Pasca PT Inalum mampu menguasai 51 saham PT Freeport Indonesia dengan membayar lebih dari 57 triliun dari pemberi dana yang tak disebutkan asalnya, kali ini Menteri Menteri Badan Usaha Milik Negara RI Rini Soemarno menawarkan PT Inalum (Persero) di China untuk mendapatkan mitra.
Dengan dalih guna meningkatkan nilai tambah produk tambang tanah air dengan melakukan hilirisasi, Rini bertemu produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik yakni Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd.
“Sektor tambang Indonesia memiliki potensi yang besar. Dengan menggandeng mitra strategis ini, Holding Industri Pertambangan Inalum bisa memiliki akses ke teknologi yang dibutuhkan untuk hilirisasi sehingga industri pengolahan tambang domestik bisa berkembang dan memberikan lebih banyak nilai tambah, dan nilai ekspor produk tambang Indonesia bisa melesat,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno dalam siaran pers di Jakarta, dalam kunjungan kerjanya ke China pada Jumat (17/05/2019).
Menteri Rini mengatakan, mendorong BUMN-BUMN untuk meningkatkan hilirisasi produk di dalam negeri. “Kita harus bisa masuk ke Industri hilir. Ini bisa diwujudkan jika kita terus bersinergi dan berkomitmen bersama membangun Indonesia. Jika ada hilirisasi maka penciptaan lapangan pekerjaan pun semakin meningkat,” tegasnya.
Sementara itu Direktur Utama PT Inalum (Persero) Budi G. Sadikin mengatakan, sesuai dengan mandat Holding Industri Pertambangan untuk menjalankan hilirisasi, Inalum terus secara agresif mencari mitra strategis yang bisa memberikan akses di bidang teknologi dan memiliki pengalaman yang mumpuni.
“Huayou merupakan salah satu mitra strategis yang ingin kami ajak kerja sama karena telah berpengalaman di industri hilirisasi tambang dan juga pernah bekerja sama dengan berbagai perusahaan kelas dunia,” katanya.
Tarif pesawat yang terbang tinggi sejak November 2018 tak juga bisa dikendalikan pemerintah. Masyarakat yang mulai meninggalkan menggunakan maskapai penerbangan domestik yang berujung pada sepinya sejumlah bandara tak juga membuat pemerintah tegas menurunkan harga tiket pesawat.
Bahkan jelang liburan lebaran seperti saat ini. Apa iya masyarakat harus menggunakan maskapai penerbangan asing meski transit ke negara tetangga demi harta tiket yang lebih murah?. Bagaimana bisa maskapai di luar negeri bisa lebih hemat dan efisien ketimbang di dalam negeri
Tagar #PecatBudiKarya sempat mencuat dan viral di emdia sosial masyarakat menggappemerintahnya tak bisa menyelesaikan masalah harga tiket pesawat.
Geram dengan desakan masyarakat, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mulai menurunkan tarig batas atas (TBA) 12-16 persen. Namun sayang penurunan ini hanya untuk maskapai dengan full service seperti Garuda Indoensia dan Batik Air. Sedangkan maskapai low cost carrier/LCC hanya sebatas himbauan mematok harga penjualan tiket pesawat sekitar 50 persen dari tarif batas atasnya.
Kenaikan harga tiket pesawat sudah melampaui 15 persen. Bahkan ada yang hampir dua kali lipat dari harga yang ditawarkan sebelumnya.
Selain itu, penurunan tarif batas atas tidak bersifat memaksa. Buktinya, tidak ada sanksi bagi maskapai yang tak mengindahkan ketentuan baru ini. Pemerintah disebut hanya akan menuangkan ketentuan baru ini lewat SK. Bukan merevisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019.
Menurut Ekonom Core Mohammad Faisal, kebijakan ini akan sulit diterapkan, terutama jelang libur lebaran. Kebijakan ini bahkan disebut Faisal minim dampak karena sifatnya yang tidak memaksa dan terbatas pada maskapai full service.
“Penggunaan maskapai LCC di kalangan masyarakat Indonesia itu jauh lebih besar ketimbang full service. Jadi, seharusnya tidak sekadar imbauan,” jelasnya.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan jika harga tiket pesawat tak juga turun, bisa berdampak pada merorotnya pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau harga tiket pesawat dibiarkan, saya melihat 2019 ini ekonomi maksimal hanya tumbuh 5,12 persen atau bahkan bisa tumbuh hanya 4,9 persen. Soalnya, Indonesia masih punya persoalan lain, seperti defisit neraca transaksi berjalan, bayang-bayang trade war (perang dagang), dan lainnya,” terang Fithra.
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Berikut rincian tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB) di sejumlah rute populer di Indonesia:
Jakarta-Makassar TBA-nya dipatok di harga Rp 1.830.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 641.000.
Jakarta-Medan (Kualanamu) TBA-nya dipatok di harga Rp 1.799.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 630.000.
Jakarta-Palembang TBA-nya dipatok di harga Rp 844.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 295.000.
Jakarta-Semarang TBA-nya dipatok di harga Rp 796.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 279.000.
Jakarta-Solo TBA-nya dipatok di harga Rp 906.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 317.000.
Jakarta-Surabaya TBA-nya dipatok di harga Rp 1.167000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 408.000.
Jakarta-Yogyakarta (Adisutjipto) TBA-nya dipatok di harga Rp 860.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 301.000.
Jakarta-Lombok Praya TBA-nya dipatok di harga Rp 1.396.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 489.000.
Denpasar-Jakarta TBA-nya dipatok di harga Rp 1.431.000, sedangkan TBB-nya di harga Rp 501.000.
Namun, besaran tarif ini belum termasuk biaya PPN, Asuransi, biaya tambahan dan tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U).
“Keputusan baru ini akan dilakukan evaluasi secara berkala setiap tiga bulan atau jika terjadi perubahan signifikan yang mempengaruhi keberlangsungan kegiatan badan usaha angkutan udara,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti di Jakarta, Kamis (16/05/2019).
Polana menjelaskan, evaluasi tersebut juga bisa dilakukan jika terjadi kenaikan harga avtur atau pun perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sebab, biaya operasional pesawat rata-rata menggunakan dollar AS. “Dalam ketentuan ini asumsinya harga avtur rata-rata Rp 10.845 dan nilai tukarnya Rp 14.138,” kata Polana.
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi bersama Masyarakat Peduli Pemilu Bersih dan Berintegritas (MPPBB) mengungkap fakta-fakta kecurangan Pilpres 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Selasa (14/05/2019).
Acara yang dihadiri sejumlah tokoh nasional, purnawirawan, relawan dan pendukung Prabowo-Sandi memenuhi Ballroom Puri Agung berkapasitas 3000 orang tersebut. Ribuan orang yang tak bisa duduk di kursi yang telah disediakan rela duduk lesehan hingga memenuhi seluruh ruang.
Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno memanaskan acara dengan menyampaikan isi hatinya pada audience. Menurutnya, Pemilu 2019 menyisakan catatan yang memprihatinkan. Ratusan keluarga kehilangan anggota keluarga sebagai petugas pemilu berujung kematian dan ribuan petugas sakit dan di rawat di sejumlah rumah sakit. Begitu banyaknya korban yang berjatuhan, tak salah kiranya Sandi menyebut pemilu kali ini paling mematikan sepanjang sejarah yang harus menjadi pembelajaran ke depan.
“Semoga yang meninggal, khusnul khotimah, karena meninggal saat menjalankan tugas. Dan yang sakit disembuhkan. Semoga tidak ada lagi korban meninggal,” katanya.
Wakil Capres Prabowo Subianto ini mencium aroma politik uang yang begitu terang benderang, salah satunya ditemukannya ratusan ribu amplop yang akan digunakan untuk serangan fajar di hari pemilihan. Ironinya lagi, dalam sidang tersangka dari partai pendukung petahana itu terkuak kasus tersebut ikut menyeret pejabat tinggu BUMN dan partai yang sangat mencederai demokrasi.
“Di berbagai penjuru tanah air, masyarajat disuguhi gelombang tsumani politik uang yang dijaga aparat. Rakyat dipaksa mendukung petahana dengan diberi iming-iming uang. Disana sini aparat desa dipaksa memilih paslon tertentu dengan ancaman hukum. Kami cari bukti-bukti memang tidak mudah. Kami harap kejujuran mengakui praktek ini terjadi,” harapnya.
Sebagai cawapres, Sandi mengalami bagaimana ketidakadilan penyelenggara Pemilu yang dialami selama kampanye, saat pencoblosan hingga pasca pemungutan suara. Mulai dari DPT bermasalah, kotak suara kardus yang mudah rusak, 6,5 juta orang tak memperoleh undangan, keterlambatan logistik hingga pengusiran dan intimidasi saksi di daerah tertentu.
“Saya alami tempat kampanye berpindah-pindah, sulit dijangkau hingga membiarkan berbagai pelanggaran terjadi,” jelasnya.
Sandi mengatakan masyarakat juga disuguhi lembaga survey yang condong ke salah satu paslon, rakyat dipertontonkan kesalahan Situng Pemilu. Namun ironis, saat kubu petahana dan masyarakat meminta audit forensic Situng KPU tak ditanggapi.
“Pemilu memang sudah selesai, tapi ada ketidakadilan yang terkoyak. Bukankah, demokrasi itu kesetiaan pada kejujuran. Mari kita berjuang hingga titik darah penghabisan,” pekik Sandi yang disambut takbir audience.
Sejak dibuka dan bisa digunakan oleh masyarakat umum, pada 1 April 2019 hingga 12 Mei 2019, PT MRT Jakarta masih memberikan tarif promo yakni 50% dari tarif normal. Sejak 13 Mei 2019, masyarakat pengguna moda transportasi massal itu harus membayar sesuai dengan tarif normal.
Jika sebelumnya untuk pemberangkatan awal di Stasiun Bundaran Lebak Bulus hingga pemberhentian akhir di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, tarif promo sebelumnya adalah Rp 7.000. Sementara kini, dengan tarif normal, besarannya menjadi Rp 14.000.
Namun meski tarif Moda Raya Terpadu (MRT) telah berlaku normal yang berkisar Rp 3.000 sampai Rp 14 ribu mulai Senin (13/5) kemarin. Jumlah penumpang yang naik MRT mencapai 77.696 penumpang.
Jumlah tersebut sedikit menurun dari rata-rata penumpang bulan lalu dengan jumlah penumpang mencapai rata-rata 82 ribu penumpang per hari.
“Info ridership layanan MRT Jakarta kemarin berjumlah 77.033 penumpang,” ujar Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin, Selasa (14/5).
Pengoperasian MRT Jakarta telah dimaksimalkan dengan mengoperasikan secara penuh seluruh rangkaian kereta sebanyak 16, dua rangkaian kereta untuk cadangan.
“Tarifnya masih terjangkau sesuai dengan kenyamanan dan kecepatan untuk sampai tujuan,” kata Maryani, penumpang MRT yang ditemui di MRT Jakarta tujuan Lebak Bulus, Selasa (14/5).
Sejumlah penumpang tak begitu mempermasalahkan kembali normalnya tarif MRT. “Harganya sebanding. Fasilitasnya terjamin. Cepat dan nyaman,” kata Maryani, yang kerap menggunakan sarana transportasi ini.
“Setimpal sih harga sama fasilitasnya, hanya paling pelayanannya harus ditingkatkan lagi, terutama di mesin pembaca kartu yang terkadang masih lama,” tambah Fadli.enumpang yang ditemui di Stasiun MRT Dukuh Atas
JIka dibandingkan dengan dengan tarif angkutan online yang sudah mengalami penyesuaian, naik MRT lebih nyaman dan jauh lebih cepat. “Minimal cepat dan nggak panas-panasan. Saya hitung-hitung saya tetap memilih MRT,” ucapnya.
Berikut tarif MRT yang telah kembali normal:
Lebak Bulus – Fatmawati Rp 4.000
– Lebak Bulus – Cipete Rp 5.000
– Lebak Bulus – Haji Nawi Rp 6.000
– Lebak Bulus – Blok A Rp 7.000
– Lebak Bulus – Blok M Rp 8.000
– Lebak Bulus – ASEAN Rp 9.000
– Lebak Bulus – Senayan Rp 10.000
– Lebak Bulus – Istora Senayan Rp 11.000
– Lebak Bulus – Bendungan Hilir Rp 12.000
– Lebak Bulus – Setia Budi Astra Rp 13.000
– Lebak Bulus – Dukuh Atas BNI Rp 14.000
– Lebak Bulus – Bundaran HI Rp 14.000
Untuk melakukan pembayaran perjalanan MRT Jakarta, masyarakat dapat menggunakan kartu Jelajah Single Trip, Kartu JakLingko dan Uang Elektronik dari Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA dan Bank DKI.
Sulit dan meroketnya harga bawang putih di sejumlah daerah membuat masyarakat kesulitan mendapatkan komoditas yang sebagaian besar di ekspor itu. Anehnya harga bawang putih impor itupun tak juga turun padahal pemerintah dalam hal ini Kementrian Pertanian telah memberikan izin impor bawang putih lebih dari 100 ribu ton. Nyatanya harga di pasar masih berkisa Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram.
Operasi pasar dari Kementrian Pertanian yang telah Meskipun Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan yang menjual harga bawang putih Rp 30.000/kg juga tak mampu meredam gejolak peningkatan harga bawang putih impor. Bahkan ancaman Menteri Pertanian yang akan mencabut izin impor pelaku impor bawang putih itu pun tak berhasil menjinakkan harga bawang putih impor tersebut.
Gelisah dengan kondisi seperti ini, Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (Almisbat) melaporkan kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait temuan dan bukti-bukti terkait dugaan praktek monopoli dan rekayasa persaingan usaha tidak sehat di antara importir bawang putih.
Almisbat menilai para importir bawang putih ituberlindung dibalik kebijakan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) Kementerian Pertanian RI dan menyebabkan terjadinya kelangkaan dan kanaikan harga bawang putih yang terparah sejak tahun 2013.
Anggota Badan Pertimbangan Nasional Almisbat, Syaiful Bahari, menduga kekosongan pasokan dan naiknya harga bawang putih bukan disebabkan anomali pasar atau harga yang tinggi di negara asal bawang putih impor uaitu Cina. Tapi lebih disebabkan adanya rekayasa pasar dan harga yang dilakukan segelintir importir dengan dukungan kebijakan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.
“Menteri Pertanian membuat kesepakatan bersama dengan importir saat operasi pasar di Kramat Jati. Disepakati harga jual bawang putih sebesar Rp25 ribu per kg dalam operasi pasar dan Rp30 ribu per kg ke pedagang retail,” ungkapnya di Kantor KPPU, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (15/05/2019).
Syaiful mengatakan Kemendag bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan para importir sepakat menentukan harga jual bawang putih sico ke konsumen sebesar Rp35 ribu per kg dan bawang putih kating sebesar Rp40 ribu per kg. Harga jual bawang putih sico gudang importir sebesar Rp20 ribu per kg. Sedangkan HET di retail modern yaitu Rp35 ribu per kg dan di pasar tradisional sebesar Rp32 ribu per kg.
Almisbat menilai penetapan harga yang dipandang sepihak oleh Kementan, Kemendag, dan beberapa importir telah melanggar UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Menurutnya modal impor dari Cina sampai pelabuhan Indonesia hanya Rp 14.500 per kg. Padahal Desember 2018 harga bawang putih pernah turun sampai Rp 10.000 di tingkat importir.
Dengan operasi pasar saja importir menjual harga yang ditetapkan sepihak masih untung Rp 10.500 per kg. Belum lagi dengan Harga Eceran tertinggi (HET), disparitas keuntungan yang diperoleh Rp 17.500 sampai Rp 20.500 per kg. Berarti masyarakat mensubsidi disparitas keuntungan bawang putih hampir dua kali dari harga modal impor.
Pasca penandatanganan 23 Memorandum of Understanding (MoU) antara sejumlah pebisnis Indonesia dan China dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) II Belt Road Initiative (BRI) di Beijing 27 April 2019, Pemerintah Indonesia harus lebih waspad.
Menurut Peneliti INDEF Andry Satrio Nugrohom BRI yang merupakan investasi China terutama dalam bentuk infrastruktur di jalur sutra bisa menjadi ancaman bag BUMN yang selama ini penguasa atas sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
“Masuknya China ke dalam KEK tentu perlu waspada, bahwa bisa saja hirilisasi sawit tidak terjadi, namun justru memberikan kesempatan bagi China untuk mengeruk peluang mendapatkan Crude Palm Oil (CPO) dengan harga terjangkau dari Indonesia. Perlu diingat, ke depan akan terjadi peningkatan penyerapan CPO Indonesia oleh China,” katanya di acara diskusi online Jejak INDEF bertema BRI dan Gejolak Ekonomi Global: Efek terhadap Indonesia, Sabtu (11/05/2019).
Ia juga mengingatkan risiko lainnya karena yang digalakan dan digencarkan adalah model kerjasama Business to Business (B2B). Sejak 2012, 40 perusahaan BUMN China sudah menyetujui mengambil peran di dalam kontestasi BRI. Mereka akan head-to-head dengan BUMN kita.
Ke depan risiko kerugian yang akan ditanggung langsung oleh BUMN pengolahan sawit seperti PTPN III. Kemungkinan terburuk adalah KEK ini akan menjadi milik China dengan penguasaan secara menyeluruh hingga pada tahap operasionalnya yang saat ini dikuasai oleh anak perusahaan PTPN III yaitu PT Kinra.
“Ini juga belum menghitung tenaga kerja asing (TKA) yang akan masuk seiring dengan masuknya investasi dari China ke KEK Sei Mangkei yang mana seharusnya tenaga kerja yang terserap bukan dari China namun dari daerah Sei Mangkei, Simalungun, Medan dan sekitarnya. Kita harus belajar dari kasus KEK Morowali,” pungkasnya.
Sepertinya pemerintah kesulitan menjading investor untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) termasuk KEK Sei Mangkei. Padahal KEK ini merupakan KEK strategis dengan fokus pada hilirisasi sawit. Di KEK ini baru dua perusahaan asing besar yang memiliki tenant, yaitu Unilever dengan Pabrik Oleochemical dan Shimizu Corporation dari China yang mengembangkan biomass.
Prsiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan banyak investor yang sudah datang dan berniat menanamkan investasi ke Indonesia. Namun, perizinan masih bertele-tele, baik di pusat maupun daerah, sehingga membuat para investor balik badan.
“Jengkel saya tidak bisa menyelesaikan yang sudah kelihatan,” katana di acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (09/05/2019)
Jokowi juga meminta para menteri dan kepala daerah menutup mata apabila ada pengusaha yang hendak menanamkan investasinya. Apalagi jika investasi itu berorientasi pada ekspor dan substitusi barang-barang impor.
“Kalau itu yang datang investornya, sudah saudara-saudara sekalian tutup mata. Sudah, besok bangun, izin berikan, besok suruh bangun. Gitu lho, itu baru bisa menyelesaikan,” imbuhnya.
Ia mencontohkan, lima tahun lalu, ada 259 izin yang harus dikantongi apabila investor ingin membangun pembangkit listrik. Kini Jokowi sudah memangkasnya menjadi hanya 58 izin. Namun, ia belum puas dengan angka itu.
“Kalau investasi kaya itu, orientasi ekspor, subtitusi batang impor, kalau perlu, enggak pakai izin. Izinnya diberikan kemudian,” tambahnya.
Indonesia naik tujuh peringkat dalam hal manufacturing risk index 2019 atau Indeks Risiko Manufaktur mengenai lokasi yang paling cocok untuk industri manufaktur global. Hal ini diungkap perusahaan konsultan realestat Cushman & Wakefield meluncurkan risetterbarunya.
Penilaian dilakukan terhadap 48 negara di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA); Amerika; serta negara-negara di Asia Pasifik. Lembaga ini menghimpun data yang didapatkan dari berbagai sumber, antara lain Bank Dunia, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), dan Oxford Economics.
Indeks Risiko Manufaktur yang dikeluarkan Cushman & Wakefield memberikan penilaian dengan tiga skenario utama yaitu Baseline, Biaya, dan Risiko. Pada tahun ini peringkat Indonesia Dalam skenario Baseline, menempati posisi ke-13 tepat di atas Singapura dan di bawah Portugal.
Posisi pertama ditempati oleh China karena peran pemerintahnya yang berinvestasi serta mengadopsi teknologi. Posisi kedua ditempati oleh AS. Negara ini disebut menarik bagi para pelaku industri manufaktur terutama bagi mereka yang ingin meminimalisasi risiko politik dan ekonomi. Posisi selanjutnya ditempati oleh India, Kanada, dan Republik Ceko.
Sementara dalam skenario Biaya, Indonesia berada di peringkat ke-4 tepat di atas India dan di bawah China, Malaysia, serta Vietnam. Head of Research for Singapore and South East Asia, Christine Li mengatakan untuk skenario ini, Vietnam naik 8 peringkat dari 23 pada 2018 menjadi 15 pada 2019. Selain itu, peringkat Indonesia juga naik 7 tempat dari 20 pada 2018 menjadi 13 pada 2019.
Penilaian dalam skenario Biaya juga memberikan angka lebih tinggi bagi negara-negara dengan biaya operasi (termasuk upah buruh) yang rendah, di mana China tetap menempati posisi utama.
“Lokasi berbiaya rendah di Asia Pasifik masih menarik untuk manufaktur padat karya dan akan terus dicari mengingat daya saing biayanya,” ujar Head of Research Cushman & Wakefield for Asia Pacific, Dominic Brown.
Menurut Li negara ini terus berinvestasi dalam teknologi dan inovasi untuk mengimbangi transformasi cepat dalam manufaktur.
“Kerangka peraturan Singapura yang kuat menawarkan kepada para produsen tingkat perlindungan yang wajar dari risiko geo-politik dan kekayaan intelektual,” sambung Li
Salah satu gebrakan teranyar yang dilakukan putra mahkota cendana, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto adalah akan mengembangkan rumah murah hingga 500.000 unit – 1 juta unit per tahun. Hal ini didasari karena permintaan rumah murah di Indonesia masih tinggi.
Lewat bendera PT Berkarya Makmur Sejahtera, putra bungsu dari mantan Presiden Republik Indonesia ke-2 Soeharto ini mengembangkan bisnis properti murah. Keluarga cendana bukanlah wajah baru di bisnis properti Indonesia. Tommy selama ini cukup eksis dengan mengembangkan berbagai proyek properti di tanah air. Bahkan tahun lalu, Tommy kembali menghidupkan bisnis ritel grosir GORO yang berasal dari singkatan Gotong Royong yang sempat ramai medio 90-an.
Kerjasama dengan investor Arab PT Berkarya Makmur Sejahtera baru saja mendapatkan komitmen investasi US$3 miliar -US$5 miliar atau setara dengan Rp42 triliun – Rp70 triliun dari raksasa real estate asal Dubai Uni Emirat Arab, Bin Zayed Group. Dana tersebut rencananya salah satunya akan digunakan untuk membangun rumah murah.
“Rencananya kami akan mengembangkan rumah murah hingga 500.000 unit – 1 juta unit per tahun. Hal ini karena permintaan rumah seperti ini di Indonesia masih tinggi,” kata Komisaris Utama PT Berkarya Makmur Sejahtera itu.
Menurut Tommy, rumah tersebut rencananya bakal dirancang dengan ukuran tanah seluas 60 meter persegi (m2) dan bangunan seluas 36 m2. Rumah yang menyasar kelompok menengah ke bawah ini tidak hanya akan dibangun di sekitar wilayah Jabodetabek saja, tapi juga di seluruh Indonesia. Namun, Tommy belum menyampaikan detail lokasi pembangunan. Untuk harga rumah yang akan dijual, kata Tommy, pihaknya juga belum mengumumkan angka pasti.
“Yang jelas mengikuti ketentuan dari pemerintah saja nanti seperti apa,” pungkasnya.
Pisang Keju Batam, Sate Telur Indomie, Pizza Sushi, Baguette Pasta, Ice Cream Puff, Es Krim Cheetos Popsicle 3D, Winter Bunny Pudding Chocolate Pie adalah sederet makanan yang sedang hits di Jakarta dan sekitarnya, mengegntikan Nugget Pisang,Thai Tea, Kepal Milo, Sosis Telur dan lainnya. Begitu cepat berubahnya tren makanan tentu harus jadi perhatian bagi pelaku bisnis makanan agar tetap eksis.
Kepada Berempat.com, Business Coach dari Strategy Strategic Consulting & Coaching, Ridwan Mahmudi menyampaikan beberapa hal yang bisa buat pebisnis kuliner kreatif berumur panjang bahkan bisa berkembang.
Salah satu keunggulan bisnis ini cepat menyebar ke seluruh penjuru, lalu sepi, sunyi, hening seketika. Seperti menyiramkan air di padang pasir. Nampak basah sesaat, lalu kering dengan cepat. Dan akan muncul bisnis sejenis dengan cepat, lalu menghilang lagi. Begitu dan berulang. Itulah fenomena bisnis kuliner kekinian yang kita akan ulas
Apa Sebab?
Mengupas lifecycle bisnis kuliner kekinian yang sangat pendek, maka dapat diduga disebabkan oleh hal hal sebagai berikut :
1. Curiosity. Menu Kuliner kekinian cenderung adalah menu menu yang “nabrak, tidak lumrah, kebaruan, unik” dan lain lain yang memancing orang untuk PENASARAN menjajalnya. Istilahnya lainnya merangsang orang berpetualang lidah. Dorongan pembelian karena penasaran/curiosity ini akan berhenti manakala terpenuhi rasa penasarannya melalui mencicipi untuk pertama kalinya produk tersebut. Hasilnya bisa saja orang puas atau bahkan tidak doyan. Yang terucap dari mulutnya adalah kalimat “oh… begini ya rasanya”. Sudah itu saja.
2. Gaya Hidup. Mengkonsumsi produk diatas bisa mengkonfirmasi bahwa seseorang telah masuk dunia “kekinian” juga, gaul, dan tentu saja tidak ketinggalan jaman. Ketiak media sosial membanjiri dengan informasi nugget pisang, rasanya sangat tidak gaul kalau kita belum mencicipinya. Eksperience setelah mengkonsumsinya, berguna ketika komunitas bergaul membicarakan menu kekinian sehingga kita tidak akan menjadi manusia kudet. Sebatas itu.
3. Target Market. Dapat dijelaskan bahwa mayoritas kuliner kekinian menjadikan populasi demografis tergemuk yakni kaum milenial, sebagai target marketnya. Salah satu ciri generasi milenial adalah dinamis, gampang bosen sesuatu hal. Jangankan soal makanan, bahkan generasi millenial rela meninggalkan pekerjaan dan mencari pekerjaan lain yang disukainya. Kebayangkan sebagai pebisnis kuliner, anda harus mengikuti dinamika generasi millenial tersebut.
4. Produk dan Persepsi Produk. Antara produk dan persepsi produk adalah 2 hal yang berbeda. Bisa saja kualitas sebuah produk biasa saja, namun dengan “make up” marketing yang keren, persepsi atas produk tersebut menjadi sedemikian luar biasa. Akibatnya, ketika konsumen menggunakan produk tersebut tidak sesuai persepsinya, mereka akan kecewa dan tidak akan membeli kembali.
Membangun Bisnis Kuliner yang Jangka Panjang
Jika anda ingin terjun ke bisnis kuliner, selayaknya anda pertimbangkan beberapa hal berikut agar bisnis anda bertahan jangka panjang
1. Gali Potensi Kuliner Lokal. Indonesia kaya akan kuliner. Nasi Pecel, Cireng, Soto, Es Buah, Wedang Jahe, Es Lilin, Es Pisang Ijo, Sate Padang, Bakso dan lain lain. Apa keuntungan mengangkat produk lokal? Anda tidak perlu terlalu mengedukasi, orang sudah memiliki presepsi di kepala nya tentang produk tersebut. Berarti ½ pekerjaan anda memarketingkan produk anda sudah selesai.
2. Tambahkan citarasa kekinian. Apakah dari sisi praktisnya, kemasannya, penyajiannya ataupun varian rasanya. Bayangkan kalau anda jualan Wedang Jahe. Yang dulu biasa dijual di kedai kedai di kampung. Sekarang wedang jahe dijual dengan konsep berbeda, dengan pakai logo dan identitas lebih bermain warna, seruput wedang jahe pakai gelas sekali pakai seperti kedai kopi brand global, kebayang kan? Minuman kampung masuk mall, masuk gang gang perkotaan,.
3. Ciptakan lebih dari sekedar Curiosity (Penasaran), tapi Need (Kebutuhan). Menciptakan rasa penasaran penting, namun tidak cukup. Sebuah produk minuman kekinian nampak menarik, memancing rasa penasaran untuk mencoba. Setelah mencicipi, apakah benar benar enak? Apakah menuhi harapan? Apakah sama dengan persepsi produk? Jika tidak, maka jangan harap akan ada pembelian ke 2 dst. Antara produk dan persepsi produk haruslah kongruen, sesuai ekspektasi. Back to Quality !
4. Tambahkan Segment Pasar. Soto Lamongan berasal dari Jawa Timur. Populasi penduduk lamongan tidak banyak, namun sebaran warung soto lamongan menjangkau seluruh pelosok negeri. Siapa konsumennya? Adalah para perantau suku jawa, bukan lagi perantau dari lamongan semata. Penduduk suku jawa sangat besar dan menyebar di seluruh penjuru nusantara. Bahkan suku lainpun lama kelamaan familier dengan soto lamongan. Inilah penambahan segmen pasar dari sekedar warga lamongan, suku jawa, lalu melebar ke seluruh warga bangsa. Soto Lamongan, Nasi Pecel, Ayam Bakar, Soto Kudus, Mie Aceh adalah kuliner kuliner lokal yang mulai menjadi kuliner nasional seperti Nasi Padang. Lihatlah sekarang, di manapun juga kita bisa menemukan restoran padang
Demikian tips berbisnis kuliner agar bisnis anda bisa berumur panjang. Selamat berbisnis.