Pemerintah Bisa Mendorong Ekspor dengan Mencari Pasar Baru

0
179
Aktivitas bongkar muat barang ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berempat.com – Saat ini kondisi perekonomian global masih dinamis seiring dengan perang dagang AS-China yang masih berlanjut. Dampaknya pun sampai kepada perekonomian Indonesia, termasuk pada kinerja ekspor. Pasalnya, beberapa negara tujuan ekspor Indonesia menerapkan proteksionisme berlebihan, seperti India yang menerapkan bea masuk 50% untuk produk CPO asal Indonesia.

“Jika digabung total porsi dari ketiga negara itu (AS, China, India) 34% dari total ekspor non-migas. Padahal ekspor CPO berkontribusi 15% dari total ekspor non-migas (Indonesia),” ujar Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adinegara dalam acara diskusi ‘Potensi Ekspor di Tengah Pelemahan Rupiah’ yang digelar Forum Warta Pena di Puri Denpasar Hotel, Jakarta, Rabu (7/11).

Menurut Bhima, ada hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk bisa meningkatkan ekspor di tengah gejolak pasar global. Terutama karena melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Solusi yang bisa dilakukan pemerintah, ujar Bhima, ialah dengan memberikan kelonggaran pada setiap pungutan, khususnya ekspor CPO diturunkan menjadi US$15-US$20 per ton. Bhima juga mendorong pemerintah untuk memperluas pasar ekspor baru seperti Afrika Tengah, Eropa Timur, dan Rusia.

“Bagi kendala logistik, pemerintah bisa memberikan keringanan pajak (tax holiday) untuk forwarder atau jasa ekspor dari Indonesia ke Afrika misalnya,” sambung Bhima.

Kemudian, Bhima juga menilai bahwa saat ini belum ada integrasi antarkementerian terkait dalam memberikan kemudahan bagi para eksportir. Menurutnya, saat ini Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian masih punya ego sektoral.

“Yang satu melihat kalau diberi banyak insentif fiskal nanti target penerimaan pajak jangka pendek berkurang. Belum akur,” tukasnya.

Bhima pun sempat mengambil data dari BPS secara kumulatif mengenai nilai ekspor Indonesia. Adapun pada Januari–September 2018 ekspor Indonesia mencapai US$134,99 miliar atau naik 9,41% dibanding periode yang sama tahun lalu, sedangkan ekspor non-migas mencapai US$122,31 miliar atau naik 9,29%.

Berdasarkan hal tersebut, Bhima memperkirakan ekspor tahun depan bisa mencapai 9,5%-10% (yoy) dengan eskpor tekstil pakaian jadi ke AS yang masih solid. Pasalnya pada Januari-September 2018 sektor tersebut ekspornya tumbuh 29,8%. Selain itu, tahun depan akan terbuka penjualan produk ke luar negeri, seperti kulit, besi baja, barang dari kulit, ekspor makanan minuman dan pengolahan tembakau.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Hadi Joewono mengatakan, salah satu upaya untuk mendorong nilai ekspor ialah dengan memasuki pasar baru.

Hal tersebut bisa dilakukan oleh segala sektor, mulai dari UMKM maupun industri besar. Namun, pendekatan keduanya bisa dilakukan dengan berbeda. Untuk industri besar, Handito dapat diberikan insentif pajak termasuk tax holiday, sedangkan untuk perusahaan UMKM ialah dengan pendorongan ekspor dan mengefektivkan fasilitas pembayaran ekspor.

Selain itu, Handito menilai bahwa pemerintah perlu meningkatkan daya beli masyarakat untuk bisa mendorong ekspor.

“Upaya menggairahkan dunia usaha berarti mendorong pertambahan omset penjualan dengan peningkatan daya beli masyarakat untuk produk yang dijual di dalam negeri,” kata Handito.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.