Di Balik Kisah Terpilihnya KiosTix Sebelum Diputus Kontrak INASGOC

0
634
Loket penjualan tiket Asian Games 2018 di kawasan GBK. (Suara.com/Chyntia)

Berempat.com – Kiostix secara resmi tak lagi mengurusi penjualan tiket Asian Games 2018 setelah Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) mengonfirmasi hal tersebut. Dalam konferensi pers, Deputi II bidang administrasi INASGOC Francis Wanandi memastikan bahwa INASGOC telah memutus kontrak KiosTix pada Jumat (24/8).

“Kami memindahkan kepada vendor berbeda. Dari KisoTix ke blibli (tiket.com), dan loket.com,” ujar Francis dalam konferensi pers di Jakarta.

Sebelumnya, penunjukkan Loket.com dilakukan INASGOC untuk melengkapi kongsi penjualan tiket Asian Games 2018 yang sudah dipegang oleh Kiostix dan Blibli. Namun, tak lama berselang rupanya Kiostix tak lagi tergabung dalam kongsi tersebut.

Memang, buruknya kemampuan KiosTix soal urusan pendistribusian dan penjualan tiket Asian Games 2018 menjadi sorotan publik. Mulai dari situs yang tak bisa diakses sebab server yang down, muncul kasus tiket ganda, pembeli yang tak menerima kode voucher meskipun telah mentransfer nominal sesuai harga dan telah mendapatkan konfirmasi, hingga menyebabkan antrean panjang saat penukaran e-voucher dengan tiket fisik.

Sebetulnya, ditunjuknya Kiostix sebagai pengelola tunggal tiket Asian Games 2018 cukup dipertanyakan. Pasalnya, sebuah vendor harus benar-benar siap untuk bisa mengelola tiket sendirian untuk event sebesar Asian Games 2018 yang tentu dapat menarik animo masyarakat yang besar. Sementara itu, kemampuan KiosTix dalam mengelola tiket dengan animo yang cukup besar pernah sangat mengecewakan.

Tak memuaskannya layanan Kiostix pernah dirasakan penggemar sepak bola tanah air saat Tim Nasional Indonesia berhasil lolos ke semifinal AFF Cup 2016 silam. Saat itu, PSSI memberikan jatah kepada Kiostix untuk mendistribusikan 27 ribu tiket. Namun, sayangnya, Kisotix justru tak sanggup optimal dalam melayani pembelian tiket. Situs yang tak bisa diakses sebab server down selama berhari-hari menjadi pemicunya. Kendala yang sama dengan saat ini.

“Animonya sangat luar biasa, kami menghadapi traffic yang luar biasa. Sebenarnya kami siap (menjual), tapi kami tak bisa menghadapi kendala akses yang ini luar biasa. Seperti antrean yang panjang, jadi harus menunggu,” kilah Head of Sales Kiostix Andika Putra saat itu sebagaimana dikutip dari Goal.com.

Lantaran hal tersebut, PSSI pun sampai harus turun tangan dan menjual tiket secara offline di markas Kostrad.

Bila melihat ketidakmampuan Kiostix saat harus mengelola 27 ribu tiket kala itu, maka sudah semestinya INASGOC tak boleh begitu saja menyerahkan sepenuhnya penjualan tiket Asian Games 2018 kepada KiosTix sendirian. Sebab dilihat dari jumlah pembeli tiket, sudah pasti akan berkali-kali lipat lebih banyak dibanding saat semifinal AFF Cup 2016. Bila mengurus tiket untuk semifinal AFF Cup 2016 saja sudah kepayahan, apalagi untuk mengurusi event sebesar Asian Games 2018?

Sementara itu, di pihak KiosTix pun semestinya sudah bisa mempersiapkan diri lebih baik saat ditunjuk menjadi pengelola tiket Asian Games 2018. Namun, sepertinya hal tersebut tak dilakukan. Pasalnya, selain situs yang kembali sulit diakses, ruwetnya proses penukaran tiket juga masih diterapkan.

Karena semestinya, sudah tak perlu lagi ada penukaran ke dalam bentuk tiket fisik untuk pembelian tiket secara daring. Panitia seyogianya cukup melakukan scaning pada barcode tiket daring yang dipegang pembeli. Namun, teknologi scanning barcode itu sepertinya tak diterapkan oleh KiosTix.

Karena itulah, sempat muncul pertanyaan, bagaimana bisa pengelolaan tiket Asian Games 2018 hanya diserahkan kepada satu vendor saja dan membuat INASGOC menafikan banyak perusahaan ticketing besar dalam tender macam Rajakarcis dan Tiket.com untuk turut andil di awal.

Pernyataan yang Kontradiktif

Kisah terpilihnya KiosTix sebagai vendor tunggal pengelolaan tiket Asian Games 2018 sendiri sebetulnya cukup menarik. Dalam konferensi pers saat pemutusan kontrak KiosTix, Francis menyebut bahwa KiosTix sebetulnya bukan pilihan pertama. Di awal, Francis mengaku bahwa INASGOC sudah memilih Yosong, perusahaan asal Korea yang menjadi vendor tiket Olympic Winter dan Asian Games Incheon.

“Mereka ini secara sistem bagus karena sudah terbukti sistemnya di olimpaide, sudah digunakan,” ujar Francis.

Namun, Francis menyebut bahwa Yosong secara tiba-tiba memilih mundur. Saat itulah Kiostix menjadi pilihan INASGOC. Dalam keterangannya, Francis seolah menyebut bahwa KiosTix tak punya cukup kesiapan dalam sisa waktu menuju Asian Games 2018 sehingga terjadilah kendala seperti saat ini.

“Perusahaan seperti KiosTix itu untuk menyiapkan selama dua bulan itu terlalu pendek,” jelasnya.

Dipilihnya KiosTix pun, menurut Francis, lantaran pihak KiosTix berani memberi minimum garansi yang besar.

“Dulu itu, ada parameter-parameternya, ada sistem menjual hak kepada pihak ketiga. Kami minta garansi minimal yang harus dijaminkan. Itu salah satu faktornya, memang ada sisi komesil. Mereka berani memberi minimum garansi yang besar,” dia menjelaskan.

Menilik dari penjabaran Francis dalam proses penunjukkan KiosTix, agaknya terlalu kontradiktif dengan pernyataan Direktur Ticketing Panitia Pelaksana Asian Games 2018 Sarman Simanjorang saat konferensi pers bulan Juni lalu.

“Perlu diketahui sejak 2016, sudah ada 11 perusahaan ticketing yang sudah mendaftar, tapi akhirnya yang menang adalah KiosTix. Setidaknya ada beberapa kireteria yang dipenuhi KiosTix, yakni dari segi IT atau kemanan, cakupan distribusi yang luas dan kemampuan perusahaan itu sendiri dalam mengatur tiket,” jelas Sarman kala itu sebagaimana dikutip dari Tribunnews.

Dalam pernyataan tersebut Sarman seolah sangat yakin bahwa INASGOC telah memilih vendor yang tepat. Pasalnya, KiosTix diyakini memiliki kecakapan dari segi IT dan keamanan, serta kemampuan perusahaan dalam mengatur tiket. Tentu, keyakinan tersebut agaknya mesti dievaluasi bila melihat kemampuan KiosTix dalam mengelola tiket AFF Cup 2016 silam.

Dan kelalaian INASGOC dalam memberikan kepercayaan tunggal kepada KiosTix pun akhirnya terjawab saat ini. Kendati mulanya INASGOC memilih memecah lebih dulu pengelolaan tiket Asian Games 2018 dengan memasukkan BliBli dan Loket, namun pada akhirnya INASGOC memilih memutus kontrak KiosTix kemudian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.