Kamis, November 5, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 17

Transformasi Industri Makanan dan Minuman Makin Diperkuat, Modernisasi Teknologi Jadi Kunci

0

Transformasi Industri Makanan dan Minuman terus didorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk memperkuat daya saing sektor mamin nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui modernisasi teknologi, peningkatan efisiensi produksi, optimalisasi sumber daya, serta penerapan proses industri yang lebih berkelanjutan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri makanan dan minuman memiliki peran strategis dalam perekonomian karena terhubung dengan banyak sektor sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, efisiensi penggunaan energi dan sumber daya seperti air menjadi semakin penting ketika pelaku industri menghadapi dinamika biaya produksi.

“Kami terus memperkuat industri makanan dan minuman agar semakin produktif, inovatif, efisien, dan berdaya saing,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Ia menilai pemanfaatan teknologi dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya dalam proses produksi. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong Transformasi Industri Makanan dan Minuman agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Industri Mamin Tumbuh Positif

Kinerja industri makanan dan minuman masih menunjukkan tren positif. Pada semester I 2026, sektor tersebut mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 6,77 persen dan menyumbang 41,86 persen terhadap industri pengolahan nonmigas.

Besarnya kontribusi tersebut juga tidak terlepas dari rantai industri mamin yang panjang. Aktivitasnya melibatkan petani, peternak, nelayan, pemasok bahan baku, perusahaan logistik, industri kecil dan menengah (IKM), hingga konsumen.

Untuk mempercepat modernisasi, Kemenperin menyediakan Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan bagi industri agro, termasuk sektor makanan dan minuman. Program ini memberikan bantuan sebagian biaya pembelian mesin atau peralatan untuk mendukung pembaruan teknologi produksi.

Insentif Modernisasi Mesin Disiapkan

Fasilitasi diberikan maksimal 35 persen untuk mesin produksi dalam negeri dengan TKDN minimal 25 persen. Untuk mesin produksi dalam negeri lainnya, dukungan mencapai 25 persen, sedangkan mesin yang belum diproduksi di dalam negeri memperoleh fasilitasi maksimal 15 persen.

Program tersebut telah dibuka sejak akhir Agustus 2026. Pengajuan akan diproses berdasarkan urutan permohonan yang memenuhi persyaratan.

Melalui kebijakan tersebut, Kemenperin berharap Transformasi Industri Makanan dan Minuman dapat berjalan lebih cepat sehingga produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri nasional semakin kuat.

Kredit Perbankan Tumbuh Lampaui Target, OJK Catat Penyaluran Capai Rp9.135 Triliun

0

Kredit Perbankan Tumbuh dua digit menjadi salah satu indikator yang membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis terhadap ketahanan sektor keuangan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan kondisi industri jasa keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi sehat.

Friderica menyampaikan optimisme tersebut dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Menurutnya, Indonesia perlu merespons berbagai tekanan ekonomi secara bijak dan tetap menjaga optimisme di tengah dinamika yang terjadi.

Gejolak geopolitik menjadi salah satu tantangan yang turut memengaruhi perekonomian domestik. Ketegangan di berbagai kawasan dunia dapat mendorong kenaikan harga minyak dan memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Meski menghadapi risiko tersebut, Friderica menilai fundamental sektor jasa keuangan dalam negeri masih cukup kuat. Kondisi itu terlihat dari sejumlah indikator, terutama rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) serta tingkat likuiditas perbankan.

Kredit Perbankan Tumbuh Lampaui Target OJK

OJK mencatat intermediasi perbankan terus mengalami pertumbuhan pada level dua digit. Hingga periode pelaporan terakhir, penyaluran kredit mencapai Rp9.135 triliun atau tumbuh 13,58 persen secara tahunan.

Realisasi tersebut berada di atas target pertumbuhan kredit yang sebelumnya ditetapkan OJK sebesar 12 persen untuk tahun ini. Menurut Friderica, capaian tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan positif di tengah berbagai tekanan ekonomi.

“Intermediasi di sektor perbankan terus tumbuh,” kata Friderica dalam acara tersebut.

Selain penyaluran kredit, dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan perkembangan positif. DPK perbankan tercatat tumbuh 11,21 persen dengan nilai sekitar Rp10.300 triliun.

Likuiditas dan Modal Perbankan Tetap Kuat

Kondisi permodalan dan likuiditas yang terjaga menjadi salah satu alasan OJK melihat prospek sektor keuangan secara positif. Kredit Perbankan Tumbuh di atas target turut memperkuat keyakinan regulator bahwa industri perbankan masih memiliki kapasitas untuk menopang aktivitas ekonomi nasional.

Friderica menegaskan gejolak global tetap perlu diantisipasi dengan kebijakan yang prudent. Dengan fundamental yang relatif solid, OJK berharap sektor jasa keuangan mampu menjaga stabilitas sekaligus terus menjalankan perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Punya Bisnis yang Masih Kecil? Ini Cara Hindari Perbandingan Bisnis

0

Hindari perbandingan bisnis bukan berarti seorang pengusaha harus menutup mata terhadap apa yang dilakukan kompetitor. Justru, data dari bisnis lain bisa menjadi bahan belajar. Masalah muncul ketika pencapaian orang lain dijadikan ukuran untuk menentukan apakah bisnis sendiri sudah cukup berhasil atau belum. Bagi kami di Berempat.com, dunia usaha lebih tepat dilihat sebagai perjalanan dengan kondisi, modal, pelanggan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Di media sosial, godaan untuk membandingkan bisnis semakin besar. Setiap hari ada saja cerita tentang omzet yang naik, toko baru yang viral, jumlah pelanggan yang melonjak, atau pengusaha yang berhasil membuka cabang dalam waktu singkat.

Yang terlihat hanya hasil akhirnya.

Proses panjang di belakangnya sering tidak ikut terlihat.

Seorang pemilik usaha mungkin melihat kompetitornya memiliki ribuan pengikut di Instagram, lalu merasa bisnisnya tertinggal karena baru mempunyai beberapa ratus. Padahal, jumlah pengikut belum tentu menggambarkan besarnya keuntungan, loyalitas pelanggan, atau kesehatan arus kas sebuah usaha.

DataReportal mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025, setara dengan 62,9 persen populasi. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya ruang digital yang kini menjadi tempat bisnis membangun eksistensi sekaligus memamerkan pencapaian.

Semakin banyak bisnis terlihat di layar, semakin mudah pula pengusaha merasa sedang berlomba dengan orang lain.

Padahal, belum tentu sedang berada di perlombaan yang sama.

Setiap Bisnis Punya Garis Start yang Berbeda

Ada usaha yang dimulai dari tabungan pribadi, sementara sebagian lainnya mendapat dukungan keluarga sejak awal. Beberapa bisnis langsung memiliki tim, sedangkan yang lain masih dikerjakan seorang diri dari rumah.

Perjalanan setiap usaha juga memiliki ritme yang berbeda. Sebuah bisnis bisa saja sudah berdiri selama sepuluh tahun, tetapi baru menunjukkan pertumbuhan pesat dalam dua tahun terakhir.

Membandingkan hasil dari kondisi tersebut secara langsung tentu kurang tepat.

Misalnya, bisnis A mampu memperoleh omzet Rp500 juta dalam setahun. Bisnis B baru mencapai Rp150 juta.

Sekilas, bisnis A terlihat jauh lebih sukses.

Namun, bagaimana jika bisnis A memiliki 10 karyawan, biaya operasional Rp300 juta, dan kewajiban usaha yang besar? Sementara bisnis B dikelola sendiri dengan biaya operasional jauh lebih rendah dan margin keuntungan yang lebih sehat?

Angka omzet saja tidak cukup untuk menentukan siapa yang lebih berhasil.

Karena itu, hindari perbandingan bisnis dengan hanya melihat angka yang paling mudah dipamerkan. Pelaku usaha perlu melihat indikator yang lebih relevan dengan kondisi bisnisnya sendiri.

Gunakan Kompetitor sebagai Referensi, Bukan Standar Hidup

Menghindari perbandingan bukan berarti tidak perlu memperhatikan kompetitor.

Justru, kompetitor bisa menjadi sumber informasi yang berharga.

Yang perlu diubah adalah cara melihatnya.

Daripada berpikir, “Kenapa mereka bisa lebih besar dari saya?”, ubah pertanyaannya menjadi:

  • Apa yang dilakukan bisnis tersebut dengan lebih baik?
  • Bagaimana mereka mendapatkan pelanggan?
  • Produk apa yang paling banyak diminati?
  • Bagaimana mereka membangun loyalitas pelanggan?
  • Strategi pemasaran apa yang terlihat efektif?
  • Apakah strategi tersebut cocok diterapkan pada bisnis sendiri?

Dengan pola tersebut, pencapaian kompetitor berubah menjadi bahan riset.

Misalnya, sebuah kedai kopi melihat kompetitor berhasil menarik pelanggan melalui program membership. Daripada sekadar merasa iri, pemilik kedai bisa mempelajari mekanismenya lalu membuat versi yang sesuai dengan karakter pelanggannya sendiri.

Tidak perlu meniru semuanya.

Tentukan Ukuran Sukses yang Memang Penting

Salah satu cara paling efektif untuk hindari perbandingan bisnis adalah menentukan indikator keberhasilan sendiri.

Jangan hanya menggunakan jumlah followers, omzet, atau jumlah cabang sebagai ukuran.

Bagi bisnis tertentu, indikator yang lebih penting mungkin justru:

1. Arus kas

Bisnis yang memiliki arus kas sehat memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan operasional dan menghadapi kondisi tidak terduga.

2. Margin keuntungan

Omzet besar belum tentu menghasilkan keuntungan besar. Margin dapat memberikan gambaran yang lebih relevan mengenai kualitas pendapatan.

3. Repeat order

Jika pelanggan kembali membeli, berarti ada nilai yang berhasil diberikan bisnis.

4. Biaya mendapatkan pelanggan

Pelaku usaha perlu mengetahui berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh satu pelanggan baru.

5. Produktivitas

Berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan sumber daya yang tersedia?

6. Kepuasan pelanggan

Jumlah pelanggan memang penting, tetapi kualitas hubungan dengan pelanggan juga menentukan keberlanjutan usaha.

Dengan indikator tersebut, perkembangan bisnis dapat dilihat dari waktu ke waktu tanpa harus terus-menerus melirik pencapaian orang lain.

Jangan Terjebak dengan “Bisnis Orang Lain Kelihatannya Lebih Enak”

Media sosial memiliki satu masalah besar: ia menampilkan bagian yang ingin ditampilkan.

Sebuah bisnis bisa terlihat sedang booming karena unggahan tentang pembukaan cabang baru. Tetapi kita tidak mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk ekspansi tersebut.

Pengusaha lain mungkin terlihat sukses karena memamerkan omzet jutaan rupiah dalam satu hari. Namun, omzet bukan keuntungan bersih.

Ada juga bisnis yang terlihat sepi di media sosial tetapi sebenarnya memiliki pelanggan tetap yang kuat.

Inilah alasan hindari perbandingan bisnis menjadi penting ketika menggunakan media sosial sebagai sumber inspirasi.

Jangan membandingkan kondisi belakang layar bisnis sendiri dengan bagian terbaik dari bisnis orang lain.

Perbandingan tersebut hampir pasti menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.

Fokus pada Angka Bisnis Sendiri

Salah satu kebiasaan yang dapat membantu adalah membuat laporan perkembangan sederhana setiap bulan.

Tidak harus menggunakan sistem akuntansi yang rumit.

Cukup catat beberapa angka utama:

  • Total penjualan.
  • Laba bersih.
  • Jumlah pelanggan baru.
  • Jumlah pelanggan lama yang kembali.
  • Biaya pemasaran.
  • Biaya operasional.
  • Utang usaha.
  • Saldo kas.
  • Produk dengan penjualan tertinggi.
  • Produk dengan margin terbaik.

Setelah enam bulan, data tersebut akan memberikan gambaran yang jauh lebih berguna daripada melihat berapa banyak followers yang dimiliki kompetitor.

Misalnya, omzet meningkat 15 persen dalam enam bulan. Repeat order naik dari 20 persen menjadi 30 persen. Biaya mendapatkan pelanggan turun 10 persen.

Itu merupakan kemajuan.

Tidak perlu menunggu bisnis menjadi viral terlebih dahulu untuk menganggapnya berhasil.

Pertumbuhan yang Lambat Bukan Berarti Gagal

Dalam dunia bisnis, pertumbuhan tidak selalu berbentuk grafik yang terus naik.

Ada bulan ketika penjualan meningkat. Juga Ada masa ketika pelanggan berkurang. Ada periode ketika pemilik bisnis harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperbaiki sistem.

Bahkan, keputusan untuk tidak melakukan ekspansi bisa menjadi pilihan yang tepat jika fondasi bisnis belum siap.

Penelitian mengenai kewirausahaan juga menunjukkan bahwa kemampuan mengelola sumber daya secara efektif memiliki kaitan dengan performa usaha. Salah satu studi yang menganalisis 8.663 pengusaha swasta di China menemukan bahwa kemampuan mengalokasikan waktu secara lebih efektif dapat membantu performa usaha, terutama bagi pengusaha dengan keterbatasan sumber daya.

Artinya, sumber daya yang terbatas bukan otomatis menjadi hambatan permanen. Cara menggunakannya juga menentukan.

Hal ini relevan untuk usaha kecil yang belum memiliki modal, tenaga kerja, atau teknologi sebesar kompetitornya.

Daripada memaksakan pertumbuhan yang belum sanggup ditanggung, lebih baik memperbaiki bagian yang memang bisa dikendalikan.

Buat Target yang Bisa Dikendalikan

Target bisnis sebaiknya tidak hanya berisi angka besar seperti “omzet harus naik dua kali lipat”.

Buat target berdasarkan tindakan yang bisa dilakukan.

Contohnya:

  • Mendapatkan 20 pelanggan baru setiap bulan.
  • Menghubungi kembali pelanggan lama.
  • Meningkatkan repeat order.
  • Membuat tiga konten edukasi setiap minggu.
  • Mengurangi biaya operasional tertentu.
  • Memperbaiki proses pelayanan.
  • Menambah satu produk baru setelah melakukan riset.

Target seperti ini membuat fokus berpindah dari hasil milik orang lain ke tindakan yang bisa dilakukan sendiri.

Ketika bisnis lain tumbuh lebih cepat, tidak perlu langsung mengubah seluruh strategi.

Lihat kembali target yang sudah dibuat.

Apakah bisnis sendiri berkembang dibandingkan tiga bulan lalu?

Jika iya, berarti ada progres.

Networking Lebih Berguna daripada Sekadar Membandingkan

Menariknya, hubungan dengan sesama pengusaha justru dapat menjadi aset penting ketika digunakan untuk bertukar pengalaman.

Sebuah meta-analisis terhadap 61 sampel independen menemukan hubungan positif dan signifikan antara modal sosial pengusaha dan kinerja usaha. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa keberagaman jaringan memiliki pengaruh positif yang penting terhadap performa bisnis kecil.

Jadi, pengusaha lain tidak selalu harus diposisikan sebagai rival.

Mereka bisa menjadi sumber wawasan, mitra kolaborasi, pemasok, bahkan calon pelanggan.

Daripada menghabiskan energi untuk mencari tahu mengapa bisnis orang lain lebih maju, waktu tersebut bisa digunakan untuk membangun hubungan yang menghasilkan peluang baru.

Berhenti Mengejar Semua yang Sedang Viral

Tidak setiap tren cocok untuk setiap bisnis.

Ketika kompetitor mulai aktif membuat video pendek, misalnya, bukan berarti bisnis sendiri wajib melakukan hal yang sama setiap hari.

Saat kompetitor membuka marketplace baru, belum tentu kanal tersebut cocok dengan karakter pelanggan sendiri.

Ketika bisnis lain menawarkan diskon besar, menirunya bisa saja justru merusak margin.

Pertanyaan yang lebih sehat adalah:

Apakah strategi tersebut membantu bisnis saya mencapai tujuan?

Jika jawabannya tidak, tidak ada kewajiban untuk ikut.

Bisnis membutuhkan fokus. Terlalu banyak mengikuti tren dapat membuat sumber daya terbagi ke berbagai aktivitas tanpa hasil yang jelas.

Intinya, hindari perbandingan bisnis bukan berarti berhenti belajar dari pasar. Justru sebaliknya, pelaku usaha perlu lebih cermat membedakan antara belajar dan membandingkan diri.

Belajar membuat kita bertanya, “Apa yang bisa saya ambil dari keberhasilan mereka?”

Membandingkan diri membuat kita bertanya, “Kenapa saya belum seperti mereka?”

Dua pertanyaan tersebut terdengar mirip, tetapi dampaknya sangat berbeda.

Bisnis bukan balapan dengan garis finis yang sama. Ada yang mengejar pertumbuhan cepat, ada yang mengutamakan kestabilan, ada yang ingin membangun bisnis keluarga, dan ada pula yang cukup ingin memiliki usaha yang menghasilkan pendapatan sehat tanpa harus berkembang menjadi perusahaan besar.

Selama bisnis terus bergerak ke arah yang sudah ditentukan, perkembangan itu layak dihargai.

Karena itu, hindari perbandingan bisnis yang hanya membuat fokus terpecah. Amati kompetitor untuk mendapatkan wawasan, gunakan data untuk mengevaluasi kinerja, dan tetapkan standar keberhasilan berdasarkan tujuan bisnis sendiri.

Harga Beras Masih Jadi Sorotan, Beras Kualitas Super Capai Rp17.700 per Kg

0

Harga sejumlah kebutuhan pangan pada Rabu (2/9/2026) masih bergerak relatif stabil. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, Beras Kualitas Super tipe I tercatat Rp17.700 per kilogram (kg), sementara beras medium dan kualitas bawah berada di level yang lebih rendah.

Data PIHPS menunjukkan harga beras kualitas super tipe II berada di angka Rp17.150 per kg. Untuk beras medium, tipe I dijual Rp16.600 per kg dan tipe II Rp16.150 per kg. Sementara itu, beras kualitas bawah tipe I tercatat Rp15.300 per kg dan tipe II Rp14.750 per kg.

Pergerakan harga juga terjadi pada komoditas minyak goreng. Minyak kemasan bermerek I yang sebelumnya berada di kisaran Rp23.600 per kg kini naik menjadi Rp25.200 per kg. Adapun minyak bermerek II dijual Rp23.100 per kg, sedangkan minyak goreng curah berada di angka Rp20.850 per kg.

Harga Pangan Jadi Perhatian Pemerintah

Untuk gula pasir, harga varian premium tercatat Rp21.150 per kg. Sementara gula pasir lokal dijual sekitar Rp19.250 per kg. Kondisi harga tersebut menjadi perhatian pemerintah karena beras masih menjadi salah satu komoditas pangan utama yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pemerintah akan memperketat pengawasan terhadap pelaku usaha yang menjual beras melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Amran bahkan membentuk Satgas Pengawasan Harga dan Mutu Beras Tahun 2026 melalui Keputusan Kepala Bapanas Nomor 369 Tahun 2026. Tim tersebut melibatkan Bapanas, Satgas Pangan Polri, Perum Bulog, serta pemerintah daerah.

Pengawasan Harga Beras Diperluas

Pengawasan akan dilakukan di 13 provinsi hingga Desember 2026. Pemerintah meminta jajaran Bapanas aktif memantau harga sekaligus memastikan mutu beras yang beredar sesuai ketentuan.

Pelaku usaha yang terbukti melanggar HET akan diberikan peringatan. Jika pelanggaran terus dilakukan, pemerintah membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi lebih tegas hingga penutupan usaha.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga harga Beras Kualitas Super dan jenis beras lainnya tetap berada dalam batas yang wajar, sekaligus mencegah praktik perdagangan yang merugikan konsumen. Pemerintah juga menegaskan pengawasan diarahkan kepada pihak yang mengambil keuntungan berlebihan, sementara kesejahteraan petani tetap menjadi perhatian.

Potongan Biaya Ojol untuk Pengantaran Barang dan Makanan Segera Punya Aturan Khusus

Pemerintah segera menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur layanan ojek online (ojol), termasuk Potongan Biaya Ojol untuk pengantaran makanan dan barang. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan ketentuan baru tersebut tidak akan mengubah skema biaya layanan bagi pengemudi ojol yang mengangkut penumpang.

Menurut Dudy, pemerintah memang perlu membuat aturan khusus untuk layanan pengiriman makanan dan barang karena selama ini belum terdapat ketentuan yang secara spesifik mengatur mekanisme potongan biaya pada layanan tersebut. Kebijakan ini disiapkan seiring semakin besarnya penggunaan platform digital untuk kebutuhan pengiriman.

“Kalau yang untuk angkutan orang kan sudah ditentukan delapan persen potongannya. Nah, ini untuk pengaturan antaran makanan dan antaran barang yang selama ini tidak diatur,” ujar Dudy seusai rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Dudy menegaskan pemerintah tidak melakukan penghitungan ulang terhadap potongan biaya layanan angkutan orang. Ketentuan yang berlaku saat ini tetap menjadi acuan, sedangkan pembahasan dalam Perpres lebih diarahkan pada pengaturan layanan pengiriman barang dan makanan.

Perpres Ojol Masuk Tahap Finalisasi

Menurut Dudy, pengaturan Potongan Biaya Ojol diperlukan untuk menciptakan mekanisme layanan yang lebih jelas bagi pengemudi maupun perusahaan aplikasi. Pemerintah juga ingin memastikan perkembangan bisnis berbasis digital tetap diikuti dengan perlindungan yang memadai bagi para pengemudi mitra.

Pembahasan Perpres telah dilakukan pemerintah bersama Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Saat ini, regulasi tersebut masih berada dalam tahap finalisasi sebelum diterbitkan secara resmi.

Dudy mengatakan pemerintah berupaya merancang aturan yang dapat memberikan keseimbangan antara kepentingan perusahaan aplikasi, konsumen, dan pengemudi. Kejelasan mengenai Potongan Biaya Ojek Online untuk layanan pengantaran makanan serta barang diharapkan dapat memberikan kepastian bagi seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem tersebut.

Sementara itu, pengaturan terkait perlindungan pengemudi mitra pengantaran barang pada era digital nantinya menjadi bagian dari kewenangan Kemkomdigi. Pemerintah menilai aspek perlindungan semakin penting karena jumlah layanan berbasis aplikasi terus berkembang.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya menegaskan pemerintah memiliki komitmen untuk memberikan perlindungan kepada pengemudi mitra. Ia menyebut pesan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu dasar pemerintah dalam memastikan kepentingan pengemudi tetap diperhatikan dalam penyusunan kebijakan.

Bukan Harus Kerja 24 Jam, Ini Strategi Menjalankan Side Hustle Tanpa Burnout

0

Punya pekerjaan utama dari Senin sampai Jumat, lalu mencoba menjalankan bisnis di malam hari atau akhir pekan memang terdengar produktif. Namun, jadwal yang terlalu penuh bisa membuat energi terkuras tanpa disadari. Karena itu, membangun side hustle tanpa burnout bukan soal memaksakan diri bekerja lebih lama, melainkan memilih aktivitas yang realistis dan tahu kapan harus berhenti.

Fenomena mencari penghasilan tambahan semakin mudah dilakukan berkat teknologi. Seseorang bisa menjual produk secara online, menjadi freelancer, membuka jasa konsultasi, membuat konten, hingga menjalankan bisnis berbasis keterampilan. Tantangannya muncul ketika pekerjaan utama dan bisnis sampingan sama-sama menuntut perhatian besar.

Bagi Berempat.com, bisnis sampingan seharusnya menjadi sumber peluang tambahan, bukan justru membuat kehidupan sehari-hari kehilangan keseimbangan. Tidak semua side hustle cocok dikerjakan dengan pola “semakin sibuk, semakin baik”.

Hal ini semakin relevan jika melihat realitas jam kerja. Data BPS yang diberitakan berdasarkan Sakernas Agustus 2025 menunjukkan sekitar 37,32 juta pekerja Indonesia, atau 25,47 persen dari total pekerja, bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Dengan waktu kerja utama yang sudah panjang, menambahkan bisnis sampingan tanpa pengaturan waktu berpotensi membuat jadwal semakin padat.

Maka, sebelum memulai bisnis tambahan, pertanyaan pertama sebaiknya bukan “bisnis apa yang paling cepat menghasilkan?”, melainkan “berapa banyak waktu dan energi yang benar-benar tersedia?”

Jangan Pilih Bisnis Sampingan yang Membutuhkan Kehadiran Setiap Saat

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah memilih bisnis berdasarkan tren, tanpa mempertimbangkan kapasitas waktu.

Misalnya, seseorang bekerja penuh waktu selama delapan hingga sembilan jam, tetapi kemudian membuka usaha yang mengharuskannya membalas pelanggan sepanjang hari, melakukan pengiriman setiap sore, serta membuat konten setiap malam.

Pada awalnya mungkin masih terasa menyenangkan. Setelah beberapa bulan, jadwal tersebut bisa berubah menjadi sumber tekanan.

Untuk membangun side hustle tanpa burnout, pilih model bisnis yang dapat disesuaikan dengan ritme kehidupan.

Beberapa contoh yang relatif fleksibel antara lain:

  • Jasa freelance berbasis keahlian.
  • Menjual produk digital.
  • Menjadi reseller dengan sistem yang terorganisasi.
  • Jasa desain, penulisan, atau editing.
  • Membuat kelas atau materi digital.
  • Affiliate marketing.
  • Menjual produk berdasarkan sistem pre-order.
  • Konsultasi berdasarkan jadwal tertentu.

Bukan berarti semua bisnis tersebut mudah. Setiap usaha tetap membutuhkan waktu dan tenaga. Namun, model bisnis yang memiliki jadwal lebih fleksibel biasanya lebih mudah disesuaikan dengan pekerjaan utama.

Tentukan Jam Kerja Khusus untuk Side Hustle

Bisnis sampingan sering terasa melelahkan karena tidak memiliki batas waktu yang jelas.

Pagi bekerja. Siang mengecek pesan pelanggan. Sore membalas chat. Malam mengurus pesanan. Sebelum tidur masih memikirkan strategi promosi.

Akhirnya, bisnis memang berjalan, tetapi kepala tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Coba buat blok waktu khusus.

Contohnya:

  • Senin dan Rabu: 1 jam untuk mengurus operasional.
  • Jumat malam: membuat konten atau promosi.
  • Sabtu pagi: menyelesaikan pesanan.
  • Minggu: istirahat penuh atau evaluasi singkat.

Tidak harus menggunakan jadwal tersebut secara persis. Intinya adalah membuat bisnis memiliki “jam buka” bagi diri sendiri.

Dengan begitu, pekerjaan sampingan tidak mengambil seluruh ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Bedakan Pekerjaan Penting dan Pekerjaan yang Hanya Terlihat Sibuk

Tidak semua aktivitas bisnis menghasilkan dampak yang sama.

Membalas satu per satu pesan yang sebenarnya bisa dijawab dengan template, misalnya, dapat menghabiskan waktu cukup banyak. Begitu juga membuat konten setiap hari tanpa strategi yang jelas.

Saat menjalankan bisnis sampingan, waktu merupakan aset terbatas. Karena itu, penting menentukan aktivitas yang paling memberikan hasil.

Buat daftar sederhana:

Aktivitas berdampak tinggi:

  • Mendapatkan pelanggan baru.
  • Menyelesaikan pesanan.
  • Meningkatkan kualitas produk.
  • Menjalin kerja sama.
  • Menjaga pelanggan lama.

Aktivitas yang bisa disederhanakan:

  • Membalas pertanyaan berulang.
  • Membuat invoice manual.
  • Menulis deskripsi produk yang sama.
  • Mengatur jadwal unggahan satu per satu.
  • Mencatat pesanan secara terpisah.

Jika memungkinkan, gunakan sistem otomatisasi atau template untuk pekerjaan yang berulang.

Tujuannya bukan membuat bisnis terasa sepenuhnya otomatis, melainkan mengurangi pekerjaan kecil yang menyita energi.

Side Hustle Tanpa Burnout Dimulai dari Target yang Masuk Akal

Salah satu penyebab kelelahan adalah target yang terlalu agresif.

Baru memulai bisnis sampingan satu bulan, tetapi sudah menuntut harus menghasilkan pendapatan tertentu. Ketika hasil belum sesuai harapan, jam kerja ditambah. Akhirnya waktu istirahat yang dikorbankan.

Padahal, bisnis sampingan memiliki konteks berbeda dengan bisnis yang dijalankan penuh waktu.

Seseorang yang bekerja sebagai karyawan tidak memiliki delapan jam tambahan setiap hari untuk mengembangkan usaha.

Karena itu, target perlu dibuat bertahap.

Misalnya:

  1. Bulan pertama: memahami produk dan menemukan pola kerja.
  2. Bulan kedua: mendapatkan beberapa pelanggan pertama.
  3. Bulan ketiga: memperbaiki sistem pelayanan.
  4. Bulan berikutnya: meningkatkan pendapatan secara realistis.

Dengan target seperti ini, proses membangun bisnis terasa lebih terukur.

Jangan mengukur perkembangan hanya dari omzet. Perhatikan juga apakah sistem kerja semakin efisien dan apakah bisnis mulai dapat dijalankan tanpa mengorbankan seluruh waktu pribadi.

Jangan Jadikan Waktu Istirahat sebagai Sisa

Kesalahan lain adalah memperlakukan istirahat sebagai sesuatu yang dilakukan jika semua pekerjaan sudah selesai.

Masalahnya, pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar habis.

Akan selalu ada pesan yang belum dibalas, ide konten yang belum dibuat, pelanggan yang belum dihubungi, atau strategi baru yang ingin dicoba.

WHO mendefinisikan burn-out sebagai fenomena pekerjaan yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Karakteristiknya mencakup rasa kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.

Karena itu, membangun side hustle tanpa burnout juga membutuhkan batas yang tegas.

Sisihkan waktu untuk tidur, bersosialisasi, berolahraga, atau sekadar tidak melakukan apa-apa.

Produktivitas yang terus dipaksakan tidak selalu menghasilkan progres lebih cepat. Dalam beberapa kondisi, tubuh dan pikiran yang terlalu lelah justru membuat kualitas keputusan menurun.

Gunakan Prinsip “Satu Bisnis, Satu Fokus”

Ketika melihat banyak peluang di internet, godaan untuk mencoba semuanya cukup besar.

Hari ini membuka toko online. Minggu depan mencoba affiliate. Bulan berikutnya ingin menjadi freelancer. Setelah itu tertarik membuka jasa baru.

Masalahnya, setiap model bisnis membutuhkan proses belajar.

Jika waktu yang tersedia hanya beberapa jam dalam seminggu, membagi fokus ke terlalu banyak proyek justru membuat tidak ada yang berkembang secara maksimal.

Lebih baik pilih satu model bisnis terlebih dahulu dan pahami:

  • Siapa target konsumennya.
  • Produk atau jasa apa yang ditawarkan.
  • Berapa waktu yang dibutuhkan setiap minggu.
  • Bagaimana proses mendapatkan pelanggan.
  • Aktivitas mana yang paling banyak menghasilkan.
  • Bagian mana yang dapat disederhanakan.

Setelah sistem mulai stabil, baru mempertimbangkan pengembangan lainnya.

Berani Mengurangi Aktivitas yang Tidak Lagi Efektif

Tidak semua ide bisnis harus dipertahankan selamanya.

Ada kalanya sebuah side hustle membutuhkan terlalu banyak energi tetapi hasilnya tidak sebanding. Kondisi tersebut perlu dievaluasi secara objektif.

Coba tanyakan:

  • Apakah bisnis ini masih memberikan keuntungan?
  • Apakah waktu yang digunakan terlalu besar?
  • Apakah pekerjaan utama mulai terganggu?
  • Apakah kesehatan dan waktu istirahat ikut terdampak?
  • Bagian mana yang bisa diperbaiki?
  • Apakah model bisnisnya perlu diubah?

Jika jawabannya menunjukkan lebih banyak kerugian daripada manfaat, mengurangi aktivitas bukan berarti gagal.

Justru kemampuan mengevaluasi merupakan bagian penting dari menjalankan usaha.

Bangun Sistem Sebelum Memperbesar Bisnis

Banyak orang ingin bisnis sampingan segera berkembang, tetapi belum memiliki sistem yang sederhana.

Akibatnya, setiap pelanggan baru justru menambah beban kerja secara langsung.

Sebelum mengejar pertumbuhan besar, coba rapikan beberapa hal dasar:

  • Gunakan format pencatatan pesanan yang sama.
  • Buat jawaban otomatis untuk pertanyaan umum.
  • Tentukan jam pelayanan.
  • Siapkan daftar harga yang jelas.
  • Gunakan kalender untuk menjadwalkan pekerjaan.
  • Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis.
  • Catat aktivitas yang paling menyita waktu.

Sistem sederhana dapat membantu bisnis tetap berjalan meskipun pemiliknya memiliki keterbatasan waktu.

Intinya, bisnis sampingan bukan kompetisi untuk menunjukkan siapa yang paling sibuk. Ada orang yang mampu bekerja 16 jam sehari, tetapi pola tersebut belum tentu cocok atau berkelanjutan bagi semua orang.

Tujuan utama membangun side hustle tanpa burnout adalah menciptakan tambahan penghasilan dengan cara yang tetap bisa dijalani dalam jangka panjang.

Jika pekerjaan utama sudah menyita sebagian besar energi, bisnis sampingan perlu dirancang dengan lebih cermat. Pilih model yang fleksibel, tentukan jam kerja, fokus pada aktivitas penting, buat sistem sederhana, dan jangan menganggap waktu istirahat sebagai hadiah yang baru boleh didapat setelah semua pekerjaan selesai.

Bisnis yang tumbuh perlahan tetapi dapat dijalankan secara konsisten sering kali lebih sehat dibandingkan usaha yang berkembang cepat, tetapi membuat pemiliknya kehabisan tenaga dalam beberapa bulan. Tambahan penghasilan memang penting, tetapi menjaga kapasitas diri agar tetap mampu bekerja dan mengambil keputusan dengan baik juga merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Subsidi Listrik 2027 Diusulkan Rp117,84 Triliun, Naik dari Tahun Sebelumnya

0

Pemerintah mengajukan anggaran Subsidi Listrik 2027 sebesar Rp117,84 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan alokasi subsidi listrik pada APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp100,83 triliun.

Usulan tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Pemerintah menilai kebutuhan anggaran subsidi energi perlu disesuaikan dengan sejumlah perkembangan ekonomi yang berpotensi memengaruhi biaya penyediaan tenaga listrik.

Bahlil mengatakan pemerintah telah menghitung kebutuhan Subsidi Listrik 2027 berdasarkan asumsi makroekonomi yang digunakan dalam penyusunan RAPBN. Salah satu faktor utama adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang diproyeksikan berada di level US$75 per barel.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi ICP dalam APBN 2026 yang berada pada level US$70 per barel. Selain harga minyak, pemerintah juga menggunakan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS serta inflasi sebesar 2,5 persen.

Menurut Bahlil, perubahan harga minyak dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah dapat memberikan pengaruh langsung terhadap besaran kebutuhan subsidi. Jika harga energi meningkat melampaui asumsi yang telah ditetapkan, pemerintah berpotensi melakukan penyesuaian anggaran sesuai kondisi yang berkembang.

Realisasi Subsidi dan Usulan Listrik Bersubsidi 2027

Hingga pertengahan 2026, pembayaran subsidi listrik telah mencapai Rp46,36 triliun. Sementara tagihan subsidi untuk Juli 2026 tercatat sebesar Rp8,12 triliun. Selain itu, terdapat koreksi subsidi pada triwulan pertama 2026 senilai Rp1,21 triliun yang masih menjalani proses verifikasi oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Pemerintah berharap pengalokasian Subsidi Listrik 2027 dapat menjaga keterjangkauan tarif listrik bagi kelompok masyarakat yang berhak menerima bantuan. Namun, besaran kebutuhan akhir tetap dipengaruhi oleh perkembangan indikator ekonomi, terutama harga energi dan kurs rupiah.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah juga mengusulkan perubahan volume sejumlah energi bersubsidi. Kuota solar subsidi direncanakan naik dari 18,64 juta kiloliter pada 2026 menjadi 19 juta kiloliter pada 2027.

Volume minyak tanah bersubsidi turut diusulkan meningkat dari 0,53 juta kiloliter menjadi 0,561 juta kiloliter. Penambahan tersebut mempertimbangkan masih adanya masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia timur yang menggunakan minyak tanah sebagai sumber energi rumah tangga.

Sementara kuota LPG 3 kilogram diusulkan tetap berada pada level 8 juta metrik ton tanpa tambahan volume. Pemerintah juga mempertahankan subsidi solar sebesar Rp1.000 per liter.

Destry Damayanti Terpilih sebagai Gubernur BI, Ini Susunan Pimpinan Baru

0

Destry Damayanti resmi mendapat persetujuan DPR RI untuk memimpin Bank Indonesia (BI) sebagai Gubernur periode 2026-2031. Pengesahan dilakukan dalam Rapat Paripurna DPR setelah Komisi XI menyampaikan hasil uji kepatutan dan kelayakan terhadap tiga calon pimpinan bank sentral.

Selain menetapkan Destry sebagai Gubernur BI, DPR juga menyetujui Aida S. Budiman untuk menduduki jabatan Deputi Gubernur Senior. Sementara itu, Solikin M. Juhro dipercaya mengisi posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Ketua DPR Puan Maharani meminta persetujuan anggota dewan terhadap laporan hasil uji kelayakan yang telah dilakukan Komisi XI. Seluruh peserta rapat paripurna kemudian menyatakan setuju terhadap penetapan ketiga calon tersebut, Selasa (1/9/2026).

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan pemilihan pimpinan Bank Indonesia merupakan bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi. Menurutnya, susunan kepemimpinan baru diharapkan dapat memperkuat peran bank sentral dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan menjaga stabilitas nasional.

Ia berharap pimpinan yang telah dipilih mampu membuat Bank Indonesia bekerja semakin fokus dalam menjalankan mandatnya, termasuk mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Destry Damayanti Gantikan Perry Warjiyo

Penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI sekaligus mengisi posisi yang sebelumnya dijabat Perry Warjiyo. Sebelum dibawa ke rapat paripurna, Komisi XI DPR telah lebih dahulu menyepakati Destry sebagai calon gubernur terpilih untuk masa jabatan 2026-2031.

Aida S. Budiman kemudian ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI untuk periode yang sama. Ia menggantikan posisi yang sebelumnya ditempati Destry. Adapun Solikin M. Juhro akan mengisi jabatan Deputi Gubernur yang ditinggalkan Aida.

Puan Maharani menyampaikan selamat kepada ketiga pimpinan BI terpilih. Ia berharap amanah yang diberikan DPR dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan integritas.

Destry Damayanti sendiri dikenal sebagai ekonom dengan pengalaman panjang di bidang ekonomi, kebijakan publik, pasar keuangan, dan perbankan sentral. Perempuan kelahiran Jakarta pada 1963 tersebut menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studi Regional Science di Cornell University, Amerika Serikat.

Sebelum berkarier di Bank Indonesia, Destry pernah menduduki sejumlah posisi strategis. Pengalamannya mencakup peran sebagai ekonom di sektor keuangan, penasihat ekonomi, Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN, hingga Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Kariernya di bank sentral kemudian berkembang hingga dipercaya menjadi Deputi Gubernur Senior dan Pejabat Gubernur Sementara. Dengan pengesahan DPR tersebut, Destry Damayanti kini resmi mengemban mandat sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk lima tahun ke depan bersama jajaran pimpinan baru.

Pasokan LPG 3 Kg Dipastikan Aman Meski Konsumsi Diprediksi Lampaui Kuota

0

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan Pasokan LPG 3 Kg bagi masyarakat akan tetap menjadi perhatian pemerintah meskipun konsumsi gas bersubsidi tersebut diproyeksikan melampaui kuota yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan pemerintah berkewajiban memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi. Karena itu, potensi peningkatan konsumsi LPG bersubsidi akan terus dipantau agar tidak menimbulkan kelangkaan di tengah masyarakat.

“Negara hadir untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap tersedia,” ujar Anggia, Senin (31/8/2026).

Menurut dia, pemerintah tidak ingin masyarakat yang memang membutuhkan justru mengalami kesulitan memperoleh LPG 3 kg. Evaluasi terhadap kebutuhan dan distribusi akan dilakukan secara berkala untuk menjaga Pasokan LPG 3 Kg tetap tersedia di berbagai daerah.

Jika kebutuhan riil menunjukkan perlunya penyesuaian kuota, pemerintah akan melakukan penghitungan dan evaluasi sesuai mekanisme yang berlaku. Namun, Anggia menegaskan penyelesaian persoalan LPG subsidi tidak cukup hanya dengan menambah volume kuota setiap tahun.

Konsumsi Terus Naik, Tata Kelola Jadi Sorotan

Pemerintah menilai peningkatan konsumsi LPG 3 kg harus diimbangi dengan pembenahan sistem penyaluran. Jika solusi hanya berfokus pada penambahan kuota, beban subsidi berpotensi terus meningkat tanpa menyelesaikan persoalan mendasar.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman sebelumnya memaparkan realisasi penyaluran LPG 3 kg hingga Juli 2026 telah mencapai 5,05 juta ton. Angka tersebut berasal dari kuota APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 8 juta ton.

Hingga akhir tahun, penyaluran diperkirakan mencapai 8,677 juta ton atau sekitar 108,46 persen dari kuota yang tersedia. Kondisi ini menunjukkan tren konsumsi LPG 3 kg masih terus mengalami peningkatan.

Untuk 2027, pemerintah juga memperkirakan kebutuhan akan semakin besar. Dalam RAPBN 2027, kuota LPG 3 kg direncanakan naik menjadi 8,9 juta ton.

Kenaikan tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap energi bersubsidi. Pemerintah pun menekankan pentingnya pengawasan distribusi agar Pasokan LPG 3 Kg benar-benar diterima oleh kelompok masyarakat yang berhak, sekaligus menjaga keberlanjutan anggaran subsidi energi di masa mendatang.

Bunga KPR Bisa Dipangkas hingga 1 Persen, Ini Program Baru dari BNI

0

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menawarkan berbagai program pembiayaan rumah dalam ajang Danantara Housing Expo 2026. Salah satu promo yang menjadi perhatian adalah potongan Bunga KPR hingga 1 persen melalui fitur KPR Cermat, yang dirancang untuk membantu nasabah mendapatkan cicilan hunian lebih ringan.

Pameran properti tersebut digelar pada 27-30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kabupaten Tangerang. Dalam kegiatan ini, BNI menggandeng lebih dari 140 pengembang dengan total pilihan mencapai sekitar 120 ribu unit hunian.

Sales & Strategy Execution Division Head BNI, Novian Prasetyo, mengatakan perseroan terus memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan. Hingga saat ini, BNI telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 1.000 pengembang di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Novian, kolaborasi tersebut memungkinkan BNI menyediakan pilihan hunian yang lebih beragam bagi nasabah. Perseroan juga ingin hadir sebagai mitra layanan keuangan jangka panjang, termasuk dalam proses pembelian rumah.

Fitur KPR Cermat Bantu Ringankan Cicilan

Melalui produk KPR Cermat, nasabah berpeluang memperoleh diskon Bunga KPR dengan menghubungkan rekening tabungan dan rekening pinjaman perumahan. Skema ini memungkinkan besaran potongan disesuaikan dengan saldo rata-rata yang dipertahankan nasabah.

Nasabah dapat memperoleh pengurangan bunga sebesar 0,5 persen apabila menjaga saldo rata-rata harian sebesar 10 persen dari nilai kredit yang dimiliki. Potongan Bunga KPR dapat bertambah seiring meningkatnya rata-rata saldo tabungan nasabah sesuai ketentuan yang berlaku.

Program tersebut menjadi salah satu strategi BNI untuk memberikan alternatif pembiayaan perumahan yang lebih fleksibel, terutama di tengah kebutuhan masyarakat terhadap skema cicilan yang sesuai kemampuan keuangan.

Tak hanya menyediakan pembiayaan rumah, BNI juga menyiapkan sejumlah promo untuk kebutuhan setelah memiliki hunian. Nasabah dapat menikmati diskon hingga Rp5 juta serta fasilitas cicilan 0 persen hingga 36 bulan menggunakan Kartu Kredit BNI dan aplikasi Wonder by BNI.

Promo itu dapat dimanfaatkan pada sejumlah merchant yang bekerja sama dengan BNI, termasuk untuk pembelian material bangunan, perangkat elektronik, hingga furnitur rumah.

Melalui rangkaian program tersebut, BNI berupaya memberikan layanan yang tidak berhenti pada proses pembelian properti. Pembiayaan, kebutuhan renovasi, hingga pengisian perlengkapan rumah menjadi bagian dari ekosistem layanan yang ditawarkan kepada nasabah.