Minggu, Mei 10, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 93

Pemerintah Genjot Produksi Alat Kesehatan dari Indonesia untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Upaya pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri kian nyata. Salah satu fokus utamanya saat ini adalah peningkatan produksi alat kesehatan dari Indonesia. Langkah ini diambil untuk mempercepat kemandirian sektor kesehatan nasional, mengurangi dominasi produk impor, dan membuka lapangan kerja baru melalui investasi di sektor manufaktur alat kesehatan.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Setia Diarta, menegaskan bahwa pengembangan alat kesehatan dari Indonesia merupakan prioritas nasional. Ia menyebutkan, Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong agar industri dalam negeri bisa lebih mandiri, termasuk di bidang kesehatan. “Instruksi Bapak Presiden sangat jelas, kemandirian alat kesehatan adalah harga mati,” ujarnya di Jakarta, Kamis (5/6).

Transformasi Industri Menuju Mandiri dan Berdaya Saing

Langkah strategis yang dijalankan Kementerian Perindustrian ini tak hanya menyasar sisi produksi, tetapi juga membangun ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Visi besarnya adalah menciptakan industri alat kesehatan yang tak hanya kuat di dalam negeri, tapi juga mampu bersaing secara global menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam kerangka peta jalan Making Indonesia 4.0, industri alat kesehatan masuk sebagai salah satu sektor prioritas. Fokus pengembangannya mencakup pemanfaatan teknologi digital, otomatisasi, serta peningkatan efisiensi rantai pasok. “Dengan pendekatan ini, alat kesehatan bukan hanya jadi produk substitusi impor, tapi juga komoditas ekspor,” lanjut Setia.

Beberapa produk seperti jarum suntik, alat diagnostik, dan hospital furniture dari Indonesia telah menembus pasar ASEAN dan Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa industri lokal telah mulai mengisi celah kebutuhan pasar global.

Sinergi Lintas Sektor dan Reformasi TKDN

Untuk memperkuat posisi industri, Kemenperin menggandeng Kementerian Kesehatan serta Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Kolaborasi ini bertujuan memperbesar porsi produk dalam negeri dalam sistem e-Katalog. Sejauh ini, sektor kesehatan mencatatkan peningkatan signifikan: dari hanya 8 persen pada 2019 menjadi 48 persen pada 2024.

Kemenperin juga tengah merombak sistem penilaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar lebih transparan, fleksibel, dan memberikan nilai tambah nyata bagi pelaku industri lokal. Reformasi ini diharapkan memberi kemudahan sekaligus dorongan agar industri lebih berani berinovasi dan memperdalam struktur produksinya.

“Dengan pendekatan kolaboratif dan keberpihakan pada produk lokal, kita optimistis Indonesia bisa jadi pemain global di sektor alat kesehatan,” kata Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Solehan.

Produksi CT Scan Lokal dan Harapan Masa Depan

Salah satu langkah konkret dalam mendorong produksi lokal adalah kerja sama antara PT GE HealthCare dan PT Forsta Kalmedic Global (anak usaha Kalbe Farma) yang memproduksi mesin CT scan di Bogor, Jawa Barat. CT scan merupakan salah satu alat diagnostik vital yang hingga kini masih 100 persen diimpor.

Menurut Yvone Astri Della Sijabat, Direktur Forsta, pembangunan pabrik ini menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan impor dan memperluas akses layanan kesehatan. Kapasitas produksinya mencapai 52 unit per tahun, dengan kebutuhan nasional diperkirakan 306 unit hingga 2027.

Proses perakitan CT scan dilakukan oleh tenaga kerja lokal yang telah dilatih oleh principal GE. Ke depannya, produksi akan diarahkan menggunakan bahan baku dan komponen lokal secara bertahap, termasuk rencana pengembangan ke teknologi MRI yang saat ini juga masih diimpor.

Elie Chaillot, CEO GE HealthCare International, menyampaikan bahwa pabrik ini memungkinkan perusahaan lebih cepat menjawab kebutuhan domestik tanpa mengabaikan standar mutu dan keamanan global. “Ini bukan hanya investasi ekonomi, tapi juga kontribusi untuk penguatan tenaga kerja dan teknologi kesehatan di Indonesia,” tegasnya.

Jadi Pengusaha Apa Harus Kaya? Nggak Selalu, Ini Alasannya!

Banyak orang bilang kalau mau kaya, ya harus buka usaha sendiri. Tapi, jadi pengusaha apa harus kaya? Pertanyaan itu sering muncul, terutama di tengah maraknya ajakan jadi entrepreneur di media sosial. Memang, jadi pengusaha bisa menghasilkan banyak uang — tapi bukan berarti itu satu-satunya jalan menuju kekayaan. Lagi pula, jadi pengusaha apa harus kaya? Nyatanya, banyak pengusaha juga butuh waktu bertahun-tahun sampai bisa mapan. Bahkan, sebagian justru bangkrut di tengah jalan.

Faktanya, ada banyak profesi lain yang juga bisa bikin seseorang punya penghasilan besar, asal ditekuni dengan serius dan punya strategi keuangan yang tepat.

1. Karyawan Juga Bisa Kaya, Asal Tahu Caranya

Nggak semua orang cocok jadi pengusaha. Tapi bukan berarti kalau kamu kerja kantoran selamanya bakal “gitu-gitu aja”. Banyak profesional, seperti manajer keuangan, akuntan, programmer, atau konsultan, yang penghasilannya jauh lebih besar dari pengusaha pemula. Kuncinya ada di skill, pengalaman, dan bagaimana kamu mengelola gaji.

2. Investasi: Kunci Kaya Tanpa Harus Punya Bisnis

Kalau pengusaha fokus pada perputaran modal dan jualan, karyawan bisa memutar uang lewat investasi. Dari reksa dana, saham, sampai properti — semuanya bisa jadi sumber cuan jangka panjang. Bahkan banyak investor sukses yang bukan pengusaha, tapi bisa mandiri secara finansial karena sabar dan konsisten.

3. Kaya Itu Bukan Cuma Soal Gaji Besar

Jangan salah paham. Kaya itu bukan cuma soal pendapatan, tapi juga bagaimana kamu mengelola dan mengembangkan uang. Banyak orang berpenghasilan tinggi tapi hidupnya selalu “pas-pasan” karena gaya hidup boros. Sebaliknya, ada yang gajinya standar tapi bisa punya tabungan, aset, dan hidup tanpa utang karena bijak mengatur keuangan.

4. Jadi Pengusaha Itu Butuh Mental Baja

Menjadi pengusaha memang punya potensi keuntungan besar, tapi juga risikonya tinggi. Ada beban operasional, tanggung jawab ke karyawan, hingga tekanan menghadapi pesaing. Nggak semua orang siap mental untuk itu. Jadi, kalau kamu nyaman dan berkembang sebagai profesional atau pekerja, itu juga nggak salah. Yang penting, tahu tujuan finansialmu dan caranya sampai ke sana.

Jadi, masih mikir jadi pengusaha apa harus kaya? Jawabannya: belum tentu. Kaya itu bukan monopoli pengusaha. Kamu bisa jadi karyawan, freelancer, investor, atau bahkan pekerja seni — dan tetap bisa punya hidup sejahtera. Intinya, pilih jalur yang cocok dengan dirimu, maksimalkan potensimu, dan kelola keuangan dengan cerdas.

Diskon Tiket dan Tarif Tol Resmi Berlaku, Wisata saat Libur Sekolah Makin Terjangkau

0

Pemerintah meluncurkan program stimulus liburan berupa diskon tiket dan tarif tol demi meningkatkan mobilitas wisatawan domestik selama musim liburan sekolah Juni–Juli 2025. Stimulus ini sekaligus diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun ini.

“Diskon tiket dan tarif tol merupakan bentuk dukungan konkret bagi sektor pariwisata dalam menyambut momen libur sekolah, yang selama ini menjadi periode penting setelah Lebaran dan akhir tahun,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/6/2025).

Lima Stimulus Ekonomi Diperkenalkan

Kebijakan ini merupakan hasil dari Rapat Terbatas (Ratas) yang digelar sehari sebelumnya, Senin (2/6/2025), di Istana Kepresidenan Jakarta. Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung pertemuan yang turut dihadiri Menteri Pariwisata dan jajaran menteri terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menetapkan lima jenis stimulus dengan total nilai mencapai Rp24,44 triliun. Salah satu yang paling disorot adalah potongan harga transportasi umum, yang mencakup:

  • Diskon 30% untuk tiket kereta api bagi 2,8 juta penumpang

  • Diskon 6% untuk tiket pesawat kelas ekonomi

  • Diskon 50% untuk angkutan laut

Selain itu, pengguna jalan tol juga akan menikmati potongan tarif sebesar 20%, yang diperkirakan akan menyasar hingga 110 juta pengguna jalan selama masa liburan, dengan anggaran Rp650 miliar.

Stimulus tambahan lainnya meliputi bansos senilai Rp11,93 triliun, subsidi upah sebesar Rp10,72 triliun, serta pengurangan iuran jaminan kecelakaan kerja sebesar Rp200 miliar.

Dukung Pergerakan Wisata Lokal dan Ekonomi Daerah

Menteri Widiyanti menekankan bahwa diskon pada sektor transportasi ini tak hanya mempermudah wisatawan, tetapi juga menjadi pendorong aktivitas ekonomi daerah. Pemerintah berharap kombinasi antara kemudahan akses dan pelaksanaan acara lokal dapat menciptakan pergerakan ekonomi yang merata.

Kementerian Pariwisata juga telah menyusun serangkaian program untuk menguatkan ekosistem wisata saat libur sekolah, antara lain:

  • Kampanye Libur #DiIndonesiaAja
    Promosi paket liburan bersama biro perjalanan dan industri pariwisata dengan dukungan iklan di media nasional dan transportasi publik.

  • Insentif Diskon Bersama OTA
    Potongan harga tiket pesawat, tiket destinasi wisata, serta paket desa wisata yang ditargetkan menjangkau 5.750 wisatawan.

  • Kolaborasi Paket Wisata Sekolah
    Diskon 10% dari pelaku industri seperti travel agent dan asosiasi pariwisata.

  • Promosi 31 Event Daerah
    Dukungan terhadap acara dalam program Karisma Event Nusantara yang akan digelar sepanjang Juni–Juli 2025.

Menurut Menteri Pariwisata, kebijakan ini diprediksi akan mempercepat pencapaian target 1,08 miliar perjalanan wisatawan nusantara tahun ini. “Kami optimis, dengan insentif seperti diskon tiket dan tarif tol, pergerakan wisatawan akan melonjak signifikan dan berdampak langsung pada ekonomi lokal dan nasional,” tutupnya.

Harga Batubara Acuan Awal Juni 2025 Turun, Kini USD 100,97 per Ton

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) periode pertama Juni 2025 turun menjadi 100,97 dolar AS per ton. Angka ini tercatat lebih rendah 9,41 dolar AS dibandingkan periode kedua Mei lalu yang berada di posisi 110,38 dolar AS per ton.

Penetapan ini dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 197.K/MB.01/MEM.B/2025 dan berlaku untuk transaksi penjualan batubara di titik serah free on board (FOB) di atas kapal pengangkut.

Jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year), HBA Juni 2025 menunjukkan penurunan cukup tajam sebesar 22,03 dolar AS atau setara 17,91 persen dari posisi HBA Juni tahun lalu yang berada di angka 123 dolar AS per ton.

Penyesuaian Berdasarkan Kualitas Kalori Batubara

Nilai HBA ini menjadi dasar perhitungan Harga Patokan Batubara (HPB) yang memperhitungkan karakteristik teknis batubara, seperti nilai kalori, kandungan air, kadar sulfur, dan abu. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 72 Tahun 2025, HBA kini dibagi dalam empat kategori berdasarkan tingkat kalorinya.

Keempat kategori tersebut adalah:

  • HBA utama untuk batubara dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR,

  • HBA I untuk 5.300 kcal/kg GAR,

  • HBA II untuk 4.100 kcal/kg GAR, dan

  • HBA III untuk 3.400 kcal/kg GAR.

Harga Batubara Acuan (HBA) periode pertama Juni ini akan digunakan sebagai acuan HPB selama periode 1–14 Juni 2025 untuk batubara berkalori di atas 6.000 kcal/kg GAR.

Penetapan harga tersebut dihitung berdasarkan transaksi riil yang dilaporkan melalui sistem ePNBP Minerba, khususnya dari pengapalan yang terjadi dalam rentang waktu minggu kedua dua bulan sebelumnya hingga minggu pertama bulan lalu. Data yang dipakai mencakup transaksi batubara dengan nilai kalori antara 6.100–6.500 kcal/kg GAR.

Detail Harga HBA Juni 2025

Berikut rincian harga HBA berdasarkan kategori kalori untuk periode 1–14 Juni 2025:

  1. HBA Utama (6.322 kcal/kg GAR): 100,97 dolar AS per ton (turun 8,53% dari periode sebelumnya).

  2. HBA I (5.300 kcal/kg GAR): 77,59 dolar AS per ton (naik 1,27%).

  3. HBA II (4.100 kcal/kg GAR): 50,08 dolar AS per ton (turun 0,99%).

  4. HBA III (3.400 kcal/kg GAR): 35,47 dolar AS per ton (naik 0,14%).

Dengan dinamika harga global dan permintaan yang terus berubah, penyesuaian HBA menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar energi nasional.

Middle Income Trap: “Jebakan Kelas Menengah” yang Bikin Ekonomi Jalan di Tempat

0

Banyak yang bertanya, apa itu Middle Income Trap dan kenapa negara-negara berkembang seperti Indonesia perlu waspada terhadapnya? Istilah ini bukan cuma jargon ekonomi, tapi kenyataan yang bisa memengaruhi masa depan bangsa. Singkatnya, Middle Income Trap adalah kondisi ketika sebuah negara berhasil keluar dari status negara miskin, tapi kemudian mandek dan gagal naik kelas menjadi negara maju. Nah, apa itu Middle Income Trap bukan sekadar soal angka pendapatan, tapi juga tantangan struktural yang harus diatasi dengan strategi jangka panjang.

Kalau negara tidak cepat-cepat keluar dari perangkap ini, pertumbuhan ekonomi bisa melambat, produktivitas stagnan, dan akhirnya kesejahteraan masyarakat jalan di tempat. Yuk, kita bahas lebih dalam, termasuk strategi yang bisa dilakukan untuk lepas dari jebakan ini!

Apa Penyebab Terjebak di Middle Income Trap?

  1. Ketergantungan pada Sumber Daya Alam
    Negara yang terlalu mengandalkan ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah mudah terjebak. Harga komoditas yang naik-turun bikin ekonomi tidak stabil.

  2. Kualitas SDM Kurang Mumpuni
    Pendidikan dan pelatihan kerja yang tidak berkembang seiring zaman membuat tenaga kerja tidak bisa bersaing di sektor industri modern.

  3. Inovasi dan Teknologi Lemah
    Negara yang hanya mengandalkan tenaga murah tanpa mengembangkan teknologi cenderung stagnan dan kalah bersaing dengan negara yang sudah maju.

  4. Birokrasi dan Regulasi Rumit
    Proses usaha yang berbelit dan korupsi juga membuat investor ogah menanam modal, sehingga memperlambat pertumbuhan.

Strategi untuk Keluar dari Middle Income Trap

  1. Fokus pada Pendidikan dan Pelatihan Berkualitas
    Investasi pada SDM adalah kunci. Negara harus memperbaiki sistem pendidikan, mendorong vokasi, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan industri masa depan.

  2. Dorong Inovasi dan Teknologi Lokal
    Pemerintah perlu mendukung riset, startup teknologi, serta industri kreatif agar tidak terus bergantung pada produk luar negeri.

  3. Reformasi Birokrasi dan Iklim Usaha
    Proses perizinan usaha harus dipangkas dan transparan. Lingkungan bisnis yang sehat bikin investor lebih percaya diri menanam modal di dalam negeri.

  4. Diversifikasi Ekonomi
    Jangan hanya bergantung pada sektor tertentu. Sektor manufaktur, pariwisata, pertanian modern, dan ekonomi digital harus digarap serius agar ekonomi tumbuh stabil dan berkelanjutan.

  5. Pemerataan Pembangunan
    Perlu ada strategi untuk memperkecil kesenjangan antarwilayah. Infrastruktur, konektivitas, dan layanan publik yang merata bisa mempercepat pertumbuhan nasional secara adil.

Setelah tahu apa itu Middle Income Trap, sekarang jelas bahwa ini bukan hanya tantangan ekonomi semata, tapi soal bagaimana sebuah negara menyusun arah pembangunan jangka panjang. Untuk keluar dari jebakan ini, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun SDM, teknologi, serta menciptakan iklim usaha yang sehat. Jangan sampai negara kita nyaman di zona tengah dan lupa mengejar target jadi negara maju.

UMKM Wajib Go Online! Teknologi Jadi Senjata Baru Hadapi Persaingan Pasar

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk UMKM sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi masa kini. Ia menyebut, pelaku usaha kecil tak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara lama dalam berjualan, mengingat tren pasar telah bergeser ke ranah digital.

“Sekarang bukan zamannya lagi kita berjualan secara konvensional saja. Dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, kita harus bisa menyerap dan menyesuaikan diri. Teknologi untuk UMKM adalah peluang besar untuk meningkatkan penjualan dan mendongkrak ekonomi,” ujar Menteri Maman dalam diskusi bersama pelaku UMKM dan mitra pengemudi Grab di acara “Semangat Mewujudkan Pontianak sebagai Kota Masa Depan” di Kedai Kopi Asiang, Pontianak, Senin (2/6).

Ia menggarisbawahi perubahan gaya belanja masyarakat yang kini lebih memilih bertransaksi lewat gawai mereka. Menurutnya, kebiasaan belanja daring semakin dominan, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pelaku UMKM harus segera mengubah cara berbisnis dengan mengintegrasikan platform digital.

“Sekarang hampir semua aktivitas belanja dilakukan lewat online. Ini harus kita jawab dengan perubahan pola usaha, salah satunya memperluas pemasaran lewat platform digital,” ucapnya.

Menteri Maman juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjaga kualitas produk. Ia mendorong pelaku usaha untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi agar produk tetap menarik di mata konsumen, termasuk dari sisi pengemasan.

Pemda dan Swasta Didorong Galakkan Digitalisasi UMKM Daerah

Selain menyoroti peran teknologi dalam pemasaran, ia juga mengajak semua pihak, terutama pemerintah daerah, untuk mengenali dan memaksimalkan potensi komoditas lokal. Di Kalimantan Barat misalnya, selain produk kuliner seperti Kopi Asiang, ada pula potensi dari ikan arwana dan tumbuhan kratom yang bisa dikembangkan lebih jauh melalui digitalisasi.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono turut mendukung upaya digitalisasi UMKM di daerahnya. Ia menyebut, sejak pandemi, sebagian besar layanan publik di Pontianak telah beralih ke sistem digital, termasuk aktivitas perdagangan di pasar.

“Warga Pontianak sekarang sudah terbiasa dengan ekosistem digital, bahkan tidak kalah melek teknologi dibandingkan kota besar lainnya,” ungkap Edi.

Sebagai bentuk konkret dukungan, Pemkot Pontianak juga menyediakan fasilitas seperti rumah kemasan gratis untuk membantu UMKM pemula dalam meningkatkan tampilan produk mereka.

Program percepatan digitalisasi UMKM ini juga mendapat dukungan dari pihak swasta. Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyatakan bahwa pihaknya bersama OVO terus berkomitmen menjadi mitra pertumbuhan bagi pelaku usaha kecil di berbagai daerah.

Melalui program “Kota Masa Depan”, Grab memberikan pelatihan, pendampingan, serta akses ke ekosistem digital agar UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti arus zaman.

“Potensi UMKM di kota seperti Pontianak sangat besar. Dengan dukungan teknologi, kami percaya mereka bisa naik kelas dan menjadi penggerak ekonomi lokal,” kata Neneng.

Mau Kurban Tiap Tahun Tapi Gaji Pas-Pasan? Coba Cara Ini!

Setiap Idul Adha datang, semangat berkurban selalu terasa. Tapi nggak bisa dipungkiri, banyak yang akhirnya cuma bisa niat tanpa realisasi karena persoalan keuangan. Padahal, kalau tahu cara ngatur gaji dengan bijak, bukan hal mustahil kok untuk kurban tiap tahun. Kuncinya ada di perencanaan dan komitmen sejak awal.

Buat kamu yang pengen kurban tiap tahun tanpa nunggu rezeki “dadakan”, yuk intip tips-tips dari Berempat.com berikut ini biar niat baik kamu bisa terus terlaksana.

1. Tentukan Target dari Sekarang

Langkah pertama: cari tahu harga hewan kurban yang kamu incar. Misal, harga kambing sekarang di kisaran Rp2,5–3 juta. Dari situ, kamu bisa tentukan target tabungan. Lebih cepat tahu targetnya, makin ringan kamu nyicilnya tiap bulan.

2. Pisahkan Dana Khusus Kurban

Anggap dana kurban ini kayak bayar cicilan motor—wajib dan rutin. Setiap terima gaji, langsung sisihkan. Kamu bisa pakai metode amplop fisik atau buka rekening khusus biar nggak tercampur sama uang kebutuhan sehari-hari.

3. Gunakan Skema Nabung Bulanan

Kalau gaji kamu pas-pasan, jangan khawatir. Nabung Rp250 ribu per bulan aja udah cukup buat beli kambing tahun depan. Konsistensi jauh lebih penting daripada nominal besar di awal.

4. Potong Pengeluaran Nggak Penting

Coba cek lagi: beneran butuh kopi kekinian tiap hari? Atau langganan streaming yang nggak kepake? Potong pengeluaran yang bisa ditunda, dan alihkan ke tabungan kurban. Kamu bakal kaget lihat berapa banyak yang bisa dihemat!

5. Gabung Program Arisan Kurban atau Tabungan Syariah

Sekarang banyak lembaga yang nawarin arisan kurban atau tabungan syariah khusus Idul Adha. Sistemnya ringan, teratur, dan kamu punya komunitas yang saling support. Ini bisa jadi cara efektif biar kamu tetap disiplin.

6. Tanamkan Niat, Biar Nggak Setengah-Setengah

Kuncinya di niat. Kalau kamu niat berkurban karena Allah, pasti lebih semangat nyisihin uang tiap bulan. Gaji besar atau kecil nggak jadi soal, yang penting usaha dan istiqomah.

Berkurban bukan soal mampu atau tidak, tapi soal mau atau tidak menyisihkan rezeki secara konsisten. Dengan perencanaan yang tepat, kamu bisa banget kurban tiap tahun tanpa harus nunggu “rezeki nomplok”.

Swasembada Beras di Depan Mata, Mentan Pastikan Ketahanan Pangan Aman

0

JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong ketahanan pangan nasional, dengan menargetkan tercapainya Swasembada Beras pada tahun ini tanpa perlu mengandalkan impor. Hal tersebut diungkapkan usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/6).

“Awalnya target swasembada empat tahun, lalu dipangkas jadi tiga tahun. Tapi jika melihat kondisi sekarang, kita berharap tahun ini tak ada impor lagi,” kata Amran optimistis. Ia menambahkan, persediaan beras nasional telah menembus angka 4 juta ton—tertinggi dalam lebih dari setengah abad terakhir. Sebagai perbandingan, pencapaian serupa terakhir kali terjadi pada 1984 dengan cadangan 3 juta ton.

Lebih lanjut, Amran menyebutkan bahwa indikator ekonomi petani turut mengalami penguatan. Nilai Tukar Petani (NTP) per Mei 2025 tercatat di angka 121, naik dibandingkan bulan yang sama tahun lalu yang berada di posisi 116. “Dukungan anggaran dari Kementerian Keuangan kita arahkan untuk mendorong NTP hingga ke level 110, dan ternyata bisa melampaui,” ujarnya.

Bantuan Sosial dan Strategi Harga untuk Lindungi Petani

Untuk menjaga daya beli masyarakat serta kestabilan harga, pemerintah menyiapkan bantuan sosial berupa distribusi beras sebesar 180 ribu ton per bulan selama dua bulan. Total bantuan sebanyak 360 ribu ton ini akan menyasar daerah-daerah non-penghasil seperti Papua dan Maluku, serta wilayah perkotaan yang tidak memproduksi beras secara signifikan.

“Distribusinya bisa dilakukan sekaligus dua bulan untuk efisiensi. Kita fokuskan ke wilayah-wilayah yang memang tidak memiliki produksi beras sendiri,” jelas Amran.

Sementara itu, bagi daerah sentra produksi beras seperti Pulau Jawa, pemerintah tetap mengutamakan perlindungan harga agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak tanpa membebani konsumen. “Kuncinya ada di keseimbangan harga, supaya petani untung tapi masyarakat juga tidak terbebani,” tegasnya.

Amran menutup keterangannya dengan menekankan bahwa kondisi pangan nasional saat ini terjaga dengan baik. Bahkan, proses penyerapan gabah dari petani diprediksi bisa mencapai 400 hingga 500 ribu ton dalam waktu dekat. “Yang akan kita keluarkan hanya 360 ribu ton, sedangkan serapan bulan ini diperkirakan bisa lebih besar. Ini bagian dari strategi kita menuju Swasembada Beras,” pungkasnya.

PMI Masih Kontraksi, Manufaktur dalam Negeri Tetap Rekrut Ribuan Pekerja

Industri manufaktur dalam negeri tengah menghadapi tantangan serius akibat dinamika ekonomi global dan membludaknya produk impor di pasar lokal. Salah satu indikatornya terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang pada Mei 2025 masih terjebak di zona kontraksi, meski mencatat sedikit perbaikan menjadi 47,4 dari sebelumnya 46,7 di April. Kondisi ini mencerminkan tekanan nyata yang dirasakan pelaku industri manufaktur dalam negeri.

Tak hanya Indonesia, sejumlah negara juga mengalami kontraksi di sektor manufaktur pada bulan yang sama, seperti Vietnam (49,8), Prancis (49,5), Jepang (49,0), Jerman (48,8), Taiwan (48,6), Korea Selatan (47,7), Myanmar (47,6), hingga Inggris (45,1).

Pesanan Baru Lesu, Biaya Produksi Naik

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan bahwa survei terbaru menunjukkan penurunan permintaan terhadap pesanan baru, termasuk dari pasar ekspor. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh kebijakan tarif dari Amerika Serikat yang memengaruhi permintaan pasar tujuan ekspor. Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi hambatan logistik, seperti sulitnya mendapatkan kapal pengangkut serta gangguan cuaca.

“Naiknya harga bahan baku yang tidak diimbangi kenaikan harga jual membuat pelaku industri dalam negeri kesulitan bersaing, terutama dengan produk luar yang lebih efisien,” ujar Febri.

Meski demikian, laporan S&P Global menunjukkan ada sinyal optimisme dari pelaku industri yang masih aktif merekrut tenaga kerja. Dalam enam bulan terakhir, industri tetap membuka lapangan pekerjaan sebagai bentuk persiapan menghadapi pemulihan permintaan pasar.

Optimisme Tetap Ada, Serapan Tenaga Kerja Naik

Febri juga menambahkan bahwa hingga kuartal pertama 2025, terdapat 359 perusahaan yang tengah membangun fasilitas produksi baru dengan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 98 ribu orang. Angka ini lebih tinggi dibanding data pemutusan hubungan kerja (PHK) yang selama ini beredar di publik.

“Kami turut prihatin terhadap perusahaan yang harus tutup dan pekerja yang terkena PHK, namun data serapan ini menunjukkan bahwa masih ada harapan dan optimisme untuk industri kita ke depan,” ucapnya.

Pemerintah pun menyiapkan sejumlah program untuk para pekerja terdampak, mulai dari pelatihan peningkatan keterampilan (upskilling), peluang menjadi wirausaha industri, hingga bantuan untuk penempatan kerja baru.

Kebijakan Afirmasi untuk Dukung Produk Lokal

Salah satu langkah konkret pemerintah dalam mendukung industri adalah pemberlakuan insentif PPh 21 sebesar 3 persen untuk pekerja di sektor industri padat karya. Selain itu, regulasi baru yang pro-industri juga telah diterbitkan, yakni Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2025 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Kebijakan ini mewajibkan prioritas pembelian produk manufaktur dalam negeri dalam belanja pemerintah, dengan produk impor ditempatkan sebagai opsi terakhir.

Di sisi lain, reformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga terus didorong agar proses perhitungan menjadi lebih cepat, efisien, dan terjangkau. Harapannya, semakin banyak produk dalam negeri yang memiliki sertifikat TKDN dan masuk dalam daftar belanja pemerintah pusat maupun daerah serta BUMN dan BUMD.

Menurut data, ada lebih dari 14 ribu perusahaan yang telah memproduksi barang dengan sertifikasi TKDN dan menyerap hingga 1,7 juta tenaga kerja. “Kebijakan ini menjadi langkah penting untuk menjaga tingkat utilisasi industri agar tidak turun, mencegah penutupan pabrik, serta melindungi tenaga kerja dari ancaman PHK,” tutup Febri.

UMKM Mau Naik Kelas? Branding Dulu, Promosi Belakangan!

0

Banyak pelaku usaha kecil mikirnya promosi itu segalanya. Pasang iklan, bikin diskon, kasih bonus, udah gitu aja. Tapi sayangnya, itu belum cukup. Justru branding untuk UMKM jauh lebih penting kalau kamu pengen usaha kamu dikenal luas, dipercaya, dan bertahan lama. Tanpa branding yang kuat, promosi cuma sekadar rame sesaat.

Coba deh bayangin, ada dua produk sejenis: yang satu dikemas biasa aja, yang satu punya nama catchy, desain menarik, dan pesan yang jelas. Pasti konsumen lebih inget sama yang punya branding untuk UMKM yang matang, kan?

1. Branding Bikin Bisnismu Lebih Mudah Diingat

Orang beli bukan cuma karena produk bagus, tapi juga karena mereka kenal dan percaya brand-nya. Branding itu bikin produk kamu punya identitas—warna, logo, gaya bahasa, sampai nilai-nilai yang diusung. Dari situ, orang akan lebih gampang mengingat bisnismu dibanding yang tampilannya gitu-gitu aja.

2. Meningkatkan Rasa Percaya Konsumen

Branding itu soal kepercayaan. Kalau UMKM kamu terlihat profesional—dari packaging sampai media sosial—otomatis konsumen mikir, “Oh, ini usaha yang serius.” Mereka nggak cuma beli sekali, tapi bisa jadi pelanggan loyal. Branding yang konsisten bikin konsumen yakin mereka nggak beli produk asal-asalan.

3. Membedakan Diri dari Kompetitor

Jujur aja, produk sejenis itu buanyak. Tapi kenapa kita lebih pilih satu merek dibanding yang lain? Jawabannya ada di branding. Dengan identitas yang kuat dan nilai unik, UMKM kamu bisa tampil beda dan lebih menonjol di tengah persaingan pasar yang padat.

4. Mudah Masuk ke Pasar yang Lebih Luas

Kalau branding kamu udah kuat dan konsisten, masuk ke pasar baru atau kerja sama dengan pihak lain (seperti reseller, investor, atau e-commerce) jadi lebih gampang. Mereka bakal lebih percaya karena tahu kamu udah punya pondasi yang jelas dan serius membangun brand.

5. Investasi Jangka Panjang, Bukan Sekadar Gaya-gayaan

Banyak yang salah paham, mengira branding itu cuma soal desain mahal dan logo keren. Padahal, branding adalah investasi jangka panjang yang menentukan arah dan daya tahan bisnismu. Promosi bisa habis, tapi brand yang kuat akan tetap diinget dan dipercaya.

Kalau kamu pelaku usaha kecil yang pengen bisnisnya naik kelas, jangan cuma fokus promosi terus-terusan. Saatnya kamu mulai serius mikirin branding untuk UMKM milikmu. Nggak perlu langsung mahal—yang penting konsisten, punya cerita, dan mencerminkan siapa kamu dan apa yang kamu jual. Ingat, produk bisa ditiru, tapi brand adalah hal yang bikin kamu nggak tergantikan.