Untung Besar dari Usaha Masker Motif

0
1296
Masker Kreatif (dok bukalapak.com)

 

Kualitas udara kota yang buruk, jumlah pengguna sepeda motor yang kian tinggi, serta kesadaran masyarakat akan kesehatan yang meningkat, membuat masker menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat kota.

Jika dulu orang membeli masker hanya mempertimbangkan fungsi utamanya untuk melindungi saluran pernafasan dari debu, polusi maupun kemungkinan penularan penyakit melalui saluran pernafasan, kini orang mulai memilih masker dengan  mempertimbangkan bentuk, desain dan warnanya.

Dengan demikian, masker tak hanya berfungsi untuk kesehatan tapi juga bisa untuk modis atau bergaya. Tak heran bila saat ini, masker motip tengah laku keras di masyarakat.

Menurut  Sheny Suryani, Produsen masker motif dengan merek Masker Cool, masker bermotif mulai muncul sekitar empat tahun lalu di luar negeri, namun diakuinya dua tahun terakhir ini pasar di dalam negeri  penggunanya makin banyak.

Dyah Ayu Liestanthi, yang baru setahun belakangan ini memproduksi masker motif mengatakan, salah satu alasannya membuat masker motif adalah karena ia sering dibonceng motor dan merasa perlu memakai masker, namun masker yang dijual di pasaran kebanyakan hanya masker tebal berwarna hitam yang biasa digunakan bikers, atau masker sekali pakai berwarna hijau, standar medis.

“Pada dasarnya wanita kan ingin tampil fashionable, pakai masker disesuaikan warnanya dengan baju atau jaket, karena itu saya pikir membuat masker motif pasti disukai pasar terutama wanita,” ungkap Dyah.

Alasan senada juga diungkapkan Yudha Birawa, bosan dengan pilihan jenis masker yang ada di pasaran, Yudha mencoba membuat masker dengan motif kain batik. Yudha juga melihat momen yang tepat, ketika batik kembali menjadi tren hingga ke kalangan anak muda.

Modal awal dan potensi keuntungan

Modal awal yang harus dikeluarkan untuk bisa memulai usaha masker motif, tentu tergantung dalam skala seperti apa usaha tersebut dimulai. Karena sebenarnya biaya produksi untuk masker tidak terlalu besar, peralatan yang dibutuhkan juga hanya mesin jahit biasa, yang jika tidak punya pun bisa menggunakan jasa makloon pada tukang jahit lain.

Nita Juliani misalnya, mahasiswa yang nyambi usaha sebagai produsen masker kecil-kecilan ini, memulai usaha hanya dengan modal Rp 500 ribu. Ia memanfaatkan mesin jahit yang sudah dimilikinya, dan dibantu sang ibu yang memangg punya ketrampilan menjahit. Jika dihitung dengan harga mesin jahit, modal awal yang dibutuhkan hanya berkisar Rp 2-3 juta. Kini Nita bisa mendapat keuntungan bersih Rp 4 juta perbulan.

Yudha Birawa juga memulai usaha hanya dengan modal Rp 2 Juta, dengan cerdiknya Yudha menggunakan bahan kain perca batik sisa sebuah usaha konveksi batik. Yudha juga tidak mengerjakan sendiri proses produksinya, ia menggunakan jasa penjahit secara makloon, sehingga hasil yang didapat cukup maksimal dengan biaya yang lebih ringan dan terukur.

Dengan cara tersebut keuntungan bersih yang didapat Yudha bisa mencapai 70 % dari omset yang diperoleh. Sementara Dyah Ayu Liestanthi yang biasa diasapa Dayu, memulai dengan modal sekitar Rp 10 juta.

“Itu modal cukup besar karena diawal saya banyak melakukan trial and error untuk bisa mendapat hasil produk yang maksimal,” ungkap Dayu.

Produk yang Diminati

Daya tarik masker ini dibanding masker biasa terletak pada tampilan motif kain masker. Gambar berupa tokoh kartun atau animasi masih menjadi pilihan utama pengguna, karena gambar–gambar tersebut disukai oleh konsumen, khususnya kalangan remaja dan anak–anak. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh seringnya tokoh kartun menghiasi layar kaca sehingga mudah diingat.

Menurut Sheny Suryan, orang dewasa dan karyawan biasanya akan memilih yang motifnya simple seperti warna polos atau motif bunga, sementara anak-anak muda ABG, lebih menyukai masker bergambar tokoh kartun seperti Mickey Mouse, Spongebob dan sebagainya. Masker dengan gambar logo klub sepakbola, menurut Nita Juliana juga cukup diminati.

Mengenai selera pasar Dayu mengatakan, kecenderungan laki-laki lebih memilih masker polos, dengan warna netral, sedangkan wanita lebih suka yang bermotif, dengan warna dasar  yang disesuaikan dengan warna bajunya.

“Jadi kadang ada yang beli beberapa disesuaikan dengan warna jaket atau baju yang dia punya,” ungkap Dayu.

Tidak hanya motif, untuk pembuatan juga harus memperhatikan bahan dasar masker. Meski bersifat gaya, namun masker tak boleh mengabaikan fungsi utamanya, karena itu pilihan bahan juga harus diperhatikan.

Mayoritas bahan dasar untuk masker motif ini berupa kain katun, dan tidak menggunakan kain bermotif dengan bau bahan kimia yang menyengat. Karena alih-alih melindungi, justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Menurut Dayu  bahan dasar yang baik adalah katun yang mempunyai serat yang rapat yang juga berfungsi meminimalkan polutan yang terhirup oleh hidung.

Promosi

Menurut Sheny, media internet merupakan sarana promosi yang jitu di saat masyarakat saat ini yang internet minded. Untuk perkenalan awal, produk juga dapat diperkenalkan dengan promosi mulut ke mulut kepada keluarga dan rekan kerja. Seperti yang dialami Yudda, meskipun hanya berpromosi melalui Kaskus, namun angka penjualan dapat terus meningkat. Cara yang sama juga dilakukan Nita Juliana dan Dayu.

Dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan maka usaha pembuatan masker motif ini masih akan menjanjikan. Masker nya sendiri diyakini tidak akan kehilangan pasar, namun motifnya yang mungkin sifatnya tren musiman,karena itu up date motif terbaru tiap saat, dan ikuti perkembangan tren adalah salah satu kiat untuk bisa tetap bertahan di usaha masker motif.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.