Senin, Juni 15, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 776

Sukses Berbisnis ala Kesatria Jepang

0

 

Citra positif  yang melekat pada bangsa Jepang, terkait dengan kesuksesan yang mereka raih dalam berbagai bidang adalah kerja keras, disiplin, punya rasa malu dan siap bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kegagalan, pantang menyerah, loyal, dan inovatif. Meski setiap individu punya karakter dan sifat tersendiri, namun citra positif di atas secara kolektif  melekat pada bangsa Jepang.

Selain itu, sejak dini anak-anak di Jepang dididik untuk mandiri, punya minat baca tinggi, serta menjaga tradisi, salah satu tradisi yang mereka jaga adalah Bushido. Hal tersebut diungkapkan Motivator Andrie Wongso dalam seminar The Spirit of Bushido for Success in Selling.

Bushido bisa diartikan sebagai  tatacara ksatria, atau sebuah kode etik kepahlawanan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. Samurai sendiri adalah sebuah strata sosial penting dalam tatanan masyarakat feodalisme Jepang. Secara resmi, Bushido dikumandangkan dalam bentuk etika sejak zaman Shogun Tokugawa.

Pada zamannya Bushido adalah sikap rela mati demi negara/kerajaan dan kaisar. Namun dalam Bushido sendiri, ada nilai-nilai moral yang jika diaplikasikan pada zaman apa pun masih bisa relevan, apalagi jika diterapkan dalam dunia kerja atau dunia usaha.

Ada tujuh karakter moral dan mental yang menjadi elemen dasar dari Bushido. Ketujuh elemen itu adalah Gi (Ketulusan), Yuki (Keberanian), Jin (Kebaikan), Rei (Kesantunan), Makoto (Kejujuran), Meiyo (Martabat), dan Chugi (Kesetiaan). Menurut Andrie Wongso, ketujuh elemen di atas biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sukses. Meskipun orang tersebut tidak dengan sengaja mempelajari dan menerapkan elemen Bushido.

CEO Astra Internasional Isuzu, Supranoto menjelaskan penerapan elemen Bushido tersebut dalam dunia kerja dan bisnis. Menurutnya, Makoto yang berarti kejujuran, atau bisa diartikan juga sebagai integritas adalah hal yang penting dalam dunia kerja maupun bisnis.

“Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang Anda katakan, termasuk di antaranya penepatan janji-janji. Integritas membuat Anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Anda,” ungkap Supranoto.

Dalam dunia kerja, sebuah perusahaan tentu mencari karyawan yang jujur dan punya integritas. Sementara dalam bisnis, hal ini diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan. Supranoto menceritakan pengalamannya ketika ada seorang calon konsumen yang menanyakan apa kekurangan dari produk truk yang dijualnya. Sebagian besar sales biasanya piawai jika ditanya apa kelebihan produknya, namun sulit jika ditanya apa kekurangannya. Jika berbohong, tidak ada kekurangannya maka konsumen yang kritis tidak akan percaya.

“Saya akhirnya menjawab, jika truk ini berhenti di lampu merah, lalu saat lampu hijau berlomba dengan mobil lain untuk melesat cepat, produk kami pasti kalah,” ungkap Pranoto.

Hal tersebut diungkapkan Pranoto, bukan tanpa alasan. Truk menurutnya memang dibuat bukan untuk beradu cepat, atau mengutamakan kecepatan, namun lebih pada kekuatan.

“Beberapa minggu kemudian, calon konsumen tersebut ternyata kena musibah, salah satu armada truk miliknya kecelakaan karena sopirnya membawa truk ngebut, ugal-ugalan. Akhirnya ia mengambil produk kami,” Papar Pranoto.

Elemen Bushido lain yang menurut Pranoto penting untuk penjualan adalah Chugi yang berarti kesetiaan. Pranoto mengungkapkan, untuk customer yang langsung berhubungan dengannya, ia selalu memberikan nomor handphone yang kapan pun bisa dihubungi jika ada masalah atau keluhan.

“Nomor handphone saya sudah 20 tahun tidak ganti,” ungkapnya.

Pranoto menceritakan pengalamnnya saat masih bertugas di Trac, Astra Rent Car. Saat itu ada pelanggan yang menggunakan jasanya, namun dalam perjalanan mobilnya terperosok dan konsumen tersebut bingung tak tahu harus melakukan apa.

“Akhirnya, dia telepon saya pukul 11 malam, dan menanyakan apa yang harus dilakukannya, saya kemudian minta waktu 10 menit untuk mencari solusi,” ungkap Pranoto.

Karena lokasinya lebih dekat ke Bandung, Pranoto kemudian menghubungi cabang Bandung untuk berkordinasi, lima menit kemudian ia menghubungi customer tersebut dan mengatakan untuk menunggu di lokasi, karena setengah jam lagi akan ada mobil pengganti yang akan diantarkan.

Pranoto mengatakan untuk menunggu sekitar setengah jam padahal estimasi waktunya cukup hanya 15 menit. Hal itu dilakukannya agar apa yang customer dapatkan, melebihi ekspektasi.

“Kalau saya katakan sebentar lagi sampai, tapi ternyata lama, justru orang akan kecewa dan kesal menunggu,” ungkap Pranoto. Hasilnya, customer tersebut hingga kini menjadi pelanggan setia.

Gi atau ketulusan juga menjadi perhatian Supranoto, kali ini ia menceritakan pengalamanya sebagai konsumen.

“Saya cukup sering bepergian dengan pesawat dengan kelas dan pelayanan yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Ada pramugari yang menawarkan dengan ala kadarnya, ada juga maskapai yang pelayanannya lebih baik pramugarinya mau menerangkan menunya, yang paling baik dan membuatnya terkesan adalah pelayanan pramugari di sebuah maskapai penerbangan yang memang memperhatikan benar siapa yang dilayani.

“Dia menyapa dan melayani dengan menyebut nama, tadinya saya berpikir paling ia hanya menghafal nama manifes dan tempat duduknya, di lain kesempatan ketika saya mencoba bertukar tempat duduk pun ternyata pramugarinya masih menyapa nama saya dengan benar,” papar Supranoto.

Supranoto melihat kesungguhan mereka dalam melayani customer. Mereka memperhatikan benar siapa yang akan dilayani.

Pranoto menyimpulkan, Makoto ditambah Chugi, akan menghasilkan Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan), yang jika ditambah lagi dengan Gi atau ketulusan akan didapat Customer Delighted (pelanggan senang), yang kemudian bisa berkembang menjadi Customer Loyality (pelanggan setia).

Untuk bisnis secara umum, juga dibutuhkan keberanian atau Yuki. Keberanian ini dalam berbagai hal, dari keberanian memulai usaha, keberanian berinovasi, keberanian melakukan terobosan yang tidak biasa, atau jika berhubugan dengan selling adalah keberanian menghadapi komplain dari pelanggan.

Jika elemen-elemen di atas sudah dilakukan, maka Meiyo atau martabat serta nama baik akan bisa terbentuk. Hal ini terkait citra usaha yang kemudian harus selalu dijaga. Salah satu hal yang dapat menjaga dan memperbaiki citra, adalah melakukan kebajikan (Jin). Karena itu dewasa ini, banyak perusahaan sudah mulai peduli melakukan program CSR atau Corporate Social Responsibility, sebuah tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Memulihkan Nama Baik Usaha Setelah Melakukan Kesalahan

0

 

Memang kepercayaan merupakan fondasi dasar bagi suatu bisnis yang ingin langgeng untuk jangka panjang. Inilah yang membedakan dengan bisnis “tabrak lari” yang hanya mengejar keuntungan sesaat. Kita menjalankan bisnis selayaknya membangun dan mempertahankan kepercayaan ke konsumen.

Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan pentingnya citra atau kepercayaan dalam dunia bisnis adalah “Panas Setahun Dihapus Hujan Sehari”. Maksudnya, membangun kepercayaan butuh waktu yang panjang. Namun, kalau kita salah mengelola, kepercayaan pelanggan bisa lenyap dalam sekejap. Hal inilah yang terjadi untuk kasus di atas. Kesalahan tak disengaja telah membuat runtuhnya kepercayaan salah satu pelanggan dan membuat citra perusahaan turun.

Untungnya, perusahaan Anda mau berkorban dan memperbaiki kesalahan cetak tersebut. Upaya memperbaiki pesanan yang dilakukan perusahaan Anda sudah tepat di dalam bisnis. Karena kesalahan yang terjadi di pihak perusahaan meski ini membuat perusahaan rugi. Namun andai tidak dilakukan, tentu efek negatif yang muncul jauh lebih buruk.

Misalnya klien tadi menyebarkan berita negatif, komplain lewat surat pembaca di media massa, internet atau yang lain. Meski perusahaan Anda telah melakukan koreksi dan menanggung kerugian, namun akibatnya masih membekas. Kesalahan yang terjadi telah mengikis kepercayaan pelanggan. Pelanggan tadi mungkin dirugikan dengan waktu yang hilang selama menunggu perbaikan, perasaan ragu-ragu untuk order berikutnya, kecewa, trauma hal yang sama terjadi lagi di waktu datang dan sejenisnya.

Nah, di sinilah tugas penting Anda: memulihkan kembali kepercayaan pelanggan (recovery strategies). Layaknya pelanggan yang trauma, maka upaya pemulihan ini juga membutuhkan semacam terapi. Artinya Anda perlu menyampaikan dan melakukan secara bertahap.

Pada dasarnya, perbaikan citra bisa dilakukan pada dua taraf ekstrem: secara terbatas atau secara besar-besaran. Perbaikan secara besar-besaran dilakukan kalau perusahaan ingin mengganti citranya secara total. Ini terjadi kalau citra yang lama benar-benar buruk dan sulit diperbaiki. Yang dilakukan perusahaan pun radikal seperti mengganti logo perusahaan, seragam karyawan, personel karyawan, produk yang dijual, dan lain-lain secara keseluruhan. Seolah-olah perusahaan “ganti baju”.

Sebaliknya, perbaikan citra secara terbatas dilakukan kalau perusahaan memandang hanya bagian tertentu saja yang perlu diperbaiki. Ini bisa dilakukan pada bagian tertentu yang buruk misalnya perusahaan memperbarui mesinnya. Atau, perusahaan mengganti sistem pemesanan yang lebih baik, perbaikan pengawasan, dan sejenisnya. Pada pilihan ini, sifatnya lebih terbatas dan difokuskan pada bagian yang membutuhkan perbaikan.

Nah kalau begitu, bagaimana dengan kasus Anda? Perbaikan citra dalam rangka memulihkan kepercayaan ini cukup dilakukan terbatas. Dari cakupannya, tampak penyebabnya adalah kesalahan karyawan. Lalu, apa saja yang perlu dilakukan?

Pertama, perusahaan Anda perlu menjelaskan ke klien kalau kesalahan yang pernah terjadi adalah kondisi tidak biasa. Anda perlu jelaskan penyebabnya yang masuk akal, misalnya karena yang mengerjakan waktu itu karyawan baru. Lalu Anda sampaikan perbaikan yang telah dilakukan perusahaan sehingga tidak terulang lagi di masa mendatang. Berikan bukti, misalnya karyawan yang mengerjakan sudah diganti dan sekarang diisi karyawan yang sudah ahli dan pengalaman di bidangnya.

Untuk memperkuatnya lagi, tunjukkan pula perbaikan sistem yang telah dilakukan misalnya proses order cetak yang saat ini memakai komputerisasi, menggantikan sistem manual sebelumnya. Adanya quality control pada proses produksi yang ditampilkan di brosur atau katalog. Jadi intinya untuk memulihkan citra atau kepercayaan, sampaikan apa yang sudah Anda benahi, apa yang sudah membuat Anda berubah menjadi lebih baik.

Kedua, untuk memperkuat pemulihan citra, Anda berikan juga testimonial atau kesaksian pelanggan Anda yang masih order hingga saat ini. Sampaikan ke klien, siapa saja nama pelanggan besar yang masih order ke Anda. Kalau perlu Anda tunjukkan bukti surat order mereka atau nomor kontaknya supaya klien bisa bertanya langsung ke pelanggan Anda. Ini cara yang ampuh untuk meyakinkan ke klien kalau citra Anda bagus.

Ketiga, kalau masih belum manjur, Anda tawarkan jaminan. Anda berani menjamin kalau sampai ada kesalahan lagi akan diberikan penggantian yang cepat bahkan free untuk ordernya. Catatan, ini boleh dilakukan kalau perusahaan Anda yakin bisa menerapkan sistem yang bebas kesalahan.

Yang terakhir, supaya klien tadi tetap melanjutkan ordernya lakukan hubungan atau relationship yang kuat. Buat hubungan dengan klien sebagai teman. Misalnya melakukan kegiatan bersama sesuai dengan hobi klien seperti olahraga, fotografi atau yang lain.

Ini penting supaya terjadi ikatan sosial atau personal. Kalau terbangun ikatan sosial, kepercayaan pelanggan pun akan pulih dan Anda dipandang sebagai teman. Akibatnya, klien tidak hanya memandang perusahaan Anda sebagai hubungan bisnis tetapi juga mitra yang dapat dipercaya.

Selamat menerapkan solusi-solusi di atas dan saya yakin klien Anda akan melanjutkan pesanannya.

 

Oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetiya Mulya, dan

Penulis buku “Jurus-jurus Sakti Wirausaha”

www.istijanto.com

 

 

Mengungkap Sebab-Sebab Gagalnya Bisnis Mitra Franchise

0

 

Dibandingkan dengan usaha biasa, tingkat kegagalan usaha yang dijalankan dengan sistem waralaba maupun kemitraan relatif lebih kecil. Sebab dengan membeli usaha yang diwaralabakan atau dimitrakan, pembeli merek (Terwaralaba/Mitra) tak perlu berdarah-darah memulai usaha dari nol. Melainkan hanya tinggal menjalankan standard operating procedure (SOP) yang telah dibakukan oleh Pewaralaba (pemilik merek).

Namun sayang tak sedikit Terwaralaba yang berpikiran bahwa dengan membeli waralaba dipastikan sukses. Padahal  pada kenyataan tak semua Terwaralaba  sukses. Banyak Terwaralaba yang usahanya tidak berkembang, mandek, merugi, dan  hingga bangkrut.

Menurut Burang Riyadi, Pengamat Waralaba dari Internasional Franchise Business Management (IFBM) mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi pemicu usaha dengan sistem waralaba tidak mampu berkembang atau gagal, yaitu  faktor internal seperti manajemen, attitude, dan modal, serta faktor eksternal seperti lingkungan dan pasar yang mulai jenuh, walaupun sebenarnya hal tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal, yang mempengaruhinya.

Faktor Internal Terwaralaba

Menurut Burang, dalam usaha waralaba faktor yang paling dominan dan berpengaruh terhadap gagalnya Terwaralaba (Mitra) adalah faktor internal baik yang datang dari pihak Pewaralaba maupun Terwaralaba. Namun hampir di setiap kasus kegagalan usaha milik Terwaralaba banyak yang disebabkan dari Terwaralaba yang tidak proaktif dan tidak siap dengan mental entrepreneur yang harus bekerja keras agar usahanya sukses.

“Tak jarang Terwaralaba berpikir jika mereka hanya bertindak sebagai investor karena merasa sistemnya sudah diatur oleh Pewaralaba,” terang Burang. Terwaralaba sebagai pembeli/penerima waralaba tidak menyadari fungsinya bahwa ia harus ikut bertanggung jawab terhadap bisnisnya sendiri.

Sependapat dengan Burang, Handito Joewono, Pengamat dari Arrbey Strategy and Marketing Consulting Firm mengatakan, kebanyakan kasus gagalnya usaha Terwaralaba karena kesalahan Terwaralaba sendiri. Mengapa demikian? Terkadang Terwaralaba latah dan kurang melakukan market research, serta attitude pemilik usaha yang malas dan tidak mau terlibat atau turun tangan langsung dalam mengelola usahanya sendiri, semuanya diserahkan kepada karyawan yang digaji dan lebih suka mendapat passive income.

Faktor Internal Pewaralaba

Sementara  berbeda  dengan pendapat sebelumnya, Bambang Wahyupurnomo, pengamat kewirausahaan, berpendapat lain. Menurut Bambang, kegagalan umumnya disebabkan kecepatan pertumbuhan jumlah gerai usaha yang diwaralabakan  oleh pihak Pewaralaba yang tidak sebanding dengan pembakuan SOP (Standard Operating Procedure) maupun training-training yang diberikan kepada Terwaralaba dan kesiapan SDM dari Pewaralaba.

Hal ini lantas menimbulkan ketidakseragaman kualitas pelayanan dan mutu produk yang disodorkan ke konsumen, dengan kata lain brand sama, tetapi kualitas berbeda antara yang dijual Pewaralaba dan Terwaralaba. Ekspektasi konsumen yang tinggi, dilayani dengan mutu di bawahnya, tentu mengecewakan bagi konsumen. Alhasil jika demikian realitanya, tentu Terwaralaba yang akan dirugikan, karena konsumen enggan belanja kembali ke gerai Terwaralaba.

Dikatakan Bambang, Pewaralaba sering terburu-buru mewaralabakan usahanya, padahal kemampuan dan jumlah personel Pewaralaba sering tidak seimbang dengan jumlah Terwaralaba yang harus dilayani. Hal ini menyebabkan kontrol Pewaralaba kepada Terwaralaba menjadi sangat lemah, sehingga mengakibatkan ada Gerai yang sukses dan tidak sedikit pula yang ‘gatot’ alias gagal total.

“Usahanya baru teruji berhasil di satu atau dua lokasi sudah diwaralabakan. Padahal belum teruji di beberapa lokasi lain yang demografinya berbeda,” ujar Bambang.

Burang menambahkan memang terkadang ada kemungkinan kegagalan disebabkan oleh ketidakmampuan Pewaralaba men-support Terwaralabanya, terutama mengenai service level dari suplai bahan baku kepada Terwaralaba.

Selain itu, ada pula Pewaralaba yang kurang mampu mengelola manajemen usaha waralabanya secara profesional atau baru saja memulai usaha sudah diwaralabakan, sehingga lemah dalam hal manajemen karena usaha yang ditawarkan belum terbukti menguntungkan.

Faktor Eksternal

Baik Bambang, Burang, maupun Handito sependapat jika selain faktor yang datang dari Terwaralaba dan Pewaralaba bisa saja usaha yang dijalankan gagal karena animo pasar di sekitar lokasi usaha berkurang atau hadirnya kompetitor yang merebut minat konsumen.

Hal tersebut mengakibatkan suplai lebih besar daripada demand, sehingga membuat operating dan production cost lebih besar dari omset pendapatan, akibatnya usaha milik Terwaralaba sulit berkembang apalagi jika Terwaralaba tidak berpromosi atau menjalankan strategi marketing yang menarik dan produk yang dijual tidak berkembang mengikuti tren pasar.

Di samping itu, terkadang media massa juga ikut bertanggung jawab memoles-moles usaha yang diekspos, padahal belum teruji di beberapa lokasi lain yang demografinya berbeda. Dengan adanya pemberitaan tersebut, masyarakat yang nafsu sangat silau melihat berita keuntungan sebuah usaha baru dan ingin segera membuka usaha sejenis atau membeli waralaba tersebut, tapi pada akhirnya berantakan.

Syarat dan Liku Menembus Pasar Ekspor

0

Pemasaran buah untuk komoditas ekspor bisa melalui beberapa perusahaan eksportir, yaitu PT Agung Mustika Selaras (Bandengan Utara, Jakarta Barat), PT Masindo Mitra Mandiri (Jl. Nangka Tanjung Barat, Jakarta Selatan), PT Alamanda Sejati Utama dan sebagainya.

Syarat agar buah yang dipasarkan menembus pasar ekspor harus memiliki standar mutu yang sama dengan yang diminta oleh pihak importir. Kedua, harus memenuhi persyaratan GAP (Good Agricultural Practice) atau standar pekerjaan dalam setiap usaha pertanian agar produksi yang dihasilkan memenuhi standar internasional. Lalu yang ketiga tentunya harus memenuhi persyaratan SPS (Sanitary and Phyto-Sanitary).

Tindakan SPS ini adalah tindakan yang diterapkan untuk melindungi kehidupan atau kesehatan hewan atau tanaman dalam wilayah negara anggota dari risiko yang disebabkan oleh masuknya, pembentukan atau penyebaran hama, penyakit, organisme pembawa penyakit atau organisme penyebab penyakit.

Selain itu melindungi kehidupan atau kesehatan manusia atau hewan dalam wilayah negara anggota dari resiko yang disebabkan oleh bahan tambahan (additives), cemaran, racun atau organisme penyebab penyakit yang terkandung dalam makanan, minuman, atau bahan pakan ternak.

Ketiga, melindungi kehidupan atau kesehatan manusia dalam wilayah negara anggota dari resiko yang disebabkan oleh penyakit yang dibawa oleh hewan, tanaman atau produknya atau dari masuknya, pembentukan atau penyebaran hama, dan mencegah atau membatasi kerusakan lain dalam wilayah anggota yang timbul dari masuknya, pembentukan atau penyebaran hama.

Jika pembudidaya buah untuk komoditi ekspor merasa kesulitan menembus pasar ekspor, alternatif lain ada baiknya fokus memproduksi buah kualitas ekspor namun untuk dijual dipasar lokal.

“Harga buah di pasar dalam negeri itu sebenarnya lebih mahal lho dibandingkan buah luar negeri. Kalau mau fokus menyasar pasar lokal saja tapi produknya harus kualitas ekspor,” saran Sobir.

Dari pengalaman para pelaku usaha, pembudidaya buah kualitas ekspor asal Ciamis Jawa Barat, M. Andrean Saeful mengaku mendapatkan keuntungan berlebih dari bisnis budidaya buah orientasi ekspor ini dibandingkan saat ia berjualan buah impor.

Begitu pun dengan Muhamad Hata, pemilik KBU Al-Ihsan yang fokus membudidayakan buah manggis grade super untuk pasar ekspor. Keduanya mampu meraup omset hingga Rp 500 juta per bulan.

Kendala

Meski beberapa komoditas buah sudah melenggang di pasar dunia, nyatanya ada kendala yang mendera produksi buah lokal kita, yakni masalah volume produksi yang masih sedikit. Selain itu fakta bahwa Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas dan subur ternyata kalah jauh dari negara lain dalam produksi buah-buahan unggulan, bahkan turut menyerbu pasar Indonesia.

Data yang ditunjukkan Sobir menyebutkan, pada 2011 Indonesia mengimpor 832.080 ton buah. Sementara itu, nilai ekspornya hanya 223.001 ton. Ada tiga hal yang keliru terkait dengan pola pertanian buah kita. Tiga hal itu meliputi luas tanam buah yang sangat sedikit. Kedua, Indonesia tidak menerapkan pola menanam buah dalam bentuk estate. Ketiga, petani buah di Indonesia tidak bisa membaca perubahan preferensi terhadap buah.

Salah satu langkah yang bisa menjadi solusi berhubungan dengan pola tanam dan konsep estate adalah dengan menggandeng BUMN seperti PTPN (PT Perkebunan Nusantara) untuk menjadi lokomotif dalam melakukan ekspor.

Dengan adanya kerja sama dengan PTPN ini diharapakan bisa mempengaruhi masyarakat untuk semakin tertarik membudidayakan tanaman buah. Sebab keuntungan mengembangkan usaha budidaya buah tropis ternyata jauh lebih besar daripada menanam padi.

Kendala lain, seleksi buah untuk ekspor yang ditentukan eksportir sangat ketat sehingga perlu ketelitian kalangan pembudidaya dalam mensortir buah-buah yang akan dijual. Persyaratan seperti ini membuat para pembudidaya harus ekstra ketat dalam melakukan sortir.

Kalau tidak, tentu saja akan kalah bersaing dengan buah dari negeri lain, apalagi menjelang pemberlakukan perdagangan bebas Asean. Maka dari itu perlu pembinaan terhadap para pembudidaya tanaman buah agar mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir  Buah dan Sayuran Segar Indonesia, Khafid Sirotudin mengatakan, selama ini petani buah dan sayuran tidak memperhatikan pasca panen.

“Saat panen raya dan melimpah harga menjadi jatuh, padahal dengan penanganan lebih baik bisa meningkatkan pendapatan petani,” jelasnya.

Agar bisa membantu para pembudidaya tanaman buah lokal, maka Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia bersama Kementrian Pertanian menyalurkan bantuan berupa bibit tanaman unggul.

Selain itu, kendala pelaku ekspor ketika menjual produknya di luar negeri adalah  tidak adanya dukungan dalam bentuk promosi.

“Orang Amerika itu promosi habis-habisan ke seluruh dunia bahwa green is fresh Thailand juga mendapatkan dukungan dari pemerintahnya sehingga buah asal Thailand ada dimana-mana, seperti di swalayan-swalayan buah banyak terpampang buah asal Thailand. Nah, Indonesia belum punya sistem seperti itu. Kita nggak punya uang untuk promosi di luar negeri,” ungkap Sobir.

 

Prospek Cerah Ekspor Buah Lokal

0

 

Indonesia memiliki beragam jenis buah, bahkan hampir di setiap daerah memiliki sentra dan produksi buah lokal unggulan yang dikembangkan oleh pemerintah kabupaten setempat. Potensi alam juga sangat mendukung untuk pengembangan buah-buahan tropis sehingga bisa menjadi komoditas unggulan yang diminati pasar ekspor.

Saat ini jenis buah lokal unggulan untuk komoditas ekspor seperti manggis, mangga harum manis, dan mangga gedong gincu dengan pasar ekspor Singapura, Thailand, Malaysia, dan Timur Tengah. Apalagi volume ekspor produk buah-buahan lokal Indonesia menurut Prof. Dr. Sobir, Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT)-LPPM IPB masih sangat kecil, yakni sekitar USD 241 juta, sementara volume impor sekitar USD 856 juta. Namun produksi buah nasional tiap tahunnya mengalami peningkatan.

Menurut Sobir, ke depannya pasar buah itu akan semakin besar. “Pasar buah dunia itu menunjukkan kenaikan terus tiap tahunnya. Jadi kalau kita tidak mengisinya, maka akan diisi oleh orang lain,” kata Sobir.

Pasar ekspor buah terbesar diserap oleh China. Impor buah oleh China per tahun sebanyak 3,4 juta metric ton dan berkembang tiap tahunnya sebesar 24% yang bernilai sekitar USD 3,11 milyar.

“Penduduk China itu 40% kelas menengah, dan orang kaya China itu jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan total penduduk Eropa. Kalau dirupiahkan, tiap tahun China mengimpor buah sebanyak 36 triliun, itu tahun 2011. Sekarang mungkin datanya berubah, karena kenaikannya rata-rata sebanyak 53%,” tutur Sobir.

Selain itu di pasar dalam negeri, secara proporsi keberadaan buah impor sebenarnya lebih kecil dibandingkan buah lokal, hanya sekitar 5% dari kebutuhan pasar dalam negeri. Buah impor ini sebenarnya berada pada rantai yang paling terlihat, karena banyak dijual di supermarket dan kios-kios pinggir jalan. Jadi kelihatan ada di mana-mana, padahal sebenarnya jumlah total buah impor ini relatif kecil.

Rencana pembatasan buah impor menurut pandangan Sobir bertujuan untuk merangsang produsen buah lokal. Pembatasan itu akan menyebabkan pengurangan suplai buah di dalam negeri, tapi dengan sendirinya juga akan merangsang produsen dalam negeri untuk memproduksi buah. Namun seharusnya pembatasan buah impor ini harus satu paket dengan mendorong produksi dalam negeri yang berkualitas, bukan hanya volume saja.

Jenis Buah Lokal Andalan Ekspor

Potensi Indonesia sebagai produsen buah tropis menduduki peringkat keempat. Komoditas buah lokal Indonesia yang memiliki peluang bagus dan nyaris tak ada saingannya adalah buah manggis, kedua adalah pepaya Calina. “Manggis dan pepaya Calina itu salah satu andalan kita. Kedua varietas buah itu hampir tak ada saingannya. Selain itu tipe kedua buah tersebut memang unggul di pasaran internasional,” tutur Sobir.

Dalam menyiasati agar produksi buah yang diekspor tetap bagus, ada baiknya para pembudidaya buah untuk komoditi ekspor menggandeng petani-petani kecil untuk menciptakan manajemen rantai pasokan di pasar ekspor. Sehingga meski produksi turun, namun bisa terus menjaga konsistensi kualitas ekspor, konsistensi harga, serta membangun komitmen rantai pasokan berkelanjutan. Pembudidaya juga harus dibekali  pembinaan agar menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) agar produk terus diterima di pasar ekspor.

Ketika hendak memasarkan buah untuk komoditi ekspor, pembudidaya hendaknya mengetahui standar pasar mengenai buah yang akan diekspor yang bisa diketahui informasinya dari eksportir. Misalnya untuk mangga, konsumen luar negeri lebih berminat terhadap mangga yang memiliki warna merah, sedangkan kebanyakan mangga lokal berwarna hijau. Karenanya untuk memenuhi permintaan harus terus dikembangkan varietas-varietas buah sesuai keinginan pasar ekspor.

Kiat Mendapat Kucuran Modal Usaha Waralaba

0

 

Modal yang digunakan untuk pengembangan usaha lazimnya adalah dengan menggunakan modal usaha sendiri. Masalahnya, sering kali  kita membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Apalagi hasilnya pun tidak bisa instan, tetap saja membutuhkan waktu sehingga pengembangan usaha tadi memberikan keuntungan. Padahal arus kas bagi usaha adalah sangat penting.

Jika modal usaha tertanam pada investasi pengembangan usaha untuk sementara waktu, maka ini bisa mengganggu arus kas usaha. Sebab modal yang sedianya diputar untuk operasional usaha, terpakai untuk pengembangan usaha. Karena itu keputusan dalam melakukan pengembangan usaha harus dipertimbangkan secara hati-hati.

Kebutuhan terhadap kas (likuiditas) usaha untuk mengantisipasi operasional harian usaha harus tetap diutamakan. Jadi jika ingin menggunakan modal sendiri, maka dari kas usaha saat ini harus dialokasikan secara proporsional antara kas operasional harian dengan modal pengembangan usaha.

Untuk menjaga arus kas usaha sekaligus meng-cover kekurangan modal pengembangan usaha maka cara lain adalah dengan mengambil pinjaman baik dari individu maupun bank. Secara umum perbandingan antara keduanya sebagai berikut :

  1. Pinjaman individu (investor) bisa jadi lebih fleksibel dan praktis dari sisi prosedur dan persyaratan, namun umumnya Anda harus memberikan tingkat keuntungan (bunga) yang tinggi. Akibatnya beban pembayaran bunga semakin berat, ini bisa menggerus keuntungan usaha.
  2. Sementara ketika meminjam ke bank, maka bank akan melakukan analisis usaha Anda terlebih dulu. Proses ini bisa cukup memakan waktu + 2 mingguan, pada kenyataannya rata-rata bisa hampir satu bulanan. Selain itu Anda juga harus melengkapi berbagai persyaratan administrasi dan hukum, sehingga dianggap layak sebagai debitur bank. Akan halnya untuk bunga pinjaman bank relatif lebih murah dari bunga pinjaman individu.

Beberapa bank, baik lokal maupun bank asing menawarkan kredit khusus untuk usaha waralaba. Ini menunjukkan perhatian dunia perbankan pada bisnis waralaba sedang meningkat. Bank-bank menawarkan kredit baik bagi Pewaralaba (pemilik merek waralaba) maupun Terwaralaba (pembeli merek).

Kredit waralaba adalah pembiayaan modal kerja dan investasi untuk usaha waralaba dengan tujuan untuk membantu pelaku UKM masyarakat luas untuk menjalankan usaha mandiri dengan konsep usaha yang sudah teruji.

Kredit bagi Pewaralaba ditujukan untuk ekspansi usaha yaitu untuk membuka cabang baru milik sendiri atau untuk disalurkan lagi kepada calon Terwaralaba (Two Step Loan).

Persyaratannya meliputi, menyerahkan data/profil perusahaan (meliputi jenis produk/jasa Pewaralaba termasuk perkembangan produk/jasa tersebut, laporan keuangan, proyeksi perhitungan usaha untuk calon Terwaralaba, dan business plan), memiliki legalitas usaha termasuk izin usaha waralaba (Surat Tanda Pendaftaran dan Usaha Waralaba/STPUW), telah melakukan standardisasi operasi usaha dan sistem manajemen (SOP), memiliki keunikan dan peluang pasar yang masih besar.

Nah, jika Pewaralaba telah bekerja sama dengan bank dalam memberikan pembiayaan bagi Terwaralaba-nya, maka Anda dapat mengajukan pinjaman melalui Pewaralaba.  

Sedangkan kredit bagi Terwaralaba dimaksudkan untuk membuka gerai baru atau menambah gerai baru. Syaratnya, telah memperoleh rekomendasi Pewaralaba, berupa draft kontrak & proyeksi usaha dari Pewaralaba, memiliki persyaratan umum kredit bank (KTP & Kartu Keluarga, NPWP (bagi perorangan) ditambah dengan akta pendirian, SIUP, SITU, TDP (bagi Badan Usaha) dan data kepemilikan jaminan (agunan).

Keputusan untuk mengambil pinjaman bank juga harus dipertimbangkan dengan dengan hati-hati. Terlebih dulu harus dihitung kemampuan usaha bakmie Anda dalam membayar cicilan pinjaman. Hal ini bisa Anda lihat dari keuntungan kotor usaha setelah dikurangi biaya operasional.

Jika terdapat jumlah keuntungan kotor yang cukup untuk membayar cicilan pinjaman, maka diperkirakan usaha  Anda cukup mampu untuk membayar cicilan tanpa mengganggu arus kas usaha. Jumlah cicilan utang yang aman adalah maksimal 30% dari pendapatan/omset. Dengan demikian masih ada sisa 70% bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya. Semoga sukses dalam mengembangkan usaha Anda.

 

Oleh: Mike Rini Sutikno,

CFP – Perencana Keuangan

Mike Rini & Associates Financial Planning & Education

One Pacific Place 15th Floor
Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta – 12190

 

Kiat Sukses Memilih dan Menjalankan Bisnis Franchise

0

 

Agar tak menyesal membeli usaha waralaba ada baiknya Terwaralaba mempunyai strategi tersendiri untuk memulai bisnis ini. Berikut beberapa panduan untuk calon Terwaralaba:

  1. Pilih waralaba yang sesuai dengan minat agar menjalankan usaha dengan penuh semangat.
  2. Pilih Pewaralaba yang telah memiliki track record sukses, lebih bagus lagi jika Pewaralaba telah menjalankan bisnisnya lebih dari 5 tahun, sehingga bisa dibuktikan jika usaha tersebut benar-benar menguntungkan.
  3. Perhitungkan untung rugi memilih usaha waralaba dengan melihat proyeksi usaha yang akan dijalankan. Apakah proyeksi balik modal bisa kurang dari ½ periode perjanjian waralabanya? Apakah tingkat keuntungan bisa 3 kali lebih besar dari bunga deposito?
  4. Lihat kesiapan Pewaralaba dalam memberikan dukungan kepada Terwaralaba apakah bisa mengirim barang secara tepat waktu? Apakah mempunyai program-program pemasaran yang jelas? Apakah merek usahanya terus dipelihara dan dikembangkan?
  5. Jalankan usaha dengan fokus. Terwaralaba harus bisa memahami ketentuan-ketentuan. Dalam menjalankan usaha, ikuti petunjuk dan panduan usaha dari Pewaralaba, usahakan jangan melenceng dari ketentuan tersebut.
  6. Terwaralaba harus jeli dalam mencari peluang pasar dan susun manajemen yang rapi, disenangi oleh timnya, serta lakukan kegiatan yang proaktif.

 

Rayakan 40 Tahun, KFC Hadirkan Koleksi Eksklusif Sneakers dan Streetwear.

0

Merayakan 40 tahun KFC, untuk pertama kalinya KFC Indonesia masuk dalam dunia gaya hidup dengan menghadirkan koleksi eksklusif sneakers dan streetwear. Produk ini hasil kolaborasi dengan empat perancang muda Indonesia yaitu Never Too Lavish, Argyle & Oxford, Evil Fact, dan Sandalboyz.

Hendra Yuniarto, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia Tbk mengatakan peluncuran koleksi eksklusif ini bertepatan dengan HUT KFC Indonesia ke 40 pada Oktober 2019. Never Too Lavish akan melelang beberapa sneaker dengan

“Desain eksklusif, yang akan ditawarkan di Instagram @nevertoolavish. Sementara ketiga perancang lainnya Argyle & Oxford, Evil Fact, dan Sandalboyz menghadirkan serangkaian koleksi streetwear, sandal, serta asesoris yang dituangkan dalam gaya masing-masing. KFC memilih berkolaborasi dengan mereka karena mereka mewakili anak muda Indonesia, yang berani berkarya menghadapi segala tantangan, hingga bisa membangun brand mereka seperti saat ini,” katanya.

Never Too Lavish (NTL) yang sudah tidak asing lagi dengan karya-karya custom hand-painted sneakers yang didirikan oleh Muhammad Haudy dan Bernhard Suryaningrat. Mereka menonjolkan ikon Colonel Sanders dan slogan Jagonya Ayam di sepatu dengan warna dasar putih dan sentuhan warna merah KFC. NTL akan menghadirkan enam desain eksklusif dan akan dilelang di Instagram @nevertoolavish mulai Jumat 11 Oktober 2019.

Argyle & Oxford, merek pakaian ready-to-wear asal tanah air yang telah berdiri sejak tahun 2010. Dua sahabat Velda Anabela dan Rebecca Billina menghadirkan desain yang diinspirasi dari kisah Colonel Sanders, dengan resep rahasianya, sehingga muncullah fried pride di hampir semua desain untuk KFC Indonesia antara lain hoodie, kaos, kemeja, dan kaos kaki.

Perancang muda lain yang digaet oleh KFC adalah Leurensius Teguh Pramono dengan mereknya Evil Fact. Merek pakaian lokal asal Bandung yang didirikan pada tahun 2003 ini menggabungkan estetika karakter Evil dengan logo iconic Colonel Sanders dan menyatukan juga palet warna khas KFC yaitu merah, putih dengan warna Evil yang hitam.

Desain Evil untuk KFC juga memperhatikan cutting, detail, dengan beberapa logotype Evil yang mengadaptasi tagline KFC yaitu “finger lickin goods” yang dihadirkan pada kaos, kemeja, jaket, topi, dan totebag.

Sementara Sandalboyz, merek alas kaki Amerika yang didirikan oleh seorang pemuda asal Indonesia Andrew Dharmosetio, tak hanya eksis di pasar domestik namun juga telah merambah pasar internasional.

Andrew menghadirkan Colonel Sanders dan warna KFC yaitu merah dan putih pada dua desain sandal Sandalboyz yang unik, yang biasanya dipadupadankan dengan kaos kaki, dan beberapa desain apparel KFC termasuk hoodie dan tshirt. Sandalboyz memilih bucket KFC sebagai inspirasi, untuk menggambarkan kebersamaan dalam keluarga dan komunitas, seperti yang selama ini selalu diutamakan KFC.

Seluruh koleksi streetwear dan sneaker dari keempat perancang akan hadir dan dipamerkan di salah satu ajang fashion terbesar di Indonesia, yaitu Jakarta Fashion Week tanggal 19 Oktober mendatang.

Sneakers garapan Never Too Lavish akan ditawarkan melalui lelang, sementara rancangan Argyle & Oxford dan Evil Fact akan ditawarkan terbatas di Fashionlink Showroom & Market, The Hall Senayan City lantai 8 pada 21- 25 Oktober 2019, dan koleksi sandal dan apparel KFC karya Sandalboyz bisa didapatkan oleh konsumen dan pecinta streetwear mulai November 2019 di pop-up store KFC Kemang.

Langkah besar KFC Indonesia bersama desainer muda ini membuktikan bahwa KFC Indonesia sangat dekat dengan anak muda, sehingga akan selalu melibatkan mereka dalam setiap program KFC.

“Seluruh hasil lelang sneakers dan penjualan streetwear akan diserahkan kepada Divers Clean Action yang akan mengelola sejumlah kegiatan edukasi ke masyarakat soal pelestarian lingkungan, khususnya daerah pantai di wilayah KFC,” jelas Hendra. “Kami berharap dari dana yang terkumpul akan dapat menjangkau 10 wilayah,” tutup Hendra.

Budidaya Blackberry, Blueberry dan Raspberry Untung hingga 65%

0

 

Di antara buah berry lain (Blackberry, Blueberry dan Raspberry), Strawberry memang telah lebih dulu dikenal dan dibudidaya di Indonesia. Sehingga tidak heran yang paling mudah dijumpai di pasaran adalah Strawberry. Menurut Joko Susilo Utomo, Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), diperkirakan Strawberry masuk ke Indonesia pada awal tahun 80an melalui impor benih dari Australia maupun Amerika yang kemudian berkembang di beberapa daerah terutama di dataran tinggi yang bersuhu rendah. Sedangkan buah berry lainnya baru sekitar 5-6 tahun lalu.

Buah berry (Strawberry, Blackberry, Blueberry, Raspberry), buah Strawberry masih menduduki posisi nomor satu dalam permintaan penjualan. Selanjutnya Blackberry diikuti Blueberry dan Raspberry. Buah-buah berry yang tergolong dalam buah eksotik tersebut, selain memiliki bentuk yang cantik dan enak rasanya, juga bisa dimanfaatkan menjadi beragam olahan makanan dan minuman. Kandungan dan manfaatnya yang luar biasa bagus membuat buah ini menduduki posisi buah kelas atas yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat kelas atas juga.

Potensi Buah Berry

Dalam 100 gram buah Blackberry segar mengandung nutrisi 43 kcal energy, 5,3 gr serat, 4.9 gr gula, 29 mg kalsium, 20 mg magnesium, 162 mg potassium/kalium, 21 mg vit C, 214 IU vit A, 20 µg vit K, dan 36 µg asam folat. Buah ini bersifat antioksidan karena adanya pigmen antosianin yang tinggi. Aman bagi lambung dan tidak menyebabkan diare dengan adanya kandungan alegic acid.

Selain bisa dikonsumsi segar, buah ini juga banyak dijadikan topping untuk Puding, Yoghurt, Es Krim, Selai dan sebagainya. Tak hanya kaya manfaat, buah berry juga berpotensi ekspor. Supriatin Budiman, Pemilik Vin’s Berry mengatakan bahwa Indonesia diharapkan mampu menyuplai buah berry ketika negara-negara Eropa sedang off season. Karena jika ditanam di Indonesia, buah ini bisa berproduksi sepanjang tahun. Sehingga bisa menaikkan taraf hidup petani dan bisa membatasi aliran buah berry impor ke pasar lokal.

Menurut Hans, Owner Hans Berry selaku supplier buah berry di Bandung, harga buah berry ini tak pernah turun, justru terus mengalami kenaikan karena termasuk buah eksotik. Tidak seperti komoditi pertanian yang lain, yang mana ketika jumlahnya “membanjiri” pasar, harganya akan anjlok. Pada musim hujan, jumlah pasokan buah Berry berkurang hingga 50% di tengah banyaknya permintaan, maka harganya terus melonjak. Dan pada musim kemarau, kualitas buah semakin bagus sehingga harganya tetap tinggi.

Berbeda dengan budidaya Strawberry yang telah tersebar luas di Sumatera Utara (Brastagi, Tiga panah), Jawa Barat (Ciwidey, Garut, Lembang), Jawa tengah (Purbalingga, Karang anyar, Magelang), Jawa Timur (Batu, Pasuruan, Bondowoso, Magetan) dan Bali (Buleleng, Tabanan). Buah berry lain baru dibudidaya di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat (Lembang, Cianjur), Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga peluang budidayanya masih sangat terbuka lebar.

Pemasaran

Saat ini pasar terbesar pemasaran buah berry di Pulau Jawa adalah daerah Jakarta, sedangkan di luar Pulau Jawa, pasar terbesar yakni di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Seperti Hans saat ini telah memasarkan buah berry ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jambi, Medan, Makassar, Samarinda dan Pontianak.

Kebutuhan pasar yang cukup tinggi menurut Joko Susilo selaku Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropik (Balitjestro) membuat upaya mempertahankan mutu buah tidak menjadi kendala, sehingga penyimpanan buah hasil panen tidak terlalu lama. Rantai pemasaran buah berry menurut Joko Susilo selama ini melalui dua pola, yaitu dari petani langsung ke konsumen atau dari petani kemudian ke pengumpul, barulah ke konsumen. Dari segi harga, buah berry umumnya memiliki harga yang stabil dan tinggi, sebab termasuk buah eksklusif yang dikonsumsi kalangan menengah atas.

Usaha Bibit Lebih Untung

Jika dibandingkan antara usaha budidaya buah dengan pembibitan buah berry, maka usaha pembibitan memberikan keuntungan lebih besar. Sebab memiliki kelebihan yakni tidak memerlukan lahan luas, biaya produksi dan tenaga kerja pun sangat sedikit. Seperti yang telah dialami Parta Suhanda, pemilik Angel Nursery yang meraih untung 65% dari usaha pembibitan tanaman buah berry, sedangkan Supriatin Budiman, pemilik Vin’s Berry memperoleh untung sekitar 30% dari usaha budidaya buah Blackberry siap panen.

Tas Denim Vintage Diminati hingga Konsumen Singapura

0

 

Semakin berkembangnya zaman, bahan denim atau yang lebih dikenal dengan bahan jeans tak hanya digunakan untuk membuat pakaian. Dengan sentuhan tangan kreatif, bahan denim pun banyak dibuat tas yang trendy. Peluang kreatif ini dilakoni Suryo Adzkiyo Abe atau akrab disapa Suryo lewat brand Esgotado miliknya.

Ide bisnis pembuatan tas berbahan denim muncul dalam benak Suryo saat ia melakukan survai lifestyle anak muda di jejaring sosial. Ia melihat saat ini bahan denim sedang in penggunaanya di kalangan anak muda, dan terlintas juga di pikirannya bahwa tas berbahan denim pun akan booming.

Bukan tanpa alasan Suryo memilih usaha tas ini. Menurutnya selain jumlah konsumen yang besar, margin keuntungan penjualan tas tergolong cukup tinggi dibanding produk lain seperti t-shirt.

“Kalau T-shirt atau produk lain harus punya brand terkenal dulu baru bisa menjual dengan harga tinggi, sedangkan tas tidak demikian. T-shirt juga mempunyai size sedangkan tas tidak sehingga produksi menjadi lebih simple,” kata anak ke- 2 dari 4 bersaudara itu.

Tak menunggu waktu lama, Suryo mendirikan usaha pembuatan tas berbahan denim dengan menggelontorkan modal awal usaha sebesar Rp 5 juta dari tabungan pribadi.

Keahlian Suryo dalam membuat dan mendesain tas didapat secara otodidak dan masukan dari beberapa teman. Biasanya ia mengambil contoh desain tas dari salah satu website asal luar negeri. Setelah melihat desain Suryo langsung mengutak-atik dan berinovasi dengan mengubah letak kantong/saku, resleting, model serta warna tas.

Lewat brand Esgotado, Suryo pun mendirikan workshop di kediaman pribadinya di kawasan Sidomukti, Cibeunying Kaler, Bandung, Jawa Barat. Nama Esgotado diambil Suryo dari bahasa Portugis memiliki arti terjual. Harapannya,  produk buatannya cepat laris terjual. Diakui Suryo brand Esgotado kini sedang dalam proses paten di lembaga HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Prospek usaha usaha tas denim ke depannya menurut Suryo akan cerah mengingat pangsa pasarnya anak muda. Selain itu juga terdapat komunitas pecinta denim yang sangat fanatik dengan berbagai produk berbahan denim.

Dalam membuat desain atau warna baru setidaknya Suryo membutuhkan waktu 1 bulan. “Setiap 1 bulan sekali minimal saya mengeluarkan varian desain atau warna baru,” terang mahasiswa S1 jurusan Teknik Industri di Telkom University itu. Suryo menambahkan ke depan tren tas anak muda yang booming ialah tas dengan tampilan modis namun tetap fungsional, karena menurutnya sekarang ini umumnya tas hanya menarik saja namun belum tentu fungsional dan begitu juga sebaliknya.

Agar lebih menarik konsumen, Suryo juga kerap memadukan beragam warna agar tas terlihat lebih ngejreng. Biasanya warna yang dipadukan biru tua dengan biru muda, warna hitam atau putih dengan pink motif bunga.

Kelebihan tas dari bahan denim dari bahan lain seperti cordura dan kanvas terutama pada warnanya. Bahan kanvas memiliki warna yang relatif redup atau gelap dan jika ingin warna cerah harus disablon terlebih dulu.

Berbeda dengan bahan denim yang memiliki warna cerah, ekspresif dan jika dicuci akan berubah warna. Bahkan semakin kucel bahan denim maka semakin terlihat bagus. Dari segi kekuatan bahan, denim dengan kanvas relatif sama namun tekstur bahan denim lebih halus.

Harga

Tas Esgotado kreasi Suryo mulai dari harga Rp 175 ribu yang paling mahal Rp 230 ribu/pcs. Harga tersebut menurut Suryo cukup terjangkau oleh konsumen karena kualitas yang diberikan cukup baik, tidak ada cacat dan jahitan kuat sehingga tas tak mudah jebol. Dalam menentukan harga jual, selain bahan baku yang digunakan Suryo juga melihat harga di pasaran dan meminta masukan dari beberapa temannya.

Selain tas, Suryo juga memproduksi cover bag rain dari bahan parasut yang bermanfaat melindungi tas dari hujan dan sengatan matahari. Satu pcs cover bag rain dijual Suryo dengan harga Rp 25 ribu. Saat ini menurut Suryo yang paling laris terjual ialah model basic bagpack dan model vintage.

Beberapa kelebihan diberikan Suryo pada tas denimnya, antara lain setiap tas Esgotado selalu memiliki slot laptop di bagian dalam tas karena menurut Surya dewasa ini konsumen selalu membawa laptop dalam berpergian, sehingga ia membuat tas sesuai keinginan konsumen. Kelebihan lain terdapat pada pemilihan bahan denim yang kuat, jahitan rapih dan jika ada pembeli dari luar kota bebas ongkos kirim, konsumen juga bebas menentukan jasa pengiriman yang ingin digunakan.

Kerja Sama dengan Toko Terkenal. Segmentasi tas denim Esgotado menyasar kalangan kelas menengah dan atas, karena di segmen tersebut terdapat jumlah populasi konsumen yang terus tumbuh terutama dari kalangan anak muda.

Di awal usaha Suryo melakukan pemasaran melalui sosial media seperti instagram, facebook, forum jual beli kaskus dan membuka web khusus Esgotado. Suryo pun pernah menitipjualkan tas denimnya kepada pihak distro di daerah Trunojoyo Bandung dengan sistem konsinyasi dimana pihak distro mendapat fee 30%.

Namun promosi yang dilakukan dengan titip jual ke distro dirasa Suryo kurang efektif menaikkan penjualan, karena produk hanya diketahui pengunjung di distro saja. Maka dari itu ia pun memutuskan kerjasama tersebut, dan kini Suryo mengalihkan cara promosi melalui kerjasama dengan online fashion store  yaitu Berry Benka. Ia mulai bekerjasama dengan Berry Benka dengan mendatangi langsung kantor online shop di daerah Slipi Jakarta sambil membawa sampel produk.

“Dengan memasarkan via online fashion store, seluruh konsumen yang tersebar di tanah air akan cepat mengetahui produk Esgotado ketimbang produk dititipjualkan. Terlebih Berry Benka merupakan online fashion store terkenal yang hanya menjual produk dalam negeri. Syarat yang ditentukan pihak online fashion store cukup mudah yaitu produk harus memiliki brand dan kualitas terjamin,” jelas Suryo.

Kerja sama dengan onlineshop tersebut tak membuat web khusus Esgotado sepi konsumen, asalkan harga di web masih sama dengan harga yang tertera pada onlineshop maka itu tak jadi masalah. Sistem kerjasama dengan Berry Benka juga bersifat konsinyasi dengan fee yang hingga kini masih dinego Suryo dengan pihak Berry Benka.

Berkat pemasaran melalui media sosial saat ini Suryo juga telah memiliki pelanggan asal Singapura. Menurutnya, konsumen di Singapura itu membeli produk Esgotado secara beli putus untuk dijual lagi di distro. Sampai saat ini kapasitas penjualan ke Singapura belum terlalu besar, baru berkisar puluhan pcs dan menurut Suryo bulan depan pihak Singapura akan menyambangi lokasi workshopnya untuk membicarakan kerjasama lebih lanjut.

“Produk yang digemari pihak Singapura hampir sama dengan dalam negeri karena konsumennya kebanyakan datang dari dalam negeri yang belanja di Singapura,” ungkapnya. Nantinya dalam mengirim produknya ke Singapura, Suryo akan memakai jasa ekspedisi Pos Indonesia sehingga ia tak perlu repot mengurus segala macam perizinan ekspor impor.

Suryo juga memasarkan produk di outlet miliknya seluas 5x5m untuk penjualan yang lokasinya tak jauh dari lokasi workshopnya di jl. Sidomukti, Cibeunying Kaler, Bandung.  Dekatnya outlet dengan tempat produksi membawa keuntungan sendiri bagi Suryo. Jika ada konsumen yang menanyakan kualitas produk, Suryo tinggal menunjukkan lokasi usaha sehingga konsumen bisa melihat langsung proses produksi.

Selain bekerjasama dengan online fashion store dan mendirikan outlet offline, kini Suryo telah memiliki dua distributor di Jakarta dan Medan. Suryo juga mempersilakan jika ada yang ingin bergabung menjadi distributor maupun reseller tasnya.

Syarat yang ditetapkan cukup mudah karena tak dibatasi wilayah, yaitu cukup dengan memberikan biodata lengkap beserta alamat dan membeli produk tanpa batas minimum order. Jika ada produk yang cacat bisa diretur dengan yang baru tanpa dikenakan biaya tambahan. Pembelian sebanyak 1 lusin akan diberikan harga spesial Rp 50 ribu/tas, sedangkan untuk pembelian di atas satu lusin potongan harga diberikan tergantung negosiasi.

Diakui Suryo, dalam satu tahun permintaan bisa meningkat hingga 3 kali lipat, terutama pada tahun ajaran baru anak sekolah dan awal semester perkuliahan. Dari total produksi per bulan yang mencapai 600 pcs, setiap bulannya Suryo mampu menjual sekitar 500 sampai 550 pcs dan sisanya akan dijadikan stok. Omset yang dikantongi Suryo saat ini sekitar Rp 110 juta dengan keuntungan bersih 68% dan ia sudah balik modal di bulan awal usaha berjalan.