Melihat Sisi Lain Kemajuan Teknologi yang Mengancam Hilangnya Banyak Profesi

0
695
Melihat sisi lain teknologi yang mengancam hilangnya banyak profesi. (ilustrasi robot didapat dari cikudanews.com)

“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti~” -Banda Neira-

Berempat.com – Tentu tak ada yang menampik bila kemajuan teknologi saat ini dapat memberikan kemudahan dalam kehidupan dan pekerjaan, bahkan membangun peradaban baru. Namun, bersamaan dengan semua itu tanpa disadari kemajuan teknologi juga mengancam banyak hal dalam kehidupan, salah satunya pekerjaan.

Mengutip dari sebuah artikel di Bloomberg yang ditulis oleh Mark Whitehouse, Mira Rojanasakul, dan Cedric Sam, tiga belas tahun yang lalu dua ekonom terkemuka Amerika Serikat (AS) meragukan kehadiran mobil tanpa pengemudi. Pasalnya mereka yakin akan banyak error yang terjadi.

Namun, enam tahun berselang Google membuktikan dapat membuat mobil tanpa pengemudi sepenuhnya, atau yang kini lebih dikenal sebagai mobil otonom. Tentu, kehadirannya mengancam jutaan pengemudi truk, taksi, hingga supir pribadi.

Ancaman hilangnya pekerjaan berkat kemajuan teknologi sendiri sudah dialami oleh di AS. Mulanya, serapan tenaga kerja masih tertolong oleh keberadaan department store, karena industri tersebut diklaim mampu mempekerjakan manusia 25 kali lebih banyak daripada industri pertambangan seperti batubara.

Tapi, kondisi tersebut tak bertahan lama. Dalam data yang dijabarkan ketiga penulis tersebut, dikatakan bahwa di department store rata-rata di empat bulan pertama tahun 2017 jumlah pekerja turun 26.800 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sementara untuk batubara hanya kehilangan 2.800 pekerja. Kemunculan e-commerce pun diklaim sebagai yang paling berpengaruh terhadap turunnya jumlah pekerja di department store.

Di tahun 2016, dari 350 sektor ekonomi yang ada di AS, pekerjaan yang hilang paling banyak terjadi di sektor pelayanan yang jumlahnya mencapai tiga perempat dari keseluruhan.

Hilangnya banyak pekerjaan karena teknologi dianggap sebagai ancaman serius. Berbagai penelitian pun dilakukan agar bisa memprediksi profesi apa yang kemungkinan hilang di masa depan. Hilangnya profesi tersebut bukan lantaran benar-benar tak ada lagi, melainkan karena manusia tak dibutuhkan lagi untuk mengisinya.

Januari 2016, sebuah penelitian dari McKinsey & Company menyatakan bahwa dalam lima tahun ke depan sebanyak 52,6 juta jenis pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Hal tersebut mengikuti tren global di mana 60% pekerjaan akan mengadopsi sistem otomatisasi, dan 30% akan menggunakan mesin berteknologi digital.

Sementara setahun sebelumnya, kepala ekonom Bank of England mengungkapkan 80 juta pekerjaan di AS dan 15 juta pekerjaan di Inggris akan diambil alih oleh robot.

Pekerjaan Apa yang Berisiko Hilang oleh Kemajuan Teknologi?

Menarik untuk mengetahui jenis pekerjaan apa yang diprediksi para ahli terancam oleh kemajuan teknologi. Terancam di sini maksudnya yaitu kemungkinan tak diperlukan lagi sosok ‘manusia’ untuk melakukan pekerjaan tersebut, melainkan cukup dilakukan menggunakan mesin.

Seperti petugas Tol yang saat ini perlahan sudah mulai digantikan oleh mesin. Sekalipun butuh keberadaan manusia, jumlahnya tak banyak. Cukuplah satu-dua orang teknisi untuk mengawasi tiga-enam mesin tol otomatis. Melihat hal itu, sudah dipastikan di tahun-tahun mendatang sektor tersebut tak lagi menyediakan lowongan kerja.

Memang, buruh ‘kerah biru’ atau yang terbiasa menggunakan tenaga lebih rentan tergantikan oleh keberadaan teknologi. Tapi, bukan berarti buruh yang masuk kategori ‘kerah putih’ atau yang terbiasa bekerja dengan otak bisa aman oleh keberadaan teknologi.

Seperti dilansir dari The Guardianseorang akademisi Sanford Univeristy Jerry Kaplan dalam tulisannya berjudul Human Need Not Apply, mengungkapkan bahwa otomasi buta terhadap warna kerah Anda. Maksudnya, bukan hanya buruh pabrik, bahkan konsultan keuangan pun terancam oleh otomasi.

Sebuah studi berjudul The Future of Employment pernah dilakukan oleh akademisi Oxford University pada 2013 lalu. Pada studi yang meneliti 702 pekerjaan umum tersebut menemukan bahwa beberapa pekerjaan seperti telemarketing, konsultan pajak, wasit olahraga, psikolog dan dokter.

Penjelasan lebih rinci disampaikan oleh Martin Ford, dalam bukunya Rise of the Robots: Technology and the Threat of a Jobless Future, mengungkapkan bahwa pekerjaan yang paling berisiko oleh keberadaan teknologi adalah yang cenderung rutin, berulang, dan dapat diprediksi.

Beberapa jenis pekerjaan yang termasuk rutin dan berulang seperti telemarketing, akuntan, kasir, teller bank, hingga yang berhubungan dengan sektor hukum. Bahkan, Ford menulis jika koki makanan cepat saji pun terancam oleh keberadaan teknologi dengan presentasi 81%. Ia melihat kemungkinan berdasarkan kasus Flippy, asisten dapur bertenaga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sudah bisa membalikkan burger di sejumlah restoran.

Namun, tak semua profesi dapat terancam oleh keberadaan teknologi. Setidaknya, Ford menyebutkan ada tiga bidang profesi yang dianggap tanggung menghadapi kemajuan teknologi.

Pertama adalah profesi yang menuntut kreativitas asli, seperti business development, content creator, seniman, dan musisi. Kedua adalah profesi yang berhubungan dengan membangun hubungan antarmanusia, seperti public relationship, corporate communication, social media specialist, customer care, atau profesi yang menuntut Anda untuk membangun hubungan baik dengan klien.

Dan ketiga adalah profesi yang sulit untuk diprediksi, seperti kepolisian, tentara, pemadam kebakaran, atau tukang reparasi ledeng. Ford menyebut profesi-profesi tersebut sulit diprediksi karena harus siap bertugas andai dibutuhkan sewaktu-waktu atau dalam kondisi darurat.

Ada yang Hilang maka Ada yang Tumbuh

“Yang… yang patah tumbuh, yang hilang berganti.”

Penggalan lirik Banda Neira berjudul Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti ini menyiratkan bahwa akan selalu ada yang baru di antara hilangnya sesuatu hal.

Hal tersebut pun diyakini berlaku pada dunia kerja. Di antara banyaknya jenis profesi yang hilang oleh kemajuan teknologi, di saat bersamaan terdapat profesi baru yang bisa dimanfaatkan.

Setidaknya, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Bambang Satrio Lelono, dalam keterangan persnya 16 April 2018 lalu mengatakan agar kita tidak perlu terlalu khawatir akan hilangnya pekerjaan sebagai akibat revolusi industri 4.0.

Karena menurutnya, sejak era revolusi industri 1.0 hingga 3.0 sudah banyak pekerjaan yang hilang, tapi di waktu bersamaan muncul jenis pekerjaan baru. Bambang sempat menyinggung berbagai penelitian seperti Oxford , McKensie, Global Institut, maupun ILO  yang memprediksi sebanyak 50% pekerjaan di dunia akan hilang di masa depan. Tetapi akan muncul pekerjaan baru yang saat ini belum ada. Jumlahnya kurang lebih 65%.

“Tidak perlu worry, tak perlu khawatir dengan masalah hilangnya pekerjaan. Yang perlu dilakukan adalah menyiapkan keterampilan baru agar kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan atau jenis pekerjaan yang akan datang,” ujar Bambang.

Apa yang diucapkan Bambang memang bukan tanpa fakta. Bayangkan, jenis pekerjaan seperti pengatur pin bowling, switchboard operator atau penyambung telpon, dan juru ketik saat ini telah hilang. Pekerjaan-pekerjaan itu kemudian kini tergantikan oleh profesi yang baru berkat kemajuan teknologi.

Di tahun 2005 barangkali profesi seperti content creator atau social media specialist belum terlintas ada, tapi saat ini profesi tersebut sudah menjamur. Begitu pun dengan profesi seperti influencer social media, YouTuber, web development, SEO specialist, digital marketing dan banyak lagi yang justru lebih menjanjikan.

Bahkan, menurut Human Capital Index 65% anak-anak yang memasuki sekolah dasar hari ini akan bekerja di jenis profesi yang sama sekali baru dan belum terbayang saat ini.

Bambang pun mengungkapkan, Kemenaker sudah menganalisa beberapa profesi yang akan bertumbuh dan menurun dalam rentang 2021-2025. Profesi yang akan tumbuh di antaranya ialah pemeliharaan dan instalasi, mediasi, medis, analis data, manajer sistem informasi, konselor vokasi, dan analis dampak lingkungan. Sementara untuk pekerjaan yang akan mengalami penurunan adalah resepsionis, tukang kayu, disain tiga dimensi, pengolah semikonduktor, teller bank, travel agents, juru masak fast-food, dan operator mesin.

Kemudian untuk prediksi tahun 2026-2030, jenis pekerjaan perancang, programer kecerdasan bautan, perancang dan pengendali mesin otomasi, perancang software dan gim daring akan bertumbuh.

“Tapi jenis pekerjaan ahli las, staf akuntan, operator mesin, supir truk dan ahli mesin mulai tersingkir. Padahal jumlah supir truk kita ada sekitar 6 juta,“ katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here