuat persaingan antar rumah makan padang menjadi demikian tajam di daerah itu. Apalagi kalau saya lihat sudah ada RM Padang Sederhana yang cukup terkenal enak dan ada di mana-mana. Untuk itu kalau kita membuka RM Padang harus ada menu unggulan yang tidak dimiliki pesaing. Misalnya kita tawarkan Soto Padang tadi yang benar-benar rasanya enak. Jadi kita harus punya produk unggulan tertentu.
  2. Untuk menentukan harga, kita harus hitung ongkos bahannya dulu, lalu tambah komisi sewa 15%. Setelah itu kita lihat harga pesaing. Karena lokasinya di kalangan menengah bawah maka harga harus kita sesuaikan dengan kantong mereka. Tidak bisa terlalu mahal, minimal mendekati harga pesaing yang ada. Penetapan harga Anda saya pikir sudah pada rentang yang pas. Harga Rawon masih bisa sama dengan Rp 12.000. Untuk menimbulkan kesan murah, bisa dibuat paket dengan minuman. Misal Coto Makassar plus Teh Hangat Rp 13.000.

Selama barang yang kita tawarkan tidak ada nilai lebih, tentu penetapan harga medium lebih pas. Harga juga tidak harus selalu ditetapkan sangat murah yang justru menimbulkan kesan mutu terlalu rendah atau “ada sesuatu yang tidak beres”. Memang, sebaiknya dihitung dulu dari segi titik impasnya (BEP). Lalu dihitung berapa target jumlah yang bisa dijual dengan harga tertentu.

  1. Untuk menutup usaha, jangan terburu-buru dalam hitungan 1 minggu. Seringkali yang digunakan untuk ukuran adalah 3 bulan. Mengapa? Alasannya belum banyak orang yang mengenal bisnis kita. Kalau dalam waktu 1 minggu masih sepi bisa jadi itu karena orang belum banyak yang mengenalnya. Belum banyak orang yang melihat rumah makan kita. Belum banyak orang yang menceritakan atau merekomendasikan bisnis kita. Atau, belum banyak yang kembali lagi.

Saya amati beberapa rumah makan menjadi laris kadang membutuhkan waktu 3-6 bulan dari waktu buka pertama kali. Untuk itu tenggang waktu 3 bulan digunakan untuk mengenalkan bisnis kita ke konsumen. Ini bisa dilakukan dengan menyebar brosur dan iklan. Memang, kalau ada tren jumlahnya menurun perlu segera lakukan perbaikan. Mungkin rasanya, mungkin pelayanannya yang perlu dibenahi. Untuk itu saran saya lakukan promosi lebih gencar untuk Soto Padang yang ada saat ini.

Selamat berbisnis dan semoga makin laris.

 

Oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetiya Mulya,

Penulis Buku “Jurus – jurus Sakti Wirausaha”,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.