Ironi Industri Sepatu: Ekspansi dan Investasi Naik, PHK Massal Terus Terjadi

0
197
Ironi Industri Sepatu: Ekspansi dan Investasi Naik, PHK Massal Terus Terjadi
Ironi Industri Sepatu: Ekspansi dan Investasi Naik, PHK Massal Terus Terjadi (Dok Foto: Detik)
Pojok Bisnis

Penutupan pabrik sepatu Bata di Purwakarta menambah panjang daftar pabrik manufaktur yang tutup satu per satu. Bukan hanya industri sepatu, penutupan pabrik juga terjadi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Meski tidak sampai tutup, banyak pabrik di sektor ini melaporkan pemutusan hubungan kerja (PHK), baik dengan merumahkan karyawan terlebih dahulu atau langsung memutus kontrak kerja.

Tren PHK di pabrik sepatu diprediksi akan terus berlanjut, menurut pengusaha dan kelompok pekerja. Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mencatat bahwa hingga tahun 2023, beberapa pabrik sepatu telah melakukan PHK terhadap ribuan pekerja.

Contohnya, PT Parkland World Indonesia (PWI) 1 di Serang, Banten, yang mengurangi sekitar 5.000 pekerja, dan PT Panarub Industry di Tangerang, Banten, yang memangkas sekitar 1.400 pekerja. PT Nikomas Gemilang juga melakukan PHK dengan menawarkan pengunduran diri sukarela kepada sekitar 1.600 pekerjanya.

Pertumbuhan dan Investasi di Sektor Industri Tekstil dan Sepatu

Namun, sektor industri tekstil, kulit, dan alas kaki diklaim sedang mengalami ekspansi dan peningkatan investasi, yang dianggap sebagai penopang ekonomi Indonesia. Menurut Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki (ITKAK) Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, industri ini tumbuh positif pada triwulan pertama 2024. Pertumbuhan kedua subsektor tersebut masing-masing mencapai 5,90 persen (yoy) dan 2,64 persen (yoy) berdasarkan data BPS.

PT Mitra Mortar indonesia

Adie menyampaikan bahwa peningkatan performa ini juga meningkatkan kontribusi industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi 19,28 persen (yoy), naik dari 18,57 persen (yoy) pada periode yang sama di tahun 2023. Menurutnya, pertumbuhan ini didorong oleh permintaan luar negeri dan domestik yang masih kuat.

Pada triwulan I 2024, permintaan luar negeri untuk produk tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki meningkat dengan volume sebesar 7,34 persen (yoy) untuk tekstil, 3,08 persen (yoy) untuk pakaian jadi, dan 12,56 persen (yoy) untuk alas kaki. Selain pesanan ekspor, stabilitas konsumsi rumah tangga domestik juga membantu pertumbuhan industri ini, terutama selama Pemilu 2024, hari libur nasional, cuti bersama, dan momen Lebaran.

Tantangan dan Peluang di Tengah Krisis

Dari sisi investasi, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, serta industri tekstil dan pakaian jadi juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2022, nilai investasi mencapai Rp24,6 triliun, meningkat menjadi Rp27,9 triliun pada tahun 2023, dan pada triwulan I 2024 tercatat sebesar Rp6,9 triliun. Proporsi investasi ini, rata-rata pada periode 2022-2024, adalah 40% untuk industri tekstil, 20% untuk industri pakaian jadi, dan 40% untuk industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki.

Adie juga menyoroti bahwa beberapa industri mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja, terutama di Jawa Barat, di mana industri kecil menengah (IKM) kekurangan tenaga penjahit dan industri baru alas kaki di Indramayu memerlukan 5.000 pekerja. Dia optimistis bahwa industri ini akan terus bertumbuh, terutama dengan adanya peraturan baru yang membatasi impor pakaian bekas dan memperketat pengawasan pasar.

CEO PT Sumber Kreasi Fumiko, Yongki Komaladi, menyatakan bahwa banyak pabrik sepatu lain di dalam negeri juga menghadapi risiko yang sama dengan Bata. Industri sepatu skala kecil menengah (IKM) juga terancam. Dia mengharapkan pemerintah tidak hanya bereaksi sesaat, tetapi juga merumuskan penyebab kondisi ini dan mengambil langkah antisipatif, seperti memfasilitasi produk IKM untuk meningkatkan branding produk lokal dan mengkampanyekan cinta produk dalam negeri.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan