Sabtu, November 7, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 64

Peran Penting Otomasi dalam Proses Manufaktur untuk Pabrik Masa Kini!

Banyak pabrik di Indonesia sekarang sudah mulai merasakan bahwa tanpa otomasi, operasional akan makin berat, pelan, dan boros. Otomasi dalam Proses Manufaktur bukan lagi soal robot canggih saja, tapi soal bagaimana pabrik bisa bekerja lebih rapi, terukur, dan mudah dipantau. Data produksi, kondisi mesin, dan konsumsi energi yang dulunya tersebar di kertas dan chat, kini bisa ditarik langsung ke satu sistem yang rapi dan siap dianalisis.

Di tengah tekanan persaingan dan biaya yang terus naik, pemilik pabrik dan manajer produksi tidak bisa lagi hanya mengandalkan feeling. Otomasi membantu mengubah proses yang tadinya serba manual menjadi alur kerja yang punya standar jelas. Di sini, IoT dan solusi real-time seperti yang dikembangkan Miraswift mulai memainkan peran penting sebagai “tulang punggung” data dan kontrol di lantai produksi.

Otomasi dalam Proses Manufaktur di Era Data Real-Time

Jika dulu otomasi identik dengan panel kontrol dan mesin yang diprogram, kini Otomasi dalam Proses Manufaktur hampir selalu bersentuhan dengan data real-time. Sensor yang terpasang di mesin mengirim informasi terus menerus: suhu, getaran, arus listrik, jumlah output, hingga status fault. Data ini kemudian masuk ke sistem yang bisa diakses lewat komputer maupun smartphone.

Bedanya dengan pendekatan lama, informasi tidak lagi berhenti di ruang kontrol. Owner dan manajer bisa ikut melihat apa yang terjadi di lantai produksi, bahkan ketika mereka sedang tidak berada di pabrik. Hal ini membuat koordinasi lebih cepat dan keputusan bisa diambil sebelum masalah menumpuk.

1. Produksi Lebih Konsisten dan Bisa Diprediksi

Salah satu peran paling terasa dari Otomasi dalam Proses Manufaktur adalah menjaga konsistensi. Mesin yang dikontrol otomatis dapat berjalan dengan parameter yang sama dari shift ke shift, sesuatu yang sulit dicapai jika semua diserahkan ke pengaturan manual.

Misalnya, waktu pemanasan, kecepatan conveyor, atau tekanan tertentu tidak lagi mengandalkan “kira-kira operator”, tetapi diatur oleh sistem. Operator tetap penting, tetapi mereka bekerja di atas standar yang sudah jelas. Dampaknya, kualitas produk lebih stabil, scrap berkurang, dan rework menurun. Di sisi lain, data historis dari proses ini membuat pabrik bisa memprediksi kapasitas produksi secara lebih akurat.

2. Downtime Lebih Terkendali dengan Pemantauan dan Alarm Otomatis

Downtime mendadak sering menjadi mimpi buruk di pabrik. Tanpa otomasi, tim biasanya baru sadar ada masalah ketika mesin sudah berhenti atau kualitas produk turun drastis. Dengan otomasi yang terhubung IoT, sistem dapat memberikan peringatan lebih awal.

Sensor memantau tanda-tanda yang tidak normal, seperti getaran berlebih, suhu yang naik, atau konsumsi daya yang tiba-tiba melonjak. Ketika batas aman terlewati, sistem bisa memunculkan alarm di panel, mengirim notifikasi ke smartphone, atau bahkan mengambil tindakan otomatis seperti menghentikan sebagian proses untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Pendekatan ini membuat maintenance lebih terarah dan tidak selalu bersifat pemadam kebakaran.

3. Transparansi Proses dari Lantai Produksi sampai Manajemen

Dengan Otomasi dalam Proses Manufaktur, setiap langkah produksi meninggalkan jejak data. Berapa output per jam, berapa lama mesin idle, berapa banyak reject, semua bisa dilihat dalam bentuk grafik dan angka yang mudah dibaca.

Transparansi ini membawa dua efek penting. Pertama, manajer produksi punya dasar kuat untuk melakukan perbaikan proses. Kedua, manajemen atas tidak perlu lagi menunggu laporan manual tiap akhir minggu. Mereka bisa melihat performa pabrik secara langsung dan memberikan arahan yang lebih tepat. Di banyak perusahaan, hal ini juga membantu ketika harus menjelaskan performa ke pemilik, investor, atau auditor.

4. Integrasi dengan Sistem Lain dan Fleksibilitas ke Depan

Otomasi modern tidak berjalan sendirian. Sistem kontrol di lantai produksi kini banyak yang diintegrasikan dengan perangkat lunak lain seperti ERP, MES, atau software manufaktur. Integrasi ini membuat data dari Otomasi dalam Proses Manufaktur mengalir ke sistem perencanaan, pembelian bahan baku, hingga kontrol biaya.

Fleksibilitas ini penting karena permintaan pasar berubah cepat. Dengan sistem yang sudah otomatis dan terintegrasi, pabrik bisa lebih mudah menyesuaikan kapasitas, mengubah jadwal, atau menambah variasi produk tanpa harus membangun semuanya dari nol lagi.

Lalu, Bagaimana Peran Miraswift dalam Membawa Otomasi Lebih Dekat ke Pabrik Lokal

Miraswift hadir sebagai perusahaan teknologi asal Indonesia yang fokus pada solusi IoT dan otomasi untuk berbagai sektor industri, dari pabrik besar sampai usaha skala rumahan atau UMKM. Alih-alih menawarkan sistem yang rumit dan mahal, Miraswift membangun Otomasi dalam Proses Manufaktur dengan pendekatan bertahap dan praktis.

  • Dimulai dari Konsultasi dan Pemetaan Proses

Setiap proyek biasanya diawali dengan sesi konsultasi di lapangan. Tim Miraswift memetakan proses produksi, melihat alur material, dan mengidentifikasi titik paling krusial: apakah masalah terbesarnya downtime, boros energi, atau sulitnya memantau output produksi.

Dari situ, barulah dirancang solusi otomasi dan IoT yang paling relevan. Pendekatannya modular, sehingga pabrik bisa mulai dari satu lini atau satu mesin terlebih dulu. Setelah manfaatnya terasa, sistem dapat diperluas ke area lain tanpa mengganggu operasi yang sudah berjalan.

  • Monitoring Produksi dan Mesin Lewat Smartphone

Salah satu nilai tambah yang sering disorot adalah kemampuan monitoring real-time dari smartphone. Sistem Miraswift memungkinkan pemilik dan manajer pabrik melihat status mesin, output produksi, dan konsumsi energi langsung dari dashboard mobile. Jadi, Owner tidak harus selalu ada di pabrik untuk tahu apa yang sedang terjadi.

  • Kompatibel dengan Mesin Lama dan Infrastruktur yang Sudah Ada

Banyak pabrik di Indonesia masih mengandalkan mesin lama yang belum “siap digital”. Miraswift mengatasi hal ini dengan menambahkan sensor dan modul komunikasi yang bisa dipasang tanpa perlu mengganti mesin sepenuhnya.

Dengan cara ini, pabrik bisa merasakan manfaat otomasi dan IoT tanpa investasi yang terlalu besar di awal. Sistem yang dibangun tetap bisa dikembangkan di masa depan saat perusahaan siap naik ke level berikutnya.

Kabar baiknya, otomasi dan IoT sekarang bukan hanya milik pabrik besar. Dengan partner teknologi seperti Miraswift yang menawarkan pendekatan bertahap, pabrik-pabrik di Indonesia bisa mulai dari langkah kecil yang terukur, lalu berkembang seiring hasil yang dirasakan.

Pasar Minyak Mentah Bergejolak, AS Lepas 172 Juta Barel dari Cadangan Strategis

0

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang Pasar Minyak Mentah global setelah konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga energi. Untuk meredam gejolak tersebut, pemerintah Amerika Serikat memutuskan melepas sebagian cadangan minyak strategisnya dalam jumlah besar guna menjaga stabilitas pasokan dan menahan tekanan harga di Pasar Minyak Mentah internasional.

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyampaikan bahwa pemerintah akan melepas sekitar 172 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional atau Strategic Petroleum Reserve (SPR). Kebijakan ini diambil sebagai langkah darurat untuk meredam kenaikan harga energi yang terjadi akibat terganggunya pasokan global sejak konflik di kawasan Timur Tengah meningkat.

Pelepasan minyak tersebut juga merupakan bagian dari keputusan bersama yang lebih luas oleh International Energy Agency (IEA). Organisasi energi internasional yang beranggotakan 32 negara tersebut sepakat melepas total sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global guna menstabilkan kondisi Pasar Minyak Mentah yang tengah mengalami tekanan cukup besar.

Menurut Wright, distribusi minyak dari cadangan strategis Amerika Serikat dijadwalkan mulai dilakukan dalam waktu dekat dan diperkirakan berlangsung sekitar 120 hari. Selama periode tersebut, minyak akan disalurkan secara bertahap untuk menambah pasokan global yang saat ini mengalami gangguan akibat ketegangan geopolitik.

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap target di Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut memicu serangan balasan dari Iran yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku industri energi global. Korps Garda Revolusi Islam Iran bahkan menyatakan kemungkinan untuk memblokir jalur pengiriman minyak dari kawasan Teluk jika serangan militer terhadap negaranya tidak dihentikan.

Ancaman tersebut menimbulkan kekhawatiran karena kawasan Teluk merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital bagi perdagangan minyak dunia. Jika jalur tersebut terganggu, maka dampaknya dapat memperparah ketidakstabilan Pasar Minyak Mentah sekaligus mendorong kenaikan harga energi secara signifikan di berbagai negara.

Gangguan terhadap pasokan minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. Negara-negara yang bergantung pada impor minyak kemungkinan akan menghadapi kenaikan biaya produksi serta tekanan inflasi yang lebih besar.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa langkah pelepasan cadangan minyak ini bersifat sementara. Wright memastikan bahwa cadangan strategis yang dilepas akan kembali diisi secara bertahap dalam waktu sekitar satu tahun ke depan. Pemerintah bahkan telah menyiapkan rencana untuk membeli kembali lebih dari 200 juta barel minyak guna memulihkan tingkat cadangan nasional.

Penyaluran Kredit UMKM Diproyeksi Meningkat, OJK Perkuat Akses Pembiayaan

0

Optimisme terhadap Penyaluran Kredit UMKM pada tahun 2026 masih cukup kuat meskipun dinamika ekonomi global dan domestik sempat memengaruhi pertumbuhan pembiayaan sektor tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan Penyaluran Kredit UMKM akan kembali meningkat dalam kisaran 7 hingga 9 persen secara tahunan. Proyeksi ini didorong oleh membaiknya keyakinan konsumen, prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap stabil, serta berbagai kebijakan yang dirancang untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa perluasan akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah akan terus menjadi fokus utama lembaganya. Menurutnya, penguatan Penyaluran Kredit UMKM tidak hanya penting bagi keberlangsungan pelaku usaha, tetapi juga menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Data OJK menunjukkan bahwa hingga Januari 2026, total kredit yang disalurkan kepada sektor UMKM mencapai sekitar Rp1.482,9 triliun atau setara dengan 17,33 persen dari total kredit perbankan nasional. Meskipun secara tahunan pertumbuhan tercatat mengalami moderasi sekitar 0,53 persen, kondisi fundamental sektor UMKM dinilai tetap berada pada jalur yang cukup sehat.

Menurut Dian, perlambatan pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor eksternal maupun domestik. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan dinamika pasar, serta proses pemulihan sektor UMKM setelah pandemi yang berjalan lebih lambat dibandingkan sektor korporasi menjadi beberapa penyebab yang memengaruhi kinerja pembiayaan.

Regulasi Baru Dorong Akses Pembiayaan UMKM

Meski menghadapi sejumlah tantangan, prospek Penyaluran Kredit UMKM pada tahun ini tetap dipandang positif. OJK menilai meningkatnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan kredit di sektor usaha kecil.

Indeks Keyakinan Konsumen pada awal 2026 tercatat berada di level 127,00 persen, sementara indeks ekspektasi konsumen berada pada angka 109,75 persen. Kedua indikator tersebut menunjukkan tren peningkatan dalam satu tahun terakhir dan mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospeknya ke depan.

Selain itu, momentum musiman seperti perayaan Idulfitri diperkirakan turut mendorong aktivitas ekonomi pada triwulan pertama 2026. Lonjakan konsumsi rumah tangga biasanya berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan modal kerja pelaku usaha kecil. Situasi tersebut berpotensi mempercepat Penyaluran Kredit UMKM, terutama pada sektor perdagangan, makanan dan minuman, serta jasa.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat akses pembiayaan, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM. Aturan tersebut mengharuskan bank maupun lembaga keuangan nonbank untuk menyediakan skema pembiayaan yang lebih mudah dijangkau oleh pelaku usaha kecil.

Regulasi ini juga menekankan penerapan prinsip pembiayaan yang sederhana, cepat, tepat sasaran, serta inklusif. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan Penyaluran Kredit UMKM dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha yang sebelumnya kesulitan memperoleh akses permodalan.

OJK juga membentuk Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat dukungan terhadap sektor usaha kecil. Melalui unit tersebut, berbagai strategi pengembangan pembiayaan terus disusun, mulai dari pengembangan model bisnis pembiayaan UMKM, pemanfaatan sistem credit scoring, hingga pemetaan profil pelaku usaha secara lebih akurat.

Koordinasi dengan industri perbankan pun terus dilakukan untuk memastikan implementasi kebijakan tersebut berjalan efektif. OJK berharap langkah-langkah ini dapat memperkuat ekosistem pembiayaan sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha dalam memperoleh akses modal.

Momentum Ramadan Dimanfaatkan untuk Mendorong Konsumsi Produk Sendiri

0

Aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat selama bulan Ramadan menjadi salah satu penggerak penting bagi roda perekonomian nasional. Permintaan terhadap berbagai kebutuhan harian, terutama makanan, minuman, hingga pakaian menjelang Idulfitri, turut mendorong perputaran usaha mikro, kecil, dan menengah. Dalam momentum ini, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk lebih banyak memilih Produk Sendiri sebagai bagian dari upaya memperkuat industri dalam negeri.

Sejalan dengan itu, Kementerian Perindustrian kembali menggelar Bazaar Lebaran 2026 yang berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di Plasa Pameran Industri Kementerian Perindustrian, Jakarta. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mempermudah masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus memperkenalkan berbagai Produk Sendiri hasil industri nasional kepada publik yang lebih luas.

Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian, M. Rum, menjelaskan bahwa bazaar ini bukan sekadar agenda tahunan menjelang Hari Raya. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah promosi bagi industri dalam negeri, khususnya sektor agro dan produk konsumsi yang memiliki peran besar dalam menopang perekonomian.

Menurutnya, melalui kegiatan seperti ini masyarakat semakin terdorong untuk mengenal sekaligus menggunakan Produk Sendiri yang diproduksi oleh pelaku industri nasional. Dengan begitu, rantai produksi dalam negeri dapat terus bergerak dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Industri Agro Jadi Penopang Ekonomi

Sektor industri agro selama ini menjadi salah satu pilar utama industri pengolahan nasional. Pada tahun 2025, sektor ini tercatat menyumbang sekitar 52,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas serta memberikan kontribusi sebesar 9 persen terhadap PDB nasional. Pertumbuhan sektor ini juga mencapai 4,95 persen sepanjang tahun tersebut.

Dari sisi perdagangan internasional, industri agro mencatatkan kinerja yang cukup kuat. Nilai ekspor sektor ini mencapai sekitar USD78,77 miliar, sementara nilai impor tercatat sebesar USD21,19 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan sektor agro menghasilkan surplus hingga USD57,58 miliar.

Selain kontribusi terhadap perdagangan, sektor ini juga memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja. Realisasi investasi industri agro pada 2025 mencapai sekitar Rp191,7 triliun dan mampu menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025. Capaian ini memperlihatkan bahwa sektor agro masih menjadi salah satu bidang industri yang menarik bagi investor sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Memasuki tahun 2026, optimisme pelaku industri juga masih terlihat dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada pada level 54,02. Angka ini menunjukkan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi, termasuk dalam meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.

Hilirisasi Dorong Nilai Tambah Industri

Pemerintah juga terus memperkuat struktur industri melalui program hilirisasi berbasis sumber daya alam. Strategi ini bertujuan menghubungkan sektor hulu dan hilir dalam satu ekosistem industri yang saling mendukung, sehingga mampu menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Melalui pendekatan klaster industri berbasis wilayah, sejumlah komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, dan sagu diarahkan untuk diolah menjadi berbagai produk turunan. Produk tersebut mencakup sektor pangan, farmasi, kosmetik, hingga bioenergi. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas dalam negeri secara signifikan.

Dalam sektor makanan dan minuman, pelaku industri juga telah meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama Ramadan. Tingkat utilisasi industri makanan dan minuman saat ini berada pada kisaran 70–80 persen, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang biasanya sekitar 60 persen.

Melalui kegiatan Bazaar Lebaran, pemerintah berharap masyarakat semakin mengenal kualitas Produk Sendiri sekaligus menjadikannya pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dukungan terhadap Produk Sendiri dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat industri nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.

Bazaar Lebaran Kementerian Perindustrian tahun ini diikuti sekitar 80 perusahaan yang terdiri dari industri besar, menengah, serta pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Berbagai produk ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari minyak goreng, gula, roti, kopi, susu, yoghurt, cokelat, hingga makanan siap saji dan frozen food.

Selain itu, pengunjung juga dapat menemukan produk nonpangan seperti kertas, tisu, minyak atsiri, porselen, batik, kerajinan kulit, hingga busana muslim. Keberagaman produk tersebut menunjukkan potensi besar industri nasional sekaligus memperkuat kampanye penggunaan Produk Sendiri di tengah masyarakat.

Tips Mengatur THR agar Tidak Habis Setelah Lebaran

Setiap menjelang hari raya, banyak karyawan menantikan satu hal yang selalu datang setahun sekali, yaitu Tunjangan Hari Raya atau THR. Momen ini sering terasa menyenangkan karena ada tambahan pemasukan di luar gaji bulanan. Namun tanpa perencanaan yang baik, uang tersebut bisa habis begitu saja. Karena itu penting memahami Tips Mengatur THR agar dana yang diterima benar benar memberikan manfaat, bukan sekadar lewat di rekening.

Banyak orang menganggap THR sebagai uang “bonus” yang bebas digunakan untuk apa saja. Akibatnya, pengeluaran sering tidak terkendali. Mulai dari belanja pakaian baru, membeli hampers, hingga traktir keluarga besar. Semua terasa wajar karena suasana hari raya memang identik dengan berbagi dan merayakan kebersamaan.

Namun jika tidak hati hati, setelah libur Lebaran justru muncul masalah baru. Tabungan menipis, kartu kredit membengkak, bahkan sebagian orang harus menunggu gajian berikutnya dengan kondisi keuangan yang cukup ketat. Di sinilah pentingnya memahami Tips Mengatur THR agar uang tambahan tersebut bisa digunakan dengan lebih bijak.

Dengan pengelolaan yang tepat, THR tidak hanya membantu kebutuhan Lebaran, tetapi juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki kondisi keuangan.

Menentukan Prioritas Penggunaan THR

Langkah pertama dalam menerapkan Tips Mengatur THR adalah menentukan prioritas. Tidak semua kebutuhan harus dipenuhi sekaligus. Dengan membuat urutan prioritas, penggunaan uang menjadi lebih terarah.

Prioritas utama biasanya adalah kewajiban yang harus diselesaikan. Misalnya jika masih memiliki cicilan kecil atau tagihan tertentu, sebagian THR bisa dialokasikan untuk meringankan beban tersebut. Hal ini sering kali membuat kondisi keuangan setelah Lebaran terasa lebih ringan.

Setelah itu, barulah anggaran untuk kebutuhan Lebaran disiapkan. Misalnya untuk membeli pakaian baru, kebutuhan mudik, atau memberikan uang kepada keluarga. Kebutuhan ini memang penting, tetapi tetap perlu dibatasi agar tidak menghabiskan seluruh THR.

Banyak perencana keuangan juga menyarankan untuk menyisihkan sebagian THR ke dalam tabungan atau investasi. Meskipun jumlahnya tidak harus besar, langkah ini membantu membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.

Membagi THR dengan Cara yang Lebih Seimbang

Cara sederhana yang sering digunakan dalam Tips Mengatur THR adalah membagi uang ke beberapa pos pengeluaran. Metode ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan perencanaan masa depan.

Sebagai contoh, sebagian THR bisa dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran seperti mudik, belanja, atau memberi angpao. Sebagian lagi bisa dimasukkan ke tabungan darurat. Pos lainnya dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi atau hiburan sebagai bentuk self reward setelah bekerja selama satu tahun.

Dengan pembagian seperti ini, THR tetap bisa dinikmati tanpa membuat kondisi keuangan menjadi kacau setelah hari raya.

Selain itu, penting juga untuk menghindari belanja impulsif. Banyak promo besar menjelang Lebaran yang terlihat sangat menggoda. Tanpa disadari, barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan justru ikut masuk keranjang belanja.

Cara paling sederhana untuk menghindari hal ini adalah membuat daftar belanja sebelum pergi ke toko atau membuka aplikasi belanja online. Dengan begitu, pengeluaran bisa lebih terkendali.

Menjadikan THR sebagai Awal Kebiasaan Finansial yang Lebih Baik

THR sebenarnya bisa menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan mengatur uang. Tidak harus selalu digunakan untuk konsumsi jangka pendek. Jika dikelola dengan bijak, dana ini bisa membantu membangun stabilitas finansial dalam jangka panjang.

Misalnya dengan memulai tabungan darurat, menambah dana investasi, atau bahkan menyisihkan sebagian untuk tujuan finansial tertentu seperti liburan atau pendidikan.

Banyak orang yang mulai sadar bahwa kebiasaan kecil seperti menerapkan Tips Mengatur THR dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Kunci utamanya adalah disiplin dan perencanaan yang sederhana tetapi konsisten.

Permintaan Sepatu dan Sandal Naik Saat Ramadan, Industri Alas Kaki Nasional Bersiap

0

Kementerian Perindustrian memastikan industri alas kaki nasional bersama sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) berada dalam kondisi siap menghadapi lonjakan permintaan masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Pemerintah menilai kapasitas produksi industri alas kaki nasional saat ini cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang setiap tahun meningkat pada periode tersebut.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, peningkatan konsumsi produk tekstil dan alas kaki merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi menjelang Hari Raya. Oleh karena itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan pelaku usaha agar produksi tetap berjalan optimal dan distribusi barang ke pasar dapat berlangsung lancar.

Menurut Agus, hasil komunikasi dengan berbagai asosiasi industri menunjukkan bahwa sektor tekstil serta industri alas kaki nasional masih memiliki kemampuan produksi yang memadai untuk merespons kenaikan permintaan masyarakat. “Momentum Ramadan dan Idulfitri memang selalu mendorong konsumsi produk sandang dan alas kaki. Saat ini kapasitas produksi nasional masih berada dalam kondisi yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (10/3).

Industri Padat Karya yang Menyerap Jutaan Tenaga Kerja

Selain berperan dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik, sektor tekstil dan industri alas kaki nasional juga menjadi salah satu sektor manufaktur padat karya yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Industri ini tidak hanya berperan dalam aktivitas produksi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan tenaga kerja.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa sektor TPT mencatat pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 3,55 persen secara tahunan pada 2025. Kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional juga mencapai sekitar 0,97 persen, yang menunjukkan bahwa industri ini tetap menjadi bagian penting dari struktur manufaktur nasional.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Rizky Aditya Wijaya menjelaskan bahwa sektor TPT terus menjalankan peran sosial-ekonominya melalui penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor ini tercatat mencapai sekitar 3,96 juta orang.

Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2025 yang berada di kisaran 3,76 juta pekerja. Peningkatan ini mencerminkan bahwa sektor tekstil dan industri alas kaki nasional masih menjadi salah satu tulang punggung industri manufaktur dalam menyerap tenaga kerja.

Pemerintah Pantau Produksi dan Distribusi

Untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi selama Ramadan hingga Idulfitri, pemerintah melakukan sejumlah langkah strategis. Di antaranya adalah memantau utilisasi kapasitas produksi industri tekstil, pakaian jadi, serta industri alas kaki nasional secara berkala.

Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan produsen bahan baku, seperti serat, benang, kain, hingga material pendukung untuk industri alas kaki. Langkah ini bertujuan menjaga kelancaran pasokan bahan baku sekaligus mencegah lonjakan harga yang dapat mengganggu stabilitas pasar.

Selain memastikan kesiapan produksi, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal atau thrifting yang masuk ke pasar domestik. Praktik tersebut dinilai merugikan industri dalam negeri, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah yang bergerak di sektor tekstil.

“Kami terus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal karena hal ini dapat menekan daya saing industri dalam negeri,” ujar Rizky.

Sementara itu, laporan dari pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menunjukkan adanya peningkatan produksi sejak awal 2026. Kenaikan tersebut terutama terjadi pada produk yang banyak dicari masyarakat menjelang Lebaran, seperti busana muslim, kain sarung, pakaian anak, sepatu kasual, hingga sandal.

Di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia, Rencana Menaikkan Harga BBM Masih Ditahan

0

Pemerintah memastikan Rencana Menaikkan Harga BBM belum menjadi agenda dalam waktu dekat meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat ketegangan geopolitik global. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kebijakan resmi terkait Rencana Menaikkan Harga BBM bersubsidi di dalam negeri.

Menurut Purbaya, pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menahan dampak lonjakan harga energi global. Oleh karena itu, Rencana Menaikkan Harga BBM belum dianggap sebagai langkah yang perlu diambil saat ini.

“Kami belum memiliki kebijakan untuk mengubah skema subsidi BBM, termasuk menaikkan harga bahan bakar,” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/3).

Ia menjelaskan bahwa kondisi pasokan energi nasional masih relatif aman. Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang sebelumnya memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri masih terjaga.

Harga Minyak Dunia Dipantau Ketat

Meski Rencana Menaikkan Harga BBM belum dibahas secara serius, pemerintah tetap memantau perkembangan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan. Purbaya menilai volatilitas harga energi global masih berada dalam batas yang bisa ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menuturkan bahwa rata-rata harga minyak saat ini masih berada di bawah asumsi batas maksimal yang diproyeksikan dalam APBN. Dengan kondisi tersebut, pemerintah masih memiliki kemampuan fiskal untuk menahan gejolak harga tanpa harus segera mengambil langkah penyesuaian harga BBM.

Namun demikian, pemerintah akan melakukan evaluasi secara berkala. Dalam waktu sekitar satu bulan ke depan, perkembangan harga minyak global akan kembali dianalisis untuk menentukan apakah kebijakan baru diperlukan atau tidak.

“Untuk saat ini belum ada kebutuhan mengambil keputusan terkait Rencana Menaikkan Harga BBM, karena kondisi fiskal masih cukup kuat,” kata Purbaya.

Ia juga meminta masyarakat tetap tenang menghadapi dinamika harga energi global. Menurutnya, Indonesia sudah beberapa kali menghadapi situasi lonjakan harga minyak dunia, namun tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan yang tepat.

Pasokan BBM Dipastikan Aman

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut memastikan bahwa pasokan bahan bakar minyak masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi, termasuk Pertalite. Ia memastikan bahwa meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam, kebijakan Rencana Menaikkan Harga BBM belum akan diberlakukan.

Di pasar global, harga minyak mentah memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan. Berdasarkan laporan internasional, harga minyak jenis Brent sempat menyentuh angka USD118 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada awal tahun 2026. Pada Januari lalu, harga minyak Brent tercatat sekitar USD64 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD57,87 per barel.

Kenaikan harga energi global ini sebagian dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara besar. Meski demikian, pemerintah Indonesia menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola tanpa harus mengambil keputusan terkait Rencana Menaikkan Harga BBM dalam waktu dekat.

Cara Bijak Mengatur Budget Hampers Lebaran Agar Dompet Tetap Aman

Menjelang hari raya, tradisi berbagi hadiah kembali menjadi momen yang dinanti banyak orang. Salah satu yang paling populer tentu saja Hampers Lebaran. Mulai dari paket kue kering, makanan premium, hingga produk lifestyle sering dijadikan pilihan untuk diberikan kepada keluarga, teman, hingga rekan kerja. Tidak heran jika Hampers Lebaran menjadi bagian dari budaya perayaan yang hampir selalu hadir setiap tahun.

Di satu sisi, tradisi ini memang menyenangkan karena menjadi cara sederhana untuk mempererat hubungan. Mengirim hampers kepada orang terdekat sering dianggap sebagai bentuk perhatian dan ucapan selamat hari raya. Namun di sisi lain, tidak sedikit orang yang akhirnya menyadari bahwa pengeluaran mereka menjadi jauh lebih besar dari rencana awal.

Awalnya mungkin hanya berniat membeli satu atau dua paket saja. Tetapi ketika mulai mengingat siapa saja yang ingin diberi hampers, daftar tersebut bisa menjadi sangat panjang. Mulai dari keluarga besar, teman lama, rekan kerja, hingga relasi bisnis. Tanpa disadari, biaya untuk Hampers Lebaran bisa membengkak cukup signifikan.

Hal ini biasanya terjadi karena pembelian dilakukan secara spontan tanpa perencanaan yang jelas. Banyak orang tergoda oleh kemasan yang menarik, mengikuti tren hampers yang sedang viral, atau merasa tidak enak jika tidak ikut memberikan hampers kepada orang lain.

Mengapa Pengeluaran Hampers Lebaran Sering Membengkak

Ada beberapa alasan mengapa pengeluaran untuk hampers sering terasa tidak terkendali. Salah satunya adalah karena tidak adanya anggaran khusus. Banyak orang membeli hampers menggunakan sisa dana yang tersedia tanpa benar benar menetapkan batas pengeluaran.

Faktor lainnya adalah tren media sosial. Setiap tahun selalu muncul berbagai ide Hampers Lebaran yang terlihat menarik dan kreatif. Melihat orang lain mengirim hampers yang mewah terkadang membuat kita ikut terdorong melakukan hal yang sama, meskipun sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Selain itu, daftar penerima hampers juga sering bertambah secara spontan. Awalnya hanya ingin memberi kepada keluarga dekat, tetapi kemudian muncul keinginan memberi kepada teman kantor, tetangga, atau relasi bisnis. Tanpa perencanaan yang matang, jumlah paket yang harus dibeli akhirnya jauh lebih banyak dari perkiraan.

Kebiasaan membeli hampers mendekati hari raya juga bisa menjadi penyebab pengeluaran meningkat. Ketika waktu semakin dekat dengan Lebaran, pilihan biasanya semakin terbatas dan harga bisa menjadi lebih tinggi.

Cara Mengatur Budget Hampers Lebaran dengan Lebih Bijak

Agar tradisi berbagi tetap menyenangkan tanpa membuat dompet kewalahan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menentukan anggaran khusus. Sebelum membeli apa pun, tentukan jumlah maksimal dana yang ingin digunakan untuk Hampers Lebaran. Dengan adanya batas budget, Anda akan lebih mudah mengontrol pengeluaran.

Langkah berikutnya adalah membuat daftar penerima hampers. Daftar ini membantu Anda menentukan prioritas sehingga tidak membeli paket secara impulsif. Tidak semua orang harus mendapatkan hampers dengan nilai yang sama. Misalnya hampers untuk keluarga inti bisa berbeda dengan hampers untuk teman atau kolega.

Cara lain yang cukup efektif adalah membuat hampers sendiri. Banyak orang mengira membuat hampers itu merepotkan, padahal sebenarnya cukup sederhana. Anda bisa membeli beberapa produk seperti kue kering, cokelat, atau minuman, lalu mengemasnya sendiri dengan kotak atau keranjang yang menarik. Selain lebih hemat, hampers buatan sendiri juga terasa lebih personal.

Membeli hampers lebih awal juga bisa menjadi strategi yang baik. Ketika Ramadan baru dimulai, biasanya pilihan produk masih banyak dan harga cenderung lebih stabil. Anda juga memiliki lebih banyak waktu untuk membandingkan harga sebelum memutuskan membeli.

Catat! THR Karyawan Swasta Harus Cair Sebelum Lebaran, Ini Cara Menghitungnya

0

Menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, banyak pekerja mulai menantikan pencairan THR Karyawan Swasta yang menjadi salah satu hak tahunan bagi pekerja di perusahaan. Selain membantu memenuhi kebutuhan menjelang Lebaran, THR Karyawan Swasta juga menjadi tambahan pendapatan yang dinanti oleh para pekerja, termasuk mereka yang masa kerjanya belum genap satu tahun.

Ketentuan mengenai pemberian THR Karyawan Swasta diatur dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor M/3/HK.04.00/III/2026 tentang pelaksanaan pemberian tunjangan hari raya keagamaan bagi pekerja atau buruh di perusahaan. Dalam aturan tersebut ditegaskan bahwa perusahaan wajib membayarkan THR kepada pekerja paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan.

Jika merujuk pada perkiraan jadwal Idulfitri 2026 yang diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, maka perusahaan diwajibkan menyalurkan THR Karyawan Swasta paling lambat pada 14 Maret 2026. Pemerintah menegaskan bahwa perusahaan yang terlambat membayarkan THR dapat dikenakan sanksi berupa denda sebesar lima persen dari total THR yang harus dibayarkan.

Denda tersebut nantinya akan digunakan untuk kepentingan kesejahteraan pekerja. Meski demikian, pemberian sanksi tersebut tidak menghapus kewajiban perusahaan untuk tetap menyalurkan THR Karyawan Swasta kepada para pekerjanya.

Cara Menghitung THR Berdasarkan Masa Kerja

Besaran THR Karyawan Swasta yang diterima setiap pekerja tidak selalu sama. Nilainya ditentukan berdasarkan masa kerja serta besaran upah yang diterima oleh pekerja tersebut. Kementerian Ketenagakerjaan telah menetapkan rumus perhitungan THR agar pekerja dapat mengetahui secara jelas hak yang seharusnya diterima.

Bagi pekerja yang telah bekerja selama 12 bulan atau lebih secara terus-menerus di perusahaan yang sama, mereka berhak mendapatkan THR sebesar satu bulan upah penuh. Dalam kondisi ini, perusahaan tidak perlu melakukan perhitungan tambahan karena nilai THR sama dengan gaji bulanan pekerja tersebut.

Sementara itu, bagi pekerja yang masa kerjanya belum mencapai satu tahun, THR Karyawan Swasta dihitung secara proporsional. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus masa kerja dibagi 12 bulan kemudian dikalikan dengan satu bulan upah.

Sebagai contoh, seorang pekerja yang telah bekerja selama sembilan bulan dengan gaji Rp5 juta per bulan dapat menghitung THR dengan rumus berikut: masa kerja sembilan bulan dibagi 12 bulan kemudian dikalikan Rp5 juta. Dari perhitungan tersebut, pekerja tersebut berhak menerima THR sebesar Rp3,75 juta.

Contoh lainnya, jika seorang pekerja memiliki masa kerja enam bulan dengan gaji Rp4 juta per bulan, maka THR Karyawan Swasta yang akan diterima dihitung dengan rumus enam bulan dibagi 12 bulan dikalikan Rp4 juta. Dengan perhitungan tersebut, pekerja berhak memperoleh THR sebesar Rp2 juta.

Hak Pekerja Harus Dipenuhi Perusahaan

Pemerintah mengingatkan perusahaan agar mematuhi ketentuan pemberian THR Pegawai Swasta sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain sebagai kewajiban perusahaan, pembayaran THR juga menjadi bentuk penghargaan atas kontribusi pekerja selama menjalankan aktivitas kerja sepanjang tahun.

Bagi pekerja yang tidak menerima THR tepat waktu atau menerima nominal yang tidak sesuai dengan ketentuan, mereka dapat melaporkan permasalahan tersebut kepada dinas ketenagakerjaan setempat. Pemerintah juga menyediakan posko pengaduan khusus menjelang Lebaran untuk memastikan hak pekerja dapat terpenuhi.

Dengan adanya aturan yang jelas mengenai THR Karyawan, diharapkan hubungan antara perusahaan dan pekerja dapat berjalan lebih harmonis. Selain itu, pencairan THR yang tepat waktu juga diharapkan dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri.

Produk Emas Nasional Kian Diminati Dunia, Ekspor Perhiasan RI Tembus USD9,1 Miliar

0

Industri perhiasan dalam negeri terus menunjukkan geliat positif seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap Produk Emas Nasional. Di tengah tren kenaikan harga emas dunia, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berupaya memperkuat jaminan mutu dan akurasi pengujian kadar emas agar kualitas produk tetap terjaga dan mampu bersaing di pasar internasional.

Langkah penguatan kualitas ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan konsumen sekaligus memastikan setiap Produk Emas Nasional yang beredar memiliki standar mutu yang jelas. Selain itu, peningkatan kualitas juga menjadi strategi untuk memperkuat posisi industri perhiasan Indonesia di tengah kompetisi global yang semakin ketat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa kinerja industri perhiasan Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini tercermin dari nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga yang mencapai USD9,1 miliar. Angka tersebut melonjak sekitar 65,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Agus, capaian ini menjadi bukti bahwa pasar internasional semakin melirik Produk Emas Nasional yang dikenal memiliki desain unik serta kualitas yang kompetitif.

“Pertumbuhan ini menunjukkan peluang besar bagi industri perhiasan Indonesia untuk terus berkembang di pasar global. Momentum ini perlu dijaga dengan memastikan kualitas dan kepercayaan terhadap produk dalam negeri tetap tinggi,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/3).

Pentingnya Akurasi Pengujian Kadar Emas

Di tengah peningkatan produksi dan permintaan pasar, pemerintah menilai akurasi pengujian kadar emas menjadi aspek yang sangat krusial. Agus menekankan bahwa laboratorium pengujian memiliki peran strategis dalam memastikan kandungan logam mulia sesuai standar yang berlaku.

Dengan pengujian yang akurat, setiap Produk Emas Nasional yang dipasarkan dapat dipastikan memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini juga penting untuk memperkuat reputasi industri emas Indonesia di pasar internasional.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah mendorong laboratorium dan pelaku industri untuk berpartisipasi dalam program Penyelenggara Uji Profisiensi (PUP). Program ini bertujuan membandingkan kemampuan laboratorium dalam melakukan pengujian secara objektif sehingga hasilnya lebih akurat dan konsisten.

Program Uji Profisiensi Perkuat Standar Industri

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Emmy Suryandari, menjelaskan bahwa program uji profisiensi merupakan instrumen penting untuk meningkatkan kualitas pengujian emas di Indonesia.

Menurutnya, penerapan standar pengujian yang baik akan memberikan kepastian kualitas bagi setiap Produk Emas Nasional yang diproduksi industri dalam negeri.

“Kami terus mendorong penerapan standar industri agar kualitas produk yang beredar dapat terjamin. Program Uji Profisiensi ini penting bagi laboratorium perusahaan untuk menunjukkan validitas hasil pengujian mereka,” kata Emmy.

Pelaksanaan program tersebut dilakukan oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), yang berada di bawah BSKJI. Program uji profisiensi untuk komoditas emas ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, sehingga berperan sebagai rujukan nasional dalam pemastian mutu pengujian emas.

Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba, menambahkan bahwa layanan PUP terbuka bagi berbagai pihak, mulai dari industri, instansi pemerintah, hingga laboratorium swasta, baik yang sudah terakreditasi maupun yang belum.

Ia menjelaskan bahwa program ini menggunakan skema simultan, di mana sampel uji didistribusikan ke berbagai laboratorium untuk diuji secara bersamaan dalam periode waktu yang telah ditentukan. Metode tersebut memungkinkan hasil pengujian dibandingkan secara objektif, terukur, dan transparan.