Di tengah pesatnya perkembangan teknologi industri, penerapan IoT untuk UMKM kini menjadi topik yang semakin banyak dibicarakan. Namun, kenyataannya masih banyak pelaku usaha di Indonesia yang belum memanfaatkan potensi ini. Banyak UMKM yang masih mengandalkan cara kerja manual, mulai dari pencatatan produksi hingga kontrol stok, padahal sistem digital dan otomasi berbasis IoT bisa membuat semuanya jauh lebih efisien.
Hal ini disampaikan langsung oleh Hartawan Sudiharjo, Founder sekaligus Owner MiraSwift, dalam sebuah Podcast seputar otomasi dan penerapan teknologi Internet of Things (IoT) di dunia industri dan UMKM. Menurutnya, tantangan utama digitalisasi bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada mindset pelaku usaha. Banyak yang masih beranggapan bahwa teknologi seperti IoT terlalu rumit, mahal, atau sulit diterapkan dalam skala keci. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Mindset UMKM yang Masih Takut Teknologi, Gimana Cara Mengatasinya?
Hartawan menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM belum menyadari pentingnya digitalisasi. Mereka baru mau beralih ke sistem otomatis saat sudah menghadapi masalah besar.
“Banyak UMKM berpikir digitalisasi itu mahal dan ribet. Padahal, mereka sering kali sudah keluar uang lebih banyak karena sistem manual yang tidak efisien,” ungkapnya.
Masalahnya, lanjut Hartawan, banyak pemilik bisnis belum menghitung dampak dari kesalahan SDM. Mereka menganggap kerugian akibat human error itu hanya soal uang kecil, padahal bisa merusak kepercayaan pelanggan dan citra brand. Dari sinilah lahir gagasan awal berdirinya MiraSwift, perusahaan teknologi yang fokus pada solusi otomasi industri dan IoT untuk UMKM dan Bisnis di berbagai skala.
MiraSwift berdiri dari keprihatinan kami terhadap keterbatasan SDM di lapangan. Banyak proses industri di Indonesia masih mengandalkan tenaga manual, dengan hasil yang tidak konsisten dan sulit dikontrol.
“Kami ingin membantu pelaku usaha menghadapi tantangan SDM yang kurang teliti atau mudah lupa. Dengan sistem otomasi, hasil produksi bisa lebih stabil, efisien, dan mudah dikontrol,” jelasnya.
MiraSwift hadir untuk menjembatani kebutuhan itu. Agar teknologi tidak lagi dianggap momok, tapi jadi alat bantu yang benar-benar bisa meningkatkan produktivitas tanpa menyingkirkan peran manusia.
Kenapa Penerapan Iot untuk UMKM Masih dianggap Sebagai Teknologi yang Mahal?
Hartawan menyebut, banyak pelaku usaha kecil yang salah kaprah soal biaya investasi teknologi. Mereka bisa membeli mobil atau rumah, tapi saat diajak investasi Rp10–20 juta untuk sistem digital, langsung menilai itu terlalu mahal.
“Padahal, kalau dihitung, nilai itu kecil dibandingkan aset bisnis mereka. Justru dengan investasi di otomasi, output bisa naik dua sampai tiga kali lipat,” tegasnya.
Menurutnya, anggapan bahwa teknologi mahal muncul karena mereka terbiasa menggantikan sistem dengan tenaga manusia murah. Padahal, sistem otomatis bukan hanya soal mengganti pekerjaan manusia, tetapi tentang meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan akurasi kerja.
Selain otomasi, MiraSwift juga mengembangkan teknologi Internet of Things (IoT). Bagi banyak orang awam, istilah IoT mungkin terdengar rumit. Tapi Hartawan menjelaskan konsep ini secara sederhana:
“Intinya, IoT itu cara untuk memantau dan mengontrol proses kerja dari jarak jauh secara real-time. Jadi bukan cuma lihat CCTV, tapi juga tahu datanya: apakah timbangannya pas, apakah prosesnya sesuai standar.”
Dengan sistem berbasis IoT, pengusaha tak perlu menunggu laporan harian untuk tahu kondisi produksi. Hanya dalam 1–2 menit, sistem bisa memberi notifikasi jika ada anomali atau potensi kesalahan. Semua data terekam dan bisa dianalisis kapan pun.
Teknologi ini terbukti sangat membantu, terutama bagi pemilik usaha yang tidak selalu berada di lokasi produksi. Mereka bisa memantau kinerja tim dan kualitas hasil kerja dari mana saja, cukup lewat dashboard digital.
IoT Bukan Ancaman, Tapi Alat Bantu yang Cerdas!
Salah satu kekhawatiran umum di kalangan pekerja adalah anggapan bahwa otomasi dan IoT akan menggantikan manusia. Namun Hartawan menegaskan hal itu keliru.
“IoT itu bukan pengganti manusia, tapi alat bantu. Justru dengan teknologi ini, karyawan bisa bekerja lebih efisien dan produktif. Yang digantikan itu bukan orangnya, tapi cara kerja lamanya,” katanya.
Menurutnya, otomasi adalah bentuk evolusi cara kerja, bukan revolusi yang menghapus peran manusia. Mesin memang bisa menghitung lebih cepat, tapi kreativitas, pengambilan keputusan, dan pengendalian tetap harus dilakukan oleh manusia.
Saatnya UMKM Naik Kelas Lewat Teknologi dan Otomasi!
Kami menilai, masih banyak UMKM yang tidak tahu harus mulai dari mana untuk melakukan digitalisasi. Mereka sering kali bergantung pada “lingkaran sosial” seperti kenalan atau teknisi lokal, tanpa mencari pembanding. Padahal, kini informasi teknologi sudah mudah diakses lewat media sosial.
Ia juga mengajak para pelaku usaha bergabung dengan asosiasi atau komunitas bisnis agar bisa saling berbagi pengalaman dan belajar dari sesama pengusaha yang sudah lebih maju.
“Begitu mereka melihat contoh nyata bahwa teknologi bisa meningkatkan hasil dua atau tiga kali lipat, biasanya baru sadar pentingnya otomasi,” jelasnya.
Menutup pembicaraan, Hartawan menyampaikan pesan yang kuat untuk para pelaku bisnis di Indonesia: sudah saatnya berhenti mengandalkan cara lama dan mulai beradaptasi dengan teknologi.
“Kita ini tidak boleh lagi memperlakukan manusia sebagai mesin. Gunakan teknologi untuk memanusiakan manusia. Dengan IoT, dengan otomasi, kita bisa bantu karyawan bekerja lebih profesional dan produktif.”
Penerapan IoT untuk UMKM kini bukan lagi cuma jadi pilihan, tapi langkah nyata agar bisnis bisa bertahan di tengah persaingan. Teknologi ini membantu pelaku usaha bekerja lebih efisien, meminimalkan kesalahan manusia, dan memantau aktivitas bisnis secara real-time tanpa harus hadir di lokasi.
Seperti yang disampaikan Hartawan Sudiharjo, Founder sekaligus Owner MiraSwift, otomasi dan IoT justru hadir untuk mendukung manusia bekerja lebih cerdas, bukan menggantikannya. Dengan penerapan yang tepat, UMKM dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas kerja, dan melangkah lebih percaya diri menuju era industri digital.





