Kamis, November 5, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 29

Harga Bitcoin Tertahan Meski Inflasi AS Melandai, Ini Penyebabnya

0

Harga Bitcoin Tertahan pada perdagangan akhir pekan setelah pelaku pasar kembali dihadapkan pada ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Meski sempat menunjukkan penguatan di awal pekan, aset kripto terbesar di dunia itu akhirnya bergerak dalam kisaran terbatas sehingga kenaikan mingguannya relatif tipis.

Mengacu pada data perdagangan terbaru, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD64.003 atau naik sekitar 0,1 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Secara mingguan, kenaikannya juga berada di level yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa Harga Bitcoin Tertahan di tengah tarik-menarik sentimen positif dan negatif yang memengaruhi keputusan investor.

Pada awal pekan, pasar sempat menyambut baik rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Inflasi konsumen maupun produsen yang lebih rendah dari perkiraan sempat memunculkan harapan bahwa tekanan terhadap kebijakan suku bunga akan berkurang dalam beberapa bulan mendatang. Optimisme tersebut mendorong Bitcoin menembus level USD65 ribu sebelum akhirnya kembali melemah.

Namun, sentimen positif itu tidak berlangsung lama. Sejumlah pejabat Federal Reserve kembali memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih diperlukan untuk memastikan inflasi benar-benar kembali menuju target bank sentral.

Kebijakan The Fed dan Konflik Timur Tengah Tekan Pasar

Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menilai suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang mengingatkan bahwa inflasi masih menyimpan risiko bertahan pada level tinggi.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat untuk membawa inflasi menuju target dua persen. Meski tidak mengungkapkan langkah kebijakan secara rinci, pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi kemungkinan dipertahankan lebih lama.

Kondisi tersebut membuat Harga Bitcoin Tertahan karena aset kripto umumnya menjadi kurang menarik ketika suku bunga meningkat. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih stabil dibandingkan aset berisiko tinggi seperti mata uang digital.

Selain faktor kebijakan moneter, perkembangan konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai serangan militer terbaru yang menyasar sejumlah infrastruktur di Iran.

Investor Cenderung Berhati-hati

Eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap potensi lonjakan inflasi global yang pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral di berbagai negara.

Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di aset digital. Akibatnya, Harga Bitcoin Tertahan meski sebelumnya sempat memperoleh dorongan dari membaiknya data ekonomi Amerika Serikat.

Sejak meningkatnya konflik AS-Iran pada awal tahun, pergerakan Bitcoin memang cenderung melemah. Secara keseluruhan, nilai aset kripto tersebut masih mencatat penurunan sekitar 27 persen sepanjang 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi dan geopolitik masih menjadi penentu utama arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.

Jangan Hanya Kejar Omzet, Siapkan Juga Uang Pensiun dari Bisnis!

0

Membangun Uang Pensiun dari Bisnis mungkin terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar. Padahal, pelaku UMKM maupun pemilik usaha rumahan juga bisa mulai menyiapkannya sejak dini. Berempat.com melihat masih banyak pebisnis yang fokus mengejar omzet bulanan, tetapi lupa bahwa bisnis seharusnya juga menjadi alat untuk menciptakan keamanan finansial di masa depan. Dengan kata lain, Uang Pensiun dari Bisnis bukan sekadar tabungan biasa, melainkan hasil dari kebiasaan mengelola keuntungan secara disiplin dan berkelanjutan.

Banyak pemilik usaha menganggap seluruh keuntungan yang diperoleh bisa langsung digunakan untuk kebutuhan pribadi. Padahal, kebiasaan tersebut justru membuat bisnis sulit berkembang dan menyulitkan pemiliknya ketika suatu saat memutuskan mengurangi aktivitas kerja.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perencanaan keuangan jangka panjang merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kesejahteraan finansial. Hal ini tidak hanya berlaku bagi karyawan, tetapi juga bagi wirausaha yang tidak memiliki program pensiun dari perusahaan.

Karena itu, semakin cepat pelaku usaha mulai memikirkan dana masa depan, semakin besar peluang menikmati hasil bisnis dengan lebih tenang di kemudian hari.

Jangan Anggap Semua Keuntungan adalah Penghasilan

Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap seluruh uang yang masuk sebagai pendapatan pribadi.

Padahal, keuntungan bisnis memiliki beberapa fungsi.

Sebagian digunakan untuk modal usaha.

Sebagian lagi untuk biaya operasional.

Sisanya dapat dialokasikan sebagai keuntungan pemilik dan dana jangka panjang.

Dengan cara tersebut, kondisi keuangan bisnis menjadi lebih sehat karena tidak seluruh keuntungan langsung habis digunakan untuk konsumsi.

Memisahkan rekening bisnis dan rekening pribadi juga menjadi langkah sederhana yang membantu proses pengelolaan keuangan.

Sisihkan Dana Secara Konsisten, Bukan Menunggu Untung Besar

Banyak orang berpikir harus menunggu bisnis berkembang sebelum mulai menabung.

Padahal, kebiasaan menyisihkan dana jauh lebih penting daripada besar kecilnya nominal.

Misalnya, tetapkan persentase tertentu dari laba bersih setiap bulan untuk dana masa depan.

Ketika keuntungan meningkat, nilai dana yang disisihkan juga akan ikut bertambah.

Pendekatan ini membuat pembentukan Uang Pensiun dari Bisnis berlangsung secara bertahap tanpa terlalu membebani arus kas usaha.

Menurut survei OECD mengenai literasi keuangan, kebiasaan menabung secara konsisten memiliki dampak yang lebih besar terhadap kondisi finansial jangka panjang dibanding menabung dalam jumlah besar tetapi tidak rutin.

Strategi Membangun Uang Pensiun dari Bisnis

Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua pelaku usaha. Namun, beberapa langkah berikut dapat menjadi titik awal.

1. Tentukan Persentase Dana Pensiun

Misalnya menyisihkan 5–10% dari laba bersih setiap bulan.

Yang terpenting adalah konsisten menjalankannya.

Persentase tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi usaha masing-masing.

2. Investasikan Dana yang Sudah Terkumpul

Menyimpan dana di rekening biasa memang lebih praktis, tetapi nilainya bisa tergerus inflasi.

Karena itu, pertimbangkan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko, seperti deposito, obligasi pemerintah, reksa dana, atau instrumen lain yang legal dan diawasi oleh otoritas terkait.

Langkah ini bertujuan agar dana memiliki potensi berkembang seiring waktu.

3. Bangun Aset yang Menghasilkan

Selain investasi keuangan, pelaku usaha juga dapat membangun aset produktif.

Misalnya membeli peralatan yang meningkatkan kapasitas produksi, memiliki properti untuk disewakan, atau mengembangkan lini usaha yang dapat menghasilkan pendapatan berulang.

Dengan demikian, sumber penghasilan tidak hanya bergantung pada aktivitas harian pemilik usaha.

Bisnis yang Sehat Tidak Bergantung Sepenuhnya pada Pemilik

Salah satu tujuan jangka panjang adalah menciptakan bisnis yang tetap berjalan meskipun pemiliknya tidak selalu terlibat langsung.

Hal ini dapat dimulai dengan menyusun sistem operasional, mendokumentasikan prosedur kerja, serta mendelegasikan sebagian tugas kepada tim ketika usaha mulai berkembang.

Menurut Harvard Business Review, bisnis yang memiliki sistem kerja yang jelas cenderung lebih mudah berkembang sekaligus memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi dibanding usaha yang sepenuhnya bergantung pada pemilik.

Semakin mandiri sebuah bisnis, semakin besar peluang pemilik bisnis menikmati hasil usahanya tanpa harus bekerja sepanjang waktu.

Persiapan Hari Ini Menentukan Kenyamanan di Masa Depan

Tidak ada kata terlalu dini untuk mulai memikirkan Uang Pensiun dari Bisnis. Justru ketika usaha masih berkembang, kebiasaan mengelola keuntungan secara disiplin akan memberikan dampak yang jauh lebih besar di masa depan.

Bisnis seharusnya tidak hanya menghasilkan pendapatan untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi fondasi keamanan finansial bagi pemiliknya ketika produktivitas mulai berkurang.

Intinya, Uang Pensiun dari Bisnis bukan dibangun melalui keuntungan besar yang datang sesekali, melainkan melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan memisahkan keuangan, menyisihkan sebagian laba, membangun aset produktif, dan mengembangkan sistem bisnis yang mandiri, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar menikmati masa depan yang lebih tenang tanpa harus terus bekerja setiap hari.

Kinerja Bisnis Membaik, BI Catat Kegiatan Dunia Usaha Terus Menguat

0

Kegiatan Dunia Usaha di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif pada triwulan II 2026. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia (BI) memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas bisnis di berbagai sektor ekonomi. Perbaikan tersebut menjadi sinyal bahwa dunia usaha masih mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Bank Indonesia mencatat nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada triwulan II 2026 mencapai 12,97 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di level 10,11 persen. Peningkatan ini menunjukkan bahwa Kegiatan Dunia Usaha terus bergerak ke arah yang lebih baik seiring membaiknya aktivitas pada sejumlah lapangan usaha utama.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan kenaikan tersebut ditopang oleh membaiknya kinerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Selain itu, sektor konstruksi serta pertambangan dan penggalian juga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan aktivitas ekonomi nasional.

Tidak hanya itu, sektor penyediaan akomodasi dan makanan-minuman turut mengalami peningkatan. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan nasional serta musim libur sekolah yang berlangsung pada triwulan kedua tahun ini.

Mayoritas Sektor Usaha Catat Pertumbuhan Positif

Bank Indonesia juga mencatat tingkat kapasitas produksi terpakai mengalami kenaikan. Pada triwulan II 2026, utilisasi produksi mencapai 73,80 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan sebelumnya yang sebesar 73,33 persen.

Peningkatan kapasitas produksi terutama terjadi pada sektor pertanian, pertambangan, serta pengadaan listrik. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Kegiatan Dunia Usaha tidak hanya mengalami peningkatan dari sisi permintaan, tetapi juga didukung kemampuan pelaku usaha dalam mengoptimalkan proses produksi.

Di sisi lain, kondisi keuangan perusahaan secara umum masih tergolong sehat. Bank Indonesia menilai aspek likuiditas dan rentabilitas tetap berada dalam kondisi yang baik. Kemudahan memperoleh akses pembiayaan dari sektor perbankan juga menjadi faktor yang membantu pelaku usaha menjaga operasional bisnisnya.

Prospek Triwulan III 2026 Masih Optimistis

Memasuki triwulan III 2026, para responden survei memperkirakan aktivitas bisnis tetap berada dalam jalur positif. Bank Indonesia mencatat proyeksi SBT sebesar 11,75 persen, yang menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi beberapa bulan mendatang.

Kinerja sejumlah sektor diperkirakan terus meningkat, terutama industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta jasa reparasi kendaraan. Prospek tersebut didukung oleh perkiraan permintaan masyarakat yang tetap terjaga sehingga mampu mendorong aktivitas produksi dan distribusi.

Selain itu, sektor konstruksi diprediksi tetap berkembang seiring berlanjutnya berbagai proyek pemerintah maupun swasta. Aktivitas pertambangan juga diperkirakan mengalami peningkatan karena kondisi cuaca yang lebih mendukung setelah intensitas curah hujan menurun.

Melihat perkembangan tersebut, Bank Indonesia menilai Kegiatan Dunia Usaha masih memiliki peluang untuk mempertahankan pertumbuhan pada paruh kedua 2026. Stabilnya kondisi keuangan pelaku usaha, meningkatnya kapasitas produksi, serta prospek permintaan domestik menjadi faktor penting yang menopang optimisme terhadap kinerja ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.

Reza Arap Tayangkan Pertandingan AFF 2026, Siapkan Konsep Baru di YouTube!

0

Reza Arap atau YB bakal Tayangkan Pertandingan AFF 2026 menjadi kabar yang disambut antusias oleh para penggemar sepak bola nasional. Kreator konten sekaligus streamer tersebut dipastikan akan menghadirkan siaran dan berbagai program pendamping selama gelaran ASEAN Championship Hyundai Cup 2026 melalui kanal YouTube YB miliknya. Kehadiran proyek baru ini diharapkan memberikan pengalaman menonton yang lebih interaktif bagi pencinta Timnas Indonesia sepanjang turnamen berlangsung.

Program bertajuk YB On ASEAN Championship akan hadir selama penyelenggaraan Piala AFF 2026 yang berlangsung mulai 24 Juli hingga 26 Agustus 2026. Melalui konsep tersebut, Reza Arap yang bakan Tayangkan Pertandingan AFF 2026 tidak hanya sebatas menampilkan laga di layar, tetapi juga menyuguhkan beragam konten hiburan dengan gaya khas yang selama ini dikenal oleh para pengikutnya.

Reza mengaku sempat terkejut ketika menerima tawaran untuk berkolaborasi dengan MNC selaku pemegang hak siar eksklusif turnamen di Indonesia. Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan pengalaman langka sehingga langsung diterima tanpa banyak pertimbangan.

Ia menegaskan proyek kali ini bukan sekadar meneruskan konsep yang pernah sukses melalui Marapthon. Sebaliknya, tim produksi telah menyiapkan format baru yang lebih fleksibel dan mampu menghadirkan hiburan di luar pertandingan sepak bola.

YB On ASEAN Championship Hadir dengan Konsep Baru

Dalam pelaksanaannya, Reza Arap bakal Tayangkan Pertandingan AFF 2026 melalui tayangan streaming yang dipadukan dengan berbagai program pendukung. Penonton akan disuguhkan watch party, live reaction, hingga laporan langsung dari stadion ketika pertandingan berlangsung.

Reza memastikan seluruh pertandingan dalam ajang ASEAN Championship akan masuk dalam jadwal penayangan. Selain itu, dirinya bersama sejumlah talent dijadwalkan hadir langsung di beberapa stadion, khususnya ketika Timnas Indonesia menjalani pertandingan kandang.

Ia kembali menegaskan bahwa proyek tersebut bukan Marapthon musim keempat. Menurutnya, konsep Marapthon telah selesai dan kini saatnya menghadirkan warna baru yang lebih relevan dengan turnamen sepak bola Asia Tenggara.

Program ini juga akan melibatkan sejumlah anggota AAA Clan seperti Yuka, Jot, Niko, dan Tepe. Tak hanya itu, beberapa figur yang memiliki pengalaman di dunia sepak bola nasional juga akan bergabung sebagai host maupun komentator untuk memperkaya pembahasan selama siaran berlangsung.

Kolaborasi Digital untuk Menjangkau Generasi Baru Penonton, Reza Arap Tayangkan Pertandingan AFF 2026 di Chanel YouTubenya

Persiapan program dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Reza mengungkapkan bahwa tawaran kerja sama baru diterima sekitar sepekan sebelum peluncuran. Meski demikian, ia optimistis proses produksi dapat berjalan lancar karena didukung tim yang telah berpengalaman menangani proyek berskala besar.

Pihak MNC menilai YB On ASEAN Championship mampu menjadi strategi baru untuk memperluas jangkauan penonton, terutama generasi muda yang lebih sering menikmati hiburan melalui platform digital dibandingkan televisi konvensional.

Menurut Dini Putri dari MNC, kolaborasi tersebut diharapkan membuat pertandingan ASEAN Championship semakin mudah diakses oleh masyarakat. Kehadiran Reza juga dinilai mampu menghadirkan pendekatan berbeda dalam menikmati siaran sepak bola.

Salah satu keunggulan program ini adalah interaksi langsung antara studio dan stadion. Saat Reza berada di lokasi pertandingan Timnas Indonesia, siaran dari studio tetap berjalan sehingga penonton dapat menikmati suasana stadion sekaligus diskusi bersama para host secara real time.

Merasa Minder Memulai Bisnis? Bangun Dulu Pola Pikir Entrepreneur Ini!

0

Memulai bisnis sering kali terasa menakutkan karena banyak orang merasa belum cukup pintar, belum punya modal besar, atau belum memiliki pengalaman. Padahal, Pola Pikir Entrepreneur yang sehat tidak selalu berawal dari kemampuan luar biasa. Di Berempat.com, kami melihat banyak pelaku usaha berhasil berkembang bukan karena langsung sempurna, melainkan karena mereka terus belajar, berani mencoba, dan tetap konsisten meski hasilnya belum terlihat dalam waktu singkat. Itulah mengapa membangun Pola Pikir Entrepreneur menjadi langkah penting sebelum berbicara tentang strategi pemasaran atau keuntungan bisnis.

Media sosial juga sering membuat calon pebisnis merasa tertinggal. Melihat kisah sukses orang lain memang bisa menjadi motivasi, tetapi jika terus-menerus membandingkan diri, rasa minder justru semakin besar. Akibatnya, banyak ide bisnis yang akhirnya tidak pernah benar-benar diwujudkan.

Menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2024/2025, salah satu karakter yang paling sering ditemukan pada wirausaha yang mampu bertahan adalah kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan. Artinya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan awal, tetapi juga oleh pola pikir yang mendukung proses perkembangan.

Konsistensi Lebih Penting daripada Menunggu Sempurna

Banyak orang menunda memulai usaha karena merasa semuanya harus siap terlebih dahulu.

Padahal, tidak ada bisnis yang langsung sempurna sejak hari pertama.

Produk akan terus berkembang.

Strategi pemasaran akan berubah.

Cara melayani pelanggan juga akan semakin baik seiring bertambahnya pengalaman.

Karena itu, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan hasil yang lebih besar dibanding rencana besar yang tidak pernah dijalankan.

James Clear dalam buku Atomic Habits menjelaskan bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dapat menghasilkan perkembangan yang signifikan dalam jangka panjang. Prinsip tersebut juga sangat relevan dalam membangun bisnis.

Belajar Pelan-Pelan Tetap Membawa Kemajuan

Tidak semua pelaku usaha memiliki latar belakang bisnis.

Ada yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan baru pertama kali mencoba berjualan.

Hal tersebut bukan penghalang.

Justru proses belajar menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang entrepreneur.

Saat ini tersedia banyak sumber belajar gratis, mulai dari webinar, artikel, podcast, hingga video edukasi yang membahas pemasaran digital, pengelolaan keuangan, maupun strategi membangun merek.

Menurut data LinkedIn Workplace Learning Report, mayoritas profesional percaya bahwa kemampuan baru dapat dipelajari secara bertahap melalui kebiasaan belajar yang konsisten.

Artinya, tidak harus menguasai semuanya sekaligus.

Pola Pikir Entrepreneur yang Membantu Bertahan

Selain keterampilan teknis, ada beberapa kebiasaan berpikir yang dapat membantu pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan.

Fokus pada Progres, Bukan Kesempurnaan

Jangan hanya mengukur keberhasilan dari besarnya omzet.

Rayakan juga pencapaian kecil seperti mendapatkan pelanggan pertama, menerima ulasan positif, atau berhasil memperbaiki kualitas produk.

Progres kecil tersebut merupakan fondasi menuju perkembangan yang lebih besar.

Bandingkan Diri Secukupnya

Membandingkan diri dengan pebisnis lain sebenarnya tidak selalu buruk.

Namun, jadikan perbandingan sebagai bahan belajar, bukan alasan untuk merasa gagal.

Setiap bisnis memiliki titik awal, modal, pengalaman, dan tantangan yang berbeda.

Karena itu, lebih baik fokus pada perkembangan diri dibanding mengejar pencapaian orang lain.

Berani Menganggap Kesalahan sebagai Pelajaran

Tidak semua keputusan bisnis akan berjalan sesuai harapan.

  • Ada promosi yang gagal.
  • Mungkin Ada produk yang kurang diminati.
  • Atau Mungkin Ada pelanggan yang memberikan kritik.

Daripada menganggapnya sebagai kegagalan, gunakan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi agar keputusan berikutnya menjadi lebih baik.

Jangan Takut Memulai dari Langkah Kecil

Menurut Harvard Business Review, banyak inovasi lahir melalui proses eksperimen sederhana, bukan dari perencanaan yang sempurna sejak awal. Pebisnis yang mampu beradaptasi biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibanding mereka yang terlalu lama menunggu kondisi ideal.

Hal yang sama berlaku dalam membangun usaha.

Tidak harus langsung memiliki tim besar, kantor mewah, atau ribuan pelanggan.

Memulai dari rumah, menggunakan media sosial, atau menjual produk kepada lingkungan terdekat tetap merupakan langkah yang bernilai.

Yang terpenting adalah terus bergerak dan memperbaiki proses sedikit demi sedikit.

Peluang Ekspor Terbuka Lebar, Industri Kemasan Nasional Perkuat Sertifikasi Produk

0

Industri Kemasan Nasional terus didorong agar mampu bersaing di pasar global melalui penguatan standardisasi dan sertifikasi produk. Kemenperin menilai langkah tersebut menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas akses ekspor, sekaligus memperkuat posisi Industri Kemasan Nasional dalam rantai pasok internasional yang semakin kompetitif.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan peningkatan daya saing industri tidak cukup hanya mengandalkan inovasi desain maupun teknologi produksi. Produk kemasan juga harus memenuhi standar mutu dan sertifikasi yang diakui agar mampu meningkatkan kepercayaan konsumen serta memenuhi berbagai persyaratan perdagangan global.

Menurut Agus, perkembangan sektor kemasan kini telah bergeser. Selain berfungsi melindungi produk dan memperkuat nilai estetika, kemasan juga dituntut memenuhi aspek keamanan, kualitas, hingga ketentuan regulasi yang terus berkembang, termasuk meningkatnya kebutuhan terhadap sertifikasi halal.

Standardisasi Jadi Kunci Daya Saing Industri Kemasan

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kimia, Farmasi dan Kemasan (BBSPJIKFK) di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) menggelar webinar bertema peningkatan mutu produk kemasan melalui sertifikasi.

Kegiatan yang berlangsung secara daring itu menghadirkan narasumber dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan BBSPJIKFK. Tujuannya adalah memperluas pemahaman pelaku usaha mengenai pentingnya sertifikasi produk, termasuk sertifikasi halal yang kini semakin dibutuhkan pasar.

Kepala BSKJI Emmy Suryandari menjelaskan bahwa penerapan standar dan sertifikasi merupakan instrumen strategis untuk memperkuat Industri Kemasan Nasional. Selain memenuhi ketentuan regulasi, sertifikasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, serta kepercayaan pasar terhadap hasil manufaktur Indonesia.

Ia menambahkan, BSKJI saat ini didukung oleh 24 balai standardisasi dan balai besar yang menyediakan layanan pengujian, sertifikasi, inspeksi, kalibrasi, hingga pendampingan teknis bagi pelaku industri di berbagai daerah.

Sertifikasi Halal Buka Peluang Ekspor Lebih Luas

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kemitraan dan Standardisasi Halal BPJPH, Abd. Syakur, menyampaikan pemerintah tengah mempersiapkan implementasi kebijakan Wajib Halal Oktober 2026. Aturan tersebut mencakup berbagai kelompok produk, mulai dari makanan, minuman, kosmetik, obat tradisional, hingga barang gunaan.

Produk kemasan juga termasuk kategori yang wajib memiliki sertifikat halal apabila menggunakan bahan dari unsur hewani, turunannya, atau dipakai secara langsung sebagai kemasan produk pangan, obat, maupun kosmetik.

Pemerintah melihat Industri Kemasan Nasional memiliki peluang besar untuk berkembang seiring meningkatnya permintaan produk halal dunia. Indonesia sebagai salah satu pasar halal terbesar dinilai memiliki modal kuat untuk memperluas pangsa ekspor, meski kontribusinya saat ini masih perlu ditingkatkan.

Kenapa Calon Pembeli Tanya Harga Lalu Hilang? Ini Penyebab dan Solusinya

0

Fenomena Tanya Harga Lalu Hilang hampir pernah dialami oleh semua pelaku usaha, baik yang berjualan di marketplace, media sosial, maupun aplikasi chat. Baru saja membalas pesan “Harga berapa, Kak?”, calon pembeli tiba-tiba tidak memberikan respons lagi. Di Berempat.com, kami melihat kondisi ini sering membuat pemilik bisnis merasa frustrasi, bahkan menganggap produknya terlalu mahal. Padahal, penyebab Tanya Harga Lalu Hilang tidak selalu berkaitan dengan harga. Cara membangun percakapan juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan calon pelanggan untuk melanjutkan komunikasi.

Dalam dunia penjualan, pelanggan jarang membeli hanya karena mengetahui harga. Mereka juga ingin memastikan apakah produk tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan, manfaat yang ditawarkan, serta pelayanan yang akan diterima. Jika percakapan berhenti hanya pada angka, calon pembeli belum memiliki alasan yang cukup untuk melanjutkan transaksi.

Menurut laporan HubSpot State of Sales, pelanggan modern lebih menyukai pendekatan konsultatif dibanding penjualan yang terlalu agresif. Mereka ingin merasa dipahami sebelum akhirnya memutuskan membeli suatu produk atau layanan.

Karena itu, membalas pertanyaan harga sebaiknya menjadi awal percakapan, bukan akhir komunikasi.

Jangan Langsung Berhenti Setelah Menyebutkan Harga

Banyak penjual menjawab pertanyaan pelanggan dengan format yang sangat singkat.

Contohnya:

“Rp250.000, Kak.”

Jawaban tersebut memang benar, tetapi tidak memberikan ruang bagi percakapan untuk berkembang.

Bandingkan dengan respons seperti berikut:

“Harganya Rp250.000, Kak. Produknya mau dipakai untuk kebutuhan pribadi atau usaha? Biar saya bantu rekomendasikan yang paling cocok.”

Perbedaannya sederhana, tetapi efeknya cukup besar.

Calon pembeli merasa diperhatikan karena penjual mencoba memahami kebutuhannya terlebih dahulu.

Pendekatan seperti ini membuat komunikasi terasa lebih alami dibanding langsung mendorong pelanggan untuk segera membeli.

Tanyakan Kebutuhan, Bukan Sekadar Menawarkan Produk

Setiap pelanggan memiliki alasan yang berbeda ketika menghubungi penjual.

Ada yang masih membandingkan harga.

Ada pula yang sebenarnya sudah siap membeli, tetapi masih membutuhkan sedikit informasi tambahan.

Oleh karena itu, setelah menjelaskan harga, cobalah mengajukan pertanyaan sederhana seperti:

  • Untuk digunakan sendiri atau hadiah?
  • Sudah pernah menggunakan produk seperti ini sebelumnya?
  • Kira-kira yang dicari ukuran atau kapasitas berapa?
  • Ada kebutuhan khusus yang ingin dipenuhi?

Pertanyaan tersebut membantu penjual memahami kondisi pelanggan sekaligus membuka peluang memberikan rekomendasi yang lebih relevan.

Penyebab Tanya Harga Lalu Hilang yang Sering Tidak Disadari

Selain cara berkomunikasi, terdapat beberapa faktor lain yang membuat calon pembeli berhenti merespons.

  • Informasi Produk Kurang Lengkap

Jika pelanggan masih harus bertanya mengenai spesifikasi, ukuran, manfaat, atau cara penggunaan, kemungkinan mereka akan mencari toko lain yang memberikan informasi lebih jelas.

Lengkapi deskripsi produk sejak awal agar proses komunikasi menjadi lebih efisien.

  • Terlalu Cepat Memaksa Closing

Kalimat seperti:

“Kalau jadi, langsung transfer ya.”

atau

“Hari ini harus checkout.”

sering kali membuat calon pembeli merasa ditekan.

Menurut Salesforce State of the Connected Customer, pelanggan lebih menghargai pengalaman membeli yang nyaman dibanding pendekatan penjualan yang terlalu memaksa.

Sebaliknya, berikan kesempatan kepada pelanggan untuk mempertimbangkan pilihan mereka.

  • Respons Terlalu Lama

Kecepatan membalas pesan juga memengaruhi peluang penjualan.

Dalam dunia digital, pelanggan biasanya menghubungi beberapa penjual sekaligus.

Jika respons terlalu lama, mereka berpotensi membeli dari toko lain yang memberikan jawaban lebih cepat.

Bangun Percakapan, Bukan Interogasi

Mengajak pelanggan berbicara bukan berarti mengajukan terlalu banyak pertanyaan.

Pilih satu atau dua pertanyaan yang benar-benar membantu memahami kebutuhan mereka.

Setelah itu, berikan solusi yang sesuai.

Misalnya:

“Kalau untuk penggunaan sehari-hari, saya lebih menyarankan varian ini karena lebih praktis dan paling banyak dipilih pelanggan.”

Pendekatan tersebut terasa seperti memberikan saran, bukan memaksakan penjualan.

Menurut HubSpot, pelanggan cenderung lebih percaya kepada penjual yang berperan sebagai konsultan dibanding hanya fokus menawarkan produk.

Harga Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Alasan Membeli

Tidak semua pelanggan yang mengalami Tanya Harga Lalu Hilang benar-benar menghilang karena harga terlalu mahal.

Sebagian masih membandingkan pilihan, mencari informasi tambahan, atau sekadar belum yakin terhadap produk yang ditawarkan.

Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa produk tidak menarik hanya karena percakapan berhenti.

Terus perbaiki cara berkomunikasi, lengkapi informasi produk, dan bangun hubungan yang lebih personal dengan calon pembeli.

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$444,4 Miliar, Ini Penjelasan BI

0

Utang Luar Negeri Indonesia kembali mencatat kenaikan pada Mei 2026 seiring meningkatnya pembiayaan dari sektor publik. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030 triliun. Secara tahunan, nilainya tumbuh 2,1 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang berada di level 2,0 persen.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan utang pemerintah dan bank sentral. Di sisi lain, utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi meski penurunannya tidak sedalam bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan struktur pembiayaan eksternal Indonesia masih didominasi sektor publik yang diarahkan untuk mendukung berbagai program pembangunan.

Utang Pemerintah Masih Terkelola dengan Baik

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 3,7 persen secara tahunan, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan pertumbuhan tersebut dipengaruhi masuknya aliran dana melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Langkah itu dinilai mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional, meski pemerintah tetap melakukan pembayaran pinjaman luar negeri yang telah jatuh tempo.

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok maupun bunga utang secara tepat waktu. Pengelolaan Utang Luar Negeri Indonesia juga dilakukan secara hati-hati, terukur, dan fleksibel agar tetap mampu mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dana dari pinjaman luar negeri dimanfaatkan untuk sejumlah sektor prioritas, seperti layanan kesehatan dan kegiatan sosial, administrasi pemerintahan, pendidikan, konstruksi, hingga transportasi dan pergudangan. Sebagian besar utang pemerintah juga masih didominasi pinjaman jangka panjang sehingga dinilai lebih aman terhadap risiko pembiayaan jangka pendek.

Kontraksi Utang Swasta Mulai Melandai

Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$195,9 miliar pada Mei 2026. Secara tahunan, angka tersebut masih mengalami kontraksi 0,1 persen, namun lebih baik dibandingkan penurunan 0,5 persen pada April lalu.

Perbaikan tersebut dipengaruhi menurunnya kontraksi pinjaman kelompok lembaga keuangan. Jika sebelumnya penurunan mencapai 5 persen, kini kontraksinya menjadi 0,8 persen secara tahunan.

Berdasarkan sektor usaha, pinjaman luar negeri swasta masih didominasi industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, penyediaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan. Keempat sektor tersebut menyumbang hampir 80 persen dari total pinjaman swasta.

Bank Indonesia menilai perkembangan Utang Luar Negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat. Struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang, baik pada sektor pemerintah maupun swasta, dinilai mampu menjaga stabilitas eksternal sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan nasional di tengah dinamika ekonomi global. Dengan kondisi tersebut, Utang Luar Negeri Indonesia diyakini tetap berada dalam koridor yang terkendali dan berkelanjutan.

Mana Lebih Untung, Jualin Produk Orang atau Punya Produk & Merek Sendiri?

0

Memulai bisnis tidak selalu harus menciptakan produk dari nol. Banyak pelaku usaha sukses mengawali perjalanan mereka dengan Jualin Produk Orang melalui sistem reseller atau dropship sebelum akhirnya memiliki merek sendiri. Kali ini Berempat melihat pilihan antara memproduksi barang sendiri atau Jualin Produk Orang sering menjadi dilema bagi calon pebisnis. Keduanya memiliki peluang yang sama besar, tetapi membutuhkan modal, strategi, dan tingkat kesiapan yang berbeda.

Perkembangan ekonomi digital membuat kedua model bisnis tersebut semakin mudah dijalankan. Menurut laporan Google, Temasek, dan Bain & Company dalam e-Conomy SEA 2024, Indonesia masih menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan transaksi e-commerce yang terus meningkat. Artinya, baik produsen maupun reseller memiliki kesempatan untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas melalui platform digital.

Namun, sebelum menentukan pilihan, penting untuk memahami kelebihan dan tantangan dari masing-masing model bisnis agar keputusan yang diambil sesuai dengan kondisi dan tujuan usaha.

Jualin Produk Orang Cocok untuk yang Ingin Memulai Cepat

Model reseller maupun dropship menjadi pilihan banyak pemula karena prosesnya relatif sederhana.

Pelaku usaha tidak perlu memikirkan proses produksi, membeli mesin, atau mengembangkan formula produk. Fokus utama hanya pada pemasaran dan pelayanan pelanggan.

Modal awal yang dibutuhkan juga cenderung lebih kecil dibanding memproduksi barang sendiri.

Bahkan pada sistem dropship, pelaku usaha tidak harus menyimpan stok karena pengiriman dilakukan langsung oleh pemasok.

Kelebihan Menjadi Reseller atau Dropshipper

  • Modal awal relatif rendah.
  • Risiko kerugian akibat stok menumpuk lebih kecil, terutama pada sistem dropship.
  • Bisa langsung mulai berjualan tanpa menunggu proses produksi.
  • Cocok untuk belajar memahami pasar dan perilaku konsumen.

Kekurangannya

Di sisi lain, Jualin Produk Orang juga memiliki beberapa tantangan.

Karena banyak penjual menawarkan produk yang sama, persaingan harga sering kali cukup ketat.

Selain itu, pelaku usaha memiliki kontrol yang terbatas terhadap kualitas produk, ketersediaan stok, maupun kecepatan pengiriman.

Jika pemasok mengalami kendala, reputasi penjual juga dapat ikut terdampak meskipun bukan penyebab utamanya.

Produksi Sendiri Memberikan Kendali yang Lebih Besar

Berbeda dengan reseller, memproduksi barang sendiri memberikan keleluasaan dalam membangun identitas merek.

Pelaku usaha dapat menentukan kualitas bahan, desain kemasan, hingga strategi penetapan harga sesuai target pasar.

Produk yang unik juga lebih sulit ditiru sehingga memiliki peluang membangun loyalitas pelanggan yang lebih tinggi.

Menurut laporan Statista, konsumen semakin menghargai produk yang memiliki identitas merek yang kuat dan menawarkan nilai berbeda dibanding produk serupa di pasar.

Keunggulan Produksi Sendiri

  • Memiliki kontrol penuh terhadap kualitas produk.
  • Margin keuntungan berpotensi lebih tinggi.
  • Lebih mudah membangun branding jangka panjang.
  • Produk dapat dikembangkan sesuai masukan pelanggan.

Tantangannya

Namun, memproduksi sendiri juga membutuhkan kesiapan yang lebih besar.

Pelaku usaha harus memikirkan bahan baku, proses produksi, pengendalian kualitas, pengemasan, hingga distribusi.

Modal awal biasanya juga lebih tinggi karena diperlukan investasi untuk peralatan, bahan, maupun pengembangan produk.

Jika permintaan belum stabil, risiko stok tidak terjual juga perlu diperhitungkan.

Mana yang Lebih Cocok Antara Jualin Produk Orang atau Punya Produk & Merek Sendiri?

Jawabannya bergantung pada kondisi masing-masing calon pelaku usaha.

Jika baru pertama kali terjun ke dunia bisnis, memiliki modal terbatas, atau ingin memahami pasar terlebih dahulu, Jualin Produk Orang dapat menjadi langkah awal yang lebih aman.

Model ini memberikan kesempatan belajar mengenai pemasaran digital, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan transaksi tanpa harus memikirkan proses produksi.

Sebaliknya, jika sudah memiliki pengalaman, memahami kebutuhan pasar, dan ingin membangun merek sendiri dalam jangka panjang, memproduksi produk sendiri bisa menjadi pilihan yang lebih strategis.

Menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM), banyak bisnis yang berkembang secara bertahap, dimulai dari aktivitas perdagangan sebelum akhirnya mengembangkan produk dengan merek sendiri. Pendekatan ini membantu pelaku usaha mengurangi risiko sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pelanggan.

Tidak Ada Pilihan yang Paling Benar

Sering kali, perdebatan mengenai memproduksi sendiri atau Jualin Produk Orang berakhir pada satu kesimpulan: tidak ada model bisnis yang paling unggul untuk semua orang.

Yang terpenting adalah menyesuaikan pilihan dengan modal, waktu, pengalaman, serta tujuan jangka panjang.

Bahkan, banyak pengusaha yang memulai sebagai reseller untuk membangun jaringan pelanggan terlebih dahulu, kemudian menggunakan pengalaman tersebut sebagai bekal ketika meluncurkan produk sendiri.