Usaha Abon Ikan Mulai Banyak Diminati

0
94
Abon ikan (dok perikanan38.blogspot.com)

 

Menurut pengamat UKM, Wulan Ayodya, pada masa lalu produk abon sudah sangat identik bahan baku sapi, bahkan jika menyebut makan abon asumsi banyak orang sudah pasti sapi. Hal ini sudah melekat sangat kuat pada pemikiran banyak orang Indonesia maka tak heran jika abon sapi lebih populer.

Pakar kuliner Sisca Soewitomo juga mengatakan hal senada, Abon Sapi lebih dulu ada sehingga pantas jika lebih populer dibandingkan abon ikan yang baru banyak muncul beberapa tahun terakhir. Hal lain yang menyebabkan abon ikan kalah populer menurut pengamat kuliner Deddy Rustandi adalah karena khalayak umum menganggap abon ikan pasti berbau lebih amis, dan harga jualnya lebih mahal.

Padahal sebagai negara bahari Indonesia sangat kaya akan hasil laut, yang seharusnya bisa diolah lebih baik dan lebih banyak dikonsumsi. Meski kalah populer, dengan abon sapi, menurut Wulan Ayodya, tren gaya hidup sehat yang berkembang beberapa tahun terakhir ini membuat banyak orang mulai mengganti konsumsi daging merah dengan ikan. Hal ini turut memacu permintaan pasar akan produk olahan ikan.

Harga jual yang masih tinggi dan pelaku usaha yang belum begitu banyak, serta tidak dikuasai pemain besar, maka potensi bagi pelaku usaha baru di bidang abon ikan masih sangat terbuka.

Keunggulan abon ikan dari segi produk adalah, serat daging ikan lebih lunak dan halus sehingga lebih mudah diolah. Keunggulan-keunggulan daging ikan dari segi kandungan gizi, juga bisa menjadi daya tarik untuk produk abon ikan. Meski menurut Deddy Rustandi, semua abon sebenarnya kandungan nutrisinya sudah menipis karena  proses pembuatannya yang lama, sehingga tinggal ampasnya.

Secara umum abon disukai selain karena rasanya adalah karena kepraktisan dan daya tahannya. Karena itu banyak orang yang ingin bepergian jauh dan lama, seperti para jemaah haji banyak yang membawa bekal abon untuk lauk makan.

Beberapa kendala yang membuat produk buatan UKM terkadang sulit berkembang adalah karena kurang memperhatikan keunggulan baik dari produk, kemasan, harga, dan cara penjualan. Hal ini bisa terjadi keterbatasan modal atau kurangnya pengetahuan, sehingga banyak hal penting yang kurang diperhatikan.

Misalnya kemasan, ijin dan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, tentunya khusus untuk kategori Produsen Industri Rumah Tangga (PIRT) atau sertifikasi halal  dari MUI. Hal tersebut banyak diabaikan saat skala usaha kecil dan masih baru, namun jika sudah berkembang dan ingin bisa lebih berkembang lagi, beberapa hal di atas harus lebih diperhatikan.

Delli Gunarsa, Director D&D Indonesia, yang bergerak di bidang kemasan produk makanan, mengatakan, Fungsi sebuah kemasan sangat penting, di antaranya untuk menjaga produk pangan agar tetap bersih, terlindung dari kotoran dan kontaminasi. Menjaga produk pangan dari kerusakan fisik, perubahan kadar air dan pengaruh sinar. Memudahkan dalam membuka/menutup, memudahkan dalam penanganan, pengangkutan dan distribusi.

Menyeragamkan produk pangan dalam ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan standar yang ada. Menampakkan identifikasi, informasi, daya tarik dan tampilan yang jelas dari bahan pangan yang dikemas sehingga dapat membantu promosi penjualan. Serta memberikan informasi melalui sistem labeling, bagaimana cara penggunaan tanggal kadaluarsa (Expired Date), dan lain-lain.

Beberapa pelaku usaha Abon Ikan yang tergolong sukses, biasanya sudah memperhatikan pentingnya kemasan. Arif Afief pengusaha abon ikan patin, misalnya. Saat ini kemasan yang ia gunakan masih plastik dan label dari kertas biasa, namun sudah di-press agar produk tidak cepat rusak. Ke depan ia berencana menembus pasar supermarket sehingga berniat memperbaiki kemasan dengan menggunakan composite can.

“Karena daya tahannya harus lebih lama, tapi saya tidak mau pakai pengawet dan tentu harus tampil lebih menarik,” ungkap Arif.

Dari sekian banyak jenis ikan yang bisa dibuat abon Ikan Tuna dan Ikan Tengiri dianggap Deddy Rustandi paling baik jika ingin diolah menjadi abon, hal yang sama diungkapkan Sisca Suwitomo. Namun bukan berarti jenis ikan lain tidak bisa diolah dan laris jika dibuat abon. Tuna dan Tengiri punya banyak keunggulan dan banyak disukai pasar sehingga harganya pun tinggi. Bagi yang punya keterbatasan modal ikan yang lebih murah seperti patin, atau lele juga bisa dijual dengan harga jauh lebih tinggi ketika diolah menjadi abon.

Dari segi pasokan, ikan lele juga lebih mudah didapat dan bisa dibudidaya sendiri. Seperti yang dilakukan Tri Wahyuni di Boyolali mungkin patut ditiru, ia memanfaatkan ikan lele berukuran besar yang tidak laku dijual para pembudidaya di daerahnya. Ikan lele yang biasa disuplai untuk para pedagang pecel lele, biasanya hanya yang berbobot 1 kg berisi 7-8 ekor. Untuk yang berukuran besar dan berdaging banyak justru tidak laku di pasaran. Hal itu dimanfaatkan Tri, dengan membuat abon ikan lele. Usaha Tri berkembang demikian pesat, hingga kini omsetnya mencapai puluhan juta.

Ikan lele mentah biasa dijual saat ini Rp 12 ribu/kg, ketika menjadi abon harga jualnya Rp 15 ribu untuk 100 gram atau 150 ribu per Kg. Meski memang ada penyusutan bobot 43% dari bahan mentah utuh yang digunakan, dan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk bumbu, kemasan dan biaya produksi, namun menjual dalam bentuk produk olahan seperti abon, tetap lebih menguntungkan.

Untuk membuka usaha abon ikan, modal yang dibutuhkan juga tidaklah besar. Dari beberapa pelaku usaha mengaku mengawalinya hanya dengan modal di bawah Rp 3 juta, bahkan ada yang hanya memulai dengan modal ratusan ribu, terutama pelaku usaha yang sudah lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.