Peluang Kerja Fresh Graduate menjadi perhatian di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat dan meningkatnya tren double job atau memiliki lebih dari satu pekerjaan. Sebagian pekerja mengambil pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan, sementara yang lain menjalankan usaha atau pekerjaan lepas di luar jam kerja utama. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah semakin banyaknya orang yang menjalani dua pekerjaan membuat kesempatan bagi lulusan baru semakin sempit?
Tren double job berkembang seiring perubahan pola kerja dan kebutuhan ekonomi. Teknologi digital memudahkan seseorang mengambil proyek tambahan, menjadi pekerja lepas, membuka toko daring, hingga menawarkan jasa melalui platform digital. Bagi pekerja yang sudah memiliki pengalaman, cara ini dapat menjadi strategi untuk meningkatkan penghasilan sekaligus memperluas keterampilan.
Namun, situasinya bisa terasa berbeda bagi peluang kerja fresh graduate yang baru memasuki pasar tenaga kerja. Mereka harus bersaing dengan kandidat berpengalaman, sementara banyak lowongan meminta keterampilan praktis yang belum tentu diperoleh selama kuliah. Karena itu, fenomena double job perlu dilihat bersama kondisi pasar kerja dan kebutuhan perusahaan, bukan sebagai satu-satunya penyebab sulitnya lulusan baru memperoleh pekerjaan.
Peluang Kerja Fresh Graduate di Tengah Tren Double Job
Penelitian berjudul Multiple Job-Holding in Indonesia: Do Years of Schooling Matter? yang diterbitkan dalam The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning pada April 2025 memberikan gambaran mengenai fenomena pekerja dengan lebih dari satu pekerjaan. Penelitian yang menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 itu memperkirakan sekitar 27% penduduk bekerja berusia 15 tahun ke atas memiliki lebih dari satu pekerjaan. Mereka juga menghabiskan rata-rata lebih dari empat jam tambahan per minggu untuk pekerjaan di luar pekerjaan utama.
Angka tersebut menunjukkan bahwa multiple job-holding sudah menjadi bagian dari dinamika ketenagakerjaan Indonesia. Meski begitu, data tersebut tidak berarti 27% pekerja mengambil lowongan yang seharusnya tersedia bagi fresh graduate. Pekerjaan tambahan dapat berbentuk usaha mandiri, pekerjaan informal, atau proyek lepas yang tidak selalu berkompetisi langsung dengan lowongan kerja penuh waktu.
Gambaran persaingan kerja juga terlihat dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka Indonesia tercatat sebesar 4,85%. Jika dilihat berdasarkan pendidikan terakhir, tingkat pengangguran terbuka lulusan universitas mencapai 5,39%, sedangkan lulusan diploma I, II, dan III berada di angka 4,31%. Angka pengangguran lulusan SMK bahkan mencapai 8,63%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan memasuki dunia kerja masih dihadapi kelompok berpendidikan tinggi maupun lulusan pendidikan menengah. Gelar pendidikan tetap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Kementerian Ketenagakerjaan melalui Pusat Pasar Kerja juga mencatat bahwa pencari kerja yang terdaftar di Karirhub pada 2025 mencapai 987.204 orang, meningkat 74% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, tersedia 88.532 lowongan kerja di platform tersebut. Mayoritas lowongan mensyaratkan pengalaman kerja satu hingga empat tahun. Data ini hanya mencakup layanan Karirhub, sehingga tidak mewakili keseluruhan lowongan dan pencari kerja di Indonesia. Namun, temuan tersebut menunjukkan salah satu hambatan yang dihadapi lulusan baru: perusahaan sering mencari kandidat yang sudah memiliki pengalaman praktis.
Mengapa Tren Double Job Bisa Menjadi Tantangan bagi Lulusan Baru?
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memahami hubungan antara tren double job dan kesempatan kerja bagi lulusan baru.
- Pertama, persaingan untuk pekerjaan tertentu semakin beragam. Pekerja berpengalaman yang mengambil proyek tambahan dapat bersaing dengan fresh graduate untuk pekerjaan berbasis proyek, seperti desain grafis, penulisan konten, pemasaran digital, dan pengelolaan media sosial. Pengalaman kerja membuat sebagian pekerja lebih mudah meyakinkan klien. Meski demikian, dampaknya bergantung pada bidang pekerjaan dan tidak otomatis mengurangi jumlah lowongan bagi lulusan baru.
- Kedua, perusahaan membutuhkan keterampilan yang siap digunakan. Sebagian perusahaan mencari kandidat yang dapat langsung menangani pekerjaan tanpa pelatihan panjang. Fresh graduate yang belum memiliki portofolio atau pengalaman magang bisa menghadapi tantangan lebih besar ketika bersaing dengan kandidat yang telah terbiasa menangani proyek nyata.
- Ketiga, pekerjaan tambahan tidak selalu mengurangi kesempatan kerja orang lain. Banyak orang mengambil pekerjaan kedua karena pendapatan utama belum mencukupi atau karena ingin memanfaatkan keahlian di luar jam kerja. Ada pula pekerja yang membangun bisnis sendiri dan menciptakan peluang bagi orang lain ketika usahanya berkembang. Dengan kata lain, hubungan antara double job dan ketersediaan pekerjaan jauh lebih kompleks daripada sekadar perebutan lowongan.
Strategi Fresh Graduate agar Tetap Kompetitif
Di tengah perubahan pasar kerja, lulusan baru perlu membangun keunggulan yang dapat terlihat oleh perusahaan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengembangkan portofolio sejak masih kuliah. Proyek akademik, magang, kegiatan organisasi, pekerjaan sukarela, dan proyek lepas dapat menjadi bukti kemampuan yang relevan.
Fresh graduate juga perlu memperkuat keterampilan yang banyak digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Data Kementerian Ketenagakerjaan mengenai lowongan di Karirhub selama 2025 mencatat Microsoft Office, Microsoft Excel, sales and marketing, operasional, serta kemampuan komunikasi sebagai keterampilan yang banyak dibutuhkan pemberi kerja. Informasi ini dapat menjadi titik awal untuk menentukan keterampilan yang perlu dipelajari, meskipun kebutuhan setiap industri berbeda.
Selain itu, kandidat sebaiknya tidak hanya mengandalkan lamaran melalui satu kanal. Mengikuti program magang, memanfaatkan jaringan profesional, mencari informasi lowongan melalui kanal resmi perusahaan, dan membangun profil profesional dapat memperluas akses terhadap kesempatan kerja.
Bagi yang ingin mencoba freelance atau pekerjaan sampingan, pengalaman tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangun portofolio dan memperoleh penghasilan. Namun, pekerjaan tambahan sebaiknya dipilih secara terarah agar tidak menghambat pencarian pekerjaan utama atau pengembangan keterampilan jangka panjang.
Apakah Double Job Benar-Benar Mengancam Masa Depan Fresh Graduate?
Fenomena double job memang dapat menambah persaingan pada jenis pekerjaan tertentu, terutama pekerjaan berbasis proyek dan sektor yang mengutamakan pengalaman. Namun, belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa tren tersebut secara langsung menjadi penyebab utama berkurangnya peluang kerja bagi lulusan baru.
Tantangan yang lebih luas mencakup ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, tuntutan pengalaman kerja, dan kemampuan perusahaan menyerap tenaga kerja baru. BPS juga menyoroti persoalan ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan di kalangan pemuda Indonesia, yang dapat memengaruhi proses transisi dari bangku pendidikan ke dunia kerja.
Bagi perusahaan, membuka jalur magang, menyediakan pelatihan bagi karyawan pemula, dan menetapkan persyaratan pengalaman secara proporsional dapat membantu memperluas akses bagi kandidat baru. Sementara itu, perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan industri agar pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
