Bagaimana J.CO Bisa Besar dan Menyaingi Dunkin’ Donuts

0
1196
Donat J.CO

Tak hanya menjadi pesaing dekat Dunkin’ Donuts di Indonesia, J.CO pun sudah merambah ke luar negeri

Berempat.com – Tentu bagi kita saat ini sudah tak asing lagi dengan dua merek donat terbesar di Indonesia, yakni J.CO dan Dunkin’ Donuts. Dua merek ini bak pesaing yang selalu dibanding-bandingkan. Bahkan tak jarang gerai kedua merek ini saling berdekatan, entah yang ada di dalam maupun di luar mal.

Kemampuan J.CO untuk hadir sebagai pesaing Dunkin’ Donuts tentu patut untuk dipelajari. Pasalnya, jika dilihat dari segi usia J.CO jelas lebih muda dibandingkan merek waralaba asal Amerika Serikat itu. J.CO resmi meluncur pada 2005 di kawasan Supermal Karawaci, Tangerang. Sementara Dunkin’ Donuts sudah ada sejak 1950 silam dan hadir di Indonesia pada 1968 di Djakarta Fair (sekarang disebut Pekan Raya Jakarta/PRJ). Gerai pertamanya berdiri pada 1985 dan terletak di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta.

Persaingan antara J.CO dan Dunkin’ Donuts secara kasat mata bisa dilihat dari banyaknya gerai yang dipunya. Setidaknya, gerai-gerai itu dibuka dan dapat bertahan karena adanya pasar yang berhasil direngkuh. Dan bila menilik dari jumlah, kedua merek ini sama-sama sudah membuka lebih dari 200 gerai di Indonesia.

Menukil dari situs resmi Dunkin’ Donuts. Merek berlogo DD ini sudah membuka lebih dari 200 gerai yang tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Bali. Sementara itu, pada 2017 lalu J.CO mengklaim sudah memiliki 232 gerai yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Kemungkinan, jumlah gerai tersebut pun dapat bertambah sebab Marketing Communications Supervisor PT JCO Donuts & Coffee Selly Sumardi mengungkapkan rencana penambahan gerai.

“Kemungkinan akan tambah 50 toko lagi (tahun ini),” ungkap Selly sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id.

Selain di Indonesia, J.CO sendiri sudah merambah sampai ke luar negeri sejak ekspansi pertamanya pada 2007 silam. Diketahui negara-negara tetangga seperti Filipina dengan 20 gerai, Malaysia 11 gerai, Singapura 4 gerai, serta China 2 gerai dan Arab Saudi.

“Target kami 5 tahun lagi akan jadi 500 gerai. Di luar negeri kita akan buka di Dubai, Abu Dhabi, dan Hong Kong,” ujar sang pendiri J.CO Jhonny Andrean dalam sebuah kesempatan di perayaan ulang tahun J.CO, seperti dikutip dari Tirto.id.

Yang Berbeda antara Produk J.CO dan Dunkin’ Donuts

Setelah berdirinya Dunkin’ Donuts sebagai pemain donat satu-satunya yang besar selama 55 tahun di Indonesia, J.CO yang baru muncul pada pertengahan 2005 tentu tak bisa melepas dari bayang-bayang merek asal Amerika tersebut. Sudah pasti, konsumen di Indonesia akan membanding-bandingkan produk J.CO dengan Dunkin’ Donuts. Namun, nyatanya J.CO bisa mengambil pasar dari Dunkin’ Donuts sehingga membuatnya menjadi penantang kuat bisnis donat.

Sebab sekarang pasar donat terkesan dikuasai oleh dua merek ini, maka tak heran jika banyak yang membanding-bandingkan keduanya. Bahkan, sebuah poling secara daring pernah dilakukan di Forum Kaskus untuk mengetahui yang manakah yang lebih dipilih oleh penikmat donat Tanah Air. Hasilnya, banyak yang lebih memilih J.CO dengan presentase 58%, sedangkan yang memilih Dunkin’ Donuts hanya 19%, dan sisanya sebesar 22% mengaku suka keduanya.

Memang, poling daring ini tak bisa dijadikan patokan utuh apakah penikmat donat Tanah Air memang lebih memilih J.CO ketimbang Dunkin’ Donuts. Pasalnya, kedua merek ini memang memiliki perbedaan dari segi produk yang ditawarkan. Dunkin’ Donuts yang kental dengan donat klasiknya, sedang J.CO lebih identik dengan donat modern.

Perbedaan keduanya itulah yang membuat mereka memiliki pelanggan setianya. Berempat.com sendiri sempat menelusuri dengan bertanya kepada beberapa orang yang diketahui pernah mencicipi produk dari kedua merek tersebut untuk membandingkan yang mana yang lebih dipilih.

David Lubis, karyawan IT ini dalam pesan singkatnya mengaku lebih memilih Dunkin’ Donuts karena ia merasa donat J.CO terlalu manis. Lebih dipilihnya Dunkin’ Donuts ketimbang J.CO juga diungkap oleh Vitha. Model pemula ini lebih suka dengan tekstur donat milik Dunkin’ Donuts lantaran lebih padat dan berisi.

“Kalo J.Co enak yogurt-nya. (donat) J.CO kayak kempes aja,” terang perempuan berusia 27 tahun tersebut, Selasa (28/8).

Hal senada juga disampaikan oleh Maria yang mengaku lebih suka Dunkin’ Donuts karena teksturnya yang padat. “Walaupun kalo dari varian rasa lebih banyak J.CO, tapi kalo J.CO teksturnya kempes. Gak berasa makan donat,” ungkap perempuan yang bekerja di perusahaan suplier oli dan gas di Jakarta ini.

Ada juga Ardi Saputra, seorang desain grafis yang lebih memilih Dunkin’ Donuts. “Ada paketan harga yang murah. Terus donatnya lebih pluffy,” ujarnya.

Untuk urusan tekstur donat, memang setiap konsumen memiliki seleranya masing-masing. Ada yang menyukai tekstur donat dari Dunkin’ yang lebih padat dan ada yang lebih senang dengan tekstur lembut dari J.CO.

Seperti Rini, seorang ibu rumah tangga di Bekasi ini mengaku lebih suka J.CO karena tekstur dan rasa manisnya yang dirasa pas. “Gue lebih suka J.CO. Teksturnya lebih lembut banget, enak, manisnya juga nggak bikin eneg,” ungkapnya lewat pesan singkat.

Hal senada juga diungkap oleh Febrina. Perempuan berusia 24 tahun yang bekerja di kantor pajak di Tangerang ini mengaku lebih suka J.CO karena kelembutan donatnya. “J.CO adonannya lebih lembut, terus varian toppingnya lebih menarik,” jelasnya.

Linawati, seorang karyawati di sebuah perusahaan Event Organizer (EO) di Jakarta Timur ini juga senang dengan J.CO karena lembutnya tekstur yang dipunya J.CO. “Karena J.CO itu dimakan 1 kurang rasanya. Kalo Dunkin’ terlalu padet, jadi makan 1 aja udah kenyang rasanya,” ujar perempuan berusia 30-an tahun tersebut.

Selain soal tekstur, lebih variasinya topping yang dipunya oleh donat J.CO memang berhasil membuat konsumen lebih memilih J.CO. Sebab, lebih variasinya topping yang dipunya tentu juga berpengaruh pada banyaknya rasa yang bisa dipilih oleh konsumen.

Seperti Gali Marsiano, pengusaha kerupuk modern di Bekasi ini pun mengaku lebih senang dengan J.CO lantaran tekstur donatnya yang dinilai lebih lembut, lebih bervariasi dari segi topping, ukuran donat yang dirasa pas, dan adanya pilihan menu lain seperti yogurt dan kopi.

Yulisna Murni yang kini bekerja di perusahaan Korea Selatan juga mengaku lebih memilih J.CO karena produknya memiliki banyak varian topping.

Hal yang sama yang juga diungkap oleh Dzu Hadhin Adhim, karyawan bekerja di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan ini memilih J.CO karena rasanya yang lebih berkarakter. “Gue pilih J.CO soalnya lebih berasa enaknya. Terus rasanya berkarakter. Kalo makan itu udah langsung tahu kalo itu J.CO,” ujarnya.

Bila menelisik dari setiap pernyataan orang yang menggemari J.CO, maka bisa disimpulkan bahwa J.CO memang sejak awal sudah menargetkan konsumen yang kurang masuk dengan donat milik Dunkin’ Donuts. Pasalnya, J.CO telah berhasil membuat perbedaan pada produknya. Bisa dikatakan, sejak awal J.CO tak bermaksud menyamai donat yang diproduksi Dunkin’ Donuts, melainkan membuat donatnya sendiri.

Keberhasilan J.CO dalam mengambil konsumen donat di Indonesia yang lebih suka tekstur lembut dan manis tak pelak membuatnya bisa menjual 805 juta pieces donat selama 10 tahun beroperasi. Artinya, dalam sehari J.CO bisa menjual sekitar 220 ribu butir donat.

“Saya sempat ingin tahu ada berapa donat yang sudah terjual, ternyata ada 805 juta pieces. Itu dari pertama kali buka,” ungkap Jhonny saat merayakan 10 tahun usia J.CO di Mall Alam Sutera, Tangerang, 2016 silam sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Mengusung Konsep, Inovasi, dan Jati Diri Berbeda ala J.CO

Meski mencoba menggarap pasar yang sama dengan Dunkin’ Donuts, tapi tak membuat J.CO mencoba berjalan dengan cara yang sama. Merek berlogo burung merak dengan warna merah ini justru memberikan perbedaan. Bila ditelisik, J.CO telah mengusung konsep boutique bakery dan coffee shop sehingga jelas berbeda dengan kompetitornya. J.CO bahkan mengusung konsep open kitchen layaknya BreadTalk, perusahaan waralaba bakery yang juga dikelola oleh Jhonny Andrean.

Selain konsep tempat yang diusung J.CO, inovasi dari segi rasa dan topping donat juga menjadi kuncinya. Memang, syarat agar bisa menjadi pemimpin pasar di kelasnya, sebuah merek harus berani berinovasi. Hal itu setidaknya sudah diterapkan oleh J.CO.

Bicara soal inovasi sendiri sebetulnya pernah diungkap oleh Jhonny. Kendati pada satu kesempatan ia berbicara soal bisnis bakery lewat BreadTalk-nya, tapi secara garis besar hal itu juga menjadi poin yang diimplementasikan oleh J.CO.

“Berbisnis bakery seperti ini kuncinya kita harus inovatif dan peka. Seperti saat ini kami terus berinovasi dengan menambah varian roti dan kue, serta terus peka dengan keinginan seluruh pelanggan yang dipantau lewat saran yang diberikan ke hotline kami,” ujar Jhonny seperti ditulis di Money.id.

Yang unik, J.CO tak hanya berinovasi dari segi produk donatnya, melainkan juga dari varian menunya. Setidaknya, selain donat, kopi J.CO juga menjadi andalan dan banyak diminati konsumen setianya. Bahkan, di kesempatan yang sama saat perayaan 10 tahun J.CO, Jhonny mengungkapkan bahwa kopi yang terjual sudah mencapai 52 juta cup.

“Mereka hitung berapa cup yang sudah terjual selama 10 tahun, hasilnya ada 52 juta cangkir.”

Kopi dan donat, inilah perpaduan yang coba ditawarkan oleh J.CO kepada konsumen. Inilah yang membuat J.CO terlihat berbeda dibanding Dunkin’ Donuts. Apalagi, kopi yang disediakan oleh J.CO memiliki banyak varian sehingga membuat konsumen pun punya banyak alternatif pilihan.

Apalagi, meski di awal memilih mendatangkan biji kopi dari Italia, tapi saat ini J.CO diketahui mengambil biji-biji kopi dari Indonesia untuk memenuhi dapurnya. Biji kopinya didatangkan dari Sumatera, Sulawesi, dan Jawa.

J.CO pun tak berhenti hanya pada menu donat dan kopi, sebab muncul menu-menu baru seperti sandwich serta yogurt yang cukup diminati konsumen setianya. Dengan hadirnya menu-menu baru tersebut, tentu membuat posisi J.CO di benak konsumen setianya masih menjadi pilihan utama. Dan bukan tak mungkin pada beberapa tahun mendatang akan kembali hadir menu baru di J.CO. Inilah jati diri yang dibangun J.CO; gerai donat modern yang bisa disinggahi bukan hanya oleh penikmat donat.

Apalagi, saat ini J.CO kedapatan hadir di beberapa lokasi dengan mengusung konsep tempat one stop cafe, yakni bangunan tiga lantai yang menghadirkan merek kuliner milik Jhonny Andrean (BreadTalk, J.CO, dan Roppan) dalam satu lokasi. Setidaknya Berempat.com menemukan konsep tersebut hadir di kawasan Summarecon Bekasi dan Jatiwaringin, Bekasi.

Dengan melakukan berbagai inovasi, baik dari segi konsep tempat hingga varian menu tiada henti, maka bukan hal yang muskil bagi J.CO dapat mengikuti jejak Dunkin’ Donuts untuk merajai pasar donat di dunia.

Sudah aktif menulis sejak 2011. Menggemari fiksi. Beberapa karya cerpen sudah dibukukan dan dimuat di berbagai media online. Sudah menelurkan 4 buah buku bertema inspirasi bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here