Kontribusi Industri Pengolahan Non Migas ke PDB Naik, Bukti Daya Saing Kian Kuat

0
68
Kontribusi Industri Pengolahan Non Migas ke PDB Naik, Bukti Daya Saing Kian Kuat
Kontribusi Industri Pengolahan Non Migas ke PDB Naik, Bukti Daya Saing Kian Kuat (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Kinerja Industri Pengolahan Non Migas kembali menunjukkan performa gemilang dan terus menjadi pilar utama pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa sektor manufaktur berhasil tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan III tahun 2025. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,04 persen (yoy).

“Pertumbuhan industri manufaktur yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan daya saing Industri Pengolahan Non Migas yang semakin kuat, baik di pasar domestik maupun di kancah ekspor,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (5/11).

Kontribusi Manufaktur terhadap PDB Terus Meningkat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan III 2025 mencapai 17,39 persen. Angka ini meningkat 0,47 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 16,92 persen. Dengan capaian ini, Industri Pengolahan Non Migas kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB nasional dibandingkan sektor lainnya.

“Manufaktur bukan hanya menjadi tulang punggung perekonomian nasional, tapi juga sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusinya terhadap PDB mencapai 17,39 persen, dan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,13 persen,” jelas Agus.

PT Mitra Mortar indonesia

Ia menambahkan, kekuatan sektor manufaktur terlihat dari kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menciptakan nilai tambah yang signifikan. Hal ini menjadi bukti bahwa industrialisasi nasional tetap berjalan di jalur yang tepat untuk memperkuat struktur ekonomi berbasis produksi.

Subsektor Unggulan Dorong Kinerja Positif

Pertumbuhan positif tersebut ditopang oleh meningkatnya permintaan pasar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa subsektor bahkan mencatat lonjakan pertumbuhan yang cukup tinggi.

Industri makanan dan minuman tumbuh 6,49 persen, didorong oleh peningkatan produksi Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya. Sementara itu, industri logam dasar mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,62 persen, sejalan dengan naiknya permintaan ekspor untuk besi dan baja.

Subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga mencatat pertumbuhan 11,65 persen, ditopang meningkatnya kebutuhan bahan kimia domestik dan ekspor. Sedangkan industri mesin dan perlengkapan tumbuh 11,74 persen, diikuti subsektor jasa reparasi serta pemasangan mesin dan peralatan yang naik hingga 16,30 persen.

Menperin menegaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Langkah-langkah yang diambil mencakup industrialisasi sumber daya alam, perlindungan pasar domestik dari banjir impor, peningkatan teknologi produksi, serta pengembangan tenaga kerja industri yang berdaya saing tinggi.

“Pertumbuhan yang kuat di berbagai subsektor menunjukkan arah kebijakan industri sudah tepat. Ke depan, kami akan terus memperkuat strategi berbasis produktivitas, inovasi, dan daya saing agar industri nasional semakin tangguh di tengah dinamika global,” tutur Agus.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan