Jumat, November 6, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 44

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Ini Deretan Penyebab Rupiah Melamah

0

Isu mengenai Penyebab Rupiah Melamah kembali menjadi perhatian setelah nilai tukar rupiah bergerak melemah di tengah tekanan ekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut belum mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal Hastiadi, menjelaskan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh sentimen eksternal yang sedang melanda pasar keuangan global. Salah satu faktor utama berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yield yang kini berada di kisaran 4,5 hingga 4,6 persen.

Menurut Fithra, kenaikan yield tersebut membuat investor global mulai menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk kembali masuk ke pasar Amerika Serikat. Kondisi itu menjadi salah satu Penyebab Rupiah Melamah dalam beberapa pekan terakhir.

“Spread yield antara obligasi AS dan Indonesia membuat arus modal kembali ke Amerika Serikat. Ini memberi tekanan pada mata uang negara berkembang,” ujar Fithra, Sabtu (23/5/2026).

Ia menilai secara fundamental rupiah sebenarnya masih layak berada di kisaran Rp16.700 per dolar AS. Namun tekanan global membuat kurs sempat bergerak hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar AS.

Selain faktor pasar obligasi, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi Penyebab Rupiah Melamah berikutnya. Kenaikan harga energi menyebabkan kebutuhan impor meningkat sehingga permintaan dolar AS ikut bertambah.

Fithra menyebut tekanan dari kenaikan harga minyak memberikan pengaruh sekitar 180 basis poin terhadap pelemahan rupiah. Di sisi lain, meningkatnya volatilitas pasar global, terutama di bursa saham Amerika Serikat, turut memperbesar tekanan terhadap mata uang domestik.

Faktor Global Jadi Penyebab Tekanan Rupiah yang Terus Melemah

Menurut Fithra, meningkatnya indeks volatilitas global atau VIX menjadi salah satu indikator penting yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ketidakpastian pasar membuat investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS.

Selain itu, laporan dan penilaian dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional terhadap pasar saham dan obligasi juga ikut memengaruhi sentimen investor. Faktor tersebut dinilai menjadi tambahan Penyebab Rupiah Melamah di tengah kondisi pasar global yang belum stabil.

Tekanan musiman juga ikut berperan, salah satunya berasal dari repatriasi dividen investor asing yang biasanya terjadi pada Mei. Saat investor membawa kembali keuntungan ke negara asal, permintaan dolar meningkat dan menekan rupiah.

Tak hanya itu, musim haji juga disebut menjadi salah satu Penyebab Rupiah Melamah karena kebutuhan valuta asing meningkat untuk keperluan perjalanan ibadah.

Meski menghadapi tekanan, pemerintah optimistis rupiah dapat kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu langkah yang disiapkan yakni menjaga stabilitas harga energi, termasuk melalui kerja sama pembelian minyak dari Rusia untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak global.

Isu Deindustrialisasi Dibantah, Motor Ekonomi Nasional Justru Tunjukkan Tren Positif

Sektor manufaktur disebut masih menjadi Motor Ekonomi Nasional di tengah munculnya anggapan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi dini. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan tudingan tersebut tidak sesuai dengan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang justru menunjukkan kontribusi industri pengolahan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan industri pengolahan masih memegang peran penting sebagai penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan catatan BPS, kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan terhadap PDB nasional mengalami kenaikan dari 17,92 persen pada triwulan II-2022 menjadi 19,20 persen pada triwulan I-2026.

Menurut Febri, peningkatan kontribusi tersebut menjadi bukti bahwa sektor manufaktur tetap menjadi Motor Ekonomi Nasional dan tidak sedang mengalami penurunan seperti yang banyak diasumsikan sebagian pihak.

“Kami berulang kali menegaskan bahwa sektor manufaktur Indonesia tidak mengalami deindustrialisasi. Data BPS justru menunjukkan kontribusinya terhadap ekonomi nasional meningkat,” kata Febri dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menilai kesimpulan yang menyebut manufaktur melemah muncul akibat kesalahan membaca data deret waktu PDB industri pengolahan periode 2005 hingga 2025. Banyak pihak disebut tidak memahami adanya perubahan konsep klasifikasi industri dan metode perhitungan PDB yang diterapkan BPS dalam beberapa periode berbeda.

Febri menjelaskan, pada masa sebelumnya terdapat beberapa subsektor yang masih masuk dalam kategori industri pengolahan. Namun sejak 2010, sejumlah subsektor seperti pengelolaan sampah, informasi dan komunikasi, hingga jasa lainnya dipisahkan menjadi sektor tersendiri.

Perubahan Metode PDB Dinilai Picu Salah Persepsi

Perubahan klasifikasi tersebut membuat nilai kontribusi industri pengolahan terlihat menurun secara statistik karena tidak lagi menghitung subsektor yang dipisahkan. Selain itu, metode penghitungan PDB juga berubah dari berbasis harga produsen menjadi harga dasar.

Kondisi inilah yang dinilai memicu kesalahan persepsi terhadap posisi manufaktur sebagai Motor Ekonomi Nasional. Padahal, secara tren terbaru, kontribusi industri pengolahan justru menunjukkan penguatan.

Febri menegaskan data PDB dari periode berbeda tidak bisa dibandingkan secara langsung karena memakai konsep dan metode penghitungan yang tidak sama. Karena itu, ia meminta analisis mengenai deindustrialisasi dilakukan secara lebih hati-hati agar tidak menghasilkan kesimpulan keliru.

Kemenperin optimistis sektor manufaktur tetap akan menjadi Motor Ekonomi Nasional dalam beberapa tahun mendatang, terutama dengan meningkatnya investasi industri dan penguatan hilirisasi di berbagai sektor strategis.

Riset Masalah Pasar Ternyata Bisa Menemukan Ide Bisnis yang Selama Ini Diabaikan Loh!

0

Banyak orang berpikir ide bisnis harus datang dari sesuatu yang besar, canggih, atau benar-benar baru. Padahal kenyataannya, banyak usaha sukses justru lahir dari masalah kecil yang sering dianggap sepele. Karena itu, kemampuan melakukan riset masalah pasar sekarang jadi jauh lebih penting dibanding sekadar mencari ide yang terlihat keren.

Fenomena ini juga sering kami bahas di Berempat, terutama karena pola bisnis modern makin fokus pada solusi praktis untuk kebutuhan sehari-hari. Mulai dari jasa titip makanan, aplikasi pengingat minum air, sampai layanan cuci sepatu, semuanya muncul karena ada masalah kecil yang dirasakan banyak orang.

Menariknya, banyak peluang usaha justru muncul dari hal-hal yang sering bikin orang merasa repot, malas, atau buang waktu. Di sinilah pentingnya memahami cara melakukan riset masalah pasar secara sederhana dari lingkungan sekitar.

Menurut data dari CB Insights, salah satu alasan startup gagal adalah karena membuat produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan pasar. Artinya, ide bisnis yang terlihat menarik belum tentu menyelesaikan masalah nyata.

Karena itu, bisnis yang bertahan biasanya bukan yang paling rumit, tapi yang paling relevan dengan kebutuhan orang sehari-hari.

Ide Bisnis Sering Muncul dari Keluhan yang Dianggap Biasa

Kalau diperhatikan, banyak usaha yang sekarang ramai sebenarnya berangkat dari masalah sederhana.

Contohnya:

  • Orang malas antre makanan, lalu muncul jasa titip atau delivery
  • Banyak pekerja sibuk tidak sempat cuci sepatu, lalu muncul jasa cleaning shoes
  • Orang kesulitan edit video cepat, lalu muncul jasa edit konten instan
  • Banyak UMKM bingung bikin caption jualan, lalu muncul jasa copywriting murah

Hal-hal seperti ini awalnya mungkin terdengar kecil. Tapi ketika masalah dirasakan banyak orang, peluang bisnisnya bisa berkembang besar.

Menurut laporan dari HubSpot, bisnis yang berangkat dari pain point konsumen biasanya lebih mudah membangun loyalitas karena produknya terasa relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Makanya sekarang banyak bisnis sukses justru lahir bukan dari teknologi rumit, tapi dari solusi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Cara Melakukan Riset Masalah Pasar dari Lingkungan Sekitar

Melakukan riset masalah pasar sebenarnya tidak harus selalu memakai survei besar atau data yang rumit. Banyak ide bisa ditemukan hanya dari observasi sehari-hari.

Beberapa cara sederhana yang cukup efektif antara lain:

1. Perhatikan Keluhan yang Sering Diucapkan Orang

Biasanya peluang bisnis muncul dari kalimat seperti:
“Ribet banget.”
“Susah cari yang begini.”
“Kenapa belum ada layanan kayak gini ya?”

Keluhan kecil seperti ini sering jadi petunjuk kebutuhan pasar.

2. Lihat Kebiasaan Orang Mengeluarkan Uang

Kalau orang rela bayar untuk sesuatu, berarti ada masalah yang ingin mereka selesaikan.

Contohnya layanan antar makanan, jasa titip, atau aplikasi pengingat aktivitas harian.

3. Amati Aktivitas yang Menghabiskan Waktu

Semakin sibuk masyarakat sekarang, semakin besar peluang bisnis yang bisa membantu menghemat waktu.

4. Baca Komentar di Media Sosial atau Marketplace

Kolom komentar sering jadi tempat paling jujur untuk melihat masalah konsumen.

Kadang ide bisnis bagus justru muncul dari komplain pelanggan.

5. Cari Aktivitas yang Mulai Jadi Kebiasaan Baru

Pola hidup masyarakat terus berubah. Dari situ biasanya muncul kebutuhan baru yang sebelumnya belum ada.

Seperti yang sering kami bahas di Berempat.com, perubahan kebiasaan kecil masyarakat sering jadi awal munculnya peluang usaha baru.

Masalah Kecil Bisa Jadi Pasar Besar Kalau Dialami Banyak Orang

Banyak orang gagal memulai bisnis karena merasa masalah yang mereka lihat terlalu sederhana. Padahal justru kesederhanaan itu yang membuat peluang lebih dekat dengan pasar.

Menurut data dari Statista, tren convenience economy atau ekonomi berbasis kemudahan terus meningkat karena masyarakat semakin menghargai layanan yang praktis dan menghemat waktu.

Itulah kenapa sekarang banyak bisnis sederhana bisa berkembang cepat. Bukan karena produknya rumit, tapi karena benar-benar membantu kehidupan sehari-hari.

Di era digital seperti sekarang, orang tidak selalu mencari sesuatu yang revolusioner. Kadang mereka hanya ingin solusi yang lebih cepat, lebih praktis, atau lebih nyaman.

Targetkan Rupiah Kembali Normal, Purbaya Optimistis Tembus Rp15.000 per Dolar AS

0

Pemerintah mulai menunjukkan optimisme tinggi untuk Targetkan Rupiah Kembali Normal setelah nilai tukar sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi agar rupiah bisa kembali bergerak ke kisaran Rp15.000 per dolar AS dalam beberapa waktu mendatang.

Purbaya menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor global dan sentimen pasar keuangan internasional. Meski begitu, ia memastikan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang aman dan terkendali.

Dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Purbaya bahkan meminta pelaku pasar yang menyimpan valuta asing untuk mulai melepas kepemilikannya. Ia yakin langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar akan membawa dampak positif terhadap penguatan mata uang domestik.

“Kami optimistis rupiah bisa kembali menguat. Supply dolar ke dalam negeri akan bertambah signifikan mulai Juni,” ujar Purbaya.

Upaya Targetkan Rupiah Kembali Normal dilakukan pemerintah melalui berbagai instrumen, salah satunya kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam yang mulai diwajibkan tersimpan di bank BUMN pada Juni 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pasokan dolar di pasar domestik sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang.

Selain itu, pemerintah juga aktif melakukan intervensi di pasar obligasi negara guna menjaga imbal hasil atau yield surat utang tetap stabil. Langkah ini dilakukan agar investor asing tidak terburu-buru keluar dari pasar keuangan Indonesia akibat tekanan pasar global.

Menurut Purbaya, intervensi tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Meski rupiah sempat melemah, yield obligasi pemerintah justru bergerak turun dalam sepekan terakhir setelah pemerintah masuk membeli surat utang di pasar sekunder.

BI dan Pemerintah Kompak Jaga Stabilitas Rupiah

Langkah Targetkan Rupiah Kembali Normal juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan nilai tukar rupiah akan mulai menguat secara bertahap pada Juli hingga Agustus 2026.

Perry menjelaskan pelemahan rupiah pada April hingga Juni sebenarnya merupakan pola musiman yang kerap terjadi setiap tahun. Karena itu, BI meyakini tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung permanen.

Bank Indonesia juga telah mengambil langkah penyesuaian suku bunga acuan menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi nasional.

Pemerintah dan BI kini terus memperkuat koordinasi agar target stabilisasi nilai tukar bisa tercapai. Strategi Targetkan Rupiah Kembali Normal dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan aktivitas ekonomi nasional tetap bergerak stabil di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Dengan tambahan pasokan devisa dan intervensi pasar yang lebih agresif, pemerintah berharap rupiah bisa kembali bergerak lebih sehat dalam beberapa bulan mendatang.

BI Catat Uang Beredar April 2026 Capai Rp10.253 Triliun

0

Pertumbuhan Uang Beredar di Indonesia masih menunjukkan tren positif pada April 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian dalam arti luas atau M2 mencapai Rp10.253,7 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menandakan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak cukup kuat di tengah berbagai tantangan global yang terus membayangi pasar keuangan internasional. Meski sedikit melambat dibanding Maret 2026 yang tumbuh 9,7 persen, angka tersebut dinilai tetap mencerminkan stabilitas likuiditas nasional.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pertumbuhan Uang Beredar didorong oleh peningkatan uang beredar sempit atau M1 yang tumbuh 13,6 persen secara tahunan serta uang kuasi sebesar 4,7 persen.

Menurut BI, perkembangan likuiditas nasional juga dipengaruhi oleh pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit perbankan yang terus meningkat. Tagihan bersih kepada pemerintah tercatat tumbuh 38,6 persen secara tahunan, meski sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya.

Sementara itu, penyaluran kredit pada April 2026 tumbuh 9,4 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Maret yang berada di level 8,9 persen. Peningkatan penyaluran kredit tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan Uang Beredar di dalam negeri.

BI menjelaskan kredit yang dimaksud hanya mencakup pinjaman langsung atau loans dan tidak memasukkan instrumen lain seperti surat berharga, tagihan repo, maupun kredit dari kantor cabang bank di luar negeri.

Pertumbuhan Uang Beredar Didukung Likuiditas Perbankan

Selain M2, Bank Indonesia juga mencatat perkembangan Uang Primer atau M0 adjusted yang tetap tumbuh tinggi. Pada April 2026, M0 adjusted tercatat mencapai Rp2.232,2 triliun atau naik 14,3 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia yang tumbuh 21,6 persen serta peningkatan uang kartal yang beredar sebesar 14,6 persen. Kondisi ini menunjukkan likuiditas sektor perbankan masih berada dalam kondisi memadai untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.

BI menilai pertumbuhan Uang Beredar saat ini juga dipengaruhi oleh kebijakan insentif likuiditas yang diterapkan dalam pengendalian moneter. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, stabilitas Uang Beredar menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga daya tahan ekonomi Indonesia. Likuiditas yang terjaga diyakini mampu menopang konsumsi masyarakat, aktivitas usaha, hingga penyaluran kredit perbankan dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan pertumbuhan yang masih positif, BI optimistis kondisi likuiditas nasional tetap mampu mendukung momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

OJK Khawatir FOMO di Investasi Syariah Picu Perilaku Spekulatif Investor Pemula

0

Fenomena FOMO di Investasi Syariah mulai mendapat perhatian serius dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pasar modal berbasis syariah. Lonjakan jumlah investor, khususnya dari kalangan muda dan investor ritel muslim, dinilai menjadi sinyal positif, namun di sisi lain juga memunculkan potensi perilaku spekulatif yang berisiko.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Henry Rialdi, mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tren yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial maupun komunitas digital.

Menurut Henry, fenomena FOMO di Investasi Syariah dapat mendorong investor membeli instrumen tertentu tanpa memahami risiko yang sebenarnya. Kondisi tersebut berpotensi memicu terbentuknya gelembung aset atau bubble jika tidak diimbangi dengan edukasi dan pemahaman yang cukup.

“Fenomena fear of missing out atau rasa takut tertinggal perlu menjadi perhatian bersama, terutama ketika keputusan investasi dilakukan hanya karena ikut tren,” ujar Henry dalam acara Elevate: IFN Indonesia Forum dan Sharia Investment Week 2026 di Jakarta.

Ia menilai pertumbuhan pasar modal syariah memang menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, OJK tidak ingin pertumbuhan tersebut justru menciptakan mentalitas kawanan di kalangan investor muda yang cenderung mudah terpancing pergerakan pasar.

Investor Muda Dominasi Pasar Modal Syariah

OJK mencatat jumlah investor pemilik efek syariah terus mengalami peningkatan signifikan hingga awal 2026. Per Maret 2026, jumlah investor sekuritas syariah sudah melampaui empat juta investor atau tumbuh sekitar 35,25 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut sebagian besar berasal dari investor ritel dan generasi muda yang mulai aktif memanfaatkan platform digital untuk berinvestasi. Selain itu, pengguna sistem perdagangan online syariah juga meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tengah pertumbuhan itu, fenomena FOMO di Investasi Syariah dinilai semakin mudah muncul karena akses informasi yang sangat cepat di media sosial. Banyak investor pemula tergoda membeli saham atau instrumen tertentu hanya karena melihat tren kenaikan harga tanpa memahami fundamental perusahaan.

Henry menegaskan investasi syariah seharusnya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pemahaman risiko. OJK juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan agar investor tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek.

OJK Dorong Edukasi agar Investor Tidak Spekulatif

OJK menilai edukasi menjadi kunci penting untuk menekan dampak negatif FOMO di Investasi Syariah. Regulator ingin memastikan pertumbuhan pasar modal syariah berjalan sehat dan berkelanjutan tanpa dipenuhi praktik spekulasi berlebihan.

Menurut Henry, tingginya antusiasme masyarakat terhadap investasi syariah sebenarnya menjadi peluang besar bagi penguatan industri keuangan nasional. Namun, investor tetap harus memahami profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

OJK juga mengingatkan bahwa investasi yang sehat tidak hanya mengikuti momentum pasar, tetapi harus didasarkan pada analisis yang matang dan tujuan keuangan jangka panjang. Dengan demikian, pertumbuhan pasar modal syariah dapat terus berkembang tanpa memunculkan risiko ketidakstabilan di masa depan.

Gojek Ubah Skema Bagi Hasil, Pendapatan Driver Ojol Bakal Lebih Besar!

0

Perubahan Skema Bagi Hasil Gojek mulai menjadi sorotan setelah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk memastikan akan mengikuti aturan terbaru pemerintah terkait pembagian pendapatan bagi mitra pengemudi ojek online. Kebijakan tersebut membuat porsi pendapatan driver menjadi lebih besar dibanding sebelumnya dan dinilai sebagai langkah penting dalam memperbaiki kesejahteraan pekerja transportasi daring.

Dalam skema baru itu, pengemudi akan menerima 92 persen dari tarif perjalanan, sedangkan perusahaan aplikator hanya mengambil potongan sebesar 8 persen. Kebijakan Skema Bagi Hasil Gojek ini diterapkan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.

Presiden Unit Bisnis On-Demand Services GoTo, Hans Patuwo, mengatakan perusahaan siap menjalankan kebijakan tersebut meski berdampak langsung terhadap pendapatan layanan transportasi online milik Gojek.

Menurut Hans, perubahan pembagian pendapatan ini memang akan mengurangi pemasukan perusahaan dari layanan GoRide. Namun, pihaknya memandang langkah tersebut sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan ekosistem transportasi online yang lebih sehat.

“Kami berkomitmen untuk menyesuaikan skema pembagian pendapatan di mana 92 persen tarif perjalanan menjadi hak pengemudi,” ujar Hans dalam konferensi pers di Jakarta.

Skema Bagi Hasil Gojek Dinilai Untungkan Driver

Perubahan Skema Bagi Hasil Gojek mendapat perhatian luas karena selama ini potongan aplikator sering menjadi keluhan para pengemudi ojek online. Banyak driver menilai biaya potongan yang besar membuat pendapatan harian mereka semakin tertekan, terutama di tengah kenaikan biaya operasional.

Dengan aturan baru tersebut, para pengemudi diharapkan bisa memperoleh penghasilan yang lebih layak dari setiap perjalanan yang dilakukan. Pemerintah juga menilai kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan pekerja di sektor ekonomi digital.

Hans menegaskan, meski pendapatan perusahaan berpotensi turun, Gojek tetap memilih mengikuti aturan pemerintah demi menciptakan hubungan yang lebih seimbang antara aplikator dan mitra pengemudi.

Menurutnya, keberlangsungan bisnis transportasi online tidak hanya bergantung pada pertumbuhan perusahaan, tetapi juga kesejahteraan para driver yang menjadi bagian penting dalam layanan tersebut.

Pemerintah Targetkan Aturan Berlaku Juni 2026

Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan sebelumnya menyampaikan target penerapan aturan potongan maksimal 8 persen bisa mulai dijalankan pada Juni 2026. Pemerintah saat ini masih mematangkan sejumlah aturan teknis agar implementasinya berjalan lancar di lapangan.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan regulasi ini dibuat untuk menciptakan sistem kerja yang lebih adil bagi pengemudi transportasi online. Pemerintah juga ingin memastikan ekosistem digital tetap tumbuh tanpa mengabaikan hak para pekerja.

Kebijakan Skema Bagi Hasil Gojek diperkirakan akan menjadi momentum baru dalam industri transportasi online nasional. Selain meningkatkan pendapatan driver, aturan tersebut juga diharapkan mampu menciptakan hubungan kerja yang lebih sehat antara aplikator dan mitra pengemudi.

Meski masih menunggu implementasi penuh, perubahan Skema Bagi Hasil Gojek sudah mulai disambut positif oleh banyak pengemudi yang berharap kesejahteraan mereka dapat meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Contoh Usaha Kreatif yang Membuat Barang Biasa Jadi Punya Nilai Lebih!

0

Banyak orang mengira bisnis harus punya produk yang benar-benar baru supaya bisa menarik perhatian pasar. Padahal sekarang, banyak contoh usaha kreatif justru lahir dari produk yang sebenarnya sangat biasa. Bedanya bukan di barangnya, tapi di cara menjual, cara membangun cerita, dan cara membuat pelanggan merasa tertarik.

Fenomena ini akan makin sering dibahas di Berempat.com karena pola bisnis modern memang mulai berubah. Produk sederhana seperti kopi, roti, ayam geprek, sampai lilin aromaterapi sekarang bisa terlihat “mahal” atau unik hanya karena konsep penjualannya berbeda.

Di era digital, konsumen bukan cuma membeli barang. Mereka juga membeli pengalaman, visual, cerita, bahkan identitas brand. Karena itu, memahami contoh usaha kreatif jadi penting untuk pelaku usaha kecil yang ingin bersaing tanpa harus menciptakan produk yang rumit.

Menurut data dari Nielsen, lebih dari 60% konsumen modern tertarik mencoba produk karena branding dan pengalaman visual yang menarik, bukan semata karena fungsi produknya.

Itulah kenapa sekarang banyak bisnis sederhana bisa viral hanya karena punya konsep yang unik.

Produk Biasa Bisa Terlihat Menarik Kalau Cara Jualnya Tepat

Kalau diperhatikan, banyak bisnis viral sebenarnya menjual barang yang tidak baru.

Contohnya cukup banyak:

  • Kopi susu dengan nama menu yang nyeleneh
  • Tahu crispy dengan kemasan estetik
  • Air mineral dengan branding premium
  • Dessert box dengan konsep lucu untuk hadiah
  • Rice bowl sederhana tapi punya storytelling kuat di media sosial

Produk-produk ini bukan sesuatu yang revolusioner. Tapi mereka berhasil membuat pelanggan merasa tertarik lewat pengalaman dan konsep.

Menurut laporan dari HubSpot, konsumen digital sekarang lebih mudah tertarik pada brand yang punya identitas kuat dan terasa relatable dibanding brand yang hanya fokus menjual produk.

Karena itu, banyak contoh usaha kreatif sekarang justru bermain di sisi branding dan komunikasi.

Contoh Usaha Sederhana dengan Konsep yang Unik dan Kreatif

Ada banyak model usaha sederhana yang berkembang pesat karena cara jualnya berbeda dari kompetitor.

1. Laundry dengan Sistem Subscription

Biasanya laundry hanya jual jasa cuci biasa. Tapi beberapa bisnis mulai menawarkan paket bulanan seperti layanan streaming.

Konsep ini membuat pelanggan merasa lebih praktis dan bisnis punya pemasukan lebih stabil.

2. Warung Kopi dengan Konsep Personal Branding

Sekarang banyak coffee shop kecil berkembang bukan karena tempatnya mewah, tapi karena pemiliknya aktif membuat konten dan membangun hubungan dengan pelanggan.

3. Toko Tanaman dengan Konten Edukasi

Produk tanaman sebenarnya sudah lama ada. Tapi ketika dikombinasikan dengan video edukasi dan tips dekorasi rumah, pasar jadi jauh lebih luas.

4. Jual Sambal dengan Storytelling

Ada brand sambal lokal yang sukses karena membangun cerita unik tentang level pedas, karakter produk, sampai desain kemasan yang lucu.

5. Thrift Shop dengan Live Shopping

Baju bekas bukan hal baru. Tapi konsep live shopping di TikTok membuat pengalaman belanja jadi lebih interaktif dan menarik.

Seperti yang sering dibahas di Berempat, banyak bisnis kecil sekarang justru menang karena kreativitas komunikasi, bukan karena modal paling besar.

Di Era Digital, Konsep Kadang Lebih Penting dari Produk

Sekarang persaingan produk makin padat. Hampir semua barang punya kompetitor.

Karena itu, bisnis yang menonjol biasanya bukan yang produknya paling berbeda, tapi yang punya cara penyampaian paling menarik.

Menurut data dari Statista, pertumbuhan social commerce terus meningkat karena konsumen semakin tertarik pada pengalaman belanja yang interaktif dan personal.

Artinya, cara produk dipresentasikan sekarang punya pengaruh besar terhadap keputusan pembelian.

Ini juga yang membuat banyak contoh usaha kreatif bisa berkembang cepat walaupun produknya sederhana.

Kreativitas Tidak Selalu Soal Produk Baru

Banyak orang terlalu sibuk mencari ide bisnis yang belum pernah ada. Padahal kadang, yang dibutuhkan pasar bukan produk baru, tapi pengalaman baru.

Di sinilah kreativitas bisnis sebenarnya bekerja. Bukan selalu menciptakan sesuatu dari nol, tapi mengubah hal biasa jadi terasa lebih menarik dan relevan.

Karena di era digital seperti sekarang, produk sederhana pun bisa punya nilai besar kalau dikemas dengan konsep yang tepat, cerita yang kuat, dan cara jual yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumen modern.

BI Pastikan Kredit Perbankan Tetap Stabil Meski Pasar Global Bergejolak

0

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah, Bank Indonesia (BI) menilai sektor kredit perbankan akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026. Peran pembiayaan dari sektor perbankan dinilai semakin penting untuk menjaga aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat tetap bergerak di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan penguatan penyaluran kredit perbankan harus terus dilakukan agar momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga. Menurutnya, kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat sektor keuangan nasional perlu bekerja lebih agresif namun tetap hati-hati dalam menjaga stabilitas.

Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Mei 2026, Perry menyebut pertumbuhan kredit pada April 2026 menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit tercatat tumbuh 9,98 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 9,49 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pembiayaan di sejumlah sektor utama. Kredit investasi menjadi penyumbang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 19,48 persen. Sementara kredit modal kerja tumbuh 6,04 persen dan kredit konsumsi meningkat sebesar 6,13 persen.

Bank Indonesia memandang capaian tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat meski tekanan global terus meningkat. Kinerja kredit perbankan yang tetap tumbuh juga menunjukkan dunia usaha masih memiliki optimisme untuk melakukan ekspansi bisnis.

Likuiditas Perbankan Dinilai Masih Sangat Kuat

Selain pertumbuhan kredit yang positif, BI juga melihat kondisi likuiditas perbankan nasional masih berada dalam posisi aman. Hal ini tercermin dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan yang mencapai Rp2.551,42 triliun.

Nilai tersebut setara dengan 22,57 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Kondisi itu memberi ruang cukup besar bagi bank untuk terus memperluas penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi.

Tak hanya itu, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga tercatat berada di level 25,39 persen pada April 2026. Dana pihak ketiga (DPK) pun masih tumbuh tinggi sebesar 11,39 persen secara tahunan.

Bank Indonesia optimistis pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 masih dapat bergerak di kisaran 8 hingga 12 persen. Target tersebut diyakini realistis mengingat kondisi likuiditas dan kapasitas pembiayaan bank masih sangat memadai.

Di sisi lain, BI juga menilai efisiensi suku bunga perbankan masih dapat terus diperbaiki. Pada April 2026, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73 persen, sementara bunga deposito satu bulan berada di level 4,16 persen.

Menurut Perry, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung penyaluran pembiayaan. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) serta Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Risiko Geopolitik Diwaspadai, Perbankan Tetap Stabil

Meski konflik di Timur Tengah masih menjadi ancaman bagi ekonomi global, BI memastikan kondisi perbankan nasional tetap berada dalam kategori sehat dan stabil. Ketahanan sektor keuangan disebut masih sangat kuat dalam menghadapi berbagai risiko eksternal.

Hal ini terlihat dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan yang mencapai 25,09 persen pada Maret 2026. Angka tersebut dinilai cukup tinggi untuk menyerap potensi risiko yang muncul akibat gejolak global.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) juga tetap terkendali. Secara agregat, NPL bruto tercatat sebesar 2,14 persen dan NPL neto berada di level 0,83 persen.

Perry menjelaskan hasil stress test yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan sektor perbankan nasional masih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan, termasuk dampak lanjutan konflik Timur Tengah.

Menurutnya, kemampuan bayar korporasi yang masih terjaga serta profitabilitas dunia usaha yang relatif stabil menjadi faktor penting yang mendukung ketahanan sektor keuangan nasional saat ini.

Karena itu, koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus diperkuat agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga sekaligus menjaga pertumbuhan kredit perbankan tetap berada di jalur positif sepanjang tahun ini.

Industri Kosmetik Indonesia Kian Dilirik, Peluang Pasar Global Semakin Terbuka

Pertumbuhan Industri Kosmetik nasional terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan jumlah pelaku usaha hingga peningkatan nilai ekspor menjadi sinyal bahwa sektor ini semakin berkembang dan memiliki peluang besar di pasar domestik maupun internasional. Pemerintah pun mulai memperkuat berbagai strategi untuk memperluas rantai pasok lokal sekaligus meningkatkan daya saing pelaku industri, khususnya sektor industri kecil dan menengah (IKM).

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) bersama Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) terus mendorong penguatan ekosistem usaha kosmetik nasional. Fokus utama yang kini dikembangkan adalah membangun kemitraan yang lebih luas antara pelaku IKM, industri besar, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jumlah pelaku usaha di sektor kosmetik mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada 2024, tercatat sekitar 1.292 industri kosmetik beroperasi di Indonesia. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari 1.500 industri pada akhir 2025.

Menariknya, sekitar 90 persen dari keseluruhan pelaku usaha tersebut berasal dari sektor IKM. Kondisi ini menunjukkan bahwa Industri Kosmetik dalam negeri tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga ditopang oleh pertumbuhan usaha skala kecil dan menengah yang semakin aktif mengembangkan produk lokal.

Selain pertumbuhan jumlah industri, performa ekspor sektor kosmetik juga mengalami peningkatan. Nilai ekspor tercatat naik dari USD417 juta pada 2024 menjadi sekitar USD473,8 juta pada 2025. Angka tersebut menjadi indikator bahwa produk kosmetik buatan Indonesia mulai mendapat perhatian lebih luas di pasar global.

Pemerintah Dorong Kemitraan dan Rantai Pasok Lokal

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sektor kosmetik memiliki prospek yang sangat menjanjikan karena didukung permintaan pasar yang terus meningkat. Menurutnya, pertumbuhan jumlah pelaku usaha harus diimbangi dengan penguatan kualitas produk, inovasi, dan pengembangan ekosistem industri yang lebih solid.

Ia menilai, penguatan Industri Kosmetik nasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga masyarakat agar tercipta ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Agus juga menyoroti masih adanya sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku IKM kosmetik, mulai dari keterbatasan bahan baku, distribusi, hingga akses pasar. Karena itu, pendekatan kolaboratif dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing industri nasional.

Menurut dia, kemitraan antara pelaku IKM dengan industri besar dapat membuka peluang yang lebih luas, termasuk dalam pengadaan bahan baku, sistem maklon, pemasaran, hingga integrasi ke dalam rantai pasok perusahaan besar.

“Dengan adanya kemitraan, pelaku usaha kecil dapat berkembang lebih cepat dan menjadi bagian penting dari ekosistem industri yang saling mendukung,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menambahkan, pengembangan IKM kosmetik dilakukan melalui sinergi multipihak. Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah daerah, BPOM, perguruan tinggi, asosiasi industri, platform lokapasar, hingga sektor ritel modern.

Temu Bisnis Jadi Ajang Perluas Peluang Usaha

Sebagai langkah konkret dalam memperkuat Industri Kosmetik, Ditjen IKMA menggelar Pre-Event Temu Bisnis bertema Local Supply Chain for Cosmetic Industry pada 6 hingga 8 Mei 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pameran Indonesia Cosmetics Ingredients (ICI) 2026 yang diinisiasi Perkosmi. Dalam agenda itu, pemerintah memfasilitasi booth khusus bagi pelaku IKM kosmetik untuk bertemu langsung dengan calon mitra bisnis dan investor.

Reni menjelaskan, kegiatan pre-event tersebut merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan temu bisnis utama yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Melalui forum itu, pelaku usaha diharapkan dapat memperluas jaringan bisnis sekaligus membuka peluang kerja sama baru.

Menurutnya, keberadaan forum bisnis seperti ini sangat penting untuk memperkuat konektivitas antarpelaku usaha dalam negeri. Selain meningkatkan transaksi dan investasi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat rantai pasok lokal di sektor kosmetik.