Kamis, November 5, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 8

Efisiensi Anggaran Rp306 Triliun Dinilai Tak Hambat Pertumbuhan Ekonomi

0

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pada 2025 tidak semata-mata berupa pemangkasan belanja negara. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengalihkan anggaran ke program yang dinilai memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Suahasil mengatakan langkah efisiensi anggaran dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan pada awal 2025. Pemerintah saat itu melakukan penyesuaian belanja dengan nilai mencapai Rp306 triliun.

Menurut Suahasil, kebijakan tersebut sempat dipersepsikan sebagai pemotongan anggaran secara besar-besaran. Padahal, pemerintah ingin membangun fondasi APBN yang lebih efektif sehingga setiap alokasi belanja memiliki dampak yang lebih jelas terhadap perekonomian dan masyarakat.

“Kesannya adalah potong anggaran. Tapi sebenarnya di balik pemotongan tersebut adalah pijakan fundamental untuk membuat APBN yang lebih berdampak kepada masyarakat,” ujar Suahasil di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Efisiensi Anggaran Tetap Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Suahasil menilai hasil efisiensi anggaran dapat dilihat dari kinerja perekonomian nasional sepanjang 2025. Meski dilakukan penyesuaian belanja, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di level 5,11 persen.

Pada periode yang sama, tingkat inflasi tercatat sekitar 2,9 persen. Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan penataan belanja negara tetap dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Suahasil menekankan pentingnya sinergi antara APBN dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Ia menggambarkan keduanya sebagai “saudara kembar” yang perlu bekerja secara beriringan untuk mendukung agenda pemerintah.

Menurutnya, pembentukan Danantara pada 2025 menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kapasitas investasi melalui pengelolaan aset BUMN yang merupakan kekayaan negara yang dipisahkan.

Sinergi tersebut juga diharapkan menciptakan ruang efisiensi anggaran dan investasi yang lebih optimal. Danantara dinilai dapat memperkuat peran aset negara dalam menopang pertumbuhan ekonomi, sementara APBN tetap menjalankan fungsi fiskalnya.

Suahasil menegaskan koordinasi antara pemerintah, APBN, dan Danantara diperlukan untuk menjalankan berbagai agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dengan pendekatan tersebut, efisiensi anggaran diharapkan tidak berhenti pada pengurangan belanja, tetapi menghasilkan penggunaan sumber daya negara yang lebih tepat sasaran.

Soal Penambahan Jam Kerja 45 Jam, Apindo Sebut Ada Kesalahpahaman

0

Isu penambahan jam kerja menjadi 45 jam per pekan kembali mencuat setelah DPR mengesahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan angka tersebut bukan usulan untuk mengubah ketentuan jam kerja yang berlaku di Indonesia.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan pihak pengusaha tidak pernah mengajukan maupun mendorong penambahan jam kerja menjadi 45 jam dalam sepekan. Angka tersebut, menurutnya, hanya muncul dalam kajian perbandingan mengenai aturan ketenagakerjaan di sejumlah negara Asia.

Shinta menjelaskan studi tersebut membandingkan kondisi Indonesia dengan negara seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Perbandingan dilakukan untuk melihat posisi daya saing industri Indonesia di tengah persaingan regional.

“Jadi mungkin ada kesalahpahaman bahwa kita memaksakan untuk menaikkan jam kerja,” kata Shinta di sela Indonesia International Sustainability Forum, dikutip Antara, Rabu (7/10/2026).

Apindo Sebut Kajian untuk Pemetaan Regional

Menurut Shinta, kajian mengenai penambahan jam kerja tidak berdiri sendiri. Pelaku usaha perlu mengetahui bagaimana standar ketenagakerjaan diterapkan di negara lain agar pembahasan regulasi di dalam negeri memiliki gambaran yang lebih utuh.

Ia menambahkan, pekerja juga melakukan kajian serupa sehingga seluruh pihak dapat memahami posisi masing-masing negara. Informasi tersebut dinilai penting dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga kepentingan pekerja sekaligus mempertahankan daya saing dunia usaha.

Di sisi lain, Apindo belum memberikan penilaian lebih jauh terhadap UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang baru disahkan. Shinta menyebut pihaknya masih menunggu salinan resmi aturan tersebut untuk dipelajari secara menyeluruh.

Sebelumnya, DPR RI menyetujui RUU Pelindungan Ketenagakerjaan menjadi undang-undang dalam Rapat Paripurna Ke-9 DPR Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Sementara itu, aturan jam kerja yang berlaku masih mengacu pada UU Cipta Kerja. Perusahaan dapat menerapkan pola enam hari kerja dengan tujuh jam kerja per hari atau lima hari kerja dengan delapan jam per hari. Kedua skema tersebut sama-sama menetapkan total 40 jam kerja dalam sepekan.

Dengan demikian, isu penambahan jam kerja menjadi 45 jam perlu dilihat sebagai bagian dari studi perbandingan regional, bukan sebagai kebijakan yang telah ditetapkan atau dipaksakan oleh kalangan pengusaha.

Jangan Sepelekan! Ini Invisible Cost yang Sering Bikin Laba UMKM Bocor

0

Invisible Cost atau biaya siluman sering menjadi penyebab laba UMKM terasa lebih kecil daripada yang diperkirakan. Di Berempat.com, kami melihat persoalan ini menarik karena biaya tersebut sebenarnya tetap menggerus keuntungan, hanya saja nilainya tersebar dalam berbagai aktivitas kecil: mesin yang semakin tua, bahan makanan yang terbuang, karyawan yang menunggu pekerjaan, lembur, sampai biaya transfer antarbank yang hanya beberapa ribu rupiah setiap transaksi.

Masalahnya, biaya kecil cenderung dianggap tidak penting ketika dilihat satu per satu. Padahal, jika terjadi setiap hari selama berbulan-bulan, akumulasinya dapat menjadi angka yang cukup besar.

Karena itu, pemilik usaha perlu mengenali Invisible Cost sebagai bagian dari manajemen biaya. Tujuannya bukan sekadar memangkas pengeluaran, melainkan mengetahui berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan setiap produk dan melayani setiap pelanggan.

Apa Itu Invisible Cost dalam Bisnis?

Invisible Cost bukan istilah baku dalam standar akuntansi yang menunjukkan satu jenis akun tertentu. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan biaya yang sering tidak terlihat dalam pengambilan keputusan sehari-hari atau tidak langsung terasa ketika transaksi berlangsung.

Contohnya, sebuah kedai kopi membeli mesin seharga Rp30 juta. Ketika mesin digunakan setiap hari, pemilik mungkin hanya mencatat pembelian aset tersebut. Padahal mesin memiliki umur manfaat dan nilainya perlu dialokasikan sebagai beban penyusutan selama masa penggunaannya.

Dalam SAK EMKM, Ikatan Akuntan Indonesia menyebut beban penyusutan diakui dalam laporan laba rugi. Penyusutan aset tetap dapat menggunakan metode garis lurus atau saldo menurun, sementara umur manfaat ditentukan berdasarkan periode kegunaan yang diperkirakan.

Artinya, biaya mesin sebenarnya tidak berhenti pada saat uang dibayarkan ketika membeli aset.

1. Hitung Penyusutan Mesin dan Peralatan

Misalnya sebuah kedai membeli mesin kopi seharga Rp30 juta dan memperkirakan mesin tersebut dapat digunakan selama 5 tahun.

Dengan metode garis lurus sederhana dan tanpa memperhitungkan nilai residu:

Rp30 juta ÷ 5 tahun = Rp6 juta per tahun

Jika dibagi 12 bulan, biaya penyusutannya sekitar:

Rp6 juta ÷ 12 = Rp500 ribu per bulan.

Angka Rp500 ribu tersebut dapat dimasukkan sebagai salah satu komponen biaya ketika pemilik menghitung profitabilitas usaha.

Hal yang sama berlaku untuk oven, freezer, mesin produksi, komputer kasir, kamera, kendaraan operasional, hingga motor kurir.

Untuk motor kurir seharga Rp24 juta dengan estimasi umur manfaat empat tahun, misalnya, penyusutan sederhananya sekitar Rp6 juta per tahun atau Rp500 ribu per bulan sebelum mempertimbangkan nilai residu.

Dengan cara tersebut, pemilik tidak terkecoh melihat laba kas yang terlihat besar karena biaya penggunaan aset sudah diperhitungkan.

Food Waste Bisa Diam-Diam Menggerus Margin

Bisnis makanan memiliki sumber Invisible Cost lain yang sangat penting: bahan baku yang terbuang.

Bappenas memperkirakan food loss and waste di Indonesia selama 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun, atau sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Dari sisi ekonomi, pemborosan tersebut diperkirakan menyebabkan kehilangan sekitar Rp213–551 triliun per tahun, setara 4–5 persen PDB Indonesia.

Angka tersebut merupakan gambaran nasional dan bukan angka khusus UMKM. Namun, skalanya menunjukkan mengapa pemborosan makanan perlu diperhatikan sampai tingkat operasional.

Bayangkan sebuah restoran membeli bahan baku Rp20 juta per bulan. Jika bahan yang rusak, kedaluwarsa, salah produksi, atau tidak terjual setara 5 persen dari nilai pembelian, ada sekitar Rp1 juta per bulan yang berpotensi hilang.

Dalam setahun, nilainya mencapai sekitar Rp12 juta.

Persentase 5 persen di atas hanyalah contoh perhitungan, bukan angka rata-rata food waste UMKM. Setiap usaha perlu menghitung tingkat pemborosan berdasarkan data aktual.

Caranya sederhana: timbang atau catat bahan yang terbuang setiap hari, kelompokkan penyebabnya, kemudian kalikan jumlahnya dengan harga per unit bahan.

Dari sana pemilik bisa mengetahui apakah penyebab terbesar berasal dari pembelian berlebihan, penyimpanan, kesalahan produksi, porsi, atau produk yang tidak laku.

2. Waktu Tunggu Karyawan Juga Punya Harga

Biaya tenaga kerja tidak hanya muncul ketika karyawan sedang menyelesaikan pekerjaan.

Waktu tunggu juga memiliki nilai ekonomi.

Misalnya ada dua karyawan dengan total biaya tenaga kerja Rp6 juta per bulan. Jika dalam satu hari rata-rata mereka kehilangan satu jam produktif karena menunggu bahan, mesin, instruksi, sistem kasir, atau proses approval, sebagian biaya tenaga kerja sebenarnya digunakan untuk aktivitas yang tidak menghasilkan output.

Jika bisnis beroperasi 26 hari dalam sebulan, maka satu jam waktu tunggu per hari menghasilkan sekitar 26 jam waktu tidak produktif untuk satu orang.

Angka tersebut perlu dibandingkan dengan upah per jam dan nilai output yang seharusnya bisa dihasilkan.

Karena itu, pemilik UMKM sebaiknya tidak hanya mencatat jam kerja. Catat juga jam produktif, jam tunggu, jam lembur, dan penyebab waktu terbuang.

Lembur: Biaya yang Bisa Menandakan Masalah Operasional

Lembur terkadang dianggap sebagai solusi cepat ketika pesanan meningkat. Namun, jika terjadi terus-menerus, lembur dapat menjadi indikator bahwa kapasitas produksi, penjadwalan, atau pembagian pekerjaan perlu diperbaiki.

Peraturan ketenagakerjaan menetapkan ketentuan waktu kerja dan lembur. Dalam aturan yang memuat ketentuan tersebut, waktu kerja normal pada umumnya adalah 40 jam per minggu, sedangkan pekerjaan lembur memiliki batas dan kewajiban pembayaran upah lembur.

Sebagai ilustrasi, jika tambahan biaya lembur sebuah usaha rata-rata Rp750 ribu per bulan, dalam setahun nilainya mencapai Rp9 juta.

Pertanyaan yang perlu dijawab bukan sekadar “bagaimana mengurangi lembur?”, tetapi mengapa lembur terjadi?

Jika penyebabnya adalah pesanan musiman, lembur mungkin memang rasional. Namun, jika lembur muncul karena pekerjaan selalu terlambat akibat proses manual, stok sering terlambat datang, atau jadwal kerja tidak efisien, sumber masalahnya perlu diperbaiki.

3. Biaya Transfer Kecil, Akumulasinya Bisa Besar

Biaya administrasi transaksi juga sering dianggap sepele.

Bank Indonesia menetapkan biaya maksimal yang dapat dikenakan peserta BI-FAST kepada nasabah untuk layanan individual credit transfer sebesar Rp2.500 per transaksi.

Bagi satu transaksi, Rp2.500 memang kecil. Tetapi misalnya bisnis melakukan 20 transfer antarbank setiap hari selama 26 hari kerja.

20 × Rp2.500 × 26 = Rp1,3 juta per bulan.

Dalam satu tahun, angkanya dapat mencapai Rp15,6 juta jika frekuensi dan biaya tersebut konsisten.

Ini merupakan ilustrasi matematis, bukan berarti setiap transaksi UMKM pasti dikenakan biaya maksimal BI-FAST.

Karena itu, pemilik usaha perlu mengelompokkan biaya transfer berdasarkan jumlah transaksi, kanal pembayaran, bank yang digunakan, serta biaya aktual yang benar-benar dibebankan.

Jika memungkinkan, gunakan metode pembayaran atau mekanisme transfer yang paling efisien sesuai kebutuhan bisnis.

Buat Invisible Cost Menjadi Terlihat

Cara paling sederhana mengelola Invisible Cost adalah membuat daftar biaya yang sebelumnya tidak pernah diperiksa secara rutin.

Setiap bulan, UMKM dapat memantau setidaknya:

  • penyusutan mesin dan kendaraan;
  • bahan baku rusak atau kedaluwarsa;
  • produk gagal produksi;
  • makanan yang tidak terjual;
  • waktu tunggu karyawan;
  • biaya lembur;
  • biaya transfer;
  • biaya administrasi platform;
  • biaya retur dan pengiriman ulang;
  • kerusakan peralatan;
  • kehilangan stok;
  • biaya perbaikan mendadak.

Setelah itu, buat kolom frekuensi, nominal per kejadian, total bulanan, dan total tahunan.

Metode ini membuat biaya yang sebelumnya terasa “kecil” berubah menjadi angka yang bisa dianalisis.

Misalnya sebuah UMKM menemukan biaya tersembunyi Rp500 ribu dari penyusutan, Rp1 juta dari food waste, Rp750 ribu dari lembur, dan Rp1,3 juta dari transaksi perbankan. Totalnya mencapai Rp3,55 juta per bulan atau sekitar Rp42,6 juta per tahun.

Sekali lagi, angka tersebut merupakan contoh simulasi, bukan rata-rata biaya UMKM.

Namun, simulasi itu memperlihatkan satu hal penting: kebocoran laba tidak selalu berasal dari satu pengeluaran besar. Invisible Cost sering terbentuk dari banyak pengeluaran kecil yang terus berulang.

Kurang lebih, manajemen biaya UMKM bukan hanya soal mencari pemasok termurah atau menekan harga bahan baku. Pemilik bisnis perlu mengetahui biaya sebenarnya dari setiap proses operasional.

Ketika penyusutan aset dihitung, food waste dicatat, waktu tunggu diukur, lembur dievaluasi, dan biaya transaksi dikumpulkan, pemilik usaha akan mendapatkan gambaran margin yang jauh lebih realistis.

Program Bantuan Pangan Beras Capai 97 Persen, 30 Juta Penerima Jadi Sasaran

0

Program bantuan pangan beras tahap kedua tahun 2026 yang dijalankan Perum Bulog atas penugasan Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah selesai disalurkan secara nasional. Untuk periode Juli hingga September, sebanyak 967,5 ribu ton beras telah didistribusikan kepada masyarakat hingga 30 September 2026.

Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas Rachmi Widiriani mengatakan realisasi Program bantuan pangan beras tersebut telah mencapai sekitar 97 persen dari target penyaluran. Pemerintah selanjutnya menyiapkan penyaluran bantuan untuk periode Oktober, November, dan Desember.

Menurut Rachmi, salah satu capaian penting pada penyaluran Juli-September terlihat di wilayah Indonesia timur. Papua, Papua Barat Daya, dan Papua Tengah berhasil mencapai realisasi penyaluran 100 persen. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari koordinasi Bulog dengan pemerintah daerah serta dukungan TNI dan Polri di lapangan.

Penyaluran bantuan tahap kedua dimulai sejak pertengahan Agustus. Kehadiran Program bantuan pangan beras dinilai turut membantu menjaga kestabilan harga karena lebih dari 30 juta penerima manfaat memperoleh dukungan kebutuhan pangan pokok.

Bantuan Beras Ikut Redam Kenaikan Harga

Dampak Program bantuan pangan beras juga terlihat dari perkembangan harga beras di sejumlah daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras mulai berkurang.

Pada minggu keempat Agustus, tercatat 147 kabupaten/kota masih mengalami kenaikan IPH beras. Angka tersebut turun menjadi 115 kabupaten/kota pada minggu pertama Oktober.

Penurunan harga juga dirasakan pedagang di sejumlah daerah. Pedagang beras di Kota Magelang dan Sukoharjo, Jawa Tengah, mengakui adanya perubahan harga setelah pemerintah menggulirkan bantuan pangan kepada masyarakat.

Hal serupa disampaikan Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, Dedy. Ia menyebut harga beras dalam rantai pasok mulai bergerak turun dalam dua pekan terakhir. Penurunan tersebut berada di kisaran Rp400 hingga Rp500 dan salah satu faktor pendorongnya adalah realisasi bantuan pangan beras.

Menurut Dedy, penyaluran bantuan dengan tambahan alokasi sekitar 1 juta ton membuat penerima manfaat memperoleh hingga 30 kilogram beras. Kondisi tersebut ikut mengurangi tekanan permintaan di pasar.

Total CBP yang Disalurkan Capai 1,63 Juta Ton

Pemerintah sebelumnya juga telah menuntaskan penyaluran Program bantuan pangan beras tahap pertama untuk periode Februari-Maret 2026. Pada tahap tersebut, Bulog mendistribusikan 662,8 ribu ton beras.

Jika digabungkan dengan penyaluran Juli-September sebesar 967,5 ribu ton, total Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah digelontorkan melalui program bantuan mencapai 1,63 juta ton.

Dengan berlanjutnya bantuan pangan beras pada Oktober hingga Desember, pemerintah berharap pasokan masyarakat tetap terjaga sekaligus membantu meredam gejolak harga beras di berbagai wilayah.

Elon Musk Kembali Jadi Triliuner, Saham Tesla Naik 6,7%

0

Saham Tesla naik 6,7% sejak awal Oktober 2026 dan ikut mengerek kembali kekayaan Elon Musk ke level US$1,04 triliun. Kenaikan tersebut membuat harta orang terkaya di dunia itu bertambah sekitar US$65 miliar atau setara Rp1.163 triliun dengan asumsi kurs Rp17.908 per dolar AS.

Mengutip Strait Times, Selasa (6/10/2026), penguatan saham Tesla terjadi bersamaan dengan lonjakan nilai SpaceX. Saham perusahaan antariksa tersebut tercatat naik 13% sejak awal bulan. Kombinasi kedua aset itu menjadi pendorong utama kembalinya kekayaan Musk ke level 13 digit setelah sempat turun dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan besarnya pengaruh pergerakan saham terhadap kekayaan Musk. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kepemilikannya di Tesla dan SpaceX menyumbang lebih dari 98% total kekayaan bersihnya.

Saham Tesla Naik, Sentimen Investor Mulai Menguat

Pergerakan positif saham Tesla naik terjadi setelah perusahaan melaporkan kinerja penjualan kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan. Data tersebut memberi angin segar bagi investor setelah sebelumnya Tesla menghadapi tekanan pasar yang cukup berat.

Pada Juli 2026, saham Tesla sempat terpuruk hingga 14,1% dalam perdagangan intraday. Penurunan tersebut memangkas kekayaan Musk sekitar US$18,6 miliar menjadi US$731,7 miliar. Saat itu, investor juga menyoroti prospek bisnis robotika dan robotaxi Tesla yang dinilai membutuhkan bukti pertumbuhan lebih konkret.

Kini, arah pasar mulai berubah. Saham Tesla naik kembali seiring munculnya optimisme terhadap strategi bisnis perusahaan dan prospek pengembangan teknologi yang tengah dikejar Musk.

Penguatan tersebut juga terjadi setelah SpaceX memperoleh sentimen positif dari analis. Morgan Stanley pada 5 Oktober menyebut perusahaan antariksa itu sebagai salah satu pilihan menarik untuk mendapatkan eksposur terhadap potensi pertumbuhan sektor antariksa dan kecerdasan buatan.

SpaceX bahkan telah pulih sekitar 58% dari titik terendah pada Agustus. Perkembangan ini turut memperbesar nilai aset Musk sekaligus memperkuat pemulihan kekayaannya.

Kekayaan Musk Kembali Jadi Triliuner

Sebelumnya, Musk sempat menjadi triliuner pertama di dunia setelah aksi korporasi SpaceX mendorong nilai kekayaannya hingga sekitar US$1,4 triliun. Namun, gelombang aksi jual membuat angka tersebut merosot tajam dalam waktu relatif singkat.

Dengan saham Tesla naik dan nilai SpaceX kembali menguat, kekayaan Musk kini kembali melewati US$1 triliun. Perubahan tersebut memperlihatkan betapa cepat posisi kekayaan miliarder dapat berubah mengikuti sentimen pasar.

Tesla sendiri mencatat pendapatan kuartal kedua sebesar US$28,2 miliar, melampaui perkiraan analis US$27,2 miliar. Namun, laba per saham hanya 33 sen, lebih rendah dari proyeksi 55 sen.

Di tengah pemulihan saham Tesla naik, Tesla juga menyiapkan belanja modal besar. Direktur Keuangan Vaibhav Taneja menyebut perusahaan berencana mengalokasikan hingga US$25 miliar sepanjang tahun ini dan kemungkinan meningkatkan pengeluaran pada tahun berikutnya.

Digitalisasi Operasional Perusahaan untuk Menghubungkan Produksi Stok dan Distribusi

0

Banyak perusahaan sudah memiliki mesin produksi, gudang, tim sales, hingga armada pengiriman yang bekerja setiap hari. Namun, data dari setiap bagian sering berjalan sendiri-sendiri. Produksi baru tahu stok menipis setelah ada permintaan mendadak, tim sales menunggu konfirmasi ketersediaan barang, sementara bagian logistik menerima informasi pengiriman yang terlambat. Situasi seperti ini membuat pekerjaan terasa sibuk, tetapi belum tentu efisien. Digitalisasi Operasional Perusahaan membantu menyatukan alur tersebut agar data produksi, stok, pesanan, dan distribusi bisa bergerak dalam satu sistem yang lebih terarah.

Miraswift menghadirkan solusi otomatisasi sistem dan perangkat lunak untuk membantu perusahaan mengelola proses produksi maupun operasional bisnis secara lebih efisien, akurat, dan mudah dipantau. Bagi perusahaan manufaktur, retail, dan distributor, digitalisasi bukan sekadar mengganti kertas dengan aplikasi. Proses ini membangun koneksi antardivisi agar keputusan harian dibuat dari data yang sama.

Mengapa Digitalisasi Operasional Perusahaan Penting?

Digitalisasi Operasional Perusahaan berarti memindahkan proses kerja penting ke sistem digital yang saling terhubung. Data yang sebelumnya tersimpan di spreadsheet berbeda, catatan gudang, pesan singkat, atau laporan manual dikumpulkan dan diperbarui dalam satu alur kerja.

Di perusahaan yang masih mengandalkan proses terpisah, sebuah pesanan dapat melewati banyak tahapan manual. Sales mencatat order, admin memasukkan ulang data, gudang mengecek stok, lalu logistik menunggu instruksi pengiriman. Setiap perpindahan informasi membuka peluang keterlambatan, salah jumlah, atau data yang tidak sinkron.

Saat proses terhubung, pesanan dari sales bisa langsung muncul untuk pengecekan stok. Gudang menerima informasi yang sama untuk menyiapkan barang, dan bagian logistik memperoleh dasar untuk merencanakan pengiriman. Manajemen pun dapat melihat perkembangan proses tanpa harus menunggu rekap dari setiap tim. Dengan demikian, Digitalisasi Operasional Perusahaan menciptakan alur kerja yang lebih cepat sekaligus lebih mudah dikendalikan.

Menghubungkan Produksi dengan Ketersediaan Barang

Produksi adalah titik awal bagi perusahaan yang menjual barang fisik. Jika data hasil produksi tidak masuk secara cepat ke sistem persediaan, tim penjualan dapat menawarkan barang yang sebenarnya belum siap atau bahkan sudah habis. Akibatnya, pelanggan menerima informasi yang tidak konsisten dan jadwal pengiriman berisiko berubah.

Sistem digital membantu perusahaan mencatat output produksi, bahan yang digunakan, serta status barang yang siap masuk gudang. Informasi tersebut dapat dijadikan dasar untuk merencanakan kebutuhan stok dan penjualan pada periode berikutnya. Tim produksi juga lebih mudah melihat barang mana yang permintaannya meningkat sehingga jadwal kerja dapat disusun lebih responsif.

Pada operasional yang lebih kompleks, perangkat IoT dapat menambah data dari mesin atau titik proses tertentu secara real-time. Miraswift mengembangkan pendekatan Industrial IoT yang menghubungkan mesin dan perangkat operasional agar data dapat dipantau dan dianalisis lebih cepat. Data ini memberi perusahaan gambaran yang lebih jelas mengenai aktivitas di lantai produksi sebelum berdampak pada stok dan distribusi.

Peran Stok dalam Alur Operasional yang Terhubung

Stok menjadi penghubung antara produksi, penjualan, dan pengiriman. Ketika angka stok tidak akurat, semua bagian ikut terdampak. Sales kesulitan menjanjikan ketersediaan barang, gudang harus melakukan pengecekan ulang, dan logistik bisa menunggu barang yang ternyata belum siap.

Dengan Digitalisasi Operasional Perusahaan, data stok diperbarui berdasarkan pergerakan barang yang benar-benar terjadi. Barang masuk dari produksi, barang berpindah antargudang, pesanan yang sudah dialokasikan, dan barang keluar untuk dikirim dapat tercatat dalam satu sistem. Pemilik bisnis tidak perlu hanya mengandalkan laporan akhir hari untuk mengetahui kondisi persediaan.

Manfaat yang bisa dirasakan antara lain:

  • Tim sales memperoleh referensi stok terbaru saat menerima pesanan.
  • Gudang dapat memprioritaskan barang yang perlu disiapkan atau diisi ulang.
  • Manajemen lebih mudah mengidentifikasi produk bergerak cepat dan stok yang terlalu lama tersimpan.
  • Perencanaan pembelian bahan atau produksi berikutnya dapat didukung oleh riwayat permintaan yang lebih rapi.

Untuk bisnis distribusi dan retail, visibilitas stok seperti ini membuat perusahaan lebih siap memenuhi permintaan tanpa membebani gudang dengan persediaan berlebihan.

Distribusi yang Digerakkan oleh Data

Distribusi sering menjadi tahap yang paling menantang karena melibatkan sales, gudang, kurir, kendaraan, pelanggan, dan jadwal pengiriman. Jika informasi pesanan masih tersebar di berbagai chat dan dokumen, koordinasi mudah tersendat. Barang bisa terlambat berangkat, pelanggan sulit mendapat kepastian, dan tim finance menerima data transaksi lebih lambat.

MiraDis dari Miraswift dirancang sebagai solusi distribusi terintegrasi untuk menghubungkan aktivitas sales lapangan, stok, pengiriman, keuangan, serta dashboard manajemen. Aplikasi mobile-nya mendukung pencatatan kehadiran, rencana kunjungan toko, pelacakan lokasi, dan laporan aktivitas sales secara real-time untuk bisnis distribusi, retail, dan FMCG.

Saat order dari sales tercatat dalam sistem, informasi tersebut dapat diteruskan ke bagian gudang dan logistik. Tim di kantor dapat memantau status pesanan, aktivitas kunjungan, stok, serta proses pengiriman melalui satu dashboard. Miraswift juga menjelaskan bahwa MiraDis dapat menghubungkan sales, logistik, HR, dan keuangan dalam satu platform sehingga koordinasi antartim tidak terus bergantung pada laporan manual.

Menerapkan Digitalisasi Secara Bertahap

Perusahaan tidak harus mengubah seluruh proses dalam satu waktu. Pendekatan bertahap biasanya lebih realistis karena tim dapat beradaptasi sambil tetap menjalankan operasional harian. Langkah awalnya adalah mengidentifikasi titik yang paling sering menimbulkan hambatan, misalnya selisih stok, keterlambatan laporan sales, atau koordinasi pengiriman yang belum rapi.

Setelah itu, perusahaan dapat menentukan data apa yang perlu dicatat dan siapa saja yang membutuhkan akses. Pada tahap awal, fokus dapat dimulai dari pencatatan order dan stok. Berikutnya, sistem dapat diperluas ke aktivitas sales lapangan, pengiriman, piutang, hingga laporan keuangan. Pola ini membuat Digitalisasi Operasional Perusahaan tumbuh mengikuti kebutuhan bisnis, bukan menjadi proyek teknologi yang sulit dipakai.

Bagi bisnis distribusi dan FMCG, MiraDis menawarkan contoh pendekatan terintegrasi melalui pemantauan stok, aktivitas sales, pengiriman, dan laporan keuangan dalam satu tampilan. Saat produksi, stok, dan distribusi menggunakan data yang terhubung, perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menjaga pelayanan pelanggan, mengatur kapasitas, serta melihat peluang pertumbuhan dengan lebih jelas.

Dana Korban Penipuan Rp811,1 Miliar Berhasil Diblokir OJK

0

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Dana Korban Penipuan digital yang berhasil diblokir melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencapai Rp811,1 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp207,16 miliar telah dikembalikan kepada masyarakat yang menjadi korban kejahatan digital.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan penanganan laporan penipuan terus diperkuat untuk mempercepat penyelamatan dana masyarakat. Menurutnya, IASC menjadi salah satu instrumen penting dalam merespons kasus penipuan yang semakin banyak memanfaatkan kanal digital.

Hingga periode pelaporan tersebut, IASC menerima sekitar 702,34 ribu laporan yang berasal dari Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) maupun pengaduan langsung masyarakat. Dari laporan itu, OJK melakukan verifikasi terhadap 1,37 juta rekening.

OJK juga berhasil memblokir sekitar 702,83 ribu rekening yang diduga digunakan pelaku penipuan. Rekening tersebut tersebar di 24 bank. Selain rekening, otoritas turut menelusuri 173.718 nomor telepon yang terindikasi berkaitan dengan aktivitas penipuan.

OJK Perketat Pengawasan Perlindungan Konsumen

Upaya penyelamatan Dana Korban Penipuan berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan terhadap perilaku pelaku usaha jasa keuangan. Sepanjang Januari hingga pertengahan September 2026, OJK menerbitkan 141 peringatan tertulis dan menjatuhkan 52 sanksi denda kepada sejumlah lembaga keuangan.

Pengawasan tersebut turut mendorong 157 PUJK memberikan penggantian kerugian kepada konsumen dengan nilai mencapai Rp82,96 miliar. Pelanggaran yang menjadi perhatian mencakup transparansi informasi, materi iklan, hingga tindakan petugas penagihan.

Dalam penegakan perlindungan konsumen, OJK menjatuhkan 76 sanksi administratif berupa peringatan tertulis serta 43 denda dengan nilai total Rp8,73 miliar. Otoritas juga meminta sejumlah iklan yang dinilai menyesatkan dihentikan penayangannya.

Sementara itu, delapan PUJK dikenai denda Rp570 juta karena terlambat menyampaikan laporan self-assessment 2025. Keterlambatan laporan literasi dan inklusi keuangan juga menghasilkan 45 sanksi administratif dengan akumulasi denda Rp1,7 miliar.

Pengaduan Penipuan dan Aktivitas Keuangan Ilegal Masih Tinggi

Dari kanal pengaduan konsumen, OJK menerima 527,38 ribu permintaan layanan melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK) hingga 14 September 2026. Sebanyak 82.092 di antaranya merupakan pengaduan resmi. Fintech menjadi sektor dengan laporan terbanyak, yakni 36.435 pengaduan, disusul perbankan 26.091 laporan dan perusahaan pembiayaan 16.758 laporan.

OJK juga menerima 35.438 aduan mengenai aktivitas keuangan ilegal hingga akhir September 2026. Pinjol ilegal mendominasi dengan 31.571 laporan, kemudian investasi ilegal 3.645 laporan dan gadai ilegal 222 laporan.

Kondisi tersebut membuat upaya mengamankan Dana Korban Penipuan tetap menjadi agenda penting. Melalui Satgas PASTI, OJK terus melakukan pemblokiran terhadap situs dan aplikasi yang terindikasi menjalankan aktivitas keuangan ilegal.

Penguatan sistem pengawasan diharapkan dapat mempersempit ruang gerak pelaku sekaligus mempercepat proses penyelamatan Dana Korban Penipuan agar kerugian masyarakat dapat ditekan.

Indonesia Juara! Garuda Raih Gelar FIFA ASEAN Cup 2026 di GBK!

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah Tim Garuda menundukkan Thailand melalui drama adu penalti pada final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026). Pertandingan berlangsung ketat hingga waktu normal dan babak tambahan berakhir imbang, sebelum Indonesia memastikan kemenangan lewat titik putih.

Kiper Emil Audero menjadi salah satu pemain yang menentukan keberhasilan Indonesia Juara. Penjaga gawang Indonesia tersebut berhasil menggagalkan eksekusi penalti terakhir Thailand yang dilakukan Nattapong Sayriya. Tendangan ke arah kiri mampu ditepis Audero sehingga Indonesia menang 4-2 dalam adu penalti.

Pertandingan sejak awal berlangsung sengit. Thailand langsung mengambil inisiatif serangan dan sempat membuat lini pertahanan Indonesia bekerja keras. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit, Kevin Diks dan rekan-rekannya mulai mengambil kendali permainan.

Indonesia menciptakan peluang pertama melalui Mitchell Baker pada menit kedelapan. Tembakan kaki kanannya mengarah tepat ke gawang, tetapi masih dapat diamankan kiper Thailand Saranon Anuin.

Indonesia dan Thailand Saling Menekan

Memasuki pertengahan babak pertama, Timnas Indonesia semakin sering menekan pertahanan Thailand. Ole Romeny mendapat peluang setelah menerima umpan dari Diks, tetapi tembakannya masih melewati mistar. Justin Hubner juga hampir membuka keunggulan melalui sundulan yang hanya melebar dari gawang.

Thailand kemudian mencoba merespons melalui serangan balik. Kedua tim bergantian membangun serangan hingga akhir babak pertama, tetapi tidak ada gol yang tercipta.

Memasuki babak kedua, Thailand kembali mengambil kendali permainan. Pelatih Indonesia John Herdman melakukan sejumlah perubahan untuk menjaga keseimbangan tim. Dean James masuk menggantikan Thom Haye, sementara Rizky Ridho dan Ivar Jenner kemudian dimainkan untuk memperkuat lini belakang serta tengah.

Indonesia akhirnya mendapatkan momentum melalui situasi bola mati. Pelanggaran terhadap Romeny membuat Nicolas Mickelson menerima kartu merah setelah sebelumnya mendapat kartu kuning. Dean James mengambil tendangan bebas dan bola yang melewati pagar pemain Thailand kemudian berubah arah setelah mengenai pemain lawan. Kesalahan antisipasi kiper membuat Indonesia membuka keunggulan.

Thailand tidak membutuhkan waktu lama untuk membalas. Serangan berikutnya menghasilkan gol penyama kedudukan setelah pertahanan Indonesia gagal mengantisipasi bola lambung dengan baik.

Drama Extra Time hingga Adu Penalti Mengantarkan Indonesia Juara

Pertandingan kemudian berlanjut ke babak tambahan. Thailand sempat kembali unggul melalui Peeradol Chamrasamee pada menit ke-111 setelah memanfaatkan serangan balik. Namun, Indonesia menunjukkan mental juara.

Lima menit berselang, Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan. Berawal dari kemelut di dalam kotak penalti, bola hasil tembakannya lebih dulu membentur mistar sebelum masuk ke gawang.

Skor tetap bertahan hingga extra time berakhir sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti. Timnas Indonesia tampil lebih tenang dalam menjalankan tugasnya. Sementara itu, kegagalan Nattapong menjadi penentu kemenangan Garuda.

Hasil tersebut memastikan Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 sekaligus menambah catatan penting dalam perjalanan sepak bola nasional. Keberhasilan Indonesia Juara juga menjadi buah dari perjuangan pemain yang mampu menjaga fokus hingga menit-menit terakhir pertandingan.

Dengan kemenangan tersebut, Tim Garuda akhirnya mengangkat trofi setelah melewati final yang penuh tekanan. Status Indonesia Juara menjadi penutup dramatis dari duel panjang menghadapi Thailand di hadapan pendukung sendiri.

Mengenal Mesin Powder Handling dan Perkembangannya di Indonesia

0

Industri manufaktur di Indonesia tumbuh bukan hanya dari sisi skala produksi, tetapi juga dari cara mereka menangani material. Salah satu yang paling sering luput dari perhatian publik adalah bagaimana bubuk dan butiran, yang dalam dunia industri disebut powder dan granul, berpindah dari satu titik ke titik lain di dalam pabrik. Di balik alur produksi yang terlihat mulus, ada sistem yang bekerja terus-menerus: powder handling.

Topik ini mungkin terdengar teknis, tetapi ia menyentuh hampir semua hal yang kita konsumsi sehari-hari. Mulai dari susu bubuk, tepung, obat-obatan, cat, pupuk, hingga semen. Semua melewati proses transfer material yang menuntut perhitungan cermat.

Apa Itu Powder Handling?

Secara sederhana, powder handling adalah rangkaian proses penanganan material berbentuk bubuk atau butiran, mulai dari pengambilan, pemindahan, penimbangan, pencampuran, hingga pengemasan. Sistem ini bisa berupa peralatan tunggal, tetapi sering kali merupakan kombinasi beberapa mesin yang dirancang mengikuti alur produksi.

Yang membuat powder handling tidak sesederhana memindahkan benda padat biasa adalah karakter materialnya. Bubuk cenderung mudah beterbangan, menempel di dinding saluran, menggumpal karena kelembapan, atau justru berisiko meledak jika bersifat mudah terbakar. Setiap jenis material punya perilaku berbeda. Tepung terigu dan serbuk logam, misalnya, membutuhkan perlakuan yang sama sekali tidak mirip.

Karena itu, mesin powder handling tidak bisa dipilih asal-asalan. Ia harus dirancang dengan mempertimbangkan sifat fisik dan kimia material yang diangkut.

Mengapa Powder Handling Penting bagi Industri?

Bagi banyak pabrik, sistem transfer material adalah urat nadi. Jika alurnya tersendat, seluruh lini produksi ikut terganggu. Beberapa sektor yang paling bergantung pada powder handling system antara lain:

  • Makanan dan minuman, yang mengolah bahan seperti tepung, gula, bumbu, dan susu bubuk.
  • Farmasi, dengan tuntutan kebersihan dan akurasi yang sangat tinggi.
  • Kimia, yang sering menangani material reaktif atau berbahaya.
  • Plastik, terutama pada penanganan resin dan aditif berbentuk butiran.
  • Semen dan material bangunan, yang memindahkan material dalam volume besar.
  • Pupuk, termasuk NPK, yang membutuhkan sistem tahan lembap dan korosi.

Di sektor-sektor ini, efisiensi transfer bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal menjaga kualitas produk, mengurangi limbah, dan melindungi pekerja dari paparan material.

Lalu Bagaimana Perkembangannya di Indonesia?

Selama sepuluh tahun terakhir, kebutuhan industri Indonesia terhadap sistem transfer material terus berubah. Pabrik-pabrik baru tidak lagi hanya menuntut kapasitas besar, tetapi juga fleksibilitas layout, kebersihan, dan efisiensi energi. Hal ini mendorong beragamnya teknologi yang digunakan di lapangan.

Beberapa pendekatan yang umum dijumpai antara lain:

  1. Screw conveyor, yang cocok untuk jarak pendek dan material tertentu.
  2. Pneumatic conveying, yang memanfaatkan aliran udara untuk mendorong material.
  3. Vacuum conveying, yang mengandalkan tekanan negatif untuk menghisap material.
  4. Mechanical conveying, yang memindahkan material secara mekanis tanpa media angin.

Tidak ada satu teknologi yang otomatis lebih baik dari yang lain. Pemilihan biasanya bergantung pada karakter material, kapasitas yang dibutuhkan, jarak transfer, kondisi layout pabrik, hingga tingkat kebersihan yang disyaratkan proses. Kombinasi faktor inilah yang membuat pemilihan conveyor powder menjadi pekerjaan yang butuh pengalaman, bukan sekadar membandingkan spesifikasi di brosur.

Siapa Saja yang Bergerak di Bidang Powder Handling di Indonesia?

Pasar powder handling di Indonesia diisi oleh berbagai pemain, baik dari manufaktur lokal maupun penyedia teknologi internasional. Masing-masing memiliki pendekatan berbeda. Ada yang fokus pada sistem pneumatic dan vacuum, ada yang menyediakan solusi powder processing secara menyeluruh, dan ada pula yang mengkhususkan diri pada teknologi mechanical conveying.

Salah satu nama yang hadir di segmen ini adalah JETFLO, produk Aero Mechanical Conveyor yang dikembangkan oleh Dissindo. Berbeda dengan sistem yang mengandalkan tekanan udara, JETFLO memindahkan material melalui tube tertutup dengan mekanisme tali dan disc. Pendekatan ini menempatkannya pada ceruk pasar tersendiri, terutama untuk industri yang menginginkan transfer material tanpa ketergantungan pada suplai angin.

Mengenal JETFLO Aero Mechanical Conveyor

JETFLO dirancang untuk memindahkan powder dan granul secara kontinu melalui jalur tertutup. Inti sistemnya adalah kombinasi rope dan disc yang bergerak di dalam tube, mendorong material dari titik masuk ke titik keluar tanpa membiarkannya terpapar lingkungan luar.

Beberapa keunggulan yang ditawarkan sistem ini antara lain:

  • Tidak membutuhkan supply angin, sehingga tidak bergantung pada kompresor dan instalasi udara bertekanan.
  • Penggunaan daya motor relatif kecil, yang berdampak pada efisiensi operasional.
  • Kapasitas hingga 18 ton per jam, bergantung pada bulk density dan karakter material yang ditangani.
  • Compact dan fleksibel, sehingga dapat mengikuti layout pabrik yang sudah ada tanpa perlu banyak perubahan.
  • Membantu meminimalkan deposit material di dalam jalur, yang penting untuk menjaga konsistensi kualitas dan kebersihan sistem.

Bagi industri yang sebelumnya menggunakan mesin transfer powder berbasis angin, kehadiran sistem mekanis seperti JETFLO membuka opsi baru. Terutama ketika konsumsi energi, perawatan, dan kebersihan menjadi prioritas.

Mengapa Pemilihan Powder Handling System Harus Disesuaikan dengan Kebutuhan?

Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi di lapangan adalah menganggap satu teknologi bisa diterapkan untuk semua material. Padahal, karakter setiap material berbeda. Bulk density, ukuran partikel, kadar air, sifat abrasif, hingga kecenderungan menggumpal adalah variabel yang tidak bisa diabaikan.

Belum lagi faktor eksternal seperti kapasitas produksi, jarak transfer, ketinggian, layout ruang, tingkat kebersihan yang disyaratkan, serta kebutuhan integrasi dengan proses lain. Sistem yang optimal di satu pabrik bisa jadi justru merepotkan di pabrik lain dengan material serupa.

Karena itu, pendekatan yang lebih bijak adalah melakukan konsultasi teknis terlebih dahulu. Menentukan powder handling system sebaiknya tidak dimulai dari memilih merek, melainkan dari memahami kebutuhan material dan proses produksinya.

Sedang mencari solusi transfer powder dan granul untuk kebutuhan industri Anda?

Konsultasikan karakter material, kapasitas, dan layout produksi Anda bersama tim JETFLO Dissindo untuk menemukan konfigurasi sistem transfer yang sesuai. Setiap pabrik punya kebutuhan berbeda, dan solusi yang tepat biasanya lahir dari diskusi teknis yang cermat, bukan dari katalog.

Fundamental Perekonomian Indonesia Menguat, Manufaktur Kembali Masuk Zona Ekspansi

0

Memasuki Triwulan IV-2026, Fundamental Perekonomian Indonesia menunjukkan sejumlah sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Stabilitas harga masih terjaga, perdagangan luar negeri mencatat surplus, sementara aktivitas industri manufaktur kembali memasuki zona ekspansi.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan inflasi September 2026 berada di level 3,28 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melandai menjadi 2,84 persen, sedangkan inflasi administered prices tercatat 3,25 persen.

Namun, pemerintah masih mencermati inflasi volatile food yang mencapai 5,03 persen. Tekanan tersebut dipengaruhi perubahan permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

Menurut Haryo, pemerintah memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga, terutama menjelang akhir tahun. Penyaluran PKH tahap III, bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan untuk Oktober hingga Desember 2026, serta percepatan SPHP beras medium melalui Perum Bulog menjadi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat.

Perdagangan Eksternal Perkuat Fundamental Perekonomian Indonesia

Dari sektor perdagangan, Fundamental Perekonomian Indonesia turut ditopang surplus neraca perdagangan yang mencapai USD7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026.

Sejumlah komoditas menjadi penopang utama ekspor. Besi dan baja mencatat nilai USD19,18 miliar atau tumbuh 4,88 persen, CPO dan turunannya mencapai USD17,75 miliar dengan pertumbuhan 6,57 persen, sedangkan batu bara mencapai USD16,58 miliar atau meningkat 4,31 persen.

Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen. Perkembangan ini menunjukkan hilirisasi terus memberikan kontribusi terhadap kinerja perdagangan sekaligus memperkuat Fundamental Perekonomian Indonesia.

Pada sisi impor, bahan baku dan barang penolong mencapai USD133,38 miliar, sementara barang modal sebesar USD36,74 miliar. Kedua kelompok tersebut menyumbang sekitar 91,3 persen dari total impor. Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis 15,26 persen serta mesin dan perlengkapan elektrik 22,94 persen mengindikasikan kebutuhan produksi dan investasi domestik tetap bergerak.

Manufaktur Kembali Masuk Zona Ekspansi

Penguatan Fundamental Perekonomian Indonesia juga terlihat dari PMI Manufaktur September 2026 yang naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali mengalami ekspansi.

Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan pesanan baru dan produksi, peningkatan pesanan ekspor, masuknya proyek baru, serta perbaikan daya beli. Pesanan baru bahkan tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026, sementara pesanan ekspor mencapai pertumbuhan tertinggi sejak Mei 2022.

Penyerapan tenaga kerja, pembelian, dan persediaan input juga kembali meningkat. Di sisi biaya, kenaikan harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan.

Kondisi tersebut memperlihatkan Fundamental Perekonomian Indonesia memasuki kuartal terakhir 2026 dengan sejumlah indikator yang relatif solid, meski pemerintah tetap perlu mewaspadai tekanan pangan dan perkembangan ekonomi global.