Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Bisnis Interkoneksi Sistem Informasi Tingkatkan Transparansi Industri Pengolahan Kayu dan Furnitur

Interkoneksi Sistem Informasi Tingkatkan Transparansi Industri Pengolahan Kayu dan Furnitur

0
Interkoneksi Sistem Informasi Tingkatkan Transparansi Industri Pengolahan Kayu dan Furnitur (Ilustrasi Foto Industri Kayu Indonesia, Sumber: KLHK)

Industri pengolahan kayu, rotan, dan bambu adalah sektor yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Sektor ini memiliki dampak positif signifikan pada perekonomian nasional melalui ekspor dan penyediaan produk di pasar dalam negeri.

Pada tahun 2022, kontribusi industri pengolahan kayu, rotan, bambu sebagai bagian dari subsektor industri agro mencapai 4 persen dengan nilai ekspor mencapai USD4,66 miliar.

Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) dan asosiasi, terdapat 520 perusahaan dalam industri kayu olahan (KBLI 16) dengan total tenaga kerja langsung sebanyak 310.330 orang. Investasi riil dalam industri kayu olahan di Indonesia mencapai Rp3,5 triliun selama tahun 2022.

Capaian Mentereng Ekspor Industri Furnitur

Di sisi lain, kinerja ekspor industri furnitur mencapai USD2,47 miliar pada tahun yang sama. Industri furnitur (KBLI 31) melibatkan 1.114 perusahaan dengan tenaga kerja langsung mencapai 143.119 orang. Investasi total dalam industri furnitur selama tahun 2022 mencapai Rp2,9 triliun.

Putu menyampaikan apresiasi terhadap dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) yang memfasilitasi pertukaran data antara Sistem Informasi Pengelolaan Hutan Lestari (SIPHL) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan SIINas di Kementerian Perindustrian.

Sinergi antar kementerian ini tercermin dalam penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang pertukaran dan pemanfaatan data bahan baku kayu dan produk olahan kayu.

Interkoneksi antara SIPHL KLHK dan SIINas Kemenperin diharapkan memberikan manfaat bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan pelaku industri kayu di sektor hulu maupun hilir. Data transparan mengenai aliran bahan baku kayu diharapkan akan mendukung pengambilan kebijakan, sementara dashboard ketersediaan bahan baku kayu akan mempercepat proses aliran bahan baku ke industri hilir.

Deputi Bidang Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves, Nani Hendiarti, menegaskan pentingnya kerja sama ini dalam menyediakan data dan informasi mengenai sumber bahan baku kayu dan kebutuhan produk olahan kayu dari hulu hingga hilir.

Dengan interkoneksi SIPHL dan SIINas, data mengenai penggunaan kayu dan produk olahan kayu akan tersedia secara real-time melalui dashboard di KLHK dan Kemenperin, mendukung pemerintah dalam memantau produksi dan penggunaan kayu dalam negeri.

Kerja sama ini dianggap sebagai langkah konkret sinergi antar lembaga untuk mendukung ketelusuran bahan baku hingga menjadi produk kayu jadi dan untuk meningkatkan produksi industri kehutanan Indonesia.

Peluncuran Sistem Informasi Produk Industri Kehutanan (SI PIK) dianggap sebagai bagian integral dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk terus bersinergi dalam mendukung kesinambungan sistem informasi pengolahan kayu secara digital dan upaya untuk mendorong peningkatan produksi industri perkayuan Indonesia dari hulu hingga hilir.

Exit mobile version