Top Mortar tkdn
Home Bisnis Jangan Sampai Nasihat yang Baik Justru Menjadi Penghambat Karier

Jangan Sampai Nasihat yang Baik Justru Menjadi Penghambat Karier

0
Jangan Sampai Nasihat yang Baik Justru Menjadi Penghambat Karier (Foto Ilustrasi)

Penghambat karier kadang datang dari tempat yang tidak disangka-sangka. Salah satunya adalah nasihat orang tua yang sebenarnya diberikan karena rasa sayang, tetapi belum tentu selalu cocok dengan kondisi dunia kerja saat ini. Di Berempat.com, kami melihat bahwa kalimat seperti “cari pekerjaan yang aman saja”, “jangan terlalu sering pindah kerja”, atau “yang penting jadi pegawai tetap” tetap bisa menjadi bahan pertimbangan, tetapi tidak harus diterima sebagai aturan mutlak dalam menentukan arah profesional.

Orang tua tentu memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Banyak nasihat mereka lahir dari kondisi ekonomi dan dunia kerja pada zamannya. Sementara itu, pasar kerja terus berubah. Teknologi, kecerdasan buatan, pekerjaan remote, ekonomi digital, profesi kreatif, hingga pekerjaan berbasis proyek membuat pilihan karier saat ini semakin beragam.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global hingga 2030, sementara sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi terdampak atau tergeser. Secara bersih, perubahan tersebut diproyeksikan menghasilkan tambahan 78 juta pekerjaan. Laporan ini berdasarkan survei terhadap lebih dari 1.000 perusahaan yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang dianggap aman hari ini belum tentu memiliki bentuk yang sama beberapa tahun mendatang. Bahkan, WEF memperkirakan 39% keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030.

Karena itu, mendengarkan nasihat keluarga tetap penting. Namun, keputusan tanpa penghambat karier perlu disesuaikan dengan kemampuan, tujuan pribadi, dan kondisi industri yang sedang dihadapi.

“Yang Penting Kerja Tetap” Tidak Selalu Menjadi Pilihan Terbaik

Bagi generasi sebelumnya, pekerjaan tetap sering dianggap sebagai simbol kestabilan. Pendapatan rutin, jenjang karier yang jelas, dan fasilitas perusahaan menjadi alasan kuat untuk mempertahankan satu pekerjaan selama mungkin.

Nilai tersebut masih relevan. Namun, kondisi setiap orang berbeda.

Ada orang yang berkembang pesat dalam pekerjaan tetap. Ada pula yang memiliki potensi lebih besar melalui pekerjaan profesional independen, bisnis, startup, konsultasi, pekerjaan kreatif, atau profesi digital.

Masalah muncul ketika seseorang memilih pekerjaan semata-mata karena dianggap aman, padahal bidang tersebut tidak sesuai dengan kemampuan atau minatnya.

Dalam jangka panjang, keputusan seperti ini dapat menjadi penghambat karier karena seseorang berhenti mengembangkan kemampuan yang sebenarnya menjadi kekuatannya.

Karier juga tidak harus mengikuti satu jalur lurus. Seseorang bisa memulai sebagai staf pemasaran, kemudian menjadi spesialis digital marketing, membangun agensi kecil, dan akhirnya menjadi konsultan. Perpindahan tersebut tidak otomatis berarti gagal mempertahankan karier. Bisa saja itu merupakan proses menemukan posisi yang lebih sesuai.

Nasihat “Jangan Sering Pindah Kerja” Perlu Dilihat Konteksnya

Nasihat untuk tidak terlalu sering berganti pekerjaan sebenarnya memiliki dasar. Terlalu banyak perpindahan tanpa alasan yang jelas memang dapat menimbulkan pertanyaan ketika seseorang melamar pekerjaan baru.

Namun, menjadikan semua perpindahan sebagai sesuatu yang buruk juga kurang tepat.

Pindah pekerjaan dapat dilakukan karena ingin mendapatkan tanggung jawab lebih besar, mempelajari teknologi baru, memasuki industri yang sedang berkembang, memperoleh kompensasi yang lebih sesuai, atau mencari lingkungan kerja yang lebih cocok.

Yang perlu dilihat bukan sekadar berapa kali seseorang pindah perusahaan, tetapi apa yang diperoleh dari setiap perpindahan tersebut.

Jika jawabannya iya, perpindahan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan karier.

Sebaliknya, bertahan selama bertahun-tahun di posisi yang sama tanpa menambah keterampilan juga tidak otomatis membuat karier lebih aman.

Nasihat Orang Tua yang Bisa Menjadi Penghambat Karier

Ada beberapa nasihat yang terdengar masuk akal, tetapi perlu diperiksa kembali sebelum dijadikan prinsip hidup.

Salah satunya adalah “ikuti pekerjaan yang paling aman.”

Keamanan pekerjaan memang penting. Namun, keamanan tidak hanya berasal dari status pegawai tetap. Kemampuan yang terus berkembang juga dapat menjadi bentuk keamanan karier.

Nasihat lain yang perlu dipertimbangkan adalah “jangan terlalu mengejar uang.”

Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan agar seseorang tidak menjadikan uang sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Namun, kompensasi tetap perlu diperhatikan. Jika tanggung jawab terus bertambah sementara penghasilan dan kesempatan berkembang tidak bergerak, seseorang perlu mengevaluasi situasinya.

Ada pula anggapan bahwa “yang penting punya pekerjaan sesuai jurusan.”

Dunia profesional saat ini tidak selalu bekerja seperti itu. Banyak orang justru membangun karier melalui keterampilan yang mereka kembangkan setelah lulus pendidikan.

LinkedIn dalam laporan Skills on the Rise 2026 menyebut perusahaan semakin memperhatikan keterampilan yang dimiliki seseorang, bukan hanya gelar, jabatan, atau jalur karier yang linear.

Artinya, kemampuan untuk terus belajar dapat menjadi aset yang sangat penting.

Jangan Terlalu Terpaku pada Gelar dan Jabatan

Pendidikan tetap memiliki peran penting dalam membangun fondasi profesional. Namun, gelar bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan karier.

Kemampuan analisis data, komunikasi, kepemimpinan, pemasaran digital, penggunaan AI, negosiasi, pemecahan masalah, dan kemampuan menjual ide dapat memiliki nilai tinggi tergantung bidang yang dipilih.

WEF menempatkan analytical thinking sebagai salah satu keterampilan inti teratas yang dianggap penting oleh pemberi kerja. Resiliensi, fleksibilitas, agility, kepemimpinan, dan pengaruh sosial juga termasuk keterampilan yang banyak dibutuhkan.

Karena itu, seseorang perlu melihat karier sebagai proses membangun kompetensi, bukan sekadar mengumpulkan jabatan.

Dengarkan Nasihat, tetapi Tetap Periksa Relevansinya

Sebelum menerima atau menolak nasihat orang tua, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu.

Pertama, apakah kondisi industri saat ini masih sama dengan ketika nasihat tersebut terbentuk?

Kedua, apakah saran tersebut sesuai dengan tujuan karier pribadi?

Ketiga, keterampilan apa yang sedang dibutuhkan pasar?

Keempat, apakah pilihan tersebut memberikan ruang untuk berkembang dalam tiga sampai lima tahun ke depan?

Kelima, apa konsekuensinya jika nasihat tersebut benar-benar diikuti?

Pertanyaan semacam ini membuat keputusan karier lebih objektif. Seseorang tidak harus melawan orang tua hanya demi terlihat mandiri. Begitu pula tidak perlu mengikuti semua nasihat hanya karena merasa tidak enak hati.

Exit mobile version