Senin, Juni 15, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 777

Cara Ekspor Ikan Hias

0

 

Dalam hal pelaku usaha ikan hias belum berbentuk badan hukum, ekspor dapat dilakukan dengan menggunakan jasa eksportir ikan hias yang sudah eksis melakukan ekspor. Perusahaan ikan hias yang dapat dihubungi/bekerja sama dalam melakukan ekspor ikan hias dapat diperoleh/diakses langsung pada situs Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan.

sedangkan untuk tata caranya dan persyaratan untuk melakukan kerjasama dengan eksportir tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak.

Barang ekspor perikanan dan kelautan termasuk ikan hias dapat diekspor kecuali beberapa jenis yang dilarang ekspornya adalah anak ikan Arwana (Scleropages Formosus dan Scleropages Jardini) ukuran di bawah 10 centimeter (cm) dan benih ikan Botia hidup (Botia Macrakantha) ukuran panjang kurang dari 2,5 cm dan di atas 15 m.

Ikan Botia khas Kalimantan ini di atas ukuran panjang 15 cm dilarang, karena dikhawatirkan akan dijadikan indukan. Selain itu calon induk dan induk Udang Windu (Penaeus Monodon), Udang Jerbung (Penaeus Merguiinsis) dan jenis udang Kuruma Ebi dengan panjang total di atas 17 cm dan berat tubuh lebih 70 gram juga dilarang ekspor. Sedangkan jenis Udang Galah (Macrobrachium Rosenbergii) dengan ukuran apapun, baik dalam keadaan hidup atau mati semua dilarang untuk keluar.

Untuk melakukan ekspor ikan hias diperlukan beberapa persyaratan administrasi, yakni perusahaan yang akan melakukan ekspor telah terdaftar di Kementrian Perdagangan dengan persyaratan telah memiliki  Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan Ijin Usaha Perikanan yang dikeluarkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.

Dalam melakukan pengiriman ikan hias, pelaku ekspor diharuskan melakukan pengurusan izin dokumen kepabeanan (berkas barang yang akan diekspor) di kantor Dirjen Bea dan Cukai untuk memberitahukan barang yang akan diekspor dengan menggunakan  Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang dapat dibuat dengan mengisi formulir di kantor  Dirjen Bea dan Cukai.

Di samping persyaratan tersebut,  perdagangan ekspor ikan hias diharuskan melakukan pemeriksaan melalui Balai Besar Karantina Ikan sedikitnya 2 (dua) hari sebelum pemberangkatan di pelabuhan udara pemberangkatan untuk mendapatkan Sertifikat Kesehatan Ikan (Health Certificate), mengingat pada umumnya pengangkutan ikan hias dilakukan dengan menggunakan jasa pengangkutan udara. Setelah diperoleh sertifikat kesehatan ikan dan dokumen lainnya termasuk Air Way Bill (SMU/Surat Muat Udara) maka  pihak kepabeanan akan melakukan persetujuan dan tindak lanjut.

 

Oleh : Ari Satria

Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor

Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional

Kementerian Perdagangan

Jalan M.l. Ridwan Rais No.5 Jakarta 10110

email  : csc@kemendag.go.id

Mengatasi Kekurangan Modal

0

 

Pada dasarnya ada beberapa cara untuk mendapatkan modal tambahan. Yang pertama adalah modal sendiri dan yang kedua adalah modal pihak lain. Penerapannya sendiri bisa bermacam-macam. Kalau saya baca penjelasan Anda, yang menjadi kendala lebih kepada penambahan modal sendiri karena dana yang dimiliki Anda terbatas. Nah, kalau begitu bagaimana kalau Anda coba alternatif pihak lain?

Apakah Anda takut dengan kendala jaminan? Atau Anda takut tidak bisa bayar kalau nanti tidak sukses lalu meninggalkan hutang? Tenang saja, modal pihak lain itu sebenarnya tidak harus selalu dari bank kan? Dan tidak selalu modal yang didapat dari bank itu memerlukan jaminan. Tentu saja dengan catatan modal yang Anda butuhkan tidak terlalu besar, misalnya hanya Rp 5 juta. Anda bisa mengajukan pembiayaan dengan sistem qardh ke bank syariah.

Selain dari bank, sebenarnya banyak alternatif pembiayaan dari pihak lain. Misalnya saja koperasi, atau pegadaian. Bahkan sebenarnya Anda bisa saja mencari pemodal perorangan untuk diajak menanamkan modal/berinvestasi dengan sistem bagi hasil hingga Anda tidak perlu khawatir untuk berhutang dan bisa fokus untuk pengembangan usaha.

 

Oleh: Rakhmi Permatasari

Perencana Keuangan Safir Senduk & Rekan

 

Pemerintah Cari Pinjaman Lagi, Defisit Anggaran Melebar SampaiRp 199 Triliun

0

 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menyebutkan Pemerintah kembali mencari pinjaman sebesar Rp 15 triliun melalui lelang Surat Utang Negara (SUN).

Pinjaman itu digunakan untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.

Pinjaman melalui lelang SUN ini sudah kesekian kalinya pada tahun ini. Jadwal jatuh temponya mulai dari 6 Januari 2020 hingga 15 Mei 2048.

Lelang akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai agen lelang secara terbuka dan dengan metode beragam.

Semua pihak, baik investor individu maupun institusi, dapat menyampaikan penawaran pembelian dalam lelang melalui peserta lelang yang sudah disetujui Kementerian Keuangan.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet  menilai kalau kita lihat kinerja APBN sampai dengan Agustus 2019, pertumbuhan belanja negara mencapai 7% tapi di sisi lain pertumbuhan penerimaan negara tidak bisa mengejar pertumbuhan belanja, karena pertumbuhan penerimaan negara hanya mencapai 3%.

Kondisi ini akhirnya berdampak pada melebarnya defisit anggaran sampai dengan Rp 199 triliun, lebih besar dibandingkan defisit anggaran pada periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 151 triliun.

Akhirnya dengan kondisi demikian, pemerintah perlu menerbitkan surat utang untuk menutup gap pembiayaan yang tidak bisa disediakan oleh pos penerimaan negara karena faktor ekonomi global dan domestik.

 

Pemerintah Batalkan Pelarangan Peredaran Minyak Goreng Curah

0

 

Pemerintah masih memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk tetap menggunakan minyak goreng curah. Hal ini berarti membatalkan wacana larangan peredaran minyak goreng curah di pasaran yang rencananya berlaku mulai 1 Januari 2020.

Meski demikian, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta pelaku industri untuk segera mengisi pasar dengan menjual minyak goreng kemasan sederhana dan mematuhi harga eceran tertinggi (HET) Rp11.000 per liter.

“Tidak ditarik. Jadi, per 1 Januari 2020 harus ada minyak goreng kemasan di setiap warung juga sampai pelosok-pelosok desa,” katanya.

Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas mengakui pelarangan dalam kondisi seperti sekarang ini, kebijakan pelarangan peredaran minyak goreng curah bisa merugikan pengusaha kecil.

Data PP Muhammadiyah menunjukkan hampir 50 persen dari kebutuhan minyak goreng dalam negeri dikonsumsi dalam bentuk curah. Minyak goreng tersebut diproduksi oleh pelaku usaha mikro dan kecil.

“Kebijakan ini jelas-jelas akan menguntungkan usaha besar yang ada dan sebaliknya tidak mustahil akan menjadi bencana dan malapetaka bagi pengusaha dan rakyat kecil,” katanya.

 

Biaya Logistik Pengiriman Barang Di Indonesia Tertinggi Se-Asia Tenggara

0

Sistem logistik Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan biaya logistik pengiriman barang di Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia sebesar 13 persen, Vietnam 20 persen, Thailand 15 persen, dan Singapura 8 persen.

Kementerian Perindustrian mencatat biaya logistik Indonesia mencapai 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ia pun menargetkan biaya logistik di Indonesia turun menjadi 20 persen dari PDB pada 2024 dan di bawah 10 persen pada 2045.

“Kalau Anda pengusaha atau investor ingin mendapatkan return (imbal hasil) di Indonesia jadi Anda harus mempertimbangkan 24 persen ini, karena Anda harus bayar untuk biaya logistik,” katanya.

Biaya logistik yang tinggi membuat peringkat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia rendah, yaitu di posisi 46 pada 2018. Meski berhasil naik 17 peringkat dari 63 di 2016, namun Indonesia masih kalah dari Malaysia di peringkat 41, Vietnam di posisi 39, Thailand di posisi 32, dan Singapura di posisi 7.

LPI merupakan indeks pembanding sistem logistik secara global yang dibuat oleh Bank Dunia, untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang logistik serta perdagangan suatu negara.

 

Mengelola Keuangan Penjualan Multi Produk

0

 

Pada prinsipnya, untuk mengelola keuangan usaha perlu diawali dengan pencatatan yang baik. Apalagi Roeny menjual berbagai macam barang yang berbeda jenisnya. Saya sarankan sebagai langkah awal, masing-masing barang punya buku pencatatan sendiri. Jadi ATK punya buku pembelian dan pencatatan sendiri, pulsa dan majalah pun begitu. Mengapa?

Karena antara pulsa, majalah dan ATK kemungkinan besar punya sistem jual dan beli sendiri-sendiri yang mungkin akan membuat pusing bagi pemula untuk menghitung transaksinya kalau digabungkan. Sebagai contoh, biasanya untuk penjualan pulsa kita akan menjadi member penjual pulsa besar dengan cara deposit uang terlebih dahulu.

Kemudian deposit ini akan dipotong saat Anda berjualan. Sedangkan untuk majalah ada beberapa sistem, bisa saja dengan cara beli putus atau justru Anda hanya menerima titipan dan bisa mengembalikan majalah tersebut jika tidak terjual. Lain lagi dengan ATK yang biasanya memang beli putus dan harus memiliki stok. Pencatatan ini juga bisa berfungsi untuk memisahkan mana uang pribadi dan mana uang usaha.

Oh iya, sebagai bagian dari langkah awal juga, Anda tidak perlu berpikir harus mengerti pencatatan yang aneh-aneh dulu, seperti pembuatan buku kas dengan kode sebagainya. Cukup membuat catatan sederhana saja uang masuk, uang keluar dan saldonya. Dan jangan lupa lakukan evaluasi tiap bulan, terutama untuk evaluasi barang apa yang paling laku dijual dan bisa memberikan prospek keuntungan lebih besar di masa mendatang.

 

Oleh: Rakhmi Permatasari

Perencana Keuangan Safir Senduk & Rekan

Kiat Menjadi “Pengusaha Bermental Baja” 

0

 

Siapa sih yang tidak kenal dunia entrepreneur? Saatnya entrepreneur membangkitkan negeri dengan cara memperbanyak jumlah pengusaha di Indonesia, maka akan siap negara kita menghadapi era perdagangan bebas dengan mengangkat cinta produk Indonesia.

Kini saatnya mengubah MINDSET jejak orangtua kita yang dahulunya selalu berfikir, “Nak sekolah yang tinggi agar kelak bisa bekerja di perusahaan besar” atau “Nak sekolah yang pintar agar mudah dapat pekerjaan.” Itulah yang harus diubah dengan cara berfikir, “Nak sekolahlah yang tinggi agar kelak bisa membuka lapangan pekerjaan.”  Cara berfikir inilah yang selalu ditanamkan di komunitas ESCO.

Berkumpul di sebuah hotel, restoran atau tempat usaha salah satu anggota adalah agenda rutin yang dilakukan oleh komunitas ESCO. Mulai dari ingin buka bisnis, kendala bisnis sampai perkembangan bisnis menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan di komunitas ESCO.

Berdiri sejak tahun 2010 komunitas ESCO ini didirikan oleh ROYKE SAHETAPI yang dijuluki SI RAJA UKM. Berbekal pengalaman sebagai mantan General Manager Teebox Café, Operation Manager Hard Rock Café Jakarta, Bar Manager Shangrila Hotel Dosen Trisakti STPT serta Sahid STPS  dan mantan ketua bartender ASEAN beliau memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman sebagai karyawan.

Dan semangat wirausahanya telah berbuah manis, meskipun sempat bangkrut dalam membangun usaha. Di antaranya Bakwan Malang yang kini sudah melebarkan sayap usaha hingga 5 cabang, rumah makan padang dan warteg. Tapi dari semua bisnis itu Allah SWT memberikan ide cemerlang serta memberikan cara bagaimana menjadi “Pengusaha Bermental Baja”.

Kini Si Raja UKM telah sukses membangun usahanya meskipun dirintis dari UKM (Usaha Kecil tapi Aset Milyaran). Beberapa diantaranya Ayam Bakar Berani Bumbu, Gorengan Pelangi, Warteg Hawaraso (Harga Warteg Rasa Resto), IBS (Indonesia Bartender School), Roti Bakar Mas PIJAL (Masih Pinggir Jalan) dan masih banyak lagi usaha UKM yang beliau dirikan serta beliau kembangkan saat ini.

ESCO juga bersama para alumni yang telah berhasil mengembangkan usahanya seperti Owner Penerbitan, Master Dealer Vionseal, rumah makan Kedai BAB (Berai Ayam atau Bebek), Ayam Tobat (Ayamnya Top Sambalnya Hebat), Batagor Kasef, SIOMAY BENERAN dan BMS (Bakso Malang Syariah) di bawah naungan BUMN (Berani Usaha Modal NEKHAD ) yaitu Argono.

ESCO tersebar di 50 kota di seluruh Indonesia dan sudah terhimpun sampai saat ini 100.000 anggota yang mayoritas bergerak di mulai dari sektor UKM: Kuliner, Otomotif, dan Property. Dan sebagai legalitas, anggota Komunitas ESCO memiliki member atau kartu anggota yang dapat digunakan untuk me-refresh ilmu atau meng-up date ilmu di mana pun ada acara ESCO tersebut dan mendapatkan sertifikat namun sertifikat tersebut tidak bisa digunakan untuk melamar pekerjaan bahkan wisudanya saja wajib akan diwisuda setelah sudah buka bisnis, Menurut Argono salah satu perintis di Komunitas ESCO dan mentor ESCO di beberapa perusahaan.

Melalui ESCO semangat kewirausahaan ditumbuhkan dan organisasi ini mengajak para anggotanya mengubah cara dan pola berfikir agar hidup menjadi berarti. Di samping itu ESCO juga menggembleng quadran kiri ke quadran kanan, artinya menjadi seorang pengusaha harus berani mengambil resiko.

“Jika melangkah sedikit ya resikonya sedikit, tapi bila melangkah jauh lebih besar maka resikonya juga besar. Memulai usaha akan terasa berat bila dilakukan sendiri, akan tetapi bila dilakukan bersama-sama maka akan menjadi ringan. Lebih banyak kepala ide semakin banyak, dan memiliki banyak teman di komunitas semakin banyak juga teman sharing untuk bertukar pengalaman dalam berbisnis,”papar Royke.

Seminar ESCO ditujukan untuk menggalang sebuah komunitas pelaku wirausaha agar dapat mencari partner yang sepaham sevisi dan yang lebih pasti kejujuran dalam membangun usaha bersama. Jika Anda tertarik menjadi member komunitas ESCO, Anda  hanya mengikuti seminarnya dan kelas yang diadakan oleh Si Raja UKM di tempat tinggal di wilayah kota masing-masing

Dalam seminar ESCO Si Raja UKM membuat peserta terkagum-kagum dan terbahak-bahak bagaikan stand up comedy saat ide gila Si Raja UKM bertutur diantaranya : Beli Mobil Tanpa Nyicil, Membangun bisnis dengan modal orang lain, Beli property tanpa uang tanpa nyicil, Menggandakan uang Rp 50 juta hingga 200 juta dalam sehari, Berkebun emas tanpa resiko penipuan, Mengubah hutang menjadi aset, Trik bermain kartu kredit.

Member komunitas ESCO juga diajarkan bagaimana caranya membangun kepercayaan dari pihak perbankan, sehingga anggota tidak lagi kebingungan mencari sumber dana atau modal karena melakukan pinjaman kepada bank. Di ESCO dilatih mengelola uang hasil pinjaman bank secara benar agar dapat mencicil pinjaman bank dari hasil usaha tersebut.

Dengan keberhasilan para anggotanya menjadi entrepreneur baru, membuat ESCO dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menjadi motivator training to karyawan seperti meningkatkan kinerja karyawan, how to be Profesional, sampai dengan Purna Bhakti. Beberapa instansi yang telah bekerja sama di antaranya PT CHEVRON INDONESIA, ASTRA, TOYOTA, PAITON, DEPARTEMEN KEUANGAN RI dan lain-lain.

Saat ini ESCO merupakan sebuah komunitas bisnis dan pengembangan yang sedang diarahkan untuk menjadi pendidikan bisnis yang diberi nama LPPI (Lembaga Pendidikan Pengusaha Indonesia) serta pendidikan public speaking IPMI (Institute Pengusaha dan Motivator Indonesia) Jika Anda   ingin menjadi entrepreneur sukses, sekarang juga saatnya Anda bergabung di ESCO!!

 

Oleh: Esco

Graha ESCO INDONESIA Jl.Limo Cinere Blok 49 Depok

 

TEI 2019, Ajang Promosi Produk Indonesia Berkualitas ke Pasar Global

0

Pameran dagang internasional terbesar di Indonesia, Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten menampilkan produk-produk yang berkualitas sekaligus menjadi ajang promosi produk Indonesia ke pasar global.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Dody Edward mengatakan fasilitas yang disiapkan dalam TEI ke-34 ini lebih baik dari sebelumnya.

“Tampilan dan zonasi produk akan tertata lebih baik dan sesuai standar pameran internasional, begitu juga dengan kenyamanan bertransaksi dan bernegosiasi,” jelas Dody.

Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, TEI 2019 rencananya akan dibuka Presiden RI Joko Widodo. TEI 2019 akan menempati area seluas 24.732 m2 dengan jumlah peserta ditargetkan mencapai 1.250 orang.

Adapun zonasi pameran terbagi atas zona produk potensial dan unggulan nasional. Kuliner Nusantara (Nusantara Culinary) berada di hall 1 & 10; Produk Lokal Unggulan (Local Champion Product) di hall 2; Produk Kreatif dan Premium (Premium & Creative Product) di hall 3 dan 3A; Produk Manufaktur dan Jasa (Manufacturing Products dan Services) di hall 5 dan 6; Produk Makanan dan Minuman (Food & Beverage Product) di hall 7 & 8; serta Produk Dekorasi dan Furnitur (Furniture & Home Decor) di hall 9.

Selain itu, setiap hall akan dilengkapi area pelayanan buyer yang siap melayani kebutuhan para buyer selama berada di lokasi pameran dengan suguhan kuliner nusantara.

“Zonasi ini ditentukan dengan sangat cermat dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Termasuk saran dari berbagai pihak, baik dari dalam negeri, dari perwakilan perdagangan di luar negeri, serta masukan dari para buyer di penyelenggaraan TEI sebelumnya,” imbuh Dody.

Dody menjelaskan, TEI 2019 juga akan menyuguhkan berbagai kegiatan pendukung. Seperti, Forum Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi (Trade, Tourism and Investment/TTI Forum), yang terdiri dari berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain seminar, lokakarya, temu wicara, diskusi regional, kompetisi ekspor perusahaan rintisan, dan konseling bisnis.

“Pada TEI 2019 akan diselenggarakan pula agenda misi pembelian, misi dagang lokal, serta penjajakan bisnis untuk membicarakan potensi kerja sama bisnis. Selain itu, penganugerahan Primaniyarta Awards juga akan diberikan kepada eksportir yang berprestasi dan Primaduta Awards bagi buyer dan importir yang loyal terhadap produk Indonesia,” terangnya.

Untuk menjaring buyer asing, Kemendag telah berkoordinasi dengan 132 kantor perwakilan Indonesia di luar negeri, 23 atase perdagangan, 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia, Duta Besar World Trade Organization (WTO), serta Konsul Perdagangan.

“Upaya tersebut menjadi tindak lanjut reorientasi dan reposisi perwakilan dagang di luar negeri. Tidak hanya menjadi pemasar, tapi juga menjadi pelayanan pelanggan bagi buyer di negara akreditasi mereka yang menjadi mitra pelaku usaha Indonesia,” ungkap Dody.

Selain transaksi dengan buyer asing, diharapkan juga akan terjadi transaksi dengan buyer lokal melalui misi dagang lokal. Di TEI 2019 ini, misi dagang lokal akan semakin diintensifkan. Untuk itu, pemerintah daerah diimbau membawa para pelaku usaha daerah masing-masing ke TEI 2019.

Dody menegaskan, sama seperti dua tahun sebelumnya, pembiayaan TEI kali ini murni ditanggung pihak swasta. Dengan begitu, para peserta TEI yang terjaring adalah pelaku bisnis yang memiliki keinginan dan kemampuan menjalankan bisnis internasional secara produksi, manajemen, serta yang siap masuk ke pasar ekspor dan bersaing di pasar global.

Hingga 17 September 2019, telah terdaftar lebih dari 1.125 buyers dari 56 negara. Permintaan produk paling tinggi tahun ini antara lain adalah bahan makanan, kopi, kerajinan tangan, kemasan makanan dan minuman, coklat, dan barang konsumsi.

“Penyelenggaraan TEI 2018 telah berhasil membukukan nilai transaksi sebesar USD 8,49 miliar dengan produk yang paling diminati antara lain makanan olahan, produk kimia, minyak kelapa sawit, produk perikanan, produk kertas, dan kertas. TEI 2018 berhasil menarik lebih dari 30 ribu pengunjung dari 132 negara, serta menghadirkan 1.160 peserta pameran yang menampilkan produk-produk terbaik Indonesia. Kami berharap TEI 2019 akan melampaui capaian TEI 2018,” pungkas Dody.

Sambara, Waralaba Warung Sunda Berkonsep Open Kitchen

0

Sajian Sunda Sambara atau yang lebih dikenal dengan Sambara pertama kali berdiri di bilangan Trunojoyo, Bandung sejak tahun 2006 ini memang identik dengan suasana Sunda khas Kota Kembang. Dikatakan Eric Michael, Manager Franchise Sambara, bahwa pemilik memang tertarik untuk membuka usaha warung Sunda dengan sentuhan modern.

“Saat itu belum banyak yang menawarkan menu masakan khas Sunda dengan konsep modern, di mana Sambara merupakan resto khas Sunda pertama yang mengusung konsep buffet (prasmanan) dan open kitchen yang dapat dilihat langsung oleh pelanggan,” jelas pria yang akrab disapa Eric ini.

Sukses dengan cabang pertama yang selalu ramai dikunjungi pelanggan, Sambara membuka cabang kedua yang masih di kota Bandung, tepatnya di seputar Jl. Muaraanjeun. Didorong keinginan untuk melebarkan sayap usaha serta membuka lapangan pekerjaan, akhirnya  Sambara memutuskan untuk membuka peluang usaha dengan konsep waralaba  (franchise).

“Tepatnya pada Oktober 2011 kami resmi membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin bergabung dan menjadi Terwaralaba (franchisee) dari Sambara,” jelas Eric.

Ketika disinggung mengenai perizinan, Sambara telah mengantongi sejumlah perizinan seperti SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), Hak Paten atas brand Sajian Sunda Sambara dari Ditjen HKI, sertifikat halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk bahan bumbu yang digunakan, serta telah berada dibawa naungan CV Sambara Boga.

“Sebenarnya kita juga sempat mengurus STPW (Surat Tanda daftar Waralaba) sebagai syarat mewaralabakan suatu usaha, hanya karena ketidak pahaman tentang prosedur oleh pejabat terkait, akhirnya urung kita lanjutkan. Namun kita siap jika memang diwajibkan membuat surat tersebut,” yakin Eric. Kini Sambara telah memiliki 7 cabang dan 4 Terwaralaba yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang.

Menu Khas Sunda

Sajian warung Sunda Sambara, dari namanya saja kita sudah bisa menduga, Sambara memang menampilkan suasana yang khas Sunda di mana bangunannya didominasi dekorasi khas Sunda seperti bilik bamboo, serta masakan khas Sunda yang benar-benar fresh dan rendah kolesterol.

“Makanan yang ditawarkan semua dihidangkan dengan konsep buffet sehingga pelanggan dapat melihat dan memilih makanan yang memang masih fresh,” jelasnya.

Menu-menu andalan Sambara seperti Ayam Sambara, Nasi Ceplos, Ayam Ceplos, Ayam Semiri, Ikan Asin Cabe Kering, Tumis Jamur Kancing, Sayur Asem, Ulukutek Leunca, Orek-orek Peda, Cumi Asin, Iga Lada Hitam, Es Goyobot, Es Cendol ditawarkan dengan harga yang terjangkau yakni kisaran Rp 5-37 ribu/potong.

“Memang menu-menu kita tidak jauh beda dengan menu makanan di restoran Sunda lainnya, tetapi kita berusaha mengedepankan pendekatan, harga yang terjangkau, dan pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan,” ujar Eric.

Dengan konsep buffet yang diterapkan diharapkan tidak hanya lidah saja yang dapat menikmati kelezatan makanan, tapi juga mata pelanggan dapat ikut menikmati makanan yang ditawarkan dengan cara prasmanan. Ditambah dengan konsep open kitchen, pelanggan dibuat bisa menyaksisakan secara langsung proses pengolahannya sehingga lebih yakin dengan kebersihan dan kesegaran makanan yang disajikan.

“Konsep ini juga merupakan salah satu strategi penjualan kami agar pelanggan menjadi lapar mata dan memesan banyak makanan,” terang Eric berseloroh.

Investasi Warung Sunda

Ada 4 paket investasi yang dapat dipilih yaitu Warung dengan investasi Rp 250 juta, Xpress sebesar Rp 675 juta, Resto sebesar Rp 1,1 miliar, dan Fine Dinning sebesar Rp 2,5 miliar. Investasi tersebut sudah termasuk biaya joining fee, sewa lokasi yang telah disurvei terlebih dahulu, renovasi, recruitment karyawan, design interior, furniture, peralatan dapur, peralatan makan, kasir, perlengkapan gudang, sampai stock bahan baku awal. Yang membedakan antara paket satu dengan lainnya adalah jumlah kapasitas yang didapatkan saja.

“Semua sudah kita persiapan mulai dari masa pre opening sampai grand opening kita yang mengerjakan, bahkan dalam 3 bulan pertama Terwaralaba akan didampai oleh kami selaku Pewaralaba,” jelas Eric.

Dikatakan Eric lokasi yang dipilih harus sesuai dengan tingkat keramaiannya serta memiliki luas minimal 40-60 m untuk Paket Warung, Xpress seluas 120-150 m, Resto 250 m, dan Fine Dinning minimal seluas 900 m.

“Walau lokasi memiliki luas yang cukup untuk membuka paket Xpress misalnya, tapi jika tingkat keramaiannya kurang, kami akan menyarankan Mitra mencari lokasi lain atau mengambil paket dibawahnya saja,” tegas Eric.

Terwaralaba dikenakan royalty fee sebesar 3,5%-7,5% dari omset, tergantung dari paket investasi yang dipilih. Guna menyeragamkan rasa di setiap gerai, Sambara mewajibkan Terwaralaba membeli bahan baku berupa bumbu dasar untuk setiap menu yang ditawarkan seperti bumbu ayam goring Sambara, sampai bumbu sayur asem, namun Eric tidak menyebutkan berapa harga bahan baku tersebut.

“Untuk bahan baku lain seperti daging dan sayur boleh beli di lokasi Mitra. Selain itu setiap bulan akan ada quality control mulai dari rasa sampai pelayanan,” ujar Eric.

Disinggung kapan Terwaralaba dapat balik modal, Eric menargetkan Terwaralaba bisa balik modal dalam 2-3 tahun. Dengan target omset sebesar Rp 80-100 juta/bulan untuk Paket Warung, Paket Xpress sebesar Rp 200-250 juta/bulan, Paket Resto Rp 300-350 juta/bulan, dan Paket Fine Dinning Rp 600 juta/bulan dengan tingkat keuntungan bersih sebesar 13% dari omset.

“Untuk mencapai target tersebut tentu factor lokasi sangat berpengaruh. Dan lokasi yang cocok di antaranya adalah kawasan yang memang menjadi daerah kuliner seperti Kemang, foodcord, atau di mal kelas menengah ke atas,” saran Eric.

Mengubah Limbah Pabrik Jadi Komoditas Ekspor Bernilai Dolar

0

 

Sisa produksi pabrik seperti potongan busa, potongan karpet, potongan kain (perca), potongan kaca, keramik, potongan kayu, merupakan beberapa contoh limbah padat pabrik yang masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekspor.

Begitu juga dengan sisa produk asal pabrik yang biasanya menjadi sampah rumah tangga seperti botol parfum, botol minuman, kemasan isi ulang kebutuhan rumah tangga (refill), botol plastik yang masih bisa diolah menjadi bahan baku pembuat berbagai aneka macam produk yang memiliki nilai jual tinggi.

Prospek

Dengan sedikit kreativitas dan sentuhan seni, hasil ikutan pabrik tersebut, bisa mendatangkan rupiah yang tidak sedikit. Padahal modal yang diperlukan tidaklah banyak. Hal ini dikatakan Muhammad Baedowi, pemilik Majestic Buana Group, salah seorang pengolah limbah plastik menjadi bijih plastik, yang merupakan bahan baku aneka komoditas yang bernilai ekspor seperti ember ataupun gagang sapu.

“Usaha berbahan baku limbah sisa produksi pabrik memiliki potensi cukup besar. Hanya saja memerlukan sedikit kreativitas, pengetahuan cara mengolah limbah dan keamanan bahan baku limbah yang diolah menjadi produk yang aman. Apalagi dengan gerakan kampanye go green, seharusnya membuat masyarakat tak malu lagi menjadi pengusaha “sampah” begitu juga dengan konsumen dalam menggunakan produk daur ulang tersebut,” terangnya.

Senada dengan Baedowi, Yuni A.W, penggagas Kelompok Peduli Lingkungan (Pok LiLi) di Depok, Jawa Barat juga berhasil memanfaatkan limbah sisa produksi pabrik yang kerap menjadi sampah rumah tangga menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual tinggi.

“Saya lihat banyak banget limbah hasil produk dari pabrikan yang menjadi sampah di rumah tangga, misal saja kemasan refil detergen, pewangi, kopi, hingga kantong kresek yang biasanya dibuang. Mengingat sampah-sampah tersebut tidak bisa diurai kembali oleh mikroorganisme tanah, membuat saya tergerak untuk mengumpulkan sampah di sekitar kompleks perumahan dan menghasilkan produk seperti tas, dompet, alas duduk, hingga suvenir pernikahan yang layak untuk dijual,” urai Yuni.

Bahan Baku

Cukup banyak produk sisa pabrik yang dijadikan bahan baku dari produk yang bernilai jual tinggi bahkan jadi komoditas ekspor. Contoh saja pelaku usaha sandal spons di sentra pembuatan sandal spons di daerah Plumbon, Cirebon, Jawa Barat yang mampu menghasilkan ribuan pasang sandal dari bahan busa spon sisa produksi pabrik furnitur maupun kasur busa yang juga memanfaatkan  sisa limbah busa spon. Selain dari bahan spon saat ini juga berkembang pembuatan sandal dari potongan karpet sisa produksi pabrik karpet.

Sisa potongan kain (kain perca) memang sudah lebih banyak dimanfaatkan pengusaha-pengusaha bermodal cekak untuk menghasilkan berbagai macam produk. Sebut saja M. Mahmudha, Pemilik Rumah Perca yang memulai bisnisnya hanya dengan dua unit mesin jahit dan modal untuk membeli sisa kain dari garmen dan konveksi di sekitar Yogyakarta. Dari kain perca tersebut, Mahmudha mampu membuat berbagai macam produk yang bernilai jual seperti bedcover, tas, tempat HP, hingga bantal leher untuk mobil. Dari modal sekitar Rp 5 jutaan (tahun 2008), ia mampu mendulang omset hingga Rp 20-30 juta tiap bulan.

Lain halnya  lagi dengan Leni Indah Mangiri, pemilik Dahlia Art yang mengubah kain perca menjadi taplak, sarung bantal, tas lipat dan tas gulung multifungsi. Lewat sentuhan tangan kreatifnya ia mampu memproduksi 500 unit produk berbahan perca yang dijual dengan harga Rp 32 – 42,5 ribu itu. Bahkan untuk tas lipatnya banyak mendapat pesanan dari pelanggan di Perancis dan Belanda.

Potongan kaca yang menjadi limbah di pabrik kaca maupun material, juga memberi peluang besar bagi yang jeli. Contoh saja  Maulidanir Rohman dan Ifmawan Tatur, Pemilik Madani Art dari Semarang Jawa Tengah yang mampu mengubah serpihan kaca menjadi vas bunga dan miniatur bangunan seperti menara Eiffel, masjid nan cantik dan bernilai jual hingga jutaan rupiah. Padahal harga bahan baku potongan kaca tersebut terhitung murah yakni Rp 30 ribu/karung atau Rp 400 ribu satu mobil pick up.

Tak beda jauh dengan Madani Art, Reka Cipta Manik, produsen kalung, gelang dan aksesori dari leburan botol bekas parfum dan minuman, mampu menjual produk kreatifnya hingga ke Korea, Jepang, Australia, Amerika, Eropa, dan Zimbabwe.

Di samping itu ada pula pengusaha yang jeli melihat sisa potongan kayu dari pabrik furnitur yang kemudian dijadikan berbagai macam produk mainan edukatif hingga kursi anak-anak. Ada pula yang memanfaatkan kusen, triplek sisa proyek pembangunan ruko, apartemen, rumah yang disulap menjadi rumah-rumah barbie dengan harga jual hingga jutaan rupiah.

Yang juga inspiratif adalah pengalaman Didi Diarsa, Pemilik Furniture Aktif yang mampu mengubah bilah-bilah kayu sisa bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara menjadi furnitur untuk sekolah dan rumah hingga tembus ekspor ke London.

Ada juga limbah keramik yang dapat dijadikan gerabah dan hiasan mozaik yang dijual di mal kelas atas seperti Grand Indonesia harganya mencapai puluhan juta rupiah. Sedangkan untuk limbah hasil produksi pabrik seperti kemasan refil pewangi, detergen juga dimanfaatkan Herianti Simarmata, pemilik Trashion menjadi payung, dompet, tempat handphone, sandal, agenda, tas sekolah, tas laptop, bags pack, paper bags dan shopping bags yang dipasarkan di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan dan semua gerai Hypermart.

Berkat menjadi salah satu pemenang di event Jakarta Green and Clean pada tahun 2007 Yanti, begitu ia disapa, dibantu PT. Unilever mengekspor produk asal sampah tersebut ke Amerika, Inggris, Singapura, Filipina, India dan Belanda.

Masih banyak pelaku usaha yang cukup sukses mendaur ulang sisa produksi pabrik hingga sampah rumah tangga. Misal saja Andriyani yang mampu mengubah kantong semen menjadi tas pesta dan tas selempang. Wisnu, pemilik Art Strawberry yang mengubah limbah kertas paper bag menjadi tas anyaman yang menarik.

Serta Harso Susanto yang mengubah limbah kertas koran untuk menjadi keranjang baju, keranjang sampah, dan tempat majalah.  Yang menarik lagi adalah dengan apa yang dilakukan Okto Sanitia Maarif, di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, yang menyulap bubur kertas menjadi lukisan relief yang dijual dengan harga jutaan rupiah.

Kriteria Ekspor

Diperlukan kreativitas tinggi untuk mengolah limbah, namun yang perlu dicatat pasar yang paling potensial untuk  produk dari bahan  limbah  adalah orang asing. Tak ayal para pelaku usaha tersebut untuk mengenalkan produknya biasanya akan dilakukan dengan  mengikuti  berbagai pameran ataupun membuat website di internet. Seperti yang dialami M Chodri, yang sejak mulai usaha, hanya melayani pesanan kalung, gelang dan aksesori limbah kaca dari luar negeri. Baru empat tahun terakhir ia menjual produk Reka Cipta Manik di dalam negeri.

“Dulu saya lebih banyak permintaan untuk ekspor ke Korea, Jepang, Australia, Amerika, Eropa, dan Zimbabwe melalui agen saya di Bali, baru beberapa tahun ini saya jual di sini karena orang asing jauh lebih menghargai produk daur ulang limbah yang tak kalah bagus dari aksesori lainnya,” terangnya.

Adapaun  produk-produk limbah yang berpotensi  untuk diekspor adalah produk yang aman untuk digunakan, memiliki nilai estetika, terlihat alami dan merupakan produk kerajinan tangan (handmade). Di samping itu, bahan baku yang digunakan juga harus yang  mudah terurai oleh mikroorganisme tanah seperti dari kain, kayu, kaca, hingga keramik. Sedangkan untuk bahan baku plastik biasanya tidak dapat masuk ke negara-negara yang cukup ketat menerima produk negara lain seperti negara  Jepang misalnya.

Pemasaran.

Menurut M Chodri salah satu cara yang membuat produknya laris manis di luar negeri adalah berkat bantuan rekannya yang ada di Bali. Melalui rekannya (Agen) tersebut, produknya diminati turis asing yang berkunjung ke Pulau Dewata itu.

Lain halnya dengan Maulidanir Rohman dan Ifmawan, pemilik Madani Art yang gencar mengikuti ajang pameran dan membuat website untuk menarik calon pembeli dari warga asing.

“Kita cukup sering ikut pameran, biasanya banyak orang asing yang liat-liat dan tertarik. Dari awalnya pesan satu bisa jadi berkelanjutan dan mungkin mereka (turis asing) memasarkan produk miniatur dari limbah kaca ini di luar negeri,” papar keduanya.

Begitu juga dengan Leni Indah Mangiri yang mengaku rutin mendapat pesanan tas lipat dari Belanda dan Perancis.

“Kemungkinan besar orang asing itu jadi pelanggan saya, tahu dari pameran. Sampai saat ini kita selalu kontak dan dia pesan via email dan kirim uangnya via transfer rekening bank. Jika pesanannya sedikit ya saya kirim lewat jasa pengiriman barang, tapi jika banyak ya lewat kargo,” ujar Leni.

Ditambahkan Arief Gunawan, konsultan ekspor-impor yang kini menetap di Vietnam,  pelaku usaha kecil yang memiliki produk handmade bisa mengenalkan produknya melalui ajang pameran. Biasanya di pameran banyak orang asing, atau eksportir yang mencari barang baru yang bernilai jual ekspor.

Selain itu, bisa juga memasarkan produk melalui internet dengan display produk yang jelas, terperinci mengenai detail bahan baku yang digunakan, ukuran (dimensi) produk, harga, biaya pengiriman, pembayarannya, serta informasi lebih lanjutnya. Dengan demikian akan mempermudah transaksi. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan memasarkan produk (titip jual) melalui eksportir-eksportir yang sudah biasa melakukan transaksi ekspor. Hal ini dapat dilakukan sebelum melakukan ekspor sendiri.

Nah, agar Anda  bisa mendalami lebih banyak tentang seluk beluk ekspor, bisa mempelajarinya di lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang ekspor yang berada di lingkungan Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Departemen Perdagangan yang berada di Gedung PPEI Jl. Letjen S. Parman 112 Grogol Jakarta Pusat telp: (021) 5666732, 5663309, 5674229.

Mengunduh Dolar

Meski sebagian pelaku usaha mengaku menjual produk berbahan baku limbah ini dengan harga yang tak jauh dari pasar domestik, namun dengan kuantitas dan kontinuitas yang lumayan sering membuat  usaha ini bisa dijadikan  sarana untuk mereguk banyak dolar. Sebut saja  Didi Diarsa, pemilik Furniture Aktif yang mampu meraup omset hingga Rp 300 juta/bulan dengan keuntungan bersih lebih dari 40%.

Muhammad Baedowi, pemilik Majestic Buana Group yang mengaku mampu meraup omset Rp 100-150 juta per bulan. Begitu juga dengan M Chodri yang menikmati keuntungan bersih 30% dari ekspor perhiasan dan aksesori ke mancanegara.