Penguaha Peralatan Outdoor Consina Melejit Saat Krisis Moneter

0
135
Disyon Toba Owner Consina (dok Tribunnews)

 

Perkenalan pria bernama lengkap Disyon Toba ini dengan produk-produk outdoor dimulai sejak tahun 1998. Pada tahun tersebut Disyon menjadi  pengecer produk outdoor merek luar negeri The North Face yang mempunyai pabrik di Indonesia. Namun, karena pada tahun tersebut Indonesia menghadapi krisis ekonomi yang sangat dahsyat, maka banyak perusahaan dari luar negeri yang hengkang dari Indonesia dan salah satunya pabrik The North Face. Seperti dikatakan Disyon, The North Face meninggalkan banyak sisa  bahan baku yang belum sempat digunakan untuk produksi.

Bagi Disyon, bahan sisa tersebut dilihat sebagai peluang, yang harus dimanfaatkan. Pada 13 April 1999 Disyon mencoba untuk menjalankan usaha pembuatan peralatan outdoor yang diberi nama Consina. Nama Consina sendiri diambil dari nama almarhum sang kakak. Dengan modal uang yang besarnya tidak sampai  Rp 1 juta Disyon membeli limbah-limbah tersebut dan untuk membayar ongkos tukang jahit di kawasan Cakung.

Pada awal menjalankan usaha barunya sebagai pembuat produk-produk outdoor, Disyon mengerjakan semua proses mulai dari pengadaan bahan, desain produk, sampai pemasaran. Sedangkan untuk proses penjahitan, Disyon menyerahkannya kepada penjahit yang berada di daerah Cakung. Produk yang pertama kali dibuat Disyon adalah tas dan kemudian berkembang ke peralatan penggiat alam bebas lainnya.

Selama perjalanan usaha pembuatan peralatan outdoor banyak suka duka yang Disyon alami. Seperti pada tahun 2001 saat usahanya sudah mulai berkembang pesat,   Disyon yang juga sibuk kuliah tidak terlalu mengontrol usahanya, dan akhirnya Disyon dicurangi oleh karyawannya, yang memakai bahan baku Consina untuk dimanfaatkan secara pribadi oleh karyawan tersebut.

Akibat kejadian itu Disyon mengalami banyak kerugian. Disyon mendapatkan pelajaran berharga untuk lebih teliti dalam merekrut karyawan dan lebih ketat dalam mengawasi para karyawannya. Kejadian tersebut tidak membuatnya patah semangat untuk menjalankan usaha perlengkapan autdoor, bahkan berhasil bangkit kembali dan kini Disyon telah memiliki 200 karyawan.

Setelah kejadian tersebut, tempat produksi yang semula berada di kawasan Cakung, dipindahkan ke tempat di dekat rumahnya daerah Buaran agar bisa lebih terkendali. Kini Consina mampu menjadi salah satu penyedia peralatan olahraga outdoor buatan lokal yang di kenal.

Saat ini, perkembangan usaha yang dijalani Disyon semakin baik, hal tersbut bisa dilihat dari perkembangan outlet yang dimiliknya. “Saat ini saya memiliki dua outlet resmi di Jakarta dan dua outlet di Bali yang masih dalam status sewa,” terangnya. Dari satu outlet saja, omsetnya bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta perbulan, belum lagi dari yang dijual di luar outlet sendiri. Selain itu Disyon  telah memiliki tiga tempat produksi di Bekasi dan Jakarta. Selain di outlet-nya sendiri, produk Consina juga banyak dijual di toko atau outlet yang menjual outdoor equipment di berbagai daerah.

Produk-produk Consina telah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Consina kini tidak hanya memproduksi tas saja tapi sudah meluas ke berbagai produk seperti jaket, sarung tangan, celana, T-shirt dll yang jumlahnya ratusan jenis dan desain dengan harga mulai dari Rp 13 ribu untuk produk yang termurah yaitu Bandana sampai dengan jaket seharga Rp 500 ribuan untuk item yang paling mahal. Bahkan kini Consina juga memiliki Consina the Outdoor Services yaitu layanan jasa untuk mengatur kegiatan outdoor yang sudah berjalan selama dua tahun ini.

Keunggulan produk Consina dibandingkan dengan produk peralatan outdoor lokal yang lain adalah pertama dari segi harga sangat ramah di kantong membuat Consina banyak dicari, kemudian dari desain dan warna yang berani dengan memakai warna-warna yang terang, selain itu juga produk Consina khususnya tas terlihat sporty dan slim.

Diakui Disyon, karena tidak fokus pada usahanya ia merasa sempat mengalami kesalahan strategi selama menjalankan usaha. Saat itu Disyon menceritakan, uang hasil usaha dari Consina diputar untuk usaha lain namun ia sering kena tipu, oleh karena itu akhirnya dua tahun belakangan Disyon memilih kembali fokus untuk menjalankan Consina saja, dan benar saja perputaran uangnya pun kian meningkat.

Kendala usaha tidak hanya dialami Disyon untuk mendapatkan pasar di daerah yang penuh perjuangan, namun ia juga pernah mengalami persaingan usaha yang tidak sehat seperti saat usahanya diisukan sudah tutup, atau isu tentang kualitas produk Consina yang di bawah standar. Hal-hal tersebut ditanggapi Disyon dengan hati lapang, ia terus maju berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi kelangsungan Consina.

Berbagai nilai-nilai positif yang diajarkan oleh kedua orangtuanya turut membentuk kesuksesannya seperti sekarang ini. Jiwa wirausahawan yang ada pada dirinya, didapatkan semenjak kecil. Saat itu Disyon sering membantu ibunya menjaga warung. Sedangkan profesi ayahnya yang seorang polisi, membentuk Disyon menjadi seseorang yang displin.  Tidak hanya keluarga, namun dari pengalamannya naik –turun gunung Disyon pun diasah untuk mengatur strategi, gigih, tekun, dan berusaha karena kalo naik gunung itu mesti mikir dan banyak berusaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.