Jumat, September 4, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 109

Heboh Blokir Rekening Nganggur, Gimana Dampaknya bagi Nasabah?

0

Blokir Rekening Nganggur menjadi isu hangat yang menyedot perhatian publik setelah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan bakal menonaktifkan rekening yang tidak aktif selama tiga bulan. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya pengawasan transaksi keuangan sekaligus pencegahan tindak pidana, termasuk pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Ketua PPATK, Ivan Yustiavandana, mengungkapkan bahwa fenomena rekening tidak aktif atau dormant berpotensi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Bahkan, dalam sejumlah kasus, rekening jenis ini kerap digunakan sebagai sarana pencucian dana hasil kejahatan. Oleh karena itu, PPATK tengah mendorong kerja sama dengan perbankan nasional agar lebih tegas dalam mengelola rekening-rekening yang sudah lama tidak dipakai bertransaksi.

Lebih lanjut, Ivan menyebut setidaknya ada 10 juta rekening bantuan sosial (bansos) yang saat ini terdeteksi dalam kondisi menganggur. Jumlah tersebut sangat besar dan dinilai berisiko tinggi apabila tidak segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

Sorotan Publik dan Kontroversi Terkait Kasu Viral ini!

Namun, kebijakan blokir rekening nganggur ini tak luput dari kritik. Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea misalnya, menyuarakan keprihatinannya atas rencana tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak bisa dipukul rata, apalagi banyak nasabah yang membuka rekening hanya untuk keperluan tertentu seperti menerima bantuan, tabungan anak, atau pembayaran gaji pekerja informal. Ia meminta pemerintah agar meninjau ulang kebijakan ini agar tidak merugikan masyarakat kecil.

Di sisi lain, perbankan sendiri sebenarnya sudah memiliki aturan internal mengenai rekening dormant. Biasanya, jika tidak ada transaksi selama periode tertentu (umumnya 6 hingga 12 bulan), maka status rekening akan berubah dan dikenai biaya administrasi tambahan. Namun dengan keterlibatan PPATK, pendekatan yang dilakukan kini lebih terfokus pada aspek keamanan dan deteksi dini aktivitas ilegal.

PPATK menegaskan bahwa tindakan pemblokiran akan dilakukan secara selektif dan berdasarkan hasil analisis menyeluruh. Nasabah masih memiliki kesempatan untuk mengaktifkan kembali rekeningnya jika memang masih dibutuhkan. Lembaga tersebut juga mengimbau masyarakat untuk lebih aktif memantau rekening miliknya agar tidak terdampak aturan ini.

Sejumlah bank besar pun mulai menyosialisasikan hal ini melalui media sosial dan layanan pelanggan. Mereka meminta nasabah untuk melakukan setidaknya satu transaksi setiap tiga bulan agar rekening tetap aktif.

Meski menimbulkan kontroversi, kebijakan ini dianggap sejalan dengan upaya memperkuat integritas sistem keuangan nasional. Pemerintah juga menekankan bahwa kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk merampas dana milik masyarakat, melainkan lebih pada tujuan pengamanan dan efisiensi sistem finansial di tengah maraknya kejahatan digital.

Pusing Milih Bisnis Sendiri atau Bisnis Partner? Simak Dulu Ini!

Banyak orang bermimpi punya usaha sendiri, tapi saat waktunya benar-benar mulai, muncul satu pertanyaan penting: Bisnis sendiri atau bisnis partner? Keduanya punya kelebihan dan kekurangan yang bisa menentukan arah kesuksesan jangka panjang. Apakah lebih nyaman bergerak bebas sebagai solopreneur, atau lebih strategis membangun bersama partner? Ini bukan soal benar atau salah, tapi soal gaya dan kesiapan.

Bicara soal bisnis sendiri atau bisnis partner, keputusan ini seringkali lebih personal daripada teknis. Ada yang merasa lebih aman membagi beban, ada juga yang lebih percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak mau repot berbagi keputusan.

Keuntungan dan Tantangan dari Membangun Bisnis sendiri atau Bisnis Bersama Partner

  • Jalani Sendiri: Kebebasan Penuh, Tapi Beban Juga Penuh

Menjadi solopreneur artinya kamu adalah pemimpin, eksekutor, hingga pengambil keputusan utama. Kebebasan dalam menentukan arah bisnis tentu jadi daya tarik utama. Nggak perlu rapat panjang atau diskusi alot untuk ambil keputusan. Semua bisa dieksekusi secepat ide muncul.

Tapi di balik itu, semua risiko juga ada di pundak sendiri. Ketika kehabisan ide, kehilangan motivasi, atau menghadapi masalah teknis, kamu harus cari solusinya sendiri. Belum lagi tekanan finansial yang mungkin lebih terasa karena tidak ada yang diajak berbagi modal atau kerugian.

  • Bareng Partner: Berbagi Peran, Berbagi Risiko

Punya partner dalam bisnis bisa memperkuat eksekusi dan mempercepat pertumbuhan. Kamu bisa membagi fokus: satu urus operasional, satu lagi fokus pemasaran. Bahkan secara psikologis, banyak pengusaha merasa lebih “kuat” ketika punya rekan yang bisa diajak brainstorming atau sekadar curhat soal beban kerja.

Namun, bisnis dengan partner juga butuh komitmen komunikasi dan kesepakatan yang jelas sejak awal. Visi yang tidak sejalan bisa jadi sumber konflik. Banyak bisnis bubar bukan karena ide gagal, tapi karena partner pecah kongsi.

  • Apa yang Harus Dipertimbangkan?

Sebelum memutuskan, coba jawab beberapa pertanyaan ini:

  1. Apakah kamu lebih suka bekerja sendiri atau berkolaborasi?

  2. Apakah kamu punya skill yang lengkap, atau justru butuh orang lain untuk saling melengkapi?

  3. Siapkah kamu berbagi keuntungan dan keputusan?

  4. Apakah kamu punya cukup modal untuk berjalan sendiri, atau lebih aman jika berbagi beban awal dengan partner?

Kalau kamu memilih punya partner, pastikan semua dibicarakan di awal: dari pembagian tugas, pengambilan keputusan, hak kepemilikan, sampai skenario terburuk seperti ingin keluar dari bisnis.

Sebaliknya, jika ingin solo, pastikan punya jaringan support yang kuat: mentor, komunitas, atau freelancer yang bisa bantu ketika beban kerja membludak.

Baik bisnis sendiri atau bisnis partner, yang paling penting adalah bagaimana kamu bisa konsisten dan berkomitmen. Banyak solopreneur sukses karena fokus dan lincah. Banyak juga bisnis partnership berkembang pesat karena kolaborasi yang solid. Yang penting bukan jumlah orang di awal, tapi bagaimana kamu menjalankan dan menyesuaikan strategi saat tantangan datang.

Kalau masih ragu, mungkin bisa mulai dari kecil sebagai solopreneur, dan seiring waktu buka peluang untuk kolaborasi ketika bisnis mulai tumbuh.

Daya Saing Kopi Nasional Meningkat, Ekspor Komoditas Kopi Tembus Tiongkok

0

Ekspor komoditas kopi Indonesia terus menunjukkan tren positif. Terbaru, sebanyak 57,6 ton kopi robusta dilepas dari Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) Subang menuju Tiongkok. Langkah ini menegaskan bahwa ekspor komoditas kopi kian terdorong lewat pemanfaatan SRG sebagai instrumen strategis yang dikelola oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), di bawah naungan Kementerian Perdagangan.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, saat pelepasan ekspor pada Senin (28/7), menyebut bahwa SRG bukan sekadar sarana tunda jual, melainkan juga menjadi alat pemberdayaan dan penguat posisi perdagangan komoditas Indonesia di pasar internasional. Ekspor kali ini dilakukan oleh Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (KPGLB) untuk perusahaan asal Tiongkok, Zhanjiang Fruit Home Trading Co. Ltd, dengan nilai transaksi mencapai USD 264.960 atau sekitar Rp4,31 miliar.

Sistem Resi Gudang Perkuat Daya Saing Komoditas Nasional

Menurut Wamendag Roro, penggunaan SRG memberikan keunggulan kompetitif yang nyata. Kualitas dan kuantitas komoditas tersertifikasi karena telah melalui pengujian sebelum disimpan, menjadikannya jaminan kepercayaan bagi pembeli global. “SRG bukan solusi domestik semata, tapi juga respons strategis atas kebutuhan pasar dunia akan mitra dagang yang kredibel,” ujarnya.

Hingga kini, KPGLB telah menjalin kontrak ekspor komoditas kopi dengan sejumlah negara, termasuk Mesir, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Lebanon, Vietnam, dan kini Tiongkok sebagai pasar terbarunya. Roro menegaskan bahwa peluang ekspor semakin terbuka, terlebih di tengah meningkatnya permintaan global dan tantangan perubahan iklim yang mengganggu pasokan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada Semester I-2025. Ekspor nonmigas pada Mei 2025 saja mencapai USD 24,61 miliar, naik 9,68 persen secara tahunan.

Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya menjelaskan, implementasi SRG terus mengalami pertumbuhan positif. Selama periode 2020–2024, nilai transaksi SRG tumbuh rata-rata 112 persen. Sementara pada 2025, hingga 16 Juli, transaksi telah mencapai Rp583,84 miliar, dengan pembiayaan sebesar Rp285,9 juta yang disalurkan oleh tujuh lembaga, baik bank maupun non-bank, seperti Bank BRI, BJB, BSI, dan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia.

Sejauh ini, pelaksanaan SRG telah mencakup 27 jenis komoditas dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, hingga pertambangan. Dari jumlah tersebut, 18 komoditas telah memanfaatkan skema Resi Gudang, termasuk kopi. Program ini sudah menjangkau 138 kabupaten/kota di 25 provinsi di seluruh Indonesia.

“Pelepasan ekspor kopi hari ini menunjukkan bahwa dengan pengelolaan SRG yang tepat, pelaku usaha lokal dapat langsung mengakses pasar ekspor dan meningkatkan daya saing komoditas nasional,” tutup Wamendag Roro.

Realisasi Investasi Capai Hampir Rp1.000 Triliun, Optimisme Industri Menguat

0

Realisasi investasi terus menunjukkan tren positif sepanjang paruh pertama tahun 2025. Data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat bahwa realisasi investasi, yang menjadi salah satu tolok ukur vital dalam keberlanjutan industri nasional, telah mencapai Rp942,9 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan 13,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, serta telah memenuhi hampir separuh target tahunan sebesar Rp1.905,6 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, dalam konferensi pers pada Selasa (29/7), menyampaikan bahwa realisasi investasi tersebut terdiri dari dua pilar utama: Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp510,3 triliun atau 54,1 persen, dan Penanaman Modal Asing (PMA) yang menyumbang Rp432,6 triliun atau 45,9 persen dari total capaian semester I.

Pulau Jawa dan Luar Jawa Seimbang dalam Penyerapan Investasi

Menariknya, penyebaran realisasi investasi kali ini cukup merata. Pulau Jawa mencatat kontribusi sebesar Rp466,9 triliun atau 49,5 persen dari total investasi, sementara wilayah di luar Jawa sedikit unggul dengan capaian Rp476,0 triliun atau 50,5 persen. Performa ini menunjukkan bahwa geliat industri di luar Pulau Jawa mulai menyaingi pusat-pusat ekonomi tradisional di barat Indonesia.

Capaian tersebut juga membawa dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja. Selama kuartal kedua, sektor industri berhasil menyerap 665.764 tenaga kerja, sehingga total serapan tenaga kerja selama semester I 2025 mencapai 1.259.868 orang.

Secara geografis, Jawa Barat menjadi wilayah dengan realisasi investasi tertinggi, yaitu Rp141 triliun (15 persen), diikuti DKI Jakarta dengan Rp140,8 triliun (14,9 persen), Jawa Timur Rp74,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp64,2 triliun, dan Banten Rp60,7 triliun.

Untuk PMA, Jawa Barat tetap menjadi magnet utama dengan investasi mencapai USD4,0 miliar, disusul Sulawesi Tengah (USD3,7 miliar), DKI Jakarta (USD3,2 miliar), Maluku Utara (USD2,5 miliar), dan Jawa Tengah (USD1,6 miliar). Sementara pada sisi PMDN, DKI Jakarta memimpin dengan Rp90,4 triliun, diikuti Jawa Barat Rp77,5 triliun, dan Jawa Timur Rp51 triliun.

Dengan capaian ini, realisasi investasi Indonesia tidak hanya menunjukkan resiliensi di tengah tantangan global, tetapi juga mempertegas peran vital sektor investasi dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Potensi Cuan di Bisnis Nail Art, Tren Kecantikan yang Bisa Jadi Cuan!

Belakangan ini, tren nail art makin booming di Indonesia. Dari kalangan remaja sampai ibu-ibu muda, semua mulai tertarik mempercantik kuku dengan desain unik dan estetik. Di media sosial, video tentang nail art sering viral. Dan yang menarik, banyak pelaku usaha baru yang sukses memanfaatkan Potensi Bisnis Nail Art ini dengan modal yang nggak terlalu besar. Nggak heran kalau sekarang makin banyak yang kepikiran: gimana ya kalau ikut terjun juga?

Nah, kalau kamu salah satu yang mulai tertarik dan penasaran seberapa besar Potensi Bisnis Nail Art, kali ini Berempat.com akan memberi sedikit panduan awalnya. Karena selain peluangnya yang makin luas, jenis usaha ini juga cocok buat kamu yang suka dunia kreatif dan punya ketelatenan.

Potensi di Bisnis Nail Art, Apa Saja yang Harus Disiapkan?

1. Skill Dasar Nail Art Wajib Dikuasai

Sebelum mikirin buka studio atau promo di Instagram, hal paling penting adalah punya keahlian dasar. Nail art bukan cuma soal gambar kuku, tapi juga teknik manicure, perawatan kuku, kebersihan alat, sampai pemilihan cat yang sesuai.

Untuk pemula, ada banyak kursus nail art bersertifikat yang bisa diikuti—baik online maupun offline. Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu sampai jutaan, tergantung level dan materi. Kursus ini penting banget untuk bangun kepercayaan pelanggan dan menjaga standar layanan.

2. Modal Awal, Bisa Disesuaikan Skala

Kabar baiknya, bisnis ini fleksibel. Kamu bisa mulai dari rumah dulu, dengan peralatan dasar seperti buffer, nail drill, gel polish, UV lamp, dan nail art brush. Untuk starter kit sederhana, modal sekitar 1,5–3 juta rupiah sudah cukup.

Kalau mau buka booth kecil di salon atau sewa tempat sendiri, tentu modal akan naik. Tapi kamu bisa mulai dari skala kecil sambil bangun portofolio lewat media sosial.

3. Latihan + Portofolio = Kunci Dilirik

Salah satu cara terbaik untuk promosi di awal adalah dengan menunjukkan hasil karya. Minta teman atau saudara jadi “model kuku”, lalu posting hasilnya secara konsisten di TikTok, Instagram, atau marketplace. Gunakan hashtag lokal seperti #nailartjakarta, #nailartmurah, atau #nailartistindonesia supaya mudah ditemukan.

4. Fokus ke Layanan dan Kebersihan

Bisnis nail art erat banget dengan kenyamanan pelanggan. Jadi, jaga alat-alat tetap steril, buat jadwal yang rapi, dan dengarkan masukan pelanggan. Pelayanan ramah bisa jadi nilai tambah yang bikin pelanggan balik lagi dan kasih testimoni positif.

5. Ikuti Tren dan Jangan Takut Bereksperimen

Nail art termasuk bisnis yang dinamis. Tren warna, bentuk kuku, hingga teknik terus berkembang. Ikuti tren dari akun luar negeri, lalu sesuaikan dengan selera lokal. Bisa juga kolaborasi dengan brand lokal untuk bikin promo unik.

Memulai bisnis nail art bukan cuma soal bisa gambar kuku, tapi tentang membangun pengalaman, kepercayaan, dan pelayanan yang bikin orang betah. Di tengah Potensi Bisnis Nail Art yang terus tumbuh, siapa cepat dia dapat. Mulai dari kecil, tapi dengan niat dan arah yang jelas, bisa jadi langkah awal menuju usaha yang stabil dan menguntungkan.

Diskon Belanja Online Bikin Boros atau Hemat? Simak Faktanya di Sini!

0

Belanja online emang bikin hidup praktis. Tinggal scroll, klik, transfer, lalu tinggal nunggu barang datang. Tapi yang bikin makin menggoda adalah label merah bertuliskan “Diskon 50%” atau “Flash Sale cuma hari ini!”. Pertanyaannya: apakah semua itu beneran bikin hemat? Atau cuma jebakan visual biar dompet cepat terkuras? Yuk, bahas bareng soal Diskon Belanja Online dan gimana cara hitung-hitungannya biar nggak ketipu janji palsu.

Di zaman serba digital, Diskon Belanja Online memang jadi strategi utama para e-commerce buat tarik perhatian. Tapi kalau nggak jeli, bisa-bisa kita malah boros karena tergoda diskon palsu, bukan karena butuh barangnya.

Cara Simpel Menghitung Diskon saat Belanja Online Biar Gak Ketipu Promo

1. Pahami Rumus Dasarnya

Diskon biasanya dihitung dari harga normal, lalu dikurangi dengan persentase potongan. Contoh:

Harga normal: Rp200.000
Diskon: 30%
Potongannya: 30% x Rp200.000 = Rp60.000
Harga setelah diskon: Rp200.000 – Rp60.000 = Rp140.000

Tapi hati-hati, kadang toko menaikkan harga normal dulu sebelum kasih diskon gede, jadi seolah potongannya besar padahal harga akhirnya sama aja kayak toko sebelah.

2. Bandingkan Harga di Beberapa Platform

Sebelum checkout, coba bandingkan harga produk yang sama di marketplace lain. Banyak yang kasih diskon besar, tapi setelah dicek di tempat lain, harga tanpa diskonnya malah lebih murah. Jangan malas ngecek!

3. Perhatikan Biaya Tambahan

Kadang kita udah happy dapat diskon, eh kena biaya ongkir mahal atau pajak tambahan. Jadi pastikan total tagihan akhir tetap masuk akal. Hitung semua, jangan cuma fokus ke potongan harga.

4. Gunakan Kode Promo dan Voucher

Beberapa platform kasih tambahan potongan lewat kode promo atau voucher. Ini bisa ditumpuk dengan diskon yang sudah ada. Tapi pastikan syarat dan ketentuannya jelas, ya—karena sering kali hanya berlaku di jam tertentu atau minimal belanja tertentu.

5. Gunakan Kalkulator Diskon Online

Kalau males ngitung manual, banyak situs atau aplikasi yang bantu hitung potongan harga secara otomatis. Cukup masukkan harga awal dan persentase diskon, hasilnya langsung keluar.

Berburu Diskon Itu Wajar, Tapi Tetap Butuh Logika Loh

Belanja cerdas bukan berarti pelit, tapi tahu kapan saatnya beli dan kapan harus tahan diri. Diskon memang bisa bantu hemat pengeluaran—asal memang beli karena perlu, bukan karena lapar mata. Kadang justru promo yang terlihat menggoda malah bikin kita beli barang yang nggak terlalu dibutuhkan.

Kalau kamu memang punya list kebutuhan yang sudah direncanakan, diskon bisa sangat membantu. Tapi kalau setiap kali lihat promo langsung checkout tanpa mikir, bisa-bisa dompet menjerit di akhir bulan.

Diskon Belanja Online bisa jadi kawan atau jebakan, tergantung cara kita menyikapinya. Dengan sedikit usaha buat cek harga, hitung potongan, dan menahan diri, kamu bisa benar-benar hemat dan tetap happy. Belanja boleh, tapi jangan sampai jadi korban diskon!

Regulasi Kawasan Industri Diperkuat, Pemerintah Kejar Target Ekonomi 8 Persen

0

Upaya memperkuat peran kawasan industri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional kian gencar dilakukan pemerintah. Salah satu langkah krusial adalah melalui pembenahan Regulasi Kawasan Industri yang dinilai menjadi kunci agar sektor ini mampu berkontribusi maksimal terhadap target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menyatakan bahwa penguatan kawasan industri harus disertai reformasi aturan yang menyeluruh dan terintegrasi.

“Regulasi Kawasan Industri menjadi fondasi penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat dan kompetitif,” ujar Tri dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (27/7). Ia menambahkan, saat ini kawasan industri telah menyerap investasi senilai Rp6.173 triliun dan membuka lebih dari 2,3 juta lapangan kerja berdasarkan data SIINas hingga akhir 2024.

Penyempurnaan Aturan dan Dorongan Ekosistem Ramah Investasi

Seiring dengan tumbuhnya 52 kawasan industri baru dalam lima tahun terakhir, total kawasan industri di Indonesia kini mencapai 170, dengan tingkat okupansi sebesar 58,39 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kawasan industri masih menjadi magnet investasi, baik lokal maupun asing.

Untuk mendukung hal tersebut, Kemenperin tengah menyusun sejumlah regulasi turunan dari PP Nomor 20 Tahun 2024 tentang Perwilayahan Industri. Beberapa di antaranya termasuk standar kawasan industri dan revisi aturan terkait pengelolaan lingkungan hidup (RKL-RPL) yang kini memasuki tahap harmonisasi lintas kementerian.

Tri menekankan pentingnya regulasi yang komprehensif, mulai dari aspek kelembagaan, perizinan, pengadaan tanah, hingga pengelolaan limbah dan tanggung jawab sosial. Ia bahkan menyebut perlunya undang-undang khusus agar ada kepastian hukum yang lebih kuat bagi pengelola dan investor.

Tak hanya soal aturan, Kemenperin juga mendorong transformasi kawasan industri menjadi pusat ekosistem industrialisasi yang modern dan berkelanjutan. Pendekatan ini mencakup integrasi teknologi tinggi, pendidikan vokasi, serta prinsip industri hijau yang ramah lingkungan.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma’ruf Maulana, menyoroti pentingnya terobosan dalam menarik investasi. Ia memperkenalkan program F3YI (Free for 5 Years Investment), yang menawarkan pembebasan biaya sewa lahan selama lima tahun, kemudahan perizinan, dan opsi kepemilikan setelah masa sewa berakhir.

“Langkah ini kami harapkan bisa meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat,” jelasnya.

Dengan kolaborasi regulatif dan inovatif ini, kawasan industri diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Angka Kemiskinan di Indonesia Turun, Tapi Banyak yang Masih Hidup Pas-pasan

0

Angka Kemiskinan di Indonesia kembali mencatat penurunan. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2025, jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta jiwa. Meski secara statistik ini adalah capaian positif, banyak pihak menilai bahwa Angka Kemiskinan di Indonesia belum mencerminkan realita sosial-ekonomi masyarakat yang masih serba kekurangan dan rentan.

Penurunan angka ini disebut sebagai yang terendah sejak dua dekade terakhir. Namun, sejumlah pengamat dan ekonom mengkritik metode pengukuran kemiskinan yang digunakan pemerintah, terutama terkait dengan garis kemiskinan yang ditetapkan hanya sebesar Rp609.160 per kapita per bulan. Bila dihitung dalam satu rumah tangga yang rata-rata berjumlah 4–5 orang, angka tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Data Positif, Realitas Masih Suram

BPS menyebut bahwa penurunan angka kemiskinan terutama terjadi di wilayah perdesaan. Tingkat kemiskinan di desa menurun menjadi 11,03 persen, sementara di wilayah perkotaan justru sedikit naik menjadi 6,73 persen. Artinya, meski ada perbaikan, tekanan ekonomi justru semakin dirasakan di kota-kota besar.

Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di perkotaan juga mengalami kenaikan. Ini menunjukkan bahwa jurang ketimpangan konsumsi antara masyarakat miskin dan garis kemiskinan semakin lebar. Banyak dari mereka yang secara teknis tidak masuk dalam kategori miskin, namun hidup dalam kondisi ekonomi yang jauh dari layak.

Pengamat ekonomi menyebut penurunan angka kemiskinan ini cenderung bersifat semu. Jika menggunakan standar kemiskinan global yang ditetapkan Bank Dunia untuk negara menengah atas, yakni sekitar USD 6,85 per hari atau setara Rp3 juta per bulan, maka jumlah penduduk miskin di Indonesia sesungguhnya bisa mencapai lebih dari separuh populasi.

Tak hanya itu, pola konsumsi masyarakat miskin pun menjadi sorotan. Banyak dari mereka yang mengalokasikan penghasilan untuk kebutuhan seperti beras, rokok, dan kopi, namun minim alokasi untuk gizi seimbang atau kesehatan. Ini memperkuat anggapan bahwa keluar dari garis kemiskinan secara statistik tidak serta-merta membuat kualitas hidup menjadi lebih baik.

Pemerintah Didesak Revisi Standar Garis Kemiskinan

Sejumlah pihak mendesak pemerintah untuk meninjau ulang indikator garis kemiskinan agar sesuai dengan standar hidup layak. Selain itu, program pengentasan kemiskinan ekstrem yang menargetkan 0 persen pada 2025 juga dinilai perlu perbaikan, termasuk integrasi data dan distribusi bantuan sosial yang tepat sasaran.

Meski angka kemiskinan menurun, tantangan terbesar justru terletak pada membangun ketahanan ekonomi keluarga rentan yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan. Tanpa intervensi kebijakan yang menyentuh akar masalah seperti akses pendidikan, lapangan kerja produktif, dan jaminan kesehatan, penurunan ini dikhawatirkan hanya menjadi angka-angka kosong yang tidak membawa perubahan nyata.

Pemerintah pun diharapkan lebih transparan dan realistis dalam menyusun data dan strategi. Penurunan angka memang penting, tapi yang lebih krusial adalah memastikan bahwa masyarakat benar-benar hidup lebih sejahtera, bukan sekadar tidak masuk dalam kategori miskin versi statistik nasional.

Konflik Thailand Kamboja Picu Krisis Kemanusiaan, ASEAN dan AS Turun Tangan

0

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali memburuk. Memasuki hari ketiga, konflik Thailand Kamboja telah menelan sedikitnya 33 korban jiwa dan memaksa lebih dari 168 ribu orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Kedua negara saling tuding sebagai pemicu serangan baru di perbatasan, di tengah tekanan internasional untuk segera mencapai kesepakatan damai.

Bentrok bersenjata dilaporkan terjadi di sejumlah desa perbatasan, menyusul ledakan ranjau yang melukai lima tentara Thailand pada Kamis lalu. Insiden itu memicu saling serang, yang kemudian meluas ke berbagai titik. Thailand bahkan menutup beberapa pos perbatasan dan menarik pulang duta besarnya dari Phnom Penh.

ASEAN dan Trump Dorong Gencatan Senjata

Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataannya pada Sabtu (26/7), mengaku telah menghubungi pemimpin Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri sementara Thailand Phumtham Wechayachai. Ia menyampaikan bahwa kedua pihak sepakat untuk segera bertemu dan membahas gencatan senjata demi menghentikan konflik yang telah berlangsung sengit.

“Ini adalah kehormatan bagi saya bisa terlibat. Mereka memiliki sejarah dan budaya yang kaya. Saya berharap perdamaian bisa segera tercapai,” tulis Trump melalui akun media sosialnya.

Trump juga menyebut AS tengah menjalin negosiasi dagang dengan kedua negara, namun menegaskan tidak akan melanjutkan kesepakatan tersebut selama konflik masih berlangsung.

Sementara itu, tekanan juga datang dari ASEAN dan Dewan Keamanan PBB yang mendesak dilakukannya deeskalasi. ASEAN diminta segera memainkan peran mediasi untuk meredakan konflik Thailand Kamboja, yang dinilai berpotensi meluas.

Kementerian Pertahanan Kamboja mengklaim bahwa Thailand telah melancarkan serangan artileri ke Provinsi Pursat sejak Sabtu pagi, menyebutnya sebagai tindakan agresi yang terencana dan tanpa provokasi. Tensi juga memanas di wilayah Koh Kong, di mana empat kapal perang Thailand dilaporkan berlayar mendekati perairan Kamboja.

Berapa Jumlah Korban dari Kedua Negara Tersebut?

Dalam pertempuran selama dua hari terakhir, otoritas Kamboja mencatat 12 korban jiwa tambahan, menjadikan total korban tewas di pihak mereka menjadi 13. Thailand pun melaporkan satu tentara gugur, sementara mayoritas korban lain disebut merupakan warga sipil.

Di sisi lain, militer Thailand membantah menargetkan area sipil dan justru menuding Kamboja memanfaatkan warga sebagai tameng hidup dengan menempatkan persenjataan di dekat pemukiman. Thailand juga menyatakan pasukannya berhasil memukul mundur serangan Kamboja di wilayah Trat dan memperingatkan bahwa tindakan agresi tidak akan dibiarkan.

Selain jatuhnya korban, konflik ini juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Pemerintah Kamboja menyebut lebih dari 37 ribu warganya harus dievakuasi dari tiga provinsi perbatasan, sementara otoritas Thailand mencatat lebih dari 131 ribu orang telah mengungsi dari desa-desa perbatasan.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata permanen, namun komunitas internasional terus mendorong agar kedua negara menghentikan kekerasan dan mencari jalan damai melalui dialog.

Mau Cuan dari TikTok Affiliate? Ini Daftar Produk yang Banyak Dicari!

TikTok bukan cuma tempat joget-joget atau viral-viralan receh. Buat yang jeli, ini ladang cuan yang bisa dikeruk lewat fitur TikTok Affiliate. Tapi kuncinya, bukan asal jualan. Harus paham dulu Produk untuk TikTok Affiliate apa saja yang memang dicari orang dan punya potensi laku keras. Nggak lucu kan, udah capek bikin konten, tapi yang klik cuma dua orang?

Kalau kamu pengin mulai terjun ke TikTok Affiliate, penting banget riset sejak awal. Di paragraf ini, aku ulang lagi biar nancep: jangan asal pilih produk—cari Produk untuk TikTok Affiliate yang memang dicari, relate dengan audiens kamu, dan punya potensi viral.

Daftar Produk Potensial yang Sering Laku di TikTok Affiliate

1. Produk Kecantikan dan Skincare

Kategori ini selalu panas di TikTok. Dari serum glowing, lip tint lokal, sampai alat facial mini—semuanya gampang viral kalau dikemas dalam video review, before-after, atau tutorial. Rahasianya: tampilkan perubahan atau manfaat yang bisa dilihat dalam hitungan detik.

Tips: Pilih produk yang harganya masih masuk akal, antara 30–150 ribuan. Orang cenderung impulsif kalau melihat hasilnya meyakinkan.

2. Barang Aesthetic untuk Kamar atau Meja Kerja

Lampu tidur LED, rak minimalis, atau alat-alat DIY room decor banyak banget penggemarnya. Kemas kontennya dengan POV estetik, atau review barang-barang lucu yang “bikin betah di kamar.” Audiens muda pasti tergoda.

3. Alat Masak Unik dan Praktis

Mau jualan centong nasi lipat atau pemotong bawang otomatis? Bisa banget. Konten masak simple, alat dapur lucu, dan harga terjangkau biasanya punya engagement tinggi. Apalagi kalau ada embel-embel “buat anak kos,” “buat ibu-ibu sibuk,” atau “anti ribet.”

4. Fashion Item Kekinian

Produk seperti crop top, oversized t-shirt, celana kulot, atau tote bag custom sangat cocok untuk target Gen Z. Konten “OOTD under 100K” atau “inspirasi gaya ke kampus” seringkali dapet FYP kalau dikemas fun dan relate.

5. Aksesori Gadget

Ring light, tripod mini, holder HP, atau mic clip-on termasuk barang wajib buat konten kreator pemula. Nah, kamu bisa bikin konten review sambil kasih tutorial pemakaian—sekali promosi, dapet 2 keuntungan: edukasi dan affiliate sales.

6. Mainan Edukatif dan Produk Anak

Jangan remehkan market ibu-ibu. Video unboxing mainan edukatif, puzzle kayu, buku cerita interaktif, atau alat belajar anak sering viral. Banyak orang tua suka cari referensi dari TikTok karena visualnya langsung dan informatif.

Gimana Cara Memilih Produk yang Pas untuk Akunmu?

Satu hal penting: sesuaikan produk dengan karakter akunmu. Jangan maksa jualan alat masak kalau kontenmu selama ini seputar fashion. Algoritma TikTok menyukai konsistensi. Jadi, bangun niche dulu, lalu pilih produk yang nyambung.

Selain itu, cek performa produk di TikTok Shop. Ada fitur filter yang bisa bantu lihat produk paling laku, harga termurah, dan rating tertinggi. Dari situ, kamu bisa pilih produk yang udah punya konversi bagus.

Dan jangan lupa: makin banyak konten, makin tinggi peluang closing. Jadi konsisten upload, analisis konten mana yang perform, lalu ulangi polanya.

TikTok Affiliate bukan soal hoki, tapi soal strategi. Pilih produk yang sesuai audiens, bikin konten yang fun dan informatif, dan terus evaluasi. Dengan pendekatan yang tepat, TikTok bisa jadi mesin cuan tanpa harus stok barang atau repot kirim-kirim.