Senin, Agustus 31, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 27

Targetkan Rupiah Kembali Normal, Purbaya Optimistis Tembus Rp15.000 per Dolar AS

0

Pemerintah mulai menunjukkan optimisme tinggi untuk Targetkan Rupiah Kembali Normal setelah nilai tukar sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi agar rupiah bisa kembali bergerak ke kisaran Rp15.000 per dolar AS dalam beberapa waktu mendatang.

Purbaya menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor global dan sentimen pasar keuangan internasional. Meski begitu, ia memastikan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang aman dan terkendali.

Dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Purbaya bahkan meminta pelaku pasar yang menyimpan valuta asing untuk mulai melepas kepemilikannya. Ia yakin langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar akan membawa dampak positif terhadap penguatan mata uang domestik.

“Kami optimistis rupiah bisa kembali menguat. Supply dolar ke dalam negeri akan bertambah signifikan mulai Juni,” ujar Purbaya.

Upaya Targetkan Rupiah Kembali Normal dilakukan pemerintah melalui berbagai instrumen, salah satunya kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam yang mulai diwajibkan tersimpan di bank BUMN pada Juni 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pasokan dolar di pasar domestik sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang.

Selain itu, pemerintah juga aktif melakukan intervensi di pasar obligasi negara guna menjaga imbal hasil atau yield surat utang tetap stabil. Langkah ini dilakukan agar investor asing tidak terburu-buru keluar dari pasar keuangan Indonesia akibat tekanan pasar global.

Menurut Purbaya, intervensi tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Meski rupiah sempat melemah, yield obligasi pemerintah justru bergerak turun dalam sepekan terakhir setelah pemerintah masuk membeli surat utang di pasar sekunder.

BI dan Pemerintah Kompak Jaga Stabilitas Rupiah

Langkah Targetkan Rupiah Kembali Normal juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan nilai tukar rupiah akan mulai menguat secara bertahap pada Juli hingga Agustus 2026.

Perry menjelaskan pelemahan rupiah pada April hingga Juni sebenarnya merupakan pola musiman yang kerap terjadi setiap tahun. Karena itu, BI meyakini tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung permanen.

Bank Indonesia juga telah mengambil langkah penyesuaian suku bunga acuan menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi nasional.

Pemerintah dan BI kini terus memperkuat koordinasi agar target stabilisasi nilai tukar bisa tercapai. Strategi Targetkan Rupiah Kembali Normal dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan aktivitas ekonomi nasional tetap bergerak stabil di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Dengan tambahan pasokan devisa dan intervensi pasar yang lebih agresif, pemerintah berharap rupiah bisa kembali bergerak lebih sehat dalam beberapa bulan mendatang.

BI Catat Uang Beredar April 2026 Capai Rp10.253 Triliun

0

Pertumbuhan Uang Beredar di Indonesia masih menunjukkan tren positif pada April 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian dalam arti luas atau M2 mencapai Rp10.253,7 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menandakan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak cukup kuat di tengah berbagai tantangan global yang terus membayangi pasar keuangan internasional. Meski sedikit melambat dibanding Maret 2026 yang tumbuh 9,7 persen, angka tersebut dinilai tetap mencerminkan stabilitas likuiditas nasional.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pertumbuhan Uang Beredar didorong oleh peningkatan uang beredar sempit atau M1 yang tumbuh 13,6 persen secara tahunan serta uang kuasi sebesar 4,7 persen.

Menurut BI, perkembangan likuiditas nasional juga dipengaruhi oleh pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit perbankan yang terus meningkat. Tagihan bersih kepada pemerintah tercatat tumbuh 38,6 persen secara tahunan, meski sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya.

Sementara itu, penyaluran kredit pada April 2026 tumbuh 9,4 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Maret yang berada di level 8,9 persen. Peningkatan penyaluran kredit tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan Uang Beredar di dalam negeri.

BI menjelaskan kredit yang dimaksud hanya mencakup pinjaman langsung atau loans dan tidak memasukkan instrumen lain seperti surat berharga, tagihan repo, maupun kredit dari kantor cabang bank di luar negeri.

Pertumbuhan Uang Beredar Didukung Likuiditas Perbankan

Selain M2, Bank Indonesia juga mencatat perkembangan Uang Primer atau M0 adjusted yang tetap tumbuh tinggi. Pada April 2026, M0 adjusted tercatat mencapai Rp2.232,2 triliun atau naik 14,3 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia yang tumbuh 21,6 persen serta peningkatan uang kartal yang beredar sebesar 14,6 persen. Kondisi ini menunjukkan likuiditas sektor perbankan masih berada dalam kondisi memadai untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.

BI menilai pertumbuhan Uang Beredar saat ini juga dipengaruhi oleh kebijakan insentif likuiditas yang diterapkan dalam pengendalian moneter. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, stabilitas Uang Beredar menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga daya tahan ekonomi Indonesia. Likuiditas yang terjaga diyakini mampu menopang konsumsi masyarakat, aktivitas usaha, hingga penyaluran kredit perbankan dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan pertumbuhan yang masih positif, BI optimistis kondisi likuiditas nasional tetap mampu mendukung momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

OJK Khawatir FOMO di Investasi Syariah Picu Perilaku Spekulatif Investor Pemula

0

Fenomena FOMO di Investasi Syariah mulai mendapat perhatian serius dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pasar modal berbasis syariah. Lonjakan jumlah investor, khususnya dari kalangan muda dan investor ritel muslim, dinilai menjadi sinyal positif, namun di sisi lain juga memunculkan potensi perilaku spekulatif yang berisiko.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Henry Rialdi, mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tren yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial maupun komunitas digital.

Menurut Henry, fenomena FOMO di Investasi Syariah dapat mendorong investor membeli instrumen tertentu tanpa memahami risiko yang sebenarnya. Kondisi tersebut berpotensi memicu terbentuknya gelembung aset atau bubble jika tidak diimbangi dengan edukasi dan pemahaman yang cukup.

“Fenomena fear of missing out atau rasa takut tertinggal perlu menjadi perhatian bersama, terutama ketika keputusan investasi dilakukan hanya karena ikut tren,” ujar Henry dalam acara Elevate: IFN Indonesia Forum dan Sharia Investment Week 2026 di Jakarta.

Ia menilai pertumbuhan pasar modal syariah memang menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, OJK tidak ingin pertumbuhan tersebut justru menciptakan mentalitas kawanan di kalangan investor muda yang cenderung mudah terpancing pergerakan pasar.

Investor Muda Dominasi Pasar Modal Syariah

OJK mencatat jumlah investor pemilik efek syariah terus mengalami peningkatan signifikan hingga awal 2026. Per Maret 2026, jumlah investor sekuritas syariah sudah melampaui empat juta investor atau tumbuh sekitar 35,25 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut sebagian besar berasal dari investor ritel dan generasi muda yang mulai aktif memanfaatkan platform digital untuk berinvestasi. Selain itu, pengguna sistem perdagangan online syariah juga meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tengah pertumbuhan itu, fenomena FOMO di Investasi Syariah dinilai semakin mudah muncul karena akses informasi yang sangat cepat di media sosial. Banyak investor pemula tergoda membeli saham atau instrumen tertentu hanya karena melihat tren kenaikan harga tanpa memahami fundamental perusahaan.

Henry menegaskan investasi syariah seharusnya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pemahaman risiko. OJK juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan agar investor tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek.

OJK Dorong Edukasi agar Investor Tidak Spekulatif

OJK menilai edukasi menjadi kunci penting untuk menekan dampak negatif FOMO di Investasi Syariah. Regulator ingin memastikan pertumbuhan pasar modal syariah berjalan sehat dan berkelanjutan tanpa dipenuhi praktik spekulasi berlebihan.

Menurut Henry, tingginya antusiasme masyarakat terhadap investasi syariah sebenarnya menjadi peluang besar bagi penguatan industri keuangan nasional. Namun, investor tetap harus memahami profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

OJK juga mengingatkan bahwa investasi yang sehat tidak hanya mengikuti momentum pasar, tetapi harus didasarkan pada analisis yang matang dan tujuan keuangan jangka panjang. Dengan demikian, pertumbuhan pasar modal syariah dapat terus berkembang tanpa memunculkan risiko ketidakstabilan di masa depan.

Gojek Ubah Skema Bagi Hasil, Pendapatan Driver Ojol Bakal Lebih Besar!

0

Perubahan Skema Bagi Hasil Gojek mulai menjadi sorotan setelah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk memastikan akan mengikuti aturan terbaru pemerintah terkait pembagian pendapatan bagi mitra pengemudi ojek online. Kebijakan tersebut membuat porsi pendapatan driver menjadi lebih besar dibanding sebelumnya dan dinilai sebagai langkah penting dalam memperbaiki kesejahteraan pekerja transportasi daring.

Dalam skema baru itu, pengemudi akan menerima 92 persen dari tarif perjalanan, sedangkan perusahaan aplikator hanya mengambil potongan sebesar 8 persen. Kebijakan Skema Bagi Hasil Gojek ini diterapkan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.

Presiden Unit Bisnis On-Demand Services GoTo, Hans Patuwo, mengatakan perusahaan siap menjalankan kebijakan tersebut meski berdampak langsung terhadap pendapatan layanan transportasi online milik Gojek.

Menurut Hans, perubahan pembagian pendapatan ini memang akan mengurangi pemasukan perusahaan dari layanan GoRide. Namun, pihaknya memandang langkah tersebut sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan ekosistem transportasi online yang lebih sehat.

“Kami berkomitmen untuk menyesuaikan skema pembagian pendapatan di mana 92 persen tarif perjalanan menjadi hak pengemudi,” ujar Hans dalam konferensi pers di Jakarta.

Skema Bagi Hasil Gojek Dinilai Untungkan Driver

Perubahan Skema Bagi Hasil Gojek mendapat perhatian luas karena selama ini potongan aplikator sering menjadi keluhan para pengemudi ojek online. Banyak driver menilai biaya potongan yang besar membuat pendapatan harian mereka semakin tertekan, terutama di tengah kenaikan biaya operasional.

Dengan aturan baru tersebut, para pengemudi diharapkan bisa memperoleh penghasilan yang lebih layak dari setiap perjalanan yang dilakukan. Pemerintah juga menilai kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan pekerja di sektor ekonomi digital.

Hans menegaskan, meski pendapatan perusahaan berpotensi turun, Gojek tetap memilih mengikuti aturan pemerintah demi menciptakan hubungan yang lebih seimbang antara aplikator dan mitra pengemudi.

Menurutnya, keberlangsungan bisnis transportasi online tidak hanya bergantung pada pertumbuhan perusahaan, tetapi juga kesejahteraan para driver yang menjadi bagian penting dalam layanan tersebut.

Pemerintah Targetkan Aturan Berlaku Juni 2026

Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan sebelumnya menyampaikan target penerapan aturan potongan maksimal 8 persen bisa mulai dijalankan pada Juni 2026. Pemerintah saat ini masih mematangkan sejumlah aturan teknis agar implementasinya berjalan lancar di lapangan.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan regulasi ini dibuat untuk menciptakan sistem kerja yang lebih adil bagi pengemudi transportasi online. Pemerintah juga ingin memastikan ekosistem digital tetap tumbuh tanpa mengabaikan hak para pekerja.

Kebijakan Skema Bagi Hasil Gojek diperkirakan akan menjadi momentum baru dalam industri transportasi online nasional. Selain meningkatkan pendapatan driver, aturan tersebut juga diharapkan mampu menciptakan hubungan kerja yang lebih sehat antara aplikator dan mitra pengemudi.

Meski masih menunggu implementasi penuh, perubahan Skema Bagi Hasil Gojek sudah mulai disambut positif oleh banyak pengemudi yang berharap kesejahteraan mereka dapat meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Contoh Usaha Kreatif yang Membuat Barang Biasa Jadi Punya Nilai Lebih!

0

Banyak orang mengira bisnis harus punya produk yang benar-benar baru supaya bisa menarik perhatian pasar. Padahal sekarang, banyak contoh usaha kreatif justru lahir dari produk yang sebenarnya sangat biasa. Bedanya bukan di barangnya, tapi di cara menjual, cara membangun cerita, dan cara membuat pelanggan merasa tertarik.

Fenomena ini akan makin sering dibahas di Berempat.com karena pola bisnis modern memang mulai berubah. Produk sederhana seperti kopi, roti, ayam geprek, sampai lilin aromaterapi sekarang bisa terlihat “mahal” atau unik hanya karena konsep penjualannya berbeda.

Di era digital, konsumen bukan cuma membeli barang. Mereka juga membeli pengalaman, visual, cerita, bahkan identitas brand. Karena itu, memahami contoh usaha kreatif jadi penting untuk pelaku usaha kecil yang ingin bersaing tanpa harus menciptakan produk yang rumit.

Menurut data dari Nielsen, lebih dari 60% konsumen modern tertarik mencoba produk karena branding dan pengalaman visual yang menarik, bukan semata karena fungsi produknya.

Itulah kenapa sekarang banyak bisnis sederhana bisa viral hanya karena punya konsep yang unik.

Produk Biasa Bisa Terlihat Menarik Kalau Cara Jualnya Tepat

Kalau diperhatikan, banyak bisnis viral sebenarnya menjual barang yang tidak baru.

Contohnya cukup banyak:

  • Kopi susu dengan nama menu yang nyeleneh
  • Tahu crispy dengan kemasan estetik
  • Air mineral dengan branding premium
  • Dessert box dengan konsep lucu untuk hadiah
  • Rice bowl sederhana tapi punya storytelling kuat di media sosial

Produk-produk ini bukan sesuatu yang revolusioner. Tapi mereka berhasil membuat pelanggan merasa tertarik lewat pengalaman dan konsep.

Menurut laporan dari HubSpot, konsumen digital sekarang lebih mudah tertarik pada brand yang punya identitas kuat dan terasa relatable dibanding brand yang hanya fokus menjual produk.

Karena itu, banyak contoh usaha kreatif sekarang justru bermain di sisi branding dan komunikasi.

Contoh Usaha Sederhana dengan Konsep yang Unik dan Kreatif

Ada banyak model usaha sederhana yang berkembang pesat karena cara jualnya berbeda dari kompetitor.

1. Laundry dengan Sistem Subscription

Biasanya laundry hanya jual jasa cuci biasa. Tapi beberapa bisnis mulai menawarkan paket bulanan seperti layanan streaming.

Konsep ini membuat pelanggan merasa lebih praktis dan bisnis punya pemasukan lebih stabil.

2. Warung Kopi dengan Konsep Personal Branding

Sekarang banyak coffee shop kecil berkembang bukan karena tempatnya mewah, tapi karena pemiliknya aktif membuat konten dan membangun hubungan dengan pelanggan.

3. Toko Tanaman dengan Konten Edukasi

Produk tanaman sebenarnya sudah lama ada. Tapi ketika dikombinasikan dengan video edukasi dan tips dekorasi rumah, pasar jadi jauh lebih luas.

4. Jual Sambal dengan Storytelling

Ada brand sambal lokal yang sukses karena membangun cerita unik tentang level pedas, karakter produk, sampai desain kemasan yang lucu.

5. Thrift Shop dengan Live Shopping

Baju bekas bukan hal baru. Tapi konsep live shopping di TikTok membuat pengalaman belanja jadi lebih interaktif dan menarik.

Seperti yang sering dibahas di Berempat, banyak bisnis kecil sekarang justru menang karena kreativitas komunikasi, bukan karena modal paling besar.

Di Era Digital, Konsep Kadang Lebih Penting dari Produk

Sekarang persaingan produk makin padat. Hampir semua barang punya kompetitor.

Karena itu, bisnis yang menonjol biasanya bukan yang produknya paling berbeda, tapi yang punya cara penyampaian paling menarik.

Menurut data dari Statista, pertumbuhan social commerce terus meningkat karena konsumen semakin tertarik pada pengalaman belanja yang interaktif dan personal.

Artinya, cara produk dipresentasikan sekarang punya pengaruh besar terhadap keputusan pembelian.

Ini juga yang membuat banyak contoh usaha kreatif bisa berkembang cepat walaupun produknya sederhana.

Kreativitas Tidak Selalu Soal Produk Baru

Banyak orang terlalu sibuk mencari ide bisnis yang belum pernah ada. Padahal kadang, yang dibutuhkan pasar bukan produk baru, tapi pengalaman baru.

Di sinilah kreativitas bisnis sebenarnya bekerja. Bukan selalu menciptakan sesuatu dari nol, tapi mengubah hal biasa jadi terasa lebih menarik dan relevan.

Karena di era digital seperti sekarang, produk sederhana pun bisa punya nilai besar kalau dikemas dengan konsep yang tepat, cerita yang kuat, dan cara jual yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumen modern.

BI Pastikan Kredit Perbankan Tetap Stabil Meski Pasar Global Bergejolak

0

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah, Bank Indonesia (BI) menilai sektor kredit perbankan akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026. Peran pembiayaan dari sektor perbankan dinilai semakin penting untuk menjaga aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat tetap bergerak di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan penguatan penyaluran kredit perbankan harus terus dilakukan agar momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga. Menurutnya, kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat sektor keuangan nasional perlu bekerja lebih agresif namun tetap hati-hati dalam menjaga stabilitas.

Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Mei 2026, Perry menyebut pertumbuhan kredit pada April 2026 menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit tercatat tumbuh 9,98 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 9,49 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pembiayaan di sejumlah sektor utama. Kredit investasi menjadi penyumbang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 19,48 persen. Sementara kredit modal kerja tumbuh 6,04 persen dan kredit konsumsi meningkat sebesar 6,13 persen.

Bank Indonesia memandang capaian tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat meski tekanan global terus meningkat. Kinerja kredit perbankan yang tetap tumbuh juga menunjukkan dunia usaha masih memiliki optimisme untuk melakukan ekspansi bisnis.

Likuiditas Perbankan Dinilai Masih Sangat Kuat

Selain pertumbuhan kredit yang positif, BI juga melihat kondisi likuiditas perbankan nasional masih berada dalam posisi aman. Hal ini tercermin dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan yang mencapai Rp2.551,42 triliun.

Nilai tersebut setara dengan 22,57 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Kondisi itu memberi ruang cukup besar bagi bank untuk terus memperluas penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi.

Tak hanya itu, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga tercatat berada di level 25,39 persen pada April 2026. Dana pihak ketiga (DPK) pun masih tumbuh tinggi sebesar 11,39 persen secara tahunan.

Bank Indonesia optimistis pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 masih dapat bergerak di kisaran 8 hingga 12 persen. Target tersebut diyakini realistis mengingat kondisi likuiditas dan kapasitas pembiayaan bank masih sangat memadai.

Di sisi lain, BI juga menilai efisiensi suku bunga perbankan masih dapat terus diperbaiki. Pada April 2026, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73 persen, sementara bunga deposito satu bulan berada di level 4,16 persen.

Menurut Perry, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung penyaluran pembiayaan. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) serta Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Risiko Geopolitik Diwaspadai, Perbankan Tetap Stabil

Meski konflik di Timur Tengah masih menjadi ancaman bagi ekonomi global, BI memastikan kondisi perbankan nasional tetap berada dalam kategori sehat dan stabil. Ketahanan sektor keuangan disebut masih sangat kuat dalam menghadapi berbagai risiko eksternal.

Hal ini terlihat dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan yang mencapai 25,09 persen pada Maret 2026. Angka tersebut dinilai cukup tinggi untuk menyerap potensi risiko yang muncul akibat gejolak global.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) juga tetap terkendali. Secara agregat, NPL bruto tercatat sebesar 2,14 persen dan NPL neto berada di level 0,83 persen.

Perry menjelaskan hasil stress test yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan sektor perbankan nasional masih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan, termasuk dampak lanjutan konflik Timur Tengah.

Menurutnya, kemampuan bayar korporasi yang masih terjaga serta profitabilitas dunia usaha yang relatif stabil menjadi faktor penting yang mendukung ketahanan sektor keuangan nasional saat ini.

Karena itu, koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus diperkuat agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga sekaligus menjaga pertumbuhan kredit perbankan tetap berada di jalur positif sepanjang tahun ini.

Industri Kosmetik Indonesia Kian Dilirik, Peluang Pasar Global Semakin Terbuka

Pertumbuhan Industri Kosmetik nasional terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan jumlah pelaku usaha hingga peningkatan nilai ekspor menjadi sinyal bahwa sektor ini semakin berkembang dan memiliki peluang besar di pasar domestik maupun internasional. Pemerintah pun mulai memperkuat berbagai strategi untuk memperluas rantai pasok lokal sekaligus meningkatkan daya saing pelaku industri, khususnya sektor industri kecil dan menengah (IKM).

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) bersama Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) terus mendorong penguatan ekosistem usaha kosmetik nasional. Fokus utama yang kini dikembangkan adalah membangun kemitraan yang lebih luas antara pelaku IKM, industri besar, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jumlah pelaku usaha di sektor kosmetik mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada 2024, tercatat sekitar 1.292 industri kosmetik beroperasi di Indonesia. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari 1.500 industri pada akhir 2025.

Menariknya, sekitar 90 persen dari keseluruhan pelaku usaha tersebut berasal dari sektor IKM. Kondisi ini menunjukkan bahwa Industri Kosmetik dalam negeri tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga ditopang oleh pertumbuhan usaha skala kecil dan menengah yang semakin aktif mengembangkan produk lokal.

Selain pertumbuhan jumlah industri, performa ekspor sektor kosmetik juga mengalami peningkatan. Nilai ekspor tercatat naik dari USD417 juta pada 2024 menjadi sekitar USD473,8 juta pada 2025. Angka tersebut menjadi indikator bahwa produk kosmetik buatan Indonesia mulai mendapat perhatian lebih luas di pasar global.

Pemerintah Dorong Kemitraan dan Rantai Pasok Lokal

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sektor kosmetik memiliki prospek yang sangat menjanjikan karena didukung permintaan pasar yang terus meningkat. Menurutnya, pertumbuhan jumlah pelaku usaha harus diimbangi dengan penguatan kualitas produk, inovasi, dan pengembangan ekosistem industri yang lebih solid.

Ia menilai, penguatan Industri Kosmetik nasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga masyarakat agar tercipta ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Agus juga menyoroti masih adanya sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku IKM kosmetik, mulai dari keterbatasan bahan baku, distribusi, hingga akses pasar. Karena itu, pendekatan kolaboratif dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing industri nasional.

Menurut dia, kemitraan antara pelaku IKM dengan industri besar dapat membuka peluang yang lebih luas, termasuk dalam pengadaan bahan baku, sistem maklon, pemasaran, hingga integrasi ke dalam rantai pasok perusahaan besar.

“Dengan adanya kemitraan, pelaku usaha kecil dapat berkembang lebih cepat dan menjadi bagian penting dari ekosistem industri yang saling mendukung,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menambahkan, pengembangan IKM kosmetik dilakukan melalui sinergi multipihak. Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah daerah, BPOM, perguruan tinggi, asosiasi industri, platform lokapasar, hingga sektor ritel modern.

Temu Bisnis Jadi Ajang Perluas Peluang Usaha

Sebagai langkah konkret dalam memperkuat Industri Kosmetik, Ditjen IKMA menggelar Pre-Event Temu Bisnis bertema Local Supply Chain for Cosmetic Industry pada 6 hingga 8 Mei 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pameran Indonesia Cosmetics Ingredients (ICI) 2026 yang diinisiasi Perkosmi. Dalam agenda itu, pemerintah memfasilitasi booth khusus bagi pelaku IKM kosmetik untuk bertemu langsung dengan calon mitra bisnis dan investor.

Reni menjelaskan, kegiatan pre-event tersebut merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan temu bisnis utama yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Melalui forum itu, pelaku usaha diharapkan dapat memperluas jaringan bisnis sekaligus membuka peluang kerja sama baru.

Menurutnya, keberadaan forum bisnis seperti ini sangat penting untuk memperkuat konektivitas antarpelaku usaha dalam negeri. Selain meningkatkan transaksi dan investasi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat rantai pasok lokal di sektor kosmetik.

Dari Coffee Shop sampai Minimarket, Peluang Titip Jual Produk kini Makin Luas!

0

Banyak orang ingin mulai usaha, tapi langsung mundur karena merasa harus punya toko sendiri dulu. Padahal sekarang ada banyak cara jualan tanpa harus sewa tempat mahal. Salah satunya lewat sistem titip jual produk atau yang sering disebut “numpang rak” di toko orang lain.

Model bisnis seperti ini makin populer, terutama di kalangan UMKM makanan, minuman, fashion, sampai produk handmade. Karena dengan sistem titip jual produk, pelaku usaha bisa mulai menjual barang tanpa harus keluar biaya besar untuk membuka toko fisik sendiri.

Menariknya, konsep ini sebenarnya sudah lama dipakai di dunia retail. Bedanya, sekarang peluangnya makin luas karena banyak coffee shop, minimarket lokal, toko oleh-oleh, sampai supermarket kecil mulai membuka ruang untuk produk UMKM.

Menurut data dari Kemenkop UKM Republik Indonesia (Sekarang Kementerian UMKM), jumlah UMKM di Indonesia sudah mencapai lebih dari 65 juta unit usaha. Persaingan makin besar, jadi banyak pelaku usaha mulai mencari cara distribusi yang lebih hemat dan fleksibel.

Karena itu, sistem titip jual produk mulai dianggap sebagai solusi realistis untuk bisnis yang ingin berkembang tanpa langsung terbebani biaya operasional besar.

Bisnis Bisa Jalan Tanpa Harus Punya Toko Sendiri

Dulu banyak orang menganggap toko fisik adalah simbol bisnis yang “serius”. Padahal sekarang pola belanja masyarakat sudah berubah.

Orang lebih fokus pada produk yang menarik dan mudah ditemukan, bukan sekadar siapa pemilik tokonya.

Makanya, banyak brand kecil sekarang memilih masuk ke toko yang sudah punya pelanggan tetap dibanding memaksakan buka tempat sendiri.

Contohnya cukup banyak:

  • Frozen food lokal dititip di minimarket sekitar perumahan
  • Dessert box masuk ke coffee shop
  • Produk fashion lokal dijual di concept store
  • Snack UMKM masuk toko oleh-oleh
  • Produk handmade dipajang di gift shop atau toko dekorasi

Model seperti ini membuat pelaku usaha bisa fokus ke produksi dan kualitas barang tanpa terlalu pusing memikirkan biaya sewa tempat.

Bahkan menurut laporan dari Statista, biaya operasional retail fisik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk sewa lokasi dan tenaga kerja.

Karena itu, banyak bisnis kecil mulai mencari model distribusi yang lebih ringan.

Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Titip Jual Produk

Walaupun terlihat sederhana, sistem ini tetap perlu perhitungan yang jelas. Karena kalau asal menitip barang tanpa strategi, produk justru bisa tidak bergerak.

Beberapa hal yang biasanya penting diperhatikan antara lain:

  1. Pilih toko yang target pasarnya sesuai dengan produk
  2. Pastikan sistem pembayaran dan pembagian keuntungan jelas
  3. Cek posisi display produk di rak
  4. Hitung margin keuntungan setelah dipotong fee toko
  5. Pastikan stok selalu terpantau
  6. Buat kemasan yang menarik dan mudah dilihat

Ini penting karena dalam sistem titip jual produk, persaingan di rak cukup ketat. Produk harus bisa menarik perhatian pelanggan dalam waktu singkat.

Seperti yang sering dibahas di Berempat, banyak bisnis kecil sebenarnya punya produk bagus, tapi kalah karena distribusi dan strategi display yang kurang diperhatikan.

Sistem Konsinyasi Bisa Jadi Jalan Awal untuk Bisnis Bertumbuh

Banyak brand besar sebenarnya juga memulai distribusi dari skala kecil. Mereka masuk ke toko-toko lokal dulu sebelum akhirnya punya outlet sendiri.

Sistem konsinyasi atau titip jual membantu bisnis memahami pasar tanpa risiko terlalu besar.
Kalau produk ternyata kurang diminati, kerugian masih lebih kecil dibanding langsung buka toko fisik sendiri.

Sebaliknya, kalau penjualan bagus, bisnis bisa memperluas distribusi ke lebih banyak lokasi.
Menurut data dari OECD, fleksibilitas distribusi menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan UMKM modern, terutama di tengah perubahan perilaku konsumen.

Karena sekarang, bisnis bukan cuma soal punya tempat jualan sendiri, tapi soal bagaimana produk bisa lebih mudah ditemukan pelanggan.

Kenaikan Harga Pangan Jelang Idul Adha Mulai Terasa, Cabai Rawit Tembus Rp82 Ribu

Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, isu Kenaikan harga pangan kembali menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah komoditas pokok di pasar tradisional tercatat mengalami lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut dirasakan langsung para pedagang maupun konsumen yang mulai meningkatkan aktivitas belanja menjelang hari besar keagamaan.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah mulai terlihat sejak dua minggu sebelum Idul Adha. Beberapa bahan pangan seperti cabai rawit merah, bawang, hingga daging sapi mengalami pergerakan harga yang cukup signifikan di berbagai wilayah.

Sekretaris Jenderal IKAPPI Reynaldi Sarijowan menjelaskan, cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas dengan lonjakan paling tinggi. Di sejumlah pasar tradisional, harga cabai rawit merah bahkan sempat menembus angka Rp82 ribu per kilogram.

Selain cabai, harga cabai merah besar juga bergerak naik di kisaran Rp61 ribu per kilogram, sementara cabai merah keriting berada di angka Rp57 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat Kenaikan harga pangan semakin dirasakan masyarakat, terutama pelaku usaha kuliner dan rumah tangga.

Tak hanya komoditas hortikultura, harga bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan. Bawang merah tercatat berada di kisaran Rp56 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih mencapai Rp43 ribu per kilogram.

Harga Cabai dan Daging Jadi Sorotan Pasar

Di sektor protein hewani, harga daging sapi sempat menyentuh Rp150 ribu per kilogram. Sementara ayam ras dijual sekitar Rp45 ribu per kilogram dan telur ayam masih bertahan di level Rp28 ribu per kilogram.

Fenomena Kenaikan harga pangan juga terjadi pada minyak goreng curah maupun Minyakita. Di wilayah Jabodetabek, harga Minyakita disebut berada di kisaran Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Sedangkan minyak goreng curah tercatat menembus Rp21.200 per liter.

Meski demikian, beberapa komoditas seperti beras masih relatif stabil dibandingkan bahan pangan lainnya. Stabilitas harga beras sedikit membantu menahan tekanan pengeluaran rumah tangga di tengah kenaikan kebutuhan menjelang Idul Adha.

Sementara itu, data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia juga menunjukkan tren serupa. Berdasarkan pemantauan terbaru, harga cabai rawit merah secara nasional masih berada di level tinggi, yakni sekitar Rp72.500 per kilogram.

Harga telur ayam ras di tingkat pedagang eceran nasional juga masih cukup tinggi di angka Rp30.300 per kilogram. Adapun bawang merah tercatat dijual Rp47.350 per kilogram dan bawang putih berada di kisaran Rp37.900 per kilogram.

Pemerintah Pantau Stabilitas Pasokan Pangan

Kondisi tersebut membuat Kenaikan harga pangan menjadi salah satu isu utama yang terus dipantau pemerintah. Fluktuasi harga bahan pokok dinilai dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat, terutama ketika kebutuhan konsumsi meningkat menjelang hari raya.

Pengamat pasar menilai tingginya harga cabai rawit merah dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari cuaca yang kurang mendukung, gangguan distribusi, hingga terbatasnya pasokan dari sentra produksi. Komoditas hortikultura memang dikenal memiliki pergerakan harga yang cepat berubah tergantung kondisi lapangan.

Di sisi lain, pemerintah bersama Bank Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap distribusi pangan nasional agar pasokan tetap terjaga. Langkah stabilisasi diharapkan mampu menekan lonjakan harga yang lebih tinggi menjelang puncak kebutuhan Idul Adha.

Pedagang pasar berharap kondisi harga segera kembali normal agar aktivitas jual beli tidak terganggu. Sebab, ketika harga terlalu tinggi, daya beli masyarakat biasanya ikut melemah dan berdampak pada omzet penjualan di pasar tradisional.

Berapa Gaji Pensiunan PNS Golongan I hingga IV? Ini Penjelasan Lengkapnya!

0
Perbincangan mengenai Berapa Gaji Pensiunan PNS kembali ramai menjelang akhir Mei 2026. Banyak pensiunan maupun keluarga aparatur sipil negara mulai mencari informasi terbaru terkait nominal pensiun yang diterima setiap bulan, termasuk tunjangan tambahan dan mekanisme pencairannya. Pemerintah sendiri memastikan tidak ada perubahan besaran pembayaran pensiun tahun ini karena masih mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2024.

Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa nominal pensiun ditentukan berdasarkan golongan dan jabatan terakhir sebelum pegawai memasuki masa purnatugas. Karena itu, pembahasan soal Berapa Gaji Pensiunan PNS bisa berbeda antara satu penerima dengan penerima lainnya.

Pemerintah menegaskan bahwa hak pensiun tetap diberikan sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian ASN selama bertugas. Skema tersebut juga menjadi bagian dari jaminan kesejahteraan bagi para pensiunan agar tetap memiliki penghasilan rutin setelah tidak lagi aktif bekerja.

Besaran pensiun paling rendah berada pada golongan I atau kategori juru. Untuk kelompok ini, nominal pensiun berkisar mulai Rp1,7 juta hingga lebih dari Rp2,2 juta per bulan. Sementara golongan II menerima pensiun dengan rentang hingga Rp3,2 juta.

Adapun golongan III yang umumnya ditempati kalangan penata memperoleh pensiun maksimal sekitar Rp4 juta. Nilai tertinggi berada di golongan IV atau pembina yang mencapai lebih dari Rp4,9 juta setiap bulan.

Rincian Gaji dan Tunjangan Pensiunan PNS

Informasi mengenai Berapa Gaji Pensiunan PNS juga tidak bisa dilepaskan dari berbagai tunjangan tambahan yang masih diberikan pemerintah. Selain gaji pokok, para pensiunan tetap memperoleh sejumlah komponen pendukung untuk membantu kebutuhan sehari-hari.

Tunjangan keluarga menjadi salah satu komponen yang masih diterima. Suami atau istri memperoleh tambahan sebesar 10 persen dari gaji pokok, sedangkan tunjangan anak diberikan sebesar 2 persen untuk masing-masing anak sesuai ketentuan yang berlaku.

Tak hanya itu, pemerintah juga tetap menyalurkan tunjangan pangan berupa bantuan beras sebanyak 10 kilogram setiap bulan. Para pensiunan juga memperoleh THR dan gaji ke-13 yang dicairkan pada periode tertentu setiap tahun.

Banyak masyarakat kembali mencari informasi Berapa Gaji Pensiunan PNS karena pencairan gaji ke-13 tahun ini diperkirakan berlangsung mulai Juni 2026. Tambahan pendapatan tersebut dinilai cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan keluarga maupun biaya harian.

Pencairan dana pensiun dilakukan melalui PT Taspen dan sejumlah bank mitra. Selain itu, pemerintah juga menyediakan beberapa kanal layanan agar para pensiunan lebih mudah menerima haknya.

Bagi penerima pensiun yang ingin mengambil dana secara langsung, pencairan dapat dilakukan melalui kantor pos dengan membawa KTP, kartu Taspen, kartu keluarga, serta surat keputusan pensiun. Alternatif lain juga tersedia lewat minimarket seperti Alfamart dan Indomaret menggunakan aplikasi POSPAY.

Sementara bagi pensiunan yang sakit atau memiliki keterbatasan mobilitas, Pos Indonesia menyediakan layanan home visit. Petugas akan mengantarkan dana pensiun langsung ke rumah penerima.