Rabu, Mei 6, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 50

IoT untuk UMKM: Bikin Produksi Lebih Cepat, Akurat, dan Efisien

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi industri, penerapan IoT untuk UMKM kini menjadi topik yang semakin banyak dibicarakan. Namun, kenyataannya masih banyak pelaku usaha di Indonesia yang belum memanfaatkan potensi ini. Banyak UMKM yang masih mengandalkan cara kerja manual, mulai dari pencatatan produksi hingga kontrol stok, padahal sistem digital dan otomasi berbasis IoT bisa membuat semuanya jauh lebih efisien.

Hal ini disampaikan langsung oleh Hartawan Sudiharjo, Founder sekaligus Owner MiraSwift, dalam sebuah Podcast seputar otomasi dan penerapan teknologi Internet of Things (IoT) di dunia industri dan UMKM. Menurutnya, tantangan utama digitalisasi bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada mindset pelaku usaha. Banyak yang masih beranggapan bahwa teknologi seperti IoT terlalu rumit, mahal, atau sulit diterapkan dalam skala keci. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Mindset UMKM yang Masih Takut Teknologi, Gimana Cara Mengatasinya?

Hartawan menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM belum menyadari pentingnya digitalisasi. Mereka baru mau beralih ke sistem otomatis saat sudah menghadapi masalah besar.

“Banyak UMKM berpikir digitalisasi itu mahal dan ribet. Padahal, mereka sering kali sudah keluar uang lebih banyak karena sistem manual yang tidak efisien,” ungkapnya.

Masalahnya, lanjut Hartawan, banyak pemilik bisnis belum menghitung dampak dari kesalahan SDM. Mereka menganggap kerugian akibat human error itu hanya soal uang kecil, padahal bisa merusak kepercayaan pelanggan dan citra brand. Dari sinilah lahir gagasan awal berdirinya MiraSwift, perusahaan teknologi yang fokus pada solusi otomasi industri dan IoT untuk UMKM dan Bisnis di berbagai skala.

MiraSwift berdiri dari keprihatinan kami terhadap keterbatasan SDM di lapangan. Banyak proses industri di Indonesia masih mengandalkan tenaga manual, dengan hasil yang tidak konsisten dan sulit dikontrol.

“Kami ingin membantu pelaku usaha menghadapi tantangan SDM yang kurang teliti atau mudah lupa. Dengan sistem otomasi, hasil produksi bisa lebih stabil, efisien, dan mudah dikontrol,” jelasnya.

MiraSwift hadir untuk menjembatani kebutuhan itu. Agar teknologi tidak lagi dianggap momok, tapi jadi alat bantu yang benar-benar bisa meningkatkan produktivitas tanpa menyingkirkan peran manusia.

Kenapa Penerapan Iot untuk UMKM Masih dianggap Sebagai Teknologi yang Mahal?

Hartawan menyebut, banyak pelaku usaha kecil yang salah kaprah soal biaya investasi teknologi. Mereka bisa membeli mobil atau rumah, tapi saat diajak investasi Rp10–20 juta untuk sistem digital, langsung menilai itu terlalu mahal.

“Padahal, kalau dihitung, nilai itu kecil dibandingkan aset bisnis mereka. Justru dengan investasi di otomasi, output bisa naik dua sampai tiga kali lipat,” tegasnya.

Menurutnya, anggapan bahwa teknologi mahal muncul karena mereka terbiasa menggantikan sistem dengan tenaga manusia murah. Padahal, sistem otomatis bukan hanya soal mengganti pekerjaan manusia, tetapi tentang meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan akurasi kerja.

Selain otomasi, MiraSwift juga mengembangkan teknologi Internet of Things (IoT). Bagi banyak orang awam, istilah IoT mungkin terdengar rumit. Tapi Hartawan menjelaskan konsep ini secara sederhana:

“Intinya, IoT itu cara untuk memantau dan mengontrol proses kerja dari jarak jauh secara real-time. Jadi bukan cuma lihat CCTV, tapi juga tahu datanya: apakah timbangannya pas, apakah prosesnya sesuai standar.”

Dengan sistem berbasis IoT, pengusaha tak perlu menunggu laporan harian untuk tahu kondisi produksi. Hanya dalam 1–2 menit, sistem bisa memberi notifikasi jika ada anomali atau potensi kesalahan. Semua data terekam dan bisa dianalisis kapan pun.

Teknologi ini terbukti sangat membantu, terutama bagi pemilik usaha yang tidak selalu berada di lokasi produksi. Mereka bisa memantau kinerja tim dan kualitas hasil kerja dari mana saja, cukup lewat dashboard digital.

IoT Bukan Ancaman, Tapi Alat Bantu yang Cerdas!

Salah satu kekhawatiran umum di kalangan pekerja adalah anggapan bahwa otomasi dan IoT akan menggantikan manusia. Namun Hartawan menegaskan hal itu keliru.

“IoT itu bukan pengganti manusia, tapi alat bantu. Justru dengan teknologi ini, karyawan bisa bekerja lebih efisien dan produktif. Yang digantikan itu bukan orangnya, tapi cara kerja lamanya,” katanya.

Menurutnya, otomasi adalah bentuk evolusi cara kerja, bukan revolusi yang menghapus peran manusia. Mesin memang bisa menghitung lebih cepat, tapi kreativitas, pengambilan keputusan, dan pengendalian tetap harus dilakukan oleh manusia.

Saatnya UMKM Naik Kelas Lewat Teknologi dan Otomasi!

Kami menilai, masih banyak UMKM yang tidak tahu harus mulai dari mana untuk melakukan digitalisasi. Mereka sering kali bergantung pada “lingkaran sosial” seperti kenalan atau teknisi lokal, tanpa mencari pembanding. Padahal, kini informasi teknologi sudah mudah diakses lewat media sosial.

Ia juga mengajak para pelaku usaha bergabung dengan asosiasi atau komunitas bisnis agar bisa saling berbagi pengalaman dan belajar dari sesama pengusaha yang sudah lebih maju.

“Begitu mereka melihat contoh nyata bahwa teknologi bisa meningkatkan hasil dua atau tiga kali lipat, biasanya baru sadar pentingnya otomasi,” jelasnya.

Menutup pembicaraan, Hartawan menyampaikan pesan yang kuat untuk para pelaku bisnis di Indonesia: sudah saatnya berhenti mengandalkan cara lama dan mulai beradaptasi dengan teknologi.

“Kita ini tidak boleh lagi memperlakukan manusia sebagai mesin. Gunakan teknologi untuk memanusiakan manusia. Dengan IoT, dengan otomasi, kita bisa bantu karyawan bekerja lebih profesional dan produktif.”

Penerapan IoT untuk UMKM kini bukan lagi cuma jadi pilihan, tapi langkah nyata agar bisnis bisa bertahan di tengah persaingan. Teknologi ini membantu pelaku usaha bekerja lebih efisien, meminimalkan kesalahan manusia, dan memantau aktivitas bisnis secara real-time tanpa harus hadir di lokasi.

Seperti yang disampaikan Hartawan Sudiharjo, Founder sekaligus Owner MiraSwift, otomasi dan IoT justru hadir untuk mendukung manusia bekerja lebih cerdas, bukan menggantikannya. Dengan penerapan yang tepat, UMKM dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas kerja, dan melangkah lebih percaya diri menuju era industri digital.

Pemerintah Pastikan Program SPHP Aktif Sepanjang Tahun, Petani dan Konsumen Sama-Sama Diuntungkan

0

Program SPHP atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan terus menjadi andalan pemerintah dalam menjaga kestabilan harga beras di seluruh Indonesia. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Program SPHP akan dijalankan secara konsisten sepanjang tahun dengan pendekatan yang terukur dan adaptif, menyesuaikan kebutuhan di tiap daerah agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Menurut Amran, Program SPHP tidak boleh terhenti karena berperan penting sebagai instrumen pengendali harga sekaligus pengaman pasokan pangan nasional. “Program SPHP akan terus berjalan, tidak boleh berhenti. Kami jalankan sepanjang tahun dengan perencanaan matang dan pengawasan ketat. Pola distribusinya disesuaikan dengan kondisi tiap wilayah agar tepat sasaran,” ujar Amran dalam keterangan pers di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian Serpong, Tangerang, Banten, Senin (3/11/2025).

Ia menjelaskan, kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk menyeimbangkan pasokan dari hulu ke hilir. Saat wilayah produsen tengah memasuki masa panen raya, SPHP akan difokuskan ke daerah nonprodusen seperti kota besar dan wilayah pegunungan yang pasokan lokalnya terbatas.

Distribusi Terukur dan Perlindungan Harga Petani

“Strateginya jelas, ketika puncak panen berlangsung di Maret, April, dan Mei, maka SPHP akan diarahkan ke daerah-daerah nonprodusen. Dengan begitu, harga bisa tetap stabil di semua daerah tanpa merugikan petani,” papar Amran.

Ia menambahkan, sistem distribusi beras SPHP ini dikawal dengan pemantauan harga harian yang dilakukan Bapanas bersama lembaga terkait. Melalui kolaborasi lintas instansi, data ketersediaan dan pergerakan harga beras dapat dipantau secara real time, sehingga keputusan penyaluran SPHP bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.

Selain menjaga stabilitas di tingkat konsumen, SPHP juga menjadi instrumen penting dalam melindungi petani. Dengan distribusi yang diatur berdasarkan musim tanam dan panen, pemerintah berupaya mencegah jatuhnya harga gabah di tingkat petani saat panen raya.

“Kita harus menjaga keseimbangan dua sisi, petani tetap mendapatkan harga yang layak, sementara konsumen tidak terbebani harga tinggi. Fungsi SPHP adalah menjaga stabilitas nasional agar semua pihak diuntungkan,” tegas Amran.

Program SPHP Didukung Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional

Keberhasilan Program SPHP tak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya swasembada pangan. Menurut Amran, produksi beras nasional tahun ini naik signifikan, mencapai 13,54 persen menjadi 34,77 juta ton, sementara stok nasional kini menembus 3,8 juta ton.

Dengan cadangan yang kuat dan program stabilisasi yang aktif di lapangan, pemerintah optimistis ketahanan pangan Indonesia semakin kokoh. “Kita punya produksi yang meningkat, stok yang cukup, dan SPHP yang bekerja efektif di lapangan,” pungkas Amran dengan nada optimis.

Daya Saing Ekonomi Indonesia Menguat, Pertumbuhan Perekonomian Capai 5,04 Persen

Pertumbuhan perekonomian Indonesia kembali menunjukkan ketangguhan di tengah gejolak ekonomi dunia. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan III 2025 tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut menegaskan bahwa arah pertumbuhan perekonomian nasional masih konsisten dengan target tahunan sebesar 5,2 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian ini menjadi bukti kuatnya fondasi ekonomi Indonesia. “Pertumbuhan sebesar 5,04 persen pada triwulan III mencerminkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Faktor utama pendorongnya adalah konsumsi rumah tangga yang stabil, investasi yang terus meningkat, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang efektif,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).

Airlangga menambahkan, pemerintah akan terus menjaga momentum tersebut dengan memperkuat sektor produktif, mempercepat belanja negara, serta memperluas perlindungan sosial untuk menopang daya beli masyarakat.

Sektor Industri dan Wilayah Jadi Penopang Utama

Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat sektor jasa pendidikan mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini. Aktivitas pendidikan yang meningkat di awal tahun ajaran baru serta naiknya belanja pendidikan masyarakat menjadi faktor utama. Selain itu, sektor jasa perusahaan juga tumbuh positif, didorong oleh meningkatnya aktivitas penyewaan dan jasa tenaga kerja.

Secara kontribusi terhadap PDB, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung utama perekonomian dengan porsi 19,15 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 14,25 persen dan pertanian 13,19 persen.

Dari sisi wilayah, Pulau Jawa mencatat pertumbuhan 5,17 persen dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional, yakni mencapai 56,68 persen. Pertumbuhan tertinggi dicatat Pulau Sulawesi sebesar 5,84 persen, didorong oleh peningkatan industri pengolahan sumber daya alam. Sumatera tumbuh 4,90 persen, Kalimantan 4,70 persen, dan Maluku-Papua 2,64 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomian semakin merata di berbagai daerah.

Konsumsi dan Investasi Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pendorong ekonomi dengan pertumbuhan 4,89 persen (yoy). Kenaikan ini ditopang oleh stimulus pemerintah dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Investasi juga menunjukkan peningkatan signifikan, dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hingga triwulan III 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun, naik 13,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Indeks PMI Manufaktur pada Oktober 2025 berada di level ekspansif 51,2, menandakan adanya peluang percepatan ekonomi pada triwulan berikutnya. Stabilitas harga pun terjaga, dengan inflasi Oktober tercatat 2,86 persen (yoy), masih dalam target 2,5±1 persen.

Kondisi eksternal pun tetap solid dengan cadangan devisa mencapai USD148,7 miliar dan rasio utang luar negeri pada level aman. Pemerintah juga melanjutkan kebijakan kontrasiklikal untuk menjaga momentum pertumbuhan perekonomian, termasuk percepatan realisasi belanja negara di triwulan IV serta perluasan program perlindungan sosial bagi lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat.

Selain itu, pemerintah mempercepat proyek hilirisasi industri, termasuk penyelesaian Pabrik Petrokimia Terintegrasi PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon senilai USD4 miliar yang dijadwalkan diresmikan pada 6 November 2025. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat struktur industri nasional serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor manufaktur.

Selain Investasi, Ini Cara Menyimpan Aset Biar Tetap Aman & Terkendali

Banyak orang fokus pada investasi sebagai strategi membangun kekayaan, tapi pertanyaannya: selain menanam modal, adakah cara menyimpan aset yang bisa menjaga nilai dan tetap aman? Topik cara menyimpan aset belakangan makin sering dibahas, apalagi ketika ekonomi penuh gejolak. Tidak semua orang merasa nyaman dengan instrumen investasi berisiko tinggi. Ada juga yang ingin punya aset yang lebih stabil dan mudah dilindungi untuk jangka panjang. Karena itu, memahami berbagai cara menyimpan aset yang tepat jadi strategi penting bagi siapa pun yang merencanakan keamanan finansial jangka panjang.

Di luar investasi, banyak pilihan yang sebenarnya bisa dipertimbangkan. Bahkan, sebagian orang lebih suka metode alternatif karena dinilai stabil, minim risiko, dan memberi ketenangan. Ketika membicarakan cara menyimpan aset, fokusnya bukan hanya soal menambah kekayaan, tapi menjaga apa yang sudah dimiliki dari inflasi, krisis, atau kesalahan pengelolaan.

Sebelum masuk ke strategi yang bisa dilakukan, pahami dulu bahwa tidak semua bentuk penyimpanan punya tujuan yang sama. Ada yang khusus menjaga nilai, ada yang mengutamakan likuiditas, dan ada yang untuk perlindungan hukum jangka panjang.

Jenis Cara Menyimpan Aset Selain Investasi

1. Emas Fisik

Emas sejak dulu jadi pilihan favorit untuk menyimpan kekayaan. Bukan untuk trading cepat, tapi sebagai pelindung nilai jangka panjang. Cocok disimpan dalam bentuk logam mulia bersertifikat. Untuk keamanan ekstra, bisa menggunakan safe deposit box di bank.

2. Deposito dan Tabungan Berjangka

Instrumen ini memberikan bunga lebih rendah dibanding investasi agresif, tapi tingkat keamanan lebih tinggi. Dana dijamin LPS hingga batas tertentu. Cocok untuk yang mengutamakan ketenangan dan stabilitas.

3. Aset Fisik Bernilai

Selain emas, bentuk aset fisik lain seperti koleksi seni, logam mulia lain (perak, platinum), hingga barang koleksi bernilai tinggi bisa jadi penyimpan nilai. Namun perlu riset agar tidak salah beli atau tertipu barang palsu.

4. Struktur Legal Perlindungan Aset

Untuk yang punya aset signifikan, perencanaan hukum seperti wasiat, trust, atau perwalian bisa menjaga kekayaan dari sengketa atau pembagian yang tidak terkontrol. Ini bukan hanya menyimpan, tapi melindungi secara legal.

5. Asuransi sebagai Pelindung Nilai

Asuransi bukan investasi, tapi berfungsi menjaga aset agar tidak tergerus akibat situasi tak terduga. Mulai dari kesehatan, properti, hingga jiwa. Banyak keluarga menempatkan asuransi sebagai benteng pertama finansial mereka.

Perencanaan finansial yang baik bukan hanya soal memperbesar pundi-pundi uang, tetapi juga memastikan apa yang sudah dimiliki tetap aman. Dengan kombinasi strategi yang tepat, pengelolaan kekayaan bisa lebih tenang, terjaga, dan siap menghadapi kondisi ekonomi apa pun.

Kesimpulannya, ada banyak cara menyimpan aset selain berinvestasi langsung. Pilihannya fleksibel dan bisa disesuaikan dengan profil risiko dan preferensi pribadi. Yang terpenting adalah konsisten, memahami tujuan finansial, dan tidak terburu-buru mengejar hasil besar tanpa strategi perlindungan yang kuat.

Jumlah Pengangguran Turun, BPS Tegaskan Perbaikan Merata di Kota dan Desa

0

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis perkembangan terbaru terkait situasi ketenagakerjaan nasional pada Agustus 2025. Lembaga statistik negara ini mencatat, jumlah pengangguran turun dibanding periode yang sama setahun sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar kerja, meski sejumlah indikator lain masih menunjukkan tantangan yang perlu diperhatikan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa total pengangguran pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang atau sekitar 4,85 persen dari total angkatan kerja. Angka itu mencerminkan penurunan jumlah pengangguran turun sebanyak 4.092 orang dibanding Agustus 2024.

“Proporsi pekerja penuh dan tingkat setengah pengangguran juga ikut bergerak turun. Ini menunjukkan perbaikan dalam kualitas penyerapan tenaga kerja,” kata Edy saat menyampaikan rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, penurunan tingkat pengangguran terbuka tidak hanya terjadi di kawasan perkotaan, tetapi juga di wilayah perdesaan. Penurunan ini bersifat merata pada penduduk laki-laki maupun perempuan.

Perkembangan Angkatan Kerja dan Kualitas Pekerjaan

BPS mencatat, penduduk usia kerja di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 218,17 juta jiwa, naik sekitar 2,80 juta orang dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah itu, sebanyak 154 juta orang masuk dalam kategori angkatan kerja—bertambah 1,89 juta orang secara tahunan.

Sementara itu, jumlah yang termasuk bukan angkatan kerja mencapai 64,17 juta orang, meningkat 0,91 juta orang. Dari total angkatan kerja, sebanyak 146,54 juta orang tercatat bekerja. Angka ini naik sekitar 1,90 juta orang dibanding Agustus 2024.

Rincian tenaga kerja menunjukkan gambaran menarik. Pekerja penuh mencapai 98,65 juta orang, bertambah sekitar 200 ribu orang. Pekerja paruh waktu melonjak lebih signifikan, menjadi 36,29 juta orang atau naik sekitar 1,66 juta orang. Adapun setengah pengangguran berjumlah 11,60 juta orang, atau naik tipis sekitar 40 ribu orang.

Meski jumlah pengangguran turun, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) justru mengalami sedikit penyesuaian. TPAK Agustus 2025 berada di angka 70,59 persen, turun tipis dibanding Agustus 2024 yang sebesar 70,63 persen. Secara gender, TPAK laki-laki masih jauh lebih tinggi dibanding perempuan, masing-masing 84,40 persen dan 56,63 persen.

Kolaborasi dengan EVOS, Pemerintah Siapkan Akselerasi Talenta dan Game Lokal

Rencana Kolaborasi dengan EVOS Esports mendapat sambutan hangat dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf). Inisiatif ini tidak hanya dibidik untuk memperkuat posisi atlet esports Indonesia di tingkat global, tetapi juga untuk mempercepat pertumbuhan pengembang gim lokal dan memperluas ekosistem esports tanah air agar lebih kompetitif.

Menteri Ekraf/Kepala Badan Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan optimismenya ketika menerima langsung perwakilan manajemen EVOS Esports di Autograph Tower, Jakarta, Senin (3/11/2025). Ia menilai EVOS, sebagai salah satu organisasi esports paling berpengaruh di Indonesia, punya rekam jejak kuat dalam membina talenta dan mencetak prestasi internasional.

“EVOS telah membuktikan kapasitasnya setelah berkali-kali mengharumkan nama Indonesia di turnamen global. Sinergi ini akan menjadi momentum penting untuk melahirkan regenerasi atlet dan memperkuat ekosistem esports yang makin sehat,” tutur Teuku Riefky.

Kementerian Ekraf saat ini memprioritaskan tujuh subsektor kreatif, termasuk gim dan aplikasi. Menurut Teuku Riefky, pengembangan sektor gim tak hanya soal mendukung atlet esports, tetapi juga mendorong lahirnya lebih banyak game developer lokal sehingga industri dapat tumbuh lebih berkelanjutan.

“Kita tidak hanya mengawal prestasi atlet, tapi juga membuka jalan bagi gim buatan anak bangsa agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar global. Targetnya jelas: membuka lapangan kerja baru, meningkatkan ekspor, dan menarik investasi,” ujarnya.

Kolaborasi Kreatif Menuju Pentas Dunia

Dalam pertemuan tersebut, EVOS Esports memaparkan rencana awal kerja sama yang mencakup proyek produksi konten seperti film pendek dan video dokumenter. Konten itu akan menyoroti perjalanan EVOS hingga memenangkan sejumlah kompetisi besar, termasuk pencapaian historis di kejuaraan dunia Free Fire di Arab Saudi tahun ini.

“Kami berharap Kolaborasi dengan EVOS tidak hanya berfokus pada prestasi atlet, tapi juga membuka peluang untuk menggandeng gim lokal dalam berbagai inisiatif,” kata Aufa Bassam, Head of Esports EVOS. Ia menegaskan bahwa kolaborasi ini bisa menjadi pintu untuk banyak proyek kreatif ke depan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri esports global.

EVOS Esports, yang berdiri sejak 2016, kini memiliki sembilan divisi gim populer mulai dari Free Fire, Mobile Legends, hingga Call of Duty. Organisasi ini juga mengembangkan fasilitas pelatihan terpadu (Integrated Training Facility) di One Belpark Mall sebagai pusat pembinaan atlet profesional.

Salah satu skuad andalan EVOS, yaitu EVOS DIVINE, baru saja menambah daftar prestasi untuk Indonesia. Tim ini menjadi juara Free Fire Esports World Cup 2025, menambah sederet trofi internasional yang telah diraih sejak 2019.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata potensi industri esports Indonesia. Dengan dukungan pemerintah dan sektor kreatif, Kolaborasi dengan EVOS diharapkan mampu membuka babak baru kemajuan industri gim serta memberi ruang lebih luas bagi talenta lokal untuk unjuk gigi di panggung dunia.

Wajib Tahu! 6 Jurusan Kuliah ini Diprediksi Banyak Dibutuhkan di Masa Depan!

Berbicara soal masa depan, pilihan Jurusan Kuliah Masa Depan sering kali menentukan arah karier dan kesempatan hidup seseorang. Banyak calon mahasiswa mulai mengarahkan pandangan ke bidang-bidang yang punya prospek cerah, terutama yang berhubungan dengan teknologi dan transformasi digital. Tren industri bergerak cepat, dan kebutuhan tenaga profesional di sektor ini terus meningkat.

Tidak heran jika topik Jurusan Kuliah Masa Depan semakin ramai dibicarakan di sekolah, keluarga, hingga forum bisnis. Bahkan, perusahaan teknologi global ikut membentuk tren pilihan jurusan kuliah lewat inovasi dan perkembangan pasar digital. Pilihan jurusan tepat bisa menjadi fondasi yang mengantar seseorang memasuki dunia profesional dengan percaya diri, sekaligus selangkah lebih siap menghadapi persaingan masa depan.

Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, tapi fondasi utama ekonomi global. Hampir semua industri bergerak ke arah digitalisasi; mulai dari bisnis, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, sampai industri kreatif. Dalam situasi ini, Jurusan Kuliah Masa Depan menjadi kompas penting bagi siapa pun yang ingin menapaki karier solid dan relevan dalam beberapa dekade mendatang.

Teknologi kecerdasan buatan, otomatisasi, hingga ekonomi data membuka peluang besar bagi talenta yang kompeten. Bahkan, kebutuhan akan talenta teknologi di banyak negara sudah melampaui jumlah lulusan yang tersedia. Artinya, siapa pun yang memilih jurusan tepat dan menguasai skill relevan punya kesempatan besar untuk menjadi pemimpin perubahan.

Rekomendasi Jurusan Kuliah yang Dibutuhkan di Masa Depan

Beberapa jurusan yang saat ini menjadi incaran karena prospeknya yang sangat menjanjikan antara lain:

1. Teknik Informatika & Ilmu Komputer
Fondasi dari berbagai inovasi digital—mulai dari software, aplikasi, sampai sistem otomasi industri. Jurusan ini selalu jadi pilihan utama bagi yang ingin terjun ke dunia teknologi.

2. Data Science & Statistik Modern
Era big data menciptakan kebutuhan besar untuk analis dan ilmuwan data yang mampu mengolah, membaca, dan menerjemahkan data menjadi keputusan strategis.

3. Cybersecurity
Keamanan digital naik level menjadi kebutuhan prioritas. Perusahaan, lembaga keuangan, bahkan organisasi pemerintah berlomba mencari ahli keamanan siber untuk melindungi data dan sistem.

4. Teknologi Kecerdasan Buatan & Robotika
AI dan robotika tidak lagi sebatas konsep futuristik. Dari pabrik otomotif sampai layanan customer service otomatis, teknologi ini terus berkembang pesat.

5. Bisnis Digital & Manajemen Inovasi
Banyak bisnis tradisional beralih ke model digital. Jurusan bisnis yang fokus pada digital marketing, startup, dan inovasi kini sangat relevan di dunia kerja.

6. Teknik Biomedis
Gabungan teknologi dan kesehatan yang semakin berkembang pesat, apalagi setelah era digitalisasi alat kesehatan dan telemedicine.

Intinya, masa depan bukan lagi sekadar soal bekerja keras, tapi bekerja cerdas dengan bekal pengetahuan dan pilihan jurusan yang tepat. Dunia terus berubah, dan teknologi menjadi poros utama perubahan tersebut. Memilih jurusan berbasis teknologi membuka jalan menuju karier stabil, penuh peluang, dan selalu relevan mengikuti perkembangan zaman.

Kalau sekarang sedang berada fase memilih jalur pendidikan, tidak ada salahnya melirik jurusan yang berbasis digital, analitik, dan teknologi. Bukan hanya soal mengikuti tren, tapi tentang mempersiapkan masa depan yang penuh kesempatan. Dunia bergerak cepat—yang siap belajar dan beradaptasi, itulah yang akan memimpin.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Melejit, Ekspor ke China dan AS Mendominasi

0

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia kembali menunjukkan performa solid sepanjang Januari hingga September 2025. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, Indonesia mencatat surplus perdagangan barang sebesar US$33,48 miliar, meningkat sekitar US$11,30 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Catatan positif ini membuat surplus berlangsung selama 65 bulan tanpa jeda sejak Mei 2020, menandai daya tahan sektor perdagangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Angka tersebut ditopang performa kuat sektor nonmigas yang mencatat surplus US$47,20 miliar, sementara komoditas migas masih mencatat defisit US$13,71 miliar. Kondisi ini kembali mempertegas betapa besar peran ekspor nonmigas dalam menopang Surplus Neraca Perdagangan Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan ekspor Indonesia dalam periode tersebut tumbuh 8,14 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong lonjakan signifikan pada industri pengolahan yang menyumbang US$167,85 miliar, atau naik 17,02 persen. “Kinerja sektor pengolahan memperlihatkan kekuatan struktur industri nasional dan potensi ekspor bernilai tambah,” ujar Pudji dalam pemaparannya di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tercatat sebagai mitra dagang utama dengan kontribusi kolektif 41,81 persen dari total ekspor nonmigas. Besi dan baja, produk nikel, serta bahan bakar mineral menjadi komoditas andalan untuk pasar Tiongkok, sementara pasar Amerika Serikat banyak menyerap produk tekstil, alas kaki, serta perlengkapan elektrik.

Impor Tumbuh Moderat, Dorong Kegiatan Produksi

Pada sisi impor, Indonesia membukukan peningkatan sebesar 2,62 persen menjadi US$176,32 miliar. Kenaikan tertinggi terjadi pada barang modal yang tumbuh 19,13 persen menjadi US$35,90 miliar, menandakan optimisme pelaku usaha dalam memperluas kapasitas produksi. Impor nonmigas mendominasi dengan nilai US$152,58 miliar, sedangkan impor migas justru turun lebih dari 11 persen.

Tiongkok juga menjadi pemasok impor terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$62,07 miliar, diikuti Jepang dan Amerika Serikat. Mesin, peralatan elektrik, dan komponen kendaraan menjadi barang impor utama dari negara tersebut.

Menurut BPS, Surplus Neraca Perdagangan Indonesia terutama ditopang oleh lima komoditas unggulan: minyak sawit dan turunannya, bahan bakar mineral, besi dan baja, produk nikel, serta logam mulia.

Inflasi Oktober Terkendali

Di sisi harga konsumen, BPS mencatat inflasi bulanan 0,28 persen pada Oktober 2025, dengan inflasi tahunan berada di level 2,86 persen, masih dalam zona stabil. Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,21 persen, sementara sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai rawit, dan tomat justru menahan laju inflasi dengan kontribusi deflasi.

Dengan tren ekspor yang terus menguat dan inflasi yang relatif stabil, pemerintah optimistis kinerja perdagangan dan daya beli domestik tetap terjaga. Keberlanjutan Surplus Neraca Perdagangan Indonesia pun dipandang menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional pada tahun mendatang.

Kenapa Thrifting Dilarang di Indonesia? Ini Dampak Ekonomi dan Nasib Pecinta Thrift

Thrifting makin populer beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan anak muda yang suka gaya unik tanpa harus keluar banyak uang. Tapi ketika muncul kabar bahwa thrifting dilarang di Indonesia, banyak yang bingung dan protes. Aktivitas berburu pakaian bekas impor yang dulu dianggap tren ramah kantong, kini bertemu aturan ketat pemerintah. Wajar kalau muncul pertanyaan: kalau thrifting dilarang di Indonesia, lalu bagaimana nasib para pecinta thrift dan pelaku bisnisnya? Dan sebenarnya apa sih alasan ekonomi di balik pelarangan ini?

Kalau diperhatikan, isu thrifting dilarang di Indonesia bukan cuma soal pakaian bekas. Di baliknya ada dampak pasar tekstil lokal, UMKM fesyen, sampai kesehatan dan rantai distribusi ilegal yang disorot pemerintah. Jadi, mari bahas lebih dalam agar gambaran besarnya makin jelas.

Banyak yang selama ini menganggap thrifting itu sekadar kegiatan hemat uang dan mencari barang vintage, tapi dari sudut pandang kebijakan ekonomi negara, konteksnya jauh lebih luas.

Dampak Ekonomi dan Alasan Kenapa Thrifting Dilarang

Pertama, masuknya pakaian bekas impor dinilai bisa “menggerus” pasar industri tekstil lokal. Indonesia punya ekosistem produksi pakaian yang besar, mulai dari pabrik tekstil, penjahit rumahan, hingga brand lokal kreatif yang lagi berkembang pesat. Kalau pasar dipenuhi barang bekas impor yang harganya sangat murah, pelaku industri dalam negeri bisa kehilangan daya saing. Pada akhirnya, ini memengaruhi lapangan kerja dan keberlangsungan sektor industri kreatif dan manufaktur tekstil nasional.

Kedua, ada alasan kesehatan. Pakaian bekas impor sering lewat jalur tidak resmi sehingga proses sanitasi dan kebersihan tidak bisa dijamin. Pemerintah menilai ada risiko penularan jamur kulit, bakteri, atau virus dari barang yang tidak melalui proses sterilisasi standar.

Ketiga, ada unsur ilegalitas dalam rantai distribusinya. Banyak barang thrifting masuk tanpa bea masuk resmi. Ini menyulitkan pengawasan, mengurangi pendapatan negara dari pajak, dan berpotensi menciptakan jaringan penyelundupan.

Dari sisi kebijakan, negara berusaha melindungi industri dan memastikan regulasi perdagangan berjalan rapi. Jadi pelarangan ini bukan semata mematikan kreativitas, tetapi lebih ke pengaturan ekosistem pasar agar adil bagi semua pelaku usaha.

Lalu Bagaimana Nasib Pecinta Thrifting dan Pelaku Usahanya?

Meski aturan makin ketat, bukan berarti tren thrifting akan hilang begitu saja. Selera anak muda terhadap fesyen unik tidak otomatis lenyap hanya karena regulasi berubah. Yang berubah adalah cara mendapatkan barangnya.

Ada peluang baru yang bisa jadi jalan keluar:

  • Thrifting lokal: Barang preloved dari dalam negeri, baik dari individu maupun thrift store lokal, tetap legal selama tidak melibatkan impor ilegal. Ini bisa melahirkan ekosistem preloved lokal yang lebih sehat.

  • Kurasi brand pre-loved premium: Banyak konsumen mulai tertarik item branded second-hand yang terjamin keasliannya. Peluang reseller dan kurator fashion tetap terbuka.

  • Brand lokal sustainable fashion: Banyak desainer lokal mulai memakai bahan daur ulang dan konsep slow fashion. Momen ini bisa jadi kebangkitan industri berbasis keberlanjutan.

  • Jasa restyle & upcycle pakaian: Kreator muda bisa mengubah pakaian lama jadi produk baru yang lebih stylish. Ini bisa jadi tren keren sekaligus ramah lingkungan.

  • Market online preloved pribadi: Platform jual-beli barang bekas tetap aman karena merupakan transaksi personal, bukan impor massal.

Pecinta thrifting sebenarnya tetap punya ruang berekspresi lewat preloved lokal. Bahkan budaya recycle fashion bisa semakin berkembang kalau diarahkan dengan benar.

Tren fesyen global juga memperlihatkan arah yang sama. Banyak negara mulai mendorong sustainable wardrobe dan slow fashion. Jadi perubahan ini bukan akhir, melainkan transformasi budaya beli.

Bagi para penikmat thrifting, tetap bisa tampil stylish, hemat, dan peduli lingkungan tanpa melanggar aturan. Dan bagi pelaku usaha, ini momentum untuk berinovasi, bukan berhenti.

Mode boleh berubah, gaya akan selalu punya ruang. Yang penting fleksibel, kreatif, dan siap baca arah tren.

Kalau kamu sendiri tim thrift lokal, sustainable fashion, atau masih galau dengan perubahan ini? Bisa jadi, nanti akan muncul tren thrift versi Indonesia yang lebih keren dan legal. Siapa tahu kamu termasuk pionirnya.

Ingin Masa Pensiun Bebas Stres? Begini Strategi Investasi Untuk Masa Tua

Banyak orang mulai sadar pentingnya merencanakan masa depan sejak dini. Ketika usia produktif masih panjang, biasanya energi masih melimpah dan pikiran fokus pada membangun karier atau bisnis. Namun pelan-pelan muncul pertanyaan: nanti ketika usia tak lagi muda, mau hidup seperti apa? Di sinilah Investasi Untuk Masa Tua jadi pondasi penting. Banyak yang ingin masa pensiun tenang, tetap punya pemasukan, dan hidup tanpa tekanan. Tidak sedikit pula yang bermimpi bisa nyantai traveling, menikmati kebun kecil, atau menghabiskan waktu dengan keluarga. Karena itu memilih Investasi Untuk Masa Tua harus tepat dan sesuai karakter, bukan sekadar ikut tren. Dengan strategi yang matang, Investasi Untuk Masa Tua bisa jadi tiket menikmati hidup tanpa harus khawatir finansial.

Investasi bukan cuma urusan menambah uang, tapi juga soal memastikan gaya hidup tetap terjaga. Soal risiko, toleransi tiap orang berbeda. Ada yang nyaman ambil risiko tinggi karena waktu masih panjang. Ada juga yang lebih suka stabil meski keuntungan tidak terlalu besar. Yang jelas, masa tua bukan lagi waktu untuk berjudi dengan uang.

Pilihan Investasi yang Cocok untuk Masa Tua

Sebelum mencari instrumen, tentukan dulu tujuan dan jangka waktu. Kalau kamu masih muda, peluang bertumbuh lebih besar karena waktu ada di pihakmu. Tapi kalau sudah mendekati usia pensiun, fokus utama biasanya keamanan dana dan stabilitas pemasukan.

Beberapa pilihan investasi yang bisa dipertimbangkan untuk masa tua adalah reksa dana pendapatan tetap, obligasi pemerintah, deposito berjangka, hingga properti sewaan. Instrumen-instrumen ini punya tingkat risiko lebih rendah dan memberikan aliran dana yang relatif stabil. Cocok untuk yang ingin tetap punya passive income tanpa memikirkan fluktuasi harga harian.

Selain itu, asuransi pensiun atau dana pensiun swasta juga bisa menjadi pilihan. Meski tidak sefleksibel instrumen berbasis pasar modal, produknya dirancang untuk memberi manfaat jangka panjang. Ini cocok untuk kamu yang ingin sistem otomatis dan lebih disiplin, apalagi jika tidak punya waktu mengatur portofolio.

Properti juga masih menarik bagi banyak orang. Rumah kos, kontrakan, atau ruko bisa jadi sumber uang rutin. Tapi pastikan lokasi dan manajemennya jelas. Jangan sampai justru jadi beban karena butuh renovasi besar atau sulit disewakan. Pertimbangkan pula aset digital seperti obligasi ritel yang kini bisa dibeli lewat aplikasi resmi pemerintah.

Gaya Hidup Keuangan yang Siap Menyambut Pensiun Nyaman

Perencanaan masa depan tidak berhenti pada memilih instrumen. Penting juga membangun kebiasaan finansial yang sehat. Catat pemasukan dan pengeluaran, sisihkan dana darurat, dan hindari utang yang tidak produktif. Tujuannya sederhana: saat memasuki masa pensiun, kondisi keuangan sudah rapi dan tidak penuh beban.

Selain investasi, siapkan juga sumber penghasilan pasif lain. Industri digital membuka peluang besar untuk menciptakan aset yang bisa menghasilkan uang tanpa harus hadir setiap saat. Misalnya e-book, konten digital, penjualan karya, atau kursus online. Kombinasi aset keuangan dan aset digital bisa jadi strategi cerdas menikmati hari tua dengan tenang.

Dan jangan lupakan kesehatan. Tidak ada gunanya tabungan besar kalau fisik tidak terjaga. Mulai biasakan olahraga ringan, perbaiki pola tidur, dan perhatikan makanan. Masa tua yang bahagia bukan hanya soal uang, tapi juga soal tubuh yang tetap bugar.