Sambara, Waralaba Rumah Makan Sunda Berkonsep Open Kitchen

0
34

 

Sajian Sunda Sambara atau yang lebih dikenal dengan Sambara pertama kali berdiri di bilangan Trunojoyo, Bandung sejak tahun 2006 ini memang identik dengan suasana Sunda khas Kota Kembang. Dikatakan Eric Michael, Manager Franchise Sambara, bahwa pemilik memang tertarik untuk membuka usaha rumah makan khas Sunda dengan sentuhan modern.

“Saat itu belum banyak yang menawarkan menu masakan khas Sunda dengan konsep modern, di mana Sambara merupakan resto khas Sunda pertama yang mengusung konsep buffet (prasmanan) dan open kitchen yang dapat dilihat langsung oleh pelanggan,” jelas pria yang akrab disapa Eric ini.

Sukses dengan cabang pertama yang selalu ramai dikunjungi pelanggan, Sambara membuka cabang kedua yang masih di kota Bandung, tepatnya di seputar Jl. Muaraanjeun. Didorong keinginan untuk melebarkan sayap usaha serta membuka lapangan pekerjaan, akhirnya  Sambara memutuskan untuk membuka peluang usaha dengan konsep waralaba  (franchise).

“Tepatnya pada Oktober 2011 kami resmi membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin bergabung dan menjadi Terwaralaba (franchisee) dari Sambara,” jelas Eric.

Ketika disinggung mengenai perizinan, Sambara telah mengantongi sejumlah perizinan seperti SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), Hak Paten atas brand Sajian Sunda Sambara dari Ditjen HKI, sertifikat halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk bahan bumbu yang digunakan, serta telah berada dibawa naungan CV Sambara Boga.

“Sebenarnya kita juga sempat mengurus STPW (Surat Tanda daftar Waralaba) sebagai syarat mewaralabakan suatu usaha, hanya karena ketidak pahaman tentang prosedur oleh pejabat terkait, akhirnya urung kita lanjutkan. Namun kita siap jika memang diwajibkan membuat surat tersebut,” yakin Eric. Kini Sambara telah memiliki 7 cabang dan 4 Terwaralaba yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang.

Menu Khas Sunda. Sajian Sunda Sambara, dari namanya saja kita sudah bisa menduga, Sambara memang menampilkan suasana yang khas Sunda di mana bangunannya didominasi dekorasi khas Sunda seperti bilik bamboo, serta masakan khas Sunda yang benar-benar fresh dan rendah kolesterol.

“Makanan yang ditawarkan semua dihidangkan dengan konsep buffet sehingga pelanggan dapat melihat dan memilih makanan yang memang masih fresh,” jelasnya.

Menu-menu andalan Sambara seperti Ayam Sambara, Nasi Ceplos, Ayam Ceplos, Ayam Semiri, Ikan Asin Cabe Kering, Tumis Jamur Kancing, Sayur Asem, Ulukutek Leunca, Orek-orek Peda, Cumi Asin, Iga Lada Hitam, Es Goyobot, Es Cendol ditawarkan dengan harga yang terjangkau yakni kisaran Rp 5-37 ribu/potong.

“Memang menu-menu kita tidak jauh beda dengan menu makanan di restoran Sunda lainnya, tetapi kita berusaha mengedepankan pendekatan, harga yang terjangkau, dan pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan,” ujar Eric.

Dengan konsep buffet yang diterapkan diharapkan tidak hanya lidah saja yang dapat menikmati kelezatan makanan, tapi juga mata pelanggan dapat ikut menikmati makanan yang ditawarkan dengan cara prasmanan. Ditambah dengan konsep open kitchen, pelanggan dibuat bisa menyaksisakan secara langsung proses pengolahannya sehingga lebih yakin dengan kebersihan dan kesegaran makanan yang disajikan.

“Konsep ini juga merupakan salah satu strategi penjualan kami agar pelanggan menjadi lapar mata dan memesan banyak makanan,” terang Eric berseloroh.

Investasi.

Ada 4 paket investasi yang dapat dipilih yaitu Warung dengan investasi Rp 250 juta, Xpress sebesar Rp 675 juta, Resto sebesar Rp 1,1 miliar, dan Fine Dinning sebesar Rp 2,5 miliar. Investasi tersebut sudah termasuk biaya joining fee, sewa lokasi yang telah disurvei terlebih dahulu, renovasi, recruitment karyawan, design interior, furniture, peralatan dapur, peralatan makan, kasir, perlengkapan gudang, sampai stock bahan baku awal. Yang membedakan antara paket satu dengan lainnya adalah jumlah kapasitas yang didapatkan saja.

“Semua sudah kita persiapan mulai dari masa pre opening sampai grand opening kita yang mengerjakan, bahkan dalam 3 bulan pertama Terwaralaba akan didampai oleh kami selaku Pewaralaba,” jelas Eric.

Dikatakan Eric lokasi yang dipilih harus sesuai dengan tingkat keramaiannya serta memiliki luas minimal 40-60 m untuk Paket Warung, Xpress seluas 120-150 m, Resto 250 m, dan Fine Dinning minimal seluas 900 m.

“Walau lokasi memiliki luas yang cukup untuk membuka paket Xpress misalnya, tapi jika tingkat keramaiannya kurang, kami akan menyarankan Mitra mencari lokasi lain atau mengambil paket dibawahnya saja,” tegas Eric.

Terwaralaba dikenakan royalty fee sebesar 3,5%-7,5% dari omset, tergantung dari paket investasi yang dipilih. Guna menyeragamkan rasa di setiap gerai, Sambara mewajibkan Terwaralaba membeli bahan baku berupa bumbu dasar untuk setiap menu yang ditawarkan seperti bumbu ayam goring Sambara, sampai bumbu sayur asem, namun Eric tidak menyebutkan berapa harga bahan baku tersebut.

“Untuk bahan baku lain seperti daging dan sayur boleh beli di lokasi Mitra. Selain itu setiap bulan akan ada quality control mulai dari rasa sampai pelayanan,” ujar Eric.

Disinggung kapan Terwaralaba dapat balik modal, Eric menargetkan Terwaralaba bisa balik modal dalam 2-3 tahun. Dengan target omset sebesar Rp 80-100 juta/bulan untuk Paket Warung, Paket Xpress sebesar Rp 200-250 juta/bulan, Paket Resto Rp 300-350 juta/bulan, dan Paket Fine Dinning Rp 600 juta/bulan dengan tingkat keuntungan bersih sebesar 13% dari omset.

“Untuk mencapai target tersebut tentu factor lokasi sangat berpengaruh. Dan lokasi yang cocok di antaranya adalah kawasan yang memang menjadi daerah kuliner seperti Kemang, foodcord, atau di mal kelas menengah ke atas,” saran Eric.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.