Rabu, Mei 6, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 52

Optimisme Pelaku Industri Menguat, IKI Oktober Tembus Zona Ekspansi

Di tengah dinamika perekonomian global yang terus berfluktuasi, optimisme pelaku industri di Indonesia tetap terjaga dan bahkan menunjukkan penguatan sepanjang Oktober 2025. Kondisi ini tergambar dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang kembali menguat dan menegaskan bahwa optimisme pelaku industri tidak surut meski tekanan ekonomi internasional masih terasa.

Dengan skor 53,50, indeks berada di atas batas ekspansi dan meningkat dibandingkan September lalu yang mencatat angka 53,02. Angka ini juga lebih tinggi dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya. Konsistensi optimisme pelaku industri tersebut menegaskan bahwa sektor manufaktur masih menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional.

Sinyal positif bagi sektor manufaktur turut ditopang oleh stabilitas kebijakan moneter dan fundamental ekonomi domestik. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Oktober 2025. Kebijakan ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk terus mengakses pembiayaan dengan suku bunga yang lebih terkendali, sehingga mendorong aktivitas produksi dan investasi. Selain itu, surplus neraca perdagangan yang sudah bertahan selama lebih dari lima tahun juga memperkuat keyakinan pasar bahwa Indonesia mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.

Mayoritas Subsektor Tetap Ekspansif

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan bahwa dari 23 subsektor industri pengolahan yang dipantau, sebanyak 22 subsektor berada dalam fase ekspansi. Kontribusinya bahkan mencapai hampir seluruh struktur industri pengolahan nonmigas nasional. Satu-satunya subsektor yang masih tertekan adalah industri tekstil, yang saat ini menghadapi perlambatan permintaan dalam negeri dan peningkatan arus impor bahan baku.

Di sisi lain, dua subsektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah industri pengolahan tembakau serta industri kertas dan produk turunannya. Keduanya mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan lokal dan ekspor. Sektor berbasis kayu dan rotan juga menunjukkan pergerakan positif seiring meningkatnya pemesanan dari pasar Jepang dan Eropa menjelang akhir tahun.

Pemerintah juga menyatakan dukungan terhadap komitmen Menteri Keuangan dalam memperkuat perlindungan industri nasional melalui langkah pemberantasan produk ilegal seperti rokok tanpa pita cukai dan pakaian impor bekas. Menurut Febri, kebijakan itu menjadi bagian dari upaya menjaga persaingan usaha tetap sehat dan melindungi produsen dalam negeri.

Produksi Masih Dalam Tahap Penyesuaian

Meski indeks membaik, variabel produksi masih berada dalam zona kontraksi. Hal ini menandakan pelaku industri tetap berhati-hati menambah kapasitas produksi karena sebagian permintaan masih dipenuhi dari stok yang sudah tersedia. Namun lonjakan permintaan kemasan berbahan kertas dan meningkatnya penjualan kendaraan listrik — yang tembus 55.225 unit hingga September 2025 — memberi sinyal pemulihan konsumen terus bergerak.

Program Bangga Buatan Indonesia juga ikut mendorong peningkatan serapan produk furnitur lokal melalui sistem pengadaan pemerintah dan tumbuhnya permintaan dari pasar ekspor.

Baik industri berorientasi ekspor maupun domestik mencatat pertumbuhan indeks, yang masing-masing berada pada zona ekspansi. Kenaikan ini menggambarkan bahwa peningkatan belanja pemerintah dan permintaan konsumen menjadi katalis utama pemulihan sektor riil menjelang akhir tahun.

Bukan Kurang Bakat, Tapi Kurang Berani: Tantangan Bisnis Untuk Gen Z

Berhenti merasa kecil hanya karena usia masih muda. Dunia berubah cepat, dan generasi Z datang dengan potensi besar. Tapi tetap saja, ada halangan yang sering bikin rencana besar kandas sebelum benar-benar berjalan. Saat membahas Bisnis Untuk Gen Z, banyak yang punya ide cemerlang tapi tumbang bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena faktor mental dan kebiasaan. Mencari Ide Bisnis Untuk Gen Z ini penting, karena realitanya, peluang terbuka lebar buat mereka yang siap melangkah.

Banyak Gen Z yang sebenarnya punya modal penting: akses informasi luas, kemampuan adaptasi cepat, dan kreativitas tanpa batas. Sayangnya, rasa insecure, takut salah, dan overthinking sering jadi tembok tinggi. Di saat kompetitor sudah mulai eksekusi, sebagian masih sibuk membandingkan diri di media sosial dan meragukan kemampuan sendiri. Padahal, yang dibutuhkan kadang cuma keberanian buat mulai dulu, baru perbaiki sambil jalan.

Selain itu, pola pikir instan juga ikut memainkan peran. Karena sering melihat cerita sukses yang viral, banyak yang terjebak mindset bahwa hasil harus cepat terlihat. Padahal, dalam dunia nyata, perjalanan setiap orang berbeda. Fokus ke progress, bukan perbandingan. Karena Bisnis Untuk Gen Z seharusnya berbicara soal adaptasi, pembelajaran, dan keberanian buat gagal demi akhirnya menemukan jalan sendiri.

Kenapa Banyak Gen Z Gagal, dan Bagaimana Menghindarinya?

Beberapa halangan yang sering bikin langkah berhenti di tengah jalan antara lain:

1. Insecure dan takut kelihatan gagal.
Sering merasa “Siapa sih gue?” atau “Nanti kalau gagal gimana?” Padahal, gagal justru tiket menuju paham strategi yang lebih matang. Yang penting bukan terlihat sempurna, tapi berani belajar dan memperbaiki.

2. Terjebak perbandingan sosial.
Scrolling tanpa henti lihat pencapaian orang lain bisa bikin mental drop. Rahasianya? Fokus ke layar sendiri, bukan hidup orang. Dunia digital bikin semua terlihat mudah, padahal kenyataan di balik layar penuh proses.

3. Kurang konsisten.
Baru jalan dua minggu, terus hilang mood atau ganti ide. Konsistensi itu otot—semakin dilatih, semakin kuat. Yang penting gas terus meski progres pelan.

4. Terlalu cari validasi.
Nunggu support dari banyak orang atau nunggu semua setuju? Bisa-bisa tidak mulai-mulai. Kadang cukup percaya diri sendiri dulu, baru pembuktian menyusul.

5. Mau hasil cepat.
Bisnis itu maraton, bukan sprint. Yang bertahan lama biasanya yang sabar ngerintis dari bawah.

Yang perlu diingat, Gen Z punya kekuatan unik: melek digital, kreatif, dan cepat baca tren. Modal sosial dan akses pengetahuan sudah di tangan. Tinggal keberanian buat melangkah, gagal, bangkit lagi, dan terus jalan. Jalan panjang ini bukan buat yang paling jenius, tapi buat yang paling tahan dan mau belajar.

Jadi, kalau ingin memulai Bisnis Untuk Gen Z, jangan terjebak insecure atau pikiran negatif yang belum tentu benar. Mulai dari kecil, evaluasi rutin, perkuat mental, dan jangan malu terus belajar. Makin sering latihan, makin tebal mentalnya, makin besar peluang sukses. Dunia luas, peluang banyak, tinggal siapa yang siap serius menjalaninya.

Ingat, setiap pengusaha hebat pernah jadi pemula. Dan setiap langkah kecil hari ini bisa jadi masa depan besar nanti. Gas pelan-pelan, yang penting tidak berhenti.

Masa Berlaku Berakhir, OJK Ingin Hapus Piutang Macet Tetap Jalan demi Pemulihan UMKM

0

Dorongan pemerintah untuk memperpanjang kebijakan hapus piutang macet bagi pelaku UMKM kembali mencuat ke permukaan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai aturan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2024 masih diperlukan demi menjaga akses permodalan bagi pelaku usaha kecil. Kebijakan hapus piutang macet ini dinilai menjadi instrumen pemulihan ekonomi yang efektif, terutama bagi debitur yang pernah tercatat bermasalah dan ingin kembali produktif.

Saat ini, ketentuan dalam PP tersebut sebenarnya sudah berakhir masa berlakunya pada 5 Mei 2025. Namun, OJK menilai banyak pelaku usaha yang masih membutuhkan ruang pemulihan. “Kami sudah sampaikan kepada pemerintah, peninjauannya agar bisa diperpanjang dan dilakukan penyesuaian sehingga langkah yang ditempuh oleh bank lebih efektif,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar di Jakarta, Kamis.

Mahendra menilai kebijakan itu terbukti mendukung geliat usaha di sektor riil, meski pertumbuhan UMKM dan industri tercatat belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi. Menurutnya, memberikan kesempatan bagi debitur yang sempat gagal melunasi pinjaman akan membantu perputaran modal kembali berjalan di akar ekonomi nasional.

Efektivitas Kebijakan dan Tantangan Perbankan

Lebih jauh, Mahendra menuturkan bahwa meskipun sinyal pemulihan mulai terasa, beberapa bank masih menghadapi hambatan dalam menyalurkan pembiayaan. Khususnya bank-bank milik negara di bawah Himbara dan sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD). “Ini yang perlu dipulihkan, antara lain melalui hapus buku dan hapus tagih bagi mereka yang masih ada dalam catatan di perbankan terkait,” ujarnya.

Sebelumnya, OJK juga menyoroti keluhan calon debitur KPR bersubsidi FLPP yang disebut terhambat aksesnya akibat catatan di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Namun, setelah ditelusuri, ditemukan bahwa jumlah kasus yang benar-benar disebabkan SLIK tergolong kecil. Artinya, hambatan kredit tidak hanya terkait sistem pencatatan, namun juga faktor teknis lain dalam proses penyaluran.

Meski demikian, sikap OJK tetap konsisten mendukung perpanjangan beleid penghapusan nilai kredit bermasalah tersebut. Mahendra menegaskan bahwa PP 47/2024 telah memberi efek positif terhadap pembukaan akses perbankan, terutama bagi pelaku usaha yang ingin bangkit dan kembali memiliki rekam jejak kredit sehat. Dengan kebijakan hapus piutang macet dan mekanisme hapus buku serta hapus tagih, debitur yang sebelumnya tercatat dalam daftar hitam SLIK bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperoleh pembiayaan.

Suntikan Rp200 Triliun ke Bank Himbara, Menkeu: Saatnya Bangun Ekspektasi Positif di Pasar Keuangan

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pentingnya upaya kolektif untuk Bangun Ekspektasi Positif di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut. Ia menyebut langkah strategis pemerintah dalam menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun ke Bank Himbara sebagai upaya memperkuat kepercayaan pasar dan mendorong optimisme pelaku ekonomi.

“Ketika masyarakat dan pelaku usaha percaya bahwa ekonomi akan tumbuh baik, maka bisnis akan berani berekspansi dan konsumen akan lebih yakin untuk berbelanja. Jadi waktu saya umumkan Rp200 triliun itu, bukan untuk pamer, tapi untuk Bangun Ekspektasi Positif di tengah situasi yang menantang,” kata Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025 di Jakarta, Selasa (28/10).

Ia menambahkan, kebijakan tersebut harus diterapkan dengan hati-hati dan tepat sasaran. Pemerintah memastikan penyaluran dana melalui sistem perbankan dilakukan dengan aturan ketat agar tidak menimbulkan gangguan pada pasar valuta asing atau terpusat pada kelompok usaha besar tertentu.

“Kami sudah meminta kepada bank penerima dana agar tidak menyalurkannya ke konglomerat dan melarang pembelian dolar dari dana itu, karena bisa melemahkan nilai rupiah,” tegas Menkeu.

Dorong Likuiditas untuk Sektor Produktif

Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan mencampuri proses penyaluran kredit oleh perbankan. Ia percaya bank memiliki kemampuan menilai risiko dan menentukan sektor produktif yang layak menerima pembiayaan.

Selain itu, Menkeu juga mengimbau Bank Sentral agar tidak menarik kembali dana tersebut ke sistem moneter. Langkah ini dimaksudkan agar likuiditas yang disuntikkan benar-benar mengalir ke sektor riil dan memberi dampak langsung bagi kegiatan ekonomi.

Dengan kebijakan tersebut, diharapkan terjadi kompetisi sehat antarbank dalam menyalurkan kredit ke proyek-proyek produktif. Persaingan ini akan mendorong penurunan suku bunga pinjaman dan bunga deposito, sehingga masyarakat lebih terdorong untuk berinvestasi dan membelanjakan uangnya ketimbang menabung semata.

“Kalau likuiditas bergerak di sektor riil, maka efek gandanya akan terasa. Produksi naik, konsumsi ikut tumbuh, dan ini memperkuat kepercayaan pasar. Itulah esensi dari Bangun Ekspektasi Positif,” jelasnya.

Purbaya juga menuturkan, tanda-tanda keberhasilan kebijakan tersebut mulai terlihat. Setelah pengumuman program ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dikhawatirkan melemah justru menunjukkan penguatan signifikan.

“Pelaku pasar itu cermat membaca sinyal kebijakan. Mereka menilai langkah pemerintah bukan hanya sebagai stimulus keuangan, tapi juga sinyal kepercayaan diri terhadap ekonomi nasional,” pungkasnya.

Heboh Motor Mogok Massal Usai Isi Pertalite, Pemerintah Lakukan Uji Kualitas BBM

Fenomena motor mogok massal di sejumlah wilayah Jawa Timur membuat pemerintah turun tangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan telah mengirim tim khusus untuk memverifikasi laporan masyarakat yang mengeluhkan mesin motor mereka mendadak brebet atau mati setelah mengisi bahan bakar jenis Pertalite.

“Saya sudah turunkan tim untuk mengecek langsung di lapangan. Nanti sore saya harap sudah dapat laporan hasil awalnya,” ujar Bahlil saat ditemui di Minahasa, Sulawesi Utara, Rabu (29/10).

Tim investigasi tersebut berasal dari Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), yang kini tengah menelusuri kemungkinan adanya masalah pada distribusi atau kualitas bahan bakar. “Lemigas sedang melakukan verifikasi fakta di lapangan, saya minta laporan secepatnya agar publik mendapat penjelasan yang pasti,” tambahnya.

Warga Jawa Timur Keluhkan BBM Pertalite

Selama sepekan terakhir, keluhan serupa muncul di berbagai daerah seperti Bojonegoro, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Banyak pengguna motor mengaku kendaraan mereka tiba-tiba brebet, tersendat, hingga mogok tak lama setelah mengisi bahan bakar di SPBU tertentu. Fenomena motor mogok massal ini memicu kekhawatiran publik terkait mutu Pertalite serta efektivitas pengawasan distribusi BBM bersubsidi.

Pertamina pun bergerak cepat dengan menurunkan tim investigasi dan membuka posko pengaduan masyarakat. Selain itu, pengambilan sampel BBM di sejumlah SPBU dilakukan untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi atau penurunan kualitas bahan bakar.

Beberapa pengamat otomotif menduga penyebabnya bisa berkaitan dengan kadar oktan yang tidak sesuai standar atau adanya campuran air dalam tangki bahan bakar. Namun hingga kini, belum ada hasil uji laboratorium resmi yang menyimpulkan adanya anomali pada Pertalite.

DPR Desak Pertamina Bertindak Transparan

Menanggapi fenomena motor mogok massal tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Nurdin Halid meminta Pertamina Patra Niaga untuk memperkuat sistem pengawasan dan memastikan mutu bahan bakar tetap terjaga. Ia juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada publik agar kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina tidak menurun.

“Fenomena ini bukan hanya soal teknis kendaraan, tapi menyangkut kepercayaan publik terhadap energi nasional. Pertamina harus membuka hasil laboratorium secara transparan dan mengambil tindakan cepat di lapangan,” tegas Nurdin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/10).

Nurdin juga meminta agar pemerintah memperketat kontrol distribusi BBM bersubsidi agar kejadian serupa tidak meluas. Menurutnya, keterbukaan data dan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci dalam menjaga kualitas dan keandalan bahan bakar nasional.

Perangi Rokok Ilegal di Banyuwangi, Bea Cukai Amankan 118 Ribu Batang Tanpa Cukai

0

Upaya pemberantasan Rokok Ilegal di Banyuwangi kembali menunjukkan hasil konkret. Kolaborasi antara Bea Cukai Banyuwangi, Kepolisian Sektor (Polsek) Rogojampi, dan Kejaksaan Negeri Banyuwangi berhasil menuntaskan penyidikan kasus tindak pidana cukai yang kini resmi dinyatakan lengkap atau P-21 oleh pihak kejaksaan.

Kasus ini bermula dari laporan polisi nomor LP/A/3/IX/2025 yang diterbitkan Polsek Rogojampi pada 2 September 2025. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa petugas menangkap seorang pria berinisial AT (38) di Jalan Dusun Bades, Kelurahan Karang Bendo, Kecamatan Rogojampi. Pelaku kedapatan menjual dan menyimpan rokok tanpa pita cukai — sebuah pelanggaran yang kerap menjadi perhatian serius dalam penanganan Rokok Ilegal di Banyuwangi.

Setelah penangkapan, tim gabungan Bea Cukai dan Polsek Rogojampi segera melakukan penggeledahan serta pemeriksaan lebih lanjut terhadap tersangka. Dari hasil penyidikan diketahui bahwa AT merupakan residivis kasus serupa yang pernah diproses pada tahun 2020. Ia mengaku mendapatkan pasokan rokok ilegal dari seseorang berinisial J asal Madura, yang kini telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Barang Bukti dan Potensi Kerugian Negara

Dalam operasi tersebut, petugas berhasil menyita 118.400 batang rokok tanpa pita cukai. Nilai barang tersebut diperkirakan mencapai Rp178 juta dengan potensi kerugian negara sebesar Rp89,6 juta. Berdasarkan hasil penyidikan, AT dijerat Pasal 54 dan/atau Pasal 56 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. Ancaman hukumannya berupa pidana penjara antara satu hingga lima tahun dan/atau denda dua hingga sepuluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayarkan.

Kepala Kantor Bea Cukai Banyuwangi, Latif Helmi, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti nyata dari kerja sama lintas lembaga. “Keberhasilan ini adalah hasil sinergi antara Bea Cukai, Kepolisian, dan Kejaksaan, serta dukungan masyarakat yang aktif melaporkan adanya pelanggaran,” ujarnya.

Edukasi Publik dan Komitmen Penegakan Hukum

Latif juga menambahkan bahwa pemberantasan Rokok Ilegal di Banyuwangi tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga lewat upaya edukatif. Bea Cukai rutin mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku usaha agar memahami pentingnya membeli produk tembakau legal yang telah membayar cukai sesuai ketentuan.

“Kami mengajak masyarakat untuk tidak tergoda harga murah rokok ilegal. Setiap batang rokok tanpa pita cukai berarti kerugian bagi negara dan mengancam industri hasil tembakau yang sah,” jelasnya.

Pihak Bea Cukai Banyuwangi juga membuka kanal pelaporan bagi masyarakat yang menemukan aktivitas mencurigakan terkait peredaran rokok ilegal. Melalui kerja sama antara aparat penegak hukum dan masyarakat, diharapkan peredaran Rokok Ilegal di Banyuwangi dapat terus ditekan sehingga iklim ekonomi daerah semakin sehat dan kompetitif.

Borobudur Tampilkan “PENTAS Ngangeni” sebagai Atraksi Destinasi Prioritas

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus memperkuat posisi Borobudur sebagai salah satu Atraksi Destinasi Prioritas dengan menghadirkan gelaran budaya bertajuk “PENTAS Borobudur: Ngangeni”. Acara ini merupakan langkah strategis dalam mengembangkan atraksi pariwisata berbasis budaya dan tradisi lokal, sejalan dengan visi besar pemerintah untuk menjadikan Borobudur sebagai pusat pariwisata budaya berkelas dunia.

Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menjelaskan bahwa PENTAS Borobudur: Ngangeni merupakan bagian dari program berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem pariwisata nasional. Melalui kegiatan ini, Kemenpar ingin menunjukkan bahwa pelestarian seni dan budaya lokal dapat menjadi motor penggerak industri pariwisata di daerah.

“Pentas ini adalah bentuk apresiasi bagi para pelaku seni dan budaya yang selama ini menjadi bagian penting dari pembangunan pariwisata berkelanjutan,” kata Vinsensius di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Acara PENTAS Borobudur: Ngangeni akan berlangsung pada 31 Oktober 2025 di Amphitheater Museum dan Kampung Seni Borobudur, Magelang. Acara ini dijadwalkan berlangsung dari pukul 16.00 hingga 22.00 WIB dan terbuka gratis untuk masyarakat umum.

Perpaduan Seni Tradisi dan Kreativitas Modern

Sebagai bagian dari pengembangan Atraksi Destinasi Prioritas, pertunjukan ini menampilkan kolaborasi lintas generasi antara musisi dan seniman lokal. Di antara nama yang akan tampil ialah Aftershine, Ngatmombilung, serta Sekar Rimba Nusantara. Tak ketinggalan, sejumlah sanggar seni lokal seperti Sanggar Erlangga Koperasi Medang Kamulan dan Sanggar Museum Kampung Seni Borobudur juga akan menampilkan karya terbaik mereka.

Menurut Vinsensius, pemilihan Kampung Seni Borobudur sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Wilayah ini tengah berkembang menjadi destinasi wisata budaya baru yang mampu memperkenalkan wajah lain Borobudur di luar keindahan Candi. Tema “Ngangeni” dipilih sebagai simbol dari rasa rindu dan kehangatan budaya lokal yang selalu menarik untuk kembali dinikmati oleh wisatawan.

“Melalui acara ini, kami ingin membuka ruang bagi para seniman untuk mengekspresikan kreativitasnya, sekaligus mengajak wisatawan merasakan keakraban masyarakat Borobudur melalui budaya dan musiknya,” ujar Vinsensius.

Kemenpar berharap penyelenggaraan PENTAS Borobudur: Ngangeni tidak hanya menjadi hiburan semata, melainkan juga memperkuat identitas budaya Borobudur sebagai destinasi unggulan Indonesia. Ke depan, acara serupa akan menjadi bagian dari strategi pengembangan Atraksi Destinasi Prioritas yang berfokus pada pengalaman wisata autentik, berkelanjutan, dan berakar pada kearifan lokal.

Dukung Ekonomi Rakyat, Pemerintah Bahas Solusi Pemutihan BI Checking Nasabah KPR

0

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengusulkan adanya kebijakan pemutihan BI Checking Nasabah KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang ingin mengikuti program perumahan subsidi. Langkah ini dinilai penting agar masyarakat yang sebelumnya terkendala catatan kredit tetap memiliki kesempatan untuk memiliki rumah layak huni.

Dalam kegiatan Sosialisasi Kredit Program Perumahan dan Penguatan Ekosistem Perumahan di Karawang, Maruarar mengungkapkan bahwa banyak masyarakat yang tidak bisa memanfaatkan program perumahan subsidi karena terkendala riwayat BI checking atau kini dikenal sebagai SLIK OJK. Menurutnya, persoalan ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah agar program perumahan benar-benar berpihak pada masyarakat kecil.

“Saya sering menerima keluhan dari masyarakat yang gagal mengajukan kredit rumah karena masalah BI checking. Padahal mereka sudah sangat ingin punya rumah lewat program subsidi,” ujar Maruarar, dikutip dari Antara, Selasa (28/10).

Maruarar menilai, pertimbangan pemutihan BI Checking Nasabah KPR bisa menjadi solusi bagi warga yang sebelumnya pernah mengalami tunggakan namun kini sudah dalam kondisi finansial yang lebih baik. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk melonggarkan aturan keuangan, melainkan memberikan kesempatan kedua bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Banyak Warga Belum Punya Rumah Layak

Dalam kesempatan tersebut, Maruarar juga menyoroti kondisi perumahan di Kabupaten Karawang yang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Berdasarkan laporan pemerintah daerah, tercatat sekitar 38 ribu keluarga belum memiliki rumah tetap. Namun, menurut Maruarar, jumlah sebenarnya bisa lebih besar jika termasuk keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni.

“Masih banyak masyarakat yang hidup di rumah tidak layak atau menumpang di tempat saudara. Karena itu, program subsidi perumahan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.

Usulan pemutihan BI Checking Nasabah KPR tersebut mendapat dukungan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia menilai bahwa program perumahan bukan hanya sekadar membantu masyarakat memiliki rumah, tetapi juga dapat menggerakkan perekonomian daerah.

“Pembangunan rumah subsidi memiliki efek berantai yang besar. Mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor,” ujar Dedi.

Senada dengan itu, Bupati Karawang Aep Syaepuloh juga menilai perlunya perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang masuk daftar hitam BI checking. Banyak di antara mereka yang sebenarnya mampu membayar cicilan namun terhalang riwayat kredit masa lalu.

“Warga sering mengeluh karena namanya masih tercatat dalam BI checking, padahal mereka sudah siap memenuhi kewajiban KPR,” kata Aep.

Strategi Baru Industrialisasi Nasional, Langkah Kemenperin Wujudkan Kemandirian Ekonomi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan arah baru pembangunan industri melalui peluncuran Strategi Baru Industrialisasi Nasional sebagai langkah strategis menuju visi Indonesia Emas 2045. Kebijakan ini menjadi panduan utama pemerintah dalam memperkuat sektor industri sebagai pilar utama kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut Strategi Baru Industrialisasi Nasional merupakan kerangka besar yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga menjawab tantangan global yang terus berubah. Mulai dari pandemi COVID-19, perang dagang, hingga pergeseran menuju energi hijau, semuanya mendorong pemerintah untuk menyiapkan arah baru industrialisasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

“Strategi Baru Industrialisasi Nasional bukan hanya program sektoral Kemenperin, melainkan kebijakan nasional agar industri Indonesia dapat tumbuh, berdaulat, dan mandiri,” ujar Agus Gumiwang saat membuka Rapat Kerja Kemenperin 2025 di Jakarta, Senin (27/10).

Empat Pilar Utama Industrialisasi Nasional

Dalam paparan resminya, Agus menjelaskan bahwa strategi ini merupakan cetak biru pembangunan industri pasca pandemi dan pasca karbon. Ada empat pilar utama yang menjadi landasan Strategi Baru Industrialisasi Nasional, yakni:

  1. Industrialisasi berbasis sumber daya alam,

  2. Pengembangan ekosistem industri,

  3. Penguasaan teknologi, dan

  4. Penerapan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Melalui pendekatan berbasis sumber daya alam, Kemenperin ingin memastikan bahwa komoditas unggulan seperti nikel, kelapa sawit, dan batu bara tidak lagi hanya diekspor mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok nasional sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.

Selain itu, pembangunan ekosistem industri akan dilakukan dengan memperkuat keterpaduan sektor hulu dan hilir, disertai peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta infrastruktur pendukung industri.

“Dua pilar lainnya, yaitu penguasaan teknologi dan keberlanjutan, menjadi kunci utama agar industri kita tak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan. Industrialisasi sejati harus seimbang antara kemajuan ekonomi dan kelestarian alam,” jelas Agus.

Perlindungan Pasar Domestik dan Ekspansi Global

Menperin menekankan bahwa perlindungan terhadap pasar domestik menjadi prioritas dalam implementasi Strategi Baru Industrialisasi Nasional. Saat ini, sekitar 80 persen produk industri Indonesia diserap oleh pasar dalam negeri, sehingga menjaga stabilitasnya menjadi hal vital.

Untuk itu, pemerintah akan memperkuat kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar belanja pemerintah berpihak pada produk lokal. Di sisi lain, instrumen tarif dan non-tarif juga akan dimanfaatkan untuk mengendalikan arus impor tanpa menutup peluang kompetisi sehat.

Sementara itu, ekspansi industri nasional ke pasar global tetap menjadi fokus. Kemenperin akan memperluas pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional melalui diplomasi industri yang lebih aktif. Produk unggulan seperti kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) akan menjadi prioritas ekspor karena Indonesia memiliki cadangan bahan baku nikel terbesar di dunia.

Kebijakan ini juga didukung dengan peningkatan investasi di sektor industri bernilai tambah tinggi, seperti mineral strategis, kimia dasar, farmasi, pangan, dan komponen elektronik. Setiap investasi diharapkan mampu menciptakan efek berganda — mulai dari peningkatan produktivitas hingga penyerapan tenaga kerja berkualitas.

Agus menegaskan, “Strategi Baru Industrialisasi Nasional adalah tonggak penting menuju Indonesia yang mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan.”

Alternatif Investasi Selain Emas? Ini Alasan Kripto Mulai Dilirik Investor

Selama bertahun-tahun, emas dikenal sebagai aset paling aman untuk melindungi nilai kekayaan. Namun, seiring perkembangan teknologi dan dunia finansial digital, muncul pertanyaan baru di kalangan investor: apakah kripto bisa menjadi alternatif investasi selain emas?

Pertanyaan ini makin relevan di era sekarang, ketika banyak anak muda dan investor modern mulai melirik aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum sebagai bagian dari portofolio mereka. Kedua aset ini dianggap punya potensi pertumbuhan tinggi, meski risikonya juga tak kecil. Tapi, benarkah kripto bisa berjalan berdampingan dengan emas dalam dunia investasi jangka panjang?

Sebagai alternatif investasi selain emas, aset kripto memang memiliki daya tarik tersendiri. Nilainya bisa melonjak signifikan dalam waktu singkat, berbeda dengan emas yang cenderung stabil dan naik perlahan. Namun di balik potensi itu, volatilitas harga kripto juga bisa membuat investor kehilangan sebagian besar modalnya dalam waktu singkat jika tidak berhati-hati.

Emas: Stabilitas dan Keamanan Nilai

Sebelum membandingkan, penting untuk memahami karakter emas terlebih dahulu. Emas dikenal sebagai aset safe haven — artinya, nilainya cenderung stabil bahkan saat ekonomi global sedang goyah. Hal ini karena emas memiliki nilai intrinsik yang diakui di seluruh dunia dan sudah digunakan sebagai penyimpan kekayaan selama ribuan tahun.

Keunggulan utama emas adalah sifatnya yang tahan inflasi. Ketika nilai mata uang melemah, harga emas biasanya justru naik. Inilah sebabnya banyak orang memilih emas sebagai pelindung nilai atau “asuransi kekayaan.” Namun, kekurangannya adalah pertumbuhan nilainya relatif lambat. Jadi, meskipun aman, emas bukan pilihan ideal untuk mereka yang mengincar keuntungan besar dalam waktu singkat.

Kripto: Potensi Besar tapi Penuh Risiko

Berbeda dengan emas, aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum bersifat digital dan tidak memiliki bentuk fisik. Nilainya ditentukan oleh permintaan pasar serta faktor kepercayaan terhadap teknologi blockchain yang mendasarinya. Dalam beberapa tahun terakhir, aset kripto mengalami lonjakan nilai yang luar biasa, menarik banyak investor baru dari berbagai kalangan.

Namun, di sisi lain, volatilitas kripto juga sangat tinggi. Harga bisa naik 20% dalam sehari, tapi juga bisa turun 30% keesokan harinya. Inilah yang membuat banyak analis menyebut kripto sebagai aset spekulatif, bukan sepenuhnya investasi konvensional.

Meski begitu, banyak ahli keuangan menilai bahwa kripto punya potensi untuk menjadi alternatif investasi selain emas, asalkan porsinya diatur dengan bijak. Misalnya, tidak lebih dari 10–15% dari total portofolio investasi. Tujuannya agar risiko kerugian besar bisa ditekan, namun peluang pertumbuhan tetap terbuka.

Kombinasi yang Saling Melengkapi

Sebenarnya, tidak perlu memilih salah satu antara emas atau kripto. Justru keduanya bisa saling melengkapi dalam strategi diversifikasi investasi. Emas bisa menjadi penyeimbang yang stabil, sementara kripto menawarkan peluang pertumbuhan tinggi.

Dengan mengombinasikan keduanya, kamu bisa mendapatkan keseimbangan antara keamanan dan potensi keuntungan. Saat pasar global sedang tidak menentu, emas dapat menjaga nilai portofolio. Tapi ketika pasar mulai pulih dan adopsi digital meningkat, kripto bisa memberi dorongan pertumbuhan yang signifikan.

Strategi ini sudah mulai banyak diterapkan oleh investor modern, terutama generasi muda yang paham teknologi tapi tetap ingin bermain aman. Mereka tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga berupaya membangun portofolio jangka panjang yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.