Senin, Juni 15, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 775

Membentuk Pribadi Unggul Wirausahawan Mandiri  

0

 

Seiring semakin ketatnya persaingan  hidup dan tingginya biaya hidup di kota besar serta ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas memaksa kita untuk bersikap dan bertindak dengan tekad yang kuat untuk dapat bertahan hidup. Berlatar belakang dari kondisi kehidupan saat ini banyak sekali saudara-saudara kita berupaya untuk melakukan kegiatan berwirausaha.

Ada pemahaman yang kurang tepat mengenai makna kata Wirausaha atau Wiraswasta. Orang lebih banyak memaknainya sebagai membuka satu bidang usaha entah itu produksi barang ataupun jasa untuk memperoleh keuntungan. Wirausaha atau wiraswasta berasal dari bahasa Sansekerta, Wira berarti manusia unggul, teladan, berbudi luhur, atau berani, Swa artinya sendiri, dan Sta artinya berdiri. Jadi Wiraswasta bisa diartikan keberanian dan keteguhan dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri.

Untuk Menjadi Wirausaha tidak harus selalu membutuhkan modal yang besar, modal di bawah 5 juta atau di bawah Rp 50 ribu pun sudah bisa melakukan kegiatan kewirausahaan yang dimulai dari aktivitas kegiatan di rumah, misalnya dengan membangun apotik hidup di rumah, mengganti pola komuniksi dari telepon langsung ke WA, mengganti lampu penerangan rumah yang tidak utama dengan lampu LED [1 watt],  mengganti transportasi ke kantor dari mobil pribadi ke angkutan umum, berpuasa.

Semua sikap-sikap sederhana itu sudah mencerminkan Kegiatan Kewirausahaan, karena sikap tersebut akan memperkecil pengeluaran keluarga.  Dana yang berhasil disisihkan bisa digunakan untuk membangun usaha rumahan seperti menjual sarapan pagi, lontong, risoles, dan bakwan goreng lalu dibawa ke kantor untuk dijual ke rekan kerja.

Kalau kegiatan rutin ini sudah terulang secara terus menerus maka secara tidak langsung kita akan punya “Personal Brand” yang kuat, seperti  “Risoles Watie” itu karena risoles kita sudah dikenal. Kalau sudah mulai dikenal jangan sampai kita kehilangan momentum untuk membuka outlet di rumah dan diperbesar omsetnya.

Sebuah data penelitian menunjukkan, untuk 51 juta pelaku usaha mikro mampu menghidupi lebih dari 83,6 juta orang. Di sini kita bisa lihat bila kita mampu mengembangkan kekuatan Mikro melalui pengembangan dan proses penduplikasian yang baik dan cepat, negeri yang kita cintai akan jauh lebih makmur dan berkelimpahan.

Untuk bisa menjadi pelaku usaha mandiri yang unggul wajib memiliki sifat-sifat pribadi unggul, seperti :

  1. Berbadan Sehat dan Bugar. Untuk bisa maksimal dalam melakukan kegiatan yang produktif, faktor kesehatan dan kebugaran tubuh tentu sangat penting. Karena itu perlu membiasakan diri dengan pola hidup sehat, konsumsi makanan sehat, berolahraga, dan cukup istirahat dengan rileks.
  2. Memancarkan Energi Positif. Energi positif terpancar dari kegiatan-kegiatan positif seperti murah senyum, suka membantu, suka bersedekah, dan mencoba untuk selalu berpikir dan bertindak positif
  3. Bersifat Jujur. Siapa bilang dalam dunia bisnis tidak bisa untung jika jujur. Kejujuran justru menimbulkan respek dari rekan kerja, konsumen, relasi dan semua orang.
  4. Cerdik Dalam Mengelola Waktu. Waktu bekerja yang efektif dan efisien akan mampu menghasilkan rezeki yang barokah dan melimpah. Karena itu hindari menghabiskan waktu untuk hal yang tidak produktif apalgi cenderung negatif, kelola waktu dengan baik kapan waktunya bekerja, kapan waktunya bersantai dan istirahat, kapan mengisinya dengan berbagai kegiatan lain yang positif.
  5. Selalu Berkata dan Menjadi Pendengar yang Baik. Karakter ini dapat memperkuat tali silaturahmi, membangun goodwill serta memperbaiki dan memperluas jaringan.
  6. Taat Beribadah dan Penuh Keyakinan. Beribadah sesuai keyakinannya, dapat membangun kecerdasan spiritual. Menyeimbangkan kecerdasan emosional, selain itu juga harus meningkatkan kecerdasan intelektual.
  7. Berorientasi pada Proses dan Hasil yang Baik. Proses usaha yang dijalankan dengan baik, InsyaAllah akan memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.

Sifat- sifat ini bisa kita gunakan di dalam menyusun doa harian kita untuk menuju kehidupan dunia dan akhirat yang penuh keseimbangan dan keberkahan. Susunlah doa harian Anda dalam sebuah script dan internalisasikan ke alam bawah sadar Anda, dengan cara meminta teman, keluarga yang dapat dipercaya untuk membacakan doa tersebut pada saat Anda sedang dalam tahap awal terlelap tidur. Keesokan harinya baru Anda baca  dan realisasikan dalam jurnal kegiatan konkrit yang berulang. InsyaAllah sifat-sifat pribadi unggul akan melekat pada diri Anda.

 

Oleh : Yoyok Indrayatno

Pelatih usaha dari ACC Indonesia (Amanah Coaching Clinic Indonesia)

 

 

 

 

Menentukan Pola Bagi Hasil dalam Kerja Sama Usaha

0

 

Mengenai bagi hasil usaha, tidak ada pola yang baku. Dalam bidang pertanian berlaku 50:50. Saya titip kambing ke petani, jika sudah beranak, kambing dijual, maka dibagi dua. Dalam hal ini petani dapat tambahan berupa kotoran kambing untuk pupuk.

Dalam bisnis saya (Warnet dan Waroeng Cici Tegal) investor dapat 70%, saya 30%, tapi karyawan harian digaji. Jadi kalau Anda mendapat 60% sebagai pemodal, its ok!!. Yang perlu dipikirkan, kalau beberapa bulan rugi gimana, apakah karyawan Anda tidak mendapat apa-apa?

Status uang Anda adalah sebagai modal bisnis, bukan sebagai pinjaman. Jadi, bagi hasilnya tidak perlu menyisihkan pengembalian modal. Yang perlu disisihkan adalah biaya untuk perpanjangan sewa tempat, untuk THR, perbaikan peralatan (penyusutan). Modal Anda akan kembali seiring pertumbuhan bisnis Anda.

Dengan demikian, tidak ada istilah modal sudah dilunasi, karena memang bukan utang. Yang Anda terima adalah dividen. Nah, kalau dividen sudah terkumpul sebanyak modal yang keluar, artinya sudah melewati masa payback Anda tinggal menuai laba dan Anda juga punya asset, yakni peralatan usaha dan brand usaha Anda.

Demikian jawaban saya, semoga bisa memberi kecerahan, dan selamat semoga sukses.

 

Oleh: Bambang Suharno,

Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES)

Penulis buku “Tujuh Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha” dan puluhan buku lainnya.

 

Usaha Abon Ikan Mulai Banyak Diminati

0

 

Menurut pengamat UKM, Wulan Ayodya, pada masa lalu produk abon sudah sangat identik bahan baku sapi, bahkan jika menyebut makan abon asumsi banyak orang sudah pasti sapi. Hal ini sudah melekat sangat kuat pada pemikiran banyak orang Indonesia maka tak heran jika abon sapi lebih populer.

Pakar kuliner Sisca Soewitomo juga mengatakan hal senada, Abon Sapi lebih dulu ada sehingga pantas jika lebih populer dibandingkan abon ikan yang baru banyak muncul beberapa tahun terakhir. Hal lain yang menyebabkan abon ikan kalah populer menurut pengamat kuliner Deddy Rustandi adalah karena khalayak umum menganggap abon ikan pasti berbau lebih amis, dan harga jualnya lebih mahal.

Padahal sebagai negara bahari Indonesia sangat kaya akan hasil laut, yang seharusnya bisa diolah lebih baik dan lebih banyak dikonsumsi. Meski kalah populer, dengan abon sapi, menurut Wulan Ayodya, tren gaya hidup sehat yang berkembang beberapa tahun terakhir ini membuat banyak orang mulai mengganti konsumsi daging merah dengan ikan. Hal ini turut memacu permintaan pasar akan produk olahan ikan.

Harga jual yang masih tinggi dan pelaku usaha yang belum begitu banyak, serta tidak dikuasai pemain besar, maka potensi bagi pelaku usaha baru di bidang abon ikan masih sangat terbuka.

Keunggulan abon ikan dari segi produk adalah, serat daging ikan lebih lunak dan halus sehingga lebih mudah diolah. Keunggulan-keunggulan daging ikan dari segi kandungan gizi, juga bisa menjadi daya tarik untuk produk abon ikan. Meski menurut Deddy Rustandi, semua abon sebenarnya kandungan nutrisinya sudah menipis karena  proses pembuatannya yang lama, sehingga tinggal ampasnya.

Secara umum abon disukai selain karena rasanya adalah karena kepraktisan dan daya tahannya. Karena itu banyak orang yang ingin bepergian jauh dan lama, seperti para jemaah haji banyak yang membawa bekal abon untuk lauk makan.

Beberapa kendala yang membuat produk buatan UKM terkadang sulit berkembang adalah karena kurang memperhatikan keunggulan baik dari produk, kemasan, harga, dan cara penjualan. Hal ini bisa terjadi keterbatasan modal atau kurangnya pengetahuan, sehingga banyak hal penting yang kurang diperhatikan.

Misalnya kemasan, ijin dan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, tentunya khusus untuk kategori Produsen Industri Rumah Tangga (PIRT) atau sertifikasi halal  dari MUI. Hal tersebut banyak diabaikan saat skala usaha kecil dan masih baru, namun jika sudah berkembang dan ingin bisa lebih berkembang lagi, beberapa hal di atas harus lebih diperhatikan.

Delli Gunarsa, Director D&D Indonesia, yang bergerak di bidang kemasan produk makanan, mengatakan, Fungsi sebuah kemasan sangat penting, di antaranya untuk menjaga produk pangan agar tetap bersih, terlindung dari kotoran dan kontaminasi. Menjaga produk pangan dari kerusakan fisik, perubahan kadar air dan pengaruh sinar. Memudahkan dalam membuka/menutup, memudahkan dalam penanganan, pengangkutan dan distribusi.

Menyeragamkan produk pangan dalam ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan standar yang ada. Menampakkan identifikasi, informasi, daya tarik dan tampilan yang jelas dari bahan pangan yang dikemas sehingga dapat membantu promosi penjualan. Serta memberikan informasi melalui sistem labeling, bagaimana cara penggunaan tanggal kadaluarsa (Expired Date), dan lain-lain.

Beberapa pelaku usaha Abon Ikan yang tergolong sukses, biasanya sudah memperhatikan pentingnya kemasan. Arif Afief pengusaha abon ikan patin, misalnya. Saat ini kemasan yang ia gunakan masih plastik dan label dari kertas biasa, namun sudah di-press agar produk tidak cepat rusak. Ke depan ia berencana menembus pasar supermarket sehingga berniat memperbaiki kemasan dengan menggunakan composite can.

“Karena daya tahannya harus lebih lama, tapi saya tidak mau pakai pengawet dan tentu harus tampil lebih menarik,” ungkap Arif.

Dari sekian banyak jenis ikan yang bisa dibuat abon Ikan Tuna dan Ikan Tengiri dianggap Deddy Rustandi paling baik jika ingin diolah menjadi abon, hal yang sama diungkapkan Sisca Suwitomo. Namun bukan berarti jenis ikan lain tidak bisa diolah dan laris jika dibuat abon. Tuna dan Tengiri punya banyak keunggulan dan banyak disukai pasar sehingga harganya pun tinggi. Bagi yang punya keterbatasan modal ikan yang lebih murah seperti patin, atau lele juga bisa dijual dengan harga jauh lebih tinggi ketika diolah menjadi abon.

Dari segi pasokan, ikan lele juga lebih mudah didapat dan bisa dibudidaya sendiri. Seperti yang dilakukan Tri Wahyuni di Boyolali mungkin patut ditiru, ia memanfaatkan ikan lele berukuran besar yang tidak laku dijual para pembudidaya di daerahnya. Ikan lele yang biasa disuplai untuk para pedagang pecel lele, biasanya hanya yang berbobot 1 kg berisi 7-8 ekor. Untuk yang berukuran besar dan berdaging banyak justru tidak laku di pasaran. Hal itu dimanfaatkan Tri, dengan membuat abon ikan lele. Usaha Tri berkembang demikian pesat, hingga kini omsetnya mencapai puluhan juta.

Ikan lele mentah biasa dijual saat ini Rp 12 ribu/kg, ketika menjadi abon harga jualnya Rp 15 ribu untuk 100 gram atau 150 ribu per Kg. Meski memang ada penyusutan bobot 43% dari bahan mentah utuh yang digunakan, dan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk bumbu, kemasan dan biaya produksi, namun menjual dalam bentuk produk olahan seperti abon, tetap lebih menguntungkan.

Untuk membuka usaha abon ikan, modal yang dibutuhkan juga tidaklah besar. Dari beberapa pelaku usaha mengaku mengawalinya hanya dengan modal di bawah Rp 3 juta, bahkan ada yang hanya memulai dengan modal ratusan ribu, terutama pelaku usaha yang sudah lama.

Harus Ada Minat yang Kuat Sebelum Terjun ke Usaha

0

 

Ketua Program SI Jurusan Bisnis Universitas Prasetya Mulya Agus W Soehardjo memiliki pandangan terhadap orang-orang yang ingin memulai suatu usaha. Menurut Agus, passion (hasrat/minat yang kuat) menjadi faktor yang penting dalam menunjang suatu keberhasilan usaha. Karena dasarnya orang tersebut suka pada bidang usaha yang dipilihnya.

Agus menambahkan akan sulit bagi seseorang menjalankan suatu usaha kalau tidak ada passion atau minat yang kuat.

“Nanti jadi gampang putus asa dan gampang menyerah,” ujarnya.

Beda bila orang tersebut misalnya senang dengan dunia fesyen, maka dia akan berusaha kuat mengetahui seluk-beluk usaha yang terkait dengan dunia fesyen. Misalnya dia berupaya untuk mencari informasi fesyen tertentu yang sedang menjadi tren di suatu kawasan.

“Umpamanya dia tahu informasi tren fesyen masyarakat di Bekasi lalu akan mencari produk di pusat-pusat fesyen seperti Tanah Abang lalu dijual ke daerah tersebut,” papar Agus.

Begitu pula kalau misalnya sang calon pelaku usaha tersebut senang pada bidang kuliner. Yang bersangkutan akan berupaya meramu resep terbaik. Setiap gagal meramu lagi sampai berhasil menentukan standar yang pas. Pasalnya, tambah Agus, usaha kuliner tidak boleh terjadi perubahan rasa. Contohnya rasa soto pada pagi hari berbeda dengan rasa pada sore harinya.

Pertimbangan berikutnya kata Agus adalah mengenai skill. Bila tidak mempunyai keterampilan pada bidang tersebut akan berdampak pada keputusan usaha. Nantinya orang tersebut tidak berani untuk mengambil keputusan yang ada risikonya. Padahal salah satu keberhasilan dalam bisnis adalah  pelaku usaha harus berani mengambil risiko.

Adapun faktor modal, menurut Agus ada pada urutan terakhir. Sebab banyak usaha kecil yang akhirnya berkembang menjadi besar bermula dari modal kecil. Ditekankan Agus,  modal dalam berusaha sifatnya mengalir seiring perkembangan usaha.

Masih menurut Agus, cara paling mudah untuk memilih bidang usaha adalah membeli waralaba. Kalau memang seperti itu, maka yang perlu diperhatikan adalah mencermati rekam jejak Pewaralaba (pemilik merek).

Paling tidak usaha waralaba sudah berjalan tiga tahun baru boleh dijual. Jangan ambil risiko dengan cara menjadi mitra warabala yang umurnya baru setahun. Menurut Agus warabala baru setahun usahanya belum stabil. Nah kalau sudah bertekad beli waralaba usahakan berkunjung ke outlet-outlet yang sudah ada. Lihat bagaimana perkembangannya.

Mencermati Tawaran Keagenan Sepatu Wanita

0

 

Rata-rata produsen atau distributor yang menawarkan peluang keagenan, menjanjikan keuntungan pada agen sebesar 30 % dari potongan harga jual retail yang telah ditetapkan. Dari sekian tawaran keagenan sepatu yang ada, meski sebagian menawarkan keuntungan yang kurang lebih sama, namun belum tentu semua potensial untuk dijalankan.

Menurut Pengamat Marketing Handito Joewono dalam memilih tawaran keagenan yang harus diperhatikan adalah  kredibilitas produsen, dan mencoba mengetahui persepsi yang sudah terbentuk terhadap produsen dan merek sepatu yang dimaksud. Selain itu, Handito menyarankan untuk memilih produsen dengan produk yang variatif dan dinamis mengikuti perubahan, karena sepatu adalah produk fesyen yang terus mengalami perubahan tren secara dinamis.

Pengamat mode, Teges Prita Soraya  mengatakan tren fesyen tanah air selalu mengacu tren fesyen dunia. Namun untuk pasar kelas menengah ke bawah kecepatan dalam mengikuti tren mungkin tidak terlalu cepat. Menurut Teges, jika mengacu pada tren Eropa Fall 2010, tren sepatu kembali ke sepatu yang berkesan maskulin.

Teges menyarankan bagi toko atau pelaku usaha sepatu sebaiknya punya koleksi klasik yang memang selalu punya pasar, dan punya juga koleksi yang sifatnya trendi. Teges manambahkan, di indonesia jenis strappy shoes (sepatu dengan model tali) dan sandal perempuan dari tahun ke tahun selalu punya peminat.

Kekuatan atau daya tarik produk ke konsumen akhir, adalah hal penting yang harus diperhatikan sebelum mengambil peluang keagenan sepatu. Karena semudah apapun syaratnya, dan setinggi apapun diskon yang ditawarkan ke agen, akan percuma jika produk tidak diterima pasar.

Sementara itu, pengamat bisnis dan marketing Valentino Dinsi, mengingatkan tentang faktor orisinalitas produk. Karena produk punya ciri khas dan tidak mudah ditiru lebih punya ekslusifitas.

Sebuah produk yang dipasarkan dengan sistem keagenan, bisa berhasil jika produk tersebut tidak mudah ditemui di pasaran umum. Sebuah produk  yang sebelumnya diminati dan dipasarkan lewat cara keagenan, ketika terlalu banyak di pasaran umum menjadi tidak begitu istimewa.

Apalagi jika produk dengan mudah ditiru dan dibajak persis seperti yang asli dan beredar di pasaran dengan harga yang jauh lebih murah, produk tersebut cenderung akan mulai ditinggalkan.

Produk sepatu wanita Mimosabi, dengan desainnya yang unik dan dipasarkan dengan sistem keagenan, saat ini belum begitu banyak ditemui di pasaran umum, sehingga masih diminati. Maria Ulfa, salah satu Reseller Mimosabi yang baru bergabung sejak tiga bulan lalu, kini mampu menjual 50-60 pasang sepatu perbulan, dengan omset mencapai Rp 8 jutaan perbulan.

Namun, menurut Citra, distributor ekslusif Mimosabi untuk wilayah Jakarta, saat ini sudah mulai beredar produk yang menyerupai produk Mimosabi, namun dengan kualitas yang masih dibawah produk asli.

Peluang menarik ditawarkan distributor sepatu dari Bandung, www.sepatubandung.com, yang menawarkan peluang keagenan hanya dengan modal katalog, yang bisa didapat dengan mendaftar dan mengganti biaya kirim sebesar Rp 20 ribu, Katalog tersebut bisa langsung digunakan untuk alat berjualan, selanjutnya pesanan awal minimal hanya lima pasang sepatu dan pesanan selanjutnya bebas, up date katalog terbaru juga akan dikirimkan gratis bersama pesanan sepatu yang dikirim ke agen.

Modal yang sangat ringan, dan produk yang sangat variatif karena distributor tidak hanya memasarkan produk dari satu produsen, menjadi daya tarik sepatubandung.com. Dari segi model dan kualitas produk, sepatu buatan Cibaduyut sudah cukup dikenal.

Namun secara branding produk yang ditawarkan kalah jauh dibanding buatan produsen besar. Selain itu, ternyata ada keluhan dari agen, pada ketersediaan stok produk pada distributor yang terkadang tidak ada. Tidak semua produk yang ada di katalog barangnya tersedia.

Junaedy yang baru tiga bulan lalu menjadi agen sepatubandung.com, beranggapan, sebagai usaha sambilan dan dengan modal awal yang hanya Rp 20 ribu, keuntungan sebesar Rp 300-400 ribu yang bisa ia dapat perbulan, tergolong lumayan.

Untung Besar dari Usaha Masker Motif

0

 

Kualitas udara kota yang buruk, jumlah pengguna sepeda motor yang kian tinggi, serta kesadaran masyarakat akan kesehatan yang meningkat, membuat masker menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat kota.

Jika dulu orang membeli masker hanya mempertimbangkan fungsi utamanya untuk melindungi saluran pernafasan dari debu, polusi maupun kemungkinan penularan penyakit melalui saluran pernafasan, kini orang mulai memilih masker dengan  mempertimbangkan bentuk, desain dan warnanya.

Dengan demikian, masker tak hanya berfungsi untuk kesehatan tapi juga bisa untuk modis atau bergaya. Tak heran bila saat ini, masker motip tengah laku keras di masyarakat.

Menurut  Sheny Suryani, Produsen masker motif dengan merek Masker Cool, masker bermotif mulai muncul sekitar empat tahun lalu di luar negeri, namun diakuinya dua tahun terakhir ini pasar di dalam negeri  penggunanya makin banyak.

Dyah Ayu Liestanthi, yang baru setahun belakangan ini memproduksi masker motif mengatakan, salah satu alasannya membuat masker motif adalah karena ia sering dibonceng motor dan merasa perlu memakai masker, namun masker yang dijual di pasaran kebanyakan hanya masker tebal berwarna hitam yang biasa digunakan bikers, atau masker sekali pakai berwarna hijau, standar medis.

“Pada dasarnya wanita kan ingin tampil fashionable, pakai masker disesuaikan warnanya dengan baju atau jaket, karena itu saya pikir membuat masker motif pasti disukai pasar terutama wanita,” ungkap Dyah.

Alasan senada juga diungkapkan Yudha Birawa, bosan dengan pilihan jenis masker yang ada di pasaran, Yudha mencoba membuat masker dengan motif kain batik. Yudha juga melihat momen yang tepat, ketika batik kembali menjadi tren hingga ke kalangan anak muda.

Modal awal dan potensi keuntungan

Modal awal yang harus dikeluarkan untuk bisa memulai usaha masker motif, tentu tergantung dalam skala seperti apa usaha tersebut dimulai. Karena sebenarnya biaya produksi untuk masker tidak terlalu besar, peralatan yang dibutuhkan juga hanya mesin jahit biasa, yang jika tidak punya pun bisa menggunakan jasa makloon pada tukang jahit lain.

Nita Juliani misalnya, mahasiswa yang nyambi usaha sebagai produsen masker kecil-kecilan ini, memulai usaha hanya dengan modal Rp 500 ribu. Ia memanfaatkan mesin jahit yang sudah dimilikinya, dan dibantu sang ibu yang memangg punya ketrampilan menjahit. Jika dihitung dengan harga mesin jahit, modal awal yang dibutuhkan hanya berkisar Rp 2-3 juta. Kini Nita bisa mendapat keuntungan bersih Rp 4 juta perbulan.

Yudha Birawa juga memulai usaha hanya dengan modal Rp 2 Juta, dengan cerdiknya Yudha menggunakan bahan kain perca batik sisa sebuah usaha konveksi batik. Yudha juga tidak mengerjakan sendiri proses produksinya, ia menggunakan jasa penjahit secara makloon, sehingga hasil yang didapat cukup maksimal dengan biaya yang lebih ringan dan terukur.

Dengan cara tersebut keuntungan bersih yang didapat Yudha bisa mencapai 70 % dari omset yang diperoleh. Sementara Dyah Ayu Liestanthi yang biasa diasapa Dayu, memulai dengan modal sekitar Rp 10 juta.

“Itu modal cukup besar karena diawal saya banyak melakukan trial and error untuk bisa mendapat hasil produk yang maksimal,” ungkap Dayu.

Produk yang Diminati

Daya tarik masker ini dibanding masker biasa terletak pada tampilan motif kain masker. Gambar berupa tokoh kartun atau animasi masih menjadi pilihan utama pengguna, karena gambar–gambar tersebut disukai oleh konsumen, khususnya kalangan remaja dan anak–anak. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh seringnya tokoh kartun menghiasi layar kaca sehingga mudah diingat.

Menurut Sheny Suryan, orang dewasa dan karyawan biasanya akan memilih yang motifnya simple seperti warna polos atau motif bunga, sementara anak-anak muda ABG, lebih menyukai masker bergambar tokoh kartun seperti Mickey Mouse, Spongebob dan sebagainya. Masker dengan gambar logo klub sepakbola, menurut Nita Juliana juga cukup diminati.

Mengenai selera pasar Dayu mengatakan, kecenderungan laki-laki lebih memilih masker polos, dengan warna netral, sedangkan wanita lebih suka yang bermotif, dengan warna dasar  yang disesuaikan dengan warna bajunya.

“Jadi kadang ada yang beli beberapa disesuaikan dengan warna jaket atau baju yang dia punya,” ungkap Dayu.

Tidak hanya motif, untuk pembuatan juga harus memperhatikan bahan dasar masker. Meski bersifat gaya, namun masker tak boleh mengabaikan fungsi utamanya, karena itu pilihan bahan juga harus diperhatikan.

Mayoritas bahan dasar untuk masker motif ini berupa kain katun, dan tidak menggunakan kain bermotif dengan bau bahan kimia yang menyengat. Karena alih-alih melindungi, justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Menurut Dayu  bahan dasar yang baik adalah katun yang mempunyai serat yang rapat yang juga berfungsi meminimalkan polutan yang terhirup oleh hidung.

Promosi

Menurut Sheny, media internet merupakan sarana promosi yang jitu di saat masyarakat saat ini yang internet minded. Untuk perkenalan awal, produk juga dapat diperkenalkan dengan promosi mulut ke mulut kepada keluarga dan rekan kerja. Seperti yang dialami Yudda, meskipun hanya berpromosi melalui Kaskus, namun angka penjualan dapat terus meningkat. Cara yang sama juga dilakukan Nita Juliana dan Dayu.

Dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan maka usaha pembuatan masker motif ini masih akan menjanjikan. Masker nya sendiri diyakini tidak akan kehilangan pasar, namun motifnya yang mungkin sifatnya tren musiman,karena itu up date motif terbaru tiap saat, dan ikuti perkembangan tren adalah salah satu kiat untuk bisa tetap bertahan di usaha masker motif.

 

 

Memilih Lokasi yang Tepat untuk Usaha Sparepart

0

 

Memilih lokasi yang masih sendirian ataukah bergabung dengan sentra penjualan komponen sepeda motor?. Kalau dianalisis, kedua alternatif ini masing-masing memiliki nilai lebih dan kurangnya. Kita bahas pilihan pertama, membuka di lokasi yang belum ada pesaing. Nilai lebihnya, kita sebagai pioner. Orang akan memandang kita sebagai yang pertama, yang terbaik, yang orisinil.

Kalau usaha kita laris, kita akan menikmati sendirian hasilnya, tanpa direbut pesaing. Imej toko kita akan dipandang lebih baik dan sudah mendapatkan pelanggan banyak lebih dulu di saat pesaing masuk. Kelemahannya, kita perlu mengenalkan ke masyarakat sekitar lebih dulu, perlu waktu dan usaha untuk membangun merek usaha kita. Ini bisa dilakukan dengan menyebar brosur di sekitar lokasi toko dalam radius 1-2 km.

Bagikan surat penawaran ke kantor-kantor yang karyawannya memiliki sepeda motor. Lalu, pasang spanduk yang mencolok mata sehingga pengendara yang lewat jadi tahu kalau ada toko onderdil yang baru. Yang penting juga kerja sama dengan para bengkel motor yang sudah ada supaya mereka membeli atau merekomendasikan ke kita.

Alternatif kedua, membuka usaha di sentra penjualan komponen atau bergabung dengan banyak pemain lama. Nilai lebihnya, pasarnya sudah terbentuk. Banyak pembeli yang sudah tahu sehingga kalau butuh komponen langsung datang ke sini.

Kita tinggal bersaing di dalam sentra. Nilai lemahnya, kita sebagai pendatang baru. Kalah dari segi jumlah pelanggan yang sudah dimiliki pemain lama. Pembeli yang datang ke kita pikir-pikir dulu, ada tidak alasan bagi mereka mencoba beli di tempat kita.

Nah, yang perlu diamati apakah jumlah pembelinya berjubel dan banyak yang tidak terlayani. Kalau ya, kita bisa mendapat limpahan sisa pelanggan yang belum terlayani.

Kalau begitu mana yang dipilih? Jawabnya tergantung pada nilai lebih yang kita miliki. Jika kita tidak bisa menawarkan nilai tambah yang berbeda, hanya standar saja, maka sebaiknya memilih lokasi yang masih sendirian. Selama produk kita dibutuhkan banyak orang, seperti komponen sepeda motor, tak masalah membuka pasar di lokasi yang masih sendirian.

Sebaliknya kalau kita memiliki nilai lebih untuk bersaing, maka kita berani bergabung di sentranya. Contoh nilai lebih, kita memiliki barang yang eksklusif yang tidak dimiliki pemain lain, harga kulakan lebih murah, layanan lebih bagus, dll. Jadi kita siap bersaing dengan yang lain.

Namun demikian, sebaiknya jangan memakai harga murah sebagai senjata untuk bersaing di sentra penjualan. Karena ini bisa memancing perang harga dan merugikan para pemain yang ada di sentra penjualan tersebut.

Nah, apalagi kiat untuk bersaing dengan para kompetitor di area yang sama? Gunakan unsur layanan. Tawarkan nilai layanan dari usaha sparepart Anda. Misalnya layanan konsultasi sepeda motor rusak, layanan stel mesin motor, layanan pemasangan komponen, layanan konsultasi modifikasi, dan tentu yang tak kalah penting adalah layanan yang ramah, sopan, menghormati para pelanggan.

Bahkan memperlakukan pelanggan sebagai teman atau akrab dengan pelanggan, sering menjadi senjata andalan untuk memenangkan persaingan. Kiat berikutnya, bekerjasamalah dengan para montir atau mekanik sepeda motor. Mereka inilah yang merekomendasikan untuk membeli ke kita.

 

Oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetiya Mulya,

Penulis Buku “Jurus-Jurus Sakti Wirausaha”,

www.istijanto.com

IndonesiaNEXT Kembali Digelar, Telkomsel Buka Kesempatan Seluruh Mahasiswa

0

 

Telkomsel kembali menggelar IndonesiaNEXT untuk  keempat kalinya. Program yang menyasar pada peningkatan keahlian profesional para mahasiswa sebagai persiapan SDM yang unggul.

IndonesiaNEXT akan memberikan kuliah umum, kursus online, pelatihan, dan sertifikasi bagi para peserta yang menitikberatkan pada kemampuan di bidang teknologi digital.

Peserta terbaik yang mampu melewati seluruh tahapan tersebut akan mengikuti bootcamp dalam menentukan peserta terbaik IndonesiaNEXT 2019.

Direktur Utama Telkomsel Emma Sri Martini mengatakan sebagai digital telco company yang senantiasa berkomitmen untuk memberikan manfaat lebih dari setiap solusi digital yang diberikannya.

Telkomsel berupaya untuk terus bergerak maju mengakselerasikan pengembangan SDM di Indonesia agar mampu memiliki daya saing hingga ke tingkat internasional, selaras dengan visi pemerintah dalam menjadikan pengembangan SDM sebagai salah satu prioritas pembangunan.

“Melalui Indonesia Next ini yang merupakan salah satu CSR Masterpiece Program Telkomsel dalam bidang Pendidikan bersertifikasi standar internasional, kami mempunyai tujuan utama untuk mendukung program pemerintah dan universitas dalam meningkatkan skill digital talent generasi muda khususnya di kalangan mahasiswa untuk bisa lebih bersaing di era global,” jelasnya.

Emma menambahkan, Telkomsel akan menyelenggarakan IndonesiaNEXT 2019 di delapan kota di seluruh Indonesia. Acara perdana IndonesiaNEXT 2019 digelar di Institut Teknologi Bandung pada 12 Oktober 2019, dan selanjutnya akan diselenggarakan di 7 kampus di seluruh Indonesia. Fokus IndonesiaNEXT dalam meningkatkan kemampuan teknologi digital para peserta diharapkan mampu mendorong ekosistem digital di Indonesia yang berkelanjutan.

IndonesiaNEXT tahun ini juga akan menyasar kota-kota lain yang belum pernah menjadi lokasi penyelenggara sebelumnya. Kota tersebut meliputi Samarinda, Banda Aceh, Manado, dan Ambon. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh mahasiswa di Indonesia untuk bisa berpartisipasi dan meningkatkan kompetensinya.

“Sejak diselenggarakan pada 2016, IndonesiaNEXT telah menjangkau sekitar 40 ribu peserta dari ribuan universitas di seluruh Indonesia. Antusiasme yang ditunjukkan para generasi penerus bangsa ini menjadi pembakar semangat Telkomsel untuk kembali menggelar program tersebut tahun ini, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak mahasiswa sehingga mereka mampu menjadi SDM-SDM unggul yang semakin cakap dan kompeten sehingga tidak hanya dapat bersaing di dalam negeri saja, namun juga hingga ke level internasional,” tutup Emma.

Sepanjang penyelenggaraannya, IndonesiaNEXT telah memberangkatkan para pemenangnya ke Jepang hingga Amerika Serikat untuk mendapatkan short course di perguruan tinggi dan beberapa perusahaan teknologi ternama. Selain itu, lebih dari 4.800 peserta telah mendapatkan sertifikasi keahlian dari tiga edisi IndonesiaNEXT

Lion Air Group Rilis Performa Ketepatan Waktu Tertinggi

 

Lion Air Group selama 2 kuartal 2019 (Januari – Agustus) sudah melayani 245.547 penerbangan, mencakup dari Lion Air 106.688 frekuensi terbang, Wings Air beroperasi 79.534 dan Batik Air memiliki 59.325. Seluruh jaringan dioperasikan tetap mengutamakan aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan (safety first).

Sehubungan operasional dan layanan penerbangan pada dua kuartal 2019, Lion Air Group telah merilis kinerja tingkat ketepatan waktu (on time performance/ OTP), yang memperlihatkan rata-rata performa ketepatan waktu tertinggi. Lion Air mencapai 83.23%, Wings Air mencatatkan 75.93% dan Batik Air 91.34%.

OTP Lion Air Group merupakan data akurat ketepatan pesawat saat keberangkatan (departure) dan kedatangan (arrival) dalam waktu kurang 15 menit dari jadwal ditentukan. Penghitungan sesuai laporan Integrated Operation Control Center (IOCC) Lion Air Group secara tepat waktu dan bersamaan (real time).

Lion Air Group mengimplementasikan sistem terstruktur, konsistensi dan komprehensif antara perawatan pesawat (maintenance), tim operasional serta keputusan cepat (quick action) guna menentukan rotasi baru apabila ada hambatan terjadi di lapangan (irregularities) guna meminimalisir dampak keterlambatan penerbangan.

Jaringan pada rute yang dilayani sepanjang periode Januari – Agustus telah dikenal sebagai destinasi popular, sehingga optimis mampu memberikan alternatif baru bagi pelanggan untuk mengunjungi kota-kota tujuan menarik.

Lion Air fokus melayani ke lebih dari 43 kota tujuan domestik serta 44 internasional meliputi Singapura, Malaysia, Tiongkok dan Saudi Arabia. Wings Air mempunyai 124 kota dalam negeri dan satu kota regional di Kuching, Malaysia, sedangkan Batik Air menerbangi 43 kota di Indonesia serta 15 destinasi di berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Tiongkok, India dan Australia.

Kehadiran pilihan jadwal penerbangan dari Lion Air Group, diharapkan menyediakan keuntungan setiap pelanggan, terutama dalam kemudahan melanjutkan perjalanan udara (connecting flight) dalam cakupan rute dari jaringan Lion Air Group yang saat ini sudah beroperasi. Selain itu, memberikan nilai lebih bagi pelanggan antara lain mempersingkat waktu, memperpendek jarak, nyaman, terjangkau dan jadwal keberangkatan atau kedatangan lebih tepat.

Seluruh operasional termasuk pengembangan bisnis tahun ini diharapkan mampu menjawab tren atau dinamika pasar serta melengkapi pengalaman bepergian dengan diikuti minat perjalanan menggunakan pesawat udara antarkota maupun antarnegara.

Memperkuat network 245.547 penerbangan sebagai bentuk kesungguhan Lion Air Group sejalan inisiasi dalam upaya mendukung pemerintah guna pemerataan ekonomi dan menyokong Kementerian Pariwisata RI sejalan program pencapaian kunjungan wisatawan menuju Indonesia, termasuk pengembangan pariwisata nasional.

Lion Air Group mengucapkan terima kasih kepada regulator, pengatur lalu lintas udara, pengelola bandar udara, seluruh kru, karyawan, mitra dan semua pihak dalam membantu kelancaran operasional. Lion Air Group berharap, hingga mendatang seluruh jaringan dapat terus dikembangkan, penambahan jumlah frekuensi terbang ataupun pembukaan rute baru dari kota lainnya.

 

BNI Syariah Beri Dua Paket Umrah Bagi Juara Pertama BNI ITB Ultra Marathon

0

 

BNI Syariah memberikan hadiah dua paket umrah untuk juara pertama individu putra dan putri Ultra Marathon 200 km. Hal ini sejalan dengan komitmen BNI Syariah untuk meningkatkan gaya hidup hasanah.

BNI Syariah juga mengirimkan 37 Insan Hasanah yang tergabung dalam komunitas Hasanah Runner dan dibagi menjadi 2 kategori lomba, yaitu kategori Individu 200K, dan 2 kategori Relay 18 200K, didampingi 14 Insan Hasanah menggunakan sepeda yang tergabung dalam Komunitas Hasanah Cycling Club dari titik start Gedung Graha BNI Sudirman, Jakarta.

SEVP Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi mengatakan keikutsertaan BNI Syariah dalam acara BNI ITB Ultra Marathon diharapkan bisa menjadi kontribusi positif untuk mendorong pola hidup sehat, dan memperkenalkan program/campaign yang sedang disosialisasikan, Minggu (13/09/2019).

Beberapa program dan produk yang BNI Syariah tampilkan dalam BNI ITB Ultra Marathon adalah cicilan 0% hingga 12 bulan untuk pembelian sepeda Brompton di Spin Warrior, program pengajuan Fleksi Gowes dan Fleksi Umroh, pendaftaran haji bersama Kopnus dan Amitra, serta pendaftaran Umroh Akhir Tahun bersama NRA dan Albilad.

Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni mengatakan pada tahun ini jumlah peserta BNI ITB Ultra Marathon sebanyak 6.000 peserta yang dibagi atas berbagai kategori lomba, yaitu Individu 200K, Relay 2 200K, Relay 4 200K, Relay 9 200K, dan Relay 18 200K.

“Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap event ultra marathon ini semakin meningkat, dan tentunya BNI sebagai Title Sponsor event ini akan terus mendukung kegiatan yang positif ini” ujar Achmad Baiquni.

ITB Ultra Marathon 2019 pertama dimulai pada 2017atau 3 tahun lalu. Acara kerjasama antara BNI, ITB dan Yayasan Solidarity Forever diselenggarakan pada 11 – 13 Oktober 2019 dengan mengambil start di Grha BNI Jakarta dan finish di Kampus ITB Ganesa Bandung via puncak, Bogor sejauh 170 km selama dua hari tiga malam.

BNI ITB Ultra Marathon 2019 diselenggarakan dalam rangkaian peringatan HUT ITB ke 100 yang bertujuan sebagai ajang silaturahmi alumni ITB dan juga berbagai komunitas lari serta komunitas umum. Dalam acara BNI ITB Ultra Marathon, BNI dan Ikatan Alumni ITB berkerjasama untuk menerbitkan Kartu Anggota Ikatan Alumni ITB yang berbasiskan combo card yaitu 1 (satu) kartu dengan fungsi ganda sebagai kartu debit dan kartu prepaid (Tapcash).

Diharapkan dengan memiliki kartu anggota IA ITB, para alumni mendapatkan benefit lebih baik, bukan sekedar memiliki kartu anggota, namun juga dapat dimanfaatkan untuk transaksional termasuk donasi kepada almamater melalui Dana Abadi ITB.