Senin, Mei 11, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 105

Inilah Alasan Kenapa TKDN Masih Jadi Dilema Buat Para Investor

TKDN alias Tingkat Komponen Dalam Negeri sebenarnya dibuat dengan niat dan alasan mulia: supaya industri lokal bisa berkembang dan nggak cuma jadi penonton di negeri sendiri. Lewat aturan ini, pemerintah mendorong pelaku industri untuk pakai produk buatan dalam negeri, baik itu barang maupun jasa. Tapi sayangnya, di lapangan, aturan ini kadang justru bikin investor luar negeri mundur pelan-pelan. Kok bisa?

Niat Lokal, Tantangan Global!

Masalahnya bukan di tujuannya, tapi di eksekusinya. Banyak investor asing yang akhirnya berpikir dua kali karena proses pemenuhan TKDN sering dianggap ribet dan nggak fleksibel. Misalnya, saat perusahaan luar ingin masuk ke sektor teknologi, mereka diwajibkan pakai komponen dalam negeri dalam jumlah tertentu. Padahal, komponen lokal yang diminta kadang belum bisa memenuhi standar kualitas atau jumlah yang dibutuhkan.

Investor pun jadi serba salah. Mau lanjut investasi, harus cari vendor lokal yang cocok dulu. Sementara itu, waktu dan modal terus jalan. Nggak semua perusahaan siap ambil risiko itu.

Belum Siapnya Rantai Pasok Dalam Negeri!

Satu hal yang sering jadi ganjalan adalah kesiapan industri pendukung di Indonesia. Gampangnya begini: kalau kamu mau bikin ponsel dan harus pakai 40% komponen lokal, tapi di dalam negeri belum ada produsen chip atau layar yang mumpuni, ya kamu tetap harus impor. Tapi karena TKDN menekan jumlah impor, akhirnya perusahaan malah kesulitan produksi.

Ini juga berlaku di industri lain, kayak otomotif atau alat kesehatan. Banyak produk lokal yang belum bisa bersaing dari segi harga maupun kualitas. Jadi wajar kalau investor merasa terkekang.

Belum lagi proses sertifikasi TKDN yang bisa makan waktu dan biaya. Untuk bisa membuktikan bahwa komponen tertentu benar-benar buatan lokal, perusahaan harus mengurus berbagai dokumen dan pemeriksaan teknis. Prosedurnya sering kali dianggap kurang transparan dan membingungkan, apalagi bagi investor asing yang nggak familiar dengan birokrasi lokal.

Bukan berarti TKDN harus dihapus. Tapi yang dibutuhkan adalah sistem yang lebih fleksibel dan realistis. Pemerintah bisa kasih insentif lebih dulu ke investor sambil pelan-pelan meningkatkan kemampuan produsen lokal. Selain itu, proses sertifikasi bisa dipermudah dan dipercepat, tanpa mengorbankan akurasi.

Dan yang nggak kalah penting, perlu ada sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan agar SDM dan teknologi dalam negeri bisa naik kelas. Dengan begitu, TKDN nggak lagi jadi momok, tapi justru jadi alasan kenapa investor mau masuk ke Indonesia.

Panduan Investasi Pariwisata Diluncurkan, Indonesia Pikat Investor Global

0

Indonesia mencatat sejarah baru di kawasan Asia-Pasifik dengan meluncurkan panduan investasi pariwisata pertama bertajuk Tourism Doing Business: Investing in Indonesia. Peluncuran ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Pemerintah Indonesia dan UN Tourism, yang secara resmi diperkenalkan dalam Konferensi Regional UN Tourism di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (16/4/2025).

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, bersama Sekretaris Jenderal UN Tourism, Zurab Pololikashvili, hadir langsung dalam peluncuran tersebut. Dalam sambutannya, Menteri Widiyanti mengapresiasi kerja kolektif seluruh pihak yang telah menyusun dokumen panduan ini.

“Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk menjaga kekayaan budaya dan alam Indonesia, sekaligus membuka ruang investasi yang menguntungkan bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Widiyanti.

Panduan Strategis bagi Investor Pariwisata

Dokumen Tourism Doing Business: Investing in Indonesia disusun dengan pendekatan riset yang komprehensif, mencakup berbagai aspek penting seperti dinamika ekonomi global dan nasional, tren investasi, termasuk sektor hijau dan startup, serta kerangka hukum dan perpajakan yang berlaku bagi investor.

Selain itu, panduan ini juga menawarkan informasi detail terkait peluang investasi konkret di berbagai destinasi unggulan di Indonesia. Di dalamnya turut dimuat analisis daya saing Indonesia di kancah global, peta potensi investasi di daerah, skema insentif, hingga strategi kerja sama dengan pelaku usaha rintisan.

Kebijakan pemerintah dalam mendukung pembangunan pariwisata rendah karbon turut dipaparkan secara gamblang dalam panduan ini. Di antaranya melalui strategi LTS-LCCR 2050 dan instrumen pembiayaan berkelanjutan seperti green bond dan sukuk hijau.

Zurab Pololikashvili menegaskan, “Ini adalah panduan investasi pertama di Asia-Pasifik dan merupakan tonggak penting dalam memperkuat komitmen UN Tourism dan Indonesia untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis investasi.”

Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini M. Paham, menyebutkan bahwa panduan ini juga menjadi bagian dari upaya diplomasi pariwisata Indonesia. Dokumen ini, kata Martini, merupakan “living document” yang akan terus diperbarui seiring dengan perkembangan terbaru.

Ia menambahkan, lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas seperti Borobudur, Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang masih menjadi fokus utama pengembangan investasi. Tak hanya itu, wilayah strategis seperti Jakarta, Bali, Batam-Bintan, serta Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi bagian dari peta prioritas promosi investasi.

“Meski difokuskan ke destinasi tertentu, potensi di daerah lain tetap terbuka luas untuk dikembangkan bersama,” tutup Martini.

Industri Wastra Lokal Kian Dilirik Dunia, Jadi Simbol Fesyen Berkelanjutan

0

Industri wastra di Indonesia terus menunjukkan potensi yang menjanjikan, tidak hanya sebagai bagian dari kekayaan budaya, tapi juga sebagai jawaban atas kebutuhan akan tren fesyen berkelanjutan. Di tengah derasnya arus fast fashion yang berdampak pada lingkungan, wastra seperti batik, tenun, dan songket hadir menawarkan solusi melalui pendekatan yang lebih ramah alam dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menyampaikan bahwa nilai-nilai lokal yang terkandung dalam proses pembuatan wastra membuat produk ini sejalan dengan filosofi slow fashion. “Wastra bukan hanya kain indah, tapi juga cerminan kearifan lokal yang memprioritaskan kualitas, keberlanjutan, serta keadilan bagi semua pihak yang terlibat,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (21/4).

Dukungan terhadap Fesyen Berkelanjutan

Sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan industri wastra berkelanjutan, Kemenperin bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) mengadakan webinar bertema Cinta Wastra Nusantara: Peran IKM Wastra dalam Fesyen Berkelanjutan pada 16 April 2025. Acara ini merupakan rangkaian dari Road to HUT ke-45 Dekranas dan menjadi wadah edukasi bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan masyarakat.

Reni menjelaskan bahwa kesadaran konsumen global kini makin mengarah pada gaya hidup yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal ini mendorong bergesernya tren dari fast fashion ke slow fashion, di mana produk-produk dibuat dengan proses yang lebih bertanggung jawab, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

“Fast fashion menciptakan limbah padat yang besar karena produk dibuat massal dan seringkali berbahan dasar sintetis yang tidak ramah lingkungan. Inilah yang coba dijawab oleh slow fashion, termasuk melalui produk-produk wastra kita,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan mengatakan bahwa konsep slow fashion mengedepankan kualitas, etika produksi, serta dampak lingkungan yang minimal. “Kain wastra yang dibuat secara manual memiliki keunikan, daya tahan tinggi, dan nilai budaya yang kuat. Ini sesuai dengan semangat slow fashion,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan bahan ramah lingkungan, seperti serat organik dan pewarna alami, serta pengolahan limbah yang bijak dalam proses produksi. Tak hanya itu, Budi mendorong pelaku IKM untuk aktif mengedukasi konsumen agar lebih peduli terhadap pentingnya memilih produk yang tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis.

Cuma Duduk Main Game, Tapi Gaji Setara Pekerja Kantoran? Kok Bisa?!

Awalnya mungkin cuma iseng bantuin teman naik rank atau ngerjain misi harian di game. Tapi sekarang? Aktivitas semacam itu sudah menjelma jadi bisnis yang cukup menjanjikan. Yap, ini dia dunia joki game—fenomena yang makin ramai dan ternyata punya pasar yang nggak main-main. Dulu, istilah “joki” lebih akrab di dunia akademik atau olahraga. Tapi sekarang, di era game online yang makin meledak, joki game udah jadi profesi baru yang digeluti banyak anak muda. Bayangin aja, cuma dari main game, mereka bisa dapet gaji jutaan rupiah per bulan. Bahkan ada yang bisa nabung beli gadget baru atau bantuin keuangan keluarga.

Kenapa Banyak yang Pakai Jasa Joki?

Ada beberapa alasan kenapa orang rela bayar jasa joki. Pertama, karena pengen cepet naik level atau rank tanpa harus ribet main berjam-jam. Kedua, karena beberapa misi atau event di game tertentu butuh skill tinggi atau waktu yang lama buat diselesaikan. Jadi daripada stres, mereka pilih bayar joki buat beresin semua itu.

Game-game seperti Mobile Legends, PUBG, Free Fire, sampai Genshin Impact sering banget jadi “lahan basah” para joki. Harga jasanya bervariasi, tergantung tingkat kesulitan dan target yang diminta. Ada yang cuma ribuan rupiah per misi, sampai ratusan ribu untuk boost akun ke level tertentu.

Dari Hobi Bisa Jadi Peluang Bisnis!

Yang menarik, banyak joki game yang awalnya cuma bantu-bantu teman, tapi lama-lama mereka sadar kalau ini bisa jadi ladang cuan. Akhirnya mereka pasang tarif, promosi lewat media sosial, bikin sistem langganan, bahkan ada yang sampai kerja sama dengan marketplace atau bikin tim sendiri.

Nggak sedikit juga yang memperlakukan ini layaknya bisnis beneran. Ada jadwal kerja, manajemen akun klien, sampai customer service. Beberapa joki bahkan menyulap kamar tidur mereka jadi semacam “warnet pribadi” dengan banyak device untuk ngerjain orderan secara paralel. Keren, ya?

Tapi… Gimana Sisi Legalitasnya?

Walaupun terlihat keren dan menghasilkan, bisnis joki game juga punya sisi yang perlu diperhatikan. Di beberapa game, aktivitas ini dianggap melanggar aturan. Ada risiko akun klien diblokir, apalagi kalau ketahuan pakai joki buat turnamen atau kompetisi resmi. Makanya, para joki yang profesional biasanya kasih disclaimer atau jaminan keamanan akun.

Etikanya juga kadang jadi perdebatan. Ada yang bilang, “kalau game aja dijokiin, apa gunanya main?” Tapi ada juga yang bilang, “selama sama-sama setuju dan aman, ya sah-sah aja.” Intinya, balik lagi ke kesepakatan dan tanggung jawab masing-masing.

Fenomena joki game adalah contoh nyata gimana hobi bisa berubah jadi penghasilan. Dunia digital emang membuka peluang baru yang sebelumnya nggak kepikiran. Tapi tetap, penting untuk bijak—baik dari sisi pelaku maupun pengguna jasa. Jangan sampai cuma karena pengen instan, malah jadi merugikan diri sendiri atau orang lain.

Kalau kamu jago main game dan pengen nyoba cari gaji yang banyak, siapa tahu ini bisa jadi awal dari bisnis kamu sendiri.

Imbas Kemacetan Tanjung Priok, Bahan Baku Tertahan dan Produksi Terhambat

0

Para pelaku usaha impor mengeluhkan kerugian signifikan akibat kemacetan parah yang melanda kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis, 17 April 2025. Situasi ini menyebabkan kontainer-kontainer barang tidak bisa segera keluar dari terminal dan memicu penambahan biaya logistik secara drastis.

Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Subandi, mengungkapkan bahwa masalah kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok dipicu oleh efek domino dari larangan operasional kendaraan barang pada masa arus mudik dan balik Lebaran. Kebijakan pembatasan mobilitas angkutan barang yang berlaku sejak 24 Maret hingga 8 April 2025 telah membuat aktivitas bongkar muat di pelabuhan menumpuk.

“Setelah libur panjang, kendaraan logistik antre panjang dan tidak bisa masuk terminal tepat waktu. Akibatnya, kami harus menanggung biaya tambahan penumpukan kontainer sekitar Rp500 ribu per unit,” ujar Subandi, dikutip Minggu (20/4/2025).

Efek Berantai: Biaya Transportasi Naik dan Produksi Tersendat

Tak hanya penumpukan, biaya pengeluaran kontainer lainnya ikut melesat. Menurut Subandi, tarif jasa angkut selama periode Lebaran naik hingga 1,5 kali lipat dari tarif normal. Bahkan, beberapa importir terpaksa membayar jasa pengawalan kendaraan demi menjamin keamanan dan ketepatan waktu distribusi barang.

“Biaya logistik melonjak tajam, dan ini belum termasuk kerugian karena keterlambatan bahan baku ke pabrik. Proses produksi terganggu, dan reputasi kami di mata mitra luar negeri bisa terdampak,” jelasnya.

Selain menghambat jalur distribusi ke gudang-gudang utama yang tersebar di Jabodetabek dan sekitarnya, kondisi ini juga menimbulkan antrean panjang di jalur-jalur tol utama menuju pelabuhan, seperti Jalan Tol Cawang–Pluit dan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR), yang memperparah keterlambatan pengiriman.

Kondisi ini menambah catatan buruk terhadap indeks logistik nasional. Berdasarkan laporan Bank Dunia pada 2023, Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 139 negara dalam Logistic Performance Index (LPI). Masalah efisiensi waktu pengiriman dan tingginya biaya logistik domestik menjadi penyumbang rendahnya skor Indonesia.

Subandi mendorong pemerintah dan operator pelabuhan untuk mencari solusi jangka panjang yang lebih strategis, seperti pengaturan arus keluar masuk kendaraan logistik pasca libur nasional, digitalisasi layanan pelabuhan, serta peningkatan koordinasi antarinstansi.

“Harus ada sistem yang bisa mencegah akumulasi penumpukan saat masa libur. Kalau tidak, importir akan terus jadi korban dari kebijakan yang tidak selaras dengan dinamika logistik,” tutupnya.

Tarif Ekspor Tinggi AS Dinilai Memberatkan, Indonesia Siap Negosiasi Ulang

0

Pemerintah menyuarakan keberatan terhadap kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan AS atas sejumlah produk ekspor unggulan Tanah Air. Produk seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, hingga udang dikenakan tarif lebih tinggi dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers usai pertemuan bilateral dengan Departemen Perdagangan AS dan United States Trade Representative (USTR) di Washington, Jumat (18/4/2025).

Tarif Proteksionis Dinilai Tidak Adil

Menurut Airlangga, sejak era Presiden Donald Trump, Indonesia telah dikenakan tarif masuk tinggi untuk beberapa komoditas. Bahkan, gabungan tarif bisa mencapai 47 persen—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan tarif untuk produk serupa dari negara ASEAN lainnya seperti Vietnam atau Thailand.

“Kami ingin level playing field. Saat ini, struktur tarif tidak mencerminkan keadilan perdagangan regional. Kami berharap AS meninjau kembali hal ini demi terciptanya iklim perdagangan yang sehat dan kompetitif,” ujar Airlangga.

Meski AS sempat memberi keringanan dengan memangkas tarif sementara menjadi 10% untuk jangka waktu 90 hari, namun Airlangga menegaskan, tambahan tarif 10% di tengah beban tarif eksisting 10-37% tetap membuat beban tarif ekspor Indonesia jauh lebih berat.

Selain berdampak pada harga jual produk di pasar AS, beban tarif tersebut juga ikut memukul daya saing eksportir Indonesia di tengah ketatnya kompetisi global.

Kesepakatan Negosiasi 60 Hari

Dalam pertemuan bilateral itu, kedua negara sepakat untuk merampungkan negosiasi perdagangan dalam waktu 60 hari. Pemerintah Indonesia akan terus mendorong peninjauan ulang terhadap tarif impor, terutama pada produk-produk padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang menopang jutaan lapangan kerja di Indonesia.

Sebagai catatan, Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama ekspor non-migas Indonesia. Nilai ekspor ke AS pada 2024 mencapai lebih dari USD 23 miliar. Dari jumlah itu, kontribusi sektor tekstil dan produk tekstil mencapai lebih dari 20 persen.

Pemerintah berharap hasil negosiasi mendatang dapat membuka peluang perdagangan yang lebih adil dan menguntungkan kedua belah pihak.

Permintaan Naik, Peternakan Sapi Perah Perluas Produksi Susu untuk MBG

0

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini berjalan di Kota Cimahi, Jawa Barat, memberikan dampak positif tidak hanya bagi siswa sekolah, tetapi juga mendorong geliat ekonomi lokal, khususnya sektor peternakan sapi perah. Salah satu dampaknya terlihat dari meningkatnya permintaan susu segar yang disuplai oleh peternak di kawasan Jatinangor, Sumedang.

Manajer Nusa Dairy Indonesia, Sandi Andriana, menyampaikan bahwa program MBG menjadi peluang baru yang sangat menjanjikan. Saat ini, perusahaannya menyuplai sekitar 150 liter susu setiap harinya untuk mendukung kegiatan MBG di Cimahi, namun jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal.

“Kebutuhan harian untuk program ini mencapai sekitar 370 liter susu guna memenuhi porsi 3.500 siswa. Karena itu, kami sedang mempersiapkan penambahan populasi sapi perah sesuai kapasitas peternakan untuk memenuhi permintaan,” ujar Sandi, dikutip dari siaran resmi Tim Media Presiden Prabowo Subianto, Sabtu (20/4).

Ciptakan Lapangan Kerja Baru, Dorong Ekonomi Warga

Tak hanya menambah kapasitas produksi, Nusa Dairy juga berencana merekrut tenaga kerja baru untuk mendukung peningkatan output susu. Hal ini membuka peluang kerja bagi warga sekitar, yang sebelumnya banyak menggantungkan hidup sebagai petani serabutan.

“Dengan adanya program MBG, kami bisa merekrut warga sekitar. Ini jelas membantu meningkatkan kesejahteraan dan menggerakkan ekonomi lokal,” imbuhnya.

Adam Darmawan, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Cimahi, juga mengungkapkan bahwa pihaknya turut menggandeng kelompok peternak lokal lainnya guna menutup kekurangan pasokan susu dari Nusa Dairy.

“Produksi dari satu peternakan belum cukup, jadi kami bermitra dengan kelompok peternak lain di sekitar Cimahi dan Sumedang,” ujar Adam.

Menurutnya, MBG bukan hanya program sosial, tapi juga peluang usaha yang dapat dirasakan langsung oleh pelaku UMKM. Ia juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif Presiden dalam menggerakkan program ini.

“Saya secara pribadi dan kelompok merasa bangga bisa berkontribusi dalam program besar ini. Dampaknya sangat nyata,” tambahnya.

Target 82,9 Juta Penerima di Akhir 2025

Program MBG mulai digelar serentak sejak 6 Januari 2025. Pada pelaksanaannya, dapur-dapur SPPG menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Setiap SPPG dipimpin oleh seorang kepala satuan dan dibantu ahli gizi serta akuntan guna memastikan kualitas dan transparansi pengelolaan.

Data Badan Gizi Nasional (BGN) per 17 Januari 2025 mencatat bahwa sudah ada 238 dapur SPPG aktif di 31 provinsi, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 650 ribu orang. Pemerintah menargetkan program ini menjangkau 3 juta orang pada April 2025, 6 juta pada pertengahan tahun, dan hingga 82,9 juta penerima manfaat hingga akhir 2025.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat perekonomian daerah melalui pemberdayaan UMKM dan peternak lokal.

Industri Tekstil Bangkit, Pemerintah Perketat Impor dan Jaga Daya Saing Lokal

0

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya dalam mendukung industri tekstil dan produk tekstil (TPT) untuk bangkit. Pemerintah menyatakan tak akan membiarkan sektor strategis ini berjuang sendirian menghadapi gempuran tantangan, baik dari dinamika global maupun dari derasnya impor produk jadi di pasar domestik.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat mengunjungi pameran Inatex – Indo Intertex 2025 di Jakarta, Kamis (17/4).

“Kami hadir bersama pelaku usaha untuk mencari solusi nyata atas hambatan yang ada di industri tekstil. Pemerintah tidak tinggal diam,” tegasnya.

Agus menambahkan, sejumlah langkah strategis telah disiapkan untuk mendongkrak daya saing industri TPT. Mulai dari pemberian insentif, pelatihan tenaga kerja industri, hingga kebijakan pengawasan impor yang lebih ketat.

Pemerintah Waspadai Serbuan Produk Impor dan Praktik Transshipment

Dalam kesempatan tersebut, Menperin juga menyoroti derasnya masuk produk pakaian jadi dari luar negeri yang dinilai menekan daya saing pelaku usaha lokal. Tak sedikit dari produk tersebut diduga berasal dari negara-negara yang sedang terkena dampak perang dagang, seperti antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Lebih jauh, Agus mengungkapkan adanya indikasi praktik transshipment, yakni pemalsuan negara asal barang untuk menghindari bea masuk. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kemenperin mendorong pengetatan prosedur penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO), terutama dari pemerintah daerah.

“Kita harus lindungi industri dalam negeri dari praktik curang yang merugikan. Pengawasan harus diperkuat, dokumen asal barang harus benar-benar valid,” ujarnya.

Kontribusi TPT terhadap Ekonomi Nasional

Agus menegaskan bahwa industri TPT merupakan sektor strategis yang sangat vital dalam struktur ekonomi nasional. Selain padat karya, sektor ini juga menyumbang signifikan terhadap ekspor nasional.

Sepanjang tahun 2024, ekspor TPT tercatat mencapai USD 11,96 miliar atau 6,08 persen dari total ekspor industri manufaktur. Di sisi lain, nilai impor turun sebesar 6,2 persen, mendorong peningkatan neraca perdagangan hingga 20,99 persen.

Lebih dari itu, hingga Agustus 2024, industri tekstil telah menyerap 3,97 juta tenaga kerja, atau hampir 20 persen dari total pekerja sektor manufaktur. Sektor ini juga mencatatkan pertumbuhan PDB sebesar 4,26 persen (c to c).

“Industri tekstil harus bangkit dan terus tumbuh agar kita dapat memanfaatkan bonus demografi dan meningkatkan devisa negara melalui ekspor,” kata Agus menutup.

Impor Gandum dan Kedelai dari AS Tak Ganggu Swasembada, Pemerintah Tegaskan Hanya Alih Sumber

0

Pemerintah memastikan bahwa rencana impor sejumlah komoditas pangan dari Amerika Serikat, seperti gandum dan kedelai, tidak akan menghambat program swasembada pangan nasional. Kebijakan ini diklaim hanya merupakan upaya diversifikasi pasokan, bukan peningkatan volume impor yang bisa berdampak negatif pada produksi dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers daring pada Jumat (18/4/2025), menegaskan bahwa pengadaan bahan pangan tersebut dari AS bukanlah hal baru. Indonesia, menurutnya, memang telah lama mengandalkan impor untuk komoditas tertentu, terutama yang belum bisa dipenuhi secara optimal dari dalam negeri.

“Kita tetap melakukan impor, salah satunya dari Amerika Serikat untuk komoditas seperti gandum, kedelai, dan susu kedelai. Tapi ini bukan peningkatan volume. Ini hanya pengalihan sumber karena kebutuhan itu memang sudah lama dipenuhi melalui impor,” jelas Airlangga.

Perkuat Rantai Pasok dan Kendalikan Volatilitas Harga

Selain soal diversifikasi, langkah ini juga bertujuan menjaga stabilitas pasokan di tengah fluktuasi harga pangan global. Situasi geopolitik dunia dan perubahan iklim yang berdampak pada produksi pangan global menjadi alasan penting pemerintah melakukan penyesuaian sumber impor.

“Selama ini kita mengimpor bahan serupa tidak hanya dari Amerika Serikat, tapi juga dari Australia, Ukraina, dan negara lainnya. Jadi ini hanya penyesuaian logistik dalam menjaga kontinuitas pasokan nasional,” lanjut Airlangga.

Dari sisi kebutuhan nasional, Indonesia masih sangat bergantung pada gandum impor karena tanaman ini tidak tumbuh optimal di iklim tropis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor gandum Indonesia pada tahun 2024 mencapai lebih dari 10 juta ton, menjadikannya salah satu komoditas impor pangan terbesar.

Untuk kedelai, meskipun produksi dalam negeri mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, pasokan lokal belum mencukupi kebutuhan industri pengolahan makanan seperti tahu dan tempe. Kementerian Pertanian sendiri menargetkan swasembada kedelai tercapai secara bertahap hingga 2028.

Langkah impor selektif ini pun dinilai strategis oleh sejumlah pengamat. Menurut analis pangan dari INDEF, kebijakan diversifikasi impor dari negara-negara yang memiliki keunggulan logistik atau harga lebih kompetitif justru bisa membantu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Dengan kebijakan ini, pemerintah menegaskan bahwa upaya menjaga swasembada tetap berjalan seiring dengan strategi adaptif terhadap dinamika global. Impor tetap dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu pertumbuhan sektor pertanian dalam negeri.

Indonesia Siap Gempur Pasar Global, Ekspor AC Ditargetkan Tembus 10 Juta Unit

0

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan ekspor produk elektronika, salah satunya air conditioner (AC), yang kini tengah memiliki permintaan tinggi secara global. Dalam kunjungannya ke pra-peresmian pabrik baru milik PT LG Electronics Indonesia di kawasan Cibitung, Bekasi, Rabu (16/4), Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyampaikan optimisme bahwa Indonesia mampu menembus angka ekspor AC hingga 10 juta unit per tahun.

“Kebutuhan dunia terhadap AC mencapai 2 miliar unit. Kalau kita bisa kirim 10 juta unit saja, itu masih sangat kecil, tapi sudah langkah besar untuk industri kita,” ujar Faisol.

Menurutnya, saat ini produk AC buatan Indonesia telah dipasarkan ke sejumlah negara seperti Papua Nugini, Fiji, kawasan Timur Tengah, hingga negara-negara ASEAN. Pemerintah pun terus berupaya meningkatkan daya saing produk dalam negeri agar mampu berekspansi ke lebih banyak pasar global.

Tantangan Komponen dan Dorongan Investasi Lokal

Selain peningkatan ekspor, Wamenperin juga menyoroti tantangan utama yang masih dihadapi industri AC nasional, yakni ketergantungan pada impor komponen utama. Pemerintah pun mendorong LG agar mulai memproduksi komponen penting seperti kompresor secara lokal untuk memperkuat ekosistem industri dan rantai pasok nasional.

“Penguatan industri komponen dalam negeri sangat penting untuk mewujudkan kemandirian industri AC nasional,” tambahnya.

Pemerintah, kata Faisol, terus berkomitmen memperluas penggunaan produk lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan industri berkelanjutan. Kehadiran pabrik AC LG yang baru ini diharapkan menjadi motor penggerak dalam pertumbuhan sektor elektronika dalam negeri.

Sebagai informasi, produk AC rumah tangga masih menjadi salah satu penyumbang impor terbesar untuk kategori elektronik. Pada 2024, nilai impornya mencapai USD420,46 juta meski mengalami penurunan sebesar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Semoga dengan beroperasinya pabrik ini, kita tidak hanya bisa menekan angka impor, tapi juga semakin memenuhi permintaan domestik dan memperluas pasar luar negeri,” tutur Faisol.

LG Siap Produksi AC di Indonesia, Investasi Awal Rp374 Miliar

Menanggapi hal tersebut, President of LG Electronics Indonesia, Ha Sang-chul, menyampaikan bahwa perusahaannya siap memperkuat operasional di Tanah Air dengan memulai produksi AC secara lokal. Pabrik ini juga menjadi bagian dari ekspansi LG yang menandai 35 tahun kiprah mereka di Indonesia.

“Ini adalah investasi strategis yang mencerminkan komitmen LG untuk mendukung pertumbuhan industri dalam negeri sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja,” ungkap Ha.

Pabrik tersebut berdiri di lahan seluas 32.000 meter persegi di Cibitung, Bekasi, dan akan menjadi pusat produksi AC untuk kebutuhan residensial hingga komersial. Dengan investasi awal sebesar USD22 juta atau setara Rp374 miliar, LG menargetkan produksi perdana sebanyak 1,8 juta unit AC per tahun, yang ke depannya akan ditingkatkan hingga dua kali lipat.

Ha menegaskan, LG siap menjadi pemain utama dalam pengembangan industri AC Indonesia, tidak hanya untuk memenuhi pasar lokal, tetapi juga untuk memperluas ekspor ke berbagai negara.