Senin, Mei 11, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 99

Payakumbuh Mantapkan Diri sebagai Kota Rendang, Industri Lokal Tembus Pasar Global

Rendang tak hanya dikenal sebagai ikon kuliner khas Minangkabau, tetapi juga telah menjelma menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi yang menopang kehidupan pelaku industri kecil di berbagai daerah. Salah satu daerah yang menonjol dalam pengembangan olahan rendang adalah Kota Payakumbuh, yang mendapat julukan “The City of Rendang”.

Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menyampaikan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat industri rendang. Menurutnya, langkah strategis seperti menjadikan rendang sebagai bagian dari bekal konsumsi jemaah haji asal Indonesia merupakan bentuk diplomasi budaya yang cerdas sekaligus membuka peluang pasar internasional.

Payakumbuh Bangun Ekosistem Industri Rendang Berstandar Global

“Peluang ekspor produk rendang sangat besar, terutama dalam mendukung program Indonesia Spice Up the World yang menargetkan peningkatan ekspor kuliner Indonesia hingga dua miliar dolar AS,” ujar Reni dalam pernyataan resmi di Jakarta, Selasa (13/5). Ia juga meresmikan Gedung Produksi IKM Rendang Gadih saat kunjungannya ke Payakumbuh.

Payakumbuh sendiri telah lama menjadi pusat pengembangan IKM rendang. Melalui sentra produksi yang terpusat, pelaku usaha difasilitasi tidak hanya dalam hal infrastruktur, tetapi juga melalui inovasi dan edukasi lewat program School of Randang. Program ini mengajarkan teknik memasak rendang autentik sekaligus mempersiapkan IKM untuk memenuhi standar keamanan pangan global.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Mulai dari fluktuasi harga dan ketersediaan bahan baku, perlunya adopsi teknologi demi menjaga kualitas produk, hingga peningkatan higienitas dan fasilitas produksi. Untuk itu, Kemenperin hadir dengan beragam program dukungan—dari bantuan alat produksi, sertifikasi keamanan pangan seperti HACCP dan SNI, hingga fasilitasi kemasan dan promosi lewat pameran dagang.

Salah satu IKM yang menonjol dalam program ini adalah IKM Rendang Gadih, yang kini telah berevolusi menjadi perusahaan bernama PT Gadih Minang Anugrah. Mereka memproduksi lebih dari 20 varian rendang siap saji dan bumbu instan tanpa bahan pengawet, dengan kapasitas produksi mencapai empat ton per bulan. Fasilitas barunya menandai langkah transformasi dari industri rumah tangga menuju manufaktur skala menengah yang modern dan higienis.

Menurut Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Bayu Fajar Nugroho, IKM Rendang Gadih telah memiliki berbagai sertifikasi penting seperti P-IRT, BPOM MD, NKV, dan HACCP. Tak hanya itu, mereka juga menjadi Juara 2 dalam ajang Indonesia Food Innovation 2023 dan meraih predikat IKM Unggulan OVOP Bintang 3 dari Kemenperin pada 2024.

Apple Siap Naikkan Harga iPhone Terbaru, Pengaruh Ketegangan AS–China?

0

Apple dikabarkan tengah bersiap menaikkan harga seri iPhone yang akan dirilis pada musim gugur tahun ini. Kenaikan harga tersebut disebut sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk menyesuaikan dengan pembaruan desain dan fitur-fitur baru, bukan akibat dari beban tarif impor dari China ke Amerika Serikat.

Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber internal perusahaan, Apple berupaya keras agar langkah tersebut tidak dikaitkan langsung dengan kebijakan tarif pemerintah AS terhadap produk impor asal China. Meski demikian, Apple tetap berada dalam pusaran ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia tersebut.

Desain Lebih Tipis dan Inovasi Baru Jadi Alasan Utama

Kenaikan harga iPhone seri terbaru, yang disebut-sebut akan hadir dengan desain lebih ramping dalam lini iPhone 16, merupakan imbas langsung dari pembaruan desain tersebut. Model dasar iPhone yang sebelumnya diluncurkan dengan harga sekitar 799 dolar AS diprediksi bisa melonjak hingga 1.142 dolar AS, menurut analis dari Rosenblatt Securities. Kenaikan ini mencapai sekitar 43 persen, jika skenario terburuk tarif benar-benar berdampak.

Produksi iPhone Pro dan Pro Max masih sangat bergantung pada pabrik Apple di China, yang membuat perusahaan tetap terpapar risiko geopolitik. Meski CEO Apple, Tim Cook, beberapa kali menyampaikan rencana untuk memindahkan sebagian besar produksi iPhone tujuan pasar AS ke India, namun infrastruktur manufaktur di negara tersebut dinilai belum siap menangani produksi model-model premium secara penuh.

Tarik Ulur Strategi Produksi di Tengah Tekanan Tarif

Pada awal Mei lalu, Apple mengungkapkan bahwa tarif impor yang berlaku saat ini berpotensi menambah beban biaya perusahaan hingga 900 juta dolar AS selama kuartal April–Juni. Untuk mengurangi dampak tersebut, Apple mengumumkan akan mengalihkan sebagian besar pasokan iPhone untuk pasar AS dari India.

Meski begitu, peralihan ini baru bersifat parsial. Apple masih menghadapi tantangan besar dalam mengurangi ketergantungan terhadap China, terlebih di tengah meningkatnya tensi dagang dengan AS. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan ini makin meruncing, mendorong banyak perusahaan teknologi besar untuk meninjau ulang strategi rantai pasokan global mereka.

Amazon pun sempat terseret dalam isu serupa. Pada bulan lalu, unit usaha Haul milik Amazon yang menjual barang murah mendapat sorotan Gedung Putih karena mempertimbangkan memasukkan tarif ke dalam harga jual, yang dianggap sebagai langkah politis oleh pemerintahan Trump.

Bagi Apple, keputusan menaikkan harga iPhone musim gugur nanti bukan tanpa risiko. Langkah ini bisa menjadi ujian besar bagi loyalitas konsumen, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan semakin ketatnya persaingan di pasar teknologi.

Meskipun PHK Global, Panasonic Tetap Andalkan Pabrik di Indonesia

Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh Panasonic Holdings tidak berdampak terhadap kegiatan usaha Panasonic di Indonesia. Hal ini disampaikan Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, merespons pemberitaan yang ramai diperbincangkan.

“PHK itu terjadi di luar negeri dan tidak menyentuh operasional Panasonic di Indonesia. Justru, pabrik mereka di sini menjadi basis produksi untuk ekspor ke lebih dari 80 negara,” jelas Febri di Jakarta, Senin (12/5).

Ia menyebutkan, posisi tersebut mencerminkan daya saing industri elektronik nasional yang masih sangat kuat meskipun menghadapi tekanan global. Namun begitu, Febri tak menampik bahwa saat ini utilisasi industri elektronik sedang berada di level yang belum optimal, yakni 50,64 persen pada kuartal I tahun 2025, jauh di bawah angka sebelum pandemi yang sempat menyentuh 75,6 persen.

Transformasi Industri Jadi Kunci Hadapi Ketatnya Persaingan Global

Rendahnya tingkat utilisasi, menurut Febri, menjadi peringatan bagi industri untuk segera berbenah. “Pasar global semakin kompetitif. Kalau tidak cepat beradaptasi—baik lewat teknologi, efisiensi, maupun inovasi—kita bisa tertinggal,” katanya.

Pemerintah, kata dia, berkomitmen untuk meningkatkan kembali kinerja industri elektronik dalam negeri. Salah satunya adalah dengan memperkuat perlindungan pasar dari produk impor dan menjaga keberlangsungan investasi yang sudah ada. “Kita juga aktif mendorong masuknya investasi baru untuk memperluas kapasitas produksi nasional,” tambahnya.

Febri juga menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan sebagai pasar domestik yang besar. Hal ini menjadi nilai strategis bagi pelaku industri untuk tumbuh. Pemerintah pun terus memperkuat regulasi seperti kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) demi memperluas penggunaan produk lokal di pasar nasional.

“Pasar Indonesia adalah salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, dan kami pastikan ada dukungan penuh dari pemerintah untuk memperkuat basis produksi dalam negeri,” ujarnya.

Selain itu, Kementerian Perindustrian telah menjalankan berbagai program untuk mendongkrak produktivitas sektor ini. Mulai dari pelatihan sumber daya manusia industri, pemberian insentif, hingga pembangunan ekosistem manufaktur yang berbasis teknologi tinggi.

“Kami percaya, dengan dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, sektor elektronik Indonesia tetap memiliki prospek cerah dan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional,” tutup Febri.

Modal Hobi Masak, Bisa Kok Punya Bisnis Kuliner Sendiri

Siapa bilang hobi masak cuma bisa jadi hiburan di dapur? Nyatanya, banyak pelaku usaha sukses yang berawal dari iseng-iseng masak di rumah, lalu berakhir dengan antrean pelanggan tiap hari. Kalau kamu punya passion di dunia kuliner, bisa banget lho dikembangkan jadi ladang bisnis. Apalagi di Indonesia, makanan bukan cuma kebutuhan, tapi juga gaya hidup dan hiburan. Pertanyaannya sekarang: bisa nggak sih hobi masak beneran jadi bisnis yang jalan? Jawabannya: bisa banget! Asal tahu caranya dan peka melihat peluang.

Langkah Awal: Uji Coba ke Kerabat Terdekat

Mulai dari yang sederhana. Coba masakan kamu ke orang terdekat: keluarga, teman, tetangga. Dengarkan feedback mereka, bukan cuma soal rasa, tapi juga tampilan, porsi, dan harga. Jangan takut dikritik, karena justru dari situ kamu bisa terus berkembang. Dari situ juga kamu bisa tahu, mana menu yang paling diminati dan layak dijadikan andalan.

Sekarang ini, orang nggak cuma beli karena enak. Visual, cerita di balik makanan, hingga kemasan jadi nilai jual tersendiri. Misalnya, kamu punya sambal rumahan resep turun-temurun—ceritakan asal-usulnya. Atau kamu punya menu unik, seperti dessert dengan nama lucu? Justru itu bisa bikin orang penasaran. Branding bukan soal mahal, tapi soal konsisten dan punya ciri khas.

Jenis Kuliner yang Diprediksi Tetap Prospek ke Depan

Nah, kalau kamu masih bingung mau jualan makanan apa, berikut beberapa jenis kuliner yang diprediksi tetap diminati dalam waktu dekat:

  1. Frozen food homemade
    Praktis dan bisa disimpan lama. Cocok untuk konsumen sibuk yang ingin makanan rumahan tanpa ribet.

  2. Makanan sehat dan plant-based
    Gaya hidup sehat makin digemari. Produk seperti salad, rice bowl sehat, atau minuman jamu kekinian punya pasar tersendiri.

  3. Jajanan lokal yang dimodifikasi
    Misalnya cilok isi mozzarella, keripik pedas varian rasa, atau martabak mini isi viral. Kreativitas jadi kunci!

  4. Dessert box dan camilan kekinian
    Cocok untuk segmen anak muda. Tampilan menarik + rasa enak = konten sosial media yang jalan sendiri lewat review.

  5. Minuman berbasis kopi atau teh kekinian
    Warung kopi kecil atau booth minuman dengan rasa baru tetap jadi favorit, asal punya keunikan dibanding yang lain.

Jadi, jawabannya jelas: dari hobi masak bisa banget lahir bisnis kuliner yang cuan! Tapi tentu nggak cukup hanya bisa masak. Perlu belajar manajemen, strategi pemasaran, dan adaptasi dengan tren. Jangan takut mulai dari kecil—yang penting mulai dulu. Siapa tahu, dapur mungil kamu sekarang adalah langkah awal menuju brand kuliner besar di masa depan.

Puncak Libur Waisak, Jabotabek Ditinggalkan Ratusan Ribu Kendaraan

0

Jelang libur panjang Hari Raya Waisak 2025, arus kendaraan keluar dari wilayah Jabodetabek tercatat mengalami lonjakan signifikan. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. melaporkan sebanyak 529.487 kendaraan tercatat meninggalkan kawasan tersebut dalam periode H-3 hingga H-1, yakni pada 9 hingga 11 Mei 2025.

Data tersebut merupakan hasil rekap dari empat gerbang tol utama, yakni Gerbang Tol Cikupa (arah Merak), Ciawi (arah Puncak), Cikampek Utama (menuju Trans Jawa), serta Kalihurip Utama (menuju Bandung). Bila dibandingkan dengan volume lalu lintas pada hari normal, angka ini mengalami peningkatan sebesar 17,25 persen.

Arah Timur Dominasi Arus Keluar

Menurut Lisye Octaviana, selaku Kepala Grup Komunikasi Perusahaan dan Pengembangan Komunitas Jasa Marga, arah timur menjadi tujuan utama pemudik. “Dari total kendaraan yang keluar Jabodetabek, 47,3 persen atau 250.433 kendaraan mengarah ke wilayah timur seperti Trans Jawa dan Bandung,” jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (12/5).

Rinciannya, sebanyak 114.797 kendaraan melaju ke arah Trans Jawa melalui GT Cikampek Utama. Jumlah ini menunjukkan lonjakan 32,09 persen dari hari biasa. Sementara itu, 135.636 kendaraan menuju Bandung melalui GT Kalihurip Utama, naik 23,80 persen dari kondisi normal.

Secara keseluruhan, arus menuju timur melonjak 27,47 persen dari hari biasa.

Peningkatan Juga Terjadi di Arah Barat dan Selatan

Tak hanya ke timur, arah barat yang mengarah ke Merak juga mencatatkan peningkatan, meski tidak sebesar arah lainnya. Tercatat 144.754 kendaraan melintasi GT Cikupa, meningkat 0,84 persen dari lalu lintas normal.

Sementara itu, arus kendaraan ke arah selatan, khususnya kawasan Puncak melalui GT Ciawi, mencapai 134.300 kendaraan. Angka ini melonjak hingga 20,38 persen.

Melihat tingginya mobilitas masyarakat, Jasa Marga turut mengingatkan para pengendara untuk merencanakan perjalanan secara matang. “Kami imbau pengguna jalan memastikan kondisi kendaraan dan tubuh dalam keadaan baik, mengecek kecukupan BBM dan saldo e-toll, serta memanfaatkan rest area bila merasa lelah saat berkendara,” tutup Lisye.

Ia juga menegaskan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas serta mengikuti arahan petugas demi kelancaran dan keselamatan selama perjalanan libur panjang Hari Raya Waisak ini.

Budaya Lokal Jadi Kunci Sukses IKM Kreatif Masuk Pasar Global

Kementerian Perindustrian terus berkomitmen dalam mengakselerasi pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah (IKM), khususnya sektor kreatif, agar mampu bersaing di pasar internasional. Salah satu strategi yang dijalankan adalah memaksimalkan potensi nilai budaya sebagai identitas sekaligus keunggulan kompetitif produk lokal.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menyebutkan bahwa kekayaan budaya dan kualitas sumber daya manusia Indonesia merupakan modal besar yang harus dioptimalkan. “Kita memiliki peluang besar di sektor kreatif. Laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 dari BPS mencatat sekitar 16 juta pelaku ekonomi kreatif di Indonesia,” ungkap Reni dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (12/5).

Menurut Reni, subsektor kriya dan fesyen menjadi penyumbang utama dalam sektor ekonomi kreatif, baik dari sisi nilai tambah ekonomi maupun kontribusi ekspor. Oleh karena itu, dua subsektor ini mendapat perhatian khusus dalam pengembangan IKM yang berorientasi ekspor.

Modernisasi Alat Produksi dan Dukungan Ekspor

Salah satu upaya konkret yang dijalankan Kemenperin adalah Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan. Melalui program ini, pelaku IKM bisa mendapatkan pengembalian dana sebesar 25–40 persen dari pembelian mesin produksi baru. Tujuannya, agar pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas, kualitas, dan diversifikasi produk secara lebih efisien.

“Dengan pembaruan peralatan, produktivitas meningkat dan daya saing pun bertambah. Dana reimbursement juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bisnis lain,” jelas Reni.

Ia juga menekankan bahwa produk yang mengangkat kearifan lokal cenderung lebih diminati pasar internasional. “Apabila nilai budaya lokal bisa berakulturasi dengan budaya global tanpa kehilangan jati diri, maka itu akan menjadi kekuatan tersendiri,” tambahnya.

Kisah Sukses Sweda: Dari Kotagede ke Panggung Dunia

Keberhasilan pendekatan ini tercermin dari pengalaman IKM Sweda, perajin perak asal Kotagede, Yogyakarta. Berkat program restrukturisasi, Sweda mampu mengembangkan proses produksi dengan mesin 3D printer yang menunjang desain aksesori kustom secara lebih presisi.

Dengan menggabungkan filosofi budaya Nusantara dan unsur budaya populer Amerika Serikat, Sweda berhasil menembus pasar ekspor, dengan 90 persen produksinya dikirim ke AS. “Sweda menjadi contoh bagaimana modernisasi alat dapat memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi produksi,” kata Reni.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menyebut Sweda juga berhasil menjalin relasi dengan komunitas musik hip-hop dan lowrider di AS. Bahkan, berkat kontribusinya terhadap budaya lowrider, Sweda diundang tampil di ajang Smithsonian Folklife Festival 2025 di Washington DC sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia.

“Ini bukti bahwa IKM kita bisa bersaing dan dihargai di level internasional,” tutur Budi. Ia juga menambahkan bahwa Sweda sebelumnya telah memproduksi piala untuk ajang seperti MotoGP, Superbike, dan Piala Presiden.

Budi berharap kisah sukses Sweda menjadi inspirasi bagi pelaku IKM di sektor kreatif lainnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus memberikan dukungan melalui pelatihan, pameran internasional, fasilitasi pembiayaan, dan modernisasi alat kerja agar lebih banyak IKM bisa go global.

“Dengan sinergi budaya dan teknologi, serta keberanian menembus pasar global, IKM Indonesia punya peluang besar untuk menjadi kekuatan baru dalam perekonomian nasional,” tutup Budi.

Teknologi Bisa Tingkatkan Bisnis, Tapi Jangan Sampai Jadi Bumerang

Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, teknologi jadi bagian yang nggak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dunia bisnis. Mulai dari UMKM sampai perusahaan besar, semuanya kini bersentuhan dengan yang namanya teknologi: dari sistem kasir digital, pemasaran lewat media sosial, sampai otomatisasi laporan keuangan. Tapi, muncul satu pertanyaan besar: apakah teknologi ini benar-benar meningkatkan performa bisnis, atau justru bisa jadi bumerang?

Teknologi Bisa Meningkatkan Performa, Tapi…

Kalau dimanfaatkan dengan benar, teknologi bisa jadi senjata pamungkas untuk bisnis. Contohnya, aplikasi kasir atau POS (Point of Sales) bisa membantu pemilik warung atau kafe kecil mencatat transaksi dengan rapi, bahkan tanpa perlu repot bawa kalkulator atau catat manual. Sistem ini juga membantu pemantauan stok barang secara real-time.

Di sisi pemasaran, media sosial bisa menjadi alat promosi yang luar biasa. Bayangkan, tanpa perlu sewa billboard mahal, pelaku bisnis bisa menjangkau ribuan calon pelanggan hanya dengan satu postingan yang menarik. Bahkan, tools seperti Google Ads atau Meta Ads bisa menargetkan audiens yang sangat spesifik.

Begitu juga dengan software akuntansi atau manajemen proyek. Semua bisa dikelola lebih rapi, cepat, dan transparan. Ini tentunya membuat pengambilan keputusan jadi lebih efisien dan berbasis data.

Tapi Bisa Jadi Masalah Kalau Nggak Diatur dengan Bijak

Meski banyak manfaatnya, teknologi juga bisa jadi pedang bermata dua. Misalnya, terlalu mengandalkan teknologi tanpa memahami dasarnya bisa membuat pemilik bisnis jadi ‘keblinger’. Banyak yang asal beli software mahal tanpa tahu cara pakainya. Akibatnya? Fitur nggak terpakai, biaya membengkak, dan performa bisnis nggak kunjung membaik.

Belum lagi urusan keamanan data. Banyak bisnis yang belum paham pentingnya perlindungan informasi pelanggan. Padahal, kalau sampai bocor, bisa fatal dan menurunkan kepercayaan konsumen.

Selain itu, teknologi juga bisa membuat interaksi jadi terlalu kaku. Chatbot memang efisien, tapi kalau nggak dikombinasikan dengan sentuhan manusia, pelanggan bisa merasa diabaikan. Padahal, pelayanan yang personal masih jadi kunci loyalitas konsumen.

Jadi, Apa Solusinya?

Teknologi bukan musuh, tapi alat bantu. Kuncinya adalah bagaimana kita mengelolanya. Jangan ikut-ikutan pakai tools canggih hanya karena sedang tren. Pilihlah teknologi yang benar-benar dibutuhkan oleh bisnis kamu saat ini. Evaluasi dampaknya secara berkala. Dan yang paling penting, pastikan kamu atau tim kamu bisa mengoperasikan alat itu dengan optimal.

Jangan lupa juga bahwa yang menjalankan bisnis tetap manusia. Jadi, teknologi sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti peran manusia sepenuhnya.

Pemerintah Tegaskan Reformasi TKDN Bukan Karena Tekanan Asing

0

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa langkah pemerintah dalam reformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) merupakan bagian dari strategi jangka panjang dan bukan keputusan reaktif atas tekanan pihak manapun.

Agus menilai, reformasi tersebut telah dirancang jauh sebelum munculnya dinamika terkini. “Reformasi TKDN ini sudah mulai digodok sejak Februari 2025. Jadi, bukan karena tren sesaat atau tekanan eksternal,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dirilis di Jakarta, Sabtu (10/5).

Mendorong Industri Dalam Negeri Lebih Kompetitif

Menurut Menperin, reformasi TKDN menjadi bagian dari langkah konkret pemerintah untuk memperkuat sektor industri nasional melalui optimalisasi penggunaan produk dalam negeri. Kebijakan ini juga senada dengan instruksi Presiden dalam memperdalam struktur industri serta mendorong peningkatan daya saing nasional.

“Kami telah mengevaluasi pelaksanaan TKDN selama ini. Reformasi ini dibuat agar lebih responsif terhadap kondisi industri, lebih transparan, serta mampu memberikan dampak maksimal bagi pelaku usaha dalam negeri,” jelasnya.

Dalam proses reformasi ini, Agus memastikan keterlibatan para pemangku kepentingan agar kebijakan yang dihasilkan dapat diimplementasikan secara efektif dan tepat sasaran.

Perpres Baru Jadi Dasar Hukum Penguatan TKDN

Sebagai dasar hukum, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 46 Tahun 2025 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Peraturan ini memperkuat kerangka pelaksanaan TKDN, termasuk penyempurnaan sistem verifikasi, pemberian insentif kepada industri, serta peningkatan pengawasan agar penggunaan produk lokal semakin optimal.

Kementerian Perindustrian berharap, lewat kebijakan ini, Indonesia dapat mempercepat kemandirian industri serta memperkuat rantai pasok manufaktur nasional.

Penerbitan Perpres 46/2025 juga mendapat sambutan positif dari pelaku industri, khususnya karena adanya tambahan empat sub ayat dalam Pasal 66 yang mengatur skema prioritas belanja pemerintah dan BUMN/BUMD terhadap produk ber-TKDN dan Produk Dalam Negeri (PDN).

Adapun urutan prioritas yang ditetapkan dalam pasal tersebut mencakup:

  1. Jika terdapat produk dengan akumulasi skor TKDN dan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) melebihi 40 persen, maka hanya produk dengan TKDN di atas 25 persen yang dapat dibeli pemerintah.

  2. Bila tidak ada produk dengan total skor TKDN dan BMP di atas 40 persen, namun ada yang memiliki TKDN lebih dari 25 persen, maka produk tersebut dapat dibeli.

  3. Jika tidak tersedia produk dengan TKDN di atas 25 persen, pemerintah diperbolehkan membeli produk dengan nilai TKDN lebih rendah.

  4. Apabila seluruh produk yang ada tidak memiliki sertifikasi TKDN, maka pembelian dapat diarahkan pada produk yang terdaftar sebagai PDN dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

Dengan skema baru ini, produk impor tidak bisa dibeli oleh pemerintah jika keempat tingkatan prioritas di atas masih tersedia. “Regulasi ini menyempurnakan aturan sebelumnya dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2021. Fokus kita adalah mengedepankan produk dalam negeri,” tegas Agus.

UMKM Kuliner Dapat Dukungan Pemerintah untuk Masuki Pasar Bergizi Gratis Nasional

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menekankan pentingnya sertifikasi dan standarisasi mutu sebagai fondasi utama bagi pelaku UMKM kuliner untuk menembus pasar nasional hingga internasional. Hal tersebut disampaikannya saat menutup ajang Chef Expo 2025 di Jakarta, Sabtu (10/5).

“Memiliki resep turun-temurun saja tidak cukup. Kalau ingin naik kelas dan bisa bersaing, pelaku UMKM kuliner wajib mengedepankan standar kualitas dan mengantongi sertifikasi seperti SPP-IRT, Halal, BPOM, hingga CPPOB atau GMP,” ujar Maman dalam pidatonya.

Ia menjelaskan bahwa kementeriannya secara aktif mendorong berbagai program peningkatan kapasitas bagi pelaku usaha kuliner. Mulai dari pelatihan dan pendampingan teknis, sosialisasi pentingnya sertifikasi, fasilitasi proses perizinan, hingga kemudahan akses pembiayaan.

“Kami bahkan sudah menjalin kerja sama dengan Polri sebagai bagian dari inisiatif pembinaan UMKM dalam hal sertifikasi,” tambahnya.

Potensi Ekspor dan Tren Gaya Hidup Sehat

Maman juga menyoroti meningkatnya permintaan terhadap produk makanan yang sehat dan berkualitas, seiring perubahan gaya hidup masyarakat global. Menurut data dari Kementerian Perdagangan, ekspor produk makanan dan minuman dari Indonesia mencapai 3,78 miliar dolar AS, atau menyumbang sekitar 21,36 persen dari ekspor non-migas.

“Ini menunjukkan bahwa cita rasa khas nusantara punya magnet tersendiri di pasar internasional. Selain membuka peluang ekspor, industri ini juga memperkuat identitas kuliner bangsa dan menciptakan lapangan kerja,” jelasnya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat pernyataan tersebut. Tercatat, pada kuartal I 2025, industri makanan dan minuman tumbuh paling tinggi di antara sektor pengolahan dengan pertumbuhan 0,42 persen (yoy). Saat ini, terdapat sekitar 4,85 juta unit usaha kuliner di Tanah Air yang menyerap hingga 9,8 juta tenaga kerja.

Sinergi UMKM dan Chef, Jembatan Menuju Kelas Dunia

Ajang Chef Expo 2025 disebut Maman bukan sekadar perayaan bagi para pelaku boga, tetapi juga platform strategis memperkuat sinergi antara chef profesional dan UMKM.

“Saya mengajak para chef untuk berperan sebagai duta produk lokal, memperkenalkan cita rasa UMKM kepada dunia lewat dapur mereka,” katanya.

Ia pun menyinggung program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didorong Presiden RI. Menurutnya, program ini bisa menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM kuliner untuk menjadi bagian dari solusi penyediaan pangan sehat dan terjangkau.

“Saat ini ada lebih dari 10 juta pelaku UMKM yang bisa berperan sebagai penyedia bahan baku makanan bergizi. Ini kesempatan strategis untuk menjadikan UMKM sebagai garda depan ketahanan pangan nasional,” tegas Maman.

Mengakhiri sambutannya, ia menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemain utama di industri kuliner global.

World App Viral, Pemerintah Pastikan Investigasi untuk Jaga Data Publik

0

Aplikasi World App mendadak viral di Indonesia setelah menawarkan imbalan ratusan ribu rupiah bagi warga yang bersedia memindai retina mata mereka. Namun, di balik popularitasnya, muncul kekhawatiran besar soal keamanan data pribadi dan potensi penyalahgunaan informasi sensitif.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) langsung bergerak cepat menanggapi fenomena ini. Mereka mengumumkan akan meninjau ulang kebijakan privasi dari pengembang World App serta meminta klarifikasi mengenai praktik pengumpulan data biometrik di Indonesia. Komdigi menegaskan bahwa pemerintah akan menyampaikan penjelasan resmi terkait temuan ini dalam waktu dekat.

Diketahui, World App, yang merupakan bagian dari proyek kripto Worldcoin, telah mengumpulkan data retina warga Indonesia sejak tahun 2021. Tujuan mereka adalah menciptakan identitas digital global yang unik dengan menggunakan pemindaian bola mata. Namun, pemerintah mengingatkan bahwa pengumpulan data semacam ini tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan eksplisit dan harus sesuai dengan regulasi perlindungan data yang berlaku.

Kasus World App Juga Terjadi di Luar Negeri

Tak hanya di Indonesia, World App dan Worldcoin juga tengah diselidiki di sedikitnya lima negara lain. Otoritas di berbagai negara mulai mempertanyakan transparansi, keamanan, dan tujuan akhir dari data biometrik yang dikumpulkan. Para pakar keamanan siber menyebut, meskipun teknologi yang digunakan canggih, tidak ada jaminan bahwa data tersebut akan selalu aman, terutama jika jatuh ke tangan yang salah.

Menurut laporan CNBC Indonesia, Komdigi bahkan memutuskan untuk sementara membekukan aktivitas World App di Tanah Air sambil menunggu hasil investigasi mendalam. Langkah ini dilakukan untuk melindungi kepentingan publik dan memastikan bahwa praktik perusahaan tidak melanggar Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP).

Di sisi lain, para pakar hukum digital menegaskan pentingnya edukasi publik terkait nilai dan risiko data pribadi. Banyak warga tergiur keuntungan cepat tanpa memahami potensi ancaman di baliknya. Pakar menyarankan agar masyarakat membaca dengan teliti syarat dan ketentuan aplikasi sebelum menyetujui pemindaian biometrik atau menyerahkan informasi sensitif lainnya.

Fenomena viral World App ini menjadi pengingat penting bahwa di era digital, data pribadi adalah aset berharga. Masyarakat harus memahami bahwa “uang instan” yang ditawarkan bisa jadi berujung pada kerugian yang jauh lebih besar bila data mereka jatuh ke tangan yang salah. Pemerintah pun diharapkan memperkuat pengawasan agar kasus serupa tidak terulang.