Rabu, November 4, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 7

Bitcoin Tertekan Harga Minyak, Harga BTC Merosot ke US$82.553

0

Bitcoin Tertekan Harga Minyak menjadi sorotan pasar kripto pada awal pekan ini. Harga aset digital terbesar di dunia tersebut melemah setelah lonjakan harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar global.

Mengutip Investing, Selasa (13/10/2026), Bitcoin turun 1,3 persen ke level US$82.553,7 pada perdagangan Senin (12/10/2026). Pelemahan ini melanjutkan tren pergerakan yang cenderung lesu sejak awal Oktober, setelah Bitcoin terkoreksi sekitar 2 persen pada pekan sebelumnya.

Tekanan juga datang dari pasar investasi. Dana yang keluar dari produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat meningkat pada pekan pertama Oktober. Nilai arus keluar mencapai US$681 juta hingga pekan yang berakhir 9 Oktober, menjadi yang terbesar sejak akhir Juni.

Harga Minyak dan Geopolitik Bebani Pasar Kripto

Kenaikan harga minyak hingga melampaui US$106 per barel terjadi setelah serangan mematikan di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, selama akhir pekan. Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru mengenai keamanan pasokan energi dari Timur Tengah.

Meski demikian, kenaikan harga minyak sempat tertahan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya “gencatan senjata energi” antara Rusia dan Ukraina. Pengumuman itu memunculkan harapan terhadap berkurangnya gangguan pasokan, meskipun kedua negara belum mengonfirmasi kesepakatan tersebut.

Situasi ini membuat Bitcoin Tertekan Harga Minyak di tengah ketidakpastian arah pasar. Investor masih mencermati perkembangan geopolitik dan arus dana investasi sebelum menentukan langkah berikutnya.

Strategy Tambah Kepemilikan Bitcoin

Di tengah pelemahan pasar, perusahaan Strategy justru menambah kepemilikan Bitcoin. Perusahaan tersebut membeli 250 Bitcoin senilai sekitar US$21,5 juta pada periode 5–11 Oktober, dengan harga rata-rata US$86.194 per koin.

Pembelian itu meningkatkan total kepemilikan Strategy menjadi 848.250 Bitcoin, dengan nilai sekitar US$70,6 miliar. Informasi tersebut disampaikan perusahaan melalui siaran pers pada Senin.

Meski Oktober kerap dijuluki “Uptober” karena reputasi historisnya sebagai bulan yang kuat bagi Bitcoin, tekanan geopolitik dan arus keluar ETF membuat prospek pasar tetap penuh tantangan. Pergerakan Bitcoin Tertekan Harga Minyak pun masih bergantung pada perkembangan pasokan energi dan sentimen investor.

Jangan Terburu-buru! Ini Cara Mengembangkan Produk UMKM dengan Tepat

0

Mengembangkan produk UMKM sering dianggap sebagai langkah penting untuk memperbesar bisnis. Pemilik usaha berlomba menghadirkan varian baru, mulai dari rasa tambahan, desain berbeda, ukuran kemasan, hingga produk yang mengikuti tren pasar. Harapannya, semakin banyak pilihan akan semakin besar peluang penjualan. Namun, di Berempat.com, kami melihat ada pertanyaan penting yang kerap terlewat: apakah bisnis benar-benar membutuhkan produk baru, atau justru perlu memperbaiki produk yang sudah dimiliki?

Menambah produk memang bisa membuka pasar baru. Akan tetapi, setiap varian juga membutuhkan biaya pengembangan, bahan baku, penyimpanan, pemasaran, dan pengelolaan stok. Jika produk lama belum menghasilkan penjualan yang stabil, ekspansi katalog berisiko menambah beban operasional tanpa memberikan keuntungan yang sepadan.

Persaingan di sektor usaha kecil juga cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 4.107.397 usaha industri mikro dan 306.046 usaha industri kecil pada 2024, atau total sekitar 4,41 juta unit usaha dalam kategori industri mikro dan kecil. Angka ini tidak mencakup seluruh jenis UMKM, tetapi memberikan gambaran mengenai besarnya persaingan di sektor produksi. (BPS)

Dalam situasi seperti ini, mengembangkan produk UMKM perlu dilakukan berdasarkan kebutuhan pasar dan kemampuan bisnis, bukan semata-mata keinginan untuk terus menghadirkan sesuatu yang baru.

Tanda UMKM Sebaiknya Berhenti Menambah Varian Produk

1. Produk Lama Belum Menghasilkan Penjualan yang Stabil

Sebelum menambah produk, periksa performa produk yang sudah tersedia. Apakah penjualannya konsisten? Lalu Apakah pelanggan melakukan pembelian ulang? Apakah ada produk yang hanya ramai saat promosi, lalu kembali sepi setelah diskon berakhir?

Jika produk utama saja belum memiliki permintaan yang stabil, menambah varian belum tentu menyelesaikan masalah.

Misalnya, sebuah bisnis camilan memiliki tiga varian rasa. Varian original menyumbang sebagian besar penjualan, sedangkan dua varian lainnya hanya terjual sesekali. Dalam kondisi tersebut, pemilik usaha sebaiknya mencari tahu alasan perbedaan performa itu sebelum membuat varian keempat.

Bisa jadi rasa baru memang kurang diminati. Namun, bisa juga masalahnya terletak pada harga, ukuran kemasan, kualitas produk, foto katalog, atau cara promosi.

2. Biaya Operasional Terus Meningkat

Setiap produk baru membawa konsekuensi operasional. Bisnis makanan perlu menyiapkan bahan tambahan, kemasan, pengujian resep, serta pengaturan persediaan. Bisnis fashion mungkin harus membeli kain dengan warna berbeda, menyiapkan ukuran tambahan, dan mengelola stok yang lebih beragam.

Jika terlalu banyak varian bergerak lambat, modal bisa tertahan dalam persediaan.

Sebagai ilustrasi, UMKM memiliki anggaran persediaan Rp10 juta. Jika Rp6 juta terserap oleh produk yang jarang terjual, ruang untuk mengisi ulang produk terlaris menjadi lebih terbatas.

Angka tersebut merupakan simulasi, bukan data rata-rata UMKM. Intinya, pemilik usaha perlu melihat berapa banyak modal yang tertahan pada setiap produk dan seberapa cepat persediaan tersebut berubah menjadi penjualan.

3. Pelanggan Justru Bingung Memilih

Pilihan yang beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan konsumen. Namun, katalog yang terlalu ramai juga berpotensi menyulitkan pelanggan, terutama jika perbedaan antarvarian tidak dijelaskan dengan baik.

Riset Chernev, Böckenholt, dan Goodman yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Psychology pada 2015 menganalisis 99 observasi dari 50 penelitian mengenai choice overload. Hasilnya menunjukkan bahwa banyaknya pilihan dapat meningkatkan kesulitan mengambil keputusan dalam kondisi tertentu, terutama ketika tugas memilih terasa rumit atau konsumen belum memiliki preferensi yang jelas. Efeknya tidak selalu terjadi pada semua situasi.

Karena itu, strategi produk bisnis kecil perlu mempertimbangkan kemudahan pelanggan menentukan pilihan. Varian baru sebaiknya memiliki manfaat atau pembeda yang mudah dipahami, bukan sekadar menambah jumlah produk.

Evaluasi Produk Sebelum Memutuskan Inovasi

Langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi produk secara berkala. Pemilik usaha tidak harus menggunakan perangkat analisis yang rumit. Data penjualan, biaya, dan masukan pelanggan sudah bisa menjadi titik awal yang berguna.

Ada lima indikator yang layak diperiksa:

  • Volume penjualan: berapa unit terjual dalam periode tertentu?
  • Margin keuntungan: berapa keuntungan yang tersisa setelah biaya produk diperhitungkan?
  • Pembelian ulang: apakah pelanggan kembali membeli produk yang sama?
  • Keluhan dan retur: apakah ada masalah kualitas, ukuran, rasa, kemasan, atau daya tahan?
  • Perputaran stok: berapa lama produk tersimpan sebelum terjual?

Sebagai contoh, produk A terjual 300 unit per bulan dengan margin Rp5.000 per unit. Produk B terjual 100 unit dengan margin Rp8.000 per unit.

Jika hanya melihat volume, produk A tampak lebih unggul. Namun, kontribusi margin kotor sebelum biaya operasional lain adalah Rp1,5 juta untuk produk A dan Rp800 ribu untuk produk B. Setelah itu, pemilik masih perlu memperhitungkan biaya penyimpanan, promosi, produk rusak, dan biaya khusus lainnya.

Perhitungan ini membantu menentukan produk mana yang layak dipertahankan, diperbaiki, atau dikembangkan.

Dengarkan Pelanggan, Bukan Hanya Angka Penjualan

Data transaksi menunjukkan apa yang dibeli pelanggan, sedangkan masukan pelanggan dapat membantu menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

Tanyakan bagian mana yang disukai, apa yang dirasa kurang, serta perubahan apa yang paling dibutuhkan. Masukan bisa dikumpulkan melalui percakapan langsung, survei singkat, ulasan marketplace, atau komentar di media sosial.

OECD dalam kajiannya mengenai inovasi usaha kecil menjelaskan bahwa data pelanggan yang dikumpulkan melalui media sosial dan platform digital semakin dimanfaatkan dalam pengembangan produk, termasuk pada tahap awal perancangan. Pendekatan ini membantu bisnis memahami kebutuhan pasar sebelum menginvestasikan lebih banyak sumber daya. (OECD)

Dengan demikian, inovasi produk UMKM tidak harus selalu menghasilkan barang baru. Memperbaiki kualitas, menyederhanakan kemasan, menyesuaikan ukuran, atau membuat cara penggunaan lebih praktis juga termasuk bentuk inovasi.

Kapan Produk Lama Perlu Diperbaiki?

Ada beberapa kondisi ketika memperbaiki produk lama lebih masuk akal daripada menambah varian.

Pertama, pelanggan menyukai konsep produk, tetapi mengeluhkan kualitas atau konsistensi. Misalnya, rasa makanan berubah-ubah, bahan mudah rusak, atau kemasan tidak mampu menjaga produk tetap baik selama pengiriman.

Kedua, produk cukup laku, tetapi margin keuntungannya terlalu tipis. Pemilik usaha bisa mengevaluasi ukuran produk, proses produksi, pemakaian bahan, atau desain kemasan untuk meningkatkan efisiensi tanpa langsung menaikkan harga.

Ketiga, produk memiliki banyak peminat, tetapi pelanggan kesulitan menemukan informasi yang dibutuhkan. Perbaikan deskripsi, foto, petunjuk penggunaan, dan informasi ukuran mungkin lebih efektif daripada meluncurkan varian baru.

Keempat, keluhan yang sama muncul berulang kali. Jika pelanggan berkali-kali menyampaikan masalah serupa, kondisi tersebut merupakan sinyal bahwa ada bagian produk atau proses pelayanan yang perlu dibenahi.

Dalam situasi seperti ini, mengembangkan produk UMKM berarti meningkatkan nilai produk yang sudah terbukti dibutuhkan pelanggan. Pendekatan tersebut juga memungkinkan bisnis menggunakan sumber daya yang tersedia secara lebih terarah.

Gunakan Uji Coba Sebelum Meluncurkan Produk Baru

Bukan berarti UMKM harus berhenti berinovasi. Produk baru tetap dibutuhkan ketika ada peluang pasar yang jelas, permintaan pelanggan yang belum terpenuhi, atau kesempatan memperluas segmen konsumen.

Agar risiko lebih terkendali, lakukan uji coba dalam skala kecil. Misalnya, bisnis makanan menawarkan satu rasa baru dalam jumlah terbatas selama dua minggu. Setelah itu, bandingkan jumlah penjualan, margin, komentar pelanggan, dan tingkat pembelian ulang dengan produk yang sudah ada.

Pemilik usaha juga bisa menguji kemasan baru atau ukuran berbeda sebelum mengganti seluruh persediaan. Dengan cara ini, keputusan dibuat berdasarkan respons pasar, bukan asumsi.

Tentukan pula batas evaluasinya sejak awal. Berapa unit yang harus terjual? Lalu Berapa margin minimum yang diharapkan? Berapa banyak keluhan yang masih bisa diterima? Indikator tersebut membantu bisnis menentukan apakah inovasi layak dilanjutkan.

5.94% Tukang Indonesia Belum Bersertifikat, Distributor Material Konstruksi Ini Bantu Pastikan Aplikasi Produk

0

Di tengah kebutuhan proyek akan pasokan material yang terjaga, pendampingan teknis di lapangan juga menjadi perhatian. PT Trimitra Karunia Pinastika (TKP), Distributor Material Konstruksi khusus proyek, menyatakan dukungan timnya mencakup arahan penggunaan produk agar material dapat diaplikasikan dengan tepat.

Data yang dimuat Kompas pada Juli 2026 menunjukkan, baru 629.622 dari sekitar 8,2 juta tenaga kerja konstruksi di Indonesia yang telah mengantongi sertifikat kompetensi. Kondisi ini menegaskan pentingnya peningkatan keterampilan pekerja, termasuk melalui pendampingan teknis agar material dapat diaplikasikan dengan tepat di lapangan.

Persoalan kompetensi menjadi penting karena ketersediaan bahan saja tidak menjamin pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi. Cara material disimpan, dicampur, dan diaplikasikan turut memengaruhi hasil pekerjaan. Karena itu, dukungan teknis dan komunikasi yang mudah dijangkau dapat menjadi bagian penting dalam pengelolaan proyek, terutama ketika muncul kendala di lapangan.

Pertumbuhan disertai tekanan

Sektor konstruksi tetap menjadi salah satu penopang ekonomi. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sektor ini sebesar 5,49 persen secara tahunan pada triwulan I-2026, dengan kontribusi 9,81 persen terhadap PDB. Pada triwulan II-2026, sektor konstruksi tumbuh 6,68 persen.

Namun, pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan tantangan biaya dan pembiayaan. Pada Agustus 2026, pelaku industri melaporkan kenaikan harga besi beton sebesar 27,78 persen, aspal 23,85 persen, dan beton siap pakai 9,77 persen. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan harga material tidak hanya menjadi kekhawatiran di atas kertas, tetapi dapat berdampak pada biaya pelaksanaan proyek.

Kebutuhan pembangunan dan perbaikan hunian juga masih besar. Data BPS untuk 2026 mencatat sekitar 18,01 juta rumah tangga menghadapi persoalan kelayakhunian. Di sisi lain, sejumlah BUMN Karya tengah menjalani restrukturisasi dan konsolidasi, bagian dari upaya penyehatan perusahaan. Bagi pelaku proyek, kondisi tersebut membuat pengelolaan pasokan dan arus kas semakin perlu diperhitungkan.

Dalam situasi itu, kontraktor, developer, serta pengelola proyek pemerintah dan BUMN tidak hanya membutuhkan barang dengan harga kompetitif. Mereka juga memerlukan kepastian stok, pengiriman sesuai jadwal, dan respons ketika masalah teknis muncul. TKP memosisikan layanannya untuk menjawab kebutuhan tersebut sebagai Distributor Material Konstruksi yang menghubungkan kebutuhan proyek dengan produk dari pabrikan resmi.

Sebagai distributor resmi Top Mortar, TKP menyebut telah memasok material untuk proyek swasta, komersial, serta proyek berskala besar milik BUMN dan pemerintah. Perusahaan menawarkan enam dukungan utama: logistik yang disesuaikan dengan jadwal proyek, pengelolaan stok, layanan 24 jam, metode pembayaran fleksibel, pendampingan tim teknis, serta komitmen terhadap produk resmi dan harga pabrik.

Dari pengiriman hingga aplikasi

TKP menyatakan armada dan pengaturan pengirimannya diarahkan agar material tiba sesuai kebutuhan pekerjaan. Pengelolaan stok juga ditujukan untuk mengurangi risiko pekerjaan tertunda karena barang harus didatangkan dari kota lain. Untuk kebutuhan mendesak, perusahaan menyediakan layanan 24 jam, termasuk di luar jam kerja normal.

Skema pembayaran fleksibel ditawarkan dengan mempertimbangkan bahwa arus kas proyek kerap mengikuti pencairan termin. Namun, cakupan dan ketentuan pembayaran dapat berbeda sesuai kebutuhan proyek dan kesepakatan dengan perusahaan.

Dukungan yang diklaim membedakan TKP dari distributor biasa adalah keterlibatan tim teknis di lapangan. Selain mengirimkan barang, tim tersebut dapat membantu mengidentifikasi kendala, memberikan arahan aplikasi produk, serta menyarankan material yang sesuai dengan kebutuhan proyek. Pendampingan ini ditujukan untuk membantu pekerja menerapkan produk secara benar, meski tidak menggantikan sertifikasi kompetensi formal.

Perusahaan juga menyatakan material yang didistribusikan merupakan produk resmi pabrikan, dengan jaminan keaslian dan komitmen harga pabrik tanpa markup tersembunyi. Bagi pengelola proyek, kepastian asal produk dan dokumentasi dapat menjadi pertimbangan, terutama dalam proses pengadaan yang menuntut akuntabilitas.

Menjadi bagian dari tim proyek

Layanan TKP tidak hanya diarahkan kepada proyek berskala besar. Kontraktor dapat memerlukan kepastian pasokan untuk menjaga jadwal, sementara developer perlu mempertahankan konsistensi kualitas di setiap klaster. Pengelola proyek BUMN dan pemerintah juga membutuhkan kepastian produk serta dokumentasi yang mendukung proses pengadaan.

“Kami tidak ingin dilihat sebagai pemasok yang hanya muncul saat ada pesanan. Kami ingin menjadi bagian dari tim proyek itu sendiri, hadir sejak material dibutuhkan hingga memastikan material itu terpasang dengan benar,” ujar perwakilan manajemen TKP.

Dengan pendekatan tersebut, TKP ingin menjalankan peran lebih luas sebagai Distributor Material Konstruksi yang mendampingi kebutuhan proyek dari perencanaan pasokan hingga pelaksanaan di lapangan. Perusahaan membuka kerja sama bagi kontraktor, developer, dan pengelola proyek yang membutuhkan dukungan pasokan serta teknis. Informasi layanan dapat diperoleh dengan menghubungi TKP di 085-7023-0488.

Membeli Rokok Lebih Diprioritaskan? Ini Perbandingan Belanja Rokok dan Pangan

0

Kebiasaan membeli rokok masih menyerap porsi besar anggaran rumah tangga di Indonesia. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau bahkan lebih tinggi dibandingkan belanja sejumlah bahan pangan bergizi, seperti daging, telur, susu, dan buah-buahan.

Dalam publikasi Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, BPS mencatat rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per kapita setiap bulan. Nilai tersebut setara 11,57 persen dari total pengeluaran makanan penduduk dan menjadi kelompok pengeluaran terbesar kedua setelah makanan jadi.

Sementara itu, rata-rata belanja daging hanya mencapai Rp40.352 per kapita per bulan. Pengeluaran untuk telur dan susu tercatat sebesar Rp44.915. Jika digabungkan, kedua kelompok pangan tersebut masih berada di bawah anggaran yang digunakan masyarakat untuk membeli rokok.

Pengeluaran untuk buah-buahan juga relatif lebih rendah, yakni Rp48.784 per kapita per bulan. Angka ini memperlihatkan besarnya alokasi konsumsi rumah tangga untuk produk tembakau dibandingkan sejumlah sumber protein dan vitamin.

Pengeluaran Rokok di Perdesaan Lebih Tinggi

Kesenjangan tersebut semakin terlihat di wilayah perdesaan. Berdasarkan data BPS, rata-rata pengeluaran penduduk desa untuk rokok dan tembakau mencapai Rp100.951 per kapita setiap bulan.

Sebaliknya, belanja daging di perdesaan hanya sebesar Rp26.046 per kapita per bulan. Pengeluaran untuk telur dan susu tercatat Rp38.016, sedangkan buah-buahan mencapai Rp37.563.

Data itu menunjukkan anggaran untuk membeli rokok di perdesaan jauh melampaui pengeluaran untuk daging. Bahkan, nilainya lebih besar dibandingkan gabungan belanja daging, telur, susu, dan buah-buahan.

Tantangan Pemenuhan Gizi Keluarga

Perbedaan alokasi belanja tersebut menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan menekan angka stunting. Pengeluaran rumah tangga yang terbatas membuat prioritas konsumsi berpengaruh terhadap kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi.

Kebiasaan membeli rokok dengan anggaran besar berpotensi mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan penting lainnya. Karena itu, data pengeluaran ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendorong pola konsumsi yang lebih sehat, terutama bagi keluarga rentan yang perlu menjaga kecukupan gizi sehari-hari.

Cabai Indonesia Makin Diminati Pasar Global, Jepang Jadi Salah Satu Tujuan Ekspor

0

Cabai Indonesia semakin berpeluang memperluas pasar di luar negeri, salah satunya Jepang. Tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia yang tinggal di Negeri Sakura menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan cabai asal Tanah Air. Peluang tersebut dimanfaatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Yogyakarta yang menjalankan kegiatan produksi di Gunungkidul.

Kebutuhan cabai dari sekitar 266 ribu warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Jepang diperkirakan mencapai 1.227 ton per tahun. Besarnya permintaan ini membuka kesempatan bagi produsen dalam negeri untuk memperluas penjualan sekaligus meningkatkan nilai perdagangan produk pertanian.

Pelaku UMKM tersebut mulai mengekspor cabai beku ke Jepang pada Juni 2025 dengan volume 7,9 ton. Pengiriman kembali dilakukan pada April 2026 sebanyak 8,3 ton, kemudian berlanjut pada Agustus 2026 dengan volume delapan ton.

Secara keseluruhan, usaha tersebut telah melakukan delapan kali pengiriman ke pasar internasional. Nilai transaksi ekspornya tercatat hampir mencapai Rp1 miliar. Capaian ini memperlihatkan bahwa produk pertanian lokal memiliki kesempatan untuk berkembang ketika mampu memenuhi kebutuhan pasar yang dituju.

Cabai Indonesia Menjangkau Berbagai Negara

Jepang bukan satu-satunya tujuan ekspor cabai asal Indonesia. Produk ini juga telah dipasarkan ke sejumlah negara lain, antara lain Malaysia, Pakistan, China, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Perluasan pasar tersebut memberikan ruang bagi Cabai Nusantara untuk bersaing di pasar global. Produk dalam bentuk segar maupun olahan dapat menjangkau konsumen dengan kebutuhan berbeda, termasuk masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa volume ekspor cabai nasional mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada 2022, ekspor cabai segar tercatat sebesar 0,11 ribu ton, sedangkan cabai olahan mencapai 9,10 ribu ton.

Setahun kemudian, kinerja ekspor kedua kategori tersebut meningkat. Volume cabai segar naik menjadi 0,29 ribu ton, sementara cabai olahan bertambah menjadi 9,48 ribu ton.

Peluang Ekspor bagi Pelaku UMKM

Kenaikan tersebut menunjukkan adanya potensi pengembangan pasar bagi produk cabai nasional. Dengan permintaan yang tersedia di berbagai negara, Cabai Indonesia dapat menjadi salah satu komoditas yang mendukung pertumbuhan ekspor sektor pertanian.

Bagi pelaku UMKM, peluang ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan pembeli dan meningkatkan skala usaha. Konsistensi pasokan, mutu produk, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi faktor penting agar Cabai Indonesia mampu mempertahankan daya saing di pasar internasional.

Bansos Tahap 4 Segera Disalurkan? Cek 5 Program Bantuan Pemerintah Ini

0

Penyaluran Bansos Tahap 4 pada Oktober hingga Desember 2026 menjadi perhatian masyarakat, terutama keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejumlah program pemerintah berpotensi berlanjut pada periode ini, mulai dari bantuan keluarga, pangan, jaminan kesehatan, hingga pendidikan.

Mengutip informasi dari akun Instagram Sekretariat Kabinet, terdapat lima program yang perlu diperhatikan, yakni Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), bantuan pangan beras, Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK), dan Program Indonesia Pintar (PIP).

Meski berada dalam periode yang sama, setiap program memiliki mekanisme penyaluran berbeda. Karena itu, Bansos Tahap 4 tidak berarti seluruh bantuan akan cair serentak pada Oktober.

Lima Program Bantuan yang Perlu Dipantau

1. Program Keluarga Harapan (PKH)

PKH menyasar keluarga miskin dan rentan yang memenuhi persyaratan, termasuk ibu hamil, anak usia dini, siswa, penyandang disabilitas berat, serta lansia. Penyalurannya dibagi menjadi empat tahap dalam setahun, dengan tahap keempat mencakup Oktober–Desember. Nominal bantuan mengikuti kategori penerima.

2. Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT)

BPNT membantu keluarga penerima memenuhi kebutuhan pangan. Nilai bantuannya sebesar Rp200.000 per bulan. Jika tiga bulan disalurkan sekaligus, totalnya mencapai Rp600.000. Penyaluran dilakukan melalui mekanisme yang ditetapkan pemerintah.

3. Bantuan pangan beras

Program ini mengalokasikan 10 kilogram beras per keluarga setiap bulan. Untuk periode tiga bulan, total bantuan mencapai 30 kilogram. Distribusinya mengikuti jadwal dan ketentuan pemerintah di masing-masing wilayah.

Cara Memastikan Status Penerima Bansos Tahap 4

4. PBI Jaminan Kesehatan

Melalui PBI-JK, pemerintah menanggung iuran Jaminan Kesehatan Nasional bagi masyarakat yang memenuhi kriteria. Bantuan ini berbentuk pembayaran iuran, bukan uang tunai yang diterima langsung.

5. Program Indonesia Pintar (PIP)

PIP ditujukan bagi siswa dari keluarga kurang mampu untuk membantu kebutuhan pendidikan. Besaran bantuan disesuaikan dengan jenjang sekolah dan ketentuan program.

Penetapan penerima berbagai bantuan mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang membagi masyarakat ke dalam sepuluh desil kesejahteraan. Desil 1–4 menjadi prioritas sejumlah program, tetapi status penerimaan tetap bergantung pada verifikasi dan validasi data.

Untuk mengetahui informasi Bansos Tahap 4, masyarakat dapat memeriksa status melalui kanal resmi Kemensos, BPJS Kesehatan, atau Program Indonesia Pintar sesuai jenis bantuan. Jadwal pencairan setiap program dapat berbeda sehingga informasi resmi perlu menjadi acuan.

Pengurangan Emisi Jadi Aset, Industri Hijau Berpotensi Ciptakan Peluang Ekonomi

0

Transformasi industri hijau mulai dipandang sebagai peluang ekonomi yang dapat meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai, penerapan efisiensi energi dan pengurangan emisi mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan, termasuk melalui perdagangan karbon yang memungkinkan penghematan emisi diperdagangkan di pasar karbon.

Menurut Sarmuji, pelaku industri yang berhasil menekan emisi dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan produksi. Skema tersebut diharapkan mendorong perusahaan memperbaiki efisiensi operasional dan memperkuat posisi produk nasional di pasar internasional.

Pemerintah juga berupaya mendampingi pelaku usaha melalui regulasi dan panduan teknis agar penerapan prinsip industri hijau dapat berjalan sesuai ketentuan. Dengan dukungan tersebut, transisi menuju proses produksi yang lebih ramah lingkungan diharapkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi sektor manufaktur.

Kemenperin Tingkatkan Pengawasan Standardisasi Industri

Selain mendorong industri hijau, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengawasan standardisasi dan sertifikasi untuk menjaga kualitas produk di pasar. Sarmuji menegaskan, penerapan standar menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen dan mendukung pertumbuhan industri nasional.

Hingga September 2026, Kemenperin telah mengawasi 45 Standar Nasional Indonesia (SNI), meningkat dari 28 SNI pada tahun sebelumnya. Pengawasan terhadap merek juga bertambah menjadi 78 merek, dibandingkan 73 merek pada periode sebelumnya.

Pada Oktober hingga November 2026, pemerintah merencanakan pengawasan terhadap enam SNI dan sembilan merek. Pemeriksaan dilakukan di pabrik maupun pasar, termasuk melalui pengujian sampel produk yang telah diwajibkan memenuhi SNI.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Emmy Suryandari, mengatakan pengawasan diperlukan untuk memastikan produk lokal maupun impor memenuhi standar mutu yang berlaku. Langkah ini sekaligus melindungi masyarakat dari produk yang tidak sesuai ketentuan.

Penerapan SNI Wajib Masih Terbatas

Meski pengawasan diperkuat, cakupan penerapan SNI Wajib masih perlu diperluas. Dari total 5.552 SNI di sektor industri, baru 131 standar atau sekitar 2,4 persen yang berstatus wajib.

Perluasan standardisasi dan pengembangan industri hijau dapat menjadi peluang ekonomi bagi produsen yang mampu meningkatkan kualitas, efisiensi, serta daya saing produknya. Jika dijalankan secara konsisten, kedua langkah tersebut berpotensi memperkuat industri nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru di tengah persaingan pasar global.

Bahan Bakar Global Masih Tertekan, Ketegangan Timur Tengah dan Badai Isaias Jadi Sorotan

0

Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan Jumat (9/10/2026) setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai peluang meredanya konflik dengan Iran turut memengaruhi sentimen pasar, yang sebelumnya dibayangi ancaman terhadap distribusi bahan bakar global.

Mengutip CNBC pada Sabtu (10/10/2026), Trump menyatakan Washington tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela Kongres pada 3 November mendatang. Ia juga menyebut pembicaraan dengan Teheran berlangsung produktif, meski belum ada kepastian mengenai hasil perundingan tersebut.

Di tengah perkembangan itu, Trump memberi sinyal bahwa pemerintah AS akan segera mengumumkan kebijakan terkait bahan bakar diesel. Ia turut mempertimbangkan penangguhan pajak federal atas bensin, tetapi belum memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pernyataan AS Pengaruhi Pergerakan Harga Minyak

Meski kekhawatiran geopolitik mereda, harga minyak masih bergerak fluktuatif. Minyak mentah Brent tercatat naik 19 sen menjadi US$104,47 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 36 sen ke level US$91,85 per barel.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai pernyataan Trump mengenai Iran dan rencana China kembali mengekspor produk bahan bakar olahan menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar. China sebelumnya menghentikan sementara ekspor tersebut selama libur Golden Week.

Situasi ini menunjukkan bahwa prospek bahan bakar global masih bergantung pada perkembangan politik dan kelancaran perdagangan internasional.

Selat Hormuz dan Badai Isaias Tambah Tekanan Pasokan

Risiko distribusi energi belum sepenuhnya hilang. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum konflik menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak dan bahan bakar dunia. Iran juga tengah meninjau tanggapan AS atas usulan pembukaan kembali jalur tersebut dalam tujuh hari, menurut laporan kantor berita Tasnim.

Tekanan terhadap bahan bakar global turut datang dari sanksi AS terhadap jaringan dan kapal pengangkut minyak Iran serta perang Rusia-Ukraina yang mengganggu pasokan diesel, bensin, dan bahan bakar jet.

Sementara itu, Badai Isaias di Teluk Meksiko memaksa penghentian produksi sekitar 1,3 juta barel minyak per hari, setara 62,9 persen produksi kawasan tersebut. Kombinasi risiko geopolitik dan gangguan produksi membuat prospek pasokan energi dunia masih rentan terhadap perubahan situasi.

Industrial IoT untuk Pabrik: Memulai Digitalisasi dari Sensor dan Data Real-Time

Di banyak pabrik, mesin sebenarnya terus menghasilkan informasi penting: suhu yang mulai naik, getaran yang tidak biasa, konsumsi listrik yang melonjak, hingga waktu berhenti produksi yang terlalu lama. Masalahnya, informasi tersebut sering tidak tercatat atau baru diketahui setelah gangguan terjadi. Di sinilah Industrial IoT berperan, yaitu pendekatan yang menghubungkan sensor, mesin, dan sistem digital agar kondisi operasional dapat dipantau secara lebih cepat dan terukur.

Bagi perusahaan manufaktur, penerapan teknologi ini bukan semata-mata soal mengikuti tren digital. Tujuan utamanya adalah membuat data dari lantai produksi bisa digunakan untuk mengambil keputusan yang lebih tepat. Miraswift mengembangkan solusi IoT dan otomasi untuk membantu industri memantau proses produksi, status mesin, konsumsi energi, hingga laporan operasional melalui sistem yang dapat diakses secara real-time.

Apa Itu Industrial IoT?

Industrial IoT atau Industrial Internet of Things adalah penggunaan perangkat fisik yang saling terhubung untuk kebutuhan operasional industri. Perangkat ini bisa berupa sensor suhu, sensor getaran, meter energi, pengontrol mesin, hingga perangkat pengirim data. Semua perangkat tersebut mengumpulkan informasi dari lapangan, lalu mengirimkannya ke platform digital untuk ditampilkan dalam dashboard atau aplikasi.

Berbeda dengan IoT sehari-hari seperti perangkat rumah pintar, sistem industri berfokus pada proses yang berdampak langsung terhadap produktivitas, kualitas, keselamatan, dan biaya. Sensor dapat membaca kondisi mesin secara berkala, sementara sistem membantu tim melihat pola yang sebelumnya sulit diketahui dari laporan manual. Miraswift menjelaskan bahwa ekosistem IoT memungkinkan mesin, sensor, dan sistem manajemen “berkomunikasi” secara real-time sehingga informasi operasional lebih mudah ditindaklanjuti.

Sensor sebagai Indra di Lantai Produksi

Sensor merupakan bagian awal dari sebuah sistem Industrial IoT. Ibarat indra pada manusia, sensor menangkap perubahan kondisi di lingkungan kerja dan mengubahnya menjadi data. Jenis sensor yang digunakan tentu bergantung pada proses bisnis serta mesin yang dipantau.

Beberapa contoh penggunaan sensor di industri meliputi:

  1. Sensor suhu untuk memantau panas mesin, oven, ruang penyimpanan, atau proses pengolahan bahan.
  2. Sensor getaran untuk mengenali gejala tidak normal pada motor, pompa, kompresor, dan komponen berputar lainnya.
  3. Sensor tekanan untuk memantau sistem fluida, udara, atau proses produksi yang membutuhkan tekanan stabil.
  4. Meter energi untuk melihat pemakaian listrik per mesin, area, lini produksi, atau shift kerja.
  5. Sensor status mesin untuk mengetahui apakah mesin sedang berjalan, idle, berhenti, atau mengalami gangguan.

Data dari sensor membuat perusahaan tidak perlu hanya mengandalkan pemeriksaan manual yang sifatnya berkala. Misalnya, kenaikan suhu atau getaran dapat terlihat lebih awal sebelum berkembang menjadi kerusakan yang menghentikan produksi. Miraswift menyoroti penggunaan sensor untuk memantau suhu, getaran, tekanan, status mesin, dan konsumsi energi secara real-time.

Mesin Bukan Lagi “Kotak Hitam”

Pada operasional konvensional, mesin sering dianggap sebagai aset yang baru diperiksa ketika muncul masalah. Operator mungkin tahu mesin terasa lebih panas atau berbunyi tidak biasa, tetapi informasi itu belum tentu segera masuk ke pihak yang dapat mengambil tindakan. Akibatnya, perbaikan sering bersifat reaktif dan downtime dapat memengaruhi target produksi.

Dengan Industrial IoT, mesin dapat menjadi sumber data aktif. Informasi tentang jam operasi, output per shift, status mesin, hingga pemakaian energi dapat dikirim otomatis ke sistem. Manajemen dan tim teknis tidak lagi hanya bertanya “mesinnya masih jalan?”, tetapi dapat melihat pola: mesin mana yang paling sering berhenti, kapan konsumsi energi melonjak, dan lini mana yang output-nya tidak sesuai target.

Miraswift juga menerapkan pendekatan retrofit, yaitu penambahan sensor dan modul pada mesin yang sudah ada. Pendekatan ini penting bagi pabrik yang belum siap mengganti seluruh aset atau membangun infrastruktur baru. Sensor dipasang bertahap pada titik yang paling relevan, kemudian data dikirim ke dashboard web atau aplikasi mobile.

Connectivity, Jembatan dari Sensor ke Keputusan!

Sensor yang baik belum cukup bila datanya tidak sampai ke orang yang membutuhkan. Di sinilah connectivity atau konektivitas berperan. Konektivitas menghubungkan sensor dan mesin di lapangan dengan gateway, jaringan, serta platform digital yang menerima dan mengolah data.

Secara sederhana, alurnya seperti ini:

  • Sensor membaca kondisi mesin atau proses produksi.
  • Data dikumpulkan oleh perangkat penghubung atau gateway.
  • Data dikirim melalui jaringan ke server atau platform digital.
  • Dashboard menampilkan informasi dalam bentuk angka, grafik, status, atau notifikasi.
  • Tim operasional menggunakan informasi tersebut untuk mengambil tindakan.

Melalui alur ini, Industrial IoT mengubah data mentah menjadi informasi yang mudah dipahami. Pengguna tidak perlu terus berada di samping mesin untuk mengetahui kondisinya. Miraswift menyediakan sistem monitoring yang dapat diakses melalui smartphone, sehingga pengguna dapat memantau status mesin, tren konsumsi energi, dan output produksi secara real-time.

Manfaat Industrial IoT untuk Operasional

Keuntungan utama dari sistem yang terhubung adalah visibilitas. Perusahaan memiliki dasar yang lebih jelas untuk melihat apa yang terjadi di lapangan, bukan hanya menerima laporan setelah proses selesai. Manfaatnya dapat mencakup:

  • Mengurangi risiko downtime melalui pemantauan kondisi mesin.
  • Mengidentifikasi pemborosan energi berdasarkan penggunaan per mesin atau shift.
  • Memantau output produksi tanpa menunggu laporan manual.
  • Mempercepat respons ketika ada parameter yang melewati batas normal.
  • Mendukung perencanaan perawatan berdasarkan data, bukan semata jadwal rutin.
  • Membantu manajemen membandingkan kinerja antar lini produksi secara lebih objektif.

Namun, manfaat tersebut tidak muncul hanya dengan memasang perangkat. Perusahaan perlu menentukan tujuan yang jelas sejak awal. Ada pabrik yang ingin fokus pada pengurangan downtime, ada yang perlu menjaga suhu proses, dan ada pula yang ingin mengontrol konsumsi energi. Miraswift memulai penerapan dengan konsultasi teknis dan pemetaan proses agar solusi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan operasional pengguna.

Memulai dari Titik yang Paling Penting

Implementasi Industrial IoT tidak harus dilakukan sekaligus di seluruh pabrik. Pendekatan bertahap sering lebih efektif, terutama untuk bisnis yang masih menggunakan mesin lama atau belum memiliki sistem digital yang lengkap. Perusahaan dapat mulai dengan memilih satu mesin yang paling kritis, satu masalah yang paling sering terjadi, atau satu parameter yang paling memengaruhi biaya.

Setelah data mulai terkumpul, tim dapat mengevaluasi pola dan menentukan perluasan sistem berikutnya. Misalnya, monitoring awal dilakukan pada suhu dan jam operasi mesin. Tahap berikutnya dapat mencakup konsumsi listrik, output produksi, atau integrasi dengan sistem pelaporan lain. Dengan langkah yang realistis, perusahaan dapat membangun fondasi digital tanpa mengganggu proses kerja yang sedang berjalan.

Pasar Produk Lokal Diperluas, Kementerian UMKM Dorong ASN Belanja Produk Dalam Negeri

0

Kementerian UMKM mendorong aparatur sipil negara (ASN) ikut memperluas pasar produk lokal melalui gerakan belanja produk dalam negeri. Ajakan tersebut diwujudkan lewat Bazar ASN Gemar Belanja Lokal yang digelar di Jakarta, Rabu (7/10/2026), dengan menghadirkan berbagai jenama UMKM Indonesia.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana mengatakan ASN memiliki potensi besar untuk mendorong penggunaan produk buatan dalam negeri. Pilihan belanja yang dilakukan para aparatur pemerintah diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekaligus membantu pelaku UMKM menjangkau lebih banyak konsumen.

Temmy mengajak ASN menerapkan semangat Bangga, Bela, dan Beli Produk Lokal Indonesia dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan memilih produk dalam negeri dapat membantu memperkuat permintaan sekaligus membuka peluang pertumbuhan usaha lokal.

Bazar Jadi Jalan Memperluas Pasar Produk Lokal

Bazar ASN Gemar Belanja Lokal menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen di lingkungan perkantoran. Sebanyak 11 jenama lokal yang produknya telah menembus pasar ekspor turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa produk UMKM Indonesia memiliki peluang untuk berkembang di pasar domestik maupun internasional. Kementerian UMKM berharap kegiatan serupa dapat digelar di lebih banyak kementerian dan lembaga agar jangkauan pasar produk lokal semakin luas.

Program ini juga diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Shopee Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap produk lokal sekaligus mendorong konsumen untuk menggunakannya secara berkelanjutan.

Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira menilai keterlibatan ASN dapat memberikan pengaruh positif terhadap kebiasaan belanja masyarakat. Ketika aparatur pemerintah memilih produk lokal, tindakan tersebut dapat menjadi contoh bagi keluarga, rekan kerja, dan lingkungan sekitarnya.

Belanja Lokal Dorong Pertumbuhan UMKM

Radynal mengapresiasi Kementerian UMKM yang menjadi kementerian pertama dalam memulai gerakan tersebut. Ia menilai keputusan membeli produk dalam negeri turut membangun kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk buatan Indonesia.

Semakin luas penggunaan produk lokal, semakin besar pula peluang UMKM meningkatkan penjualan dan mengembangkan skala usahanya. Karena itu, perluasan pasar produk lokal melalui dukungan konsumen dinilai penting untuk memperkuat daya saing usaha nasional.

Pemerintah berharap gerakan ini berkembang ke berbagai instansi sehingga pasar produk lokal semakin kuat dan pelaku UMKM memperoleh kesempatan lebih besar untuk tumbuh.