Mengubah Limbah Pabrik Jadi Komoditas Ekspor Bernilai Dolar

0
35

 

Sisa produksi pabrik seperti potongan busa, potongan karpet, potongan kain (perca), potongan kaca, keramik, potongan kayu, merupakan beberapa contoh limbah padat pabrik yang masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekspor.

Begitu juga dengan sisa produk asal pabrik yang biasanya menjadi sampah rumah tangga seperti botol parfum, botol minuman, kemasan isi ulang kebutuhan rumah tangga (refill), botol plastik yang masih bisa diolah menjadi bahan baku pembuat berbagai aneka macam produk yang memiliki nilai jual tinggi.

Prospek

Dengan sedikit kreativitas dan sentuhan seni, hasil ikutan pabrik tersebut, bisa mendatangkan rupiah yang tidak sedikit. Padahal modal yang diperlukan tidaklah banyak. Hal ini dikatakan Muhammad Baedowi, pemilik Majestic Buana Group, salah seorang pengolah limbah plastik menjadi bijih plastik, yang merupakan bahan baku aneka komoditas yang bernilai ekspor seperti ember ataupun gagang sapu.

“Usaha berbahan baku limbah sisa produksi pabrik memiliki potensi cukup besar. Hanya saja memerlukan sedikit kreativitas, pengetahuan cara mengolah limbah dan keamanan bahan baku limbah yang diolah menjadi produk yang aman. Apalagi dengan gerakan kampanye go green, seharusnya membuat masyarakat tak malu lagi menjadi pengusaha “sampah” begitu juga dengan konsumen dalam menggunakan produk daur ulang tersebut,” terangnya.

Senada dengan Baedowi, Yuni A.W, penggagas Kelompok Peduli Lingkungan (Pok LiLi) di Depok, Jawa Barat juga berhasil memanfaatkan limbah sisa produksi pabrik yang kerap menjadi sampah rumah tangga menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual tinggi.

“Saya lihat banyak banget limbah hasil produk dari pabrikan yang menjadi sampah di rumah tangga, misal saja kemasan refil detergen, pewangi, kopi, hingga kantong kresek yang biasanya dibuang. Mengingat sampah-sampah tersebut tidak bisa diurai kembali oleh mikroorganisme tanah, membuat saya tergerak untuk mengumpulkan sampah di sekitar kompleks perumahan dan menghasilkan produk seperti tas, dompet, alas duduk, hingga suvenir pernikahan yang layak untuk dijual,” urai Yuni.

Bahan Baku

Cukup banyak produk sisa pabrik yang dijadikan bahan baku dari produk yang bernilai jual tinggi bahkan jadi komoditas ekspor. Contoh saja pelaku usaha sandal spons di sentra pembuatan sandal spons di daerah Plumbon, Cirebon, Jawa Barat yang mampu menghasilkan ribuan pasang sandal dari bahan busa spon sisa produksi pabrik furnitur maupun kasur busa yang juga memanfaatkan  sisa limbah busa spon. Selain dari bahan spon saat ini juga berkembang pembuatan sandal dari potongan karpet sisa produksi pabrik karpet.

Sisa potongan kain (kain perca) memang sudah lebih banyak dimanfaatkan pengusaha-pengusaha bermodal cekak untuk menghasilkan berbagai macam produk. Sebut saja M. Mahmudha, Pemilik Rumah Perca yang memulai bisnisnya hanya dengan dua unit mesin jahit dan modal untuk membeli sisa kain dari garmen dan konveksi di sekitar Yogyakarta. Dari kain perca tersebut, Mahmudha mampu membuat berbagai macam produk yang bernilai jual seperti bedcover, tas, tempat HP, hingga bantal leher untuk mobil. Dari modal sekitar Rp 5 jutaan (tahun 2008), ia mampu mendulang omset hingga Rp 20-30 juta tiap bulan.

Lain halnya  lagi dengan Leni Indah Mangiri, pemilik Dahlia Art yang mengubah kain perca menjadi taplak, sarung bantal, tas lipat dan tas gulung multifungsi. Lewat sentuhan tangan kreatifnya ia mampu memproduksi 500 unit produk berbahan perca yang dijual dengan harga Rp 32 – 42,5 ribu itu. Bahkan untuk tas lipatnya banyak mendapat pesanan dari pelanggan di Perancis dan Belanda.

Potongan kaca yang menjadi limbah di pabrik kaca maupun material, juga memberi peluang besar bagi yang jeli. Contoh saja  Maulidanir Rohman dan Ifmawan Tatur, Pemilik Madani Art dari Semarang Jawa Tengah yang mampu mengubah serpihan kaca menjadi vas bunga dan miniatur bangunan seperti menara Eiffel, masjid nan cantik dan bernilai jual hingga jutaan rupiah. Padahal harga bahan baku potongan kaca tersebut terhitung murah yakni Rp 30 ribu/karung atau Rp 400 ribu satu mobil pick up.

Tak beda jauh dengan Madani Art, Reka Cipta Manik, produsen kalung, gelang dan aksesori dari leburan botol bekas parfum dan minuman, mampu menjual produk kreatifnya hingga ke Korea, Jepang, Australia, Amerika, Eropa, dan Zimbabwe.

Di samping itu ada pula pengusaha yang jeli melihat sisa potongan kayu dari pabrik furnitur yang kemudian dijadikan berbagai macam produk mainan edukatif hingga kursi anak-anak. Ada pula yang memanfaatkan kusen, triplek sisa proyek pembangunan ruko, apartemen, rumah yang disulap menjadi rumah-rumah barbie dengan harga jual hingga jutaan rupiah.

Yang juga inspiratif adalah pengalaman Didi Diarsa, Pemilik Furniture Aktif yang mampu mengubah bilah-bilah kayu sisa bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara menjadi furnitur untuk sekolah dan rumah hingga tembus ekspor ke London.

Ada juga limbah keramik yang dapat dijadikan gerabah dan hiasan mozaik yang dijual di mal kelas atas seperti Grand Indonesia harganya mencapai puluhan juta rupiah. Sedangkan untuk limbah hasil produksi pabrik seperti kemasan refil pewangi, detergen juga dimanfaatkan Herianti Simarmata, pemilik Trashion menjadi payung, dompet, tempat handphone, sandal, agenda, tas sekolah, tas laptop, bags pack, paper bags dan shopping bags yang dipasarkan di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan dan semua gerai Hypermart.

Berkat menjadi salah satu pemenang di event Jakarta Green and Clean pada tahun 2007 Yanti, begitu ia disapa, dibantu PT. Unilever mengekspor produk asal sampah tersebut ke Amerika, Inggris, Singapura, Filipina, India dan Belanda.

Masih banyak pelaku usaha yang cukup sukses mendaur ulang sisa produksi pabrik hingga sampah rumah tangga. Misal saja Andriyani yang mampu mengubah kantong semen menjadi tas pesta dan tas selempang. Wisnu, pemilik Art Strawberry yang mengubah limbah kertas paper bag menjadi tas anyaman yang menarik.

Serta Harso Susanto yang mengubah limbah kertas koran untuk menjadi keranjang baju, keranjang sampah, dan tempat majalah.  Yang menarik lagi adalah dengan apa yang dilakukan Okto Sanitia Maarif, di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, yang menyulap bubur kertas menjadi lukisan relief yang dijual dengan harga jutaan rupiah.

Kriteria Ekspor

Diperlukan kreativitas tinggi untuk mengolah limbah, namun yang perlu dicatat pasar yang paling potensial untuk  produk dari bahan  limbah  adalah orang asing. Tak ayal para pelaku usaha tersebut untuk mengenalkan produknya biasanya akan dilakukan dengan  mengikuti  berbagai pameran ataupun membuat website di internet. Seperti yang dialami M Chodri, yang sejak mulai usaha, hanya melayani pesanan kalung, gelang dan aksesori limbah kaca dari luar negeri. Baru empat tahun terakhir ia menjual produk Reka Cipta Manik di dalam negeri.

“Dulu saya lebih banyak permintaan untuk ekspor ke Korea, Jepang, Australia, Amerika, Eropa, dan Zimbabwe melalui agen saya di Bali, baru beberapa tahun ini saya jual di sini karena orang asing jauh lebih menghargai produk daur ulang limbah yang tak kalah bagus dari aksesori lainnya,” terangnya.

Adapaun  produk-produk limbah yang berpotensi  untuk diekspor adalah produk yang aman untuk digunakan, memiliki nilai estetika, terlihat alami dan merupakan produk kerajinan tangan (handmade). Di samping itu, bahan baku yang digunakan juga harus yang  mudah terurai oleh mikroorganisme tanah seperti dari kain, kayu, kaca, hingga keramik. Sedangkan untuk bahan baku plastik biasanya tidak dapat masuk ke negara-negara yang cukup ketat menerima produk negara lain seperti negara  Jepang misalnya.

Pemasaran.

Menurut M Chodri salah satu cara yang membuat produknya laris manis di luar negeri adalah berkat bantuan rekannya yang ada di Bali. Melalui rekannya (Agen) tersebut, produknya diminati turis asing yang berkunjung ke Pulau Dewata itu.

Lain halnya dengan Maulidanir Rohman dan Ifmawan, pemilik Madani Art yang gencar mengikuti ajang pameran dan membuat website untuk menarik calon pembeli dari warga asing.

“Kita cukup sering ikut pameran, biasanya banyak orang asing yang liat-liat dan tertarik. Dari awalnya pesan satu bisa jadi berkelanjutan dan mungkin mereka (turis asing) memasarkan produk miniatur dari limbah kaca ini di luar negeri,” papar keduanya.

Begitu juga dengan Leni Indah Mangiri yang mengaku rutin mendapat pesanan tas lipat dari Belanda dan Perancis.

“Kemungkinan besar orang asing itu jadi pelanggan saya, tahu dari pameran. Sampai saat ini kita selalu kontak dan dia pesan via email dan kirim uangnya via transfer rekening bank. Jika pesanannya sedikit ya saya kirim lewat jasa pengiriman barang, tapi jika banyak ya lewat kargo,” ujar Leni.

Ditambahkan Arief Gunawan, konsultan ekspor-impor yang kini menetap di Vietnam,  pelaku usaha kecil yang memiliki produk handmade bisa mengenalkan produknya melalui ajang pameran. Biasanya di pameran banyak orang asing, atau eksportir yang mencari barang baru yang bernilai jual ekspor.

Selain itu, bisa juga memasarkan produk melalui internet dengan display produk yang jelas, terperinci mengenai detail bahan baku yang digunakan, ukuran (dimensi) produk, harga, biaya pengiriman, pembayarannya, serta informasi lebih lanjutnya. Dengan demikian akan mempermudah transaksi. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan memasarkan produk (titip jual) melalui eksportir-eksportir yang sudah biasa melakukan transaksi ekspor. Hal ini dapat dilakukan sebelum melakukan ekspor sendiri.

Nah, agar Anda  bisa mendalami lebih banyak tentang seluk beluk ekspor, bisa mempelajarinya di lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang ekspor yang berada di lingkungan Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Departemen Perdagangan yang berada di Gedung PPEI Jl. Letjen S. Parman 112 Grogol Jakarta Pusat telp: (021) 5666732, 5663309, 5674229.

Mengunduh Dolar

Meski sebagian pelaku usaha mengaku menjual produk berbahan baku limbah ini dengan harga yang tak jauh dari pasar domestik, namun dengan kuantitas dan kontinuitas yang lumayan sering membuat  usaha ini bisa dijadikan  sarana untuk mereguk banyak dolar. Sebut saja  Didi Diarsa, pemilik Furniture Aktif yang mampu meraup omset hingga Rp 300 juta/bulan dengan keuntungan bersih lebih dari 40%.

Muhammad Baedowi, pemilik Majestic Buana Group yang mengaku mampu meraup omset Rp 100-150 juta per bulan. Begitu juga dengan M Chodri yang menikmati keuntungan bersih 30% dari ekspor perhiasan dan aksesori ke mancanegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.