Daya Saing Ekonomi Indonesia Menguat, Pertumbuhan Perekonomian Capai 5,04 Persen

0
144
Daya Saing Ekonomi Indonesia Menguat, Pertumbuhan Perekonomian Capai 5,04 Persen
Perekonomian Indonesia Melesat 5,04 Persen, Sinyal Optimisme Jelang Akhir Tahun (Dok Foto: Ekon)
Pojok Bisnis

Pertumbuhan perekonomian Indonesia kembali menunjukkan ketangguhan di tengah gejolak ekonomi dunia. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan III 2025 tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut menegaskan bahwa arah pertumbuhan perekonomian nasional masih konsisten dengan target tahunan sebesar 5,2 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian ini menjadi bukti kuatnya fondasi ekonomi Indonesia. “Pertumbuhan sebesar 5,04 persen pada triwulan III mencerminkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Faktor utama pendorongnya adalah konsumsi rumah tangga yang stabil, investasi yang terus meningkat, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang efektif,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).

Airlangga menambahkan, pemerintah akan terus menjaga momentum tersebut dengan memperkuat sektor produktif, mempercepat belanja negara, serta memperluas perlindungan sosial untuk menopang daya beli masyarakat.

Sektor Industri dan Wilayah Jadi Penopang Utama

Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat sektor jasa pendidikan mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini. Aktivitas pendidikan yang meningkat di awal tahun ajaran baru serta naiknya belanja pendidikan masyarakat menjadi faktor utama. Selain itu, sektor jasa perusahaan juga tumbuh positif, didorong oleh meningkatnya aktivitas penyewaan dan jasa tenaga kerja.

PT Mitra Mortar indonesia

Secara kontribusi terhadap PDB, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung utama perekonomian dengan porsi 19,15 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 14,25 persen dan pertanian 13,19 persen.

Dari sisi wilayah, Pulau Jawa mencatat pertumbuhan 5,17 persen dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional, yakni mencapai 56,68 persen. Pertumbuhan tertinggi dicatat Pulau Sulawesi sebesar 5,84 persen, didorong oleh peningkatan industri pengolahan sumber daya alam. Sumatera tumbuh 4,90 persen, Kalimantan 4,70 persen, dan Maluku-Papua 2,64 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomian semakin merata di berbagai daerah.

Konsumsi dan Investasi Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pendorong ekonomi dengan pertumbuhan 4,89 persen (yoy). Kenaikan ini ditopang oleh stimulus pemerintah dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Investasi juga menunjukkan peningkatan signifikan, dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hingga triwulan III 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun, naik 13,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Indeks PMI Manufaktur pada Oktober 2025 berada di level ekspansif 51,2, menandakan adanya peluang percepatan ekonomi pada triwulan berikutnya. Stabilitas harga pun terjaga, dengan inflasi Oktober tercatat 2,86 persen (yoy), masih dalam target 2,5±1 persen.

Kondisi eksternal pun tetap solid dengan cadangan devisa mencapai USD148,7 miliar dan rasio utang luar negeri pada level aman. Pemerintah juga melanjutkan kebijakan kontrasiklikal untuk menjaga momentum pertumbuhan perekonomian, termasuk percepatan realisasi belanja negara di triwulan IV serta perluasan program perlindungan sosial bagi lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat.

Selain itu, pemerintah mempercepat proyek hilirisasi industri, termasuk penyelesaian Pabrik Petrokimia Terintegrasi PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon senilai USD4 miliar yang dijadwalkan diresmikan pada 6 November 2025. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat struktur industri nasional serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor manufaktur.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan