Senin, Mei 11, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 100

Sembilan Sektor Industri Digenjot Turunkan Emisi, Kemenperin Siap Kawal

Kementerian Perindustrian semakin mempertegas komitmennya dalam mempercepat langkah dekarbonisasi di sektor industri, demi mendukung target ambisius Net Zero Emission yang dicanangkan tercapai pada 2050. Hal ini dinilai penting karena sektor industri merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar, yang cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di balik tantangan itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melihat adanya peluang besar yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku industri.

“Dekarbonisasi bukan hanya kewajiban, tapi juga membuka akses ke konsumen yang semakin peduli pada produk ramah lingkungan. Selain itu, kebijakan emisi yang ketat menghadirkan peluang pasar baru. Apalagi, saat ini sekitar 57 persen investor menunjukkan minat lebih besar untuk menanamkan modalnya pada investasi yang berkelanjutan,” ujar Agus dalam sambutannya pada acara Mata Lokal Festival 2025 yang mengangkat tema “Cutting Edge For Local Sustainability” di Jakarta, Kamis (8/5).

Strategi, Sertifikasi, dan Apresiasi Industri Hijau

Sebagai wujud nyata, Kementerian Perindustrian telah menyusun Strategi Dekarbonisasi Industri yang mencakup Peta Jalan Dekarbonisasi, implementasi Mekanisme Perdagangan Karbon, dan penguatan kebijakan pengurangan emisi. Tak hanya itu, penerapan ekonomi sirkular, pemanfaatan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU), hingga pengembangan Standar Industri Hijau menjadi fokus utama guna mendorong efisiensi sekaligus keberlanjutan dalam proses produksi.

“Saat ini, ada sembilan sektor industri prioritas untuk pengurangan emisi, antara lain semen, ammonia, logam, pulp dan kertas, tekstil, kimia, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta transportasi,” tambah Agus.

Sejauh ini, Kemenperin telah menerbitkan 149 Sertifikasi Standar Industri Hijau hingga akhir 2024, yang meliputi 62 standar dan 46 regulasi. Sertifikasi ini mencakup berbagai aspek, seperti pengelolaan bahan baku, efisiensi energi, pengelolaan air, dan pengurangan limbah, untuk mendorong transformasi industri yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, sejak 2010, Kemenperin secara konsisten memberikan Penghargaan Industri Hijau kepada lebih dari 1.165 perusahaan yang berhasil menunjukkan kinerja terbaik dalam penerapan prinsip hijau. Apresiasi ini terbagi dalam lima kategori, mulai dari kinerja terbaik, transformasi menuju industri hijau, lembaga sertifikasi, auditor industri hijau, hingga pemerintah daerah yang proaktif mendukung transformasi hijau.

Tak berhenti di sana, Kemenperin juga tengah mengembangkan ekosistem Green Industry Service Company (GISCO), yang bertujuan menjembatani kebutuhan pendanaan hijau antara industri dan lembaga pembiayaan. Menurut Agus, biaya transformasi menuju industri hijau memang tidak kecil, sehingga pemerintah harus turun tangan menyiapkan skema pembiayaan yang meringankan beban pelaku usaha.

“Banyak perusahaan masih melihat transformasi hijau sebagai beban biaya, bukan investasi. Ini tantangan klasik yang harus kita jawab bersama. Pemerintah hadir untuk memastikan skema pendanaan tersedia, agar transformasi industri kita berjalan lebih cepat menuju keberlanjutan,” pungkasnya.

Biar Bisnis Nggak Tekor Diam-Diam, Akuntansi Harus Diutamakan

Saat mendengar kata “akuntansi,” banyak orang langsung membayangkan angka-angka membingungkan, laporan keuangan tebal, atau pekerjaan membosankan yang cuma bisa dipahami oleh orang berkacamata tebal di balik meja kerja. Padahal, akuntansi itu jauh lebih penting dan menarik dari sekadar soal hitung-hitungan. Buat kamu yang punya bisnis, baik itu bisnis kecil-kecilan seperti jualan online atau bisnis besar dengan banyak karyawan, akuntansi memegang peran vital pagi pemilik bisnis. Kenapa? Karena akuntansi adalah bahasa utama yang dipakai untuk memahami kesehatan keuangan usahamu.

Mengapa Akuntansi Itu Penting bagi Bisnis?

Bayangkan kamu jalan-jalan tanpa peta atau GPS. Bisa jadi kamu nyasar atau buang waktu muter-muter. Nah, akuntansi adalah peta bagi bisnis. Dengan catatan keuangan yang rapi, kamu bisa tahu persis: berapa banyak uang yang masuk, berapa yang keluar, dan apakah bisnismu untung atau malah tekor.

Selain itu, akuntansi membantu kamu mengambil keputusan yang lebih cerdas. Mau nambah stok barang? Mau buka cabang baru? Atau malah harus hemat pengeluaran? Semua keputusan ini nggak bisa asal tebak. Kamu butuh data keuangan yang jelas, supaya langkahmu nggak salah arah.

  • Membantu Bisnis Taat Hukum

Bisnis yang baik juga harus patuh pada pajak dan aturan. Dengan pencatatan akuntansi yang benar, urusan bayar pajak jadi lebih mudah dan nggak bikin pusing. Bisnis juga terhindar dari masalah hukum yang bisa muncul kalau catatan keuanganmu berantakan.

Kalau suatu saat kamu mau cari modal tambahan, entah dari investor atau pinjaman bank, laporan keuangan yang rapi jadi senjata utama. Investor atau bank pasti mau lihat, apakah bisnismu layak didanai. Tanpa laporan akuntansi yang baik, sulit sekali meyakinkan mereka.

  • Jadi Alat Evaluasi dan Perbaikan

Akuntansi juga berperan penting sebagai cermin bisnis. Dari laporan keuangan, kamu bisa tahu bagian mana yang sedang bagus, dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Mungkin biaya operasionalmu terlalu besar, atau omzet-mu stagnan. Semua ini bisa diidentifikasi lewat analisis keuangan.

Intinya, akuntansi bukan cuma soal catat-mencatat angka. Ini adalah fondasi penting yang membantu bisnismu tumbuh, sehat, dan siap menghadapi tantangan. Jangan tunggu bisnismu besar dulu baru peduli akuntansi. Justru, dari usaha kecil pun sudah harus dibiasakan. Dengan begitu, kamu nggak hanya berbisnis asal jalan, tapi benar-benar mengelolanya dengan profesional.

Kalau butuh, kamu juga bisa mulai belajar akuntansi dasar atau pakai software akuntansi yang banyak tersedia saat ini. Yang penting, jangan biarkan laporan keuanganmu jadi misteri. Karena dari situlah kamu bisa memetakan masa depan bisnismu dengan lebih percaya diri.

Istana Bantah Efisiensi Anggaran Jadi Penyebab Perlambatan Ekonomi

0

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran di kementerian/lembaga yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah faktor utama di balik perlambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2025.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal pertama 2025 hanya mencapai 4,87 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dikaitkan secara langsung, efisiensi anggaran sebenarnya adalah langkah realokasi. Jadi, bukan sekadar pemotongan, tapi mengarahkan dana ke kegiatan yang lebih produktif,” jelas Prasetyo saat memberi pernyataan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (9/5).

Ia menekankan, perlambatan ekonomi tidak bisa disebabkan oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, realisasi belanja pemerintah yang belum optimal di awal tahun juga berperan, meski pada saat bersamaan ada sektor-sektor yang tetap tumbuh, seperti pertanian yang mencatat kenaikan di atas 10 persen.

Geopolitik Global dan Transisi Pemerintahan Jadi Faktor Penentu Kondisi Perekonomian Tanah Air

Selain faktor internal, Prasetyo juga menyoroti pengaruh ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan kebijakan perdagangan dari negara mitra utama. “Kita tahu, beberapa konflik luar negeri yang lama belum selesai, sekarang malah muncul ketegangan baru, misalnya antara negara India dan Pakistan. Ini turut memberi tekanan pada perekonomian,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi pada masa transisi pemerintahan bukanlah fenomena baru. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan pada Rabu (7/5), Luhut Binsar mengungkapkan bahwa pada periode pergantian pemerintahan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama dan kedua juga sempat berada di bawah 5 persen.

“Jadi, koreksi seperti ini lumrah dalam fase penyesuaian. Yang perlu dilakukan sekarang adalah percepatan belanja negara supaya roda ekonomi kembali bergerak,” kata Luhut.

Pemerintah sendiri kini tengah fokus pada percepatan realisasi anggaran serta mendorong belanja produktif agar target pertumbuhan ekonomi nasional dapat tercapai dalam beberapa kuartal yang akan datang.

Indonesia Incar Posisi Pemain Utama Industri Halal Dunia, Gimana Langkah Pemerintah?

Kemenperin semakin gencar mendorong penguatan ekosistem industri halal nasional demi menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama di pasar halal global. Dengan jumlah penduduk muslim yang besar dan kapasitas industri yang kompetitif, Indonesia diyakini punya modal kuat untuk mencapai target ambisius ini. Tak hanya untuk kebanggaan nasional, pengembangan sektor halal juga diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, membuka lebih banyak lapangan kerja, sekaligus menopang target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2028–2029.

“Potensi Indonesia di industri halal global sangat besar. Kita punya populasi muslim yang besar dan kekuatan di sektor-sektor halal seperti makanan-minuman, farmasi, hingga kosmetik. Ini menjadi peluang besar untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertema Halal Across Borders: A Global Dialogue on Faith, Business, and Sustainability di Jakarta, Rabu (7/5).

Indonesia Naik Peringkat di Ekonomi Syariah Dunia

Eko juga menyoroti perkembangan positif posisi Indonesia dalam ekonomi syariah dunia. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy Report 2023/24, Indonesia kini menduduki peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator, tepat di bawah Malaysia dan Arab Saudi.

Untuk mendukung pencapaian ini, Kemenperin telah menggulirkan sejumlah langkah strategis: mulai dari memperkuat infrastruktur industri halal, memfasilitasi pengembangan industri, meningkatkan citra produk halal Indonesia, memberikan edukasi bagi pelaku usaha dan masyarakat, hingga memperluas pasar lewat kerja sama internasional serta partisipasi dalam pameran global.

Dalam diskusi yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari lintas sektor dan negara, Kemenperin menegaskan pentingnya industri halal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi global yang inklusif dan berkelanjutan.

FGD ini juga mengangkat isu penting seputar kesadaran sertifikasi halal di kalangan pelaku usaha, peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam proses sertifikasi, termasuk untuk produk impor, serta strategi perlindungan konsumen melalui pemenuhan standar halal nasional.

Sejumlah narasumber terkemuka hadir dalam forum ini, mulai dari perwakilan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), pakar halal internasional, hingga lembaga sertifikasi halal. Diskusi mendalam berlangsung mengenai harmonisasi standar antarnegara, pemanfaatan teknologi dalam rantai pasok halal, serta peluang kolaborasi lintas negara dalam promosi dan sertifikasi produk halal.

Melalui forum ini, Kemenperin menyerukan semua pihak untuk memperkuat sinergi demi membangun industri halal nasional yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama di kancah global.

World App Viral, Pakar Sebut Scan Mata Bisa Bocorkan Data Sensitif!

0

Fenomena baru tengah viral di media sosial Indonesia, aplikasi World App menawarkan imbalan uang hingga ratusan ribu bagi siapa saja yang bersedia memindai iris matanya. Meski terdengar menggiurkan, pakar keamanan siber mengingatkan bahwa di balik imbalan instan ini tersimpan risiko besar terkait keamanan data pribadi.

World App, bagian dari proyek kripto Worldcoin, mengklaim menggunakan pemindaian mata untuk menciptakan identitas digital unik, mencegah penyalahgunaan akun palsu, dan memperluas inklusi keuangan global. Namun, di Indonesia, aplikasi ini menuai kontroversi. Banyak warga tergiur hanya karena iming-iming uang tunai, tanpa benar-benar memahami dampaknya.

Ahli hukum menekankan bahwa pemindaian retina masuk dalam kategori data pribadi sensitif. Menurut UU Pelindungan Data Pribadi (PDP), data biometrik seperti ini memerlukan persetujuan eksplisit dan harus dijaga ketat oleh pihak pengumpulnya. Sayangnya, tidak semua pengguna membaca syarat dan ketentuan yang panjang sebelum menyerahkan data mereka.

Viral Hingga dapat Uang Ratusan Ribu, Apakah World App Aman?

Di sisi lain, pakar keamanan siber menyebut, teknologi pemindai iris memang memiliki tingkat keamanan tinggi secara teknis. Namun, itu tidak otomatis menjamin data aman dari penyalahgunaan. Tantangan utamanya adalah bagaimana data disimpan, siapa yang memiliki akses, dan bagaimana data tersebut digunakan di masa depan.

Menurut pengamat teknologi, masyarakat perlu lebih kritis dalam menilai iming-iming seperti ini. Banyak yang tergiur keuntungan cepat, tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang. Apalagi, kasus kebocoran data pribadi di Indonesia sudah sering terjadi, mulai dari data kesehatan, kependudukan, hingga data keuangan.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah memantau aktivitas aplikasi seperti World App. Mereka mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan mempertimbangkan aspek keamanan sebelum ikut serta dalam program semacam ini.

Fenomena viral ini menjadi pengingat penting bahwa di era digital, data pribadi adalah aset berharga. Masyarakat harus memahami bahwa “uang instan” yang ditawarkan bisa jadi berujung pada kerugian yang jauh lebih besar bila data mereka jatuh ke tangan yang salah.

Gara-gara Konser Day6, Kemenpar Panggil Promotor Demi Benahi Ekosistem Event

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menindaklanjuti laporan terkait penyelenggaraan konser band pop rock asal Korea Selatan, Day6, yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta, akhir pekan lalu. Langkah ini diambil untuk memastikan pelaksanaan acara sesuai standar dan memberi dampak positif bagi ekosistem pariwisata dan hiburan di Indonesia.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan, pihaknya telah memanggil semua pihak terkait, termasuk promotor Mecima Pro, untuk menggali informasi secara menyeluruh. “Pemerintah berkomitmen mewujudkan ekosistem penyelenggaraan event yang sehat dan berdampak luas. Event seperti konser musik adalah salah satu motor penggerak sektor pariwisata karena mampu mendatangkan wisatawan, membuka lapangan kerja, serta menciptakan multiplier effect bagi perekonomian,” ujar Widiyanti di Jakarta, Rabu (7/5/2025).

Komitmen Peningkatan Standar Event Musik di Indonesia

Deputi Bidang Penyelenggara Kegiatan Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menekankan pentingnya memperoleh informasi akurat agar pemerintah dapat memetakan masalah dan menyusun langkah perbaikan. “Kami ingin semua proses berjalan baik, termasuk menjaga hak dan kewajiban semua pihak. Kemenpar juga berkomitmen memberikan pendampingan kepada pelaku industri event agar kualitas konser musik di Indonesia terus meningkat,” tegas Vinsen.

Tak hanya soal teknis penyelenggaraan, Kemenpar juga menyoroti aspek keselamatan, keamanan, hingga kenyamanan penonton. Kesiapan fasilitas, infrastruktur pendukung, serta kompetensi sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi faktor penting yang harus terus ditingkatkan untuk memperkuat reputasi Indonesia sebagai tuan rumah acara internasional.

Sebagai tambahan, Kemenpar tengah merumuskan pedoman khusus penyelenggaraan konser internasional di tanah air, termasuk kolaborasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan asosiasi industri hiburan. Tujuannya adalah memastikan semua acara berskala besar dapat berjalan lancar tanpa meninggalkan masalah, baik dari sisi logistik, perizinan, maupun dampak sosial.

“Ini bukan hanya soal menyelenggarakan konser, tetapi bagaimana kita bisa menjadikan event-event ini sebagai pintu masuk untuk mempromosikan destinasi wisata dan budaya lokal,” tambah Vinsen.

Dengan adanya evaluasi menyeluruh dari konser Day6 ini, pemerintah berharap kualitas event di Indonesia akan semakin kompetitif dan mampu menarik lebih banyak artis serta wisatawan internasional di masa mendatang.

Danantara Trust Fund Siap Himpun Dana 1 Miliar Dolar, Bill Gates Dukung Prabowo

0

Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kehormatan dari pendiri Gates Foundation, Bill Gates, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/5/2025). Dalam pertemuan hangat tersebut, keduanya mendiskusikan potensi kerja sama di bidang filantropi, khususnya melalui penguatan Danantara Trust Fund.

Menteri Investasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan kepada media bahwa Danantara kini tengah mempersiapkan pembentukan Danantara Trust Fund. Dana ini dirancang untuk memperluas kontribusi sosial, terutama di bidang pendidikan, kesehatan sanitasi, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat di tanah air.

“Kami sudah memproyeksikan, di awal tahun kami akan mulai dengan suntikan dana sebesar 100 juta dolar AS. Jika berjalan sesuai rencana, dalam lima sampai enam tahun ke depan, total yang bisa kami himpun di Danantara Trust Fund ini diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS,” jelas Rosan kepada awak media usai mendampingi Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan Bill Gates tersebut.

Dorong Indonesia Jadi Pusat Filantropi ASEAN

Rosan menambahkan, pembicaraan dengan Gates Foundation sudah berlangsung intens. Gates Foundation diharapkan tidak hanya hadir sebagai mitra diskusi, tetapi juga ikut menempatkan pendanaan dalam skema Danantara Trust Fund.

“Pembicaraan dengan Gates Foundation kemarin sudah mengarah ke kemungkinan mereka ikut berinvestasi bersama kami. Kami juga membuka pintu bagi kolaborasi yang lebih luas di dalam Danantara Trust Fund ini,” kata Rosan.

Ambisi besar dari inisiatif ini, menurutnya, adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat kegiatan filantropi terkemuka di kawasan ASEAN. Untuk itu, Rosan juga mengajak para pelaku usaha nasional maupun filantropis internasional untuk bersama-sama berkontribusi dalam mendorong dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin mendorong upaya ini karena manfaatnya akan sangat besar bagi semua pihak, terutama masyarakat,” ujarnya.

Rosan juga menekankan bahwa Danantara akan bekerja sama dengan berbagai badan usaha milik negara (BUMN) yang selama ini telah memiliki program corporate social responsibility (CSR). Tujuannya, agar seluruh kegiatan sosial menjadi lebih terarah, terukur, dan berjalan berkesinambungan.

“Program CSR ini harus memiliki dampak yang jelas, bukan sekadar kegiatan sesaat atau simbolis. Kita ingin hasilnya benar-benar terasa dan terus berlanjut,” tegas Rosan.

64 Persen UMKM Dikelola Perempuan, Digitalisasi Jadi Tantangan Besar

Peran perempuan dalam dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia kian tak terbantahkan. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan, sebagian besar sektor ekonomi kreatif di tanah air justru digerakkan oleh tangan-tangan perempuan.

“Mayoritas pelaku UMKM di sektor ekonomi kreatif dimiliki atau dikelola perempuan. Ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya posisi mereka dalam memajukan perekonomian nasional,” ujar Menteri Maman saat membuka Muktamar III Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) 2025 di Jakarta, Senin (5/5).

Berdasarkan data Kementerian UMKM, lebih dari 64 persen unit usaha kecil di Indonesia berada di bawah kepemimpinan perempuan. Menteri Maman pun memberikan apresiasi kepada jajaran pengurus serta seluruh anggota IPEMI atas upayanya dalam mendukung penguatan UMKM perempuan, khususnya di kalangan pengusaha Muslimah.

“Kontribusi perempuan begitu besar, mulai dari memperkuat ketahanan ekonomi keluarga hingga mendorong kemandirian ekonomi nasional. Peran strategis ini sangat sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Tantangan Digitalisasi dan Pentingnya Akses Teknologi

Di hadapan ratusan peserta Muktamar yang mengusung tema Transformasi & Inovasi UMKM di Era Ekonomi Kreatif: Meningkatkan Daya Saing Global Menuju Indonesia Emas, Menteri Maman mengingatkan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini: transformasi digital.

“Dari sekitar 65 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 12 persen yang secara efektif memanfaatkan teknologi digital,” ungkapnya.

Ketimpangan digital ini dinilai cukup menghambat proses adaptasi UMKM menuju ekosistem usaha yang lebih inovatif, kreatif, dan berdaya saing di era digital. Padahal, menurut Menteri Maman, digitalisasi seharusnya menjadi alat penting untuk meningkatkan produktivitas, membuka akses pasar yang lebih luas, serta mempercepat pertumbuhan usaha.

Tak hanya soal teknologi, Menteri Maman juga menyoroti pentingnya akses pembiayaan bagi UMKM, terutama bagi pelaku usaha perempuan. Pemerintah, kata dia, telah menggulirkan berbagai program pendanaan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembinaan digital, hingga fasilitasi pemasaran online untuk memperkuat kapasitas UMKM.

“Saya yakin, jika UMKM mampu mengadopsi teknologi yang tepat dan memanfaatkan peluang pasar global, nilai tambah produk mereka akan meningkat, begitu juga dengan kualitas layanan yang mereka tawarkan,” tuturnya optimistis.

Arti Quarter Life Crisis: Kenapa Banyak Anak Muda Merasakannya?

Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba merasa bingung sama hidup sendiri? Udah umur 20-an, tapi kok rasanya kayak nggak ke mana-mana. Teman-teman ada yang udah nikah, ada yang udah punya kerjaan mapan, bahkan ada yang udah jalan-jalan ke luar negeri. Sementara kamu? Masih ngerasa stuck, galau, dan nggak tahu mau jadi apa. Nah, kalau kamu lagi ada di fase ini, bisa jadi kamu lagi ngalamin quarter life crisis.

Apa Sih Quarter Life Crisis Itu?

Secara sederhana, quarter life crisis adalah fase krisis yang biasanya dialami orang di usia 20-30 tahunan. Di usia ini, banyak orang mulai mempertanyakan jalan hidupnya:

  • “Aku ini sebenernya mau jadi apa sih?”

  • “Kok hidup aku gini-gini aja?”

  • “Kenapa orang lain keliatan lebih sukses?”

Fase ini bikin kamu ngerasa cemas, bingung, bahkan kadang merasa minder sama pencapaian orang lain. Padahal, sebenernya wajar banget. Hampir semua orang pernah ngerasain hal ini, cuma beda level dan caranya aja.

Kenapa Bisa Terjadi?

Ada beberapa penyebab quarter life crisis yang sering terjadi, di antaranya:

  1. Tekanan sosial
    Media sosial sering banget bikin kita ngebandingin diri sama orang lain. Liat orang lain sukses, kita jadi mikir: “Kok dia bisa, aku nggak?” Padahal, tiap orang punya waktunya masing-masing.

  2. Tuntutan dari keluarga atau lingkungan
    Kadang orang tua atau orang sekitar punya ekspektasi tinggi: “Kamu harus cepet kerja,” “Kapan nikah?” atau “Masa masih gitu-gitu aja?” Ini bikin kita ngerasa dikejar-kejar target.

  3. Belum nemu passion atau tujuan hidup
    Ngerasa bingung mau ngapain dalam hidup? Ini juga bikin galau. Apalagi kalau kamu ngerasa udah nyoba banyak hal tapi belum nemu yang bikin “klik”.

  4. Peralihan dari dunia sekolah ke dunia nyata
    Waktu sekolah atau kuliah, kita punya jalur yang jelas. Tapi setelah lulus? Tiba-tiba dunia terasa “liar” dan nggak ada arahan. Ini bikin shock dan ngerasa sendirian.

Nggak Perlu Panik, Ini Wajar

Hal pertama yang harus kamu tahu: quarter life crisis itu normal. Nggak usah buru-buru nyari jawaban semua pertanyaan hidupmu. Fase ini justru penting buat mengenal diri lebih dalam.

Nggak ada timeline pasti soal hidup. Kamu nggak harus “sukses” di usia tertentu. Yang penting, kamu tetap bergerak maju, sekecil apapun langkahnya. Nggak apa-apa kalau masih bingung. Nikmati prosesnya sambil terus eksplorasi hal baru.

Kalau lagi berat banget, coba cerita ke orang yang kamu percaya, atau kalau perlu, ke psikolog. Nggak ada salahnya minta bantuan profesional.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa lost, galau, atau ngerasa ketinggalan, kamu nggak sendirian. Quarter life crisis itu bukan tanda kamu gagal, tapi justru bagian penting dari proses tumbuh. Pelan-pelan aja. Yang penting kamu tetap jalan, meski pelan.

Diterror Debt Collector, Nana Mirdad Kecewa dengan Layanan Paylater

0

Artis Nana Mirdad baru-baru ini mengungkap pengalaman tak menyenangkan terkait penggunaan layanan paylater dari salah satu aplikasi transportasi daring. Meski awalnya tertarik karena kemudahannya, Nana justru merasa dirugikan setelah menerima teror berupa pesan dan telepon dari nomor tidak dikenal. Hal ini terjadi meskipun ia sudah membayar tagihan tepat waktu.

Lewat media sosialnya, Nana menceritakan bahwa teror tersebut datang secara intens melalui WhatsApp dan telepon, bahkan saat ia sedang beraktivitas. Ia menyebut metode penagihan ini tak ubahnya seperti praktik yang dilakukan oleh pinjaman online ilegal (pinjol). “Saya merasa terganggu, padahal saya bukan pengguna yang menunggak,” ujarnya.

Nana juga mengungkap kekhawatiran lain, yakni terkait keamanan data pribadinya. Menurutnya, pengalaman ini menjadi alarm bahaya bagi publik agar lebih berhati-hati dalam membagikan data digital saat menggunakan layanan keuangan daring.

Skor Kredit di Bank Indonesia turut Terdampak

Lebih jauh, Nana Mirdad mengaku terkejut setelah mengetahui bahwa penggunaan layanan paylater berpotensi memengaruhi skor kredit seseorang di Bank Indonesia. Ia khawatir catatan ini akan mempersulit pengajuan pinjaman di masa mendatang, terutama bagi pengguna yang tidak memahami konsekuensinya.

“Orang pikir paylater itu cuma metode pembayaran, ternyata ada implikasi lebih besar yang jarang dijelaskan secara transparan,” ungkap Nana. Ia pun menyerukan agar perusahaan penyedia layanan lebih terbuka dalam memberikan edukasi kepada konsumen terkait hak dan kewajiban mereka.

Di balik kontroversi ini, publik juga menyoroti latar belakang Nana Mirdad. Selain dikenal sebagai aktris, Nana memiliki beberapa sumber penghasilan lain, mulai dari bisnis kecantikan, properti, hingga menjadi brand ambassador berbagai produk. Ia sempat menempuh pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Sastra Prancis, meski akhirnya fokus di dunia hiburan.

Kasus yang dialami Nana Mirdad memicu diskusi publik mengenai perlunya regulasi yang lebih tegas dalam mengawasi layanan keuangan digital, terutama terkait praktik penagihan yang dianggap mengganggu privasi. Banyak pihak berharap, pengalaman ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih cermat sebelum menggunakan layanan berbasis kredit daring.